Warga Katong Grobogan Demo Tolak Penutupan Perlintasan KA

Puluhan warga Desa Katong, Kecamatan Toroh membentangkan spanduk berisi penolakan penutupan perlitasan sebidang kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi demo mewarnai sosialisasi rencana penutupan perlintasan sebidang kereta api di Dusun Jetis, Desa Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan. Puluhan warga menggelar aksi penolakan saat acara sosialisasi bersama tim dari Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan yang dilangsungkan di Balai Desa Katong, Rabu (5/7/2017).

Sejumlah warga terlihat ada yang membawa spanduk berisi alasan-alasan penolakan tersebut. Selama sosialisasi di balai desa, terdengar suara penolakan yang dilontarkan warga.

Hadir dalam sosialisasi tersebut, Direktur Keselamatan Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementrian Perhubungan Edi Nursalam dan Asisten II Pemkab Grobogan Ahmadi Widodo. Hadir pula sejumlah pihak terkait seperti Kepala Dishub Grobogan Agung Sutanto, anggota Komisi C DPRD Grobogan Agus Dwi Priyanto, Kasatlantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa dan Muspika Toroh.

Rencana penutupan perlintasan tanpa palang itu seiring terjadinya kecelakaan maut di lokasi tersebut beberapa waktu lalu. Dalam peristiwa itu, sebuah mobil Avanza tersambar kereta api saat akan menyeberangi lintasan. Empat penumpang mobil tewas dalam kejadian itu.

Penutupan dijadwalkan usai Lebaran tepatnya tanggal 19 Juli 2017. Hal itu sesuai dengan pengumuman berbentuk spanduk yang dipasang di perlintasan sebidang tersebut, beberapa waktu lalu.

“Terus terang bakal ditutupnya perlintasan ini bikin resah. Soalnya, ini menjadi akses transportasi vital bagi warga sini. Khususnya, warga di Dusun Ketanggan yang ada di selatan rel,” kata Suharto, warga setempat.

Penutupan perlintasan bukan jadi solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Menurut warga, solusi paling pas adalah membangun palang pintu di perlintasan tersebut.

“Sejak dulu, warga sudah mengusulkan agar dibuatkan palang pintu. Tetapi sampai sekarang belum terealisasi. Pembuatan palang saya kira jadi solusi paling bagus,” imbuh Hartono, warga lainnya.

Pejabat Kepala Desa Katong Sugiyono mengatakan, banyak warga merasa keberatan dengan penutupan perlintasan. Bahkan, pihaknya telah mengirimkan keberatan melalui surat kepada Direktur Keselamatan DJKA Kemenhub.

“Perlintasan itu punya banyak manfaat bagi warga. Baik, dari sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Jadi, tidak bisa serta merta ditutup tetapi harus dicarikan solusi,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Rencana Pembangunan Pusat Kuliner di Eks Lahan Pasar Pagi Purwodadi Bikin Resah PKL, Kok Bisa?

Bangunan ilegal di lahan PT KAI yang sudah diratakan beberapa waktu lalu akan segera dibenahi untuk pembangunan pusat kuliner (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah PKL merasa resah dengan rencana pembangunan pusat kuliner di eks lahan pasar pagi Purwodadi. Terutama, PKL yang biasa berjualan di sepanjang jalan R Suprapto. Keresahan PKL itu disebabkan adanya rumor yang sudah beredar saat ini. Yakni, pembangunan pusat kuliner tersebut disiapkan untuk merelokasi PKL di jalan R Suprapto.

“Informasi yang kita dengar memang seperti itu. Kabarnya, pusat kuliner itu digunakan untuk memindahkan PKL di jalan R Suprapto. Terus terang, informasi ini cukup meresahkan. Sebab, kami cukup keberatan jika harus pindah ke lokasi baru,” ungkap Yahmin, salah seorang PKL di Grobogan, Kamis (30/3/2017).

