Talud Sungai Longsor, 5 Rumah Warga di Sambongwangan Blora Terancam Roboh

MuriaNewsCom, Blora – Bencana longsor yang menimpa talud sungai Butbanyu di Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung perlu mendapat penanganan segera. Ini lantaran, tingkat longsoran yang terjadi sejak beberapa pekan lalu makin bertambah parah.

Bahkan, talud longsor akibat abrasi sungai saat ini sudah mengancam pemukiman warga. Sedikitnya, sudah ada lima rumah warga yang terdampak karena lokasinya sangat dekat dengan titik longsoran.

Rumah yang terangcam masing-masing milik Suseno (50), Ralim (50), Sawit (45), Karmin (55), dan Yudi Hartono (50). Kelima rumah yang lokasinya berada di Dusun Butbanyu itu tinggal berjarak beberapa meter saja dari titik longsor.

“Hari Rabu kemarin, sudah ada petugas dari BPBD Blora yang mengecek kondisi bencana longsor. Kami berharap, longsornya talud segera ditangani karena sudah mendekati kawasan perkampungan,” kata sejumlah warga setempat.

Kondisi longsornya talud sungai memang terlihat sudah parah. Panjang longsoran mencapai 200 meter, tinggi 15 meter dan lebarnya berkisar 15 sampai dengan 20 meter.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Blora Hanung Murdaka menyatakan, pihaknya sudah melakukan inventarisasi dan identifikasi di lokasi bencana. Secara keseluruhan, ada 25 rumah yang bisa terdampak longsoran jika tidak segera ditangani. Untuk penanganan longsor, ada dua usulan yang akan disampaikan ke DPU Blora, selaku SKPD teknis.

Usulan yang disampaikan adalah melakukan normalisasi sungai. Adapun caranya bisa dilakukan dengan penyudetan sungai untuk pelurusan alur. Satu lagi dengan cara pembangunan bronjong batu sehingga pelurusan alur sungai akan terjadi secara alami.

Editor : Supriyadi

9 Rumah Warga Kalirejo Grobogan Rusak Parah Diterjang Longsor

MuriaNewsCom, Grobogan – Sedikitnya ada sembilan warga di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan terancam kehilangan tempat tinggal. Kondisi ini terjadi menyusul adanya musibah longsor yang menggerus talud sungai Lusi di belakang pemukiman warga.

Ironisnya, musibah longsor itu sudah terjadi sekitar delapan bulan lalu. Namun, hingga saat ini, belum ada upaya penanganan dari instansi terkait.

Lambannya penanganan menyebabkan longsornya talud makin bertambah parah. Akibatnya, sudah ada sembilan rumah warga rusak parah. Bahkan, diantaranya ada yang sudah roboh separuh bangunan rumahnya.

Beberapa warga ada yang menggeser maju bangunan rumahnya karena khawatir roboh kena longsor. Kemudian, ada warga yang sudah membangun rumah lagi di lokasi lainnya.

“Dari sembilan orang ini, ada yang sudah pindah total ke lokasi lain, yakni Suwardi. Kemudian yang rumahnya digeser ke depan adalah Mbah Kariyem dan Mbah Supardi. Untuk Mbah Suwarsi, ada dua bangunan rumahnya dibagian belakang yang dipindah ke lokasi lainnya. Sedangka satu bangunan rumah bagian depan saja masih berdiri dan ditempati,” jelas Kepala Dusun Kalirejo Darno, Jumat (23/2/2018).

Kondisi longsor di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari yang mengancam tempat tinggal sembilan warga setempat.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Talud yang longsor itu panjangnya mencapai 70 meter dengan lebar dari pinggir sungai berkisar 50 meter. Tanah yang longsor punya kedalaman hampir 3 meter.

Warga yang terkena dampak longsor paling parah ada sembilan orang. Yakni, Ngadi (45), Radiyem (40), Karsono (50), Supardi (67), Suwarsi (77), Budi Santoso (30). Kariyem (70), Suwarjo (40) dan Suwardi (43). Kesembilan warga yang bekerja sebagai petani ini tercatat tinggal di Dusun Kalirejo, RT 05, RW 02.

“Kondisi longsoran yang ada di Dusun Kalirejo ini sudah sangat parah. Kami berharap, ada upaya penanganan longsoran karena sudah mengancam bangunan rumah warga. Sebelumnya, longsoran sempat ditinjau dari beberapa instansi tetapi belum kunjung ada penanganan,” kata Darno yang lebih dikenal dengan nama Mbah Who itu.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya telah mengimbau warga terdampak longsor agar selalu waspada. Terutama, mewaspadai pergerakan tanah ketika turun hujan deras.

Editor : Supriyadi

Gara-gara Obat Nyamuk, Rumah Warga Manjang Pati Dilalap Si Jago Merah

Sejumlah warga tengah memperbaiki atap rumah warga Manjang, Jaken yang terbakar, Senin (21/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah di Desa Manjang RT 2 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati dilalap si jago merah, Senin (21/08/2017). Api diduga berasal obat nyamuk yang menyulut kasur.

Beruntung, saat kebakaran terjadi penghuni rumah sedang pergi ke pasar. Penanganan sigap dari warga dan petugas membuat api bisa cepat dipadamkan, sehingga tidak meluas ke pemukiman lain.

“Kebakaran diketahui sekitar jam 09.30 WIB, dan api dapat dipadamkan pada pukul 09. 45 WIB. Diduga api berasal dari obat nyamuk yang menyulut kasur,” ungkap Kapolsek Jaken AKP Teguh Heri Rusianto.

Akibat kebakaran tersebut, pemilik rumah, Karmain (75) mengalami kerugian hingga Rp 25 juta. Hal itu disebabkan api membakar dinding sekat kamar bagian dalam yang terbuat dari triplek, atap rumah atas kamar, dan sejumlah barang berharga lainnya.

“Hanya 30 persen bagian rumah yang terbakar, yakni bagian blandar kayu dan kerangka atap rumah yang terbuat dari kayu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Manjang, Sunyarto (55) mengatakan, dia mendengar teriakan warga bila ada kebakaran. Mendengar hal itu, dia mengerahkan warga untuk ikut membantu memadamkan api.

“Jarak antara balai desa dan rumah korban sekitar 50 meter. Itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB, kami yang berada di kantor balai desa mendengar teriakan kebakaran,” tuturnya.

Api yang sudah berkobar akhirnya bisa dipadamkan menggunakan sejumlah peralatan seadanya. Salah satunya dengan memanfaatkan pasir dan air sumur, sehingga rumah bisa diselamatkan dan tidak menjalar ke rumah warga di sekitarnya.

Editor : Supriyadi