Warung Kopi Remang-remang di Bumimulyo Pati Dirazia, Empat Mucikari Diamankan

Kapolsek Batangan AKP Endah saat merazia warung kopi berkedok prostitusi di kawasan Dukuh Mujil, Bumimulyo, Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warung kopi remang-remang yang dijadikan ajang prostitusi di kawasan Dukuh Mujil, Desa Bumimulyo, Kecamatan Batangan dirazia petugas kepolisian, Selasa (5/12/2017) malam.

Sedikitnya 15 personil kepolisian yang dipimpin Kapolsek Batangan AKP Endah Setianingsih diterjunkan untuk melakukan razia dengan sasaran penyakit masyarakat.

“Operasi kepolisian yang ditingkatkan dengan sasaran penyakit masyarakat ini targetnya para mucikari dan minuman keras. Sebab, banyak masyarakat yang melaporkan adanya tempat prostitusi berkedok warung kopi,” ucap AKP Endah, Rabu (6/12/2017).

Dari hasil razia, polisi mengamankan empat pemilik warung kopi yang juga berperan sebagai mucikari. Dia menjadi perantara yang menghubungkan pria hidung belang dengan wanita tuna susila.

Mucikari yang diamankan, di antaranya berinisial PSL (33), warga Lamongan, S (34) warga Jepara, M (43) warga Batangan Pati, dan W (31) warga Rembang.

Sementara dari warung milik S (52), warga Juwana, polisi menyita sebelas botol miras. Kelima pemilik warung tersebut lantas diperiksa di Mapolsek Batangan.

“Kami juga memeriksa perempuan berinisial J, pemilik rumah dan dikenakan tindak pidana ringan (tipiring) oleh Unit Sabhara Polsek Batangan,” pungkas AKP Endah.

Editor: Supriyadi

Razia “Rumah Mesum” di Margoyoso, Polisi Malah Kasih Uang Pemilik Rumah

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada kisah menarik dari razia rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, beberapa waktu lalu. Adalah Muhadi, pria paruh baya yang tinggal sebatang kara di sebuah rumah berdinding tembok, berlantaikan tanah tanpa penerangan listrik.

Rumah Muhadi terpaksa didatangi Jajaran Polsek Margoyoso, lantaran rumahnya diduga disewakan untuk mesum dengan tarif Rp 20 ribu sekali ngamar. Muhadi pun mengakui rumahnya disewa muda-mudi yang ingin berhubungan intim.

“Saya hidup sendiri, setelah istri meninggal dunia. Saya tidak punya anak. Suatu ketika, ada seseorang yang meminta untuk pinjam kamar. Saya diberi uang Rp 20 ribu. Saya hanya mau saja, berhubung butuh uang. Dari situ, ada saja muda-mudi yang datang menyewa kamar. Tidak mesti, kadang sehari satu orang, kadang dua hari sekali,” ungkap Muhadi.

Hal itu diakui berlangsung sekitar setahun lamanya. Muhadi sendiri tidak memiliki pekerjaan. Untuk makan sehari-hari, dia membutuhkan uluran tangan dari keponakan yang peduli. Rumah itu satu-satunya harta dari warisan orang tuanya dulu.

Mendengar kisah itu, Kapolsek Margoyoso AKP Sugino merasa iba dan justru memberikan uang kepada Muhadi. Hanya saja, dia meminta agar Muhadi tidak menyewakan rumahnya lagi untuk aktivitas mesum. Bila peringatan itu tidak dipedulikan, terpaksa akan menindak dengan langkah hukum.

Sementara itu, Ngatimah, ipar Muhadi sebetulnya sudah curiga bila rumahnya disewakan untuk mesum. Dia pernah memergoki ada dua sepeda motor yang ditaruh di dalam rumah, sedangkan pintu dikunci rapat-rapat. Namun, Ngatimah tidak menduga bila ternyata iparnya itu menyewakan rumahnya untuk dijadikan ajang mesum bagi muda-mudi.

Editor : Kholistiono