Napi Rutan Surakarta Kedapatan Selundupkan 600 Ribu Pil Ekstasi dari Belanda ke Indonesia, Kini Dijaga Ketat

Rutan Klas I Surakarta. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Solo – Rutan Kelas I A Surakarta memeriksa intensif seorang narapidananya, Andang Anggar (25). Nama Andang mendadak hangat diberitakan. Diduga, Andang merupakan sosok pengendali sindikat internasional pil ekstasi.

Di antaranya, Andang menjadi pengendali penyelundupan sekitar 600 ribu ekstasi dari Belanda ke Indonesia, pada 8 November 2017.

Aksi Andang tercium setelah polisi meringkus dua tersangka pemakai di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Penangkapan itu berdasarkan informasi dari Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Polisi mendapat keterangan dari keduanya, sehingga bisa menangkap lagi dua tersangka lain di kawasan Rawasari, Cempaka Putih.

Dari keterangan keempatnya, diperoleh dua otak sindikat internasional tersebut, satu di antaranya adalah Andang, napi Rutan di Solo.

Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas I Surakarta, Urip Dharma Yoga di Rutan Kelas I Surakarta, Jumat (24/11/2017) mengatakan, pihaknya siap menyerahkan Andang ke Bareskrim Polri untuk tujuan pengembangan dan penyidikan kasus ini.

Pihahknya telah melakukan penggeledahan di kamar C2 yang merupakan tempat Andang di sel, 10 November 2017.

Hasil penggeledahan ditemukan sebuah telepon genggam merek Maxtron. Ponsel itu diketahui dari Andang, bukan yang digunakan untuk transaksi. Tidak berhenti di situ, pihaknya juga melakukan penggeledahan lanjutan.

“Ada dua telepon genggam yang ditanam. Mereknya Apple dan Xiaomi. Serta satu lagi yang disimpan di bawah tumpukan karpet bekas di belakang masjid merek Nokia,” katanya.

Pihaknya menyerahkan Kartu SIM lengkap  ke Bareskrim. Andang mengakui menyimpan telepon genggam dengan cara mengubur di taman rutan tersebut tergolong baru. Atas kejadian itu, kasus akan didalami dan dikembangkan untuk mengetahui pemasok BB kepada pelaku di rutan.

Usai dilakukan penyidikan, Andang dimasukkan ke dalam ruang isolasi hingga dijemput oleh tim Mabes Polri. Penjagaan ruang isolasi pun diperketat.

“Andang dititipkan ke kami dan ditempatkan di ruang isolasi agar tidak bisa ditemui kecuali saya dan petugas penjaga blok. Ini sebagai antisipasi agar tidak terkontaminasi dengan warga binaan lain,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami