Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Pedagang Rambutan Mendadak ke Grobogan

Beberapa pekerja sedang membongkar rambutan dari atas kendaraan di Grobogan. (MuriaNewsCom /DaniAgus)

Beberapa pekerja sedang membongkar rambutan dari atas kendaraan di Grobogan. (MuriaNewsCom /DaniAgus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Buat para penggemar rambutan, saat ini tidak perlu bingung untuk mencari buah kesukaan. Karena dalam beberapa hari terakhir, keberadaan rambutan mulai mudah dicari.

Hal ini menyusul mulai maraknya juragan rambutan dari berbagai daerah yang mengirimkan barang dagangannya pedagang lokal di Grobogan. Salah satu titik bongkar rambutan ini berada di Jalan A Yani, sebelah timur pasar induk Purwodadi. Rambutan itu biasanya datang pada dini hari.

“Saya sudah satu minggu kirim rambutan ke Purwodadi. Tiap kesini, sedikitnya saya bawa rambutan satu ton,” kata Eko, salah satu juragan rambutan dari Bandungan, Semarang.

Menurutnya, setiap datang, rambutan yang dibawa selalu ludes terjual. Hal ini terjadi karena stok rambutan saat ini memang tidak sebanyak tahun-tahun lalu. Kondisi ini disebabkan banyak pohon yang bunganya rontok akibat musim panas bulan lalu dan disusul banyaknya hujan dalam satu bulan ini.

Selain itu, daerah sentra rambutan lainnya di Jawa Tengah juga belum masuk panen raya. Hal ini menjadikan buah rambutan jadi rebutan para pedagang lokal. 

Sementara itu, dari pantauan di beberapa penjual buah yang ada di Purwodadi, harga jual eceran rambutan itu bervariasi. Mulai dari Rp 7.000 sampai Rp 15.000 per kilogram. Tergantung dari jenis dan kualitas rambutan yang ada.

Pedagang eceran ini terdapat di banyak tempat. Selain di pasar buah jalan A Yani, ada sejumlah pedagang yang berjualan di sepanjang jalan R Suprapto dan jalan Diponegoro.

Editor : Akrom Hazami 

Ini 4 Jenis Rambutan di Kudus yang Rasanya Maknyus

Ashadi, penjual rambutan di Planggading, Margorejo, Dawe. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ashadi, penjual rambutan di Planggading, Margorejo, Dawe. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Rambutan yang dipanen warga Dukuh Planggading, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe ternyata memilili keragaman jenis. Dari keempat jenisnya memiliki tekstur kulit dan daging buah yang berbeda.

Salah satu penjual rambutan di Planggading, Margorejo, Dawe Ashadi mengatakan, dalam panen raya rambutan ini ada empat jenis buah rambutan. ”Di antaranya rambutan lokal, rambutan bince lokal, rambutan gading, dan rambutan tempel,” paparnya.

Untuk ke empat jenis rambutan tersebut juga mempunyai ciri dan perbedaan. Sehingga pembeli harus bisa membedakan disaat membeli rambutan yang diinginkan.

”Perbedaan jenis rambutan itu memang terletak di warna kulit, besar buah, dan bentuk daging buah. Namun untuk musim panen, pohon dan sejenisnya bisa dikatakan tidak ada bedanya dan semuanya hampir mirip,” ujarnya.

Dari perbedaan ke empat jenis rambutan itu, yang nampak menonjol adalah rambutan lokal. Yaitu buahnya sebesar bola pingpong, kulitnya berwarna merah, dan kulitnya agak tipis. Namun untuk rambutan bince lokal buahnya lebih besar, kulitnya agak sedikit tebal, dan warna kulitnya berwarna merah.

Sementara rambutan gading, kulitnya berwarna merah kuningan dan buahnya sebesar bola pingpong. Sedangkan untuk rambutan tempel atau rambutan dari hasil stek (persilangan) antara rambutan lokal dan gading, maka kulitnya berwarna kuning polos dan kulitnya agak tipis.

Hanya saja, nama dari jenis ke empat rambutan tersebut para penjual tidak tahu persis asal usulnya. Akan tetapi nama atau sebutan dan perbedaan rambutan itu didapat dari orang-orang sebelumnya.

”Kalau masalah nama atau sebutan rambutan itu, kita tidak tahu persis. Itupun saya tahu dari orang dahulu. Untuk harga satu ikat rambutan juga bervariasi. Rambutan lokal Rp 5 ribuan, rambutan bince lokal Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu, rambutan ganding Rp 6500 hingga Rp 7.500, dan rambutan tempel Rp 7 ribuan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Perubahan Cuaca Sebabkan Panen Rambutan di Cluwak Pati Mundur

Wiwik menunjukkan buah rambutan siap panen di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang warga Gerit, Kecamatan Cluwak Menunjukkan rambutan di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, panen buah rambutan di sejumlah daerah di Kecamatan Cluwak, Pati mundur. Hal ini disinyalir akibat dari perubahan cuaca yang ekstrem.

