Pemberdayaan Masyarakat Dinilai Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah 

 

Kegiatan yang dilakukan LSM Tajam Rembang. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Kegiatan yang dilakukan LSM Tajam Rembang. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom,Rembang – Sabar Mario, salah satu pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tajam menyatakan, jika kepedulian dan pemberdayaan masyarakat bukan hanya tugas dari pemerintah saja. Namun, hal itu juga menjadi tugas bersama.

Terkait hal itu, keberadaan LSM Tajam diharapkan mampu menjadi salah satu lembaga yang bisa berkontribusi terhadap kemajuan bangsa, khususnya Kabupaten Rembang. “Keberadaan kita diharapkan bisa memberikan efek positif bagi masyarakat dan kemajuan daerah ini,” ujarnya.

Sebagai salah satu langkah awal, pihaknya mengadakan tasyakuran sekaligus melakukan kegiatan bakti sosial dengan memberikan santuann terhadap puluhan anak yatim dan kaum duafa yang berlangsung di Dukuh Candisari, RT 3 RW 5 Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Rembang.

Kegiatan sosial seperti ini, diharapkan bisa dilakukan secara rutin, dengan waktu yang menyesuaikan. Sebab, bentuk kepedulian seperti ini dinilai merupakan satu hal yang berdampak terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kegiatan ini merupakan kepedulian kami terhadap masyarakat. Ini juga merupakan bagian kegiatan sosial kami,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, bahwa pihaknya juga telah berupaya menjalin kemitraan dengan masyarakat Kabupaten Rembang “Mudah-mudahan kegiatan sosial semacam ini bisa terus dilakukan,” tuturnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Bupati Rembang Targetkan Silpa Tahun Anggaran 2016 Dapat Diminimalisasi 

 

ilustrasi

ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mentargetkan, realisasi belanja untuk tahun anggaran 2016 ini bisa sesuai dengan rencana, sehingga adanya sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) dapat diminimalisasi.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, agar silpa dapat diminimalisasi, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan camat diminta untuk untuk memaparkan progres realisasi anggaran.

“Setiap sepekan sekali, semua SKPD dan  camat saya kumpulkan dan diminta untuk melaporkan progres realisasi anggaran yang sudah ada, sampai sekarang sudah sejauh mana,” ujar Hafidz.

Dengan begitu, dirinya akan tahu bagaimana serapan anggaran di masing-masing SKPD ataupun camat. Sehingga, ketika ada kesulitan atau stagnasi serapan anggaran, maka bisa dicarikan solusi dengan segera.

Dirinya juga berharap, dengan adanya hal seperti ini, serapan anggaran di masing-masing instansi dapat terealisasi dengan maksimal serta tepat sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

“Silpa untuk tahun ini tentu harus bisa berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Makanya, perkembangan di masing-masing instansi akan saya pantau terus, supaya realisasinya benar-benar jalan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Penyebab 18 Warga Belajar di Rembang Tak Bisa Ikuti UN Paket B 

Ujian-Nasional (e)

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pada pelaksanaan ujian nasional (UN) paket B, 9-11 Mei 2016, setidaknya dari 187, ada 18 warga belajar di Rembang yang menjadi peserta UN tak bisa hadir dalam pelaksanaan UN tersebut.

Agus Sugiyanto, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang mengatakan, penyebab dari ketidakhadiran peserta UN paket B tersebut dikarenakan peserta bekerja di luar daerah.

“Yang bersangkutan itu ternyata banyak menjadi buruh pabrik di luar Rembang. Jadi, pada hari pelaksanaan mereka tidak bisa hadir untuk mengikuti ujian seperti yang sudah dijadwalkan,” ujarnya kepada MuriaNewscom.

Menurutnya, yang bersangkutan sudah dihubungi agar bisa mengikuti ujian susulan yang bakal dilaksanakan ada 16-18 Mei mendatang. Namun, sampai sejauh ini mereka belum ada konfirmasi terkait kehadirannya.

Dalam hal ini, jika memang peserta tak bisa mengikuti UN sesuai jadwal reguler, maka mereka diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian susulan. Namun, jika pada ujian susulan nanti juga tak hadir, maka dipastikan mereka tidak akan lulus UN.

Untuk itu, dirinya berharap, dari belasan warga belajar yang kemarin belum bisa ikut ujian, maka pada ujian susulan nanti supaya hadir, sehingga bisa lulus.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

18 Warga Belajar di Rembang Terancam Tak Lulus UN Paket B

18 Warga Belajar di Rembang Terancam Tak Lulus UN Paket B 

warga belajar (e)

Agus Sugiyanto, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 18 warga belajar di Kabupaten Rembang terancam tak bisa lulus ujian nasional (UN) paket B. Hal ini, karena 18 warga belajar yang sudah terdaftar sebagai peserta UN paket B, tidak masuk ketika pelaksanaan UN yang berlangsung 9-11 Mei 2016.

Agus Sugiyanto, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang mengatakan, 18 warga belajar tersebut masih diberikan kesempatan untuk mengikuti UN susulan yang dilaksanakan pekan depan, yakni 16-18 Mei 2016.

“Tapi, kalau dalam ujian susulan mereka juga tak hadir, maka bisa dikatakan mereka sudah tak lulus UN paket B. Pastinya, kami berharap mereka bisa untuk ikut UN susulan nanti,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.’

Dari 18 warga belajar yang kemarin tidak hadir dalam UN paket B,katanya, terdapat di dua Kecamatan, yakni di Kecamatan Sluke dan GUnem. Mereka juga terdapat di dua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Menurutnya, secara keseluruhan warga belajar yang terdaftar sebagai peserta UN paket B ada 187 orang. Jumlah tersebut terdapat di empat kecamatan, yakni Kecamatan Gunem, Sluke, Sedan dan Sarang.

“Rinciannya, untuk di Kecamatan Sedang itu ada 45 warga belajar yang berasal dari dua PKBM, kemudian di Kecamatan Sluke ada 76 orang yang terdapat di satu PKBM, Kecamatan Gunem ada 34 orang dan Kecamatan Sarang ada 32 orang,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Rembang Alami Deflasi

bps (e)

Kantor BPS Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang mencatat, bulan April 2016 Kabupaten Rembang  mengalami deflasi sebesar 0,47 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 123,05. Angka tersebut lebih tinggi bila dibanding bulan April 2015 yang mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

Kepala BPS Rembang Saichuddin mengatakan, penyebab terjadinya deflasi tersebut karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan penurunan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 0,91 persen.

“Kelompok lain yang memberikan andil adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,03 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,91 persen,” ujarnya.

Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,32 persen, kelompok sandang sebesar 0,01 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen.

Ia mengatakan, secara keseluruhan di Jawa Tengah pada April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,46 persen dengan IHK sebesar 122,04. Dari enam kota survey biaya hidup (SBH) di Jawa Tengah, semuanya mengalami deflasi.

Dia menuturkan, Kota Cilacap mengalami deflasi sebesar 0,38 persen dengan IHK sebesar 124,84, Kota Purwokerto sebesar 0,45 persen dengan IHK sebesar 120,76, Kota Surakarta sebesar 0,19 persen dengan IHK sebesar 120,59 dan Kota Tegal sebesar 0,63 persen dengan IHK sebesar 119,37.

Sedangkan Kota Kudus dan Kota Semarang masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,63 persen dan 0,50 persen dengan IHK sebesar 128,35 dan 121,74.

“Laju inflasi tahun kalender (Januari-April 2016) inflasi sebesar 0,09 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (April 2016 terhadap April 2015) sebesar 3,38 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang mengalami inflasi 5,06 persen,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

41 Tim Ikuti Turnamen Voli Pantai di Rembang 

Dua tim sedang bertanding dalam kompetisi voli pantai tingkat SMP dan SMA di Pantai Karangjahe Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Dua tim sedang bertanding dalam kompetisi voli pantai tingkat SMP dan SMA di Pantai Karangjahe Rembang (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 41 tim bola voli pantai kategori SMP dan SMA mengikuti turnamen bola voli pantai tingkat Kabupaten Rembang di Pantai Karangjahe, Desa Punjulharjo, Rembang.  Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari, yakni 11-14 Mei 2016. Untuk kategori SMA, pertandingan akan berlangsung tanggal 11-12 Mei, sedangkan untuk SMP dilangsungkan pada 13-14 Mei.

Menurut Muslim, Kasi Keolahragaan Bidang Pemuda dan Olahraga pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang, dari 41 tim yang ikut dalam turnamen tersebut, terdiri dari 24 tim putra dan 17 tim putri.

“Rinciannya, untuk tingkat SMP Putra ada 11 tim, Putri 7 tim, sedangkan tingkat SMA Putra ada 13 tim serta kategori Putri ada 10 tim,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk yang berhasil menjadi juara, pada tahun tidak bisa diikutkan dalam even serupa tingkat Provinsi Jawa Tengah. Hal ini menyusul, even tersebut ditiadakan. Namun tim akan dipersiapkan untuk tahun 2018.

“Untuk Prestasi tahun lalu di tingkat provinsi,  tim voli pantai putra Rembang berhasil menduduki peringkat 2. Namun, untuk  tim putri harus kandas di babak delapan besar,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

7 Siswa SLBN di Rembang Ikuti UN SMP 

slb (e)

Siswa SLB Rembang sedang mengikuti ujian nasional (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tujuh siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Rembang mengikuti Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2016.

Kepala SLBN Rembang Suwarto, mengatakan, untuk siswa SMPLB terdapat 17 orang. Namun, hanya tujuh siswa penyandang tunarungu,tunawicara, tunanetra dan tunadaksa yang ikuti UN. Sepuluh siswa lainnya hanya mengikuti ujian sekolah karena menyandang tunagrahita dan ganda.

“Hanya tujuh siswa yang ikut UN hingga hari ketiga ini. Sebenarnya ada sepuluh siswa lagi, namun karena tunagrahita dan ganda, sesuai peraturan hanya menjalani ujian sekolah,” paparnya, Rabu (11/5/2016).

Ia merinci, dari 17 siswa SMPLB, baik yang mengikuti ujian nasional maupun ujian nasional, yakni penyandang tunanetra ada dua orang, tunarungu dan wicara empat orang, tunadaksa satu orang, tunagrahita delapan orang dan ganda dua orang.

Ia mengungkapkan, untuk jalannya pengawasan UN, pihaknya memberlakukan pengawasan silang internal sekolah. Kemudian, untuk waktu pelaksanaan ujian, untuk masing-masing mata pelajaran, katanya, diberikan waktu hingga dua jam.

Sejauh ini, dirinya juga menyatakan, jika tak ada kendala yang berarti terhadap pelaksanaan UN yang diikuti siswanya.

Editor : Akrom Hazami

187 Warga Belajar di Rembang Bakal Ikuti Ujian Paket B

Kasi Pendidikan Kesetaraan pada Dinas Pendidikan Rembang Agus Sugiyanto (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Kasi Pendidikan Kesetaraan pada Dinas Pendidikan Rembang Agus Sugiyanto (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 187 warga belajar di Rembang bakal mengikuti ujian paket B yang bakal dilaksanakan pada 9-11 Mei mendatang. Pelaksanaan tersebut serempak dengan jadwal ujian nasional (UN) tingkat SMP. Yang membedakan adalah waktunya. Jika UN reguler dilakukan pada pagi hari, maka untuk paket B dilangsungkan mulai siang hari.

Kasi Pendidikan Kesetaraan Dinas Pendidikan Rembang Agus Sugiyanto mengatakan, sebanyak 187 warga belajar yang ikut ujian paket B tersebut, berasal dari empat kecamatan yang ada di Rembang.

“Mereka dari Kecamatan Sedan, Sluke, Gunem dan Sarang. Untuk Kecamatan Sedan, itu berasal dari dua kelompok atau lembaga, yang jumlahnya ada 45 warga belajar. Kemudian dari Kecamatan  Sluke berasal dari 1 lembaga dan jumlanya mencapai 76 warga belajar. Sedangkan dari Kecamatan Gunem, dari 1 lembaga ada 34 warga belajar dan yang terakhir dari Kecamatan Sarang ada 32 warga belajar yang berasal dari 1 lembaga,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Agus mengatakan, jumlah tersebut merupakan yang sudah mendaftar dan tidak ada tambahan lagi. Pihaknya berharap, peserta ujian paket B dapat mengikuti ujian dengan maksimal dan bisa lulus dengan hasil terbaik.

Kemudian, dirinya juga menyampaikan, jika memang pada jadwal pelaksanaan ujian tersebut berhalangan hadir karena sakit atau hal yang tidak bisa ditinggalkan, maka peserta dapat mengikuti ujian susulan.

Editor : Akrom Hazami

 

Wujudkan Rembang sebagai Kota Literasi, Begini Caranya

Edi Winarno, Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Rembang saat menutup acara Semarak Pesta Buku Murah (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Edi Winarno, Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Rembang saat menutup acara Semarak Pesta Buku Murah (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang terus berupaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat, sehingga, nantinya dapat terwujud Rembang sebagai Kota Literasi. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan mengadakan “Pesta Buku Murah” di Balai Kartini yang telah digelar selama beberapa hari ini.

Melalui cara seperti ini, Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustasip) Rembang Edi Winarno mengatakan, masyarakat akan bisa mengakses atau mendapatkan buku-buku berkualitas, namun dengan harga yang cukup terjangkau.

“Saya yakin, dengan hal seperti ini, masyarakat bisa lebih mudah untuk mendapatkan buku, karena memang harganya tidak mahal. Banyak buku-buku yang bisa didapatkan masyarakat, dan Alhamdulillah responnya sangat positif. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun ke Balai Kartini ini untuk mengakses beragam buku yang diinginkan,” ujarnya.

Ia katakan, untuk mewududkan Rembang sebagai Kota Literasi menurutnya sangat penting, karena, informasi yang beredar saat ini terus berkembang dengan mudahnya melalui berbagai alat atau media. Sehingga, jika masyarakat tidak cakap dalam menyikapi perkembangan informasi tersebut, maka akan tertinggal.

Dirinya berharap, kecintaan atau budaya membaca dapat tumbuh di masyarakat, yang hal itu bisa dimulai dari keluarga. Makanya, orang tua diharapkan bisa memberikan contoh kepada anaknya agar budaya membaca bisa muncul dari keluarga.

Bukan hanya itu saja, sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal juga harus bisa menjadi lembaga yang juga berperan aktif dalam meningkatkan budaya membaca di kalangan peserta didik. Hal itu, menurutnya bisa dilakukan dengan berbagai cara dari pihak sekolah.

Editor : Akrom Hazami

 

Ladies Club Tempat Hiburan Malam Rembang Panik Dirazia Narkoba

uplod jam 15 00 LC dirrazia (e)

Kegiatan razia narkoba di salah satu tempat hiburan malam di Rembang

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sejumlah Ladies Club (LC) dari empat kafe di Rembang panik. Lantaran gara-gara ada razia narkoba, Selasa (26/4/2016) malam sampai Rabu (27/4/2016) dini hari. Mereka pun akhirnya tak bisa bekerja seperti malam-malam sebelumnya. Karena harus dites apakah positif gunakan narkoba, atau tidak.

Di antara kafe dan tempat karaoke yang jadi sasaran adalah Cafe dan Karaoke California, Cafe Maya Jalan Gajah Mada 50 Rembang, Cafe JNT Desa Landoh Sulang Rembang, dan Cafe Pallapa Desa Weton Kecamatan Rembang. Tidak hanya LC yang diperiksa, tapi juga karyawan seperti manajemen, tenaga bersih-bersih, operator dan lainnya.

Dengan pemeriksaannya meliputi tes urine, dan tes pupil mata. Hasilnya, sampai pemeriksaan berakhir, petugas gabungan tidak mendapati penyalahgunaan narkotika. Petugas gabungan itu antara lain, BNNP Jateng bersama dengan Polres Rembang dan Sub Den Pom IV/3-1 Blora.

Operasi gabungan dipimpin langsung oleh AKBP Agung Wibowo Kabid Penindakan BNNP Jateng. Dalam operasi diikuti oleh Waka Polres Rembang Kompol Pranandya Subiakto, Kabag Ops Polres Rembang Kompol Yoan Setiajid, Kasat Narkoba Polres Rembang AKP Bambang Sugito, Kasat Sabhara Polres Rembang AKP Binuka Surjanugraha, PM Sertu Wahyu Hernawan, PM Sertu Suyadi, BNN 17 personel dan Polres Rembang 33 personel.

Editor : Akrom Hazami

HARI KARTINI : Kemeriahan Perayaan di Rembang

uplod jam 14 kartinian rembang (e)

Foto Suasana kirab di Rembang. (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Perayaan Hari Kartini di Rembang juga tidak kalah dengan daerah lainnya. Ada beragam kegiatan yang telah dilakukan. Seperti pada Rabu (20/4/2016) malam.

Di antaranya seperti kirab Pataka diikuti Bupati Rembang Abdul Hafidz, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Kapolres Rembang, SKPD dan peserta yang berjumlah sekitar 2000 peserta.

Kirab Pataka mulai berangkat dengan rute Pendapa Museum RA Kartini – Jalan Diponegoro -Jalan Kartini -Jalan Pemuda – Jalan Rembang – Blora dan Finish di Makam RA Kartini di Desa Mantingan, Bulu, Rembang.

Adapun peserta kirab dari SMP N 5 Rembang, SMP N 2 Rembang, MTs N Sulang, SMP PGRI Pancur, Kecamatan Pancur, SMP N 3 Rembang, SMP N 2 Kragan, MTs Arrohman, Kecamatan Sulang, Kompas (Komunitas Pemuda Semen), DPU, Karangtaruna Kaliombo Sulang, SH Teratai, SMP N 1 Rembang, SMP N 1 Sulang, SMP N 3 Kragan, Madania PSIR Kel Leteh, SMP N 1 Sluke, Kecamatan Lasem, dan Desa Gowak Lasem.

Editor : Akrom Hazami

Lambang Daerah Rembang Memang Bikin Kagum, Ini Lho Buktinya !

Logo

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak semua orang tahu dengan lambang daerahnya masing-masing. Apalagi sampai tahu lebih dalam soal arti lambang. Termasuk kamu, warga Rembang.

Berikut yang berhasil dihimpun MuriaNewsCom. Semoga berbagi ini berguna untuk warga Rembang, khususnya.
• Bentuk Perisai artinya ketahanan terhadap rongrongan dan serangan musuh.
• Padi dan Kapas menggambarkan kesuburan daerah,jumlah bulir padi 17 dan 8 kapas mencerminkan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
• Gunungan Garam berwarna Putih menggambarkan ciri khas produk daerah.
• Bunga Melati melambangkan wanita Indonesia dan ibu RA Kartini.
• Bintang Berwarna Kuning bersudut Lima melambangkan ketaatan beragama dan keagungan Tuhan.
• Langit berwarna Biru menggambarkan ketenangan,kedamaian dan kerukunan seluruh masyarakat.
• Pepohonan berwana Hijau melambangkan adanya wilayah hutan jati.
• Kapal Layar melambangkan jiwa bahari sebagian masyarakat Rembang sebagai warisan leluhur.
• Sangkar berbentuk Lingkaran Putih menunjukan teriknya matahari dan indahnya bulan purnama yang menunjukan betapa tabah dan beraninya nelayan – nelayan dengan tanpa kenal bahaya       berjuang siang dan malam mengarungi samudera.
• Laut berwarna Hitam Pekat melambangkan jiwa yang terang.
• Dua Garis Putih membelah Laut mencerminkan dahsyatnya gelombang laut tiada putus – putusnya.

Editor : Akrom Hazami

Listrik Lasem Padam, 3 Sekolah Penyelenggara UNBK Terganggu

Siswa SMK NU Lasem mengerjakan soal UNBK kembali, setelah sempat terganggu dengan padamnya listrik selam 20 menit, Selasa (5/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Siswa SMK NU Lasem mengerjakan soal UNBK kembali, setelah sempat terganggu dengan padamnya listrik selam 20 menit, Selasa (5/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tiga sekolah di Rembang sempat terganggu dengan padamnya listrik di wilayah Lasem, Selasa (5/4/2016). Terjadinya listrik padam pada sif kedua sekitar pukul 10.35 WIB.

Ketiga sekolah yang terkena dampak padamnya jaringan listrik di wilayah Lasem, yakni SMK NU Lasem, SMK Avicenna Lasem, dan SMK Umar Fatah Punjulharjo Rembang. Beruntungnya, penanganan cepat dilakukan dari sekolah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah lain yang mengalami kasus serupa. Semuanya sudah berjalan lancar kembali,” ujar Kepala SMK NU, Arif Dimyati kepada MuriaNewsCom.

Kendati begitu, lanjut Arif, aktivitas pengerjaan ujian para siswa sempat terhenti sekira 20 menit untuk menyalakan listrik menggunakan genset. Sehingga, listrik kembali menyala sekira pukul 10.55 WIB.

“Ketika listrik padam, para siswa kami minta untuk tenang dan tidak khawatir. Mereka beristirahat sejenak sambil menunggu listrik menyala dengan genset,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, meski listrik padam namun tidak mempengaruhi durasi waktu pengerjaan soal ujian. “Untuk aturannya, tidak mengurangi waktu pengerjaan ujian. Jadi, total waktunya tetap dua jam penuh,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

3 Pekerja Terluka Gara-gara Kompresor Meledak

Ilustrasi-kompresor

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tiga orang pekerja pabrik CV Sinar Mutiara Abadi (SMA) yang berlokasi di Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori,  Rembang, terpaksa dilarikan ke rumah sakit Dr R Soetrasno Rembang, Senin (4/4/2016) malam. Mereka menderita luka-luka akibat ledakan kompresor pabrik.

Ketiga korban luka-luka di antaranya Heru Wicaksono (38), Iswantoro (24), warga Desa Banyudono Kaliori. Sedangkan satu korban lainnya, John, warga Tanjung Pinang Kepulauan Riau.

Kepala Desa Banyudono, M Toha menjelaskan, setelah menerima laporan warga, dirinya langsung bergegas menuju lokasi kejadian. “Rata rata korban menderita luka pada bagian kaki,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan perwakilan pabrik, intinya siap bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan. “Khusus korban asal Tanjung Pinang (John) dirujuk ke Rumah Sakit Karyadi Semarang, lantaran lukanya tergolong cukup parah,” terangnya.

Toha berharap, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bagi manajemen pabrik. Setidaknya keselamatan kerja diutamakan.

Sementara itu, tenaga mekanik CV Sinar Mutiara Abadi, Bagus mengaku tidak tahu persis penyebab kompresor meledak. Diduga suhu dalam kompresor terlalu tinggi, karena ketiadaan oli pelumas. Belum lagi tenaga yang mengoperasikan kurang berpengalaman, sehingga akhirnya terjadi kecelakaan kerja.

Editor : Akrom Hazami

Petugas Keamanan Bantah Pelabuhan Tanjung Bonang Rembang Dikuasai Preman

 

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tudingan terkait maraknya aksi premanisme di Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, Kecamatan Rembang, mencuat ke publik belakangan ini.

Bahkan, enam orang yang mengaku perwakilan 250 warga melaporkan hal tersebut kepada bupati Rembang beberapa waktu yang lalu.

Namun, kabar yang beredar tersebut dibantah oleh salah seorang petugas keamanan Komplek Tanjung Bonang, Purnomo Widagdo. Ia membantah keras tudingan soal Tanjung Bonang banyak dikuasai oleh preman.

Menurutnya, semua orang yang terlibat di Tanjung Bonang adalah pekerja yang dipekerjakan oleh sejumlah perusahaan. ”Jika ada tuduhan Tanjung Bonang dikuasai oleh preman itu omong kosong. Petugas keamanan dan satpam dibayar oleh perusahaan. Bukan ilegal,” ujarnya.

Meski ia mengaku tidak mempersoalkan aksi demo yang dilakukan warga beberapa waktu yang lalu. namun ia berjanji akan bersikap tegas jika demo dilakukan dengan cara anarkis, atau menganggu aktivitas di komplek pelabuhan.

”Jika ada demo warga dengan menutup akses pelabuhan, maka akan ditertibkan oleh keamanan. Warga pendukung pelabuhan juga siap mengamankan,” pungkasnya.

Editor: Merie

Giliran Pro Pelabuhan Tanjung Bonang Gelar Demo Tandingan

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga melakukan aksi dengan berkumpul di depan pintu masuk Komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Demo puluhan warga yang mengaku resah dan keberatan dengan beroperasinya Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, Rembang, beberapa waktu yang lalu, direspon perangkat desa setempat.

Perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, beserta belasan warga pendukungnya, melakukan aksi tandingan sebagai bentuk pro terhadap pelabuhan. Mereka beraksi di depan pintu masuk komplek Pelabuhan Tanjung Bonang, Senin (4/4/2016) siang.

Kapala Desa Sendangmulyo Asrori mengatakan tujuan dari berkumpulnya mereka itu adalah untuk memberikan klarifikasi atas sejumlah polemik soal Tanjung Bonang.

”Di mana belakangan santer beredar melalui media, terutama terkait kontribusi. Kami ingin memberikan jawaban soal dana kontribusi dari sejumlah perusahaan yang dianggap tidak jelas pengelolaannya,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Asrori menegaskan, kabar soal adanya penyelewengan dana kontribusi dari perusahaan yang dilakukan oleh desa adalah tidak benar. Semua dana kontribusi yang diterima bulanan oleh desa, dianggap sudah dipertangunggjawabkan melalui proses musyawarah desa (musdes).

”Sebetulnya untuk tuduhan penyelewengan dana itu sudah ada pertanggungjawabannya dengan jelas. Jika ada kabar soal penyelewengan dana, itu adalah fitnah,” terang Asrori.

Ia menyebutkan, persentase penggunaan dana kontribusi dari perusahaan yang beroperasi di Tanjung Bonang, sudah diatur secara rinci. Yakni 50 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial, 30 persen untuk kegiatan fisik, 15 persen untuk operasional desa, dan 5 persen untuk keperluan alat tulis kantor (ATK).

”Kegiatan sosial kami lakukan dengan bentuk menjalankan program Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS), untuk mendukung program pemerintah. Semua dana kontribusi sudah ditentukan penggunaannya,” tandasnya.

Editor: Merie

Pemkab Rembang Tak Targetkan Jumlah Sekolah UNBK

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang tidak menargetkan peningkatan jumlah sekolah pelaksana Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz ketika memantau ke beberapa sekolah pelaksana UNBK, Senin (4/4/2016).

Hafidz menuturkan pelaksanaan UNBK memberikan efek positif bagi siswa, baik dari segi konsentrasi siswa maupun dari segi kejujuran. Meskipun demikian Ia tidak mempunyai target khusus terkait penerapan UNBK di sekolah-sekolah yang ada di Rembang.

Baca juga : Usai Kerjakan UN, Bupati Rembang Cegat Siswa, Ada Apa?

“Kami tidak ada target, tetapi keinginan dari tahun ke tahun bisa meningkat jumlahnya. Jika dipaksakan justru ada dampak negatifnya, biar mengalir saja sesuai kemampuan sekolah masing-masing,” kata Hafidz.

Dicontohkan olehnya, persiapan terkait genset yang harus dimiliki oleh pihak sekolahan yang ingin menggelar UNBK, maka harus sudah siap. “Kesiapan genset cadangan itu juga akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan. Kalau listrik mati, sementara sekolah tidak siap, bagaimana?,” imbuhnya.

Hal itu menurutnya akan sangat mengganggu, sehingga pihaknya tidak mau terburu-buru mematok target peningkatan jumlah sekolah pelaksana UNBK. Namun, bagi sekolah-sekolah yang sudah siap dan syaratnya terpenuhi dipersilahkan untuk menggelar UNBK pada tahun depan.

“Sehingga memang pemerintah tidak ada target dan tidak memaksakan supaya ujian ini pake komputer semua. Kalau sekolah syaratnya sudah cukup, ya silahkan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ternyata 5 Tokoh Hebat Ini Asal Rembang

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak banyak yang tahu jika ada banyak tokoh asal Rembang yang telah dikenal secara nasional. Mengingat, pemikirannya yang sangat berguna bagi bangsa ini.

uplod jam 12 Maimun_Zubair 1

Istimewa

1. KH Maimun Zubair
Kiai Haji Maimun Zubair lahir di Rembang, 28 Oktober 1928; umur 88 tahun adalah seorang ulama dan politikus. Saat ini ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Ia pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 8 tahun.

uplod jam 12 muhammad maftuh

2. Muhammad Maftuh Basyuni
Muhammad Maftuh Basyuni, SH lahir di Rembang, 4 November 1939 adalah Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi pada tahun 1968.
Periode 1976-1979, ia tampil sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Indonesia di Jeddah. Selain sebagai kepala rumah tangga kepresidenan saat Soeharto memimpin negara Indonesia, ia juga menjabat Sekretaris negara pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak 2002, ia adalah Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Pada 2004, ia tampil sebagai ketua Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri OKI.

uplod jam 12 mustofa bisri

3. KH Mustofa Bisri
KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944). Adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.
Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Di samping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.

uplod jam 12 Puthut 4

4. Puthut EA
Puthut EA lahir di Rembang, 28 Maret 1977 adalah sastrawan sekaligus peneliti berkebangsaan Indonesia. Sejak SMP sampai awal kuliah, ia rajin menulis geguritan (puisi di dalam bahasa Jawa) di majalah Panjebar Semangat dan Jayabaya.
Selain terus menulis dan melakukan kerja-kerja penelitian, Puthut masih sering diminta untuk menjadi pemandu berbagai pelatihan, terutama pelatihan menulis kreatif. Masih sering pula ia diminta membantu beberapa lembaga untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan sekaligus membuat berbagai bahan dan media belajar. Ia juga menyunting banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi konsultan buku, penerbitan dan media lain

uplod jam 12 alfred rambaldo

5. Alfred Emile Rambaldo
Alfred adalah putera seorang residen di Rembang, belakangan Pasuruan. Saat berumur 4 tahun, Alfred pindah ke Belanda bersama orang tuanya, dan ayahnya meninggal di sana. Alfred Rambaldo belajar di Instituut van J.D.N. de Graaff, Den Haag dan melanjutkan ke Instituut voor de Marine di Willemsoord, Den Helder. Pada tanggal 21 September 1901, ia menjadi taruna kelas I dan kembali pergi ke Hindia-Belanda (kini Indonesia).
Pada tahun 1903, ia dipromosikan menjadi luitenant-ter-zee kelas II dan pada tahun 1905 ia kembali lagi ke Belanda. Ia kemudian dimasukkan ke Korps AL di Amsterdam, dan di situ ia berhubungan kembali dengan dosennya Samuel Pierre l’Honoré Naber. Dari L’Honoré Naber-lah, Rambaldo mulai tertarik ke bidang astronomi, meteorologi dan terutama penerbangan, yang saat itu mulai bergaung.

Editor : Akrom Hazami

ADM Mantingan Hanya Kena Sanksi Ringan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pemeriksaan tim kepegawaian terkait dugaan penyalahgunaan kayu jati ilegal oleh Adm KPH Mantingan Teguh Jati Waluyo, sudah rampung pada Jumat (1/4/2016).

Dari hasil pemeriksaan itu, rupanya Teguh hanya terkena sanksi ringan. Sanksi tersebut terungkap dari surat laporan atas kasus Adm Mantingan yang di kirim Divre Perhutani Jawa Tengah ke Direksi Pusat Jakarta pada tanggal 24 Maret lalu.

Dalam surat laporan yang berjumlah dua lembar tersebut tertulis, Divisi Regional Jawa Tengah dan mengacu SK 155/KptsDir/2012 tentang peraturan Disiplin Karyawan yang bersangkutan diberikan sanksi ringan.

Kepala Divre Perhutani Jawa Tengah Sri Rahayu Slamet Wibowo saat dikonfirmasi awak media terkait surat tersebut, enggan berkomentar. Menurutnya, segala keputusan atas sanksi berada ditangan direksi pusat. Pihaknya hanya sebatas menyerahkan berkas laporan.

”Adm Mantingan sudah ditangani SPI pusat untuk tindaklanjut punishment-nya. Pemeriksaan sudah rampung, selanjutnya yang berhak memberikan punishment direksi pusat,” tegasnya.

Namun, soal bakal terkena sanksi ringan sesuai laporan yang dikirim divre ke direksi, Sri menyerahkan sepenuhnya pada direksi pusat, pihaknya hanya sebatas menuggu saja.

”Kami juga belum tahu kapan keputusan turun, karena bukan kewenangan kami. Ditunggu saja keputusan dari Jakarta,” bebernya.

Sebelumnya seperti diberitakan pihak Divre Jawa Tengah bersama tim Polda Jateng pada 23 Februari lalu, mengamankan sebanyak 12 gelondong (bukan 4 gelondong, red) kayu jati dari kediaman dinas ADM Mantingan.

Pihak Perhutani KPH Mantingan membantah jika kayu tersebut hendak disalahgunakan. Mereka beralasan kayu sengaja disimpan dari TPK ke rumah dinas, untuk kepentingan uji tolak terhadap kayu limbah.

Editor: Merie

Dewan Rembang Eman-eman Bantuan Keuangan Desa Tidak Cair

uang-2

 

MuriaNewsCom, Rembang – DPRD Kabupaten Rembang merasa sikap enggan pemerintah kabupaten (pemkab) mencairkan bantuan keuangan desa, adalah sikap yang eman-eman (patut disayangkan, red).

Ketua Komisi A DPRD Rembang Ilyas mengatakan, nilai bantuan yang mencapai Rp 52 miliar dan sudah dianggarkan itu, akan sangat berguna sekali bagi pembangunan desa.

Apalagi, menurut Ilyas, sifat bantuan keuangan dari pemkab bagi desa ini, sama dengan bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang masih digulirkan pada tahun ini.

”Harapan kami, bantuan keuangan dari pemkab tetap diberikan, agar tidak menjadi Silpa. Lagi pula sudah dianggarkan dan merupakan bagian dari aspirasi desa,” katanya.

Ilyas juga mengaku sudah sempat mencari informasi dan keterangan dari Bapermasdes Provinsi Jawa Tengah, mengenai bantuan keuangan dari pemkab bagi desa. ”Intinya, bantuan keuangan itu bisa diberikan,” tegasnya.

Kemungkinan, sebagaimana dikatakan Ilyas, bantuan keuangan desa dari pemkab, akan dikucurkan pada masa APBD Perubahan tahun ini. Namun dirinya menilai, jika dikucurkan lewat APBD Perubahan, dikhawatirkan waktunya akan tidak cukup.

”Kalau tidak cukup waktu, ujungnya pun menjadi Silpa dari APBD Perubahan. Kan, eman-eman (sayang, red) juga,” tandasnya.

Pada 2016 ini, sebanak 287 desa di Kabupaten Rembang sudah dialokasi dana desa sebesar total Rp179 miliar. Atau naik Rp100 miliar dari tahun 2015 yang hanya Rp 79 miliar.

Selain dana desa dari Pemerintah Pusat, semua desa di kabupaten ini juga mendapat alokasi dana desa sebesar Rp 82 miliar. Masih ada kemungkinan pencairan bantuan keuangan desa, yang nilainya Rp 52 miliar tadi.

Editor: Merie

Mengherankan, Pemkab Rembang Enggan Cairkan Anggaran Rp 52 M

uang

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dana sebesar Rp 52 miliar yang merupakan bantuan keuangan untuk desa di Kabupaten Rembang, terancam hanya menjadi sisa lebih penggunaan anggaran atau silpa pada tahun 2016 ini.

Ketua Komisi A DPRD Rembang Ilyas mengatakan, bantuan keuangan dari pemerintah kabupaten (pemkab), masih tetap diperlukan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di desa.

”Meskipun sudah ada dana desa dari Pemerintah Pusat dan alokasi dana desa dari pemkab, saya kira bantuan keuangan masih diperlukan. Ini agar desa bisa cepat menyelesaikan pembangunan infrastruktur dasarnya,” terangnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (2/4/2016).

Namun, Ilyas menangkap adanya sinyal keengganan dari pemkab untuk mencairkan dana tersebut. Hal itu ditangkapnya ketika berkoordinasi dengan Bupati Rembang Abdul Hafidz, baru-baru ini.

”Saat konsultasi belum lama ini , bupati terkesan belum ingin atau belum akan mencairkan bantuan keuangan bagi desa, pada masa APBD Induk 2016,” ungkap Ilyas.

Ilyas mengatakan, seharusnya bantuan tersebut tetap dicairkan. Sehingga tidak akan menjadi silpa. ”Saya yakin bahwa desa masih membutuhkannya untuk pembangunan,” jelasnya.

Editor: Merie

Angka Kecelakaan di Rembang Tinggi, Rumah Sakit Ini Konsentrasi Pelayanan Bedah Tulang

f-upload jam 17. rumah sakit

Kegiatan ground breaking atau peletakan batu pertama RS Bhina Bhakti Husada, Jumat (1/4/2016).

 

MuriaNewsCom, Rembang– Jumlah rumah sakit di Rembang dipastikan akan bertambah kembali. Hal itu menyusul peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada, Jumat (1/4/2016).

Dalam kegiatan ground breaking itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz meminta agar rumah sakit baru ini tidak hanya profit oriented namun juga memiliki oreintasi sosial. Ia juga mengaku gembira karena pada bulan kemarin, juga melakukan hal serupa untuk pembangunan rumah sakit di Tasiksono, Kecamatan Lasem.

Hafidz berharap, agar keberadaan rumah sakit baru mampu menarik warga Rembang yang selama ini berobat ke luar kabupaten. Selain itu, ia juga berharap agar warga luar daerah datang berobat ke wilayah Rembang.

“Diharapkan dengan berdirinya rumah sakit baru di Rembang, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Namun juga warga luar Rembang, agar datang berobat ke Rembang. Sehingga uang yang berputar di Kabupaten Rembang semakin besar,” katanya.

Sementara itu, Komisaris Utama PT Bhina Raharja Husada  Adna Tukiman menjelaskan, visi utama pembangunan rumah sakit adalah untuk ikut membantu pembangunan di Kabupaten Rembang, utamanya di bidang kesehatan. Ia menilai, Rembang masih tertinggal di banding kabupaten lainnya di bidang kesehatan.

Dijelaskan olehnya, sebagai langkah awal RS Bhina Bhakti Husada akan berkonsentrasi untuk pelayanan bedah tulang. “Hal ini dikarenakan angka kecelakaan lalulintas di Kabupaten Rembang termasuk tinggi. Sehingga nantinya pasien tidak perlu jauh-jauh ke Solo atau daerah lain untuk melakukan bedah tulang,” terangnya.

Editor : Kholistiono

Pertemuan Bupati dengan DPRD Rembang Terkait Polemik Pelabuhan Tanjung Bonang Batal

Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Rencana pertemuan Bupati Rembang Abdul Hafidz dengan anggota DPRD untuk membahas Pelabuhan Rembang Terminal Sluke akhirnya batal. Pertemuan yang dijadwalkan pada Kamis (31/3/2016), tersebut tidak jadi dilakukan.

Batalnya pertemuan tersebut, karena Abdul Hafidz mengikuti kegiatan Musrenbang di Blora bersama Gubernur Ganjar Pranowo hingga sore hari. Akhirnya, pertemuan tertutup membahas polemik pelabuhan Tanjung Bonang ditunda dan akan diagendakan pada pekan depan.

“Memang ada undangan pertemuan untuk membahas pelabuhan, kemarin. Tetapi batal karena bupati ada kegiatan hingga sore dengan Pak Gubernur di Blora. Informasinya, akan dijadwalkan pekan depan,” jelas Ketua DPRD Rembang Kamil Majid MZ, Jumat (1/4/2016).

Sejumlah pihak diundang untuk membahas Pelabuhan Sluke. Di antaranya Ketua DPRD Rembang, mantan Ketua Pansus Pelabuhan, dan seluruh ketua fraksi. Sehari sebelumnya, enam perwakilan warga Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sluke mendatangi Kantor Sekretariat Daerah (Rabu, 30/3/2016).

Warga melapor ke bupati terkait minimnya manfaat pelabuhan bagi kesejahteraan masyarakat. Juga tidak adanya kompensasi perusahaan maupun investor terhadap pemerintah desa setempat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mantan Wakil Ketua Pansus DPRD Rembang, Asnawi, saat dikonfirmasi membenarkan adanya pertemuan dengan Bupati Abdul Hafidz. Disebutnya, pertemuan itu untuk membahas hasil audit BPKP yang selama ini dipertanyakan pihak legistalif. Sebab, selama ini dewan pun belum menerima tembusan dari bupati.

Namun, pihaknya mengaku tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut, lantaran ada agenda lain. “Ya memang benar audit BPKP sudah selesai, hari ini (kemarin -red) kami diundang rapat di kantor bupati membahas hal tersebut,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ribuan Nelayan Rembang Demo, Tuntut Susi Turun dari Kursi Menteri

Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi long march ke gedung DPRD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi long march ke gedung DPRD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Ribuan nelayan Senin (28/3/2016) pagi, turun ke Jalan Pantura Rembang untuk demonstrasi. Mereka menuntut agar menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti segera dicopot dari jabatannya.

Suyoto, tokoh nelayan Rembang membeberkan, aksi ribuan nelayan Rembang hanya merupakan ‘pemanasan’ menjelang aksi besar-besaran di Jakarta, yang akan digelar bertepatan hari Nelayan Nasional 6 April mendatang.

”Aksi kali ini sebagai pemanasan untuk, demo besar-besaran pada Hari Nelayan Nasional nanti. Rencananya, kita akan long march menuju gedung DPRD di Jalan Diponegoro Rembang,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom.

Kepada Pimpinan DPRD dan Bupati, pihaknya mengaku akan menyampaikan sejumlah petisi, untuk selanjutnya agar disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. Mereka juga menuntut dibatalkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 tahun 2015 terkait dilarangnya sejumlah alat tangkap tradisional.

Ia mengklaim alat tangkap tersebut tidak merusak lingkungan berdasarkan uji petik di Tegal, baru-baru ini. Nelayan pun mengklaim cantrang tidak tergolong pukat atau trawl, sedangkan Menteri Susi mengategorikan cantrang sebagai pukat atau trawl yang perlu diberantas.

”Petisi kami yaitu agar peraturan menteri dibatalkan, serta menuntut digantinya menteri Susi Pudjiastuti. Intinya kita menuntut hak hidup kita untuk melaut dikembalikan. Saat ini banyak yang sudah lama tidak berani melaut akibat adanya peraturan menteri Susi,” tegasnya.

Soal sikap pemerintah Kabupaten Rembang, menurutnya selama ini mendukung secara penuh upaya nelayan setempat. Meski begitu, dia menyangsikan tuntutan para nelayan untuk menghapus Permen akan direspon pemerintah pusat. ”Setahun yang lalu kami sudah sampaikan kepada presiden Jokowi, tapi pemerintah pusat dalam hal ini masih saja bergeming,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kijang Lasem, Fauna yang jadi Identitas Rembang

fauna rembang kijang lasem

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kabuapten Rembang memiliki fauna identitas yaitu Kijang (Muntiacus muntjak). Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Rembang berharap PSIR Rembang selain diberi julukan LaskarDampo Awang, juga akan di beri julukan Kijang Lasem.

Diolah dari berbagai sumber, dinamakan Kijang Lasem karena menunjukkan identitas Kabupaten Rembang yaitu Gunung Lasem yang memiliki populasi kijang yang cukup banyak. Selain itu kijang adalah hewan yang termasuk cerdik. Jadi diharapkan tim PSIR Rembang menjadi tim yang cerdik melakukan serangan ke gawang lawan.

Kijang mempunyai tubuh berukuran sedang, dengan panjang tubuh termasuk kepala sekitar 89-135 cm. Ekornya sepanjang 12-23 cm sedangkan tinggi bahu sekitar 40-65 cm, dengan berat mencapai 35 kg. Rata-rata umur kijang bisa mencapai 16 tahun.

Mantel rambut kijang pendek, rapat, lembut dan licin. Warna bulunya bervariasi dari coklat gelap hingga coklat terang. Pada punggung kijang terdapat garis kehitaman. Daerah perut sampai kerongkongan berwarna putih. Sedangkan daerah kerongkongan warnanya bervariasi dari putih sampai cokelat muda. Kijang jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar.

Jenis rusa asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman.

Kijang ini dapat ditemui di pegunungan Lasem. Kijang ini gesit dan agresif. Pegunungan Lasem yang memiliki luas 2.497,74 hektar berada di wilayah KPH Kebonharjo, merupakan area konservasi air. Gunung itu menjadi penopang daerah aliran sungai Lasem dan Blitung. Di kawasan ini, terdapat delapan mata air, seperti mata air Klumpit, Belik, Tretes, Watu Gunung, dan Jambai. Agar kawasan lindung tidak rusak, KPH Kebonharjo secara tegas menyatakan pegununungan Lasem tertutup untuk kegiatan penambangan.

Editor : Akrom Hazami