Lebaran, Rutan Jepara Disesaki Pembesuk

Sejumlah pengunjung rutan memadati Aula Rutan Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Aula Rutan Kelas IIB Jepara disesaki pembesuk, saat Idul Fitri 1438 hijriah. Hingga hari keempat lebaran, sudah ada 1.391 keluarga dari warga binaan datang menjenguk. Hal itu dikatakan oleh Kepala Rutan Kelas IIB Jepara Slamet Wiryono. Ia mengatakan, selama lebaran pihaknya memberikan waktu ekstra bagi para pembesuk. Disamping itu, untuk menampung banyaknya keluarga napi maupun tahanan yang datang, pihaknya memanfaatkan ruang aula yang berkapasitas lebih besar. 

“Animo berkunjungnya sangat luar biasa, oleh karenanya untuk memberikan rasa keadilan bagi pembesuk lain, diberikan waktu antara 10 hingga 15 menit guna menemui saudara mereka yang ada di rutan,” katanya, Kamis (29/6/2017).

Menurutnya, selama lebaran pembesuk diberikan waktu dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00 guna menemui famili mereka yang menjadi pesakitan. Sedangkan bila hari normal, jam besuk hanya sampai pukul satu siang. Namun demikian, karena memperhatikan faktor keamanan dan kapasitas ruangan, untuk pendaftaran pembesuk diberikan tenggat khusus. 

Adapun, tambahan waktu besuk akan berlaku hingga tujuh hari selepas lebaran. Setelahnya baru diberlakukan jam normal. 

“Kalau di Jepara, yang masuk karisidenan Pati biasanya waktu tambahan jam besuk sampai tujuh hari setelah lebaran. Di lain tempat (lapas) biasanya hanya sampai tiga hari. Setelah itu berlaku normal,” tambah Slamet.

Dirinya merinci, kunjungan terbanyak ada pada hari ketiga pasca lebaran yakni 748 pembesuk. Sedangkan hari pertama ada 257 orang, hari selanjutnya ada 170. Kemudian di hari keempat ada 180 orang pembesuk. 

Guna menjaga keamanan, pihak rutan bekerjasama dengan kepolisian maupun TNI. Petugas menerjunkan personel untuk ikut membantu pengamanan saat jumlah pembesuk membludak. Dari sisi internal, petugas rutan juga memberlakukan double check kepada pengunjung, dengan menggeledah barang maupun orang, dengan metal detector ataupun secara manual. 

Editor: Supriyadi

Ditulis pada Tak Berkategori

Seorang Tersangka Pengeroyokan di Jepara Tewas Sebelum Sempat Diadili

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Saiful Hadi, (40) warga Desa Wedelan RT 2 RW 3, Kecamatan Bangsri, yang merupakan salah satu tersangka pengeroyokan terhadap Solekan warga Desa Kedung Leper RT 2/RW 4, Bangsri, tewas saat menjalani masa tahanan di Rutan Kelas II B Jepara.

Dalam hal ini, Saiful Hadi merupakan tahanan titipan dari Polres Jepara. Sebab, berkas kasusnya saat ini masih menunggu untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari Jepara).

Kepala Rutan Kelas II B Jepara Slamet Wiryono mengatakan, Saiful Hadi meninggal duni karena serangan jantung. Yang bersangkutan, katanya, sudah sering sakit-sakitan sejak awal dititipkan di Rutan Jepara sekitar satu bulan lalu.

“Beberapa kali telah diperiksa ke dokter. Terakhir, Kamis (2/2/2017) malam sekitar pukul 22.00 WIB Saiful Hadi kembali mengalami sesak nafas, kejang-kejang lalu pingsan. Oleh pihak kepolisian, tersangka pengeroyokan tersebut, kemudian dilarikan ke RSUD Kartini, namun nyawanya tidak bisa tertolong. Saiful Hadi meninggal sekitar pukul 23.00 WIB. Penyakitnya komplikasi, ada sesak nafas, penyakit jantung dan kejang-kejang,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwasana membenarkan jika Saiful Hadi punya penyakit jantung. Pihak keluarga juga mengetahui bahwa tersangka memiliki riwayat  penyakit jantung. Karena itu, pihak keluarga memaklumi.

”Berdasarkan pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Tersangka meninggal murni karena penyakit yang dideritanya,” katanya.

Dia menambahkan, kasus yang melibatkan tersangka masih dalam proses. Tersangka masih menunggu kelengkapan berkas sebelum kasusnya dilimpahkan ke Kejari Jepara.

Untuk diketahui, Saiful Hadi merupakan satu di antara dua tersangka kasus pengeroyokan terhadap Solekan (30) warga Desa Kedung Leper RT 2 RW 4, Bangsri, pada November 2016 lalu. Saiful Hadi mengeroyok Solekan bersama tersangka lain yaitu Kusnandar ( 33) warga RT 4 RW 12 Desa/Kecamatan Bangsri, dan Akhmad Wahyudi (26) warga RT 2/ RW 1, Desa/Kecamatan Bangsri.

Penganiayaan itu lebih mirip aksi pembantaian. Itu lantaran ketiga pelaku membawa pedang dan golok. Beruntung korban berhasil melarikan diri setelah menerima sejumlah sabetan pedang.

Ketiga tersangka mendatangi rumah korban dengan membawa tiga pedang. Tersangka Saiful dan Kusnandar masuk ke rumah korban Solekhan.

Sementara Akhmad menunggu di luar. Dua tersangka kemudian menganiaya korban. Saiful menusuk perut Solekhan, disusul Khusnandar menyabet lengan korban. Saiful Hadi dan dua temannya diamankan pihak kepolisan dari Polres Jepara beberapa hari kemudian.  

Dari pengakuan tersangka, korban pernah memukul temannya pada Hari Raya Idul Adha. Tersangka pun balas dendam dengan mengeroyok korban menggunakan pedang. Saiful Hadi dan dua tersangka lain diancam dengan hukuman 12 tahun penjara. Sambil menunggu berkas perkara selesai, tersangka dititipkan di Rutan Jepara sekitar satu bulan lalu.

Editor : Kholistiono

Ditulis pada Tak Berkategori

Pengguna Narkoba Pemula Banyak yang Meringkuk di Rutan Jepara

Rumah Tahanan Jepara.

Rumah Tahanan Jepara.

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penghuni Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Kabupaten Jepara selama ini didominasi narapidana maupun tahanan kasus narkotika.

Meski begitu, dipastikan bahwa penghuni Rutan tersebut belum pada level pencandu narkoba berat apalagi sampai level gembong narkoba.

Kepala Rutan kelas II B Jepara, Slamet Wiryono mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan upaya penyelundupan barang narkotika. Hal itu diduga karena para tahanan maupun narapidana kasus narkoba belum masuk pada level pecandu berat.

“Kalau sudah pecandu berat dan sakau, dimungkinkan upaya penyelundupan barang narkoba pasti ada. Tetapi beruntung di sini semuanya pemula, tidak pecandu berat, jadi tidak ada upaya penyelundupan narkoba,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, ketika para penghuni rutan belum pada level pecandu berat maka lebih mudah untuk disembuhkan. Salah satu cara yang telah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat tahanan maupun narapidana.

“Misalnya keterampilan menjadi tukang, membuat beberapa keterampilan tangan seperti keset, dan yang lainnya. Selain itu kami juga memberikan ilmu agama kepada mereka,” terangnya.

Lebih lanjut ia mngemukakan, tidak hanya sekadar memberikan ilmu agama saja. Para penghuni rutan, khususnya narapidana diwajibkan menghafal ayat-ayat pendek dalam Alquran dan bacaan salat ketika bebas atau selesai menjalani masa tahanan mereka,.

“Itu salah satu cara kami membuat agar Rutan Jepara ini tetap kondusif, tidak ada konflik. Kami memberikan materi keagamaan yang lebih dengan cara mewajibkan para narapidana untuk menghafalkan ayat pendek. Minimal, ketika mereka bebas, bisa dan bersedia untuk salat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Napi Rutan Jepara Selundupkan HP di Celana Dalam

rumah-tahanan

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyelundupan barang-barang terlarang di rumah tahanan (Rutan) Kelas II B Jepara berhasil digagalkan  petugas. Saat Lebaran lalu, petugas menemukan handphone (HP) dari pengunjung yang ingin diselundupkan.

Uniknya, cara-cara penyelundukan dilakukan mulai dari menyimpannya di dalam makanan, dititipkan anak kecil, hingga disimpan di pakaian dalam.

Kepala Rutan kelas II B Jepara Slamet Wiryono mengemukakan, pihaknya menggagalkan upaya penyelundupan sebanyak enam HP, dalam enam kasus. Masing-masing upaya yang dilakukan cukup unik dan cerdik.

Selain menyimpan di makanan, dititipkan pada anak kecil dan di celana dalam, juga disimpan di sela-sela antara kulit luar dan kulit dalam di tas.

“Kami berhasil menggagalkan upaya penyelundupan itu. Memang mereka ketika ditanya tidak mengaku. Tetapi dari gelagat dan penyimpanan HP yang tidak wajar itu kami nilai sebagai upaya penyelundupan. Apalagi disimpan di dalam makanan yang mau diberikan kepada tahanan. Itu sudah jelas upaya penyelundupan,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom, Kamis (4/8/2016)

Menurutnya, HP yang ingin diselundupkan oleh pengunjung merupakan HP yang jadul. Dia memprediksi, HP itu mau diberikan kepada narapidana atau tahanan agar dapat berkomunikasi. Upaya penyelundupan itu dilakukan ketika ramai-ramainya pengunjung yang menjenguk narapidana dan tahanan di dalam rutan.

“Pengamanan yang kami lakukan sesuai dengan SOP yang ada. Yakni ketika masuk dilakukan penggeledahan dan pemeriksanaan, baik tubuh maupun barang bawaan. Petugas yang melakukan itu juga telah dibagi-bagi, untuk pengunjung wanita, petugasnya juga wanita. Jika laki-laki, petugasnya juga laki-laki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pintu masuk yang ada di dalam Rutan kelas II B Jepara ini juga berlapis-lapis. Sedikitnya lima sampai enam lapis pintu yang harus dilalui oleh pengunjung untuk sampai di dalam tahanan. Ketika diketahui ada upaya penyelundupan, pihaknya memberikan peringatan kepada pengunjung agar tidak mengulanginya lagi.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Narapidana Rutan Jepara Diberi Pelatihan Pijat

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi membuka pelatihan pijat di Rutan Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi membuka pelatihan pijat di Rutan Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga binaan di Rumah Tahanan(Rutan) Jepara mendapatkan pelatihan pijat gratis. Kegiatan yang dimotori Kelompok Pusdiklat Pijat Wijaya Jateng perwakilan Jepara ini diikuti 32 peserta putra dan putri yang semuanya merupakan warga binaan Rutan Jepara.

 Ketua penyelenggara Agus Widodo menyampaikan, kegiatan ini murni kegiatan social, karena seluruh biaya dan anggaran penyelenggaraan didapat secara bergotong royong anggota dan pengurus Pusdiklat Pijat Wijaya. Harapannya pelatihan tersebut bermanfaat bagi para warga binaan setelah bebas.

 “Utamanya dalam membantu memberikan keterampilan sebagai mata pencaharian baru atau untuk menolong sesama. Sebagaimana yang dilakukannya selama ini, melalui keterampilan pijat mampu menghidupi keluarga. Bahkan, dengan pijat juga mampu membantu masyarakat yang terkena bencana melalui aksi sosial,” ujar Agus Widodo melalui rilis yang diterima MuriaNewsCom, Kamis (23/6/2016).

 Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, pihaknya sangat prihatin terhadap saudara-saudara warga binaan. Karena mereka adalah orang-orang yang tejerumus dalam kesalahan dan dosa, dan semestinya harus lebih diperhatikan serta dibantu.

 “Para warga binaan ini juga sangat butuh motivasi untuk menatap masa depan. Terkait hal inilah, kami sangat apresiasi atas upaya yang dilakukan Pusdiklat Pijat Wijaya yang bersedia memberikan bantuan kepada warga binaan di Rutan Jepara,” katanya.

Ia berharap, pelatihan keterampilan ini mampu menghilangkan pikiran negatif yang selalu terngiang di benak para warga binaan. Dia meminta, di rutan ini sebagai bentuk puasa. Dengan demikian, para warga binaan nantinya akan mendapat pahala, yaitu berupa keberhasilan dalam menempuh hidup bermasyarakat yang baru dan sukses setelah ke luar.

 “Apalagi para warga binaan telah menerima pelatihan pijat yang dapat diaplikasikan di masyarakat. Sehingga bekal keterampilan yang didapatkan di rutan dapat dijadikan sebagai mata pencaharian baru yang halal dan berkah,” harapnya.

Editor : Kholistiono

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Napi di Rutan Jepara Didominasi Kasus Narkoba

f-Napi (e)

MuriaNewsCom, Jepara – Narapidana maupun tahanan yang menghuni Rutan Kelas II B Jepara didominasi kasus narkoba. Dari jumlah narapidana yang mencapai 216, untuk narapidana dengan kasus narkoba jumlahnya mencapai 53 lebih. Sedangkan sisanya merupakan kasus-kasus yang lain.

“Kalau dipersentase mungkin sekitar 25 persen itu narapidana dengan kasus narkoba. Jadi paling banyak memang kasus narkoba,” ujar Kepala Rutan Kelas II B Jepara, Slamet Wiryono kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk paling banyak kedua ditempati oleh kasus pencabulan dan disusul kasus-kasus lain seperti pencurian, kecelakaan lalu lintas, perjudian dan lainnya. Dari sekian banyak kasus, di rutan dikategorikan menjadi dua, yakni tindak pidana khusus dan tindak pidana umum.“Kalau narkoba sendiri masuk sebagai tindak pidana khusus. Sedangkan kasus-kasus lainnya masuk kategori tindak pidana umum,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, hukuman bagi para narapidana itu bervariasi. Ada yang di bawah lima tahun ada juga yang di atas lima tahun. Sedangkan untuk kasus narkoba sendiri, pihaknya mengakui kasus yang ada dengan barang bukti terbilang kecil.

“Biasanya kalau yang besar ditangani oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Di Jepara ini meskipun saya baru menjabat beberapa hari ini, saya lihat dan cek kasusnya dengan barang bukti yang terbilang kecil,” terangnya.

Dia menambahkan, selain kasus narkoba, yang tergolong tindak pidana khusus ialah korupsi dan terorisme. Aturan terkait dengan adanya rekomendasi bagi pidana khusus sesuai PP Nomor 99 Tahun 2012.

Editor : Kholistiono

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Rutan Jepara Ternyata Tak Punya Ambulans

Rutan Kelas II B Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Rutan Kelas II B Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

   MuriaNewsCom, Jepara – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Jepara yang terletak di dekat Alun-alun Kabupaten Jepara ternyata selama ini tidak memiliki fasilitas yang memadai. Salah satu fasilitas yang harusnya ada adalah mobil ambulans, tetapi sampai saat ini, tempat bagi tahanan maupun narapidana tersebut tidak ada.

Hal itu disampaikan Kepala Rutan Kelas II B Jepara, Slamet Wiryono. Menurutnya,  mobil ambulans merupakan satu fasilitas yang seharusnya ada di rutan, karena sangat penting ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terkait kesehatan para tahanan.

“Kalau ada yang sakit parah atau tiba-tiba ada yang tak sadarkan diri dan harus secepatnya dibawa ke rumah sakit, kan butuh mobil khusus. Tapi, sampai saat ini kami belum punya itu,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut ia mengemukakan, seharusnya pengadaan fasilitas berupa mobil ambulans tersebut adalah dari Kementerian Hukum dan HAM. Hanya saja, lantaran anggaran terbatas, pengadaan mobil ambulans juga terbatas dan dibagi-bagikan ke rutan yang diprioritaskan.

“Nah, bagi rutan yang belum kebagian mobil ambulans, biasanya bekerjasama dengan pemkab setempat untuk melakukan pengadaan. Sampai saat ini ternyata belum ada kerjasama itu,” terangnya.

Untuk itu, lanjut Slamet, dalam waktu dekat pihaknya akan membicarakan hal ini kepada pimpinan Pemkab Jepara. Apalagi, kebutuhan mobil ambulans bagi pihaknya yang baru beberapa hari menjabat di Jepara tersebut sangat penting.“Seharusnya Pemkab Jepara bisa menfasilitasinya. Apalagi yang berada di dalam Rutan Jepara juga warga Jepara sendiri. Kami akan koordinasi dengan pihak Pemkab Jepara,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Ditulis pada Tak Berkategori

90 Napi di Rutan Jepara Diusulkan Dapat Remisi Lebaran

Kepala Rutan Kelas II B Jepara, Slamet Wiryono (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kepala Rutan Kelas II B Jepara, Slamet Wiryono (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

 

    MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 90 narapidana yang ada di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Jepara diajukan mendapatkan remisi lebaran tahun ini. Dari 90 narapidana tersebut, 88 merupakan laki-laki dan hanya dua narapidana perempuan.

Kepala Rutan Kelas II B Jepara, Slamet Wiryono mengatakan, untuk remisi masih dalam proses pengusulan ke Kementerian Hukum dan HAM. Setelah diusulkan, nanti akan diturunkan Surat Keputusan (SK) berapa jumlah pastinya narapidana yang mendapatkan remisi.

“Kami hanya mengusulkan, keputusannya ada di Kemenkum dan HAM. Sampai saat ini ada sekitar 90 narapidana yang kami usulkan. Selain itu juga ada beberapa narapidana yang masih perlu mendapatkan rekomendasi dari instansi penegak hukum untuk turut diusulkan mendapatkan remisi,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom, Senin (13/6/2016).

Menurutnya, ada sekitar 14 narapidana khusus yang masih menunggu surat rekomendasi dari instansi penegak hukum, baik Kejaksaan Negeri (Kejari) Jepara maupun kepolisian. Ketika ke-14 narapidana tersebut sudah mendapatkan surat rekomendasi, baru diajukan untuk mendapatkan remisi.

“14 narapidana itu masuk dalam kategori yang tercantum dalam PP Nomor 99 Tahun 2012. Dalam PP tersebut dijelaskan, bahwa yang tergolong pidana khusus di antaranya narkoba dan korupsi. Tetapi di Rutan Jepara ini semua napi narkoba, hukumannya di atas lima tahun,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemberian remisi tersebut tidak sembarangan, tetapi ada beberapa persyaratan. Salah satunya adalah telah menjalani masa kurungan di atas enam bulan dan berkelakuan baik. Itu pun tidak semua narapidana bisa mendapatkan remisi panjang.

“Beda-beda, ada yang 15 hari saja dan ada yang sampai 1,5 bulan. Itu dapat diketahui dalam SK yang nanti dikeluarkan oleh kementerian menjelang lebaran. Biasanya tiga hari sebelum lebaran, SK tersebut sudah turun,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini di Rutan Kelas II B Jepara ada sekitar 216 penghuni. Yang diusulkan untuk mendapatkan remisi adalah narapidana yang dinilai telah memenuhi persyaratan.

 

Editor : Kholistiono

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Wow, Rutan Jepara Siapkan Sel Khusus Bagi Para Penunggak Pajak

Salah satu petugas menunjukkan sel khusus penunggak pajak di Rutan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu petugas menunjukkan sel khusus penunggak pajak di Rutan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sosialisasi agar masyarakat Jepara patuh membayar pajak terus digencarkan oleh petugas dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jepara. Selain memberikan edukasi dan ajakan, ternyata telah disiapkan tempat khusus yakni berupa ruang tahanan bagi para penunggak pajak.

Ruang tahanan khusus penunggak pajak tersebut ada di rumah tahanan (Rutan) kelas II B Jepara, yang terletak di dekat alun-alun kota Jepara. Ruang yang disiapkan persis dengan ruang tahanan pada umumnya, dengan luasan sempit dan tanpa ada fasilitas yang memadai.

Kepala KPP Pratama Jepara Endaryono mengatakan, selain gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama wajib pajak untuk patuh membayar pajak. Pihaknya juga bisa melakukan penindakan secara tegas bagi yang menunggak pajak.

“Hanya saja, untuk sementara ini kami lebih mengutamakan edukasi kepada masyarakat ketimbang melakukan penindakan. Kalau memang tunggakannya besar dan keterlaluan, maka kami tidak akan memberikan toleransi,” ujar Endaryono kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan adanya sel khusus bagi penunggak pajak di dalam Rutan, diharapkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak tumbuh. Nantinya, proses penahanan penunggak pajak pun tidak harus melalui proses persidangan.

Sementara itu, Kepala Rutan kelas II B Jepara, Sri Yanti mengatakan, sel atau ruang tahanan bagi penunggak pajak telah disiapkan berdampingan dengan sel wanita. Tidak ada fasilitas khusus yang disiapkan Rutan di dalam sel penunggak pajak.

“Ya, kami sudah menyiapkan ruang tahanan khusus untuk penunggak pajak. Tetapi kami hanya menyiapkan tempat saja, untuk faslitas yang lain kami serahkan kepada Dirjen Pajak,” katanya.

Editor: Supriyadi

Ditulis pada Tak Berkategori

Antisipasi Kerusuhan Antartahanan, Ini yang Dilakukan Rutan Jepara

 

Kepala Rutan Kelas II B Jepara Sri Yanti (MuriaNewsCom)

Kepala Rutan Kelas II B Jepara Sri Yanti (MuriaNewsCom)

  MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa hari terakhir ini, di beberapa rumah tahanan di Indonesia terjadi kerusuhan. Untuk menghindari peristiwa serupa, Rumah Tahanan (Rutan) Jepara melakukan sejumlah upaya, agar kondisi tahanan tetap aman dan terkendali meski kapasitasnya sudah overload.

Kepala Rutan Kelas II B Jepara Sri Yanti mengatakan, pihaknya melakukan beberapa upaya untuk  menghindari terjadinya kerusuhan di dalam Rutan Jepara. Di antaranya, memberikan kegiatan keagamaan kepada tahanan maupun narapidana agar mereka lebih mendalami mengenai pentingnya kerukunan dan ketentraman. Selain itu juga, memberikan kegiatan yang positif dengan memberikan pelatihan  keterampilan.

“Jika memang sudah overload banget,  kami memindahkan narapidana yang sudah menghuni lapas cukup  lama ke lapas lain, seperti di Lapas Pati,” ujar Sri Yanti kepada MuriaNewsCom, Senin (25/4/2016).

Menurut dia, narapidana lama dipindah ketika kondisinya sudah sangat overload atau jumlah narapidana sudah jauh melebihi kapasitas rutan. Sedangkan saat ini, diakuinya sudah overload. Hanya saja, masih banyak yang statusnya masih tahanan titipan dari kepolisian maupun kejaksaan.

“Kalau tahanan titipan dari polisi dan jaksa tidak bisa dipindah. Sebab, masih dalam proses pemeriksaan untuk perkaranya. Yang bisa dipindah hanya yang statusnya sudah narapidana dan kalau memang overload banget,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini penghuni Rutan Jepara ada 215 dari kapasitas 195. Jumlah tersebut, baik narapidana maupun tahanan. Meski begitu, pihaknya belum memindah narapidana lama, karena saat ini masih banyak yang keluar masuk setiap harinya. Itu artinya, kondisi saat masih wajar.

Editor : Kholistiono

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Hadapi MEA, Kesadaran Hukum dan HAM Harus ditingkatkan

Peserta Penyuluhan Hukum dan HAM di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

Peserta Penyuluhan Hukum dan HAM di pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Jepara, Sriyanti menyatakan salah satu aspek terpenting yang harus dikuatkan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi pasar bebas apapun, termasuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah meningkatkan kesadaran hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) masyarakat.

”Pemerintah memiliki komitmen yang besar untuk membuat masyarakat sadar hukum. Untuk itu, salah satu upaya melalui penyuluhan. Tujuannya bukan hanya masyarakat sadar hukum, tetapi kemudian hari kita harapkan akan semakin kecil pelanggaran pelanggaran hukum yang terjadi,” ungkapnya dalam acara Penyuluhan hukum dan HAM di Pendapa Kabupaten Jepara, Kamis (28/1/2016).

Manurutnya, apalagi pelajar menjadi target penyuluhan yang diharapkan mereka juga sadar hukum sejak muda dan bisa menularkan kepada yang lain. Kita berharap sejak masih muda dididik sadar hukum dan bisa berlanjut ada snowball (Bola Salju). Semakin kesana semakin membesar dan berkembang.

Sementara Bupati yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Mustofa Kamal mengatakan, salah satu aspek penting menghadapi pasar bebas apapun, termasuk MEA adalah meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

”Dengan tingginya tingkat kesadaran hukum maka setiap individu akan dapat memahami dengan baik hak dan kewajibannya. Individu warga masyarakat dapat menentukan dengan penuh kesadaran setiap pilihan tindakan,” katanya.

Dia juga mengemukakan, bagi individu yang memiliki kemampuan ekonomi akan mudah mendapatkan akses pengetahuan untuk memahami dinamika yang berkembang dan pendampingan ahli hukum ketika ada masalah hukum. Namun tidak demikian halnya bagi individu warga negara Indonesia yang miskin, kelompok rentan atau termarginalkan, sangat tidak mungkin memahami dinamika ekonomi global yang berkembang.

”Bagi mereka perlu secara intensif mendapatkan informasi hukum melalui layanan penyuluhan hukum dan pendampingan hukum secara cuma-cuma jika menghadapi masalah hukum,” ungkapnya.

Dia menambahkan, berlakunya pasar bebas juga semakin dibutuhkan pemahaman hukum yang kuat. Sehingga manfaat yang terdapat di dalam MEA dapat dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat. Perlu diciptakan substansi hukum yang baik, mudah ditaati oleh siapapun, tanpa harus dengan paksakan.

”Hal ini dapat berjalan dengan baik jika masyarakat kita sudah menjadikan hukum sebagai bagian dari budaya masyarakat. Salah satu cara membudayakan hukum adalah dengan adanya penyuluhan hukum yang intensif,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ditulis pada Tak Berkategori

Rutan Jepara Hadirkan 2 Tahanan Sebagai Narasumber Penyuluhan

Salah seorang siswa mengajukan pertanyaan dalam acara penyuluhan hukum dan HAM di Pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah seorang siswa mengajukan pertanyaan dalam acara penyuluhan hukum dan HAM di Pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah Tahanan (Rutan) Jepara menghadirkan langsung dua orang tahanan sebagai narasumber dalam penyuluhan Hukum dan HAM Serentak Tahun 2016 di Pendapa Kabupaten Jepara, Kamis (28/1/2016). Keduanya merupakan tahanan yang dititipkan di Rutan Jepara untuk kasus narkoba dan permasalahan adminstratif yakni Ahmad dan Muslim.

Keduanya juga memberikan pencerahan langsung lewat pengalamannya hingga terjerumus dalam lingkaran hitam hingga masuk rutan. Keduanya juga mengajak langsung seluruh pelajar sebagai penerus bangsa agar dapat menjauhi narkoba dan menjauhi segala perbuatan yang tidak terpuji.

”Jika tidak ingin seperti kami, kalian harus menjauhi narkoba dan menjahui perbuatan terlarang,” kata mereka.

Selanjutnya juga mereka mengajak seluruh peserta dapat melek hukum. Artinya memahami aspek hukum dan menjadi cerdas hukum, sehingga akan tercipta budaya hukum dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Kegiatan ini secara serentak digelar oleh Kementerian Hukum dan HAM di seluruh Indonesia dan masuk dalam rekor MURI. Dengan tujuan utamanya agar masyarakat cerdas hukum, bersifat hukum dan taat hukum utamanya dalam menghadapi MEA. Dimana dalam era ini hukum akan menjadi panglima. Di Jepara kegiatan yang dilaksanakan oleh Rutan Jepara ini dipusatkan di Pendapa Kabupaten dan dibuka oleh Bupati Jepara. Dengan peserta perwakilan SMA/SMK se Kabupaten Jepara.

Sementara itu, Kepala Rutan Jepara, Sriyanti menyatakan salah satu aspek terpenting yang harus dikuatkan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi pasar bebas apapun, termasuk MEA adalah meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

”Pemerintah memiliki komitmen yang besar untuk membuat masyarakat sadar hukum. Untuk itu, salah satu upaya melalui penyuluhan. Tujuannya bukan hanya masyarakat sadar hukum, tetapi kemudian hari kita harapkan akan semakin kecil pelanggaran hukum yang terjadi,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ditulis pada Tak Berkategori

Rutan Jepara Tak Miliki Alat Pendeteksi Narkoba

Rutan kelas II B Jepara menyatakan memperketat pengawasan terhadap potensi masuknya jaringan peredaran narkoba. Namun, sampai saat ini pihaknya belum memiliki alat khusus pendeteksi narkoba. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Sebelumnya Kepala Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Jepara menyatakan, memperketat pengawasan terhadap potensi masuknya jaringan peredaran narkoba.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Tak Berkategori

Tahanan Narkoba di Rutan Jepara Disebut Menurun

Rutan Kelas II B Jepara. Tahun ini, jumlah tahanan narkoba mengalami penurunan (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Jumlah tahanan maupun narapidana narkoba di rumah tahanan (Rutan) kelas II B Jepara tahun ini menurun dibanding tahun lalu. Sebab, di tahun 2014 lalu, jumlah tahanan dan narapidana kasus narkoba ada 44 narapidana, sedangkan tahun ini hanya 23 narapidana dan 14 tahanan saja.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Tak Berkategori