Dua Lembaga Pendidikan Islam di Jepara Masih Belum Ikuti Imunisasi MR

Salah seorang petugas kesehatan melakukan suntik imunisasi rubella. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua lembaga pendidikan  Islam di Jepara hingga kini masih belum mengikuti Imunisasi Measless-Rubella (MR). Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Jepara menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementrian Agama (Kemenag) setempat untuk melakukan pendekatan tersendiri agar mau mengikuti program nasional tersebut. 

Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jepara M. Fakhruddin menjelaskan, dua lembaga itu adalah pondok pesantren (Ponpes) dan sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tanpa menyebut identitas keduanya, ia mengaku saat ini tengah dilakukan pendekatan oleh Ketua MUI dan Kemenag. 

“Mungkin belum dapat penjelasan yang lebih bagus, oleh karenanya, kami menggandeng MUI dan berkoordinasi dengan Kemenag. Hari ini Ketua MUI sudah melakukan komunikasi dengan pihak ponpes,” kata dia, Rabu (27/9/2017). 

Baca Juga: Capaian Imunisasi MR di Jepara Lebihi Target Nasional

Menurutnya, untuk ponpes yang menolak adalah setingkat dengan sekolah menengah pertama. Sedangkan untuk MI yang setara dengan sekolah dasar, sebenarnya telah melakukan imunisasi, namun baru sampai pada tahap 49 persen dari seluruh murid. 

Fakhruddin berharap, jika pendekatan itu berhasil mampu mengangkat jumlah peserta imunisasi MR di Jepara. Adapun hingga Selasa (26/9/2017) jumlah peserta imunisasi sudah mencapai 98,21 atau 288.118 dari total target 293.376 orang usia 9 bulan hingga 15 tahun. 

Terpisah, Ketua MUI Jepara Mashudi mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak ponpes. Dari komunikasi yang terjalin, alasan pondok pesantren tersebut terungkap bahwa mereka belum mendapat persetujuan dari orang tua.

“Sebenarnya bukan menolak, hanya saja kebanyakan santri kebanyakan berasal dari luar Jepara, seperti Jakarta dan sebagainya sehingga mereka memerlukan persetujuan dari orang tua mereka. Maka dari itu, tadi Puskesmas membuatkan formulir persetujuan untuk orang tua mereka,” jelasnya. 

Meskipun telah melakukan komunikasi, namun pihaknya tak bisa menggaransi semua santri di ponpes akan mengikuti program tersebut. “Ya nanti bergantung orang tua mereka, apakah menyetujui atau tidak. Kalau setuju, anak mereka akan diimunisasi, namun kalau tidak ya tidak,” tambah Mashudi.

Editor: Supriyadi

Capaian Imunisasi MR di Jepara Lebihi Target Nasional 

Dinas Kesehatan melakukan rapat evaluasi terkait pelaksanaan imunisasi MR di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Capaian pelaksanaan imunisasi Measles-Rubella (MR) di Kabupaten Jepara mencapai 98,21 persen atau 288.118 dari total target 293.376, per hari Selasa (26/9/2017). Angka tersebut telah melampaui target nasional yang hanya 95 persen. 

Meskipun demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara masih akan memaksimalkan capaian imunisasi hingga batas 100 persen. Hal itu diungkapkan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) M. Fakhrudin, Rabu (27/9/2017). 

“Kita akan memaksimalkan sisa empat hari ini untuk melakukan sweeping (sapu bersih) pada warga yang belum melaksanakan imunisasi. Capaian kita memang melebihi target nasional, namun beban moral kita untuk dapat mencapai 100 persen,” katanya. 

Ia mengatakan, beberapa Puskesmas telah melakukan upaya sapu bersih kepada mereka yang belum diimunisasi. Adapun beberapa alasan mereka yang belum imunisasi di antaranya sedang bepergian atau sakit ketika jadwal imunisasi dilakukan di lingkungan mereka. 

Adapun, per tanggal 23 September 2017 beberapa puskesmas mencatatkan cakupan imunisasi hingga diatas 100 persen. Di antaranya Tahunan, Mayong 2, Nalumsari, Welahan 2, dan Kalinyamatan. Sedangkan beberapa pusat kesehatan masyarakat juga mencatatkan cakupan imunisasi di bawah 95 persen, seperti Kedung 2, Kedung 1, Kembang, Welahan 1, Keling 1, dan Jepara. 

Angka tersebut menurut Fakhruddin terus naik karena petugas terus berikhtiar menggenjot peserta imunisasi, dengan melakukan sweeping.

Editor: Supriyadi

Ribuan Siswa di Pati Diimunisasi Rubella

Salah seorang murid TK Kartika III-43 mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejak digulirkannya program imunisasi gratis, ribuan siswa di Kabupaten Pati mendapatkan umunisasi rubella. Sebanyak 44 siswa di antaranya berasal dari TK Kartika III-43. Mereka baru mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017).

Ketua Cabang Persit Kartika Chandra Kirana Ny Andri Amijaya Kusuma mengatakan, siswa antusias mengikuti imunisasi rubella kendati ada sebagian yang ditunda lantaran kesehatannya kurang fit.

“Kami apresiasi kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pati I yang membuat program imunisasi rubella. Program ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak terserang virus Rubella yang berbahaya bagi anak berusia satu hingga sepuluh tahun,” ujar Ny Andri.

Sementara dokter dari Dinkas, dr Luther Selawa menuturkan, imunisasi rubella merupakan bagian dari program pemerintah pusat. Program tersebut menyusul adanya virus berbahaya yang mudah ditularkan.

“Kalau tidak segera kita cegah, dampaknya yang terjadi cukup mengerikan. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan mengalami cacat fisik,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengimbau kepada orangtua untuk tidak sungkan mengikuti program imunisasi rubella untuk anaknya. Dengan demikian, anak akan menjadi resisten terharap virus yang membahayakan tersebut.

Ia menambahkan, imunisasi rubella juga sudah dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Pati. Jumlahnya mencapai ribuan siswa. “Setelah diimunisasi, mereka punya resistensi jika sewaktu-waktu virus itu menyerang,” pungkas dr Luther.

Editor: Supriyadi

Lucu, Karena Takut Disuntik Siswa SMP 1 Gabus Larang Petugas Imunisasi Masuk Kelas

Kasi Imunisasi, Surveilan, dan Kejadian Luar Biasa pada Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko (berkacamata) memeluk salah satu siswa saat disuntik imunisasi, Jumat (11/8/2017).  (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski akhirnya berjalan lancar, pelaksanaan kegiatan pemberian vaksin measles rubella (MR) di SMPN 1 Gabus, Grobogan ternyata sempat diwarnai aksi protes dari sejumlah siswa. Protes dilakukan dengan memasang kertas bertuliskan “Tukang Suntik Dilarang Masuk’ yang ditempelkan di pintu kelas.

Di dalam kelas itu ada belasan siswa yang semuanya takut dengan jarum suntik. Setelah menempelkan kertas tersebut, pintu kelas kemudian ditutup dari dalam.

Adanya aksi ini, pelaksanaan imunisasi sempat tersendat beberapa saat. Soalnya, petugas butuh waktu untuk merayu para siswa yang phobia dengan jarum suntik. Setelah diberi pengerian, belasan siswa itu akhirnya bersedia di suntik vaksin di lengan tangannya.

”Selama pelaksanaan imunisasi memang ada anak yang takut dikasih vaksin ketika lihat jarum suntik. Kalau ada yang takut seperti ini maka harus kita rayu dan kasih pengertian dulu. Jadi, menghadapi anak seperti ini memang butuh kesabaran,” jelas Kasi Imunisasi, Surveilan dan Kejadian Luar Biasa Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko, Jumat (11/8/2017).

Menurutnya, petugas Dinkes Grobogan tidak hanya butuh kemampuan medis saja saat melaksanakan pemberian vaksin measles rubella (MR) pada anak sekolah. Khususnya, vaksin yang harus diberikan lewat suntikan. Yakni, bisa merayu anak sekolah supaya mau diberi vaksin.

Tulisan ”tukang suntik dilarang masuk” dipasang di depan salah satu kelas di SMP 1 Gabus sebagai aksi protes. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selain protes dan mengunci pintu kelas, lanjut Djatmiko, ada lima siswa yang kabur ketika petugas datang. Mereka kabur dari sekolahan karena ketakutan dengan jarum suntik. Namun, kelima siswa siswa ini berhasil dipanggil lagi oleh gurunya dan akhirnya bisa dikasih vaksin.

Djatmiko menyatakan, pemberian vaksin MR sudah dilakukan mulai pekan pertama bulan Agustus ini. Sejauh ini, sudah sekitar 106.487 anak yang telah mendapat vaksin.

Pemberian vaksin hanya pada anak usia 9 bulan hingga anak usia 15 tahun. Sasarannya adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Mulai PAUD, SD, SMP dan sebagian siswa SMA.

Target pelaksanaan vaksinasi di Grobogan sebanyak 325.902 anak. Ditargetkan, pelaksanaan vaksinasi MR selesai akhir September mendatang.

Dia menambahkan, bagi anak yang belum divaksinasi pada saat petugas datang sekolah,  diminta untuk datang ke puskesmas terdekat. Pemberian vaksin itu diperlukan guna mencegah anak-anak supaya tidak terkena penyakit campak.

Editor: Supriyadi

Siswa SD Disuntik Imunisasi Kayak Digigit Semut di Jepara

Ekspresi seorang siswa ketika disuntik pada pencanangan imunisasi MR di SDN 1 Jambu Timur Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pencanangan Imunisasi MR (Measles-Rubella, Campak Rubella) di Jepara dilaksanakan di SDN 1 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). Ratusan murid dari kelas satu hingga enam ikut serta dalam kegiatan itu. 

Seorang siswa Ahmad Khoirulyani (11) mengaku sempat takut saat petugas medis hendak menyuntik lengan kirinya. Ia bahkan tak berani melihat jarum suntik.  “Saya kira tadi sakit banget, tidak tahunya seperti digigit semut. Namun saat ini lengan saya agak kemeng (nyeri) tapi tidak sakit kok,” tuturnya. 

Siswa kelas lima itu mengatakan, tujuan imunisasi itu adalah untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Namun ia mengaku tak tahu jenis penyakit apa itu. “Enggak tahu aku, tapi pas disuntik itu untuk menghindari penyakit itu,” akunya polos. 

Siswa lain Irgi (8) mengatakan hal serupa. Meskipun tidak tahu tujuan kegiatan tersebut, namun ia mengaku lega sudah disuntik. “Saya sudah disuntik tadi. Rasanya seperti digigit semut. Tapi kalau disuntik lagi ya tidak mau,” ujarnya sambil terkekeh. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut program tersebut menyasar 292.886 orang usia 9-15 tahun. Imunisasi tersebut dilaksanakan selama dua bulan, Agustus-September 2017.  “Pada bulan Agustus ini difokuskan bagi anak-anak yang bersekolah. Sementara pada bulan September dilaksanakan untuk anak rentang usia tersebut yang belum bersekolah,” tutur dia. 

Adapun, untuk Kecamatan Mlonggo ada 1.053 anak yang menjadi sasaran imunisasi MR. “Untuk melaksanakan bulan imunisasi tersebut, setiap puskesmas (21 unit) menyediakan 4-5 petugas medis,” tutup Dwi. 

Editor : Akrom Hazami