“Musim kemarau tahun ini lebih lama dari tahun sebelumnya. Perubahan cuaca ini mungkin diikuti dengan perubahan musim panen buah rambutan di daerah kami,” ujar Wiwik Supriyanto, warga Desa Gerit, Cluwak kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/12/2015).

Hal itu cukup disayangkan, karena bulan-bulan ini biasanya warga Kecamatan Cluwak sudah panen raya rambutan. “Awal Desember mestinya sudah panen raya, tapi ini agak telat,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini harga rambutan di daerahnya dihargai Rp 12 ribu per ikat. Kalau panen raya, kata dia, harga bisa anjlok di angka Rp 6 ribu per ikat.

“Waktu rambutan masih jarang berbuah, harganya bisa mencapai Rp 20 ribu per ikat. Meski kalau panen raya harga anjlok, tetapi kuantitas buah rambutan yang banyak bisa diakumulasi sehinga pendapatan juga banyak,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Mengintip ‘Surga Rambutan’ di Cluwak Pati

Wiwik menunjukkan buah rambutan siap panen di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Wiwik menunjukkan buah rambutan siap panen di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Rambutan tumbuh subur di wilayah lereng pegunungan. Selain di Gembong, salah satu daerah penghasil rambutan terbesar di Pati adalah Kecamatan Cluwak.

Di sana, setiap rumah sudah bisa dipastikan memiliki pohon rambutan. Beragam jenis rambutan bisa ditemukan di sana, mulai dari jenis binjai hingga rafia.

Wiwik Supriyanto, warga Desa Gerit, Kecamatan Cluwak kepada MuriaNewsCom mengatakan, rambutan yang mereka panen biasanya dijual ke tengkulak yang nantinya dijual lagi hingga luar kota seperti Kudus, Jepara, sampai Semarang.

“Saking banyaknya rambutan, kita tidak kuat kalau harus makan sendirian. Beberapa pohon biasanya dibeli sama tengkulak untuk memenuhi pasar buah di wilayah Pati Kota hingga luar daerah,” tuturnya.

Ia mengatakan, Kecamatan Cluwak memang selama ini dikenal dengan daerah penghasil durian dan rambutan paling banyak di Kabupaten Pati. Banyak kebun yang dimanfaatkan untuk menanam rambutan.

“Daerah Cluwak punya struktur tanah yang subur, mirip dengan Gembong. Ini masih berada di lereng Pegunungan Muria. Kalau pengen manisnya rambutan dengan memetik langsung dari pohon, datang saja ke Cluwak,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Rambutan Jepara Serbu Pasar Grobogan

 Salah seorang warga sedang memilih rambutan yang baru datang dari Jepara (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah seorang warga sedang memilih rambutan yang baru datang dari Jepara (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Buat para penggemar rambutan, saat ini tidak perlu bingung untuk mencari buah kesukaan itu. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir, keberadaan rambutan mulai mudah dicari di Grobogan.

Hal ini terjadi, menyusul mulai maraknya juragan rambutan dari Jepara yang mengirimkan barang dagangannya kepada pedagang lokal di Grobogan. Salah satu titik bongkar rambutan dari Jepara ini berada di Jalan A Yani, sebelah timur pasar induk Purwodadi. Rambutan dari Kota Ukir itu biasanya datang pada dinihari.

“Saya sudah satu minggu kirim rambutan ke Purwodadi. Tiap kesini, sedikitnya saya bawa rambutan satu ton,” kata Ripto, salah satu juragan rambutan dari Ngabul, Jepara.

Menurutnya, setiap datang, rambutan yang dibawa selalu ludes terjual. Hal ini terjadi karena stok rambutan saat ini memang tidak sebanyak tahun-tahun lalu.

Kondisi ini disebabkan banyak pohon yang bunganya rontok akibat musim panas bulan lalu dan disusul banyaknya hujan dalam satu bulan ini. Selain itu, daerah sentra rambutan lainnya di Jawa Tengah juga belum masuk panen raya. Hal ini menjadikan buah rambutan jadi rebutan para pedagang lokal.

Sementara itu, dari pantauan di beberapa penjual buah yang ada di Purwodadi, harga jual eceran rambutan itu bervariasi. Mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per kilo. Tergantung dari jenis dan kualitas rambutan yang ada. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)