Belakang Ruko Mega Plaza Juwana Digrebek Polisi, 5 PSK Diamankan

MuriaNewsCom, Pati – Polsek Juwana kembali melakukan kegiatan operasi terhadap tempat prostitusi Rabu (24/1/2018) malam. Dalam kegiatan tersebut, petugas berhasil mengamankan lima wanita yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kapolsek Juwana AKP Didi Dewantara mengatakan, kelima PSK itu diamankan dari satu tempat, yakni belakang Ruko Mega Plaza Juwana di Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana. Kelimanya tertangkap basah sedang menunggu pria hidung belang.

”Tadi malam, ada lima wanita yang kami amankan. Mereka kedapatan menjajahkan diri saat operasi digelar sekitar pukul 22.00 WIB,” katanya kepada awak media

Kapolsek menyebutkan, kelima PSK itu berasal dari berbagai wilayah. Yakni Jepara satu orang, Demak satu orang, Semarang Barat satu orang, dan Pati dua orang.

”Untuk usianya berkisar antara 30 hingga 47 tahun. Kelimanya kami data dan diberi pembinaan saja. Tidak ada penahanan,” tegasnya yang memimpin langsung operasi tersebut.

Disinggung terkait dugaan Ruko Mega Plaza yang jadi jujugan razia, Didi mengaku mendapat informasi tersebut dari masyarakat. Petugas yang mendapat laporan tersebut sempat melakukan pengintaian.

Karena khawatir semakin meresahkan, pihaknya pun langsung menginstruksikan untuk segera menggelar operasi. Selain untuk menekan praktik prostitusi, operasi tersebut ditujukan untuk menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polsek Juwana.

”Kalau dibiarkan, tidak menutup kemungkinan Kecamatan Juwana terkenal akan prostitusinya. Karena itulah rencananya giat seperti ini akan kami galakkan secara rutin,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Tak Bosan Gelar Razia, Polwan Ini Minta PSK di Pati Segera Insaf

Salah satu pemilik warung kopi remang-remang di Bumimulyo menandatangani surat pernyataan untuk tidak membuka praktek prostitusi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang polisi wanita (polwan) yang saat ini menjabat sebagai Kapolsek Batangan, AKP Endah Setianingsih meminta kepada pekerja seks komersial (PSK) di Pati untuk segera insaf dan mencari rezeki yang halal.

Hal itu disampaikan AKP Endah dalam agenda pembinaan dan penyuluhan kepada pemilik dan penyewa warung kopi di kawasan jalan pantura Dukuh Mujil, Bumimulyo, Batangan, Kamis (14/12/2017).

“Saya mengimbau kepada para PSK untuk segera insaf dan sadar, lalu bekerja mencari nafkah di jalan yang benar,” kata AKP Endah.

Polwan yang satu ini memang kerap merazia warung kopi remang-remang yang berada di kawasan Kecamatan Batangan. Para PSK yang terciduk sudah sering dibina, sedangkan penjual miras dikenakan tipiring.

Dia juga mengimbau kepada pemilik warung kopi untuk menghentikan praktek prostitusi berkedok warung kopi. Pihaknya tidak akan bosan untuk melakukan razia.

“Kami dari Polsek Batangan tidak akan pernah bosan untuk merazia dengan sasaran penyakit masyarakat, baik prostitusi maupun miras. Jangan sampai yang sudah pernah terazia, masih bandel melanjutkan praktek prostitusi lagi,” imbaunya.

Terakhir, Polsek Batangan merazia sejumlah warung kopi remang-remang. Dalam razia tersebut, polisi mengamankan mucikari, PSK, termasuk pemandu karaoke di kawasan lokalisasi Mawar Indah.

Editor: Supriyadi

Jadi Mucikari, Pemilik Warung Kuro-kuro di Ngrames Pati Terancam 16 Bulan Penjara

Polisi menggrebek warung kopi di Ngrames, Sukoharjo, Wedarijaksa yang dijadikan tempat prostitusi terselubung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilik warung kuro-kuro Dukuh Ngrames, Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati berinisial WW (34) alias Dela ditangkap polisi, Rabu (31/8/2017) sore. Pelaku ditetapkan tersangka setelah terbukti menjadi mucikari di tempat prostitusi berkedok warung kopi.

Sebelum membekuk pelaku, polisi melakukan penyelidikan intensif ke warung kopi tersebut. Setelah terbukti menjadi mucikari, polisi langsung melakukan penyergapan.

“Pelaku dikenakan Pasal 296 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun 4 bulan. Dia terbukti telah mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul. Selain mengamankan barang bukti, ada empat saksi yang sudah kami amankan,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum, Kamis (31/8/2017).

Barang bukti yang diamankan, antara lain satu HP Samsung Galaxi J5 milik tersangka, satu unit HP Samsung Core 2 milik saksi, dan uang tunai Rp 250 ribu milik saksi lainnya.

Adapun modus operansi yang dilakukan, pelaku berjualan kopi di rumah kontrakannya sembari menawarkan pelanggan untuk bermain seks di dalam kamar tidur. Ketiga saksi yang diciduk polisi adalah pelanggan yang menggunakan jasa esek-esek.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa warung kopi itu digunakan untuk praktik prostitusi. Setelah itu, kami menerjunkan intelejen untuk melakukan penyelidikan. Setelah informasi itu benar dan ada barang bukti, kami langsung melakukan penggrebekan dan penangkapan pelaku,” jelas AKP Sulis.

Saat penggrebekan berlangsung, ada dua orang yang berada dalam satu kamar dalam keadaan terkunci. Namun, polisi berhasil membawa pelaku dan saksi-saksi beserta barang bukti ke Mapolsek Wedarijaksa.

Editor: Supriyadi

Ini Lokasi di Jepara yang Diduga jadi Tempat Prostitusi Terselubung

Satpol PP Saat menciduk PSK dari salah satu tempat di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Satpol PP Saat menciduk PSK dari salah satu tempat di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Keberadaan bisnis esek-esek di Kabupaten Jepara tidak dapat dipungkiri adanya. Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) Jepara memiliki daftar sejumlah tempat yang diduga menjadi tempat prostitusi terselubung.

Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa melalui Kabid Penegakan Perda, Sutarno menyebutkan, sejumlah rumah di kawasan Pereng di Desa Mulyoharjo, masih kerap dijadikan tempat transaksi haram tersebut. Si pemilik rumah sengaja menyewakan kamar rumahnya untuk pasangan selingkuh.

“Selain menyewakan kamar, juga ada wanita yang mangkal. Mereka beroperasi kucing-kucingan dengan kami, setiap dioperasi selalu berhasil melarikan diri,” kata Sutarno, Rabu (2/3/2016)

Kondisi serupa juga ada di Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo. Salah satu rumah disana ada yang dijadikan tempat singgah para penjaja kenikmatan sesaat. Dari hasil penelusuran dan razia yang dilakukan, ada enam kamar yang disewakan untuk melampiaskan syahwat para pria hidung belang.

“Di Desa Jambu juga sudah berulangkali kami grebek, tapi ya, tidak jera. Modusnya menyewakan kamar untuk mesum, tapi juga ada perempuan yang mangkal,” terang Sutarno.

Lebih lanjut Sutarno menyebutkan, di Desa Krasak, Kecamatan Bangsri terdapat dua tempat yang acap kali dijadikan lokasi prostitusi. Si pemilik rumah sengaja menyewakan kamar-kamar rumahnya untuk berbuat mesum.

“Di Desa Tanjung, Kecamatan Pakisaji ada. Di Desa Tanggultlare, Kecamatan Kedung juga ada. Modusnya sama, hanya menyewakan tempat,” katanya.

