Kreatif! Babinsa dan Warga Sarirejo Pati Olah Sampah Jadi Pupuk Organik

Serma Mustofa mengumpulkan daun hasil pemangkasan untuk dijadikan pupuk organik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Serma Mustofa mengumpulkan daun hasil pemangkasan untuk dijadikan pupuk organik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sampah rumah tangga yang selama ini dibuang dan dibakar, saat ini sudah dimanfaatkan sebagai pupuk yang baik untuk tanaman. Di Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, bintara pembina desa (babinsa) Koramil 01/Pati bersama masyarakat mengolah sampah menjadi pupuk organik.

“Kami mendapatkan proyek pengelolaan reuse, reduce, dan recycle (3R) dari pemerintah pusat. Sumber dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) melalui karya cipta Provinsi Jawa Tengah, ujar Babinsa Koramil 01/Pati, Serma Mustofa, Selasa (31/1/2017).

Bantuan tersebut berupa sarana bangunan dan prasarana berupa mesin cacah, ayak, dan dua unit kendaraan roda tiga. Bantuan diberikan untuk membantu pemerintah daerah (Pemda) dalam mengatasi persoalan sampah, terutama di Desa Sarirejo.

“Kalau proyek sudah selesai, pengelolaan akan diserahkan kepada kelompok swadaya masyarakat (KSM). Program penanganan sampah ini berbasis pada masyarakat, sehingga butuh peran serta dari warga untuk bersama-sama mengelola sampah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi,” tuturnya.

Rencananya, KSM akan menyiapkan tempat sampah di masing-masing rumah untuk diambil petugas setiap hari. Masyarakat cukup iuran untuk membantu operasional KSM dan petugas menyediakan dua tempat sampah. Satu tempat untuk sampah organik dan satu tempat untuk sampah anorganik.

Sampah organik akan diolah menjadi pupuk organik, sedangkan sampah anorganik akan dijual sebagai barang rongsokan untuk didaur ulang. Dengan begitu, semua sampah akan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Menanggapi program tersebut, Mardi, warga setempat mengaku senang. Pasalnya, warga selama ini membuang sampah menjadi barang tidak berguna. Warga juga dimudahkan hanya dengan membuang sampah di tempat yang disediakan, lantas diambil petugas.

Dia berharap, program tersebut bisa berjalan baik sesuai dengan rencana. Dengan demikian, persoalan sampah yang selama ini menjadi polemik bisa diatasi. Menurutnya, program itu tidak hanya bisa menjawab problem sampah, tetapi juga berhasil menyulap sampah menjadi barang berdaya guna.

Editor : Kholistiono

Kualitas Pupuk Organik di Kudus Kurang Oke

Untitled-1

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kualitas pupuk organik yang dijual untuk petani di Kudus, diragukan pemkab setempat. Karena, petani tidak minat dengan pupuk organik yang selama ini dijual bebas.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin mengatakan, selama ini para petani ogah menggunakan pupuk organik. Sebaiknya, mereka para petani malah meninggalkannya lantaran banyak yang dianggap tidak beres.

“Dari situlah, kami melakukan uji laboratorium untuk kandungan pupuk. Apakah sesuai dengan apa yang tertera pada bungkusannya ataukah tidak. Sebab, selama ini tidak ada uji laborat tentang hal itu,” kata Muttaqin.

Menurutnya, uji lab dilakukan sejak Juni lalu. Hanya, untuk batas selesainya uji lab masih menunggu dari provinsi. Sebab, pengecekan pupuk organik dilakukan melalui provinsi.

Sebenarnya, kata dia, pihak Petro atau pabrik pembuat pupuk organik sempat memberikan laporan kandungan pupuk berdasarkan uji laborat. Hanya, uji laborat yang diberikan hanyalah dari pihak pabrik, tanpa mengajak pihak pemkab.

Dia menuturkan, para petani juga mengeluhkan keadaan pupuk organik. Sebab, ketika pupuk disebar pada tanah tidak mudah hancur . Bahkan setelah beberapa pekan pupuk makan berupa butiran

“Padahal pupuk yang bagus itu yang mudah menyatu dengan tanah. Itu juga yang diinginkan para petani di Kudus,” imbuhnya

Keluhan para petani, kata dia bukan hanya terjadi di Kudus. Melainkan pula terjadi di seluruh Jateng. Untuk itulah saat rapat di tingkat provinsi selalu disampaikan hal tersebut, hingga akhirnya dilakukan uji lab.

Dia menambahkan, pabrik sudah diajak komunikasi dan membantah kalau pupuk tersebut tidak sesuai kandungan seperti di bungkus. Makanya setuju untuk di uji lab. Dan soal butir yang susah hancur, disebabkan sengaja oleh pabrik. Agar tidak mudah tumbuh rumput.

