Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami

 

Areal Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan Diperlebar, Ini Tujuannya

Sejumlah pekerja sedang melakukan penggalian untuk memperlebar lokasi fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)bnaj

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dilanjutkan dengan memperlebar areal penemuan, Jumat (14/7/2017). Semula luas areal penemuan yang digali berukuran 4 meter x 5 meter saja. Rencananya, akan dilebarkan hingga ukuran 10 x 10 meter.

“Hari ini, kita kerahkan beberapa orang untuk memperlebar areal penemuan fosil stegodon. Dalam kegiatan ini, kita juga didampingi tim ahli purbakala yang sudah berada di Banjarejo sejak dua hari lalu,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi serta fosil yang sudah terlihat. “Tim ahli juga menggunakan drone keperluan dokumentasinya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati Grobogan Minta Instansi Terkait Persiapkan Pembuatan Museum di Banjarejo

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi dan rombongan tim ahli purbakala di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan masyarakat Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus agar didirikan sebuah musem tampaknya makin mendekati kenyataan. Hal itu berdasarkan pernyataan dari Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi dan rombongan tim ahli purbakala di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2017). Tim ahli ini datang ke Grobogan dalam rangka melakukan kegiatan penyelamatan temuan fosil stegodon di Banjarejo.

“Penemuan benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo sudah tambah banyak. Masalah pembuatan museum harus segera dipersiapkan oleh dinas terkait. Nanti kami minta dari Sangiran untuk ikut membantu mekanisme pendirian museum di sana,” ungkap Sri Sumarni.

Selain dari BPSMP, ada perwakilan instansi lain yang ikut bertemu dengan Sri Sumarni. Antara lain, dariBalai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng dan Dinas Kebudayaan Jateng. Hadir pula, Kepala Disporabudpar Grobogan Karsono dan Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Keseriusan untuk membuat museum di Banjarejo ditunjukkan bupati dengan meminta ajudannya supaya menghadirkan Kepala Bappeda Anang Armunanto untuk bergabung dalam pertemuan tersebut. Setelah hadir di ruang kerjanya, Sri meminta Anang untuk segera menyiapkan konsep pembuatan museum.

“Saat ini, koleksi benda bersejarah untuk sementara ada di rumah pak kadesnya. Lama-lama pasti rumahnya tidak muat menampung. Untuk itu, butuh tempat penyimpanan yang lebih representatif. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah menyediakan tanahnya dulu dan setelah itu baru dipersiapkan pembuatan gedungnya,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyambut baik rencana pembuatan museum tersebut. Sebab, potensi benda bersejarah di Banjarejo dinilai luar biasa. Selain, benda peninggalan masa lalu (cagar budaya), banyak pula penemuan benda purbakala.

“Potensi di Banjarejo cukup lengkap. Jadi sangat layak kalau didirikan sebuah museum di sana. Kami dari BPSMP Sangiran tentunya akan memberikan dukungan semaksimal mungkin,” jelasnya.

Lebih lanjut Sukron menyatakan, proses pendirian Museum Sangiran juga dilakukan cukup panjang. Berawal dari penemuan-penemuan benda purba sejak tahun 1934 yang disimpan di rumah kepala desa. Setelah banyak baru dibuatkan tempat tersendiri dan akhirnya didirikan sebuah museum. Kemudian, pada tahun 2007 museum itu dirombak total dan dibangun sangat besar seperti yang terlihat saat ini.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik merasa gembira dengan respon positif dan dukungan yang diberikan bupati. Menurut Taufik, pihaknya sudah ada pandangan lahan untuk lahan pembuatan museum.

“Di Banjarejo ada tanah cukup luas dengan status GG atau milik negara. Lahan ini nanti bisa digunakan tetapi kita harus mengurus administrasinya lebih dulu,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

Koleksi Purbakala Sangiran dan Banjarejo Dipajang di Gedung Wisuda Budaya Grobogan

Belasan petugas sedang menyiapkan lokasi pameran purbakala di Gedung Wisuda Budaya (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pameran purbakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, sudah siap digelar. Indikasinya, aneka koleksi purbakala dari Museum Sangiran maupun yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan sudah mulai ditata di gedung Wisuda Budaya Purwodadi.

Rencananya, pameran bakal dibuka mulai Jumat besok hingga 28 Maret. Pameran dibuka mulai pukul 09.00-18.00 WIB.

Dari pantauan di lokasi, tempat pameran sudah terlihat cukup rapi. Beragam benda purbakala sudah ditempatkan dalam meja khusus dan ditutup dengan kaca.

Di belakang pintu masuk utama sudah digelar karpet merah menuju lokasi pajangan benda purbakala. Sepasang gading jadi hiasan pintu masuk ruang pameran. Di tengah pajangan, terdapat tempat yang dibuat mirip sebuah taman. Selain pohon kertas di lokasi ini terdapat rekonstruksi tiga patung manusia purba Homo Erctus. Terdiri laki-laki, perempuan, dan anak.

Di antara tempat pajangan dan taman ini juga dihamparkan karpet merah untuk jalan para pengunjung. Di dalam gedung sisi utara, juga sudah tertata deretan kursi yang di depannya terdapat proyektor dan layar berukuran 2 x 2 meter. Lokasi ini disiapkan untuk menyaksikan pemutaran film kepurbakalaan dan sejarah Museum Sangiran.

Hingga sore tadi, masih ada belasan orang yang sibuk mempersiapkan lokasi pameran. Salah satunya adalah Kades Banjarejo Ahmad Taufik dan beberapa warganya. Selebihnya merupakan petugas dari Sangiran.

“Saya kesini bersama beberapa anggota komunitas peduli fosil Banjarejo. Ini, masih menata beberapa koleksi yang akan ikut dipamerkan di sini. Khusus, untuk koleksi dari Banjarejo ditempatkan sebelah utara. Lainnya, dari Sangiran,” katanya, Jumat (23/3/2017).

Sebelumnya, Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tujuan digelarnya pameran adalah untuk menyebar luaskan informasi kepurbakalaan, baik dari Sangiran dan Banjarejo bagi masyarakat luas.

Khususnya, buat kalangan pelajar. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Grobogan untuk memobilisasi siswa sekolah guna menyaksikan pameran sekaligus menimba ilmu kepurbakalaan.

“Bagi pengunjung pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh sebab itu, kami berharap pameran nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan,” katanya. 

 

Editor : Akrom Hazami

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Bakal Gelar Penelitian Lagi di Banjarejo Grobogan

 

 

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dijadwalkan bakal melangsungkan penelitian lagi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan pertengahan Februari mendatang.

“Iya, kita ada rencana gelar penelitian lagi di Banjarejo. Nanti pada minggu kedua bulan Februari,” ungkap Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi saat dihubungi lewat ponselnya, Selasa (17/1/2017).

Menurutnya, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik ketika dimintai komentarnya mengaku senang dengan bakal adanya penelitian lagi yang dilakukan pihak BPSMP Sangiran. “Saya barusan dapat pemberitahuan dari BPSMP Sangiran soal bakal adanya penelitian lagi di sini. Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan pihak BPSMP,” katanya.

Menurutnya, pada penelitian tahun lalu, banyak hal yang sudah dilakukan tim ahli BPSMP selama melangsungkan penelitian hampir sebulan lamanya. Antara lain, mereka sudah berhasil mengidentifikasi ratusan potongan fosil purba yang sudah berhasil ditemukan selama beberapa waktu terakhir.

“Kalau boleh saya bilang, kerja tim ahli dari BPSMP saat penelitian lalu luar biasa. Ratusan fosil yang ada sudah teridentifikasi,” katanya.

Dari proses identifikasi yang sudah dilakukan, potongan fosil itu berasal dari 17 jenis hewan purba. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, babi, antelop, menjangan dan kerang.

Selain jenis hewan, potongan fosil yang ada juga bisa diidentifikasi berdasarkan bagian tubuhnya. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

Dengan teridentifikasinya fosil tersebut nantinya akan banyak manfaat yang didapat. Seperti memudahkan dalam menata dalam tempat penyimpanan. Yakni, dengan mengelompokkan fosil berdasarkan jenis hewannya.

“Selain itu, tim ahli juga berhasil merekonstruksi fosil gading gajah purba dan sempat ikut menemukan fosil gading lagi saat penelitian di sini. Jadi, banyak sekali bantuan yang kita dapat dari penelitian tahun lalu. Kita harapkan, dalam penelitian nanti lebih banyak lagi hasil yang didapatkan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami