Dibuatkan Rumah Baru, Pasutri Asal Bawu Jepara Ini Tak Lagi Was-was Tertimpa Atap

Pasangan Sanimun dan Rasmi berada di rumah barunya, yang dibuat secara gotong royong oleh Komunitas Jepara Rescue. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sanimun (75) dan Rasmi (70) pasangan suami istri warga Desa Bawu, RT 16/RW 3, Kecamatan Batealit-Jepara kini dapat tidur pulas. Mereka tak lagi khawatir tertimpa atap rumah yang keropos, karena keduanya kini telah dibuatkan rumah baru, oleh komunitas relawan Jepara Rescue. 

Meskipun sangat sederhana, rumah yang terbuat dari rangkaian besi  ringan dan bertembok papan fibercement, sudah membuat pasangan itu berbahagia. 

Namung saged maturnuwun, alhamdulillah wong didamelke griya ngeten niki (Hanya bisa mengucapkan terimakasih, alhamdulillah sudah dibuatkan rumah seperti ini),” ujar Rasmi, Sabtu lalu. 

Saat malam tiba, keduanya tak perlu lagi mengungsi ke rumah anaknya karena was-was tertimpa atap. Bahkan, kini rumah barunya bisa ditempati oleh keduanya dan seorang cucunya. 

Rumah baru pasangan itu, terletak tak jauh dari rumah lawasnya yang berlubang pada bagian atap. Kepada MuriaNewsCom, ia bercerita, gubuk yang dulunya ditinggali sebenarnya adalah sebuah dapur. Dulu keduanya menempati sebuah rumah dari papan kayu yang lebih kokoh. 

Proses pembuatan rumah milik Sanimun dan Rasmi dilakukan relawan bersama warga. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Namun, semenjak putri bungsunya menikah, keduanya lebih memilih untuk menghadiahkan rumah tersebut kepada anaknya tersebut. Sementara keduanya pindah ke bangunan dapur yang berada di belakang rumahnya. 

Sekitar bulan Agustus tahun ini atau tiga bulan lalu, musibah menimpa pasangan tersebut. Atap dapur yang dijadikan peraduan, roboh. Kabar tersebut kemudian terdengar oleh seorang relawan Jepara Rescue yang kebetulan menjabat pengurus Rukun Tetangga (RT) setempat. Lalu pada akhir bulan Agustus, serombongan relawan pun datang ke kediaman mereka untuk membuatkan rumah baru. 

Ahmad Muhlisin, Ketua Relawan Jepara Rescue menyebut setelah mendengar laporan tersebut pihaknya lantas berinisiatif untuk membantu. Setelah beberapa saat menggalang dana dari anggota komunitas dan beberapa perusahaan akhirnya terkumpulah dana sebesar lebih kurang Rp 10 juta. 

Lalu pada hari Rabu (30/8/2017), gotong royong pun dilakukan untuk membuatkan rumah baru bagi Sanimun dan Rasmi. Dalam kurun waktu sehari, rumah berpondasi 4×10 meter itu selesai dibangun. 

Menurut Muhlisin yang akrab dipanggil Bondan itu, rumah milik pasangan tersebut sudah pernah diusulkan dlam pembenahan RTLH. Namun sayang, hingga kini belum ada realisasi. 

Potret rumah lawas milik Sanimun dan Rasmi. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

“Pembangunan rumah sederhana untuk Mbah Sanimun dilakukan dalam jangka sehari, melibatkan 180 personel relawan kami yang kebanyakan telah ahli dibidang pembangunan, baik dalam las ataupun rancang bangun,” ujarnya. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Bawu Afif Rokhani berterimakasih atas bantuan relawan tersebut. Ia menyebut aksi tersebut ikut mengurangi jumlah RTLH yang ada diwilayahnya. Selain itu, hal tersebut merupakan bentuk kegotongroyongan dalam mengatasi musibah. 

Ia menyebut, di wilayahnya ada sekitar 500 rumah tak layak huni. Namun demikian, 200 diantaranya telah tersentuh pembenahan RTLH bantuan dari pemerintah kabupaten. Kedepan, ia berencana untuk mengajukan bantuan rehab RTLH ke Pemprov Jateng. 

“Aksi yang dilakukan ini merupakan bentuk nyata bantuan kepada warga kami yang terkena musibah,” tutup Afif. 

Editor: Supriyadi

Bantuan Terpotong Rp 3 Juta, 11 Warga Pati Tolak Bantuan Rumah Tak Layak Huni

Kabid Pemukiman Disperkim Pati Febes Mulyono menjelaskan persoalan bantuan RTLH yang semula bernilai Rp 15 juta menjadi barang material yang nilai Rp 12 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak sebelas warga Pati menolak bantuan rumah tak layak huni (RTLH). Salah satu penyebabnya, bantuan yang mestinya bernilai Rp 15 juta ternyata terpotong Rp 3 juta saat diterimapenerima.

Selain itu, bantuan tersebut, penerima bantuan tidak menerima uang tunai, tetapi berupa material yang akan digunakan untuk membenahi rumah agar menjadi layak huni. Jika dihitung-hitung, material yang diterima nilainya hanya Rp 12 juta.

Kepala Bidang Pemukiman Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kabupaten Pati Febes Mulyono membenarkan adanya sebelas warga yang mengundurkan diri dari program bantuan RTLH. Mereka beralasan tidak mampu melakukan swadaya untuk membenahi rumah menggunakan material yang diberikan dari program RTLH.

Febes menjelaskan, nilai bantuan RTLH dari APBN memang senilai Rp 15 juta. Namun, bantuan itu harus diberikan kepada penerima bantuan berupa material, sehingga kena pajak dan keuntungan dari pemborong.

“Kenapa bantuan yang nilai Rp 15 juta, material yang disalurkan jadi sekitar Rp 12 juta? Kan ada pajak dan keuntungan pemborong, sehingga barangnya tidak bernilai Rp 15 juta,” ucap Febes kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/8/2017).

Masalah itu, kata Febes, sebetulnya sudah disampaikan dalam sosialisasi kepada masyarakat. Hanya saja, sebagian masyarakat ada yang masih belum memahami sehingga sosialisasi dilakukan hingga dua kali.

Sampai saat ini, masih ada empat warga yang mempertanyakan persoalan tersebut. Keempatnya memutuskan untuk mengambil atau menolak program RTLH, setelah sosialisasi yang dilakukan untuk ketiga kalinya.

Sementara sebelas warga yang sudah menolak program bantuan RTLH, antara lain dua warga di Semampir, empat warga Puri, satu orang di Bajomulyo, dua orang di Bulumanis, satu orang di Margomulyo dan Sambiroto. Dengan demikian, hanya ada 420 warga Pati yang akan menerima bantuan tersebut dari jatah 431 orang.

Editor: Supriyadi

RTH Ditarget jadi Pusat Aktivitas Oke di Grobogan

Warga melakukan aktivitas di RTH di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melakukan aktivitas di RTH di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan  – Jika sudah selesai pembangunannya, keberadaan RTH nantinya bisa dijadikan sebagai pusat aktivitas warga. Sebab, kawasan tersebut juga dilengkapi berbagai sarana dan prasarana yang bisa digunakan untuk menggelar beragam kegiatan.

“Selain lokasinya luas, ada banyak fasilitas yang kita sediakan dalam RTH. Antara lain, sport center, gazebo, jogging area, taman dan tempat bermain anak-anak,” Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Grobogan Ahmadi Widodo.

Dia menyatakan, luas lahan untuk RTH itu sekitar 3,2 hektare. Selain untuk penghijauan, di lokasi RTH itu nantinya akan dibuatkan beberapa tempat menggelar aktivitas warga. Sesuai rencana yang sudah dibuat, pembuatan RTH itu seluruhnya membutuhkan dana Rp 18 miliar.

Menurut Ahmadi, pembuatan RTH itu dilakukan mengacu pada Permendagri No 1 tahun 2007 tentang penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan. Yang mana, sesuai aturan tersebut, sekitar 30 persen dari luasan kota harus dipakai untuk ruang terbuka hijau.

“Saat ini, total luas areal hijau di Kota Purwodadi baru berkisar 10 persen saja. Jadi, keberadaan ruang terbuka hijau ini masih kurang 20 persen,” kata Ahmadi didampingi Sekretaris BLH Nugroho Agus Prastowo.

Pembuatan RTH itu sudah dimulai tahun 2014 lalu. Namun hingga akhir 2015 lalu,  pembuatan RTH itu masih berkisar 40 persen saja progresnya karena terbatasnya anggaran. Oleh sebab itu, proses pembuatan RTH dikerjakan bertahap sesuai alokasi dana yang diterima BLH.

Dijelaskan, pada tahun 2014 lalu, pembuatan RTH itu mendapat kucuran dana Rp 800 juta melalui dana alokasi khusus (DAK). Kemudian, pada tahun lalu ada kucuran dana lewat APBD Grobogan sebesar Rp 500 juta. Alokasi dana yang diterima itu digunakan untuk pengurukan lahan, pemasangan batako dan penanaman pohon peneduh.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Gara-gara Rp 5 M, Proyek Pembuatan Ruang Terbuka Hijau Grobogan Dilanjut

Murid SD Ilma Nafia Godong Grobogan Dibekali Cara Mencintai Lingkungan

Rena Sanjaya dari Sahabat Berkebun Purwodadi saat menyampaikan materi terkait cara menanam secara hidroponik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rena Sanjaya dari Sahabat Berkebun Purwodadi saat menyampaikan materi terkait cara menanam secara hidroponik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelatihan menanam sayuran dengan teknologi hidroponik diberikan pada puluhan murid SDIT Ilma Nafia, Kecamatan Godong, Sabtu (20/2/2016). Pelatihan tersebut memanfaatkan botol bekas sebagai tempat menanam.

”Pelatihan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini kepada para murid. Selain itu, kegiatan ini bisa menumbuhkan minat gemar menanam sekaligus membangkitkan kreativitas dengan memanfaatkan barang yang tidak bernilai,” ungkap Kepala SDIT Ilma Nafia Laela Nurisysyafa’ah.

Melalui pelatihan dasar hidroponik ini para murid memiliki wawasan baru terkait cara menanam yang lebih praktis dan efisien. Sehingga bisa dijadikan bekal untuk gemar menanam, baik sebagai hobi maupun sebagai sumber ekonomi. Sebab, metode hidroponik ini belum begitu familiar di kalangan masyarakat.

Sementara itu, Rena Sanjaya selaku nara sumber dari komunitas Sahabat Berkebun Purwodadi menyatakan, hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Sehingga budidaya dengan cara ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan budidaya tanaman secara konvensional.

Antara lain, penanaman dapat diusahakan diberbagai tempat dan dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung musim. Kemudian, bisa menghemat penggunaan air dibandingkan dengan menanam di media tanah. Selain itu, pemeliharaan tanaman lebih mudah, masa tanam lebih cepat, dan tidak butuh pestisida.

”Anak-anak cukup antusias dengan pelatihan ini. Ada beragam tanaman yang kita uji coba, seperti beragam sayuran, buah, dan tanaman herbal,” jelas Rena.

Editor : Titis Ayu Winarni