“Padahal kan tanah yang subur itu, yang banyak rumputnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pak Tani! Pupuk Subsidi di Kudus masih Aman

 

pupuk

Petugas pendataan pupuk Muttaqin Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Stok pupuk bersubsidi bagi petani di Kudus, dipastikan cukup hingga akhir tahun. Hal itu dipastikan lantaran memasuki Musim Tanam (MT) III tahun ini, sisa pupuk sekitar  40 persen lebih dari jatah total pupuk.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin mengatakan, selama ini pada MT I dan MT II, hanya menghabiskan pupuk sekitar 60 persen. Hal itu jelas menguntungkan para petani, sehingga tidak ada kelangkaan pupuk.

“Semuanya sudah ditampung dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), jadi kebutuhan pupuk yang didapat akan mampu mencukupi kebutuhan para petani di Kudus selama setahun,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, laporan  tentang stok pupuk secara persis hingga kini masih belum diterimanya. Namun dari pantauan yang dilakukan, 40 persen lebih pupuk memang masih tersedia untuk Kudus. Pupuk tersebut, merupakan jatah alokasi untuk sektor perikanan, perkebunan dan juga perikanan.

Pada tahun ini  Kudus mendapatkan pupuk jenis UREA sejumlah 10 ribu ton. Untuk ZA selama 2016 Kudus mendapatkan jatah pupuk 4260 ton.  SP 36, jumlah yang diterima adalah 1.490 ton, NPK mengalami penurunan dari 7000 ton. dan pupuk organik 4300 ton. Jumlah tersebut akan digunakan untuk Kudus selama setahun penuh.

”Tidak apa-apa, meskipun di bawah tahun sebelumya, namun masih ada sisa dari tahun sebelumnya di 2015 sebesar. Jadi tidak menjadi kendala meski yang kami dapat di bawah usulan,” ujarnya.

Jika nanti selama MT III kurang, kata dia, dapat dimintakan penambahan pasokan untuk Kudus ke provinsi. Hal itu diperbolehkan jika memang pasokannya habis.

“Jadi petani tidak usah risau,sebab pasti akan tercukupi kebutuhan pupuk untuk semua sektor,” jelasnya.

Sementara untuk ketersediaan pupuk hingga kini diklaim mudah. Para petani mudah mendapatkan pupuk untuk kebutuhan pertanian. Khususnya, bagi para petani yang masuk dalam kelompok tadi, yang mana otomatis masuk dalam RDKK.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Pupuk Organik dari Lokal Jepara Menumpuk Tak Terbeli, Ini Penyebabnya

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Banyak pupuk organic yang dibuat oleh petani lokal Jepara. Namun, pupuk tersebut menumpuk karena tak terbeli. Kondisi itu terjadi dikarenakan pupuk organic Jepara tersebut belum terdaftar di Kementerian Pertanian.

Hal itu seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Wasiyanto. Menurut dia, pupuk organik yang dibuat oleh petani di Jepara, masih banyak yang belum bisa dibeli oleh Dinasnya.

”Itu karena pupuk organik yang diproduksi petani belum terdaftar di Kementrian Pertanian. Akibatnya, banyak pupuk organik yang diproduksi petani lokal tidak terpakai,” ujar Wasiyanto, Selasa (17/5/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini hanya 20 persen pupuk organik yang diproduksi petani lokal memiliki kualitas bagus. Itu pun masih belum bisa dimanfaatkan karena belum terdaftar di Kementrian Pertanian.

”Bantuan pupuk organik untuk petani, bentuknya uang. Jadi yang belanja pupuk petani sendiri. Nah, pupuk yang dibeli ada kriteria-kriterianya, salah satunya harus terdaftar di Kementrian Pertanian,” katanya.

Dia menambahkan, agar pupuk organik yang diproduksi petani lokal dapat dimanfaatkan, pihaknya membantu proses uji kandungan pupuk ke laboratorium. Namun, untuk proses mendapatkan label dari Kementrian Pertanian, diserahkan pada masing-masing petani.

Editor: Supriyadi

 

Petani Jepara Minta Agar Pemkab Pilih Pupuk Organik Lokal

Salah satu warga menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom)

Salah satu warga menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Koordinator Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Jepara, Siswanto menyampaikan, program pengadaan pupuk kompos yang diselenggarakan Dinas Peternakan dan Pertanian Jepara agar tidak memanfatkan pupuk  pabrik.

”Harusnya tidak memanfaatkan dari pupuk pabrikan. Sebab, banyak pupuk organik petanik yang menumpuk tidak terbeli,” kata Siswanto.

Menurut Siswanto, kelompok tani yang memproduksi pupuk organik harus diberi pembinaan secara intensif. Serta difasilitasi untuk pemasaran pupuk organik. Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta agar pemerintah mendorong petani memanfaatkan bahan organik untuk dijadikan pupuk organik.

”Pemahaman kepada petani bahwa pertanian organik itu merupakan kebutuhan juga tidak kalah penting. Selama ini petani lebih suka membakar sampah sisa panen seperti jerami untuk dibakar,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Wasiyanto mengatakan, saat ini hanya 20 persen pupuk organik yang diproduksi petani lokal memiliki kualitas bagus. Itu pun masih belum bisa dimanfaatkan karena belum terdaftar di Kementrian Pertanian.

”Bantuan pupuk organik untuk petani, bentuknya uang. Jadi yang belanja pupuk petani sendiri. Nah, pupuk yang dibeli ada kriteria-kriterianya, salah satunya harus terdaftar di Kementrian Pertanian,” katanya.

Editor: Supriyadi

Jaken Pati jadi Sasaran Peluncuran Pupuk Organik Karya Warga

saksi-mata tani

 

MuriaNewsCom, Pati – Sandi, salah satu petani kreatif Sukoharjo, Jawa Tengah, melalui Gerakan Petani Nusantara (GPN) Provinsi Jawa Tengah, akan meluncurkan pupuk organik kreasinya. Rencananya akan diluncurkan di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati.

Desa Ronggo dianggap tepat sebagai tonggak awal peluncuran pupuk organik ini karena lahan kritis yang dimiliki dan orientasinya sebagai “Desa Inspirasi” kawasan hutan. Desa Ronggo mewakili Kecamatan Jaken yang memiliki total 10.524 Rumah Tangga Pertanian (RTP) dengan areal persawahan seluas 440 hektar.

Inisiasi kegiatan peluncuran pupuk organik ini dimulai dengan sarasehan “Gerakan Pengembalian Kesuburan Tanah” yang disusun oleh Aan Wijaya selaku Sekretaris Umum GPN Provinsi Jawa Tengah bersama Sugandam selaku Korwil GPN Karesidenan Pati.

Dengan narasumber Sandi, Arudji Wahyono dari Dewan Pembina GPN Provinsi Jawa Tengah), serta camat. Kegiatan dilaksanakan di Desa Ronggo, Senin (28/3/2016) pukul 11.00 WIB, dengan peserta kelompok tani yang berasal dari Desa Ronggo, Desa Mojolampir dan Desa Kalinanas (Blora).

Pengirim : Mentos warga Pati

Bagi yang Jijik dengan Kotoran Ternak, Pupuk Organik Cair Tumbuhan Bisa Jadi Solusinya

Muslikun menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Muslikun menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selama ini, pupuk organik dibuat dari kotoran hewan ternak seperti sapi dan kambing. Sebagian orang lebih memilih pupuk kimia ketimbang pupuk organik, lantaran dipandang menjijikkan.

Untuk mengakali hal itu, petani asal Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo, Pati Muslikun membuat pupuk organik cair dengan memanfaatkan daun dan tumbuhan tak terpakai. “Selama ini, pupuk organik dari kotoran hewan. Sebagian orang memandangnya menjijikkan. Ada banyak sumber daya alam yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, selain kotoran,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015).

Karena itu, pupuk cair dari tanaman bisa menjadi solusi untuk menyuburkan tanaman tanpa harus bersinggungan dengan kotoran hewan. “Kalau kotoran ternak itu biasa dijadikan kompos sebagai media tanam,” imbuhnya.

Saat ini, Muslikun mengaku belum berani untuk memasarkan pupuk organik cair buatannya. Pasalnya, penjualan membutuhkan produksi dalam skala yang besar dan berkelanjutan.

“Ini sebatas saya gunakan untuk menyuburkan tanaman di kebun sendiri. Belum berani menjual. Berani jual, risikonya harus memproduksi dalam skala besar dan kontinyu,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Video – Hebat! Petani Pati Ciptakan Pupuk Cair Organik dari Sampah

 

PATI – Pupuk pabrikan yang harganya semakin mahal membuat sejumlah petani di Pati membuat terobosan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Jika sampah organik dari daun biasanya dibuang, daun tak terpakai bisa digunakan untuk membuat pupuk cair organik.

Muslikun, misalnya. Petani asal Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo ini menciptakan pupuk cair organik yang dibuat dari sampah daun yang tak terpakai. Selain bisa memanfaatkan bahan tak terpakai, pupuk cair itu mengandung zat alami yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

“Ini memanfaatkan daun-daun tak terpakai, termasuk bonggol pisang dan lain sebagainya. Semua bahan organik difermentasi hingga mengeluarkan cairan. Inilah yang digunakan sebagai pupuk cair organik,” ujar Muslikun kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015).

Dalam pemakaiannya, Muslikun biasanya mencampurnya dengan air. Setelah itu, pupuk cair yang ditaruh di dalam botol digunakan untuk menyiram bibit-bibit tanaman yang butuh nutrisi ekstra untuk masa pertumbuhan. (LISMANTO/KHOLISTIONO)