Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)