DPRD Jateng Anggap Maerakaca Semarang Tak Terurus

Kompleks Puri Maerakaca Semarang. (dok)

MuriaNewsCom, Semarang – Pengelolaan objek wisata Puri Maerakaca di kompleks PRPP Kota Semarang, menjadi sorotan kalangan Komisi C DPRD Jawa Tengah. Dewan menganggap Taman Mininya Jawa Tengah itu tak terurus.

“Saat berkunjung bersama Ketua Komisi C, semua daerah kabupaten/kota di Jateng memiliki anjungan di sana. Tapi sayang beberapa kondisinya cukup memprihatinkan,”kata Anggota Komisi C DPRD Jateng, Muhammad Rodhi Sabtu (18/11/2017).

Bahkan, Kondisi paling parah di anjungan Kabupaten Temanggung, yang sempat mengalami kebakaran pada 2014 lalu. Sudah hampir 3 tahun, bangunannya dibiarkan mangkrak.

Belum ada upaya perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Temanggung maupun pengelola Puri Maerakaca yang kini berganti nama menjadi Grand Maerakaca. “Anjungan Kabupaten Temanggung, yang pernah terbakar, sampai hari ini masih belum diperbaiki,”ujarnya lagi.

Dia mengatakan, saat menuju ke anjungan Kabupaten Semarang  lantai proselin cukup kotor. Kemudian, di anjungan Kota Salatiga, papan namanya lepas, lampu taman lepas.

Di anjungan Kabupaten Boyolali, suasananya tampak sepi. Di dalam bangunan rumah khas Boyolali itu kosong. Pun di anjungan Kota Tegal juga tampak senyap.

”Kolam di depan anjungan Kota Tegal juga mangkrak hingga ditumbuhi lumut. Terlihat kumuh. Di anjungan Kota Magelang, papan namanya sudah rompal. Catnya juga sudah memudar,” ujarnya.

Masih banyaknya anjungan yang tidak terurus menjadi pemandangan yang kurang bagus. Para pengujung mendorong kepada pemerintah untuk merawat anjungan dan miniatur rumah adat dari 35 kota/kabupaten di Jateng tersebut.

”Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Apalagi kalau ada pengunjung yang ingin menginap di sini, ingin menikmati pemandangan malam  jadi kecewa,” terangnya.

Ia juga menyoroti taman dengan patung Joko Tingkir naik gethek di kelilingi oleh buaya. Ia mempertanyakan Joko Tingkir sebagai ikonya Salatiga.

“Apa benar, Joko Tingkir itu ikon kota Salatiga? kami menyarankan agar segera dibenahi fisik bangunan, taman disesuaikan dengan ikon kota atau kabupaten yang bersangkutan. Kami berharap, dengan segala keterbatasan yang ada bisa mengoptimalkan PRPP,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

PRPP dan Maerokoco Hanya ‘Begitu-begitu’ Saja, Begini Reaksi Dewan

Wahana bianglala menjadi ikon PRPP, yang beroperasi saat pagelaran Jateng Fair berlangsung. (dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Kompleks Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah yang di dalamnya juga mencakup Maerokoco, dinilai mempunyai potensi besar sebagai tempat wisata unggulan. Hanya saja, perkembangan PRPP dinilai hanya jalan di tempat, sehingga menjadikan kawasan tersebut tak menarik.

Padahal jika digarap dengan serius, PRPP bisa menjadi sumber pendapatan yang cukup besar bagi Pemprov Jateng. Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto mengatakan, pihaknya telah mendesak Pemprov Jateng dan manajamen PRPP untuk mengoptimalkan kawasan itu.

Yakni dengan mempercantik dan menambah wahana yang ada. Politisi PDI Perjuangan ini menyebut, kondisi PRPP saat ini yang kurang menarik, menjadikan potensi besar PAD menjadi tak maksimal.

“Kurang variatifnya wahana yang ada, menjadikan sepi pengunjung. Padahal lokasinya strategis dan luas. Ini harus ada pembenahan dan inovasi, sehingga bisa menarik pengunjung dan menjadi ikon pariwisata Jateng,” katanya.

Ia juga menyoroti keberadaan Maerokoco yang berisi miniatur rumah adat di Jawa Tengah. Karena, pemerintah kabupaten/kota juga tidak bisa mewawat, sehingga keberadaan rumah adat tersebut terabaikan.

Bahkan, banyak rumah adat yang kondisinya rusak parah dan justru bisa merusak keindahan PRPP. “Kalau kami inginya bisa diubah menjadi resort area, bisa tetap menggunakan rumah adat. Manfaatnya akan jauh lebih banyak dan bisa menambah pemasukan,” ujarnya.

Bogi-begitu sapaan akrabnya-meminta agar Pemprov terus melakukan inovasi untuk mempercantik kawasan PRPP. Misalnya dengan menambah wahana baru dan membangun bisnis rumah makan.  Jelas itu sangat bagus, karena lokasinya yang sangat luas dan berada di dekat perlintasan jalanan yang melintas di Jateng.

“Jika digarap dengan bagus bisa menjadi ikon baru di Jateng dan bisa meningkatkan pendapatan yang potensial,” tegasnya.

Sebenarnya, kawasan PRPP sudah mulai berbenah. Bahkan, dalam kunjungan sudah mulai meningkat. Dari laporan yang diterima, setiap weekend setidaknya sekitar 3000-4000 pengunjung yang datang ke kawasan tersebut. Meski begitu, dari segi pendapatan masih belum banyak memberikan kontribusi.

“Dari laporan yang kami terima sebenarnya sudah ada keuntungan misalnya di tahun 2016 ada sebesar Rp 800 juta, tetapi memang masih digunakan untuk menambal kebutuhan kerugian di tahun sebelumnya,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha