Ladies Club Tempat Hiburan Malam Rembang Panik Dirazia Narkoba

uplod jam 15 00 LC dirrazia (e)

Kegiatan razia narkoba di salah satu tempat hiburan malam di Rembang

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sejumlah Ladies Club (LC) dari empat kafe di Rembang panik. Lantaran gara-gara ada razia narkoba, Selasa (26/4/2016) malam sampai Rabu (27/4/2016) dini hari. Mereka pun akhirnya tak bisa bekerja seperti malam-malam sebelumnya. Karena harus dites apakah positif gunakan narkoba, atau tidak.

Di antara kafe dan tempat karaoke yang jadi sasaran adalah Cafe dan Karaoke California, Cafe Maya Jalan Gajah Mada 50 Rembang, Cafe JNT Desa Landoh Sulang Rembang, dan Cafe Pallapa Desa Weton Kecamatan Rembang. Tidak hanya LC yang diperiksa, tapi juga karyawan seperti manajemen, tenaga bersih-bersih, operator dan lainnya.

Dengan pemeriksaannya meliputi tes urine, dan tes pupil mata. Hasilnya, sampai pemeriksaan berakhir, petugas gabungan tidak mendapati penyalahgunaan narkotika. Petugas gabungan itu antara lain, BNNP Jateng bersama dengan Polres Rembang dan Sub Den Pom IV/3-1 Blora.

Operasi gabungan dipimpin langsung oleh AKBP Agung Wibowo Kabid Penindakan BNNP Jateng. Dalam operasi diikuti oleh Waka Polres Rembang Kompol Pranandya Subiakto, Kabag Ops Polres Rembang Kompol Yoan Setiajid, Kasat Narkoba Polres Rembang AKP Bambang Sugito, Kasat Sabhara Polres Rembang AKP Binuka Surjanugraha, PM Sertu Wahyu Hernawan, PM Sertu Suyadi, BNN 17 personel dan Polres Rembang 33 personel.

Editor : Akrom Hazami

HARI KARTINI : Kemeriahan Perayaan di Rembang

uplod jam 14 kartinian rembang (e)

Foto Suasana kirab di Rembang. (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Perayaan Hari Kartini di Rembang juga tidak kalah dengan daerah lainnya. Ada beragam kegiatan yang telah dilakukan. Seperti pada Rabu (20/4/2016) malam.

Di antaranya seperti kirab Pataka diikuti Bupati Rembang Abdul Hafidz, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Kapolres Rembang, SKPD dan peserta yang berjumlah sekitar 2000 peserta.

Kirab Pataka mulai berangkat dengan rute Pendapa Museum RA Kartini – Jalan Diponegoro -Jalan Kartini -Jalan Pemuda – Jalan Rembang – Blora dan Finish di Makam RA Kartini di Desa Mantingan, Bulu, Rembang.

Adapun peserta kirab dari SMP N 5 Rembang, SMP N 2 Rembang, MTs N Sulang, SMP PGRI Pancur, Kecamatan Pancur, SMP N 3 Rembang, SMP N 2 Kragan, MTs Arrohman, Kecamatan Sulang, Kompas (Komunitas Pemuda Semen), DPU, Karangtaruna Kaliombo Sulang, SH Teratai, SMP N 1 Rembang, SMP N 1 Sulang, SMP N 3 Kragan, Madania PSIR Kel Leteh, SMP N 1 Sluke, Kecamatan Lasem, dan Desa Gowak Lasem.

Editor : Akrom Hazami

Lambang Daerah Rembang Memang Bikin Kagum, Ini Lho Buktinya !

Logo

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak semua orang tahu dengan lambang daerahnya masing-masing. Apalagi sampai tahu lebih dalam soal arti lambang. Termasuk kamu, warga Rembang.

Berikut yang berhasil dihimpun MuriaNewsCom. Semoga berbagi ini berguna untuk warga Rembang, khususnya.
• Bentuk Perisai artinya ketahanan terhadap rongrongan dan serangan musuh.
• Padi dan Kapas menggambarkan kesuburan daerah,jumlah bulir padi 17 dan 8 kapas mencerminkan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
• Gunungan Garam berwarna Putih menggambarkan ciri khas produk daerah.
• Bunga Melati melambangkan wanita Indonesia dan ibu RA Kartini.
• Bintang Berwarna Kuning bersudut Lima melambangkan ketaatan beragama dan keagungan Tuhan.
• Langit berwarna Biru menggambarkan ketenangan,kedamaian dan kerukunan seluruh masyarakat.
• Pepohonan berwana Hijau melambangkan adanya wilayah hutan jati.
• Kapal Layar melambangkan jiwa bahari sebagian masyarakat Rembang sebagai warisan leluhur.
• Sangkar berbentuk Lingkaran Putih menunjukan teriknya matahari dan indahnya bulan purnama yang menunjukan betapa tabah dan beraninya nelayan – nelayan dengan tanpa kenal bahaya       berjuang siang dan malam mengarungi samudera.
• Laut berwarna Hitam Pekat melambangkan jiwa yang terang.
• Dua Garis Putih membelah Laut mencerminkan dahsyatnya gelombang laut tiada putus – putusnya.

Editor : Akrom Hazami

Listrik Lasem Padam, 3 Sekolah Penyelenggara UNBK Terganggu

Siswa SMK NU Lasem mengerjakan soal UNBK kembali, setelah sempat terganggu dengan padamnya listrik selam 20 menit, Selasa (5/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Siswa SMK NU Lasem mengerjakan soal UNBK kembali, setelah sempat terganggu dengan padamnya listrik selam 20 menit, Selasa (5/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tiga sekolah di Rembang sempat terganggu dengan padamnya listrik di wilayah Lasem, Selasa (5/4/2016). Terjadinya listrik padam pada sif kedua sekitar pukul 10.35 WIB.

Ketiga sekolah yang terkena dampak padamnya jaringan listrik di wilayah Lasem, yakni SMK NU Lasem, SMK Avicenna Lasem, dan SMK Umar Fatah Punjulharjo Rembang. Beruntungnya, penanganan cepat dilakukan dari sekolah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah lain yang mengalami kasus serupa. Semuanya sudah berjalan lancar kembali,” ujar Kepala SMK NU, Arif Dimyati kepada MuriaNewsCom.

Kendati begitu, lanjut Arif, aktivitas pengerjaan ujian para siswa sempat terhenti sekira 20 menit untuk menyalakan listrik menggunakan genset. Sehingga, listrik kembali menyala sekira pukul 10.55 WIB.

“Ketika listrik padam, para siswa kami minta untuk tenang dan tidak khawatir. Mereka beristirahat sejenak sambil menunggu listrik menyala dengan genset,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, meski listrik padam namun tidak mempengaruhi durasi waktu pengerjaan soal ujian. “Untuk aturannya, tidak mengurangi waktu pengerjaan ujian. Jadi, total waktunya tetap dua jam penuh,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

3 Pekerja Terluka Gara-gara Kompresor Meledak

Ilustrasi-kompresor

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tiga orang pekerja pabrik CV Sinar Mutiara Abadi (SMA) yang berlokasi di Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori,  Rembang, terpaksa dilarikan ke rumah sakit Dr R Soetrasno Rembang, Senin (4/4/2016) malam. Mereka menderita luka-luka akibat ledakan kompresor pabrik.

Ketiga korban luka-luka di antaranya Heru Wicaksono (38), Iswantoro (24), warga Desa Banyudono Kaliori. Sedangkan satu korban lainnya, John, warga Tanjung Pinang Kepulauan Riau.

Kepala Desa Banyudono, M Toha menjelaskan, setelah menerima laporan warga, dirinya langsung bergegas menuju lokasi kejadian. “Rata rata korban menderita luka pada bagian kaki,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan perwakilan pabrik, intinya siap bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan. “Khusus korban asal Tanjung Pinang (John) dirujuk ke Rumah Sakit Karyadi Semarang, lantaran lukanya tergolong cukup parah,” terangnya.

Toha berharap, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bagi manajemen pabrik. Setidaknya keselamatan kerja diutamakan.

Sementara itu, tenaga mekanik CV Sinar Mutiara Abadi, Bagus mengaku tidak tahu persis penyebab kompresor meledak. Diduga suhu dalam kompresor terlalu tinggi, karena ketiadaan oli pelumas. Belum lagi tenaga yang mengoperasikan kurang berpengalaman, sehingga akhirnya terjadi kecelakaan kerja.

Editor : Akrom Hazami

Petugas Keamanan Bantah Pelabuhan Tanjung Bonang Rembang Dikuasai Preman

 

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tudingan terkait maraknya aksi premanisme di Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, Kecamatan Rembang, mencuat ke publik belakangan ini.

Bahkan, enam orang yang mengaku perwakilan 250 warga melaporkan hal tersebut kepada bupati Rembang beberapa waktu yang lalu.

Namun, kabar yang beredar tersebut dibantah oleh salah seorang petugas keamanan Komplek Tanjung Bonang, Purnomo Widagdo. Ia membantah keras tudingan soal Tanjung Bonang banyak dikuasai oleh preman.

Menurutnya, semua orang yang terlibat di Tanjung Bonang adalah pekerja yang dipekerjakan oleh sejumlah perusahaan. ”Jika ada tuduhan Tanjung Bonang dikuasai oleh preman itu omong kosong. Petugas keamanan dan satpam dibayar oleh perusahaan. Bukan ilegal,” ujarnya.

Meski ia mengaku tidak mempersoalkan aksi demo yang dilakukan warga beberapa waktu yang lalu. namun ia berjanji akan bersikap tegas jika demo dilakukan dengan cara anarkis, atau menganggu aktivitas di komplek pelabuhan.

”Jika ada demo warga dengan menutup akses pelabuhan, maka akan ditertibkan oleh keamanan. Warga pendukung pelabuhan juga siap mengamankan,” pungkasnya.

Editor: Merie

Giliran Pro Pelabuhan Tanjung Bonang Gelar Demo Tandingan

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Demo puluhan warga yang mengaku resah dan keberatan dengan beroperasinya Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, Rembang, beberapa waktu yang lalu, direspon perangkat desa setempat.

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga pendukungnya, melakukan aksi tandingan sebagai bentuk pro terhadap pelabuhan. Mereka beraksi di depan pintu masuk komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016) siang.

Kapala Desa Sendangmulyo Asrori mengatakan tujuan dari berkumpulnya mereka itu adalah untuk memberikan klarifikasi atas sejumlah polemik soal Tanjung Bonang.

”Di mana belakangan santer beredar melalui media, terutama terkait kontribusi. Kami ingin memberikan jawaban soal dana kontribusi dari sejumlah perusahaan yang dianggap tidak jelas pengelolaannya,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Asrori menegaskan, kabar soal adanya penyelewengan dana kontribusi dari perusahaan yang dilakukan oleh desa adalah tidak benar. Semua dana kontribusi yang diterima bulanan oleh desa, dianggap sudah dipertangunggjawabkan melalui proses musyawarah desa (musdes).

”Sebetulnya untuk tuduhan penyelewengan dana itu sudah ada pertanggungjawabannya dengan jelas. Jika ada kabar soal penyelewengan dana, itu adalah fitnah,” terang Asrori.

Ia menyebutkan, persentase penggunaan dana kontribusi dari perusahaan yang beroperasi di Tanjung Bonang, sudah diatur secara rinci. Yakni 50 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial, 30 persen untuk kegiatan fisik, 15 persen untuk operasional desa, dan 5 persen untuk keperluan alat tulis kantor (ATK).

”Kegiatan sosial kami lakukan dengan bentuk menjalankan program Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS), untuk mendukung program pemerintah. Semua dana kontribusi sudah ditentukan penggunaannya,” tandasnya.

Editor: Merie

Pemkab Rembang Tak Targetkan Jumlah Sekolah UNBK

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang tidak menargetkan peningkatan jumlah sekolah pelaksana Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz ketika memantau ke beberapa sekolah pelaksana UNBK, Senin (4/4/2016).

Hafidz menuturkan pelaksanaan UNBK memberikan efek positif bagi siswa, baik dari segi konsentrasi siswa maupun dari segi kejujuran. Meskipun demikian Ia tidak mempunyai target khusus terkait penerapan UNBK di sekolah-sekolah yang ada di Rembang.

Baca juga : Usai Kerjakan UN, Bupati Rembang Cegat Siswa, Ada Apa?

“Kami tidak ada target, tetapi keinginan dari tahun ke tahun bisa meningkat jumlahnya. Jika dipaksakan justru ada dampak negatifnya, biar mengalir saja sesuai kemampuan sekolah masing-masing,” kata Hafidz.

Dicontohkan olehnya, persiapan terkait genset yang harus dimiliki oleh pihak sekolahan yang ingin menggelar UNBK, maka harus sudah siap. “Kesiapan genset cadangan itu juga akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan. Kalau listrik mati, sementara sekolah tidak siap, bagaimana?,” imbuhnya.

Hal itu menurutnya akan sangat mengganggu, sehingga pihaknya tidak mau terburu-buru mematok target peningkatan jumlah sekolah pelaksana UNBK. Namun, bagi sekolah-sekolah yang sudah siap dan syaratnya terpenuhi dipersilahkan untuk menggelar UNBK pada tahun depan.

“Sehingga memang pemerintah tidak ada target dan tidak memaksakan supaya ujian ini pake komputer semua. Kalau sekolah syaratnya sudah cukup, ya silahkan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ternyata 5 Tokoh Hebat Ini Asal Rembang

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak banyak yang tahu jika ada banyak tokoh asal Rembang yang telah dikenal secara nasional. Mengingat, pemikirannya yang sangat berguna bagi bangsa ini.

uplod jam 12 Maimun_Zubair 1

Istimewa

1. KH Maimun Zubair
Kiai Haji Maimun Zubair lahir di Rembang, 28 Oktober 1928; umur 88 tahun adalah seorang ulama dan politikus. Saat ini ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Ia pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 8 tahun.

uplod jam 12 muhammad maftuh

2. Muhammad Maftuh Basyuni
Muhammad Maftuh Basyuni, SH lahir di Rembang, 4 November 1939 adalah Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi pada tahun 1968.
Periode 1976-1979, ia tampil sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Indonesia di Jeddah. Selain sebagai kepala rumah tangga kepresidenan saat Soeharto memimpin negara Indonesia, ia juga menjabat Sekretaris negara pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak 2002, ia adalah Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Pada 2004, ia tampil sebagai ketua Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri OKI.

uplod jam 12 mustofa bisri

3. KH Mustofa Bisri
KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944). Adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.
Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Di samping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.

uplod jam 12 Puthut 4

4. Puthut EA
Puthut EA lahir di Rembang, 28 Maret 1977 adalah sastrawan sekaligus peneliti berkebangsaan Indonesia. Sejak SMP sampai awal kuliah, ia rajin menulis geguritan (puisi di dalam bahasa Jawa) di majalah Panjebar Semangat dan Jayabaya.
Selain terus menulis dan melakukan kerja-kerja penelitian, Puthut masih sering diminta untuk menjadi pemandu berbagai pelatihan, terutama pelatihan menulis kreatif. Masih sering pula ia diminta membantu beberapa lembaga untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan sekaligus membuat berbagai bahan dan media belajar. Ia juga menyunting banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi konsultan buku, penerbitan dan media lain

uplod jam 12 alfred rambaldo

5. Alfred Emile Rambaldo
Alfred adalah putera seorang residen di Rembang, belakangan Pasuruan. Saat berumur 4 tahun, Alfred pindah ke Belanda bersama orang tuanya, dan ayahnya meninggal di sana. Alfred Rambaldo belajar di Instituut van J.D.N. de Graaff, Den Haag dan melanjutkan ke Instituut voor de Marine di Willemsoord, Den Helder. Pada tanggal 21 September 1901, ia menjadi taruna kelas I dan kembali pergi ke Hindia-Belanda (kini Indonesia).
Pada tahun 1903, ia dipromosikan menjadi luitenant-ter-zee kelas II dan pada tahun 1905 ia kembali lagi ke Belanda. Ia kemudian dimasukkan ke Korps AL di Amsterdam, dan di situ ia berhubungan kembali dengan dosennya Samuel Pierre l’Honoré Naber. Dari L’Honoré Naber-lah, Rambaldo mulai tertarik ke bidang astronomi, meteorologi dan terutama penerbangan, yang saat itu mulai bergaung.

Editor : Akrom Hazami

ADM Mantingan Hanya Kena Sanksi Ringan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pemeriksaan tim kepegawaian terkait dugaan penyalahgunaan kayu jati ilegal oleh Adm KPH Mantingan Teguh Jati Waluyo, sudah rampung pada Jumat (1/4/2016).

Dari hasil pemeriksaan itu, rupanya Teguh hanya terkena sanksi ringan. Sanksi tersebut terungkap dari surat laporan atas kasus Adm Mantingan yang di kirim Divre Perhutani Jawa Tengah ke Direksi Pusat Jakarta pada tanggal 24 Maret lalu.

Dalam surat laporan yang berjumlah dua lembar tersebut tertulis, Divisi Regional Jawa Tengah dan mengacu SK 155/KptsDir/2012 tentang peraturan Disiplin Karyawan yang bersangkutan diberikan sanksi ringan.

Kepala Divre Perhutani Jawa Tengah Sri Rahayu Slamet Wibowo saat dikonfirmasi awak media terkait surat tersebut, enggan berkomentar. Menurutnya, segala keputusan atas sanksi berada ditangan direksi pusat. Pihaknya hanya sebatas menyerahkan berkas laporan.

”Adm Mantingan sudah ditangani SPI pusat untuk tindaklanjut punishment-nya. Pemeriksaan sudah rampung, selanjutnya yang berhak memberikan punishment direksi pusat,” tegasnya.

Namun, soal bakal terkena sanksi ringan sesuai laporan yang dikirim divre ke direksi, Sri menyerahkan sepenuhnya pada direksi pusat, pihaknya hanya sebatas menuggu saja.

”Kami juga belum tahu kapan keputusan turun, karena bukan kewenangan kami. Ditunggu saja keputusan dari Jakarta,” bebernya.

Sebelumnya seperti diberitakan pihak Divre Jawa Tengah bersama tim Polda Jateng pada 23 Februari lalu, mengamankan sebanyak 12 gelondong (bukan 4 gelondong, red) kayu jati dari kediaman dinas ADM Mantingan.

Pihak Perhutani KPH Mantingan membantah jika kayu tersebut hendak disalahgunakan. Mereka beralasan kayu sengaja disimpan dari TPK ke rumah dinas, untuk kepentingan uji tolak terhadap kayu limbah.

Editor: Merie

Dewan Rembang Eman-eman Bantuan Keuangan Desa Tidak Cair

uang-2

 

MuriaNewsCom, Rembang – DPRD Kabupaten Rembang merasa sikap enggan pemerintah kabupaten (pemkab) mencairkan bantuan keuangan desa, adalah sikap yang eman-eman (patut disayangkan, red).

Ketua Komisi A DPRD Rembang Ilyas mengatakan, nilai bantuan yang mencapai Rp 52 miliar dan sudah dianggarkan itu, akan sangat berguna sekali bagi pembangunan desa.

Apalagi, menurut Ilyas, sifat bantuan keuangan dari pemkab bagi desa ini, sama dengan bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang masih digulirkan pada tahun ini.

”Harapan kami, bantuan keuangan dari pemkab tetap diberikan, agar tidak menjadi Silpa. Lagi pula sudah dianggarkan dan merupakan bagian dari aspirasi desa,” katanya.

Ilyas juga mengaku sudah sempat mencari informasi dan keterangan dari Bapermasdes Provinsi Jawa Tengah, mengenai bantuan keuangan dari pemkab bagi desa. ”Intinya, bantuan keuangan itu bisa diberikan,” tegasnya.

Kemungkinan, sebagaimana dikatakan Ilyas, bantuan keuangan desa dari pemkab, akan dikucurkan pada masa APBD Perubahan tahun ini. Namun dirinya menilai, jika dikucurkan lewat APBD Perubahan, dikhawatirkan waktunya akan tidak cukup.

”Kalau tidak cukup waktu, ujungnya pun menjadi Silpa dari APBD Perubahan. Kan, eman-eman (sayang, red) juga,” tandasnya.

Pada 2016 ini, sebanak 287 desa di Kabupaten Rembang sudah dialokasi dana desa sebesar total Rp179 miliar. Atau naik Rp100 miliar dari tahun 2015 yang hanya Rp 79 miliar.

Selain dana desa dari Pemerintah Pusat, semua desa di kabupaten ini juga mendapat alokasi dana desa sebesar Rp 82 miliar. Masih ada kemungkinan pencairan bantuan keuangan desa, yang nilainya Rp 52 miliar tadi.

Editor: Merie

Mengherankan, Pemkab Rembang Enggan Cairkan Anggaran Rp 52 M

uang

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dana sebesar Rp 52 miliar yang merupakan bantuan keuangan untuk desa di Kabupaten Rembang, terancam hanya menjadi sisa lebih penggunaan anggaran atau silpa pada tahun 2016 ini.

Ketua Komisi A DPRD Rembang Ilyas mengatakan, bantuan keuangan dari pemerintah kabupaten (pemkab), masih tetap diperlukan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di desa.

”Meskipun sudah ada dana desa dari Pemerintah Pusat dan alokasi dana desa dari pemkab, saya kira bantuan keuangan masih diperlukan. Ini agar desa bisa cepat menyelesaikan pembangunan infrastruktur dasarnya,” terangnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (2/4/2016).

Namun, Ilyas menangkap adanya sinyal keengganan dari pemkab untuk mencairkan dana tersebut. Hal itu ditangkapnya ketika berkoordinasi dengan Bupati Rembang Abdul Hafidz, baru-baru ini.

”Saat konsultasi belum lama ini , bupati terkesan belum ingin atau belum akan mencairkan bantuan keuangan bagi desa, pada masa APBD Induk 2016,” ungkap Ilyas.

Ilyas mengatakan, seharusnya bantuan tersebut tetap dicairkan. Sehingga tidak akan menjadi silpa. ”Saya yakin bahwa desa masih membutuhkannya untuk pembangunan,” jelasnya.

Editor: Merie

Angka Kecelakaan di Rembang Tinggi, Rumah Sakit Ini Konsentrasi Pelayanan Bedah Tulang

f-upload jam 17. rumah sakit

Kegiatan ground breaking atau peletakan batu pertama RS Bhina Bhakti Husada, Jumat (1/4/2016).

 

MuriaNewsCom, Rembang– Jumlah rumah sakit di Rembang dipastikan akan bertambah kembali. Hal itu menyusul peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada, Jumat (1/4/2016).

Dalam kegiatan ground breaking itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz meminta agar rumah sakit baru ini tidak hanya profit oriented namun juga memiliki oreintasi sosial. Ia juga mengaku gembira karena pada bulan kemarin, juga melakukan hal serupa untuk pembangunan rumah sakit di Tasiksono, Kecamatan Lasem.

Hafidz berharap, agar keberadaan rumah sakit baru mampu menarik warga Rembang yang selama ini berobat ke luar kabupaten. Selain itu, ia juga berharap agar warga luar daerah datang berobat ke wilayah Rembang.

“Diharapkan dengan berdirinya rumah sakit baru di Rembang, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Namun juga warga luar Rembang, agar datang berobat ke Rembang. Sehingga uang yang berputar di Kabupaten Rembang semakin besar,” katanya.

Sementara itu, Komisaris Utama PT Bhina Raharja Husada  Adna Tukiman menjelaskan, visi utama pembangunan rumah sakit adalah untuk ikut membantu pembangunan di Kabupaten Rembang, utamanya di bidang kesehatan. Ia menilai, Rembang masih tertinggal di banding kabupaten lainnya di bidang kesehatan.

Dijelaskan olehnya, sebagai langkah awal RS Bhina Bhakti Husada akan berkonsentrasi untuk pelayanan bedah tulang. “Hal ini dikarenakan angka kecelakaan lalulintas di Kabupaten Rembang termasuk tinggi. Sehingga nantinya pasien tidak perlu jauh-jauh ke Solo atau daerah lain untuk melakukan bedah tulang,” terangnya.

Editor : Kholistiono

Pertemuan Bupati dengan DPRD Rembang Terkait Polemik Pelabuhan Tanjung Bonang Batal

Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Rencana pertemuan Bupati Rembang Abdul Hafidz dengan anggota DPRD untuk membahas Pelabuhan Rembang Terminal Sluke akhirnya batal. Pertemuan yang dijadwalkan pada Kamis (31/3/2016), tersebut tidak jadi dilakukan.

Batalnya pertemuan tersebut, karena Abdul Hafidz mengikuti kegiatan Musrenbang di Blora bersama Gubernur Ganjar Pranowo hingga sore hari. Akhirnya, pertemuan tertutup membahas polemik pelabuhan Tanjung Bonang ditunda dan akan diagendakan pada pekan depan.

“Memang ada undangan pertemuan untuk membahas pelabuhan, kemarin. Tetapi batal karena bupati ada kegiatan hingga sore dengan Pak Gubernur di Blora. Informasinya, akan dijadwalkan pekan depan,” jelas Ketua DPRD Rembang Kamil Majid MZ, Jumat (1/4/2016).

Sejumlah pihak diundang untuk membahas Pelabuhan Sluke. Di antaranya Ketua DPRD Rembang, mantan Ketua Pansus Pelabuhan, dan seluruh ketua fraksi. Sehari sebelumnya, enam perwakilan warga Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sluke mendatangi Kantor Sekretariat Daerah (Rabu, 30/3/2016).

Warga melapor ke bupati terkait minimnya manfaat pelabuhan bagi kesejahteraan masyarakat. Juga tidak adanya kompensasi perusahaan maupun investor terhadap pemerintah desa setempat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mantan Wakil Ketua Pansus DPRD Rembang, Asnawi, saat dikonfirmasi membenarkan adanya pertemuan dengan Bupati Abdul Hafidz. Disebutnya, pertemuan itu untuk membahas hasil audit BPKP yang selama ini dipertanyakan pihak legistalif. Sebab, selama ini dewan pun belum menerima tembusan dari bupati.

Namun, pihaknya mengaku tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut, lantaran ada agenda lain. “Ya memang benar audit BPKP sudah selesai, hari ini (kemarin -red) kami diundang rapat di kantor bupati membahas hal tersebut,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ribuan Nelayan Rembang Demo, Tuntut Susi Turun dari Kursi Menteri

Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi long march ke gedung DPRD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi long march ke gedung DPRD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi. Mereka menuntut agar menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti segera dicopot dari jabatannya.

Suyoto, tokoh nelayan Rembang membeberkan, aksi ribuan nelayan Rembang hanya merupakan ‘pemanasan’ menjelang aksi besar-besaran di Jakarta, yang akan digelar bertepatan hari Nelayan Nasional 6 April mendatang.

”Aksi kali ini sebagai pemanasan untuk, demo besar-besaran pada Hari Nelayan Nasional nanti. Rencananya, kita akan long march menuju gedung DPRD di Jalan Diponegoro Rembang,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom.

Kepada Pimpinan DPRD dan Bupati, pihaknya mengaku akan menyampaikan sejumlah petisi, untuk selanjutnya agar disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. Mereka juga menuntut dibatalkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 tahun 2015 terkait dilarangnya sejumlah alat tangkap tradisional.

Ia mengklaim alat tangkap tersebut tidak merusak lingkungan berdasarkan uji petik di Tegal, baru-baru ini. Nelayan pun mengklaim cantrang tidak tergolong pukat atau trawl, sedangkan Menteri Susi mengategorikan cantrang sebagai pukat atau trawl yang perlu diberantas.

”Petisi kami yaitu agar peraturan menteri dibatalkan, serta menuntut digantinya menteri Susi Pudjiastuti. Intinya kita menuntut hak hidup kita untuk melaut dikembalikan. Saat ini banyak yang sudah lama tidak berani melaut akibat adanya peraturan menteri Susi,” tegasnya.

Soal sikap pemerintah Kabupaten Rembang, menurutnya selama ini mendukung secara penuh upaya nelayan setempat. Meski begitu, dia menyangsikan tuntutan para nelayan untuk menghapus Permen akan direspon pemerintah pusat. ”Setahun yang lalu kami sudah sampaikan kepada presiden Jokowi, tapi pemerintah pusat dalam hal ini masih saja bergeming,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kijang Lasem, Fauna yang jadi Identitas Rembang

fauna rembang kijang lasem

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kabuapten Rembang memiliki fauna identitas yaitu Kijang (Muntiacus muntjak). Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Rembang berharap PSIR Rembang selain diberi julukan LaskarDampo Awang, juga akan di beri julukan Kijang Lasem.

Diolah dari berbagai sumber, dinamakan Kijang Lasem karena menunjukkan identitas Kabupaten Rembang yaitu Gunung Lasem yang memiliki populasi kijang yang cukup banyak. Selain itu kijang adalah hewan yang termasuk cerdik. Jadi diharapkan tim PSIR Rembang menjadi tim yang cerdik melakukan serangan ke gawang lawan.

Kijang mempunyai tubuh berukuran sedang, dengan panjang tubuh termasuk kepala sekitar 89-135 cm. Ekornya sepanjang 12-23 cm sedangkan tinggi bahu sekitar 40-65 cm, dengan berat mencapai 35 kg. Rata-rata umur kijang bisa mencapai 16 tahun.

Mantel rambut kijang pendek, rapat, lembut dan licin. Warna bulunya bervariasi dari coklat gelap hingga coklat terang. Pada punggung kijang terdapat garis kehitaman. Daerah perut sampai kerongkongan berwarna putih. Sedangkan daerah kerongkongan warnanya bervariasi dari putih sampai cokelat muda. Kijang jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar.

Jenis rusa asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman.

Kijang ini dapat ditemui di pegunungan Lasem. Kijang ini gesit dan agresif. Pegunungan Lasem yang memiliki luas 2.497,74 hektar berada di wilayah KPH Kebonharjo, merupakan area konservasi air. Gunung itu menjadi penopang daerah aliran sungai Lasem dan Blitung. Di kawasan ini, terdapat delapan mata air, seperti mata air Klumpit, Belik, Tretes, Watu Gunung, dan Jambai. Agar kawasan lindung tidak rusak, KPH Kebonharjo secara tegas menyatakan pegununungan Lasem tertutup untuk kegiatan penambangan.

Editor : Akrom Hazami

Di Rembang, yang Muda yang Kena HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kasus perkembangan penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Rembang terus meningkat setiap tahunnya. Ironisnya, baru-baru ini tercatat penderita HIV/AIDS tertinggi di Rembang adalah kalangan remaja.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i, Rabu (16/3/2016). Menurutnya, data terbaru yang dimiliki terkait peningkatan kasus penyakit HIV/AIDS sangat memprihatinkan.

“Perkembangan penyakit HIV/AIDS di Rembang, setiap tahunnya terus meningkat. Hingga saat ini, tidak kurang dari 260 kasus. Yang memprihatinkan adalah, kelompok usia yang terkena penyakit ini semakin lama semakin muda,” kata Ali.

Karena, sebaran penyakit mematikan itu didominasi oleh usia muda kisaran 20 tahun sampai 25 tahun. Padahal, sebelumnya usia mayoritas yang terjangkit penyakit HIV/AIDS adalah usia 35 tahun sampai 40 tahun.

“Kalau dulu kelompok tertinggi yang terkena penyakit HIV/AIDS, kisaran usia 35 tahun sampai 40 tahun. Tapi saat ini, justru kelompok tertingginya usia 20 tahun sampai 25 tahun. Ini artinya, anak-anak kita sudah sejak dini mengenal perilaku yang menyimpang,” tandasnya.

Dijelaskan olehnya, hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar penderita virus mematikan itu sudah terjangkit sejak usia belasan tahun. Dikarenakan, perlu waktu yang cukup lama untuk mengetahui seseorang terjangkit virus berbahaya itu.

“Karena dari HIV menjadi AIDS butuh waktu yang cukup panjang, kira-kira kisaran 5 sampai 10 tahun. Kalau kita mendiagnosa mereka terjangkut AIDS di usia 20 tahun, berarti mereka terkena HIV pada 5 tahun sebelumnya, yakni di usia yang sangat dini, usia 10 sampai 15 tahun,” jelas Ali.

Ia berharap, agar masyarakat bersatu padu untuk mengatasi permasalahan yang sangat memprihatinkan itu. “Dinas Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, perlu dukungan masyarakat untuk mengatasi persoalan yang sungguh memprihatinkan bagi kita semua,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Waduh! Setiap 2 Hari, Rumah Tangga di Rembang Berantakan Gara-gara Api Cemburu

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 37 perkara cerai gugat yang diterima oleh Pengadilan Agama Kabupaten Rembang selama Januari sampai Februari 2016, disebabkan rasa cemburu dan gangguan orang ketiga. Hal tersebut disampaikan oleh Panitera Muda Pengadilan Agama Rembang Saerozi.

Jika dihitung-hitung secara kasar, 60 hari dari dua bulan dibagi dengan kasus yang ada, yakni 37 cerai gugat, maka itu, berarti dalam dua hari sekali terjadi perceraian yang disebabkan oleh api cemburu dan gangguan orang ketiga.

Menanggapi mudahnya para istri mengajukan cerai gugat hanya berdasarkan rasa cemburu dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh orang ketiga, Saerozi berpesan agar para suami-istri lebih dewasa dalam mengatasi masalah. Sehingga, perselisihan dan masalah dalam rumah tangga tidak berujung pada perceraian.

Baca juga : Belasan Pria di Rembang Ini Lebih Memilih ‘Tidur’ Bersama Botol Miras Daripada Bersama Istri Cantiknya

“Kalau sudah menikah, agar lebih dewasa dalam menyelesaikan masalah bersama, terutama berkaitan dengan urusan rumah tangga dan keluarga. Sehingga, setiap masalah yang ada bisa terselesaikan dengan baik dan rumah tangganya tidak berakhir dengan perceraian,” katanya.

Sementara, imbauan khusus untuk para suami, agar tidak menelantarkan dan mengabaikan istri mereka. Saerozi berpendapat, jika para istri diperhatikan, kebutuhannya tercukupi, dan tidak bermain dengan perempuan lain, diyakini rumah tangga akan utuh.

“Kalau keluarga tidak ditelantarkan, otomatis tidak mengajukan cerai. Saya yakin, perempuan itu kalau dirawat, tidak akan mengajukan cerai. Maksud dirawat, ya uang diberi, kebutuhan rohani juga diberi, dan tidak liyo artinya tidak mencari perempuan lain,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Belasan Pria di Rembang Ini Lebih Memilih ‘Tidur’ Bersama Botol Miras Daripada Bersama Istri Cantiknya

Efek-Buruk-Minuman-Alkohol

 

MuriaNewsCom, Rembang – Belasan suami di Kabupaten Rembang, justru lebih suka menenggak minuman keras (miras) dibandingkan dengan menjaga keluarganya tetap utuh dan nyaman.

Meski sudah diperingatkan oleh istri cantiknya, namun kebiasaan mabuk tetap tidak bisa hilang. Ternyata, mereka lebih memilih ‘tidur’ bersama botol miras daripada tidur bersama istri cantiknya. Sehingga, kebiasaan buruk para suami berhadapan dengan kekesalan para istri yang akhirnya berbuah perceraian.

Berdasarkan data yang dihimpun MuriaNewsCom, setidaknya 16 istri cantik di Rembang, terpaksa mengajukan gugatan cerai untuk menjadi janda. Mereka beralasan kebiasaan mabuk sang suami menjadi faktor penyebab utama perceraian. Pengajuan cerai gugat tersebut terjadi dalam kurun waktu dua bulan terakhir.

Tercatat, pada bulan Januari 2016 saja, sudah ada 11 istri mengajukan cerai gugat ke Pengadilan Agama Rembang. Sedangkan pada bulan Februari, hanya ada 5 perempuan yang tidak betah tinggal seatap bersama si pemabuk.

Panitera Muda Pengadilan Agama Rembang Saerozi, berharap agar angka perceraian baik karena faktor penyebab berupa krisis moral atau mabuk dan faktor lainnya, bisa menurun. “Mudah-mudahan turun terus, biar tidak banyak orang Rembang yang cerai,” harapnya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom.

Selain faktor krisis moral yakni suka menenggak miras, lanjut Saerozi, banyak faktor lain yang membuat para istri mengajukan gugat cerai. Dibeberkan olehnya, sebanyak 69 istri menggugat cerai suaminya pada bulan Januari. Sedangkan pada bulan Februari, mengalami penurunan menjadi 64 kasus gugat cerai. Sehingga jumlah totalnya mencapai 133 perkara.

Menurutnya, sebagian besar dari ratusan istri yang meminta cerai itu masih berusia muda. “Rata-rata usia nikah muda, kisaran umur 20 sampai 35 tahun dan kebanyakan sudah punya satu anak kecil,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Berkat Kesadaran Masyarakat, Makam Adipati Lasem di Ladang Tebu Mulai Dibangun

Warga Jolotundo bersama Fokmas Lasem melakukan doa bersama untuk memulai pembangunan makam ketiga Adipati Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga Jolotundo bersama Fokmas Lasem melakukan doa bersama untuk memulai pembangunan makam ketiga Adipati Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Makam Tiga Adipati Lasem di Ladang Tebu Desa Jolotunda, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, akhirnya mulai dibangun secara fisik, Kamis (10/3/2016). Pembangunan makam tersebut, berkat kesadaran masyarakat setempat bersama dengan Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem.

Sebelumnya makam tersebut tidak terurus dan terbengkalai. Sehingga warga setempat bersama Fokmas Lasem, berinisiatif membuat bangunan untuk melindungi makam agar lebih tertata. Prosesi pemugaran makam sebenarnya sudah diawali dengan doa pada Rabu (9/3/2016) kemarin.

Ernantoro, penggiat Fokmas Lasem mengatakan, pembangunan secara fisik dimulai hari ini. ”Hari ini memasuki pembangunan secara fisik, namun kemarin sudah dilakukan doa bersama untuk mengawali proses pembangunan ketiga Adipati Lasem ini,” ungkapnya.

Ketiga adipati yang dimaksud adalah Adipati Lasem Pangeran Tejokesumo III (Raden Mas Wingit), Pangeran Tejokesumo IV (Raden Mas Witjaksono) dan Pangeran Tejokusumo V (Raden Mas Sasongko). Disampaikan olehnya, sering ada tamu dari Blora yang berkunjung ke makam itu dan mengaku masih keturunan Tejokusuma V.

”Tejokesumo V merupakan keturunan kedelapan dari Brawijaya. Kemudian Tejokesumo ke V mempunyai menantu bernama Djayeng Tirtonoto yang menjadi Adipati Blora pertama,” tandasnya.

Menurutnya, setelah dilakukan doa bersama kemarin, kemudian dilakukan penggalian pondasi di tanah berukuran 7×7 meter tersebut untuk serambi makam. ”Saat ini sedang dipasangi rajeg untuk penguat awal. Selanjutnya, didirikan dengan model joglo,” ujarnya ketika diberbincang dengan MuriaNewsCom.

Toro menyebutkan proses pembangunan semuanya dianggarkan secara swadaya oleh masyarakat setempat, kebetulan juga ada sumbangan Rp 10 juta dari pihak yang enggan disebut namanya.

”Responnya masyarakat dan pihak desa sangat bagus, bahkan kesadaran masyarakat setempat tentang pentingnya sejarah sudah mulai tumbuh. Sehingga mereka dengan terbuka mendukung pembangunan makam,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tim Basarnas Ikut Bantu Pencarian Orang Mancing Hilang di Sungai Lusi

Tim Basarnas ikut melakukan pencarian orang hilang di Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Basarnas ikut melakukan pencarian orang hilang di Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pencarian orang hilang ketika mancing di pinggiran Sungai Lusi, tepatnya dibawah jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Jengglong, Purwodadi dan Desa Menduran, Kecamatan Brati kembali dilanjutkan pagi ini, Rabu (9/3/2016). Pencarian kali ini melibatkan tim Basarnas yang didatangkan dari Jepara.

“Semalam, kita sudah berupaya menyisir pinggiran sungai untuk mencari orang yang dilaporkan hilang. Tetapi, pencarian itu belum membuahkan hasil dan kali ini kita lanjutkan lagi,” kata Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir yang ikut naik perahu karet bersama anggota Basarnas dan BPBD Grobogan.

Pencarian yang dimulai pukul 09.00 WIB ini difokuskan lewat jalur air. Dua perahu karet menyisir sungai, mulai dari bawah jembatan gantung menuju kearah barat megikuti aliran air.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (8/3/2016) petang, seorang warga Jengglong Timur bernama Kalijo Tulus atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Jo dilaporkan hilang saat mancing tidak jauh dari rumahnya.

Menurut penuturan warga, seharian itu, Mbah Jo dan beberapa orang lainnya terlihat memancing ikan dibawah rerimbunan pohon bambu.

Menjelang magrib, beberapa orang merasa curiga karena sandal dan perlengkapan memancing milik Mbah Jo masih ada disitu. Tetapi pemiliknya tidak ada disitu, termasuk ketika dicari di rumahnya ternyata belum pulang.

Baca juga : Misterius, Mbah Jo Hilang saat Mancing di Bawah Pohon Bambu di Kali Lusi Grobogan

Editor : Kholistiono

Perawat di Rembang Optimistis Bisa Bersaing di MEA

Tabah Tohamik, salah satu perawat di RSUD dr R Soetrasno. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Tabah Tohamik, salah satu perawat di RSUD dr R Soetrasno. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Meski para perawat dari mancanegara mempersiapkan diri untuk bersaing di Indonesia dengan berlakunya MEA, namun para perawat di Rembang tidak khawatir. Bahkan, mereka optimistis mampu bersaing dalam MEA.

Salah seorang perawat di Rembang yang optimistis yakni Tabah Tohamik. Ia mengaku hampir semua perawat di kabupaten ini, siap bersaing dengan perawat dari negara lain. ”Persaingan tenaga perawat di Pasar Bebas ASEAN, sudah menjadi keniscayaan. Karena merupakan kesepakatan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, ada dua hal yang bisa mampu membuat perawat lokal memenangi persaingan, yakni kompetensi dan spesialisasi. ”Dengan kompetensi dan spesialisasi, maka perawat di Kabupaten Rembang mampu memenangi persaingan,” ucapnya.

Selain itu, kata Tabah, menurut catatan pihak Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Rembang, jumlah perawat di kabupaten ini mencapai 400-an. ”Hampir semua dari mereka telah mengantongi surat tanda registrasi (STR) dan memiliki sertifikat uji kompetensi yang berlaku secara internasional,” bebernya.

Dijelaskan olehnya, setiap lima tahun sekali STR perlu diperpanjang namun dengan uji kompetensi lagi. ”STR ini seperti SIM, perlu diperpanjang lima tahun sekali. Namun, harus diuji kembali sehingga ada peningkatan kompetensi,” jelasnya.

Ia pun menilai wajar ada perawat yang takut atau gelisah. Namun ia menegaskan, perawat yang memiliki kompetensi siap menghadapi persaingan di MEA. ”Mau tidak mau, kami sudah siap untuk bersaing,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Giri Menilai Adanya MEA, Menguntungkan RSUD Rembang

RSUD-rembang

Humas RSUD dr R Soetrasno, Giri Saputro ketika berkunjung ke ruang perawat. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewCom, Rembang – Humas RSUD dr R Soetrasno, Giri Saputro mengaku tidak khawatir dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Justru, ia menilai adanya MEA menjadi keuntungan bagi pihak rumah sakit.

Menurutnya, dengan adanya MEA para perawat lebih kompetitif sehingga kualitasnya pun akan terus terpacu. ”Kami justru merasa diuntungkan karena ada persaingan. Tanpa persaingan, kualitas pelayanan perawat tidak akan terpacu menjadi lebih baik lagi,” jelas Giri.

Terkait akan mempekerjakan perawat asing atau tidak, Giri mengatakan, selagi kompetensinya sama, maka belum perlu menyerap perawat dari manca negara. ”Kami memang mendengar perawat asing misalnya dari Malaysia, Thailand, dan Filipina, mulai bersiap ke Indonesia,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku telah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut MEA, salah satunya peningkatan kualitas dan mutu perawat melalui uji kompetensi. ”Tiap masa berlaku sertifikat kompetensi perawat habis, kami juga menyelenggarakan pelatihan bagi mereka,” tandasnya.

Secara kualitas perawat, ia tidak khawatir. Namun, untuk kuantitas jumlah perawat dan pasien di RSUD, menurut Giri, masih belum ideal. Idealnya, satu perawat merawat satu pasien. Sementara saat ini, satu perawat rata-rata merawat empat pasien. ”Idealnya, satu pasien satu perawat. Namun di ruang ICU, satu perawat dua pasien. Sementara yang pasien biasa, rata-rata masih dengan satu perawat merawat empat pasien,” terangnya.

Kendati begitu, juru bicara RSUD Rembang itu menegaskan kekurangan perawat itu tidak sampai mengganggu pelayanan terhadap pasien. ”Namun, tidak sampai mengganggu mutu pelayanan terhadap pasien. Bisa dikatakan berada dalam kualifikasi ideal minimal,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Perawat, Siapkan Dirimu Jika Tak Mau Kalah Bersaing dengan Tenaga dari Luar Negeri

Sekretaris Umum PPNI DPW Jawa Tengah Untung Sujian. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Sekretaris Umum PPNI DPW Jawa Tengah Untung Sujian. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Di tengah persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perawat juga dituntut untuk dapat bersaing dengan perawat dari negara lain. Pasalnya, perawat dari Filipina, Malaysia, dan Thailand sudah mempersiapkan diri untuk membanjiri Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Umum PPNI DPW Jawa Tengah Untung Sujian di sela-sela Musyawarah Daerah PPNI Kabupaten Rembang, di Hotel Gajah Mada Rembang, Sabtu (27/2/2016).

Untung mengungkapkan, bahwa perawat-perawat dari negara tetangga sudah terdeteksi berminat untuk membanjiri Indonesia. Mereka bahkan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri.“Dari Filipina, Malaysia dan Thailand banyak yang tertarik bekerja di Indonesia. Bahkan Mereka sudah mempersiapkan diri dengan belajar budaya dan berbahasa Indonesia,” ujarnya.

Untung menyebut, Jika perawat dari Filipina ingin bekerja di Indonesia maka mereka harus menguasai bahasa Indonesia, begitu juga sebaliknya. Namun, syarat utama bahasa yang harus dikuasai adalah Bahasa Inggris.

“Perawat harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah disepakati oleh negara-negara di ASEAN jika ingin diakui di negara sendiri maupun negara lain. Salah satunya berkaitan dengan budaya setempat, termasuk bahasa lokal,” jelasnya.

Dari sisi pendidikan, kata Untung, perawat harus minimal D3 keperawatan dan spesialis. Selain itu, juga harus lulus uji kompetensi, teregistrasi Surat Tanda Regristasi (STR) dan harus lulus uji di negara tujuan.

“Saat ini perawat di Indonesia sudah dipersiapkan untuk mulai uji kompetensi sampai penerbitan STR. Dari sisi legalitas, maka perawat yang yang memiliki STR sudah diakui di Indonesia maupun negara-negara ASEAN. Selanjutnya tinggal penambahan syarat-syarat tambahan,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : MEA, Koperasi di Rembang Wajib Kreatif

Anggota DPR RI Asal Rembang Ini Larang Media Kampanyekan LGBT

Anggota Komisi I DPR RI asal Rembang, Arvin Hakim Toha ketika mengunjungi kegiatan pelatihan kader penggerak yang selenggarakan DPC PKB Rembang di Gedung NU Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Anggota Komisi I DPR RI asal Rembang, Arvin Hakim Toha ketika mengunjungi kegiatan pelatihan kader penggerak yang selenggarakan DPC PKB Rembang di Gedung NU Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Anggota Komisi I DPR RI asal Rembang, Arvin Hakim Toha mengingatkan agarseluruh media penyiaran untuk tidak ikut mengkampanyekan lesbian,gay,bisexual dan transgender (LGBT).

Hal tersebut disampaikannya kepada awak media di sela-sela kegiatan pelatihan kader penggerak yang selenggarakan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Rembang di Gedung NU Rembang, Sabtu (27/2/2016).

Menurutnya, ia mengaku sudah menyurati beberapa media penyiaran untuk tidak mengkampanyekan LGBT. “Untuk televisi dan radio sudah diberi surat untuk tidak melakukan kampanye LGBT melalui penyiaran. Tentu warga LGBT ini pasti melawan, yang kadang menjelek-jelekkan orang-orang,” ungkapnya.

Wakil rakyat yang membidangi masalah pertahanan,intelijen, komunikasi dan informatika itu juga menyebut, hampir semua televisi di Indonesia selama ini ikut mengkampanyekan LGBT. Sehingga, hal tersebut harus mulai dihentikan. “Memang media banyak dikuasai orang-orang LGBT, terutama dari segi hiburannya,” sebutnya.

Arvin menyatakan, menolak LGBT sebagaimana keputusan dari PBNU pusat. Selain bertentangan dengan ajaran agama Islam, LGBT juga bertentangan dengan UU yang ada di Indonesia. “Saya tidak setuju dengan LGBT, seperti keputusan PBNU dalam konferensi pers. Saya sebagai orang NU, persis sama dengan keputusan PBNU,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ini 6 Poin Kesepakatan Komisi II DPR dan Kementrian PAN-RB Terkait Tenaga Honorer K2