Ratusan Rumah di Kalangbancar Grobogan Rusak Diterjang Lisus

MuriaNewsCom, GroboganBencana angin puting beliung melanda Desa Kalangbancar, Kecamatan Geyer, Minggu (18/3/2018). Dalam peristiwa ini, sedikitnya ada tujuh rumah warga mengalami kerusakan cukup parah atau kategori sedang akibat terjangan angin yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB. Angin lisus ini menerjang perkampungan bersamaan dengan turunnya hujan deras diwilayah tersebut sejak pukul 15.00 WIB.

Camat Geyer Aries Ponco Wibowo menyatakan, rumah rusak sedang masing-masing milik Pujiati (65), Sastro (70), Sarmin (60), Karsidi (45) yang ada di Dusun Kalang RT 3, RW 1. Kemudian, dua rumah lainnya milik Margo (48) dan Suparti (48) di Dusun Mincil RT 3, RW 2.

Selain rusak sedang, ada sekitar 220 rumah warga lainnya mengalami kerusakan ringan. Dampak angin menyebabkan genting rumah warga tersebut kocar-kacir dan berjatuhan ke tanah.

”Laporan sementara ada tujuh rumah rusak sedang dan sekitar 220 rumah rusak ringan pada bagian genting atau atap,” katanya.

Aries menyatakan, pihaknya bersama instansi lainnya masih melakukan pendataan. Namun, pendataan dilapangan masih terkendala dengan padamnya aliran listrik.

”Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini. Untuk tafsir kerugian material belum bisa kita sampaikan karena masih didata dulu,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Puting Beliung Porak-porandakan Desa Bandengan ‎Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Angin puting beliung memporak-porandakan Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota, Senin (22/1/2018) pagi. Sedikitnya 20 rumah rusak dan puluhan pohon tumbang. Selain itu, tiang telepon juga melengkung akibat terjangan angin.

Sumarni (53) warga Desa Bandengan, RT 9 RW 3 mengatakan, angin mulai menerjang sekitar pukul 05.00 WIB pagi. “Habis subuh tadi kejadiannya, saya habis salat kok ada angin bercampur hujan, suaranya seperti motor lewat whur..whur..kemudian genteng di atap berjatuhan,” ujarnya.

Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, kecuali berteriak-teriak meminta pertolongan. Sementara anak-anak dan keluarganya berlarian keluar rumah.

“Saya hanya bisa berteriak ketakutan, mau keluar rumah takut kalau kena pohon tumbang,” tuturnya.

Saat kejadian, puluhan pohon tumbang juga menghalangi akses masuk ke wisata pantai Bandengan.

Komandan Koramil Jepara Kota Kapten Suwardjo mengatakan, dari data sementara ada sekitar 20 rumah yang atapnya rusak. Selain itu gudang meubel juga ada yang terimbas.

“Atap rumah warga yang rusak terdapat di RT 5,7,9 dan 10, selain itu di RW 2 dan 3 juga terdapat kerusakan,” jelasnya.

Saat ini, akses masuk ke pantai bandengan dan ke permukiman telah kembali normal. Petugas dari SAR, Koramil, Polri, BPBD Jepara, komunitas relawan  warga tengah bergotong royong melakukan pembersihan serta perbaikan. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa akibat puting beliung.

Namun demikian, untuk akses listrik pada rumah-rumah warga masih terputus karena banyak kabel PLN yang putus.

Editor: Supriyadi

Rumah Warga Banyutowo Pati Roboh Diterjang Angin Kencang

Warga dan polisi mengevakuasi puing-puing rumah warga Dukuhseti yang roboh diterjang angin kencang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah salah satu warga Desa Dukuhseti RT 3 RW 1, Kecamatan Dukuhseti, roboh setelah diterjang angin kencang, Selasa (19/12/2017).

Pemilik rumah, Wadinah, selamat dari insiden tersebut. Dia melarikan diri dan berhasil keluar rumah, sesaat setelah muncul tanda-tanda rumah akan roboh.

Sumijan, salah satu saksi mengatakan, rumah Wadinah roboh saat hujan deras dan angin kencang menerpa. “Suara patahan-patahan kayu terdengar sebelum rumah roboh,” ungkap Sumijan.

Rumah Wadinah sendiri terbuat dari kayu beralaskan plester semen dengan atap genteng berukuran 12 meter, lebar tujuh meter dan tinggi 3,5 meter.

Belum diketahui kerugian material akibat rumah roboh tersebut. Namun, pihaknya menaksir kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Rencananya, pemilik rumah akan bertempat tinggal di rumah saudara. Pasalnya, rumah kayu tersebut roboh total dan tidak bisa dihuni kembali.

Petugas kepolisian dan warga setempat terlihat melakukan evakuasi pada puing-puing rumah Wadinah. Sementara upaya pembangunan rumah kembali belum direncanakan.

Editor: Supriyadi

Rumah di Sugiharjo Pati Roboh Dihantam Angin Puting Beliung

Kondisi rumah warga Sugiharjo, Pati yang roboh usai dihantam angin puting beliung, Kamis (30/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah milik Nyoto (58), warga Dukuh Garas, Desa Sugiharjo, Pati, roboh setelah dihantam angin puting beliung, Kamis (30/11/2017).

Beruntung, hanya bagian dapur rumah saja yang mengalami roboh dan tidak ada korban dalam bencana tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari Rp 4 juta.

Ruminah, istri Nyoto mengatakan, saat itu dia sedang memasak di dapur. Tiba-tiba saja, atap dapur bergeser dan robih karena dihantam angin ribut yang begitu kencang.

“Saya takut sekali dan bergegas meninggalkan dapur. Sesaat setelah itu, angin semakin kencang dan membuat dapur langsung roboh,” ungkap Ruminah.

Dia bersyukur karena bangunan roboh setelah dirinya meninggalkan dapur. Jika tidak, dia tidak bisa membayangkan apa yang menimpa dirinya.

Kapolsek Pati Iptu Pujiati menuturkan, bangunan dapur yang roboh berukuran 6×4 meter dengan tinggi 3 meter. Bangunan itu roboh meski terbuat dari batako dan beratapkan esbes.

“Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Juga tidak ada korban luka,” imbuhnya.

Petugas kepolisian yang mendapatkan informasi langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Bangunan yang berserakan lantas dievakuasi bersama warga sekitar.

Editor : Ali Muntoha

Empat Rumah di Jepara Terancam Roboh Diterjang Ombak Tinggi 

Warga bergotong-royong membuat tanggul penahan ombak agar tak menggerus pondasi rumah yang ada di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Jepara kota, Selasa (28/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Empat rumah di Gang Pandan Arum, Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Jepara Kota terancam ombak tinggi. Sudah seminggu, ombak menerjang pondasi rumah-rumah yang menjorok ke pantai tersebut.

Rumah Sugito satu di antaranya. Ia mengaku deburan ombak dapat mencapai tinggi hampir tiga meter. Hal itu terjadi terutama pada malam hari.

“Wah ombak meninggi hampir tiga meter kalau malam. Sampai di atas pondasi yang sudah dibuat, sehingga saya takut kalau ambrol,” tutur warga RT 15 RW 4 itu, Selasa (28/11/2017). 

Untuk menanggulanginya, ia lantas membuat tanggul penahan ombak dari potongan-potongan bambu. Bambu-bambu tersebut kemudian ditata mengelilingi pondasi rumah untuk menahan gempuran ombak. 

Warga sekitar Hariyanto berujar, bukan hanya rumah milik Sugito yang terancam ombak. Tiga rumah yang berada sejajar dengan rumah tersebut juga berisiko.

“Kemarin malah ada satu rumah dideretan ini (menjorok ke pantai) yang tanggulnya ambrol. Maka dari itu kami gotong royong untuk membuat tanggul supaya terhindar dari gempuran ombak,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

2 Desa di Grobogan Diterjang Puting Beliung, 4 Rumah Roboh

Seorang warga memeriksa puing-puing rumah yang roboh akibat diterjang puting beliung di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana angin puting beliung kembali melanda wilayah Grobogan, Sabtu (11/11/2017). Informasi sementara, hembusan angin kencang menerjang Desa Pangkalan, Kecamatan Karangrayung dan Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro ketika dikorfirmasi membenarkan adanya musibah tersebut. ”Iya ada musibah hari ini. Kejadian sekitar jam 16.00 WIB hingga menjelang malam saat hujan deras. Anggota sudah meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan,” katanya.

Menurut Budi, anggotanya sedang berupaya membersihkan pohon tumbang yang menutup jalan raya Truko-Gubug di wilayah Desa Ketangirejo. Pembersihan pohon tumbang dilakukan agar arus kendaraan bisa lancar.

Musibah angin lisus menyebabkan empat rumah warga roboh. Baik di Desa Pangkalan muapun Ketangirejo masing-masing ada dua rumah yang dilaporkan roboh. Kemudian, jumlah rumah rusak mencapai puluhan.

”Pendataan belum lengkap soalnya listrik di kedua desa yang kena musibah dipadamkan. Soalnya, banyak kabel yang putus kena pohon tumbang,” jelas Budi.

Dalam musibah itu sempat dilaporkan adanya satu korban luka. Yakni, warga Desa Pangkalan yang mengalami patah kaki tertimpa reruntuhan rumah.

Editor: Supriyadi

Diterpa Hujan dan Angin Kencang, Rumah Anggota DPRD Blora Roboh

Petugas bersama warga melakukan pendataan rumah roboh milik salah satu anggota DPRD Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Rumah salah satu anggota DPRD Kabupaten Blora Darsono (43), warga Dukuh Balong, Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung, ambruk setelah diterjang hujan dan angina kencang, Jumat (10/11/2017) petang. Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Hingga Sabtu (11/11/2017) pagi, masyarakat bersama anggota Polsek Randublatung Polres Blora dan Koramil Randublatung gotong royong membersihkan puing rumah yang terbuat dari kayu jati tersebut. Berbagai material dipilah. Genteng dan beberapa kayu jati yang masih bagus dikumpulkan untuk digunakan lagi.

Menurut keterangan istri korban, Sri Astuti (35), pada Jumat sekitar pukul 17.00 WIB, hujan disertai angin kencang menerpa di wilayah pemukiman di seputaran wilayah desa tersebut.

Korban dan keluarga melihat hujan semakin deras dengan disertai angin kencang dari arah timur ke barat sehingga rumah depan yang berbentuk sperti gazebo terangkat lalu roboh. Kemudian tak lama disusul rumah bagian belakang juga ikut roboh diterpa angin kencang.

”Akibat kejadian tersebut dua rumah korban (Darsono) yang terbuat dari kayu jati yaitu rumah yang berada di depan dengan ciri-ciri rumah bentuk Gazebo roboh,” ujar Kapolsek Randublatung AKP Selamet Riyanto.

Atas kejadian tersebut korban mengalami kerugian materil sebesar Rp 250 juta.

Editor: Supriyadi

Satu Rumah Warga Jambangan Grobogan Roboh Diterjang Puting Beliung

Seorang warga memeriksa puing-puing rumah yang roboh. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah angin lisus ternyata tidak hanya melanda Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh. Amukan angin juga menerjang sebagian perkampungan di Desa Jambangan, Kecamatan Geyer.

Kedua desa ini wilayahnya berbatasan namun sudah beda kecamatan. Desa Bandungharjo disisi utara dan diselatannya adalah wilayah Desa Jambangan.

Puting beliung yang melanda Desa Jambangan mengakibatkan satu rumah warga roboh. Pemiliknya diketahui bernama Sunar, warga yang tinggal di Dusun Kuncen.

”Rumah yang roboh hanya ada satu unit. Untuk rumah rusak sedang dan ringan ada puluhan,” jelas Camat Geyer Aries Ponco Wibowo.

Menurut Aries, dari laporan pihak desa, rumah yang roboh mengalami kerusakan total karena rata dengan tanah. Selain itu, semua barang berharga didalam rumah ikut rusak karena tertimpa reruntuhan kayu. Termasuk didalamnya ada empat unit sepeda motor.

”Untungnya, pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri sebelum rumahnya roboh. Tafsir kerugian material sekitar Rp 100 juta,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ayah di Grobogan Ini ‘Korbankan’ Diri Lindungi Anak dan Istri Saat Rumahnya Roboh

Warga memunguti sisa-sisa genting rumah Karji yang roboh diterjang angin lisus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Cerita memilukan terjadi di sebuah keluarga di Dusun Plosorejo RT 1 RW IV, Desa Guyangan, Kecamatang Godong, Grobogan. Rumah yang dihuni Karji (37), istri dan anaknya yang baru berusia tujuh tahun itu roboh dengan tanah diterjang angin lisus.

Yang membuat miris, saat rumah roboh sekeluarga itu masih di dalam rumah. Karji bahkan rela terluka tertimpa atap untuk melindungi istri dan anaknya. Istri dan anaknya ia dekap saat rumah itu ambruk.

Peristiwa ini terjadi Jumat (27/10/2017) malam, sekitar pukul 19.30 WIB. Beruntung Karji tak mengalami luka yang fatal meski tertimpa genting dan atap.

Peristiwa ini bermula saat hembusan angin kencang sebelum hujan deras melanda desa tersebut. Angin lisus meluluhlantahkan atap puluhan rumah di dusun itu, namun yang paling parah menimpa rumah Karji.

Sebelumnya, hujan deras mengguyur Desa Guyangan. Tidak lama berselang, ada hembusan angin kencang yang menerjang perkampungan.

“Waktu itu, anginnya kencang sekali. Saya bersama anak istri saat ini ada di dalam rumah,” kata Karji, Sabtu (28/10/2017).

Mengetahui bahaya karena angin lisus itu, Karji sudah berinisiatif mengajak anak dan istrinya menyelamatkan diri. Namun nahas, belum sampai ke pintu keluar, angin kencang sudah menerjang rumahnya.

“Kejadiannya cepat sekali. Begitu angin datang, saya langsung mendekap anak dan istri dan berlindung di balik pintu,” jelasnya.

Terjangan angin kencang itu mengakibatkan rumah Karji roboh dan menimpa semua barang berharga di dalamnya. Termasuk sepeda motornya.

Akibat kejadian itu, Karji mengalami luka dibagian tangan dan pelipis istrinya juga terluka akibat terkena reruntuhan kayu rumah. Beruntung, anak korban yang masih berusia 7 tahun tidak mengalami luka, karena ia dekat erat bersama istrinya saat musibah terjadi.

“Lukanya tidak parah. Kami kena runtuhan kayu saat mau ke luar rumah. Kejadiannya singkat, sekitar satu menitan,” ujarnya.

Kepala Dusun Plosorejo Agus Muhammad Ridwan mengatakan, dalam peristiwa itu hanya satu rumah warganya yang roboh. Sedangkan puluhan rumah hanya mengalami kerusakan ringan.

“Rumah saya juga kena angin tapi hanya rusak di bagian atas (gentingnya). Tafsir kerugian material sekitar Rp 50 juta. Saat ini, warga sedang bergotong royong memperbaiki rumah yang roboh,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tanggul Longsor, Belasan Rumah Warga Pulokulon Grobogan Terancam Ambles ke Sungai Lusi

Akibat tanggul longsor, belasan rumah warga Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon terancam ambrol ke sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon berharap agar segera ada penanganan tanggul sungai Lusi yang longsor. Hal itu dikemukakan karena longsornya tanggul sudah mengancam belasan rumah yang ada dibantaran sungai.

“Dari pendataan beberapa waktu lalu, total ada 14 rumah yang terancam longsor. Masing-masing ada 5 rumah warga RT 02 dan rumah lainnya di RT 05,” kata Ketua RT 02, RW 05 Dusun Pelem Kharoikil As’ari, Jumat (13/10/2017).

Dari pantauan di lokasi, tanggul yang longsor sudah dekat dengan beberapa bangunan rumah warga di bagian belakang. Bahkan, tanggul longsor sudah sempat merobohkan satu rumah milik Rusdi. Beruntung, saat kejadian, penghuni rumah sudah mengungsi ke rumah familinya.

“Rumah saya dibagian belakang roboh sekitar bulan Maret lalu saat sungai penuh air. Kejadiannya pas tengah malam. Waktu itu, saya sudah tidak dirumah karena ketakutan,” kata Suwarti, istri Rusdi.

Tanggul yang longsor itu posisinya berada pada tikungan sungai. Dengan kondisi ini, tanggul memang rawan longsor ketika arus sungai mengalir deras.

Warga berharap, tanggul yang longsor akibat bencana itu segera mendapatkan penanganan. Sebelum ditangani, warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai selalu dihantui ketakutan. Terutama, saat ada hujan deras.

Untuk pencegahan, warga menimbul tanggul yang longsor dengan tebon atau batang tanaman jagung. Selain itu, warga juga menancapkan puluhan batangan bambu di lokasi longsor.

“Penanganan ini sifatnya darurat saja. Harusnya memang pakai alat berat dan dikasih pondasi batu yang ditutup kawat atau bronjong. Bencana ini sudah dilaporkan pada instansi terkait. Katanya, akan segera ditangani,” kata beberapa warga lainnya. 

Editor: Supriyadi

Tertimpa Atap Rumah, Nenek 60 Tahun di Pati Ini Hanya Luka Ringan

Polisi dan masyarakat melakukan evakuasi rumah warga Pekalongan, Winong yang roboh, Kamis (28/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nasib nahas dialami Sutar, warga Desa Pekalongan RT 1 RW 1, Kecamatan Winong, Pati. Nenek 60 tahun itu tertimpa bangunan dan atap rumah yang mendadak roboh, Kamis (28/9/2017).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian tersebut, Sutar sedang beristirahat di dalam rumah. Tiba-tiba saja, Sutar mendengar bunyi kayu patah dan rumahnya mendadak roboh.

Baca Juga: Pria Asal Tegalharjo Pati Bacok Ayah dan Ibunya dengan Golok

Sontak, Sutar ikut tertimpa rumahnya sendiri. Beruntung, dia selamat dan berhasil keluar dari puing-puing rumah yang roboh tersebut.

Rumah Sutar berdiri di atas tanah seluas 6×4 meter, berdinding anyaman bambu, rangka kayu dan beratap genteng. Rumah itu biasa digunakan sebagai tempat tinggal Sutar.

Kapolsek Winong AKP Purwito mengatakan, rumah tersebut roboh lantaran tiang rumah sudah rapuh sehingga tidak mampu menyangga atap.

“Kerugian material akibat rumah roboh diperkirakan mencapai Rp 35 juta. Beruntung, korban selamat meski sempat tertimpa rumah,” pungkas AKP Purwito.

Editor: Supriyadi

Rumah Warga Gunungsari Pati Mendadak Roboh Rata dengan Tanah, Ini Penyebabnya

Babinkamtibmas dan penduduk Gunungsari gotong-royong membersihkan puing-puing rumah yang mendadak roboh, Selasa (19/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah warga Dukuh Randu RT 2 RW 1, Gunungsari, Tlogowungu, Rumisih (40), mendadak roboh dan rata dengan tanah, Selasa (19/9/2017).

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Rumah berukuran 6×8 meter tersebut berdinding anyaman bambu, beratap genteng dan rangka dari kayu.

“Rumah ini sebagai tempat tinggal sekaligus warung untuk jualan jajanan anak-anak sekolah. Tiba-tiba saja roboh,” ungkap Rumisih.

Kapolsek Tlogowungu AKP Haryono menjelaskan, hasil pemeriksaan yang dilakukan, rumah tersebut roboh diperkirakan karena tiang penyangga rumah sudah mengalami rapuh.

Akibatnya, tiang tersebut sudah tidak bisa menyangga atap hingga roboh. Pasalnya, tidak ada angin kencang yang menyebabkan rumah roboh.

Kerugian material akibat insiden tersebut diperkirakan mencapai Rp 20 juta. Babinkamtibmas bersama warga setempat lantas bergotong-royong untuk menyelamatkan barang-barang berharga dan sisa bangunan yang bisa masih bisa dimanfaatkan.

Editor: Supriyadi

Rumah Ambruk Diterjang Angin, Warga Jepara Ini Dapat Bantuan Rp 10 Juta dari Pemkab


Sriyati berdiri disamping bekas rumahnya yang telah rata dengan tanah karena dihporak-porandakan angin ribut. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara memberi bantuan stimulan kepada keluarga Amin Riyanto (60), Kamis (14/9/2017). Bantuan tersebut diberikan lantaran rumah yang ditempatinya bersama anak istri ambruk dihempas angin ribut. 

