Didominasi Tembakau Lokal, PR Sukun Habiskan 9 Ton Tembakau Tiap Hari

MuriaNewsCom, Kudus – Penggunaan tembakau impor menjadi pembahasan menarik Tim Pansus RUU Tembakau saat berkunjung di PR Sukun, Kamis (8/2/2018). Selain berkaitan dengan Permendag Nomor 84 Tahun 2017 tentang pembatasan tembakau impor, hal itu juga menjadi tolok ukur kesejahteraan petani tembakau.

Anggota Pansus RUU Tembakau Fadholi mengatakan, dunia tembakau tak bisa lepas dari empat pilar pelaku rokok. Empat pilar itu adalah pabrik, petani, perokok, dan pemerintah.

”Untuk itu, kami harus tahu berapa tembakau impor yang digunakan, berapa tembakau lokal, dan di mana saja petani binaannya?” katanya.

Baca : Ternyata Ini yang Ingin Diketahui Tim Pansus RUU Tembakau saat Berkunjung ke Perusahaan Rokok di Kudus

Mendapat pertanyaan itu, General Affairs PR Sukun Agus Sardjono mengatakan, PR Sukun merupakan perusahaan rokok yang selalu memperhatikan petaninya. Salah satu caranya dengan mengedepankan 3M, yakni Manak, Mantu, Mati.

”Jadi kami memang selalu mengedepankan kekeluargaan. Petani binaan yang ada selalu kami dampingi. Bahkan saat ada yang manak (melahirkan), mantu (pernikahan), dan mati (meninggal) kami juga ikut pertisipasi,” katanya.

Selain itu, untuk pembinaan petani, pihaknya juga sering memberikan pendampingan. Mulai dari masa tanam hingga panen. Sayangnya, untuk terkadang petani tembakau ada yang ’nakal’. Kenakalan itu terlihat saat masa panen. Jika tembakau berhasil, mereka terkadang menjual ke pihak ketiga.

”Karena itu, kami dari PR Sukun terkadang dibilang biangkerok. Itu disematkan karena kami membeli tembakau di atas harga pasar. Selisihnya kadang sampai Rp dua ribu per kilogram,” tegasnya.

Dengan cara itu, lanjutnya, pihaknya bisa menjaga kualitas rokok dan memakmurkan petani. Hal ini pun saling menguntungkan. Apalagi kebutuhan tembakau di PR Sukun setiap harinya mencapai sembilan ton.

Perinciannya, dari sembilan ton, dua ton di antaranya digunakan untuk membuat rokok dengan sistem Sigaret Kretek Tangan (SKT). Sementara tujuh ton sisanya digunakan untuk rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM). Hanya saja, untuk komposisi tembakau impor jumlahnya berbeda-beda.

”Untuk SKT, 93 persen kami menggunakan tembakau lokal. Sisanya (tujuh persen) menggunakan tembakau impor. Sedangkan, untuk SKM tembakau impornya mencapai 35 persen,” ungkapnya.

Meski mencapai 35 persen, tegas Agus, jumlah itu berbeda-beda tergantung produknya. Untuk Sukun Executive, tembakau impor yang digunakan hanya 15 persen. Sementara untuk varian Mild lebih besar.

”Mild memang lebih besar karena  untuk membuka dan memenuhi permintaan pasar. Kalau tidak begitu, maket kami akan kalah dengan perusahaan lain,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca juga : Pansus RUU Tembakau DPR RI Minta Masukan ke 3 Perusahaan Rokok di Kudus

Ternyata Ini yang Ingin Diketahui Tim Pansus RUU Tembakau saat Berkunjung ke Perusahaan Rokok di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Selain untuk meminta masukan perusahan rokok, kedatangan Tim Pansus RUU Tembaku di Kudus juga ingin melindungi Industri Hasil Tembakau dalam negeri untuk terus berkembang. Mereka tak ingin perusahaan rokok yang menjadi lapangan pekerjaan jutaan orang dan pendapatan APBN terus merosot.

“Ada tiga hal yang kami tekankan dalam pertemuan ini. Pertama kami ingin meminta masukan supaya RUU Tembakau ini tak merugikan pengusaha dan petani. Yang kedua kami juga ingin tahu apa yang dibutuhkan perusahaan untuk memproteksi produk industri lokal (kretek),” kata Ketua Tim Pansus RUU Tembakau DPR RI Firman Subagyo dihadapan para petinggi PR Sukun, Kamis (8/2/2018).

Ia menjelaskan, dari data yang ada perkembangan rokok lokal (kretek) lamban laun semakin menurun. Hal ini mengharuskannya (Tim Pansus) untuk berfikir keras supaya UU Tembakau kelak bisa membuat produk lokal kembali terangkat.

“Diakui atau tidak perusahaan rokok memang menyumbang pendapatan negara begitu besar. Karena itu, kita buat regulasi,” tegasnya.

Sementara, lanjut Firman, persoalan yang ketiga yang ingin diketahui adalah persoalan cukai. Bagi Firman, cukai dulunya dibuat untuk menekan produksi rokok. Namun saat ini cukai malah digunakan untuk pendapatan.

“Nah, kami juga ingin tahu, perusahaan keberatan atau tidak dengan itu. Setidaknya di Kudus ini, perusahaan rokoknya mewakili semua kelas. Djarum mewakili kelas atas, Nojorono kelas menengah, dan Sukun kelas menengah ke bawah,” ujarnya.

Baca juga : Pansus RUU Tembakau DPR RI Minta Masukan ke 3 Perusahaan Rokok di Kudus

Hal senada juga diungkapkan anggota pansus Fadholi. Menurutnya, dalam perjalanan kali ini, ia juga ingin mengetahui berapa tembakau impor dan tembakau lokal  yang digunakan PR Sukun.

“Ini menjadi penting, karena dalam dunia rokok itu menyangkut empat pilar yang tak bisa ditinggalkan. Empat pilar itu adalah pabrik, petani, perokok, dan pemerintah,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pansus RUU Tembakau DPR RI Minta Masukan ke 3 Perusahaan Rokok di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Tim Pansus RUU Tembakau DPR RI berkunjung ke tiga perusahaan rokok di Kudus, Kamis (8/2/2018). Tim yang dipimpin Firman Subagyo itu berkunjung ke PT Djarum, Nojorono, dan PR Sukun.

Ketua Tim Pansus RUU Tembakau, Firman Subagyo mengatakan, kunjungan kali ini dilakukan untuk mencari masukan terkait Rancangan Undang-Undang Tembakau. Tujuannya supaya tak ada yang dirugikan baik pengusaha ataupun petani.

“Jadi kami ingin tahu apa yang dibutuhkan perusahaan rokok. Jangan sampai ada yang dirugikan,” katanya di Kantor PR Sukun.

Ia mengakui saat ini perusahaan rokok merupakan penyumbang pendapatan terbesar dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Karena itu baik pengusaha dan petani sangat dibutuhkan kerjasamanya.

“Di Sukun (PR Sukun) saja ada 4.557 karyawan. Rata-rata malah ibu-ibu. Ini sangat bagus sekali,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam mencari masukan ini, pihaknya membagi tim menjadi tiga. Dua di antaranya berada di luar Jawa. Sedangkan satunya lagi di Jawa tengah.

“Di Jateng memang dikhususkan di Kudus. Karena Kudus itu memiliki sejarah kretek yang kental. Karena ada Nitisemito (Raja Kretek). Makannya tiga perusahaan rokok ini kami datangi,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha