Said Aqil : Rembang Itu Adem, Nggak Seperti Jakarta yang Beberapa Hari Terakhir ‘Panas’

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj saat memberikan tausiyah di Ponpes Raudlatut Talibin Rembang, Senin (5/12/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj saat memberikan tausiyah di Ponpes Raudlatut Talibin Rembang, Senin (5/12/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berkunjung ke Rembang, Senin (5/12/2016) malam. Hal itu untuk menghadiri Peringatan Maulud  Nabi Muhammad SAW dan Haul Masyayikh Ponpes Raudlatut Talibin Rembang.

Dalam kesempatan itu, Said Aqil menyampaikan, meski berada di kawasan pesisir pantai, namun Rembang dirasakannya “sejuk” dibandingan dengan kondisi di Jakarta dalam waktu beberapa hari terakhir yang disebut terasa panas.

“Saya merasa, Rembang ini adem ayem. Berbeda dengan kondisi yang ada di Jakarta, saat ini terasa panas. Kenapa bisa jadi panas? Ya, karena memang yang memanaskan, sehingga menjadi panas,” ujarnya.

Said Aqil juga mengingatkan pentingnya seorang pemimpin yang harus bisa menengahi setiap permasalahan yang terjadi. Sebab, seorang pemimpin dibutuhkan rakyatnya dan memiliki tanggung jawab terhadap yang dipimpinnnya.

“Saya mengimbau, dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, seorang pemimpin tidak boleh berpihak. Baik blok kiri maupun blok kanan.Artinya harus netral. Sehingga nantinya mampu menjaga keseimbangan,” ungkapnya.

Dia menilai, kondisi tersebut sama sulitnya dengan menjaga keutuhan NKRI. Dengan berpegang teguh kepada prinsip yang sudah di pegang sejak awal, segala macam gempuran baik dari segala sisi, NKRI tetap harga mati.

“Alhamdulillah, saat ini kita masih punya prinsip yang kuat, mewarisi sifat ulama para pendiri negara ini yang sama sekali tidak terpengaruh dengan segala macam bentuk ideologi, budaya dan lain sebagainya dari luar negeri,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dirinya berharap bahwa para kiai dan santri, harus memiliki jiwa nasionalisme tinggi, agar tetap senantiasa menyerukan NKRI harga mati. “Sehingga segala macam bentuk gempuran akan hilang, jika semuanya bersatu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono