4 Rumah Warga Kaliwenang Grobogan Rusak Diterjang Puting Beliung

MuriaNewsCom, GroboganBencana angin puting beliung melanda Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggungharjo, Senin (19/3/2018). Dalam peristiwa ini, sedikitnya ada lima rumah warga mengalami kerusakan cukup parah akibat tertimpa pohon tumbang akibat terjangan angin.

Camat Tanggungharjo Joko Mulyono menyatakan, musibah angin lisus berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB. Angin lisus ini menerjang perkampungan bersamaan dengan turunnya hujan deras diwilayah tersebut sejak pukul 13.00 WIB.

Dijelaskan, rumah yang rusak masing-masing milik Joko Pramono (65), Harjoko (45), Mbah Karsini (80), dan Hartono (50). Keempat rumah ini rusak sebagian karena tertimpa pohon.

Selain rumah rusak tertimpa pohon, ada sekitar puluhan rumah warga lainnya mengalami kerusakan ringan. Dampak angin menyebabkan genting rumah warga tersebut kocar-kacir dan berjatuhan ke tanah.

“Laporan sementara ada empat rumah rusak sedang dan puluhan rumah rusak ringan pada bagian genting atau atap,” katanya.

Joko menyatakan, dampak pohon tumbang akibat terjangan angin juga sempat menghalangi jalan raya. Kemudian, pohon tumbang juga menimpa kabel listrik dan telpon. Pihaknya bersama instansi lainnya masih melakukan pendataan.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini. Untuk tafsir kerugian material belum bisa kita sampaikan karena masih didata dulu,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Rumah di Kalangbancar Grobogan Rusak Diterjang Lisus

MuriaNewsCom, GroboganBencana angin puting beliung melanda Desa Kalangbancar, Kecamatan Geyer, Minggu (18/3/2018). Dalam peristiwa ini, sedikitnya ada tujuh rumah warga mengalami kerusakan cukup parah atau kategori sedang akibat terjangan angin yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB. Angin lisus ini menerjang perkampungan bersamaan dengan turunnya hujan deras diwilayah tersebut sejak pukul 15.00 WIB.

Camat Geyer Aries Ponco Wibowo menyatakan, rumah rusak sedang masing-masing milik Pujiati (65), Sastro (70), Sarmin (60), Karsidi (45) yang ada di Dusun Kalang RT 3, RW 1. Kemudian, dua rumah lainnya milik Margo (48) dan Suparti (48) di Dusun Mincil RT 3, RW 2.

Selain rusak sedang, ada sekitar 220 rumah warga lainnya mengalami kerusakan ringan. Dampak angin menyebabkan genting rumah warga tersebut kocar-kacir dan berjatuhan ke tanah.

”Laporan sementara ada tujuh rumah rusak sedang dan sekitar 220 rumah rusak ringan pada bagian genting atau atap,” katanya.

Aries menyatakan, pihaknya bersama instansi lainnya masih melakukan pendataan. Namun, pendataan dilapangan masih terkendala dengan padamnya aliran listrik.

”Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini. Untuk tafsir kerugian material belum bisa kita sampaikan karena masih didata dulu,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Pabrik Tahu di Genengadal Grobogan Roboh Diterjang Angin, 3 Pekerja Terluka 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah pabrik tahu di Dusun Geneng,  Desa Genengadal,  Kecamatan Toroh roboh, Senin (26/2/2018). Bangunan pabrik roboh akibat terjangan angin sekitar pukul 15.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, robohnya bangunan bersamaan dengan turunnya hujan deras di wilayah tersebut sejak pukul 13.00 wib.  Tidak lama berselang, hujan deras diiringi hembusan angin kencang.

Posisi pabrik tahu kebetulan berada cukup jauh dari perkampungan. Angin kencang yang berhembus hanya menimpa pabrik tahu tersebut dan tidak sampai menerjang pemukiman.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Meski demikian, ada tiga pekerja yang dilaporkan mengalami luka akibat tertimpa kayu.

Kades Genengadal Pamuji menyatakan, rumah yang roboh milik Suparjo yang memang dipakai untuk usaha pembuatN tahu. Saat kejadian, masih ada beberapa orang yang sedang bekerja membuat tahu.

“Tiga pekerja yang sempat tertimpa reruntuhan bangunan hanya mengalami luka ringan. Untuk nilai kerugian masih didata,” katanya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Bandengan Jepara‎ Rusak Dihajar Puting Beliung

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya 20 rumah di Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota rusak parah diterjang puting beliung, Senin (22/1/2018) pagi. Selain itu, puluhan pohon roboh dan tiang telepon juga melengkung akibat kuatnya terjangan angin.

Komandan Koramil Jepara Kota Kapten Suwardjo mengatakan, dari data sementara ada sekitar 20 rumah yang atapnya rusak. Selain itu gudang meubel juga ada yang terimbas.

“Atap rumah warga yang rusak terdapat di RT 5,7,9 dan 10, selain itu di RW 2 dan 3 juga terdapat kerusakan,” jelasnya.

Saat ini, akses masuk ke pantai bandengan dan ke permukiman telah kembali normal. Petugas dari SAR, Koramil, Polri, BPBD Jepara, komunitas relawan  warga tengah bergotong royong melakukan pembersihan serta perbaikan. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa akibat puting beliung.

Hanya saja, untuk akses listrik pada rumah-rumah warga masih terputus karena banyak kabel PLN yang putus.

Baca:  Puting Beliung Porak-porandakan Desa Bandengan ‎Jepara

Sementara itu, Sumarni (53) warga Desa Bandengan, RT 9 RW 3 mengatakan, angin mulai menerjang sekitar pukul 05.00 WIB pagi.

“Habis subuh tadi kejadiannya, saya habis salat kok ada angin bercampur hujan, suaranya seperti motor lewat whur..whur..kemudian genteng di atap berjatuhan,” ujarnya.

Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, kecuali berteriak-teriak meminta pertolongan. Sementara anak-anak dan keluarganya berlarian keluar rumah.

“Saya hanya bisa berteriak ketakutan, mau keluar rumah takut kalau kena pohon tumbang,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

 

Puting Beliung Porak-porandakan Desa Bandengan ‎Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Angin puting beliung memporak-porandakan Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota, Senin (22/1/2018) pagi. Sedikitnya 20 rumah rusak dan puluhan pohon tumbang. Selain itu, tiang telepon juga melengkung akibat terjangan angin.

Sumarni (53) warga Desa Bandengan, RT 9 RW 3 mengatakan, angin mulai menerjang sekitar pukul 05.00 WIB pagi. “Habis subuh tadi kejadiannya, saya habis salat kok ada angin bercampur hujan, suaranya seperti motor lewat whur..whur..kemudian genteng di atap berjatuhan,” ujarnya.

Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, kecuali berteriak-teriak meminta pertolongan. Sementara anak-anak dan keluarganya berlarian keluar rumah.

“Saya hanya bisa berteriak ketakutan, mau keluar rumah takut kalau kena pohon tumbang,” tuturnya.

Saat kejadian, puluhan pohon tumbang juga menghalangi akses masuk ke wisata pantai Bandengan.

Komandan Koramil Jepara Kota Kapten Suwardjo mengatakan, dari data sementara ada sekitar 20 rumah yang atapnya rusak. Selain itu gudang meubel juga ada yang terimbas.

“Atap rumah warga yang rusak terdapat di RT 5,7,9 dan 10, selain itu di RW 2 dan 3 juga terdapat kerusakan,” jelasnya.

Saat ini, akses masuk ke pantai bandengan dan ke permukiman telah kembali normal. Petugas dari SAR, Koramil, Polri, BPBD Jepara, komunitas relawan  warga tengah bergotong royong melakukan pembersihan serta perbaikan. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa akibat puting beliung.

Namun demikian, untuk akses listrik pada rumah-rumah warga masih terputus karena banyak kabel PLN yang putus.

Editor: Supriyadi

Pancaroba, Warga Jepara Diminta Waspada Angin Kencang

Petugas BPBD melakukan penebangan pohon durian yang akibat terjangan angin puting beliung di Desa Batealit, Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat diminta waspada akan bahaya angin kencang, memasuki musim pancaroba. Berdasarkan peta kerawanan bencana angin BPBD Jepara, kawasan pesisir bagian barat rentan diterpa angin. 

“Berdasarkan pengalaman kami, wilayah yang rentan terdampak bencana angin kencang berada di Desa Kancilan Kecamatan Kembang, Kemudian sekitar Batealit, Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, kawasan kota Jepara dan Welahan,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara, Senin (13/11/2017). 

Belajar dari kasus angin kencang di Banjarnegara, yang merenggut korban jiwa, Pujo meminta warga Jepara untuk meningkatkan kewaspadaan ketika cuaca panas sepanjang hari, kemudian mendung hitam datang. 

Dirinya mengimbau agar warga tidak berteduh dibawah pohon atau memarkirkan kendaraanya dibawah pohon. “Kami sudah melakukan sosialisasi tentang ciri-ciri akan adanya angin kencang bertiup, meskipun tidak selalu terjadi, alangkah baiknya ketika warga berwaspada. Cirinya adalah ketika ada mendung hitam yang menggelantung kemungkinan akan disertai angin besar,” urainya. 

Ia mengatakan, sudah melakukan persiapan memasuki musim pancaroba ini. Untuk menghindari musibah pohon roboh, BPBD Jepara telah melakukan kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup, untuk melakukan rabas-rabas pohon ataupun pemotongan bilamana dirasa pohon kondisinya dianggap memrihatinkan.

Catatan MuriaNewsCom, pada awal bulan November 2017 peristiwa angin kencang sempat terjadi di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, pada hari Sabtu (4/11/2017). 

Saat itu, angin menerjang atap sebuah warung rames milik Ngatemi, warga RT 12/RW 5 desa setempat. Diketahui kondisi cuaca saat itu panas terik sampai pukul 11.00. Setelahnya, pada pukul 11.30 WIB mendung datang, kemudian disusul angin kencang dan setelahnya hujan deras.  

Editor: Supriyadi

2 Desa di Grobogan Diterjang Puting Beliung, 4 Rumah Roboh

Seorang warga memeriksa puing-puing rumah yang roboh akibat diterjang puting beliung di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana angin puting beliung kembali melanda wilayah Grobogan, Sabtu (11/11/2017). Informasi sementara, hembusan angin kencang menerjang Desa Pangkalan, Kecamatan Karangrayung dan Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro ketika dikorfirmasi membenarkan adanya musibah tersebut. ”Iya ada musibah hari ini. Kejadian sekitar jam 16.00 WIB hingga menjelang malam saat hujan deras. Anggota sudah meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan,” katanya.

Menurut Budi, anggotanya sedang berupaya membersihkan pohon tumbang yang menutup jalan raya Truko-Gubug di wilayah Desa Ketangirejo. Pembersihan pohon tumbang dilakukan agar arus kendaraan bisa lancar.

Musibah angin lisus menyebabkan empat rumah warga roboh. Baik di Desa Pangkalan muapun Ketangirejo masing-masing ada dua rumah yang dilaporkan roboh. Kemudian, jumlah rumah rusak mencapai puluhan.

”Pendataan belum lengkap soalnya listrik di kedua desa yang kena musibah dipadamkan. Soalnya, banyak kabel yang putus kena pohon tumbang,” jelas Budi.

Dalam musibah itu sempat dilaporkan adanya satu korban luka. Yakni, warga Desa Pangkalan yang mengalami patah kaki tertimpa reruntuhan rumah.

Editor: Supriyadi

Akses Antardesa di Bandungharjo Grobogan Akhirnya Bisa Dilalui Kendaraan

Petugas BPBD dan relawan membantu membersihkan pohon yang berada di jalan utama Bandungharjo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSetelah sempat tertutup sehari semalam, akses jalan penghubung antar desa di Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan akhirnya bisa dibuka kembali dan dilalui kendaraan.

Sebelumnya, akses dari Desa Bandungharjo dan Desa Genengsari sempat putus karena ruas jalan dipenuhi ratusan pohon tumbang akibat terjangan puting beliung pada Kamis (9/11/2017) malam.

”Pagi tadi, jalan antardesa itu sudah bisa dilewati kendaraan. Pohon tumbang yang melintang jalan sudah ditangani banyak pihak,” kata Kades Bandungharjo Suwadi, Sabtu (11/11/2017).

Penanganan pohon tumbang masih bersifat darurat. Batang pohon yang melintang jalan untuk sementara hanya dipinggirkan dulu agar tidak menutup akses transportasi. Adanya ratusan pohon tumbang berukuran besar membuat proses penanganan butuh waktu serta banyak tenaga yang terlibat.

”Untuk pohon yang kecil bisa dipotong pendek-pendek dan dibawa pemiliknya. Kalau yang ukurannya besar dipinggirkan dulu biar tidak menghalangi jalan. Selanjutnya, biar ditangani yang punya pohon sendiri,” jelasnya.

Hingga hari kedua pasca bencana, banyak warga yang terlihat masih memperbaiki rumahnya yang sebelumnya sempat rusak kena terjangan angin. Sebagian warga ada yang membersihkan pohon tumbang disekitar rumahnya.

Selain itu, sejumlah petugas dari PLN juga terlihat sedang memperbaiki jaringan listrik. Saat puting beliung melanda, banyak kabel listrik yang putus tertimpa pohon tumbang.

”Setelah ada kejadian, aliran listrik disini memang dimatikan karena banyak kabel putus. Sejak kemarin, rekan dari PLN sudah melakukan perbaikan. Saat ini, masih ada beberapa titik yang aliran listriknya belum menyala karena sedang diperbaiki,” jelas Suwadi. 

Editor: Supriyadi

Satu Rumah Warga Jambangan Grobogan Roboh Diterjang Puting Beliung

Seorang warga memeriksa puing-puing rumah yang roboh. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah angin lisus ternyata tidak hanya melanda Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh. Amukan angin juga menerjang sebagian perkampungan di Desa Jambangan, Kecamatan Geyer.

Kedua desa ini wilayahnya berbatasan namun sudah beda kecamatan. Desa Bandungharjo disisi utara dan diselatannya adalah wilayah Desa Jambangan.

Puting beliung yang melanda Desa Jambangan mengakibatkan satu rumah warga roboh. Pemiliknya diketahui bernama Sunar, warga yang tinggal di Dusun Kuncen.

”Rumah yang roboh hanya ada satu unit. Untuk rumah rusak sedang dan ringan ada puluhan,” jelas Camat Geyer Aries Ponco Wibowo.

Menurut Aries, dari laporan pihak desa, rumah yang roboh mengalami kerusakan total karena rata dengan tanah. Selain itu, semua barang berharga didalam rumah ikut rusak karena tertimpa reruntuhan kayu. Termasuk didalamnya ada empat unit sepeda motor.

”Untungnya, pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri sebelum rumahnya roboh. Tafsir kerugian material sekitar Rp 100 juta,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ribuan Pohon Tumbang dan Ratusan Rumah di Bandungharjo Grobogan Rusak Diterjang Puting Beliung

Petugas BPBD Brobogan bersama relawan membantu mengevakuasi rumah yang tertimpa pohon tumbang karena puting beliung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, musibah angin puting beliung yang melanda Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan ternyata sangat parah.

Data sementara, lebih dari 1.000 pohon peneduh maupun yang ditanam di pekarangan warga tumbang. Kemudian, ratusan rumah mengalami kerusakan sedang dan berat karena gentingnya kocar-kacir disapu angin.

”Jumlah pohon dan rumah yang rusak sampai saat ini masih kita data. Yang pasti untuk pohon lebih 1.000 dan rumah rusak lebih 600 unit. Untuk rumah rusak berat ada tiga unit akibat tertimpa pohon tumbang,” kata Kades Bandungharjo Suwadi, Jumat (10/11/2017).

Musibah angin puting beliung terjadi Kamis kemarin dari selepas magrib hingga malam bersamaan dengan turunnya hujan deras. Hembusan angin menerjang merata di tujuh dusun yang terdapat di Desa Bandungharjo.

Bersamaan dengan turunnya hujan, datang angin kencang yang membuat banyak pohon tumbang. Pohon tumbang jenis tanaman keras seperti jati, mangga, dan mahoni.

Selain rumah, ada dua fasilitas umum yang ikut rusak akibat terjangan angin. Yakni, kantor Balaidesa Bandungharjo dan SDN 02 Bandungharjo.

”Balaidesa dan sekolah hanya rusak dibagian atap karena gentingnya mocar-macir. Tingkat kerusakannya masih cukup ringan,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Lisus Terjang Purwodadi, Panggung Wayang di Alun-alun Ambruk

Sejumlah pekerja sedang membereskan properti yang akan digunakan untuk pagelaran wayang setelah panggung ambruk. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit yang sedianya digelar Sabtu (7/10/2017) malam di Alun-alun Purwodadi terhambat. Hal ini terjadi setelah panggung yang akan dipakai untuk pagelaran wayang kulit roboh.

Robohnya panggung terjadi ketika hujan deras mengguyur kota Purwodadi, Sabtu (7/10/2017) sore. Tidak lama setelah hujan, datang angin puting beliung di sekitar alun-alun. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ‘brakk’ cukup keras yang berasal dari panggung roboh.

“Panggung roboh sekitar jam 16.15 WIB. Tadi angin berhembus kencang sekali selama hampir 10 menit,” kata Supriyono, warga yang sempat menyaksikan robohnya panggung untuk pagelaran wayang itu.

Sebelum roboh, panggung itu sudah siap digelar untuk pagelaran, karena semua propertinya sudah tertata sejak siang.

Pagelaran wayang kulit yang digelar RRI Semarang itu akan menampilkan dalang kondang Ki Bayu Aji Pamungkas. Pagelaran wayang dilangsungkan dalam rangka menyemarakkan HUT ke-72 TNI dan sosialisasi empat pilar kebangsaan oleh anggota DPR RI.

Meski ada insiden panggung roboh, namun pagelaran wayang tetap dimainkan. Namun, lokasinya diubah ke pendapa kabupaten.

“Pagelaran wayang kulit tetap jalan. Lokasinya dipindahkan ke pendapa. Yang punya gawe dari RRI,” jelas Kabag Humas Pemkab Grobogan Ayong Muchtarom.

Selain panggung wayang, ada beberapa tenda kecil di sebelah baratnya yang ikut roboh. Tenda ini rencananya akan digunakan untuk even jalan sehat Minggu pagi besok. Beruntung, saat tenda roboh tidak ada orang yang tertimpa reruntuhan.

Editor : Ali Muntoha

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Bangunan Kompleks Situs Sunan Prawoto Pati Rusak Akibat Puting Beliung

Kerusakan pada bangunan kompleks Makam Sunan Prawoto, Desa Prawoto, Sukolilo, Pati yang terkena bencana angin puting beliung, Senin (13/3/2017) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Makam Sunan Prawoto yang menjadi situs cagar budaya warga Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati mengalami kerusakan yang cukup parah akibat dihantam angin puting beliung, Senin (14/3/2017) sore.

Sejumlah titik bangunan yang terbuat dari kayu porak-poranda dan pagar tembok yang mengelilingi kawasan makam mengalami kerusakan. Sebagian atap rusak, karena tertimpa ranting pohon yang patah akibat angin puting beliung.

Danramil Sukolilo Lettu Inf Kusmiyanto mengatakan, tercatat ada 18 rumah dan bangunan yang mengalami kerusakan akibat bencana angin puting beliung. Salah satu yang mengalami kerusakan paling berat adalah rumah Madkan, warga RT 3 RW 4 yang tertimpa pohon dan Makam Sunan Prawoto yang tertimpa ranting pohon dan genteng berjatuhan.

“Situs makam kerabat Mbah Tabek juga terkena bencana. Tapi, kerusakannya ringan, beberapa atap dan genteng mengalami rontok,” kata Lettu Inf Kusmiyanto.

Pascabencana, pihaknya mengerahkan tujuh anggota TNI AD untuk melaksanakan penanganan darurat dengan memotong pohon yang bertumbangan, serta membersihkan rumah. Dalam kegiatan evakuasi, pihaknya bersama anggota Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, anggota Polsek Sukolilo, relawan Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI), petugas PLN, dan puluhan warga setempat.

Seperti diketahui, Makam Sunan Prawoto adalah situs peninggalan cagar budaya yang menjadi bagian dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Makam ini selalu diperingati dengan kirab budaya setiap tahunnya.

Karena itu, masyarakat dan petugas berbondong-bondong membenahi sejumlah kerusakan bangunan di kawasan makam penguasa terakhir Kerajaan Demak tersebut. Mereka berharap, bencana angin puting beliung tidak melanda desanya lagi.

Editor : Kholistiono

Angin Puting Beliung Terjang Puluhan Rumah di Bringinwareng dan Gempolsari Pati

Seorang anggota TNI dan relawan tengah melakukan pendataan rumah roboh karena diterjang angin puting beliung di Desa Bringinwareng, Kecamatan Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang anggota TNI dan relawan tengah melakukan pendataan rumah roboh karena diterjang angin puting beliung di Desa Bringinwareng, Kecamatan Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Angin puting beliung menerjang sedikitnya 59 rumah di Desa Bringinwareng, Kecamatan Winong, Pati, Senin (9/1/2017) sekitar pukul 17.00 WIB. Akibat bencana tersebut, beberapa rumah mengalami kerusakan dan pohon bertumbangan.

Dari informasi yang dihimpun, rumah yang rusak tersebar di lima rukun tetangga (RT). Empat unit rumah rusak di RT 1 dan RT 4, 22 rumah di RT 2, delapan rumah di RT 3, dan 21 rumah di RT 5.

Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut, tetapi kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Satu rumah semipermanen mengalami roboh dan puluhan rumah lainnya mengalami runtuh pada bagian atap.

Danramil Winong Kapten Kav Sugeng mengatakan, angin puting beliung terjadi saat terjadi hujan lebat sekitar pukul 13.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tiba-tiba saja, muncul angin kencang yang berputar dari arah timur ke barat.

“Angin yang berputar, berjalan dari arah timur ke barat menghantam rumah-rumah warga yang berderet. Akibatnya, atap rumah banyak yang runtuh dan genteng beterbangan,” ujar Kapten Kav Sugeng.

Pada saat yang hampir bersamaan, angin puting beliung juga menerjang puluhan rumah di Desa Gempolsari, Kecamatan Gabus. Sedikitnya 27 rumah mengalami rusak ringan akibat angin puting beliung di desa tersebut.

Polisi, TNI, relawan dan warga langsung melakukan evakuasi sejak sore hingga malam. Mereka bersama-sama mengevakuasi puing-puing reruntuhan atap dan genteng yang berjatuhan, serta beberapa pohon yang bertumbangan. Sementara itu, rumah warga yang mengalami rusak berat dibantu untuk diperbaiki, Selasa (10/1/2017).

Editor : Kholistiono

Kisah Syaifuddin, Korban Luka Terhantam Seng saat Puting Beliung Menerjang

Kondisi puing-puing genteng yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi puing-puing genteng yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sore itu, Jumat (18/3/2016) sekitar pukul 14.30 WIB, tidak ada yang mengira bila angin puting beliung lewat dan menghantam puluhan rumah di Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen, Pati.

Warga setempat beraktivitas seperti biasanya. Ada yang berada di rumah, juga ada yang beraktivitas di luar rumah. Dari informasi yang dihimpun, angin puting beliung datang dari arah selatan atau daerah Wuwur menuju ke utara menuju Desa Sundoluhur dan Karaban. “Durasi angin puting beliung sekitar 2 sampai 3 menit, datang dari arah selatan ke utara, lalu berbalik lagi ke selatan lalu menghilang,” tutur Ketua RAPI Pati Gunawan saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Sabtu (19/3/2016).

Saat angin puting beliung berlangsung, seorang warga Desa Sundoluhur bernama Mohammad Syaifuddin (15) sedang menjemur padi di halaman selepan, dekat Balai Desa Sundoluhur. “Tiba-tiba ada seng yang melayang terbawa angin dan mengarah kepada saya. Kejadian begitu cepat sehingga mengenai punggung bagian kanan,” ungkapnya.

Akibat insiden tersebut, Syaifuddin harus dirawat intensif dan mendapatkan 15 jahitan di bagian punggung bagian kanan. Ia masih bersyukur, karena masih diberi selamat. Sebab, angin puting beliung yang berputar-putar sempat memporak-porandakan genting dan bagian atap rumah hingga berjatuhan. Kerugian total akibat bencana itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : 2 Desa di Pati Diterjang Angin Ribut, 82 Rumah Rusak Ringan dan 15 Rumah Rusak Berat

Puluhan Polisi, TNI dan Relawan Evakuasi Rumah yang Kena Puting Beliung

Kondisi salah satu rumah warga yang miring hampir roboh pascaditerjang angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi salah satu rumah warga yang miring hampir roboh pascaditerjang angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan polisi, TNI dan relawan dari berbagai organisasi dikerahkan untuk melakukan evakuasi terhadap puluhan rumah di Desa Karaban, Kecamatan Gabus dan Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen yang terkena angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016).

Di Desa Karaban, polisi yang dipimpin Kapolsek Gabus AKP Sudarsono mengerahkan 20 personel dibantu dengan pasukan satu peleton dari Dalmas. Di Desa Sundoluhur, polisi yang dipimpin Kapolsek Kayen AKP Sutoto menerjunkan 25 personel dibantu satu peleton dalmas dan 35 personel dari staf Polres Pati.

“Jumlah personel yang kita terjunkan di Kayen memang lebih banyak, karena kerugian material yang diderita pemilik rumah lebih besar di Desa Sundoluhur,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, jumlah TNI yang diterjunkan ke lapangan sekitar 50 personel yang terdiri dari prajurit dari Kodim dan Koramil setempat. “Kelima puluhpersonel itu akan membantu melakukan evakuasi puing-puing, termasuk genting yang berjatuhan di dua desa,” kata Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma.

Tak hanya itu, puluhan relawan dari organisasi juga ikut membantu. Mereka saling bahu membahu memperbaiki genting yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung.

“Rumah semi permanen yang sudah miring dan parah, kita bantu untuk dirobohkan karena akan berbahaya,” tukas Ketua RAPI Pati Gunawan.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Warga Sundoluhur dan Karaban Pati yang Terkena Puting Beliung Diungsikan
Puting Beliung Hajar 38 Rumah di Desa Karaban Pati
2 Desa di Pati Diterjang Angin Ribut, 82 Rumah Rusak Ringan dan 15 Rumah Rusak Berat

Desa Trikoyo Pati Disebut Sebagai Daerah Pusaran Angin

puting beliung

Seorang perangkat desa setempat tengah meninjau rumah di Desa Trikoyo yang ambruk dihantam puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Koordinator Tim SAR BPBD Pati Sutiknya menyebut Desa Trikoyo, Kecamatan Jaken, Pati menjadi bagian dari daerah pusaran angin. Pasalnya, angin puting beliung sudah beberapa kali terjadi di sana.

”Desa Trikoyo sepertinya menjadi wilayah pusaran angin. Sebetulnya, rumah warga yang ambruk dihantam puting beliung tidak hanya terjadi sekali saja, tetapi sudah pernah terjadi beberapa kali,” ujar Sutiknya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Senin (30/11/2015).

Karena itu, ia meminta kepada warga Desa Trikoyo dan sekitarnya untuk waspada jika diketahui cuaca sedang ekstrem. ”Angin puting beliung biasanya terjadi pada siang hingga sore. Warga memang perlu waspada dan menyiapkan langkah antisipasi,” imbuhnya.

Hal itu diamini Kepala Desa Trikoyo Tarmijan. Ia juga menyebut, desanya merupakan daerah rawan terkena angin ribut seperti puting beliung.

”Kejadian serupa pernah terjadi pada Maret 2015 lalu. Waktu itu, hanya angin puting beliung saja tidak disertai hujan. Kalau kemarin sore, disertai hujan lebat dan angin hebat,” kata Tarmijan.

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah daerah untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman tentang antisipasi angin puting beliung. ”Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)