Musthofa: Ada Siswa Tak Mampu di Kudus, Hubungi Saya

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten Kudus kembali menujukkan perhatiannya bagi siswa-siswi kurang mampu. Hal itu ditunjukkan dengan penganggaran APBD yang diperuntukan bagi mereka yang tak mampu melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau SMK.

“Kalau ada yang kurang (mampu) tolong hubungi saya, jangan sampai ada anak putus sekolah,” ucap Bupati Kudus Musthofa, Rabu (17/1/2018).

Di sektor pendidikan (tingkat SMA/SMK) pihaknya sebenarnya sudah mengalokasikan dana yang cukup besar mencapai Rp 28 miliar, untuk bantuan siswa-siswi pada jenjang tersebut. Namun, mengingat kewenangan SMA/SMK yang kini diambil alih oleh Provinsi Jateng, dirinya tak bisa berbuat banyak.

“Uang tersebut kami kembalikan, karena tak ada izinnya (untuk bantu siswa SMA/SMK). Namun hal itu kami rubah menjadi bantuan sosial, yang berbasis by name, by address itu yang paling penting,” tambahnya.

Bupati menyebut, program pendidikan di Kudus mewajibkan setiap anak mendapatkan pendidikan hingga 12 tahun. Selain itu, pemkab juga menanggun pembiayaan sekolah. Namun hal itu terhenti mengingat kewenangan pengelolaan SMA/SMK kini berada di Pemprov Jateng.

Sudjatmiko, Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kudus mengatakan, program yang digulirkan pemkab tidak bertentangan dengan program pemerintah pusat.

“Hal itu karena, mereka yang telah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat yakni Kartu Indonesia Pintar (KIP) tidak mendapatkan beasiswa lagi dari kami pemerintah kabupaten Kudus,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Begini Nasib Terkini Bocah Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu di Grobogan

Kepala Dinas Sosial Grobogan Andung Sutiyoso (tiga dari kanan) saat menyerahkan bantuan alat bantu jalan pada Siti Arwah, warga Karanggeneng, Kecamatan Grobogan yang menderita kelumpuhan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Berita adanya seorang lulusan SD di Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong bernama Serli Artia Dewi (12) yang memilih tidak sekolah karena harus merawat ibunya mendapat respon dari beberapa pihak. Salah satunya datang dari Pemkab Grobogan melalui Dinas Sosial.

Beberapa hari setelah pemberitaan, mereka menyambangi keluarga Sherli untuk melihat keadaannya. Saat bertandang, mereka pun membawakan sejumlah bahan makanan serta alat bantu jalan buat Siti Arwah, ibunda Serli yang sebelumnya sempat mengalami kelumpuhan.

”Pemberitaan soal Serli yang tidak mau sekolah SMP karena harus merawat ibunya sudah kita tindaklanjuti. Beberapa hari lalu, kita kasih bantuan alat bantu jalan,” kata Kepala Dinas Sosial Grobogan Andung Sutiyoso, Senin (30/10/2017).

Bantuan alat bantu jalan atau kruk diberikan atas permintaan Siti Arwah. Alat bantu diperlukan supaya Siti bisa latihan berjalan dengan nyaman. Apalagi saat ini kondisinya sudah berangsur membaik.

”Saat ini, kondisi penyakitnya sudah mulai membaik dan bisa jalan meski belum normal seperti semula. Keluarga ini juga sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat sehingga memudahkan dalam berobat,” katanya.

Baca: Bikin Haru, Bocah 12 Tahun Asal Karanggeneng Grobogan Ini Rela Putus Sekolah Demi Merawat Ibunya

Tekait kondisi Serli, Andung menyatakan, anak itu masih bisa meneruskan sekolah SMP tahun depan. Untuk memperingan biaya sekolah, Serli akan mendapat bantuan dari pemerintah. Ini lantaran, orang tuanya sudah termasuk dalam data penerima progam keluarga harapan (PKH) dari kementerian Sosial.

Progam nasional tersebut mulai diluncurkan tahun 2014. Wujudnya, berupa pemberian bantuan tunai langsung bersyarat untuk keluarga sangat miskin (KSM). Di Grobogan, jumlah penerima PKH sekitar 25.315 KSM.

”PKH ini tujuannya untuk membantu menghindari kemiskinan dan memastikan generasi berikutnya dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Besarnya dana yang diterima KSM bervariasi tergantung pada jumlah atau komponen keluarganya,” ungkap Andung.

Seperti diberitakan sebelumnya, cita-cita Serli untuk melanjutkan pendidikan SMP terpaksa harus tertunda meski sebelumnya sudah sempat diterima di salah satu SMP.

Namun, Serli akhirnya memilih untuk tidak sekolah karena harus merawat ibunya Siti Arwah (33) yang menderita sakit. Sejak tujuh bulan terakhir, Siti mengalami gangguan syaraf hingga sempat mengalami kelumpuhan.

Kondisi inilah yang membuat Serli memilih untuk merawat ibunya dan meninggalkan keinginannya untuk sekolah. Hal itu dilakukan karena hampir setiap hari, ayahnya Fuad Arifin (36) harus bekerja sebagai buruh tani di daerah Karangawen, Demak. Sedangkan adiknya, Selvi Nova Aryani saat ini baru berumur 4 tahun.

”Saya sebenarnya pengen sekolah. Tapi kalau sekolah, siapa yang merawat ibu dan adik,” ujar Serli saat ditemui di rumahnya, beberapa hari lalu.

Sang ibu sebenarnya sudah menyuruh Serli untuk tetap sekolah. Namun, anaknya tidak mau karena merasa kasihan dengan keadaannya yang membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas sehari-hari.

Editor: Supriyadi

Bikin Haru, Bocah 12 Tahun Asal Karanggeneng Grobogan Ini Rela Putus Sekolah Demi Merawat Ibunya

Warga Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong Serli Artia Dewi (kiri) saat membasuh keringat sang ibu yang menderita kelumpuhan, Selasa (24/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Cita-cita Serli Artia Dewi (12) untuk melanjutkan pendidikan SMP terpaksa harus tertunda. Tahun ajaran ini, warga Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong itu harusnya sudah bersekolah bersama teman sebanyaknya karena sudah sempat diterima di salah satu SMP.

Namun, Serli akhirnya memilih untuk tidak sekolah karena harus merawat ibunya Siti Arwah (33) yang menderita sakit. Sejak tujuh bulan terakhir, Siti mengalami gangguan syaraf hingga sempat mengalami kelumpuhan.

Kondisi inilah yang membuat Serli memilih untuk merawat ibunya dan meninggalkan keinginannya untuk sekolah. Hal itu dilakukan karena hampir setiap hari, ayahnya Fuad Arifin (36) harus bekerja sebagai buruh tani di daerah Karangawen, Demak. Sedangkan adiknya, Selvi Nova Aryani saat ini baru berumur 4 tahun.

”Saya sebenarnya pengen sekolah. Tapi kalau sekolah, siapa yang merawat ibu dan adik,” ujar Serli dengan mata berkaca-kaca.

Baca: Pasangan Sejoli di Jepara Ini Nekat Mesum di Masjid, Diguyur Air Langsung Diarak ke Balai Desa

Sebelumnya, Serli sempat menamatkan pendidikan dasar di SDN 01 Karanggeneng. Saat lulus, Serli mampu meraih peringkat ketiga.

Sang ibu sebenarnya sudah menyuruh Serli untuk tetap sekolah. Namun, anaknya tidak mau karena merasa kasihan dengan keadaannya yang membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas sehari-hari.

Siti menyatakan, penyakit yang dideritanya itu datang tiba-tiba. Saat bangun pagi, tangan dan kaki kananya mendadak tiak mampu digerakan. Bahkan, dia juga sulit membuka mulut untuk mengucapkan kata-kata.

Setelah istirahat total beberapa hari, kondisinya berangsur normal kembali. Begitu sudah sehat, Siti tidak pernah lagi memikirkan penyakit yang sempat menyerangnya.

Baca: Pasangan yang Digerebek Ternyata Sudah 5 Kali Mesum di Masjid

Beberapa minggu kemudian, penyakit itu mendadak kambuh lagi. Tepatnya, saat Siti mengantarkan Serli mendaftarkan sekolah di salah satu SMP di Kecamatan Godong.

”Saat daftar sekolah, kamuh lagi. Saya kemudian diantarkan ke rumah sakit oleh pihak desa,” kata Siti.

Sejauh ini, Siti tiga kali berobat di RSUD Raden Soedjati Purwodadi. Dalam pengobatan ini, Siti merasa tidak begitu terbebani biaya karena sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat. 

”Setelah berobat, sekarang saya sudah bisa bicara. Kemudian, kaki dan tangan juga mulai bisa digerakan sedikit. Tapi untuk berjalan, saya harus dibantu suami, Serli atau tetangga. Tiap hari, Serli yang lebih banyak  membantu mengurus kebutuhan saya maupun adiknya,” kata Siti.

Editor: Supriyadi

Rp 2,5 Miliar Bakal Dianggarkan untuk Tekan Angka Putus Sekolah di Rembang

Sosialisasi program Yes I Do di Hotel Fave Rembang pada Rabu (22/3/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui program Yes I Do bakal menganggarkan dana sekitar Rp 2,5 miliar untuk pengentasan angka putus sekolah. Dalam hal ini pemkab menggandeng Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) dan Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dari Bandung.

Wakil Bupati Rembang Bayu Andrianto mengatakan, program itu akan disinkronkan dengan program pemerintah sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rembang. Dalam penyaluran anggaran, diharapkan bisa tepat guna dan benar-benar bermanfaat bagi warga.

“Dalam pelaksanaan program Yes I Do ini, kita harus mendapatkan data yang valid. Sebelumnya kita cari tahu terlebih dahulu penyebab tingginya angka putus sekolah di Rembang, kemudian kita lakukan pendampingan, hingga akhirnya kita bisa meminimalisasi angka putus sekolah ini,” ungkapnya saat sosialisasi program Yes I Do di Hotel Fave Rembang pada Rabu (22/3/2017).

Menurutnya, dalam penerapan program tersebut, akan terlebih dahulu dilakukan uji coba di empat desa di Kabupaten Rembang. Di antaranya Desa Menoro dan Mojosari, Kecamatan Sedan, serta Desa Woro dan Sendangmulyo, Kecamatan Kragan.

“Nantinya keempat desa ini yang akan menjadi project penelitian latar belakang terjadinya putus sekolah. Kemudian pendampingan secara intensif akan terus digencarkan untuk kemudian di wilayah ini bisa menjadi project percontohan bagi desa-desa lainnya,” imbuhnya.

Diharapkan melalui program tersebut persentase siswa putus sekolah di Rembang yang saat ini mencapai 19,5 persen  bisa ditekan minimal mengimbangi angka yang dipatok oleh Pemerintah Provinsi sebesar 13,5 persen.

Editor : Kholistiono

3.000 Siswa SMP di Jepara Putus Sekolah

putus sekolah murianews

 

MuriaNewsCom, Jepara – Angka putus sekolah yang ada di Kabupaten Jepara tergolong tinggi. Sekitar tiga ribu siswa tingkat SMP putus sekolah setiap tahun. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, dan yang paling mendominasi adalah ekonomi.

Hal itu seperti yang disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh. Menurutnya, ribuan siswa SMP memilih tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi.

“Sebagian besar siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan sekolah lantaran memilih bekerja dan menikah. Mereka bekerja baik membantu orang tua maupun bekerja sendiri,” ujar Ali kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, berdasarkan data yang masuk di Disdikpora, setiap tahun jumlah siswa lulusan SMP yang tak melanjutkan pendidikan bertambah. Tahun 2014 jumlah siswa lulusan SMP tak melanjutkan sekolah sekira 3.200 lebih. Tahun 2015 meningkat menjadi lebih dari 3.600 anak.

“Ada kecenderungan meningkat pada beberapa tahun terakhir ini. Kalau tahun ini angkanya berapa belum tahu, karena baru sebagain sekolah yang memasukan data siswa ke dinas,” terangnya.

Ia juga mengemukakan, berbeda dengan kondisi siswa tingkat SMP. Siswa di tingkat SD masih banyak yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, setingkat SMP. Meski begitu, belum 100 persen semua lulusan SD melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tingkat persentase lulusan SD yang melanjutkan sekolah ke jenjang sederajat SMP mencapai 98 persen. Ya lumayan, hanya segelintir saja yang tidak melanjutkan sekolah,” katanya.

Editor : Akrom Hazami