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Sudarso mengatakan, keresahan para PKL dinilai kurang tepat. Sebab, konsep pembuatan pusat kuliner di lahan milik PT KAI tersebut bukan untuk merelokasi PKL.

Dijelaskan, setelah pembangunan berikut fasilitasnya selesai, pusat kuliner nanti akan disewakan kepada pedagang yang menginginkan. Termasuk, para PKL juga dibolehkan untuk menyewa tempat di pusat kuliner nanti.

“Kalau ada PKL di jalan R Soeprapto yang mau sewa, diperbolehkan. Kami tidak ada rencana untuk merelokasi mereka. Konsep pusat kuliner nanti diperuntuhkan buat pedagang yang mau sewa saja. Jadi, isu pusat kuliner untuk relokasi PKL itu tidak benar,” jelasnya, Kamis (30/3/2017).

Menurut Sudarso, sistem sewa diterapkan karena dinas dituntut menyumbang pemasukan ke daerah setelah menyewa lahan dari PT KAI. Keharusan adanya pemasukan itu berdasarkan saran dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Pusat kuliner tersebut direncanakan didirikan tahun ini. Anggaran pembangunan gedungnya disiapkan sebesar Rp 4 miliar. “Saat ini sedang kita susun detail enginering desain (DED) melalui jasa konsultan. Kita targetkan tahun ini pusat kulinernya sudah jadi,” katanya.

Pembuatan DED ditarget kelar April nanti dan setelah itu dilelangkan. Untuk bangunan pusat kuliner direncanakan tidak ada sekat dan posisinya saling berhadapan. Jalan masuk menuju lokasi ada dua untuk memudahkan akses pengunjung.

Ditambahkan, pembangunan pusat kuliner tersebut bagian dari penataan Kota Purwodadi. Sebelumnya, pada lahan bekas Stasiun Purwodadi dulunya dipakai jualan pedagang Pasar Pagi dan lokalisasi.

“Beberapa bulan lalu, semua bangunan ilegal sudah dibongkor dan pedagang telah pindah ke lokasi baru. Di sekitar lokasi lama kita pasang pagar triplek agar tidak ditempati pedagang lagi,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

Dianggarkan Rp 4 Miliar, Eks Lahan Pasar Pagi Purwodadi Bakal Disulap jadi Pusat Kuliner

Petugas dari PT KAI melakukan pembongkaran bangunan milik para pedagang di lokasi Pasar Pagi lama. Tahun ini, tempat itu bakal dijadikan pusat kuliner (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah para pedagang direlokasi ke tempat baru di jalan Gajah Mada, kawasan Pasar Pagi Purwodadi lama di lahan milik PT KAI akan dialih fungsikan. Rencananya, Pemkab Grobogan akan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kuliner.

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Sudarso menyatakan, pusat kuliner tersebut direncanakan didirikan tahun ini. Anggaran pembangunan gedungnya disiapkan sebesar Rp 4 miliar.

“Saat ini sedang kita susun detail enginering desain (DED) melalui jasa konsultan. Kita targetkan tahun ini pusat kulinernya sudah jadi,” katanya.

Pembuatan DED ditarget kelar April nanti dan setelah itu dilelangkan. Untuk bangunan pusat kuliner direncanakan tidak ada sekat dan posisinya saling berhadapan. Jalan masuk menuju lokasi ada dua untuk memudahkan akses pengunjung.

Ditambahkan, pembangunan pusat kuliner tersebut bagian dari penataan kota Purwodadi. Sebelumnya, pada lahan bekas Stasiun Purwodadi dulunya dipakai jualan pedagang Pasar Pagi dan lokalisasi.

“Beberapa bulan lalu, semua bangunan ilegal sudah dibongkor dan pedagang telah pindah ke lokasi baru. Di sekitar lokasi lama kita pasang pagar triplek agar tidak ditempati pedagang lagi,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami