Belakang Ruko Mega Plaza Juwana Digrebek Polisi, 5 PSK Diamankan

MuriaNewsCom, Pati – Polsek Juwana kembali melakukan kegiatan operasi terhadap tempat prostitusi Rabu (24/1/2018) malam. Dalam kegiatan tersebut, petugas berhasil mengamankan lima wanita yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kapolsek Juwana AKP Didi Dewantara mengatakan, kelima PSK itu diamankan dari satu tempat, yakni belakang Ruko Mega Plaza Juwana di Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana. Kelimanya tertangkap basah sedang menunggu pria hidung belang.

”Tadi malam, ada lima wanita yang kami amankan. Mereka kedapatan menjajahkan diri saat operasi digelar sekitar pukul 22.00 WIB,” katanya kepada awak media

Kapolsek menyebutkan, kelima PSK itu berasal dari berbagai wilayah. Yakni Jepara satu orang, Demak satu orang, Semarang Barat satu orang, dan Pati dua orang.

”Untuk usianya berkisar antara 30 hingga 47 tahun. Kelimanya kami data dan diberi pembinaan saja. Tidak ada penahanan,” tegasnya yang memimpin langsung operasi tersebut.

Disinggung terkait dugaan Ruko Mega Plaza yang jadi jujugan razia, Didi mengaku mendapat informasi tersebut dari masyarakat. Petugas yang mendapat laporan tersebut sempat melakukan pengintaian.

Karena khawatir semakin meresahkan, pihaknya pun langsung menginstruksikan untuk segera menggelar operasi. Selain untuk menekan praktik prostitusi, operasi tersebut ditujukan untuk menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polsek Juwana.

”Kalau dibiarkan, tidak menutup kemungkinan Kecamatan Juwana terkenal akan prostitusinya. Karena itulah rencananya giat seperti ini akan kami galakkan secara rutin,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Satgas Alap-alap Gerebek Lokalisasi di Pati, Ratusan Botol Miras Diamankan

Suasana penggerebekan lokalisasi Kampung Baru dengan sasaran miras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satuan Tugas (Satgas) Alap-alap yang dibentuk Polres Pati dan di bawah kendali Kasat Sabhara Polres Pati AKP Sugino menggerebek dua lokalisasi di Pati, Senin (25/12/2017).

Dua lokalisasi yang digerebek, antara lain Lorong Indah (LI) dan Kampung Baru di Margoyoso. Dari hasil penggerebekan, polisi mengamankan 387 botol miras dari berbagai merek.

“Ada 33 personil yang terjun bersama kami. Dari empat toko yang kami geledah di kawasan lokalisasi, kami berhasil menemukan ratusan botol miras,” ujar AKP Sugino.

Kegiatan operasi kepolisian yang ditingkatkan dengan sasaran miras tersebut untuk menciptakan kondisi yang aman selama Natal dan Tahun Baru. Pasalnya, miras menjadi salah satu pemicu utama perkelahian dan kerusuhan.

Di LI, polisi menyita 204 botol miras milik Mastur, warga Ngembalrejo, Bae, Kudus. Di Kampung Baru, polisi mengamankan 183 botol miras milik Sulasih, warga Demak, Darno, warga Margorejo, Pati dan Parwi, warga Kembang, Dukuhseti.

Adapun merek miras yang disita, di antaranya vodka, congyang, anggur merah, kolesom, dan whisky. “Miras kami amankan untuk selanjutnya dimusnahkan, sedangkan pelaku akan diproses penyidikan tindak pidana ringan,” jelasnya.

Satgas Alap-alap sendiri dibentuk secara khusus untuk mengamankan Natal dan Tahun Baru. Saat Tahun Baru, warga biasanya menghadirkan hiburan dan tidak jarang pemuda yang menenggak miras.

Karena itu, peredaran miras terus ditekan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama Tahun Baru berlangsung. “Tujuannya untuk mengamankan situasi dan kondisi agar tetap aman,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Empat PSK dan Dua Pria Hidung Belang Terjaring Razia di Kota Pekalongan

Para PSK yang terjaring operasi pekat saat dimintai keterangan petugas. (Humas Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Kota Pekalongan – Empat orang tanpa identitas yang diduga Pekerja Seks Komersial (PSK) dan dua pria hidung belang berhasil diamankan oleh Polsek Pekalongan Barat.

Mereka terjaring razia operasi penyakit masyarakat (Pekat) yang dilakukan oleh Polsek Pekalongan Barat, Polres Pekalongan Kota pada Selasa (5/12/2017) malam.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandi Sitepu melalui Kapolsek Pekalongan Barat Kompol Hanafi Umar mengatakan, operasi pekat yang dilaksanakan malam itu dimulai sekitar pukul 23.00 WIB. Petugas menyisir wilayah Kota Pekalongan yang disinyalir sering digunakan untuk perbuatan asusila maupun pesta miras.

”Ada dua lokasi yang menjadi sasaran razia, yakni Bendansari dan Jalan Slamet. Hasilnya, ada enam orang terdiri dari empat wanita dan dua pria. Keempat wanita itu diduga PSK, sedangkan kedua pria diduga sebagai pria hidung belang yang akan menggunakan jasa salah satu PSK tersebut,” ungkapnya seperti dikutip Tribratanews Polda Jateng.

Keenam orang yang terjaring razia itu selanjutnya dibawa ke Mapolsek setempat guna didata dan dilakukan pembinaan.

Selanjutnya, keenam orang tersebut membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi lagi dan menyerahkan ke RPSBM (rumah perlindungan sosial berbasis masyarakat) untuk di beri pembinaan.

Dia menambahkan, razia pekat akan terus digelar pada masa-masa mendatang. “Sasaran razia antara lain prostitusi, perjudian, peredaran miras, petasan, dan hal-hal lain yang bisa mengganggu situasi kondusif di tengah masyarakat,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Satpol PP Minta Dukungan Polisi dan TNI untuk Tegakkan Perda Karaoke di Pati

Satpol PP Pati saat merazia sejumlah tempat karaoke di Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Pati Riyoso meminta dukungan dari polisi dan TNI untuk menegakkan Perda Nomor 8 Tahun 2013 yang mengatur karaoke.

“Satpol PP siap mati-matian menegakkan Perda. Kami butuh dukungan mental dari polisi dan TNI,” ujar Riyoso, Jumat (24/11/2017).

Menanggapi permintaan itu, Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan menyatakan, penyelesaian masalah tersebut harus memperhatikan karakter masyarakat Pati supaya tidak terjadi konflik horizontal.

“Kita harus memperhatikan kondusivitas. Jangan sampai terjadi konflik horizontal dalam menegakkan Perda yang mengatur karaoke,” kata AKBP Maulana.

Menurutnya, Satpol PP, polisi dan TNI merupakan satu paket. Dia meminta agar jangan ada yang merasa paling dominan dan pintar sendiri.

“Kita satu tekat, satu komitmen. Jangan ada yang merasa menjadi pahlawan dari yang lain, karena Satpol PP, polisi dan TNI satu paket,” jelasnya.

Sementara Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma menuturkan, pihaknya sudah menempuh langkah komunikasi dengan para pemilik karaoke.

Dia juga sudah memberikan pemahaman kepada kedua belah pihak untuk menekan risiko gesekan di lapangan. Berbagai langkah pembinaan untuk menghindari potensi konflik juga sudah ia tempuh.

Editor: Supriyadi

Belasan Pemandu Karaoke dan  PSK di Lokalisasi Mawar Indah Pati Diciduk Polisi

Jajaran Polsek Batangan menggelar operasi penyakit masyarakat di kawasan lokalisasi Mawar Indah, Batursari, Batangan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Belasan pemandu karaoke (PK) dan lima pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Mawar Indah, Desa Batursari, Batangan, Pati diciduk petugas kepolisian, Rabu (8/11/2017) malam.

Mereka terjaring dalam operasi kepolisian yang ditingkatkan dengan sasaran penyakit masyarakat. Polisi juga menyita sejumlah minuman keras.

“Kami juga mengamankan dua orang yang berperan sebagai mucikari. Dia dan pemilik miras ditindak dengan tipiring,” ujar Kapolsek Batangan AKP Endah Setianingsih.

Baca: Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati

Pemandu karaoke yang diciduk polisi dilakukan pendataan dan pembinaan. Selanjutnya, mereka diperbolehkan untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Sementara lima orang PSK, dua mucikari dan satu orang pemilik miras disidik petugas kepolisian. Mereka dikenakan tindak pidana ringan untuk selanjutnya menjalani sidang di pengadilan.

Operasi tersebut melibatkan 13 personil gabungan fungsi Polsek Batangan yang dipimpin AKP Endah. Operasi itu bertujuan untuk memberantas penyakit masyarakat di kawasan Kecamatan Batangan.

Editor: Supriyadi

Baca: 7 PSK Konangan saat Mangkal di Bekas Stasiun KA Purwodadi di Grobogan

2 Gadis Pekalongan Dijadikan PSK, Biang Keroknya Kini Ditahan Polisi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pekalongan –Siti Haliyah (50) warga Kota Bekasi, Jawa Barat, terbukti mempekerjakan dua gadis di bawah umur sebagai pekerja seks komersial di Batam.

Dua gadis nahas itu adalah N (17) warga Kesesi dan D (15) warga Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Sepak terjang Siti Haliyah terhenti usai Satuan Reskrim Polres Pekalonga meringkusnya.

Kasat Reskrim Polres Pekalongan, AKP Agung Ariyanto, mengatakan, saat ini Haliyah telah ditetapkan sebagai tersangka. “Saat ini sudah proses penyidikan,” kata Agung, Kamis (2/11/2017) dikutip dari Tribunjateng.com.

Kedua gadis itu dijanjikan pekerjaan di Jakarta.  Faktanya, keduanya dibawa ke Batam dan dipekerjakan sebagai PSK.

Agung mengatakan, sekitar September 2017 lalu, Haliyah membawa kedua korban ke Batam tanpa sepengetahuan kedua orang tua. Haliyah membujuk kedua korban agar mau ikut dan bekerja di Jakarta tanpa sepengetahuan orang tua.

“Korban tidak betah karena pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai,” katanya.

Menurut Agung, kedua korban bekerja selama sebulan di Batam hingga keduanya diantar pulang oleh Haliyah. Saat itulah orang tua korban mengetahui anaknya dibawa ke Batam dan dipekerjakan sebagai PSK.

“Orangtua laporan ke kami selanjutnya kami lakukan pengembangan dan penangkapan. Saat ini tersangka masih kami dalami keterangannya,” kata Agung.

Pelaku dijerat pasal 2 Undang Undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 600 juta,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Belasan PSK Ketangkap di Pasar Ayam Kebumen

Polisi memberikan pembinaan kepada para PSK di Mapolres Kebumen. (Humas Polres Kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Operasi Penyakit Masyarakat “Pekat” gabungan yang dipimpin langsung oleh Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti, menyasar Pasar Ayam Tamanwinangun Kebumen.

Personel gabungan yang meliputi PJU Polres Kebumen, para polwan, personel Intel, Reskrim dan Sat Sabhara menggrebek praktik prostitusi ilegal di kawasan Pasar Ayam.

Dari penggrebekan yang digelar pada pukul 20.00 hingga 21.30 WIB itu, Polres Kebumen mengamankan tiga mucikari dan dua belas PSK.

Tiga mucikari yang diamankan masing masing berinisial SM (56), SL (47), SR (46). Ketiganya merupakan ibu rumah tangga warga Desa Tamanwinangun Kebumen.

Dijelaskan Titi, penggrebekan ini digelar menyusul adanya laporan masyarakat yang merasa resah.

“Razia ini berdasarkan laporan masyarakat. Kita tindak lanjuti laporan itu. Ternyata benar, kita dapatkan belasan PSK dan tiga mucikari dalam operasi itu,” kata Titi.

Dari operasi ini, Polres Kebumen berharap, Pasar Ayam tersebut dapat dikembalikan fungsi asalnya. “Ini, kan  aslinya Pasar Ayam. Namun jika dalam posisi tidak beroprasi saat pasaran, digunakan untuk prostitusi terselubung. Semoga dengan adanya razia ini dapat dikembalikan ke fungsi asalnya,” tambahnya.

Kepada para mucikari, mereka diancam dengan pasal 296 KUH Pidana, dengan ancaman maksimal 1 tahun 4 bulan kurungan. Sedangkan kepada para PSK, polisi memberikan pembinaan dan akan disidang Tipiring di Pengadilan Negeri Kebumen.

Salah satu PSK berinisial SC (29) warga Purwokerto yang terjaring saat operasi, dirinya mengaku kurang lebih satu tahun menjadi PSK di Kebumen karena tidak ada pilihan lain untuk mencari nafkah. Bahkan dirinya sudah berpindah pindah dari kota ke kota menjadi PSK karena tuntutan ekonomi.

“Saya sudah ditinggal suami, bahkan saat saya dalam posisi hamil. Saya sebetulnya tidak ingin jadi PSK. Tapi, mau gimana lagi kebutuhan hidup terus bertambah,” kata SC salah satu PSK.

Editor : Akrom Hazami

 

4 PSK Kena HIV/AIDS di Gunung Kemukus Sragen

Sebuah papan peringatan yang terpasang di kompleks Gunung Kemukus Sragen. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Sragen – Empat orang  pekerja seks komersial (PSK) di kompleks Gunung Kemukus Sragen, positif terkena HIV/AIDS. Mereka biasa beroperasi di lokasi tersebut setiap harinya.

Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Sukowati mengatakan, pihaknya bersama tim gabungan Puskesmas Sambungmacan serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen, Kamis (28/9/2017), memeriksa kesehatan 68 wanita PSK di Gunung Kemukus.

“Saat pemeriksaan kesehatan,  ternyata yang datang hanya empat orang. Dia mengatakan kemungkinan PSK lain yang positif HIV/AIDS sudah pindah ke tempat lain,” kata Ketua KDS Sukowati, Ririn Hanjar Susilowati, Jumat (29/9/2017), dilansir dari solopos.com.

Ririn lewat KDS Sukowati mendampingi dan membuka konseling kepada para PSK yang positif HIV/AIDS. Dia menilai mereka itulah yang berisiko menularkan ke orang lain atau yang negatif tertular dari orang lain.

Untuk pengobatannya, kata dia, ada yang dirujuk ke RSUD dr Soeratno Gemolong yang juga memiliki fasilitas pengobatan HIV/AIDS. Ririn menyampaikan para WTS itu ada yang berasal dari Kalijambe, Miri, Jepara, dan daerah lain di luar Sragen.

Kabid Ketentraman, Ketertiban Masyarakat, dan Linmas Satpol PP Sragen, Sugeng Priyono, menyampaikan Satpol PP ke Kemukus dengan tujuan untuk menggali informasi tentang jumlah karaoke/penginapan dan WTS yang ada di kawasan itu sebagai bahan awal dalam penataan Gunung Kemukus.

“Data yang berhasil saya himpun itu ada 72 unit karaoke/penginapan dan 73 WTS yang mangkal di Gunung Kemukus. Mereka ini yang mendapat pendampingan dari puskesmas, KDS Sukowati, dan Fatayat NU,” tambah dia.

Editor : Akrom Hazami

BERITA PILIHAN SEPEKAN: Bus Rombongan Peziarah Terjun ke Jurang Hingga Aksi Polwan Cantik Nyamar Jadi PSK

Sejumlah warga melakukan evakuasi bus peziarah asal Purwodadi yang terjun bebas di Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Senin (4/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jika Anda tak sempat membaca perkembangan berita-berita pekan ini, MuriaNewsCom telah merangkum berita-berita yang perlu Anda ketahui. Berikut ini berita pekan ini yang perlu Anda baca.

1. Bus Rombongan Peziarah Asal Purwodadi Terjun ke Jurang di Tergo Kudus

Kecelakaan bus kembali terjadi di Kabupaten Kudus. Kali ini kecelakaan menimpa rombongan peziarah asal Purwodadi yang terjun ke jurang di desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus.

Kecelakaan bus bernopol K 1103 HA tersebut terjadi Senin (4/9/2017) sekitar pukul 14.30 WIB. Kala itu, bus berpenumpang 30 orang tersebut baru saja melakukan ziarah di makam Sunan Muria.

Simak beritanya di Rombongan Peziarah Asal Purwodadi Terjun ke Jurang di Tergo Kudus 

Baca Juga: Ini Nama-nama Korban Bus Peziarah yang Terjun ke Jurang di Tergo Kudus. Atau simak beritanya di sini 

 

2. Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Pati

Anggota Polsek Wedarijaksa Bripda Indah Mira Cahyani saat menyamar sebagai calon PSK. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Berbagai cara dilakukan oleh polisi untuk memberantas praktik prostitusi. Untuk mendapatkan barang bukti, para Polisi Wanita alias Polwan bahkan sampai harus menyamar menjadi Pekerja Seks Komersial atau PSK.

Seperti yang dilakukan oleh anggotab Polsek Wedarijaksa, Bripda Mira Indah Cahyani. Dia harus menyamar menjadi PSK untuk membongkar praktik prostitusi di Dukuh Rames, Desa Sukoharjo, Pati, Jawa Tengah, awal September lalu.

Dan dengarlah pengalaman ini. Saat menyamar menjadi PSK itu, Mira sempat ditawari uang Rp350 ribu oleh lelaki hidung belang, untuk sekali kencan. Tapi Mira menolak tawaran itu dengan mengajukan sebuah alasan.

Baca selengkapnya di Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati

Baca Juga: Jadi Mucikari, Pemilik Warung Kuro-kuro di Ngrames Pati Terancam 16 Bulan Penjara

Selengkapnya ada di sini

3 Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup Karena Diduga Pungli

Pintu masuk objek wisata Waduk Kedungombo ditutup portal dan ditulisi ‘Tutup’ membuat ratusan pengunjung kecewa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para pengunjung Waduk Kedungombo kecewa berat saat datang ke obyek wisata tersebut, Minggu (3/9/2017). Kekecewaan itu terjadi karena semua pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke kawasan dekat waduk yang selama ini dijadikan tempat wisata.

Padahal, ada ratusan pengunjung yang datang. Selain warga Grobogan, banyak juga pengunjung dari kabupaten lain. Bahkan, beberapa di antaranya mengaku datang jauh-jauh dari Jawa Timur untuk menikmati pemandangan di Waduk Kedungombo.

Setelah ditelusuri, ternyata penutipan obyek wisata tersebut diduga terkait kasus pungli.

Simak beritanya di Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup, Ratusan Pengunjung Kecewa

Baca Juga : Penutupan Obyek Wisata Waduk Kedungombo Diduga Karena Kasus Pungli. Selengkapnya simak beritanya di sini

 

Editor: Supriyadi

Polisi Nyamar, 11 PSK Katut di Area Bekas Stasiun Purwodadi

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir saat melakukan pembinaan pada perempuan diduga PSK yang terjaring razia, Minggu malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski kawasan prostitusi di lahan bekas Koplak Dokar Grobogan sudah dihancurkan beberapa waktu lalu, namun bisnis esek-esek di daerah itu tidak mati. Tetapi mulai pindah lokasi di dekatnya.

Indikasinya ada praktik prostitusi terungkap saat dilakukan razia, Minggu (19/3/2017) malam. Dalam razia yang dilakukan petugas dari Sat Sabhara Polres Grobogan itu didapati ada 11 perempuan yang ditengarai sebagai PSK.

Mereka yang terjaring razia ini berasal dari luar daerah. Satu di antaranya, diduga sebagai mucikari. Razia yang dilangsungkan hingga jelang dini hari itu boleh dibilang cukup sukses. Sebab, para PSK tidak menyadari kedatangan petugas yang melakukan operasi dengan berpakaian ala preman dan menggunakan kendaraan pribadi.

“Anggota memang kita perintahkan untuk menyamar saat melakukan kegiatan. Hal ini supaya tidak terjadi aksi kejar-kejaran seperti kalau melaksanakan kegiatan pakai seragam,” jelas Kasat Sabhara AKP Lamsir.

Selanjutnya, 11 perempuan yang terkena razia langsung diangkut ke mapolres untuk didata dan diberi pembinaan. Selain itu, mereka juga diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan yang bisa mengganggu ketertiban umum.

“Kali ini mereka hanya kita kasih pembinaan. Kita harapkan, dengan adanya razia bisa menimbulkan efek jera. Setelah didata dan kasih pembinaan, mereka kita serahkan pada dinas sosial buat penanganan lebih lanjut,” tegasnya.

Dia menyatakan, kegiatan itu dilakukan setelah ada informasi dari masyarakat. Info yang masuk menyebutkan jika ada praktik prostitusi yang dilakukan di kawasan bekas stasiun tersebut.

“Informasi ini langsung kita tindaklanjuti. Kami berharap, di kawasan bekas stasiun kereta api ini tidak ada lagi praktik prostitusi,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Lokalisasi di Dorokandang Rembang Bakal Ditutup

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Lokalisasi di wilayah RT 1 RW 8 Desa Dorokandang,Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang akan segera ditutup. Rencananya, penutupan akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang.

Camat Lasem Harjono mengatakan, sebelum dilakukan penutupan, saat ini pihaknya sudah melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan agamis terhadap pekerja seks komersial (PSK) maupun mucikari, serta masyarakat. Sehingga, nantinya ketika penutupan diefektifkan tidak ada lagi komplain dan permasalahan yang timbul dari masyarakat.

Menurutnya, tercatat, setidaknya ada 53 pekerja seks komersial yang terdapat di tempat tersebut. Namun kini, katanya, mereka sudah mulai berangsur pulang ke kabupaten asal, di antaranya Blora, Jepara dan Grobogan.

Selain PSK, katanya, juga tercatat ada sebanyak 14 mucikari yang biasa ada di lokalisasi tersebut. Para mucikari ini merupakan warga setempat. “Sekarang ini, kami fokusnya adalah pada mucikari yang nota bene merupakan warga setempat. Kami akan koordinasi dengan Dinas Sosial, PKK, dan Dinindagkop untuk membekali mereka dengan keterampilan,” katanya.

Dirinya juga berharap, dengan adanya penertiban penyakit masyarakat, ke depan dapat merajut Lasem sebagai Kota Tua, yang tak lagi ada praktik esek-esek. Kemudian, dirinya juga berharap, Lasem bisa bersih dari sampah dan tertib administrasi desa.

Pihaknya juga akan mengantisipasi kemungkinan pergeseran para PSK ke titik lain di wilayah Kecamatan Lasem. Meskipun sinyal itu belum ditangkap, tetapi ia tetap siaga. “Ke depannya, kami akan terus memantau selalu kondisi tempat tongkrongan tersebut, agar tidak ada lagi muncul praktik serupa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

10 PSK Mangkal di Warung Kopi Pecangaan Jepara Ditertibkan Polisi

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 10 orang PSK ditertibkan Polsek Pecangaan Jepara, saat mangkal di beberapa warung kopi di Desa Pulodarat, Sabtu (31/12/2016) dini hari.

Mereka ditertibkan dari warung kopi karena dianggap meresahkan warga. Karenanya, warga melaporkan hal itu ke petinggi desa setempat. Petinggi desa, babinsa, dan Polsek Pecangaan turun ke lokasi tersebut.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Pecangaan AKP Bajuri mengatakan, polisi menertibkan 10 orang PSK dari warung kopi. “Mereka kami tertibkan karena warga kesal,” kata Bajuri dihubungi MuriaNewsCom, Sabtu.

Warga banyak yang resah dengan keberadaan PSK. Polisi dan perangkat desa telah beberapa kali melakukan teguran kepada pemilik warung. Tapi hal itu tak juga digubris.

Akhirnya polisi dan perangkat desa melakukan tindakan. Para PSK ditertibkan. Mereka diberi surat pernyataan agar tidak mengulang. “Sebenarnya mau kami kenakan tipiring, tapi karena kejaksaan libur, jadi hanya diberi surat pernyataan,” pungkasnya. 

Editor : Akrom Hazami

7 PSK Konangan saat Mangkal di Bekas Stasiun KA Purwodadi di Grobogan

Tujuh perempuan yang ditengarai berprofesi jadi PSK didata identitasnya dan diberi pembinaan di kantor Satpol PP. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tujuh perempuan yang ditengarai berprofesi jadi PSK didata identitasnya dan diberi pembinaan di kantor Satpol PP. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski kawasan prostitusi di lahan bekas koplak dokar sudah dihancurkan beberapa waktu lalu, namun bisnis esek-esek di situ tidak mati. Tetapi mulai pindah lokasi di dekatnya.

Yakni, masih d ikawasan bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi yang saat ini dipakai untuk terminal angkot. Lokasi ini berada di sebelah barat bekas koplak dokar tetapi dibatasi dengan tembok setinggi 2 meter.

Indikasinya ada praktik prostitusi terungkap saat dilakukan razia, Kamis (29/12/2016) malam. Dalam razia yang dilakukan petugas gabungan dari Dinsosnakertrans, Polres Grobogan dan Satpol PP itu didapati ada tujuh perempuan yang ditengarai sebagai PSK.

“Sebagian di antaranya merupakan wajah lama yang dulu ada di kawasan koplak dokar. Mereka ini bukan warga sini tetapi pendatang dari luar kota,” kata Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan.

Selanjutnya, ketujuh perempuan yang terkena razia langsung diangkut ke kantor Satpol PP untuk didata dan diberi pembinaan. Selain itu, mereka juga diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan yang bisa mengganggu ketertiban umum.

“Kali ini mereka hanya kita kasih pembinaan. Kalau di kemudian hari kedapatan mengulangi perbuatannya maka akan kita ambil tindakan lebih tegas. Misalnya, mengirimkan mereka ke panti sosial,” tegas pria yang akrab disapa Wawan itu.

Dia menyatakan, kegiatan dengan petugas gabungan itu dilakukan setelah ada informasi dari masyarakat. Yang mana, info yang masuk menyebutkan jika ada praktik prostitusi yang dilakukan di sejumlah warung di kawasan terminal angkot.

“Informasi ini langsung kita tindaklanjuti. Kami berharap, di kawasan bekas stasiun kereta api ini tidak ada lagi praktik prostitusi. Para pedagang juga kita peringatkan sekalian kita minta agar tidak menyediakan miras,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Lokalisasi Nglebok Cepu Diduga Sediakan PSK Bawah Umur

Sutarno saat memberi pembinaan sejumlah PSK yang terkena razia beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Petugas Satpol PP saat memberi pembinaan sejumlah PSK yang terkena razia beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

 

MuriaNewsCom, Blora – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lare Cepu Blora, menemukan pelanggaran hukum di lokalisasi Nglebok, Kecamatan Cepu. Lokalisasi tersebut, diduga menyediakan Pekerja Seks Komersial (PSK) di bawah umur berinisial ER yang dipekerjakan oleh mucikari berinisial NG selama dua tahun.

Ketua LSM Lare Cepu, Budi Prayitno mengungkapkan, kejadian itu sebenarnya sudah lama, dan hingga saat ini belum diketahui oleh pihak penegak hukum Blora. ”Informasi yang kami dapatkan, PSK dibawah umur berinisial ER itu sudah sejak dua tahun lalu dipekerjakan sebelum ER berusia 18 tahun,” kata Budi Prayitno, kepada MuriaNewsCom (3/5/2016).

Menurutnya, ER yang merupakan warga di Kecamatan Cepu. Saat ini, ia baru berusia 18 tahun, sementara ia sudah pekerjakan mucikari NG sejak dua tahun lalu. ”Kalau sekarang baru usia 18 tahun berarti saat ER dipekerjakan jadi PSK masih di bawah umur. Ini jelas pelanggaran, karena selama ini mucikari NG sudah mempekerjakan ER selama dua tahun,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, ER luput dari pendataan yang dilakukan oleh petugas dari pemerintah. Karena saat ada pendataan NG menyembunyikan ER. ”Saat pagi hari, ER disembunyikan oleh NG dan saat setelah magrib hingga pagi ER baru mulai dipekerjakan,” tuturnya.

Melihat kondisi tersebut, Budi Payitno telah mencoba melaporkan kepada Polsek Cepu, namun, dari pihak Polsek Cepu menyarankan agar dirinya melaporkan langsung kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Blora. “Dalam waktu dekat akan kami laporkan kepada PPA Polres Blora,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

 

Bejat! Pelaku Menjual Dua Siswi di Pati kepada Pria Hidung Belang Melalui Media Sosial

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Prostitusi online mulai merambah ke Pati. Dua gadis di bawah umur yang statusnya masih belajar di salah satu sekolah di Pati terlibat prostitusi online yang ditawarkan untuk menemani pria hidung belang di salah satu hotel di Pati.

M, gadis yang masih berusia 16 tahun merupakan lulusan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2014. Sementara itu, SN yang berusia 17 tahun diketahui masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Menurut pengakuan pelaku, Andro, kedua korban dijajakan melalui media sosial. Setelah pembeli tertarik dengan foto yang dipajang di media sosial, pembeli mengontak pelaku.
Dari situ, peran pelaku melantarkan pembeli dan korban. Tempat untuk bersenggama laiknya suami istri ditentukan pembeli dan dibayar oleh pembeli.

”Dari hasil pengakuan pelaku, ia menawarkan korban melalui media sosial. Tempat yang menentukan pelanggan dan yang banyak pelanggan,” ujar Dir Reskrimum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Gagas Nuraha kepada MuriaNewsCom.

Yang lebih bejat lagi, korban dipaksa untuk melayani persetubuhan dengan pelaku dengan cara diancam akan disebarluaskan perbuatan korban kepada keluarga maupun masyarakat.
”Persetubuhan pelaku dengan para korban dilakukan di hotel, setelah tamu pergi,” imbuhnya.

Saat ini, pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan mengambil keterangan dari para saksi, korban dan tersangka. ”Kasus ini akan terus kami dalami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswi di Pati yang Dijadikan PSK Dihargai Rp 700 Ribu untuk Tamu Hotel

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Ironis. Perdagangan anak di bawah umur untuk dijajakan kepada pria hidung belang mulai merambah ke Pati. Salah satunya, kasus perdagangan orang yang dilakukan Andro yang melibatkan dua siswi di salah satu sekolah di Pati.

Andro mengaku, dua siswi tersebut dihargai Rp 700 ribu oleh tamu di salah satu hotel di Pati. Sebanyak Rp 500 ribu diberikan kepada korban, sisanya Rp 200 ribu diminta Andro sebagai imbalan.

”Rabu (23/3/2016) sekitar pukul 19.00 WIB lalu, kita bersama dengan Satgas Perlindungan Anak Jawa Tengah menangkap tangan pelaku yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan dua korban berinisial M berusia 16 tahun dan SN berusia 17 tahun. Pelaku kami tangkap di salah satu hotel berbintang di Pati,” ujar Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati kepada MuriaNewsCom.

Dari hasil pengakuan pelaku, kata dia, setiap melayani tamu, korban mendapatkan Rp 700 ribu sekali transaksi. Sementara itu, pelaku mendapatkan Rp 200 ribu. ”Pelaku juga mengaku, tempat yang menentukan pelanggan. Tempat juga yang membayar pelanggan. Jadi, pelaku dan korban terima bersih,” imbuhnya.

Pelaku diancam dengan Pasal 76 i jo Pasal 88 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 jo 17 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman pidana paling singkat tiga tahun dan selama-lamanya 15 tahun.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemkab Blora Belum Punya Trik Jitu Hadang Gelombang Eksodus PSK

Hartanto Wibowo Kabid Kesejahteraan Sosial Disnakertransos Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Hartanto Wibowo Kabid Kesejahteraan Sosial Disnakertransos Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Di Blora, ada beberapa tempat bagi para pria hidung belang memuaskan hasrat kenikmatan sesaatnya. Seperti di lokalisasi Kampung Baru, Kecamatan Jepon, Sumber Agung dan Nglebok Kecamatan Cepu.

Chris Hapsoro Kepala Dinas Ketenagakerjaan Transmigrasi dan Sosial (Dinsakertransos) Blora melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesejahteraan Sosial, Hartanto Wibowo mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini belum pernah melakukan tindakan preventif guna menghadang lonjakan jumlah PSK yang ada di beberapa tempat esek-esek di Kabupaten Blora.

Saat dikonfirmasi langsung oleh MuriaNewsCom, pihaknya mengaku akan segera mengkordinasikan dengan pihak terkait. ”Wah kalau tindakan preventif seperti itu kami belum terfikirkan sebelumnya. Itu akan kami kordinasikan dengan Satpol PP Blora dan tentu Dinas pencatatan sipil,” jelas Hartanto Wibowo kepada MuriaNewsCom (8/3/2016).

Menurutnya, saat ini Kalijodo telah digusur serta di Pati yang sedang ramai atas penutupan Karaoke tidak menutup kemungkinan para wanita tuna susila menyebar ke masing-masing tempat kelam, tak terkecuali di Blora.

”Dulu waktu Dolly digusur, ada peningkatan jumlah PSK di kawasan Nglebok Cepu. Namun, kami susah untuk mendatanya, karena keberadaan mereka sulit diketahui. Itu karena, kedatangan mereka sulit untuk kita deteksi,” ujar dia.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom sampai saat ini ada 54 PSK yang terdata, di Nglebok Cepu, dan ada 44 mucikari yang terdata. Hartanto mengungkapkan, pihaknya tidak bisa memastikan jumlah yang sampai saat ini masih fluktuatif, artinya sewaktu-waktu bisa naik juga bisa turun.

”Salah satu penyebabnya, ya, katakan dulu waktu Dolly di tutup. Untuk yang Kampung Baru dan Sumber Agung kami belum mendatanya secara rinci,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

‘Berondong’ Bisa Tergoda PSK Pati dan Terancam Ikut ‘Jajan’

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pegiat hukum dan sosial menunjukkan papan imbauan anak di bawah umur dilarang masuk lokalisasi, sebelum ditanam secara permanen menggunakan semen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sikap iseng untuk memasuki kawasan lokalisasi di Pati dan sekadar menonton pekerja seks komersial (PSK) dikhawatirkan menjadi kebablasan yang berujung pada “jajan” PSK. Hal ini mulai lumrah menjangkiti kalangan anak di bawah usia 18 tahun atau akrab disebut ‘berondong’.

Jika sudah terjerumus, mereka akan ketagihan. Padahal, mereka belum punya pekerjaan yang berpotensi menghalalkan segala cara untuk jajan PSK. Ini yang kemudian meraih simpati sejumlah pegiat sosial.

Sekretaris LSM Penegakan Hukum Bhakti Anak Negeri Bambang Suherman mengatakan, anak di bawah umur sekarang sudah banyak yang mulai mencoba untuk mengenal kawasan prostitusi. Padahal, lokalisasi biasanya identik dengan HIV/AIDS dan penyimpangan moral yang berpotensi merusak masa depan anak.

Karena itu, pihaknya mencoba untuk mengingatkan masalah tersebut dengan memasang papan peringatan di lokalisasi Lorong Indah dan Kampung Baru, Kecamatan Margorejo.

”Anak muda saat ini harus bisa menjadi generasi emas yang memajukan negeri, bukan terlibat dengan seks bebas, pergaulan malam, termasuk mencoba jajan PSK,” katanya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

PSK di Pati Pingsan Saat Hormat Merah Putih

Bunga, salah satu PSK pingsan saat mengikuti upacara bendera di Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Bunga, salah satu PSK pingsan saat mengikuti upacara bendera di Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Salah satu pekerja seks komersial (PSK) pingsan saat mengikuti upacara bendera di Kompleks Pasar Wage, Margorejo, Senin (17/8/2015). Sebut saja Bunga, ia pingsan di tengah-tengah upacara dan dibawa ke tempat teduh untuk disadarkan.

Selang 15 menit, Bunga berhasil disadarkan. Bunga diduga pingsan, karena kelelahan dan belum istirahat yang cukup. Bunga nampak pucat dan tak berdaya.

“Sepertinya kelelahan. Dari tadi, Bunga sudah tidak kuat berdiri, tapi jongkok di tengah-tengah peserta upacara. Lama-kelamaan, akhirnya Bunga Pingsan. Ia sepertinya juga belum sarapan,” ujar Selly (nama samaran), salah satu PSK saat ditanya MuriaNewsCom.

Upacara bendera tersebut dihadiri Dandim 0718 Pati Letnan Kol Inf Hery Setiono, Wakil Bupati Pati Budiyono, Anggota DPRD Pati, Kiai Heppy Irianto, Pengasuh Ponpes Soko Tunggal Gus Nuril, dan Ketua Gusdurian Pati Edi Siswanto. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ratusan PSK di Pati Doakan Bangsa Indonesia

Ratusan PSK tengah mendoakan bangsa Indonesia di tengah-tengah upacara Kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Ratusan PSK tengah mendoakan bangsa Indonesia di tengah-tengah upacara Kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sebanyak 300 pekerja seks komersial (PSK) dari Lorong Indah dan Kampung Baru menggelar upacara kemerdekaan di Kompleks Pasar Wage, Senin (17/8/2015). Mereka mengenakan topi merah dengan seragam putih bertuliskan “Jiwa Ragaku Untukmu, Indonesiaku.”

Salah satu agenda doa, mereka berdoa untuk kemajuan bangsa Indonesia. Doa tersebut dipimpin oleh Gus Nuril, Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal.

“Apa pun profesi, pekerjaan dan jabatannya, kita semua warga negara Indonesia yang wajib hormat dan mencintai bangsa Indonesia. Hormat kepada Sang Saka Merah Putih menjadi bagian dari jalan untuk mencintai Allah. Berikan kemajuan untuk Indonesia, ya Allah,” doa Gus Nuril yang kemudian diamini ratusan PSK.

Acara yang digagas Komunitas Gusdurian tersebut diakhiri dengan acara penyerahan 10 mesin jahit dan 10 mesin obras untuk PSK. Hal tersebut diharapkan bisa memberikan bekal PSK untuk berkarya dan bekerja secara kreatif. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Salut, Ratusan PSK Pati Ikuti Upacara Bendera!

300 PSK mengikuti upacara Hari kemerdekaan di Pasar Wage, Kecamatan Margorejo, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sebanyak 300 pekerja seks komersial (PSK) dari Lorong Indah (LI) dan Kampung Baru mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI ke-70 di Kompleks Pasar Wage, Senin (17/8/2015).

Kegiatan ini dihadiri oleh Komandan Distrik Militer (Dandim) 0718 Pati Letnan Kol Inf Hery Setiono, DPRD, tokoh lintas agama, dan kiai. “PSK adalah warga negara Indonesia yang berhak untuk merayakan kemerdekaan,” ujar Hery di hadapan peserta upacara.

Sementara itu, Gus Nuril yang hadir membacakan doa mengatakan, siapa pun profesi dan jabatannya berhak untuk merayakan kemerdekaan dan menghormati Sang Saka Merah Putih.

“Ya Allah, jangan engkau cibir mereka, kalau mereka tidak tahu. Berikan mereka kemuliaan, kalau mereka menghormati dan mempertahankan Sang Saka Merah Putih,” doa Gus Nuril di hadapan 300 PSK. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)