Sebentar Lagi, Penanganan Sampah Bakal Pakai Model Baru, Begini Gambarannya

 

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menunjukkan lokasi penataan TPA yang dibiayai dari Kementerian PUPR. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejak Oktober 2016 ada penataan yang dikerjakan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Yakni, membuat lokasi baru pembuangan sampah yang sudah berkonsep ramah lingkungan.

Proyek penataan TPA ini anggarannya cukup besar, sekitar Rp 18 miliar. Dana penataan TPA ini berasal dari Kementerian PUPR. Proyek penataan semua dikendalikan dari kementerian. Mulai pembuatan DED, hingga proses lelangnya.

“Dana sebesar ini, digunakan untuk membuat tempat pembuangan sampah model ramah lingkungan disisi barat areal TPA. Luas lahan yang disediakan sekitar 2,5 hektar,” jelas Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Di lahan tersebut, dibuatkan tiga kolam besar yang disebut zona pembuangan sampah dan masing-masing berukuran 0,8 hektar. Dibagian dasar zona dipasangi geomembran untuk menahan air dari tumpuhan sampah tidak meresap dalam tanah. Kemudian masih ada pasangan geotekstile di atas geomembran. Hal ini bertujuan untuk melindungi geomebran tidak rusak karena benda tajam yang bercampur dalam sampah.

Di atas geotekstil masih ditaburi gravel atau batu-batuan kecil untuk menyerap air. Dalam tiap zona juga dibuatkan hangar untuk truk bongkar dan alat berat untuk meratakan sampah.

“Tiap zona ini diperkirakan mampu menampung sampah sebanyak 292.000 meter kubik atau setara 11.000 ton. Dengan perhitungan banyaknya volume sampah selama ini, tiap zona bisa dipakai menimbun sampah hingga 5 tahun. Sampah di tiap zona akan ditimbun dengan model piramida,” katanya.

Setelah zona pertama penuh, penimbunan sampah dialihkan ke zona kedua. Kemudian, begitu zona ketiga penuh maka zona pertama kembali akan difungsikan jadi tempat penimbunan lagi.

“Jadi, kira-kira setahun sebelum zona tiga penuh, sampah di zona pertama yang sudah lama disitu mulai kita bongkar bertahap. Sampahnya kita olah jadi pupuk organik sehingga setelah kosong tempatnya bisa dipakai lagi begitu zona tiga penuh. Ketinggian sampah ditiap zona kira-kira 9 meter,” terang Noer.

Nantinya, cara penanganan sampah akan memakai model controlled landfill yang lebih berkembang dibanding open dumping. Sebab, pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel.

Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

Pembuatan zona berukuran besar juga dilengkapi saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan, saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya, pos pengendalian operasional, dan fasilitas pengendalian gas metan.

“Gas metan dari sampah ini nanti kita kembangkan jadi biogas untuk bahan bakar alternatif. Dalam pembuatan zona sudah dipasang cerobong dan ada saluran khusus untuk menangkap gas metan,” kata Noer.

Untuk bak penampungan air lindi juga sudah disiapkan tempat khusus di selatan pembuatan zona. Ukurannya sangat besar, yakni 98,5 x 30 meter yang disekat menjadi beberapa kotak.

Dari dasar zona sampah juga sudah dipasang saluran khusus untuk mengangkut lindi menuju tempat penampungan. Kedepan, air lindi akan diolah jadi pupuk cair yang bermanfaat bagi pertanian.

“Jadi, penataan TPA baru ini konstruksi dan desainnya sudah ramah lingkungan. Lokasinya juga tidak terlalu luas dibandingkan model open dumping. Tapi, biaya pembuatannya memang nilainya sangat besar. Di samping itu, butuh juga dana operasional tambahan, khususnya untuk tanah buat mengurug sampah,” jelasnya.

Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musala, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Noer Rochman menyatakan, proses penataan TPA saat ini progresnya sudah berkisar 95 persen. Pekerjaan utama yang sedang disiapkan penyelesaiannya adalah membuat jalan operasional menuju zona.

“Targetnya, akhir bulan pekerjaan penataan TPA sudah rampung 100 persen. Dengan demikian, mulai awal Februari nanti, penimbunan sampah sudah bisa dialihkan ke zona pertama. Sambil menunggu proyek selesai, penimbunan sampah saat ini kita tempatkan di lahan yang kosong,” imbuhnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pengendara di Jalur Gubug-Purwodadi Keluhkan Bau Sampah Tepi Jalan Raya

Tumpukan sampah di tepi Jalan Gubug-Purwodadi yang merupakan jalan utama menuju Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tumpukan sampah di tepi Jalan Gubug-Purwodadi yang merupakan jalan utama menuju Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga dan pengguna jalan yang biasa melintas di jalan raya Gubug-Semarang mengeluhkan keberadaan tempat pembuangan sampah liar di pinggir jalan raya. Tepatnya, di perbatasan wilayah Kecamatan Gubug dan Tegowanu.

Keluhan itu disampaikan lantaran sampah itu selalu mengeluarkan bau menyengat karena cukup lama tidak diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Saat kena air hujan bau menyengat dari busukan sampah makin bertambah parah.
Meski sudah berlangsung lama, namun hingga kini keberadaan tempat pembuangan sampah itu belum kunjung di atasi. Warga berharap, sampah itu segera ditangani karena banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Selain bau, tumpukan sampah itu juga dipastikan jadi sumber penyakit karena letaknya tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk.

Di lokasi tersebut terdapat dua kontainer yang disediakan dari Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Grobogan yang sekarang kewenangannya berada di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan. Namun, ketika dua kontainer sudah penuh dengan sampah, warga membuang sampah di tanah kosong yang ada di dekatnya.

Sementara itu, Camat Gubug Teguh Harjokusumo mengaku telah meminta dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah Grobogan bagian barat kepada dinas terkait. Namun, sampai sekarang belum ada realisasinya.

Teguh mengakui, keberadaan sampah yang menumpuk di tepi jalan tersebut menganggu pemandangan dan membuat pengendara yang melintas merasa kurang nyaman.

“Saya juga prihatin dengan kondisi itu. Kami berharap supaya di wilayah Grobogan barat ini segera ada TPA. Solusinya memang harus ada TPA ini,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sampah Bisa Dikreasikan jadi Barang Super Oke, Itu Terbukti di Jepara

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Sejak diresmikan kali pertama Januari 2013, jumlah bank sampah di Kabupaten Jepara terus bertambah. Jika pada akhir tahun 2013 tidak lebih dari 10 unit, pada akhir tahun 2015 tercatat berkembang menjadi lebih dari 55 unit. Sementara hingga di tahun 2016 menjadi sebanyak 89 bank sampah yang eksis maupun rintisan.

Bank sampah ini terdiri dari bank sampah  permukiman, bank sampah sekolah dan bank sampah kantor/SKPD.

Semakin banyak jumlah bank sampah, utamanya yang aktif, berarti akan semakin besar manfaat yang dapat diberikan bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan. Salah satu hasilnya dapat dilihat langsung pada Pameran Kreativitas Sampah Tahun 2016, di halaman pendapa Kabupaten Jepara.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari ini, Rabu dan Kamis (21-22/12) sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Rapat Kerja Daerah II Bank Sampah Kabupaten Jepara yang dibuka langsung oleh Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat.

Hadir pada kesempatan tersebut, Sekda Jepara, Kepala BLH, Kepala Dinas/Instansi terkait serta peserta yang terdiri dari perwakilan pengurus dari 89 Bank sampah se-Kabupaten Jepara.

Kepala BLH Kabupaten Jepara, Fadkurrohman menyatakan pameran kreativitas sampah tahun 2016 ini diikuti 24 peserta dari bank sampah, sekolah dan komunitas peduli lingkungan.

Sementara untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, khususnya bidang persampahan, pada kesempatan rapat kerja kali ini ditampilkan pelaku sekaligus tokoh perintis yang kini menjadi Direktur Bank Sampah Mulya Sejahtera Semarang, Sri Mulyani.

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat sangat apresiasi atas berbagai kreativitas dalam pengelolaan sampah, sebagaimana yang ditampilkan dalam pameran. “Diharapkan  dapat lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah,” katanya.

Khusus produk hasil pengolahan limbah sampah hendaknya hendaknya terus ditingkatkan. Sehingga dapat lebih menarik minat para pembeli dan masyarakat serta konsumen secara keseluruhan. 

 Editor : Akrom Hazami

Hebatnya Pemuda Pladen, Siap Angkut Sampah Demi Desa

Kondisi lingkungan Desa Pladen nampak sampah berserakan, menggerakan pemudanya untuk menjadi petugas kebersihan dan mengelola sampah di desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kondisi lingkungan Desa Pladen nampak sampah berserakan, menggerakan pemudanya untuk menjadi petugas kebersihan dan mengelola sampah di desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gerakan sadar akan kebersihan semakin digalakkan bahkan sampai tingkat desa. Di Desa Pladen misalnya. Pemuda desa yang terdapat di Kecamatan Jekulo itu, mengelola sampah demi kebersihan desanya.

Hal itu diungkapkan Plt Sekretaris Desa Pladen, Kecamatan Jekulo Sunardi. Pihaknya mengatakan kalau pemuda Karang Taruna di sana meminta pengelolaan sampah dikelola oleh kalangan pemuda.

”Jadi para pemuda meminta cara pengelolaan sampah, agar mereka bisa mengelola. Para pemuda itu atas keinginannya sendiri untuk menjadi tenaga pembersih sampah di desa,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Menyikapi hal itu, kata Sunardi, pihak desa dengan senang hati memberikannya. Hanya sebelum memberikan, terlebih dahulu harus dibekali terlebih dahulu soal tugasnya.

Hal itu dilakukan demi berjalannya progam secara bersama. Baik tingkat Karang Taruna yang mengurusi kepemudaan desa dan pihak pemdes yang menampung sampah dari masyarakat.

”Mengenai model masih disiapkan. Apakah dikelola secara sepenuhnya pihak desa atau Karang Taruna atau kerja sama. Yang jelas keduanya harus berjalan,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Waah, Pemdes Pladen Jekulo Kudus Fasilitasi Buang Sampah Gratis untuk Warganya

Tempat sampah yang disediakan Pemdes Pladen untuk warganya secara gratis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Tempat sampah yang disediakan Pemdes Pladen untuk warganya secara gratis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Masyarakat Desa Pladen, kecamatan Jekulo, mendapat keistimewaan khusus dari pemerintah desanya. Berbeda dari desa lainnya yang harus membayar secara rutin pembuangan sampah, namun untuk Desa Pladen tidak demikian.

Plt Sekretaris Desa Pladen, Kecamatan Jekulo Sunardi mengatakan, tiap warga mendapatkan fasilitas yang sama untuk bebas membuang sampah. Bahkan, sebanyak apapun sampah yang dibuang akan digratiskan oleh pihak desa.

”Ini merupakan fasilitas desa, jadi tidak ada biaya khusus dalam membuang sampah di sini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, pemdes Pladen juga membagikan tempat sampah kepada tiap rumah yang ada di desa tersebut. Tujuannya, tidak lain adalah guna meningkatkan kebersihan serta mencegah warga membuang sampah sembarangan. Tempat sampah tersebut dapat digunakan masyarakat desa dalam membuang sampahnya.

Meski digratiskan, namun bukan berarti pelayanan buruk. Sebab tiap pagi pasti ada petugas sampah dari desa yang mengambil sampah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk membuangnya.

”Petugas digaji dari desa, jadi setelah sampai diambil, petugas sampah dari desa langsung membuangnya di TPA Tanjungrejo,” imbuhnya.

Mengenai kendaraan yang digunakan, pemdes Pladen mendapatkan bantuan alat transportasi dari Pemkab Kudus. Yakni sebuah kendaraan sampah roda tiga.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswi Cantik Ini Ubah Kertas LKS Bekas jadi Baju Indah

Hasil kreasi dari barang-barang bekas yang dihasilkan Ummy Izzatunida. (MuriaNewsCom / EDY SUTRIYONO)

Hasil kreasi dari barang-barang bekas yang dihasilkan Ummy Izzatunida. (MuriaNewsCom / EDY SUTRIYONO)

 

KUDUS – Siswi kelas XII MA NU Muallimat Kudus, Ummy Izzatunida, memang top. Betapa tidak, kreativitasnya mampu mengolah sampah menjadi barang bernilai.

Dari keprihatinan ini, gadis berusia 15 tahun ini lantas memutar otaknya untuk memanfaatkan barang-barang bekas atau sampah. Barang-barang bekas itu kemudian ia olah dan sulap menjadi kerajinan tangan yang indah.

“Sebenarnya barang barang bekas dan sampah ini juga bisa dimanfaatkan. Baik itu mulai dari koran, botol bekas ataupun LKS (lembar kerja siswa) yang sudah tak terpakai lagi,” katanya.

Ia mencontohkan, koran-koran bekas bisa ia sulap menjadi menjadi baju yang indah. Ia menjelaskan, untuk membuat baju dari koran bekas tersebut membutuhkan sejumlah bahan. Di antaranya, koran bekas, kain kapas untuk lambaran dalamnya, lem, serta manik manik lainnya.

“Untuk pembuatan baju ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran yang maksimal. Bila waktu dan kesabaran tidak bisa dikontrol, maka bahan-bahan itu akan rusak. Serta hasilnya juga tidak bagus,” tuturnya.

Siswi yang mulanya menjadi angota OSIS itu juga terkadang dimintai sesama rekannya ataupun adik kelasnya untuk memberikan pendidikan kesenian usai jam pelajaran sekolah.

“Untuk pembuatan seni baju bekas dari bahan bekas ini memang berada di ekskul “keputrian” MA NU Muallimat. Ekskul keputrian itu sejenis kegiatan memasak, membuat bros, membuat jilbab serta membuat seni dari bahan bekas semacam ini,” paparnya.

Akan tetapi ekskul “keputrian” yang berada di MA NU Muallimat tersebut materi pendidikannya tergantung dari kesepakatan dari peserta ekskul. “Memang dalam seni ekskul keputrian itu hari dan materinya tidak tentu. Dan itupun tergantung pada permintaan atau kesepakatan seluruh peserta. Misalkan hari senin ini ialah membuat baju bekas dari koran, rabu membuat masakan, dan hari selanjutnya memuat jilbab dan lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, bila seseorang ingin sadar akan kemampuanya, maka setiap barang bekas itu ada manfaatnya. Selain itu juga kreativitas dapat terasah denghan baik. (EDY SUTRIYONO / AKROM HAZAMI)

Musim Baratan, Sampah Kiriman Penuhi Bibir Pantai Karang Jahe Rembang

Musim baratan, sampah kiriman berdatangan di Pantai Karang Jahe Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Musim baratan, sampah kiriman berdatangan di Pantai Karang Jahe Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Meski setiap pagi dibersihkan namun sampah di bibir pantai Karang Jahe terus berdatangan. Lantaran sejak sepekan belakangan sudah memasuki musim baratan.

Salah satu petugas Pantai Karang Jahe, Wahid (35) mengatakan, sampah kiriman tersebut baru ada beberapa hari yang lalu. “Biasanya pantainya bersih, tidak ada sampah. Namun karena sudah memasuki musim baratan, jadi sampah-sampah dari luar daerah terbawa ke sini,” ungkapnya.

Dijelaskannya, setiap pagi pihak pengelola pantai sudah menugaskan tiga orang untuk membersihkan sampah kiriman itu. Namun setiap siang hari, sampah kiriman pasti berdatangan. “Padahal sudah ada tiga orang yang membersihkan, tapi sampah kiriman terus berdatangan,” jelasnya.

Meski terdapat banyak sampah di tepian bibir pantai, namun para pengunjung tetap terlihat asyik bermain. Salah satunya, Tomo (30) warga desa Tompomulyo, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Menurutnya, meski ada sampah, namun pesona Pantai Karang Jahe tidak berkurang.

Tomo yang berkunjung bersama keluarganya mengapresiasi langkah pengelola yang melakukan pembersihan sampah setiap pagi. “Ya, gimana lagi namanya juga sedang musim baratan. Setidaknya sudah ada upaya dari pengelola untuk membersihkan sampah yang berdatangan,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Video – Begini Cara Ubah Sampah Jadi Rupiah

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbagai karya kreatif dipamerkan dalam pameran bank sampah di Kabupaten Jepara, Selasa (22/12/2015). Salah satu dari karya yang dipamerkan adalah memanfaatkan limbah plastik dan kertas menjadi barang bernilai ekonomi, seperti pakaian, tas, pot, hiasan hingga memanfaatkan sampah menjadi bahan untuk bercocok tanam.

Hal ini seperti yang dilakukan salah satu peserta bernama Dwi. Dirinya membuat sejumlah produk seperti tas, baju, kotak pot, kotak tisu, dan tempat sampah dengan bentuk yang unik.

“Saya buat tas dari bahan plastik yang sudah tidak digunakan. Jika sudah menjadi tas, bisa dijual dengan harga sekitar Rp 70 ribu hingga 125 ribuan,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/12/2015).

Menurutnya, untuk membuat satu tas dengan bahan plastik bekas, dirinya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari saja. Sedangkan untuk membuat satu baju dengan bahan limbah juga hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja.

Sementara itu, salah seorang pembimbing anak peduli lingkungan dari SMA 1 Bangsri Haryanto menjelaskan, dirinya bersama anak didik membuat sejumlah karya yang juga terbuat dari bahan limbah atau sampah. Misalnya saja, dia memanfaatkan sampah menjadi arang yang dapat digunakan untuk membakar sate. Selain itu juga membuat pupuk yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
“Pupuk bisa digunakan untuk tanaman hidroponik. Selain itu juga botol-botol plastic bekas juga dapat digunakan untuk pot tanaman,” kata dia.

Dia menambahkan, untuk membuat berbagai karya tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun hanya membutuhkan keseriusan dan ketelitian saja untuk memanfaatkan limbah menjadi barang berharga bahkan memiliki nilai ekonomi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

 

Relawan Bersihkan Sampah Menggunung di Bendung Sambong, Warga Malah Masa Bodoh

Sejumlah relawan mengangkut sampah menggunung di Bendungan Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan mengangkut sampah menggunung di Bendungan Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kesadaran warga tentang bahaya sampah yang menyumbat di sungai memang masih sangat minim. Terbukti, ketika sejumlah relawan yang terdiri dari RAPI, PMI, TAGANA dan Babinsa setempat melaksanakan giat pengurangan risiko bencana dengan mengangkat sampah yang menggunung di Bendung Sambong, Desa Tambahmulyo, Jakenan, Pati, Sabtu (19/12/2015), warga setempat malah masa bodoh.

Bukannya ikut membantu sejumlah relawan yang membersihkan sampah, warga justru cuek dan menyalahkan bendungan. “Kami sudah berupaya membersihkan sampah yang menggunung biar tidak terjadi bencana banjir, warga setempat malah menyalahkan bendungannya. Padahal, ini menyangkut hidup warga setempat,” kata Ketua RAPI Pati Gunawan kepada MuriaNewsCom.

Saat hujan mengguyur daerah tersebut beberapa waktu lalu, Desa Tambahmulyo diterjang banjir hingga menyebabkan tanggul jebol. Aktivitas warga pun lumpuh untuk sementara.

Kendati begitu, masyarakat masih belum sadar akan pentingnya membersihkan sampah yang menyumbat saluran dan sungai. “Bendungan ini parah. Padahal, sampah yang menggunung sampai menutupi bendungan,” imbuhnya.

Tak hanya warga yang cuek, petugas bendungan juga kurang respons saat gunungan sampah menyumbat bendungan tersebut. Jika hujan kembali mengguyur, lanjutnya, sudah dipastikan air meluber hingga menggenangi pemukiman.

Karena itu, ia meminta kepada seluruh warga di Kabupaten Pati agar peka terhadap kondisi alam di sekitarnya. Pasalnya, lingkungan yang tidak baik menjadi penyebab utama muncul bencana. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Wow! Sampah di Kota Pati Capai 50 Ton Per Hari

Sampah yang masuk ke TPA Sukoharjo diolah dengan teknik terasering untuk dipilah antara organik dan anorganik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sampah yang masuk ke TPA Sukoharjo diolah dengan teknik terasering untuk dipilah antara organik dan anorganik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sampah yang masuk tempat pembuangan akhir (TPA) Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo mencapai 50 ton per hari. Dalam sebulan saja, sampah yang diambil dari wilayah Kota Pati itu mencapai angka 1.500 ton.

“Angka itu diambil dari wilayah Kecamatan Pati, bukan kabupaten. Sampah organik dan anorganik yang masuk, langsung diolah dengan eskavator berdasarkan teknik terasering. Setelah itu, ditutup dengan tanah,” ujar Penanggungjawab TPA Sukoharjo Agus Darmono kepada MuriaNewsCom, Rabu (7/10/2015).

Sebelum ditutup dengan tanah, kata dia, sampah sudah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik ditutup dengan tanah, sedangkan sampah anorganik diambil pemulung.

“Sedikitnya ada 60 pemulung yang mengambil sampah anorganik di sini, seperti plastik, besi dan sebagainya,” imbuhnya.

Dengan pemanfaatan itu, lanjutnya, pihaknya bisa menghasilkan pupuk kompos dari sampah organik yang ditimbun dengan tanah. Sementara itu, sampah anorganik memberikan lapangan pekerjaan bagi pemulung yang nantinya akan diolah lagi menjadi biji plastik,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Area Perbatasan Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Sampah yang nampak menumpuk di antara dua sisi barat jembatan Sungai Bengawan Solo, Kota Cepu membuat tak nyaman para pengendara yang melintas. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Sampah nampaknya masih menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan. Sebab, hingga kini masalah tersebut belum terselesaikan, terutama  di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Lanjutkan membaca

Pantes Mangkrak… Ternyata DPU Belum Menyiapkan SDM Pengelola Sampah di Kelurahan

Rumah pengolahan sampah bantuan Pemkab Blora di Kelurahan Tambakromo Kecamatan Cepu. Saat ini pihak kelurahan mengakui belum maksimalnya rumah sampah karena SDM yang ada belum mumpuni. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Mangkraknya rumah pengolahan sampah bantuan Pemerintah Kabupaten Blora di Kelurahan Tambakromo Kecamatan Cepu, dibenarkan oleh Lurah Tambakromo Tarkun. Ia berdalih SDM yang dimiliki belum ada. Sementara DPU belum memberikan pelatihan.

Lanjutkan membaca

Busyet… 3 Rumah Pengolahan Sampah Bernilai Ratusan Juta di Cepu Juga Mangkrak

Salah satu rumah pengolahan sampah yang masih tak dugunakan dan dibiarkan mangkrak.(MURIANEWS / PRIYO)

BLORA – Rumah pengolahan sampah yang ada di 3 kelurahan di Kecamatan Cepu, yaitu Kelurahan Tambakromo, Balun, dan Ngroto Wisnu mangkrak. Bangunan tahun 2011 yang bernilai ratusan juta rupiah itu tak ada aktifitas.

Lanjutkan membaca