Alat Berat Dikerahkan Bersihkan Pantai Teluk Awur dari Berton-ton Sampah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah alat berat diturunkan untuk membersihkan tumpukan sampah yang ada di Pantai Telukawur, Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis (15/3/2018). Hal ini mengingat, sampah yang terakumulais di destinasi wisata itu diperkirakan mencapai 10 ton lebih.

Asrofi, Kepala Desa Telukawur mengatakan, tumpukan sampah itu berasal dari sungai yang bermuara di pantai tersebut. Disebutkannya, pada musim hujan seperti ini, tumpukan sampah selalu ada saja yang datang. Hal itu praktis mengganggu wisatawan yang datang ke tempat itu.

“Sampah berasal dari sungai yang bermuara ke laut ini. Pada musim ini sangat sulit dibersihkan karena selalu saja terseret ombak,” ujarnya.

Menurutnya, petugas honorer dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara selalu disiagakan mengangkut sampah setiap hari. Namun mereka selalu kesulitan mengingat jumlah sampah yang terlalu banyak.

Pihaknya mengatakan, pemerintah desa tidak ingin masalah sampah di Pantai Teluk Awur mengganggu wisatawan. Oleh karenanya, dirinya menegaskan akan terus fokus membersihkan pantai tersebut.

Hal itu tak lepas dari lokasi pantai yang berada di Desa Teluk Awur. Secara langsung dan tidak, hal itu memengaruhi pemasukan warga desa yang menjadikan wisata pantai sebagai mata pencaharian.

Editor : Ali Muntoha

Pegawai DLH Grobogan Tiap Pekan Wajib Bawa Sampah ke Kantor, Ini Tujuannya

 

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan cukup aneh terlihat di kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan, Sabtu (24/2/2018). Hal ini terkait adanya pegawai yang semuanya membawa sampah dalam bungkusan dan dibawa ke pelataran kantor.

Setelah dipilah, sampah yang dibawa para pegawai ditimbang oleh penampung barang bekas. Pasca ditimbang dan dicatat, sampah milik pegawai itu kemudian dimasukkan dalam karung plastik dan diangkut menggunakan sepeda motor roda tiga.

Kepala DLH Grobogan Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, saat ini, dikantornya sudah memiliki Bank Sampah. Terkait adanya Bank Sampah itulah, semua pegawai diminta membawa sampah dari rumah ke kantor setiap hari Sabtu.

”Aktivitas bawa sampah dari rumah baru dimulai hari ini tadi. Selanjutnya, jadi agenda rutin tiap akhir pekan,” katanya.

Dijelaskan, sampah yang dibawa dari rumah adalah jenis an organik. Seperti plastik, logam, kertas, dan kaca.

Hal ini bertujuan agar sampah yang tertinggal dilingkungan rumah tangganya hanya sampah organik saja. Disisi lain, upaya itu adalah salah satu cara untuk memerangi sampah dari sumbernya dan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

Sampah yang dibawa dari rumah itu kemudian dibeli oleh pengepul yang selama ini sudah jadi mitra DLH dalam pengelolaan Bank Sampah. Harga sampah bervariasi tergantung jenisnya. Harga sampah juga bisa berubah mengikuti kondisi pasar.

Menurut Agus, ada tiga pilihan yang diberikan pada pegawai dengan sampah yang dibawanya. Yakni, sampah itu bisa dihibahkan dalam arti, pembawanya tidak dapat uang.

Bisa juga diikutkan dalam sedekah sampah, yakni hasil penjualannya disalurkan untuk kegiatan sosial. Pilihan satu lagi adalah hasil penjualan sampah dimasukkan sebagai tabungan.

Editor: Supriyadi

Peringati HPSN DLH Jepara Canangkan Tiga Bulan ‎Bebas Sampah 

MuriaNewsCom, Jepara  – Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, lakukan kegiatan bersih-bersih pantai, Rabu (21/2/2018). Sebanyak 16 ton sampah dikumpulkan dari berbagai pantai yang ada di Bumi Kartini.

Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan dan Persampahan DLH Jepara mengatakan,sebagian kegiatan tersebut telah dilaksanakan sebelum puncak peringatan HPSN, yang jatuh setiap tangal 21 Februari. Sasaran kegiatan itu, adalah pantai dan tempat umum yang ada di wilayah Jepara.

“Sasarannya diantaranya Pantai Semat, Pantai Tegal Sambi, Pantai Teluk Awur dan Alun-alun Jepara,” kata Lulut.

Menurutnya, dari hasil pembersihan diperoleh tumpukan sampah sebanyak 16 ton. Sampah-sampah tersebut tersebar ditempat-tempat tersebut dan mengganggu pemandangan serta kebersihan lokasi pariwisata.

Ia mengatakan, kegiatan pungut sampah akan dilakukan secara intens selama tiga bulan ke depan. Mulai dari Bulan Februari hingga April 2018. Kegiatan itu sendiri bertajuk TBBS atau Tiga Bulan Bebas Sampah.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung Jepara bebas dari Sampah pada tahun 2020,” imbuhnya.

Lulut menjelaskan, HPSN diperingati untuk mengenang peristiwa tragis, meledaknya TPS Leuwigajah 2005 lalu. Pada peristiwa itu, 140 orang tewas dan 69 rumah rusak di Cilimus dan Pojok, Jawa Barat, karena tertimpa longsoran gunung sampah yang mencapai 2,7 juta meter kubik.

Oleh karenanya, DLH Jepara menyiapkan rangkaian kegiatan sesuai Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018. Selain pungut sampah, beberapa kegiatan yang akan dilakukan adalah bersih-bersih pantai Ecobrick Goes To School, sosialisasi melalui media sosial dan sebagainya.

“Namun demikian, diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mewujudkan Jepara bebas sampah,” paparnya  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara kegiatan bersih-bersih pantai, Rabu (21/2/2018). Sebanyak 16 ton sampah dikumpulkan dari berbagai pantai yang ada di Bumi Kartini.

Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan dan Persampahan DLH Jepara mengatakan, kegiatan tersebut sebagian telah dilaksanakan sebelum puncak peringatan HPSN, yang jatuh setiap tangal 21 Februari. Sasaran kegiatannya adalah pantai dan tempat umum yang ada di wilayah Jepara.

“Sasarannya diantaranya Pantai Semat, Pantai Tegal Sambi, Pantai Teluk Awur dan Alun-alun Jepara,” kata Lulut.

Menurutnya, dari hasil pembersihan diperoleh tumpukan sampah sebanyak 16 ton. Sampah-sampah tersebut tersebar ditempat-tempat tersebut dan mengganggu pemandangan serta kebersihan lokasi pariwisata.

Ia mengatakan, kegiatan pungut sampah akan dilakukan secara intens selama tiga bulan ke depan. Mulai dari Bulan Februari hingga April 2018. Kegiatan itu sendiri bertajuk TBBS atau Tiga Bulan Bebas Sampah.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung Jepara bebas dari Sampah pada tahun 2020,” imbuhnya.

Lulut menjelaskan, HPSN diperingati untuk mengenang peristiwa tragis, meledaknya TPS Leuwigajah 2005 lalu. Pada peristiwa itu, 140 orang tewas dan 69 rumah rusak di Cilimus dan Pojok, Jawa Barat, karena tertimpa longsoran gunung sampah yang mencapai 2,7 juta meter kubik.

Oleh karenanya, DLH Jepara menyiapkan rangkaian kegiatan sesuai Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018. Selain pungut sampah, beberapa kegiatan yang akan dilakukan adalah bersih-bersih pantai Ecobrick Goes To School, sosialisasi melalui media sosial dan sebagainya.

“Namun demikian, diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mewujudkan Jepara bebas sampah,” paparnya.

Editor: Supriyadi

TPA Sampah di Ngembak Grobogan Kini Dilengkapi Jembatan Timbang, Ini Kegunaannya

MuriaNewsCom, GroboganSejumlah fasilitas pendukung saat ini sudah dimiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Salah satunya adalah keberadaan  jembatan timbang di lokasi tersebut.

Kasi Penanganan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Noer Rochman menyatakan, sebelumnya memang sudah ada penataan lokasi TPA dengan anggaran sekitar Rp 18 miliar yang berasal dari kementerian PUPR.

Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musola, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Selain itu, pihaknya meminta bantuan lagi untuk melengkapi sarana dan prasarana di TPA. Antara lain, berupa jembatan timbang, pembuatan jalan tambahan di lahan TPA, khususnya menuju zona sampah baru. Kemudian, bronjong kawat untuk penahan tumpukan sampah yang lama supaya tidak longsor.

Dijelaskan, keberadaan fasilitas pendukung, khususnya jembatan timbang memang sangat diperlukan. Sebab, dengan pengelolaan model controlled landfill yang diterapkan saat ini perlu mengetahui berapa banyak volume sampah di kolam pembuangan.

Pada model controlled landfill, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat berat menjadi sebuah sel. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali.

Penutupan ini bertujuan agar sampah tidak terlihat, mengurangi munculnya bau dan lalat. Setelah dilapisi tanah, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

”Idealnya, sebelum ditimbun tanah sampah yang akan masuk ditimbang dulu. Dengan demikian, kita bisa mengetahui berapa volume sampah yang sudah ada di kolam pembuangannya. Untuk bisa mengetahui jumlah volume sampah memang harus ada jembatan timbangnya dan saat ini sudah tersedia,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Jadi Sasaran Adipura, Pengelolaan Sampah TPA Tanjungrejo Kudus Diprioritaskan

Kadinas PKPLH Abdul Halil (dua dari kanan) mengarahkan petugas agar lebih aktif bekerja saat meninjau TPA Tanjungrejo, Rabu (22/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Usai mendapatkan Adipura Kencana, Pemkab Kudus kembali mengincar piala Adipura Kencana. Sejumlah persiapan sudah dilakukan untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

Plt Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Abdul Halil mengatakan, dari sekian banyak lokasi penilaian Adipura, yang paling banyak dominan adalah pengelolaan sampah atau TPA. Untuk itu, pada penilaian kali ini TPA akan dilakukan peningkatan agar hasilnya maksimal.

“Untuk wahana di TPA Tanjungrejo sudah cukup, seperti taman bermain, ruang hijau dan juga penataan lokasi sampai pengolahan sampah. Tinggal menjaganya saja agar tetap bagus,” katanya kepada media, Selasa (22/11/2017) saat meninjau TPA

Menurut dia, yang paling mengkhawatirkan di sana, adalah keberadaan para pemulung yang setiap hari selalu mencungkil sampah. Apalagi saat memasuki musim hujan, di mana bau sampah bisa lebih mudah tersebar.

Menyikapi hal itu, petugas TPA yang dikomando dari UPT TPA Tanjungrejo, diminta agar selalu aktif memantau aktivitas rutin pemulung. Meski lokasi pernikahan sampah sudah ditentukan, namun pengawas harus tetap dilakukan.

“Kami lakukan yang terbaik agar penilaian bagus. Tak berhenti di Adipura saja, namun juga untuk kebutuhan masyarakat di TPA agar lebih nyaman,” ungkap dia

Disebutkan, Penilaian untuk mendapatkan kembali Adipura Kencana dijadwalkan mulai pekan depan. Sasarannya adalah seluruh wilayah Kudus. Dan karena sudah lima kali berturut-turut dan mendapatkan Adipura kencana, maka penilaian akan dilakukan dari pusat.

“Persiapan untuk penilaian sudah kami lakukan. Mulai dari kordinasi dengan instansi terkait agar semuanya berjalan dangan lancar,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Lingkungan Hidup Jepara Kembangkan Pengangkutan Sampah Lewat Aplikasi Android

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di kota. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara tengah mengembangkan inovasi pengangkutan berbasis aplikasi android. Aplikasi yang dinamakan Si Angsa (Sistem Informasi Angkut Sampah) itu, direncanakan akan diluncurkan pada tahun 2018. 

“Saat ini baru dikerjakan. Nantinya, pengangkutan sampah dari desa ke tempat pembuangan sampah akan ada pembiayaan. Nantinya yang mengangkut adalah DLH. Kalau sekarang kan masih ditangani oleh masing-masing desa,” kata Fatkhurrohman, Kepala DLH Jepara, Selasa (21/11/2017). 

Nantinya, aplikasi tersebut bisa diakses oleh masyarakat melalui telepon pintar. Namun demikian, masyarakat harus bersabar karena saat ini masih dalam pengembangan. 

Kasi Kebersihan dan Persampahan DLH Lulut Andi Ariyanto menjelaskan, ada beberapa keuntungan jika menggunakan aplikasi Si Angsa. Pertama, potensi sampah dari masyarakat yang terangkut semakin banyak. Kedua retribusi dari sektor tersebut dapat digenjot. 

“Selanjutnya, akan memberikan peluang kerja bagi mereka yang berkecimpung di pengangkutan sampah. Dari segi retribusi, meskipun kita mengalami kenaikan pemasukan sekitar 17 persen, tapi baru sekitar 38 persen total penduduk penghasil sampah yang tergarap,” ujarnya, dalam video di Channel Aplikasi Si Angsa. 

Ia menyebut, timbunan sampah di Kabupaten Jepra mencapai 1.123 ton per harinya. Adapun total sampah yang bisa terangkut adalah 11,32 persen atau sekitar 100 ton masuk kedalam tempat pembuangan akhir (TPA). Jepara sendiri menurutnya, memiliki tiga TPA yakni TPA Bandengan-Kota Jepara, TPA Gemulung-Pecangaan dan TPA Krasak-Bangsri. 

Dari jumlah timbunan sampah yang ada, hanya 100 ton diantaranya yang masuk ke TPA. Sehingga dengan aplikasi tersebut, diharapkan dapat mengangkut sampah-sampah yang sebelumnya tidak terangkut. 

“Nantinya sampah yang diangkut tidak lantas langsung dibuang begitu saja ke TPA. Namun terlebih dahulu dilakukan pemilahan jenis sampah,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Hebat, Produk Daur Ulang Sampah di Jepara Akan Dijadikan Oleh-oleh Wisatawan

Salah satu Bank Sampah yang dikelola oleh Pemkab Jepara, untuk mendaur ulang sampah yang dihasilkan oleh pegawai kabupaten. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara akan menjembatani penyerapan produk-produk daur ulang sampah dari bank sampah, melalui sebuah paguyuban. Dengan hal itu, diharapkan dapat menambah nilai jual dan meningkatkan persaingan produk dari sampah.

Hal itu disampaikan oleh Kepala DLH Jepara Fatchurohman, Kamis (9/11/2017). Menurutnya, keberadaan bank sampah merupakan ikhtiar untuk mengurangi sampah yang terbuang ke penampungan akhir. 

Meskipun dinilai bermanfaat, namun, selama ini bank sampah masih kesulitan memasarkan produknya. Untuk dapat menjual produk kreasi dari daur ulang sampah, maka bank sampah hanya mengandalkan penjualan langsung kepada masyarakat. Sementara, beberapa bank sampah justru berada di perdesaan yang jauh dari jangkauan. 

“Pemasaran produk bank sampah sudah ada solusi pemasaran, ditampung di paguyuban bank sampah,” kata dia. 

Fatchurohman berkata, ada lebih kurang 90 bank sampah di Jepara. Sebagian besar mendaur ulang sampah anorganik. Salah satu cara untuk menyerap produk kerajinan maupun daur ulang sampah, adalah dengan mendirikan showroom atau ruang pamer. 

“Rencananya paguyuban bank sampah akan membuka showroom di Bandengan. Nah disitu produk sampah bisa dijadikan souvenir wisata. Misalnya dengan menambah labeling untuk menarik minat pembeli,” imbuhnya. 

Ia menyebut dalam sehari, ada sekitar 1.123 ton sampah yang masuk ke TPA. Dari jumlah tersebut, 60 persennya adalah sampah organik, sedangkan sisanya sampah non organik yang memungkinkan untuk didaur ulang. 

Anis Surahman, Divisi Operasional Bank Sampah Pusat Jepara mengungkapkan, bank sampah umumnya menggaet nasabah untuk menabung. Dengan menukarkan sampah yang dimiliki, mereka akan menambah saldo tabungan. 

“Kalau pegiat bank sampah umumnya lebih mementingkan efek sosialnya, kalau memikirkan profit pasti tidak bisa bertahan,” tuturnya. 

Editor: Supriyadi

Keren, Pengelola Bank Sampah Kedungsarimulyo Jepara Sulap Sampah Jadi Rupiah

Motor kaleng, kreasi dari bank sampah Desa Kedungsarimulyo, Kecamatan Welahan-Jepara, Rabu (1/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sampah memang selalu menjadi masalah. Bila tak ditangani, tak hanya bau, lalat pun meruah. Namun dengan kreativitas, sampah bisa jadi berkah bahkan menghasilkan rupiah. 

Contohnya sampah kaleng minuman ringan. Bila dibuang ke tempat sampah atau dijual ke pengepul, hanya dihargai Rp 8000 perkilogram. Namun, jika mau sedikit bersusah payah, kaleng rombeng pun bisa berkali lipat harganya. 

“Kalau bentuk yang ini harganya Rp 20 ribu.Sementara yang lain ada yang Rp 50 ribu,” ujar Siti Fitria, anggota Bank Sampah Desa Kedungsarimulyo, Kecamatan Welahan-Jepara, di stand pameran kreativitas sampah yang digelar di kompleks Pemkab Jepara, Rabu-Kamis (1-2/11/2017). 

Barang lain yang dapat dikreasikan adalah bungkus bekas kopi instan. Plastik tersebut menurut Fitria, tak ada nilainya jika dijual. Namun jika dikreasikan, harganya bisa menjadi mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 80 ribu untuk ukuran besar. 

Dirinya mengakui, uang yang dihasilkan dari kreasi sampah memang tidak seberapa. Namun demikian, dengan upaya tersebut, dapat mengurangi jumlah sampah yang terbuang. 

“Namun kalau dihitung-hitung uangnya hanya cukup untuk mengganti tenaganya saja. Akan tetapi kami dari Bank Sampah Desa Kedungsarimulyo, kami dapat mengurangi sampah, dan mengkreasikannya. Jika bicara sampah, maka jangan membayangkan keuntungannya namun tanggungjawab kita terhadap lingkungan sekitar,” tutur dia. 

Selain berkreasi, sampah juga bisa ditabung. Menurutnya, saat ini sudah ada 46 nasabah dengan total dana terkumpul sebesar Rp 5 juta. Jika sudah terkumpul, saldo tersebut biasanya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan sesuai dengan nilai tabungan nasabah. 

Bank sampah Kedungsarimulyo, bekerjasama dengan pengepul untuk menjual hasil tabungan sampah dari nasabah. Namun kedepan, paguyuban Bank Sampah Jepara rencananya akan menampung kreasi dan hasil sampah dari bank-bank sampah yang ada di desa. 

Editor: Supriyadi

Kesadaran Rendah, Tempat Wisata di Jepara Masih Banyak Sampah

Kegiatan pungut sampah yang dilakukan di Pantai Semat, Kecamatan Tahunan, Minggu (29/10/2017). (GPS Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara kondang dengan berbagai spot wisatanya, namun pada sebagian tempat permasalahan sampah masih saja ditemukan. Catatan Komunitas Gerakan Pungut Sampah (GPS), mereka seringkali menemukan sampah dilokasi wisata, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan kilogram. 

“Terakhir kali aksi pungut sampah dilaksanakan di Pantai Semat. Hasilnya kami memungut sampah sekitar 50 kilogram. Sampah tersebut terserak hampir disepanjang areal tersebut,” kata Kemal Eko, seorang pegiat GPS Jepara, Selasa (31/10/2017). 

Selain di Pantai Semat, kegiatan GPS yang telah dimulai sejak 2015 tersebut juga menyasar lokasi lain. Hasilnya sama, pelancong ataupun warga sekitar acuh terhadap sampah yang mereka hasilkan. Seperti di Pantai Teluk Awur dan Pantai Kartini. 

“Di Pantai Kartini kami melakukan kegiatan pembersihan sebanyak dua kali. Hasilnya sama, masih banyak sampah yang ditemukan. Di tempat pariwisata lain yakni Hutan Karet yang ada di Kelet, sampah wisatawan yang ditemukan bahkan mencapai satu truk, setelah hari raya Idul Fitri kemarin. Sampah dihasilkan oleh mereka yang berwisata tapi meninggalkan begitu saja sampahnya,” imbuhnya. 

Selain rendahnya kesadaran pelancong, masih minimnya fasilitas tempat sampah. Hal itu menyebabkan wisatawan menjadi malas untuk mengurus sampah yang dihasilkan. 

Untuk mengurangi produksi sampah diperlukan intervensi dari pemerintah. Campur tangan itu, menurut Kemal, adalah upaya untuk memberikan contoh. 

“Turun tangan ikut mengajak warga dalam menjaga kebersihan itu penting. Seperti halnya walikota Bandung yang ikut ber-GPS. Ajak warga dalam kegiatan bersih-bersih tiap minggu sekali,” tutup Kemal. 

Editor: Supriyadi

Ckck..Kotornya Sungai Pasar Gajah Demak Bikin Gubernur Turun dari Mobil Dinas

Penampakan sungai kotor penuh sampah. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Demak – Sungai Pelayaran di belakang Pasar Gajah Kabupaten Demak penuh sampah dan sangat kotor. Kondisi itu juga telah berlangsung lama dan tak tertangani pemerintah.

Gubernur Ganjar Pranowo yang lewat di lokasi Rabu (18/10/2017) begini reaksinya. Kali pertama, turun dari mobil dinasnya, Ganjar langsung menuju jembatan yang melintang di atas sungai itu. Terlihat tumpukan sampah di kedua bibir sungai. Kebanyakan sampah plastik. Ada juga kardus, botol minuman, kaleng, buah busuk dan daun sisa pembungkus.

Ganjar hanya geleng-geleng kepala melihat kotornya sungai itu.Tiba-tiba, seorang pria mengenakan topi mendekat. Rupanya dia Kepala Desa Gajah, Masrukhin. “Sampah ini kebanyakan dari pasar pak, dari warga sekitar juga,” kata Masrukhin.

Sampah sudah menumpuk di sungai selebar 12 meter itu sejak puluhan tahun lalu. Sepertinya membuang sampah di sungai sudah biasa bagi pedagang pasar dan warga setempat. “Saya mengusahakan TPS (tempat pembuangan sampah) baru ada satu ternyata tidak cukup,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah menormalisasi sungai dan menyediakan TPS lebih banyak. Ganjar mengatakan, penyediaan TPS tidak akan berguna kalau warga tetap membuang sampah di sungai. Ia meminta Masrukhin mengedukasi warga agar menjaga kebersihan. “Sampah juga bisa dikelola didaur ulang jadi produk baru, sudah banyak yang bisa,” kata Ganjar.

 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melakukan inspeksi mendadak dan melihat banyaknya sampak di Sungai Pelayaran yang berada di belakang Pasar Gajah Kabupaten Demak, Rabu (18/10). (ISTIMEWA)

 

Usai menengok sungai, gubernur dari PDI Perjuangan itu menuju Pasar Gajah. Tak berbeda jauh, sampah juga terserak di sana sini.  “Bapak ibu mbok tolong buang sampahnya jangan di sungai,” katanya kepada para pedagang yang mengerumuninya.

Sekitar 15 menit, Ganjar mengobrol dengan pedagang. Selain masalah sampah, pedagang mengeluhkan perbaikan pasar yang tak kunjung dilakukan. Repotnya, pasar itu dibangun dan dikelola pihak swasta sehingga Pemkab Demak tidak bisa mengintervensi.

“Ya nanti saya bicarakan dengan pak Bupati, tapi yang penting pasar bagus atau lama kalau sampah tidak dijaga ya percuma, mulai sekarang kebersihan dijaga bisa ya,” pungkas Ganjar.

Editor : Akrom Hazami

Sekda Jateng Akui Sulit Gerakkan Warga untuk Kelola Sampah

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono menyebut masalah sampah di provinsi ini cukup kompleks. Penyebabnya, sulit untuk mengajak masyarakat untuk mengelola sampah.

Ia menyebut, pengelolaan sampah merupakan masalah turun-temurun yang belum sepenuhnya tuntas. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kompleksitas pengelolaan sampah pun meningkat.  

“Pengelolaan sampah menjadi masalah sejak kita lahir. Orang-orang pendahulu kita sudah dihadapkan dengan masalah sampah, meski tidak serumit sekarang. Saat ini manusia makin banyak frekuensi aktivitasnya, makin banyak persoalan sampah yang muncul,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah itu mencontohkan, banjir di perkotaan yang terjadi tak semata-mata karena buruknya sistem drainase. Namun juga disebabkan masalah sampah yang belum ditangani dengan baik.

Menurutnya, cara yang jitu yakni, pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan hal penting yang harus diterapkan.

“Pengelolaan sampah berbasis masyarakat itu penting. Tapi menggerakkan masyarakat itu tidak mudah. Perlu menciptakan mindset,” ujarnya.

Sri Puryono menuturkan, pihaknya bercita-cita menggagas program clean and green city. Melalui program tersebut, dia berharap, budaya untuk memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali daur ulang sampah dapat diterapkan secara kontinyu.

“Untuk kita yang di Jawa Tengah, saya punya angan-angan bagaimana menciptakan clear and green city. Kalau kota bersih dan hijau, maka nyamanlah sudah kota itu. Ini hendaknya dilakukan pula di tingkat kecamatan, kelurahan atau desa. Untuk mengelola sampah dengan baik, perlu memilah, memilih, mengolah, dan memanfaatkan kembali daur ulang sampah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

VIRAL, Buang Sampah 1 Truk ke Sungai Bogowonto Wonosobo

Warga melihat kondisi sungai Bogowonto yang jadi lokasi pembuangan sampah satu truk di Wonosobo. (wonosobozone)

MuriaNewsCom, Wonosobo – Lagi viral, aksi buang sampah liar ke sungai Bogowonto Sapuran Wonosobo. Aksi itu terekam kamera. Tampak seorang pria dengan enaknya membuang sampah hingga berkarung-karung ke aliran sungai tersebut. Pria itu juga sadar kalau dirinya direkam saat membuang sampah. Bahkan sudah diingatkan. Lokasinya di sisi jalan alternatif Magelang-Wonosobo.

Karena video mendapat respons banyak dari warganet, polisi pun bereaksi. Polres Wonosobo melakukan penyelidikan aksi pembuangan sampah di sungai itu. Saat ini, polisi  telah mengamankan dua orang yang ada dalam video, Rabu (30/8/2017). Mereka berdua berinisial NI dan P. Hasil penyelidikan, mereka mengakui jika dalam video itu adalah benar mereka.

“Setelah mendapat informasi kami langsung lidik. Mereka sudah dimintai keterangan dan mengakui,” kata Kapolres Wonosobo AKBP Muhammad Ridwan, Kamis (31/8/2017) dikutip dari tribunjateng.com.

Tampak di video itu, mobil truk bercat hijau tosca yang dipakai mereka untuk mengangkut sampah turut diamankan ke mapolres. Sementara ini, mobil itu masih diamankan dan terparkir di halaman mapolres. Sementara keduanya diperbolehkan pulang dan siap dipanggil kembali oleh penyidik untuk keperluan penyelidikan.

Perwira Urusan Subag Humas Polres Wonosobo Nanang Dwi Putro Wibowo mengatakan, dari hasil pemeriksaan oleh penyidik, NI dan P mengakui perbuatannya. Di hadapan polisi, mereka mengaku membuang sampah di sungai dengan alasan kepraktisan karena sampah dianggap langsung hanyut atau lenyap terbawa arus.

Sampah berkarung-karung yang dibuang ke sungai itu berisi limbah jahe dan ubi talas yang tak terpakai. Kejadian yang terekam dalam video itu ternyata bukan peristiwa baru. Menurut pengakuan N, kejadian itu telah berlangsung sekitar 3 bulan lalu.

Polisi harus menggelar perkara itu terlebih dahulu sebelum menjerat terduga pembuang sampah dengan pasal pidana. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo untuk mendalami kasus tersebut karena berkaitan dengan isu lingkungan. “Sungai itu memang sering disalahgunakan warga untuk membuang sampah. Dengan kejadian ini semoga kesadaran warga untuk menjaga lingkungan meningkat,”katanya

Diketahui, sungai itu telah sering menjadi tempat pembuangan sampah. Seperti sampah sayur busuk, bangkai, dan lainnya. Sungai Bogowonto yang jadi viral itu di Desa Pecekelan, Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Warga di lokasi itu kerap mengingatkan agar tidak buang sampah di sungai. Sebab bau yang ditimbulkan amat menyengat dan menggangu indera penciuman warga setempat. Biasanya, jika sempat dan tidak hujan, warga membakar sampah buangan orang lain tersebut. Tapi sampah yang sulit dibakar itu biasanya adalah sampah sayuran basah.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo berharap polisi menindak tegas pelaku pembuangan sampah di sungai. “Ini tindakan membuang sampah di sungai bisa mengakibatkan dampak negatif luar biasa, merugikan ekosistem sungai sampai memicu banjir, sehingga saya sudah meminta kepada kapolres untuk menindak tegas pelakunya,” kata Agus.

Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk kades dan camat se-Wonosobo.  Komitmen Pemkab Wonosobo untuk serius membenahi kesadaran warga masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan juga diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Supriyanto.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Grobogan Diminta Prioritaskan Pembuatan Tempat Penampungan Sampah Sementara

Tumpukan sampah liar di pinggir jalan raya Purwodadi-Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta agar Pemkab Grobogan menaruh perhatian serius pada masalan penanganan sampah. Salah satunya, dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPSS) atau menyediakan kontainer di sejumlah titik.

Permintaan itu dilontarkan karena saat ini makin marak tempat pembuangan sampah liar. Kebanyakan, tempat pembuangan sampah liar ini berada di pinggir jalan raya yang dilalui banyak pengendara. Antara lain, di ruas jalan raya meruju arah Semarang, Pati, Boyolali dan Solo.

Dengan membuat TPSS atau menyediakan kontainer memang menjadi salah satu solusi untuk menekan volume sampah. Sebab, sampah bisa terkumpul dalam satu titik sehingga mudah diangkut menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Adanya tumpukan sampah liar membuat pemandangan menjadi kurang sedap. Apalagi, saat musim hujan tiba. Ketika kena air hujan, bau menyengat dari sampah yang membusuk sering mengganggu kenyamanan pengendara.

“Tempat pembuangan sampah liar di pinggir jalan itu sudah berlangsung cukup lama. Namun, sejauh ini belum ada solusinya,” kata Risma, pengendara motor yang biasa melintasi tumpukan sampah liar di wilayah Kecamatan Godong, Rabu (30/8/2017).

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Ahmadi Widodo menyatakan, pembuatan TPSS memang dinilai cukup efektif mengatasi keberadaan tempat pembuangan sampah liar itu. Meski demikian, untuk membuat TPSS butuh lahan tersendiri.

“Penyediaan lahan ini seringkali jadi salah satu kendalanya. Disamping itu, butuh dukungan pula anggaran yang cukup besar. Saat ini, kita sudah ada beberapa TPSS dan menyediakan kontiner di sejumlah titik. Namun memang belum menjangkau ke semua kecamatan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Kini Objek Wisata Dieng Wonosobo Bebas Sampah

Polisi, TNI, dan warga gotong-royong membersihkan sampah di Dieng, Wonosobo. (wonosobokab.go.id)

MuriaNewsCom, Wonosobo – Masyarakat di kawasan wisata Dieng Kabupaten Wonosobo, yakni Desa Sembungan, Sikunang, Jojogan, Patak Banteng, Parikesit, dan Dieng Wetan menyepakati komitmen bersama untuk mewujudkan Dieng yang bersih tanpa sampah melalui deklarasi “Dieng Bersih Harga Mati”.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo di Wonosobo, mengatakan deklarasi tersebut sebagai langkah maju yang sangat berarti bagi upaya memajukan Dieng sebagai salah satu destinasi wisata unggulan berkelas internasional.

Ia menuturkan langkah tersebut secepatnya bakal diikuti dengan pembangunan tempat pembuangan akhir sementara (TPAS) yang rencananya berlokasi di Dusun Siterus, Desa Sikunang.

“Tentu kami bersyukur langkah untuk membenahi masalah sampah di kawasan wisata Dieng ini mendapat dukungan dari warga masyarakat, bahkan kemudian tumbuh kesadaran untuk mendeklarasikan Dieng Bersih Harga Mati,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Ia berharap ke depan komitmen masyarakat untuk bersama-sama pemerintah kabupaten menjaga Dieng agar tetap bersih terus dipertahankan sehingga wisatawan yang berkunjung ke juga merasakan kenyamanan serta menambah masa kunjungannya.

“Semakin lama wisatawan tinggal di Dieng, imbasnya tentu ke perputaran ekonomi masyarakat juga,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemkab Wonosobo, Supriyanto mengatakan tumbuhnya kesadaran warga untuk mendukung Dieng bersih memang tidak dapat serta merta, melainkan memerlukan proses dan tahapan berjenjang.

Ia menuturkan nantinya langkah pemkab membangun TPAS di Siterus juga melibatkan keenam desa tersebut, termasuk dalam hal keterlibatan dana transfer desa untuk pembangunan tempat penampungan sampah terpadu (TPST) di desa masing-masing.

“Tahapan sebelum sampah dibuang di TPAS, masyarakat harus mampu memilah sampah di tingkat keluarga, apakah masih dapat dimanfaatkan atau tidak, termasuk apakah dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai manfaat dan ekonomi,” katanya.

Ia mengatakan lokasi TPAS yang rencananya didirikan di Siterus seluas 2.000 meter persegi telah disepakati warga. Ia berharap dengan adanya TPAS tersebut, residu sampah yang nantinya harus dibuang di TPA Wonorejo bakal berkurang drastis sehingga mampu mengurangi dampak lingkungan.

Editor : Akrom Hazami

Sampah Sisa Karnaval di Jepara Bikin Kotor Alun-alun

Tampak salah satu titik di Alun-alun Jepara yang dipenuhi sampah sisa karnaval. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval HUT RI Ke 72 di Jepara memang meriah, tapi setelah even rampung sampah sisa dari penonton, selalu bertebaran. Meskipun langsung dibersihkan oleh petugas, namun hal itu mengindikasikan masih rendahnya kesadaran warga akan kebersihan. 

“Pasti sehabis acara ada sampah yang bertebaran. Padahal di sudut-sudut alun-alun sudah disediakan tempat sampah. Namun kenyataannya, sampah lebih banyak berserakan di jalan, dibanding dibuang di tempat yang telah disediakan,” ucap Ahmad Suyudi, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Jepara, Selasa (15/8/2017).

Ia mengatakan, hal itu karena rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya sampah umum yang berserakan setelah acara. 

Dalam dua hari pelaksanaan karnaval, sampah yang dikumpulkan diangkut dengan tiga truk pengangkut sampah. Sementara itu, jumlah petugas yang diturunkan mencapai puluhan orang. 

Hal itu dibenarkan oleh mandor pemungutan sampah Mulyono, ia mengatakan di Alun-alun Jepara ada sekitar 40 tong sampah. Namun fasilitas itu ternyata kurang dimanfaatkan oleh warga. 

“Sebenarnya fasilitas itu (tempat sampah) cukup untuk menampung sampah masyarakat. Namun kesadarannya akan kebersihan masih rendah, akhirnya kami dari dinas yang harus turun tangan,” ujarnya. 

Seorang warga Alvin mengakui hal itu. Menurutnya, kesadaran  masyarakat membuang sampah di tempatnya memang masih rendah. “Ya memang kesadarannya masih kurang. Buktinya masih banyak sampah bertebaran sehabis acara seperti ini. Saya sendiri punya usul, jika memang saat punya sampah tapi tak didekat tempat sampah, ya sebaiknya bawa dulu sampai menemukan tong sampah,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

TPA di Ngembak Grobogan Bakal Dilengkapi Jembatan Timbang

Tim dari kementerian PUPR, DLH Grobogan, dan konsultan sedang berada di kawasan TPA untuk menentukan lokasi pekerjaan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek penataan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi berlanjut lagi. Rencananya, berbagai fasilitas tambahan juga akan disiapkan di lokasi tersebut. Salah satunya adalah keberadaan jembatan timbang.

Kasi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Noer Rochman menyatakan, sebelumnya memang sudah ada penataan lokasi TPA dengan anggaran sekitar Rp 18 miliar yang berasal dari Kementerian PUPR. Selain penataan tempat pengolahan sampah, dana dari Kementerian PUPR juga dialokasikan untuk pembuatan sarana pendukung. Seperti, jalan menuju zona, kantor, musola, tempat cuci truk, laborat, tower air, pagar kawat sekeliling dan lampu penerangan bertenaga surya.

Namun, untuk tahun ini, pihaknya meminta bantuan lagi untuk melengkapi sarana dan prasarana di TPA. Antara lain, berupa jembatan timbang, pembuatan jalan manuver dari pintu masuk TPA, hingga zona sampah baru. Kemudian, bronjong kawat untuk penahan tumpukan sampah yang lama supaya tidak longsor.

“Proyek tersebut semua dikendalikan dari kementerian. Saat ini, baru tahap persiapan pekerjaan untuk menentukan titik lokasi,” katanya, Kamis (3/8/2017)

Dijelaskan, keberadaan fasilitas pendukung, khususnya jembatan timbang memang sangat diperlukan. Sebab, dengan pengelolaan model controlled landfill yang diterapkan saat ini perlu mengetahui berapa banyak volume sampah di kolam pembuangan.

Pada model controlled landfill, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat barat menjadi sebuah sel. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm.

Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, di atasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

“Idealnya, sebelum ditimbun tanah sampah yang akan masuk ditimbang dulu. Dengan demikian, kita bisa mengetahui berapa volume sampah yang sudah ada di kolam pembuangannya,” imbuhnya.

Selain dari kementerian, ada alokasi dana dari APBD kabupaten. Penggunaannya untuk penutupan sampah di zona lama yang masih pakai open dumping. Penutupan ini butuh tanah sekitar 1.500 meter kubik. Kemudian penanaman bambu di sekeliling TPA yang berfungsi sebagai pembatas serta buffer zone.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

TPA Gemulung Jepara Sudah Penuh

Warga melakukan aktivitas pemilahan sampah di TPA Gemulung, Kabupaten Jepara, Senin. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di Desa Gemulung, Kabupaten Jepara, semakin padat. Selain dari perkampungan dan pasar meningkatnya gunungan sampah juga disumbang dari aktivitas pabrik dan rumah indekos di sekitar wilayah tersebut. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, kegiatan manufaktur di wilayah Gemulung dan Banyuputih memang berkontribusi pada jumlah sampah yang masuk di TPA tersebut. 

Ia mewacanakan untuk memindahkan lokasi TPA mengingat kondisinya yang hampir tak kuat menampung. “Kita wacanakan untuk tempat tersebut harus dipindah. Hal itu mengingat sisi kanan dan kirinya sudah tak mungkin lagi diperluas,” katanya, Selasa (1/8/2017). 

Saat ini sudah ada dua desa yang dijadikan calon lokasi TPA baru. Namun demikian hal itu masih menanti kajian lebih lanjut. Adapun, TPA Gemulung menampung sampah dari wilayah selatan Jepara seperti Mayong, Kalinyamatan, Welahan, Pecangaan dan sedikit wilayah Nalumsari. Sementara volume sampah tiap hari mencapai tiga ton. 

Menunggu rencana tersebut matang, pihaknya tengah berusaha untuk memaksimalkan luasan wilayah yang ada. Hal itu juga diamini oleh Kabid Kebersihan dan Pertamanan Isnan Haryono.  “Saat ini hanya ditata agar masih bisa menampung dengan menatanya keatas,” kata Isnan.

Editor : Akrom Hazami

 

Libur Panjang, Volume Sampah di Jepara Bertambah 25 Persen

Seorang pemulung sedang memilah sampah di TPA Desa Bandengan, Senin (24/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Libur panjang dan banyaknya kegiatan, berdampak pada meningkatnya volume sampah di Jepara. “Luar biasa (volume sampah) apalagi banyak acara, seperti di alun-alun,” ucap Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Jepara,  Senin (24/4/2017). 

Menurutnya, volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan naik hingga 10 ton dari hari biasa. Dirinya menyebut, di hari normal total buangan sampah ke fasilitas tersebut berjumlah 40 ton hingga 43 ton. 

Lulut mengatakan, volume sampah juga berasal dari berbagai acara di bulan April. Meskipun ada komitmen untuk menjaga kebersihan venue tiap kali event berlangsung, namun kenyataan di lapangan berbicara lain. 

“Komitmennya ketika ada sebuah acara sampah dinolkan, artinya sebelum acara bersih, setelahnya juga harus bersih. Namun terkadang peserta acara ada yang langsung pergi, yah kami memaklumi mungkin karena capek. Akan tetapi, kami juga punya jalur pemungutan sampah sendiri, jadi kalau ada acara ya harus pintar-pintar mengatur petugas untuk mengatasi masalah tersebut,” ujarnya. 

Dirinya mengatakan, sampah yang masuk ke TPA Bandengan berasal dari Kecamatan Jepara, Batealit, Tahunan, sebagian Kedung dan sebagian Pakis Haji. 

Ia mengatakan, dengan kondisi seperti itu, fasilitas TPA masih bisa mengatasi. Namun demikian, ia tidak menampik kenyataan, volume sampah kini telah menggunung. 

“Ya kami berusaha agar meskipun banyak orang yang memproduksi sampah, namun jumlah yang masuk ke TPA tidak begitu banyak. Cara yang kami tempuh adalah dengan mengedukasi masyarakat, terkait pengelolaan sampah,” pungkas Lulut. 

Editor : Kholistiono

 

Pembuatan Kolam Sementara untuk Pembuangan Air Resapan Sampah di TPA Landoh Mulai Dilakukan

Dua alat berat disiagakan untuk membuat komlam sementara di TPA Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Keberadaan kolam yang menampung air resapan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang, banyak menuai protes dari warga sekitar. Hal ini, karena limbahnya mencemari air sumur warga.

Terkait hal itu, kini, akan dilakukan pengurasan terhadap air resapan sampah yang berada di kolam tersebut. Namun, sebelum dikuras, terlebih dahulu dibuatkan kolam sementara untuk menampung limbah cair tersebut.

Saat ini, petugas sudah menurunkan alat berat untuk mengecek ketebalan sampah di TPA tersebut. “Kalau memang tumpukan sampahnya agak tipis, akan langsung digali untuk dibikin kolam sementara,” ujar Suyikno, salah satu petugas di TPA Landoh.

Menurutnya, untuk kolam penampungan sementara akan dibuat di area TPA seluas 6 hingga 7 meter dan sedalam 6 meter. Sebab, penampungan sementara itu akan bisa meresap air sampah ke dalam tanah dan tidak bisa mengendap.

Kemudian, terkait kendala saat ini, pihaknya mengakui bahwa di saat hujan tiba, maka pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu. Sebab air hujan bisa menggenangi kolam tersebut “Kalau masih hujan kayak ini sulit untuk mengeruk sampah. Sehingga pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Duh, Alun-alun Purwodadi Belum Dilengkapi Tempat Sampah

Kawasan alun-alun di sekitar tenda PKL perlu disediakan tempat sampah karena sudah mulai ramai pembeli. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi yang menelan dana Rp 10,3 miliar ternyata tidak ada alokasi untuk penyediaan sarana dan prasarana penunjang. Salah satunya, keberadaan tempat sampah.

Padahal keberadaan sarana yang dianggap sepele ini cukup penting untuk menunjang kebersihan alun-alun. Terutama, untuk kebersihan di sekitar tenda PKL di sisi timur yang sudah ditempati sejak Sabtu (11/2/2017) malam lalu.

“Saya dari tadi cari tempat sampah untuk buang gelas plastik bekas minuman tetapi tidak ketemu. Akhirnya, saya taruh saja di bawah pohon besar ini,” kata Lastri, salah seorang pengunjung alun-alun, Rabu (14/2/2017) malam.

Ketua Paguyuban PKL alun-alun Nur Wakhid membenarkan jika saat ini belum ada sarana tempat sampah sampai saat ini. Padahal, keberadaannya sangat dibutuhkan para PKL untuk membuang sampah. Diketathui saat ini volume sampah cukup banyak.

“Untuk sementara, sampah kita kumpulkan dan dibuang di tempat sampah seberang jalan. Kami berharap, keberadaan tempat sampah segera ditempatkan di sekitar sini. Khususnya, di sekitar lokasi PKL yang potensi sampahnya cukup banyak. Selama ini, kami berupaya lokasi ini tetap bersih setelah PKL selesai jualan,” jelas pedagang nasi soto itu.

Sementara itu, Kasi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman saat dikonformasi menyatakan, awalnya pengadaan tempat sampah dikira sudah jadi bagian dalam proyek revitalisasi alun-alun. Namun, ternyata tidak ada alokasi anggaran untuk pengadaan tempat sampah.

“Saat ini, kami sudah menyiapkan tempat sampah untuk ditaruh di kawasan alun-alun. Barangnya lagi diproses bikin dan dalam waktu dekat sudah jadi,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Bendung Wilalung Kudus Penuh Sampah

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bendung Wilalung Kudus dipenuhi tumpukan sampah di ujung pintu air. Hal itu berbeda dari biasanya, karena kali ini sampah mengambang di bendung. Hal itu disampaikan penjaga Bendung Wilalung Noor Ali di Kudus, Rabu (8/2/2017).

Menurutnya, sampah saat ini masih menutup akses air meski debit ai telah berkurang. “Biasanya sampah langsung hilang saat air surut. Tapi kali ini masih ada. Jumlah sampah juga cukup banyak,” kata Ali.

Sampah yang ada itu merupakan kiriman dari berbagai tempat. Seperti halnya sampah dapur dan permukiman. Namun di antara sampah itu yang banyak adalah sampah pohon pisang. Menyikapi hal itu, pihaknya sudah mengajukan  surat kepada balai besar terkait hal itu.

Surat tersebut, merupakan laporan kepada atasan untuk mengatasi sampah. Namun sampai sekarang belum ada instruksi tentang pembersihan sampah. “Biasanya ada pekerja yang membersihkan sampah. Modelnya dengan menghanyutkan sampah ke sungai dan terbawa arus. Soalnya kalau diambil sangat sulit dan tak ada kendaraan,” imbuh dia.

Editor : Akrom Hazami

Anggota DPRD Grobogan Dukung Penanganan Sampah Berkonsep Ramah Lingkungan

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Upaya penanganan sampah dengan konsep ramah lingkungan yang dilakukan instansi terkait mendapat dukungan dari wakil rakyat setempat. Salah satunya, datang dari Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo.

“Penanganan sampah sudah jadi persoalan serius yang mesti ditangani. Tentunya, upaya yang dilakukan oleh dinas terkait akan kita dukung sepenuhnya sepanjang untuk kebaikan masyarakat,” katanya.

Dia menyadari, untuk menangani sampah dengan konsep ramah lingkungan memang butuh biaya tidak sedikit. Nantinya, dari anggota DPRD akan berupaya mendukung alokasi dana yang dibutuhkan supaya penanganan sampah bisa lebih maksimal. Tidak hanya sampah di kawasan kota saja tetapi juga di level kecamatan lainnya yang juga butuh perhatian serius. Meski memberikan dukungan, namun Nurwibowo memberikan catatan khusus dalam penanganan sampah tersebut. Hal itu semata-mata tidak dilakukan hanya demi mendapatkan piala Adipura saja. Tetapi memang untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih luas guna menciptakan lingkungan yang sehat, rapi dan indah.

“Ada penilaian Adipura atau tidak, penanganan sampah tentu harus dilakukan sungguh-sungguh. Kalau penanganan kebersihan yang dilakukan bagus termasuk masalah sampah maka kesempatan dapat piala Adipura pasti lebih mudah. Jadi, kalau penanganan sampah tujuannya hanya untuk dapat piala Adipura malah kurang pas jadinya,” tegus politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Dukungan terharap penanganan sampah berkonsep ramah lingkungan juga dilontarkan Ketua Komisi B Budi Susilo. Budi menegaskan, dalam penanganan sampah, sebaiknya juga melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat. “Persoalan sampah ini merupakan masalah kita bersama. Jadi, salah satu komponen penting untuk menangani sampah adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegasnya.

Budi menilai, penanganan sampah yang dilakukan sejauh ini memang masih perlu ditingkatkan lagi. Tidak hanya di kawasan kota tetapi juga sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan raya. Seperti di Kecamatan Godong dan Gubug. Terkait dengan Piala Adipurna, sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih simbol kebersihan itu sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama.

“Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang. Kami tentu akan mendukung upaya penanganan sampah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Penanganan Sampah Makan Biaya Rp 2 Miliar 

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak khusus pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk membuat  suasana kota Purwodadi bersih dari sampah ternyata juga butuh dukungan biaya yang tidak sedikit. Sebab, banyak personel dan peralatan pendukung yang harus disiapkan untuk mengangkut sampah dari permukiman hingga sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.

“Untuk penanganan sampah memang butuh dana besar. Tahun 2017 ini, alokasi dana untuk menangani sampah sekitar Rp 2,6 miliar,” Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman.

Menurutnya, sebagian besar dana yang tersedia tersedot untuk biaya operasional. Yakni, honor tenaga harian lepas (THL), bahan bakar dan operasional alat berat di TPA. Lebih lanjut dijelaskan, untuk penanganan sampah pihaknya memiliki 4 dump truk dan 5 truk amrol untuk mengangkut kontainer sampah. Jumlah kontainer keseluruhan ada 40 unit yang tersebar di kawasan kota dan beberapa kecamatan.

Peralatan lainnya berupa 57 becak kayuh, dan 4 becak motor roda tiga. Kemudian, peralatan berat yang siaga di TPA berupa 1 unit backhoe dan 2 unit buldoser. Untuk jumlah THL yang dimiliki sekiar 150 orang. Personel ini, terdiri dari para penyapu jalan raya dan pengambil sampah dari kawasan pemukiman yang ada di kawasan perkotaan. Kemudian, ada lagi tenaga yang ada di TPA serta kru truk yang selain mengambil sampah atau kontainer di kota juga menyisir ke beberapa TPS di kecamatan.

Alokasi dana penanganan sampah tahun ini, tidak terpaut jauh dengan tahun 2016. Kemungkinan, pihaknya akan mengupayakan penambahan sedikit anggaran untuk pengadaan tanah urug di TPA. Dengan penanganan TPA model controlled landfill yang akan dilakukan dalam waktu dekat memang butuh tanah urug untuk melapisi sampah yang sudah ditimbun. Secara berkala, sampah yang sudah dipadatkan akan ditutup dengan lapisan tanah setebal 5-10 cm. Misalnya tiap tiga hari atau seminggu sekali dengan tujuan untuk menutup sampah biar tidak terlihat dan mengurangi bau serta lalat. Setelah dilapisi tanan, diatasnya nanti ditimbun sampah lagi dan begitu seterusnya sampai zona penuh.

“Penanganan TPA model controlled landfill memang harus ada persediaan tanah. Fungsi tanah ini di sisi lain untuk mempercepat proses dekomposisasi sampah supaya mudah terurai,” jelasnya.

Disinggung soal adanya penambahan peralatan pendukung, Noer Rochman menyatakan, untuk sementara belum ada pengadaan baru tahun ini. Peralatan yang ada masih bisa difungsikan untuk menangani sampah. “Beberapa peralatan yang mengalami kerusakan kita upayakan perbaikan dulu. Kalau pengadaan mungkin tahun mendatang. Salah satu kebutuhan yang perlu kita lakukan ke depan adalah meremajakan becak sampah kayuh. Mungkin tahun depan akan kita upayakan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Selain Penataan TPA, Ini Kunci Utama Raih Adipura

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga memilah sampah di TPA di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalam beberapa tahun terakhir, kegagalan meraih Piala Adipura memang terganjal pada faktor tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.Belum dilakukannya pengelolaan sampah ramah di lingkungan di TPA, membuat skor penilaian Adipura selalu menurun. Padahal, sektor TPA ini dapat angka tinggi dalam penilaian Adipura.

 “Sekarang, kawasan TPA sudah ditata dan kesempatan untuk meraih piala Adipura kembali terbuka. Kita harapkan, pada tahun 2017, piala Adipura bisa kita raih lagi,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Untuk bisa meraih Adipura tidak sekadar konsentrasi pada TPA.  Tetapi diperlukan konsep yang jelas, terpadu dan berkesinambungan. Selain itu, ada hal lain yang lebih utama untuk dikerjakan. Yakni menggandeng semua komponen masyarakat untuk menyukseskan penilaian Adipura. Caranya, dengan meminta partisipasi masyarakat untuk menata lingkungan masing-masing agar bersih, rapi, asri serta penanganan sampahnya dilakukan dengan baik.

“Dalam penilaian Adipura faktor yang dinilai cukup banyak. Kalau bisa melibatkan semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi maka kesempatan meraih Adipura bisa lebih terbuka. Jadi, salah satu komponen penting adalah menggugah kesadaran warga akan pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih. Baik berkaitan dengan penilaian Adipura maupun tidak,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sejauh ini, Grobogan sudah berhasil meraih piala Adipura sebanyak empat kali. Yakni, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Empat kali keberhasilan meraih juara itu tidak didapat dengan mudah tetapi butuh keseriusan serta persiapan yang lama. “Untuk meraih Adipura tidak bisa dilakukan dengan instan. Jika digarap dengan sungguh-sungguh maka kesempatan mendapatkan Adipura pasti datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Ahmadi Widodo menegaskan, sejauh ini, partisipasi masyarakat, khususnya di kawasan kota untuk mendukung piala Adipura dinilai sudah cukup menggembirakan. Empat kali keberhasilan meraih Adipura merupakan salah satu bukti adanya partisipasi dari berbagai elemen masyarakat. Selain menata menciptakan lingkungan, sejumlah perkampungan juga mulai mendirikan Bank Sampah. Adanya bank sampah ini menjadikan warga memilah sampah terlebih dahulu. Kemudian, sampah yang sudah dipilih ditabung di bank sampah dan sisanya baru dibuang.

“Secara umum, konsep bank sampah itu cukup simpel. Yakni, masyarakat menyetorkan sampah yang sudah dipilah di rumah ke bank sampah. Mereka ini tidak mendapatkan uang tunai ketika menyetorkan sampah tetapi uang itu masuk dalam rekening tabungan bank sampah. Selain dapat penghasilan, melalui bank sampah ini bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA,” jelasnya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa kampung yang punya Bank Sampah. Selain itu, ada pula Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di berbagai tempat. Anggota KSM ini juga melakukan pemilihan sampah yang masih bisa punya nilai ekonomi. Di samping itu, berbagai pelatihan kerajinan dari bahan bekas juga sudah seringkali diberikan pada berbagai komponen masyarakat. Termasuk pada kalangan pelajar.

Editor : Akrom Hazami