Pemberian bantuan diserahkan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi. Meski jumlahnya tak banyak, Wabup berharap, bantuan uang senlai Rp 10 juta itu bisa membantu keluarga tersebut mendirikan rumah yang baru. 

“Harapannya dapat memberikan manfaat pada keluarga yang mengalami musibah untuk membangun rumah. Kalaupun masih kurang, masih bisa disuport dari APBD pada tahun 2018 nanti,” katanya. 

Sementara itu Amin mengatakan, saat itu pada hari Sabtu (6/9/2017) ada angin kencang yang berpusar di atas rumahnya. “Lalu tidak lama rumah yang saya huni ambruk diterpa angin,” kenang sang empu rumah, yang ada di Kelurahan Bulu, Kecamatan Jepara RT/RW : 3/2. 

Sriyati (60) istri Amin menjelaskan, kini setelah rumahnya ambruk ia tidur di rumah tetangga. Adapun pekerjaannya sebagai penjual bakwan goreng tak dapat ia lanjutkan karena kehabisan modal. Sementara anaknya Sholikatun (28) tiap bulan harus menjalani transfusi darah, karena menderita penyakit Thalasemia. 

“Saya kalau tidur di tetangga depan rumah, suami saya di tetangga belakang, sementara anak saya di tetangga yang lain. Hal itu karena saya merasa ewuh (sungkan) kalau menumpang jadi satu di rumah tetangga,” tuturnya. 

Menerima bantuan dari Pemkab Jepara, ia mengatakan akan menyimpan uang tersebut sebelum nantinya digunakan untuk membangun kembali rumahnya. 

Editor: Supriyadi

Ditinggal ke Sawah, Rumah Petani di Grobogan Tiba-Tiba Roboh

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa rumah roboh terjadi Jumat (26/2/2016) di Dusun Cengklik, Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung. Dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB itu mengakibatkan Suratno (51), warga setempat kehilangan tempat tinggal.

Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa tersebut. Sebab, saat kejadian, pemilik rumah dikabarkan sudah pergi ke sawah.

”Jumlah rumah yang roboh hanya ada satu dan tidak ada korban dalam musibah ini. Nilai kerugian diperkirakan sekitar Rp 50 juta,” kata Camat Karangrayung Hardimin.

Informasi yang diterima menyebutkan, peristiwa itu bermula dari hujan lebat yang berlangsung Kamis sore hingga Jumat dini hari. Kondisi itu menyebabkan tanah yang di atasnya ada bangunan rumah milik Suratno ambles.

Lahan yang ambles itu sebenarnya tidak berada di pinggiran sungai, tetapi di tengah perkampungan. Rencananya, tanah yang ambles itu akan secepatnya ditangani. Namun, sebelum upaya itu dilakukan, rumah Suratno sudah keburu roboh.

Editor : Titis Ayu Winarni

Dua Rumah di Grobogan Roboh Diterpa Puting Beliung, Pemilik Hanya Bisa Pasrah

Mbah Mungin hanya bisa pasrah melihat rumahnya yang rata dengan tanah akibat terjangan puting beliung kemarin Senin (9/11/2015) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mbah Mungin hanya bisa pasrah melihat rumahnya yang rata dengan tanah akibat terjangan puting beliung kemarin Senin (9/11/2015) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Bencana angin puting beliung melanda Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi Senin (9/11/2015) sekitar pukul 19.00 WIB. Dalam peristiwa ini, ada dua rumah warga roboh diterjang angin kencang. Masing-masing milik Sujiyo dan Mbah Mungin yang berada di wilayah RT 03 RW 02.

Rumah ambruk milik Sujiyo berada di ujung timur perkampungan, persis berbatasan dengan areal sawah. Sementara rumah Mbah Mungin berada di tengah pemukiman, sekitar 200 meter sebelah barat rumah Sujiyo.

Selain dua rumah ambruk, puluhan rumah warga mengalami kerusakan ringan. Rata-rata, kerusakan ini terjadi akibat genting rumah beterbangan saat angin menerjang perkampungan.

”Angin yang datang bersamaan dengan hujan deras kemarin memang menakutkan. Hujan kemarin berlangsung cukup lama, dari sore hingga malam hari,” kata Mbah Mungin.

Saat hujan deras mengguyur disertai angin, Mbah Mungin mengaku sudah berada di teras rumah bersama istrinya. Tidak berselang lama, ada hembusan angin kencang dari arah timur. Bersamaan dengan angin datang, banyak pohon pisang di depan rumahnya ambruk. Tidak lama kemudian, rumahnya ikut roboh rata dengan tanah.

”Saat angin datang, saya suruh istri berlindung di kandang kambing depan rumah. Ketika saya mau menyusul kesana, tiba-tiba ada tiang rumah yang menimpa punggung. Karena kesakitan, saya akhirnya berlindung menuju kandang dengan merangkak,” kata Mbah Mungin dalam bahasa Jawa.

Meski punggungnya sempat kena tiang kayu, namun Mbah Mungin mengaku bersyukur tidak mengalami luka serius. Menurutnya, jika arah angin itu datangnya dari barat atau belakang rumah barangkali dia dan istri bisa tertimpa runtuhan rumah. (DANI AGUS/TITIS W)

Warga Berharap Nenek Kemi Dapat Bantuan dari Pemerintah

Nenek Kemi sedang dievakuasi warga (Istimewa)

Nenek Kemi sedang dievakuasi warga (Istimewa)

 

REMBANG – Terkait dengan peristiwa ambruknya rumah milik Nenek Kemi (70) warga Dusun Kapasan,Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, pemerintah diharapkan dapat mengulurkan tangan.

Hal ini disampaikan tokoh warga Desa Glebeg,Kecamatan Sulang, yang juga Ketua Karang Taruna Kabupaten Rembang, Janadi Hadi Nugroho.

Dalam hal ini, katanya, pihaknya sudah melaporkan peristiwa tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Palang Merah Indonesia (PMI) Rembang.

”Karena kondisi Kemi sangat butuh uluran tangan, kami berharap instansi terkait sudi mengucurkan bantuan. Kalau ada dana, setidaknya bisa untuk biaya mendirikan tempat tinggal bagi korban. Kebetulan masyarakat sekitar juga siap mengumpulkan bantuan kayu dan genteng secara swadaya,” katanya.

Sekretaris PMI Kabupaten Rembang, Edi Murwanto saat dikonfirmasi Senin (19/10/2015) mengatakan, begitu menerima laporan, petugas PMI akan datang untuk mengecek lokasi. “Survei itu penting, sebagai bahan penyaluran bantuan,” ungkapnya. (KHOLISTIONO)

Seorang Nenek di Rembang Nyaris Tewas Tertimpa Atap Rumahnya yang Tiba-tiba Ambruk

Nenek Kemi sedang dievakuasi warga (Istimewa)

Nenek Kemi sedang dievakuasi warga (Istimewa)

 

REMBANG – Rumah milik seorang nenek bernama Kemi (70) di Dusun Kapasan, Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, roboh pada Sabtu sekitar pukul 16.00 WIB.

Saat bangunan ambruk, posisinya berada di dalam rumah, terkepung oleh puing puing reruntuhan kayu dan genteng.

Kemi menceritakan, waktu itu tengah terbaring di atas tempat tidur. Seperti mendapatkan mukjizat, kayu blandar yang patah tiba-tiba terhenti di atas kepalanya yang hanya berjarak sekira 10 sentimeter.

Ia kemudian mencoba merangkak keluar dan akhirnya diselamatkan oleh sejumlah tetangganya.

Kemi memilih pasrah dan sementara mengungsi ke rumah anaknya. Namun, ia berharap ada bantuan dari pemerintah.”Yang penting bisa mempunyai tempat berteduh,” katanya.

Tetangga korban yang berada di dekat lokasi kejadian, Juremi mengaku, saat kejadian angin bertiup cukup kencang, karena pengaruh musim kemarau panjang. Selain faktor angin, penyebab robohnya rumah tersebut juga karena sejumlah kayu yang sudah lapuk termakan usia.

”Memang cukup lama rumah Nenek Kemi tidak direnovasi, karena memang termasuk warga tidak mampu,” ujarnya.

Setelah rumah roboh, dirinya mengaku kali pertama menyelamatkan korban. Begitu dipastikan tidak mengalami luka-luka, barulah mengeluarkan seekor sapi yang tertimpa atap bangunan di bagian belakang rumah. (KHOLISTIONO)