Selain di rumah-rumah warga, praktik prostitusi juga terjadi di Pasar Hewan. Menurut dia, Pasar Wage di Kecamatan Keling, jika pagi untuk berdagang hewan, namun saat malam tiba untuk bisnis prostitusi.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Ini Bocoran Aturan Karaoke dan Rumah Pijat di Jepara

Terungkap, Prostitusi di Jepara Tersebar di Pelosok Desa

Wanita Tuna Susila saat diamankan ke kantor Satpol PP Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Wanita Tuna Susila saat diamankan ke kantor Satpol PP Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Bisnis esek-esek di Kabupaten Jepara memang tidak secara terang-terangan ada seperti di kota besar. Namun, praktik prostitusi terselubung didapati oleh sejumlah petugas penertiban dan keamanan Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) Jepara. Ada sejumlah lokasi yang diduga menyediakan bisnis haram ini.

Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa melalui Kabid Penegakan Perda, Sutarno mengatakan, di wilayah Kabupaten Jepara memang tidak ada tempat yang digunakan untuk prostitusi secara khusus dan terang-terangan. Tetapi pihaknya mengetahui informasi baik dari masyarakat maupun secara langsung.

“Secara resmi memang tidak ada lokalisasi praktik prostitusi. Tetapi, yang terselubung ada, bahkan sampai di desa-desa,” kata Sutarno, Rabu (2/3/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan,pihaknya telah beberapa kali melakukan razia. Pihaknya kesulitan menghadapi pelaku praktik prostitusi terselubun. Ketika dirazia mereka melarikan diri, kemudian kucing-kucingan.

“Berkali-kali kami melakukan razia, tetapi kebanyakan mereka melarikan diri. Ketika kami gerebek, hanya segelintir saja yang berhasil ditangkap,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, tempat yang biasa, sejumlah rumah di kawasan Pereng di Desa Mulyoharjo, kerap dijadikan tempat transaksi. Si pemilik rumah sengaja menyewakan kamar rumahnya untuk pasangan selingkuh.

“Selain menyewakan kamar, juga ada wanita yang mangkal. Mereka beroperasi kucing-kucingan dengan kami, setiap dioperasi selalu berhasil melarikan diri,” kata Sutarno.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : 6 PSK Diciduk di Tempat Pembuatan Batu Bata yang jadi Lokasi Esek-esek di Trangkil Pati 

Satu PSK Diamankan dari Kawasan Pasar Wage Pati

Petugas Satpol PP membakar gubug mesum yang kembali berdiri di kawasan Pasar Wage Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Petugas Satpol PP membakar gubug mesum yang kembali berdiri di kawasan Pasar Wage Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Pada Ramadan ini, Satpol PP gencar menggelar razia di sejumlah kawasan yang diduga digunakan untuk tempat prostitusi. Seperti halnya pada Selasa dini hari, petugas merazia gubug mesum yang masih nekat berdiri di kawasan Pasar Wage.

Adanya tempat prostitusi ini, dinilai selain merusak moralitas warga Pati yang saat ini dikenal sebagai kota maksiat, prostitusi liar dengan berdirinya gubug mesum membuat penyakit ganas HIV/AIDS mudah menyebar. Karena itu, pihak Satpol PP saat ini punya PR berat untuk memerangi prostitusi di Kabupaten Pati.

Dari hasil razia dan pembakaran gubug mesum tersebut, Satpol PP berhasil mengamankan satu pekerja seks komersial (PSK) dari kawasan Pasar Wage. “Kami mengamankan satu PSK untuk kami lakukan pendataan dan pembinaan,” ujar Kasi Penegakan Perda Satpol PP kabupaten Pati Irwanto kepada MuriaNewsCom.

Gubug mesum biasanya dibangun di pinggiran lahan perkebunan tebu. Saat dikonfirmasi, pemilik lahan tebu mengaku tidak tahu jika daerah pinggiran lahan digunakan untuk mendirikan gubug mesum. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Amarah Petugas Satpol PP Memuncak, Gubug Mesum yang Muncul Lagi di Kawasan Pasar Wage Dibakar

Petugas Satpol PP membakar gubug mesum yang kembali berdiri di kawasan Pasar Wage Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Petugas Satpol PP membakar gubug mesum yang kembali berdiri di kawasan Pasar Wage Pati (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Satpol PP nampaknya sudah tak punya cara lagi untuk mengatasi gubug mesum yang kian menjamur di kawasan Pasar Wage, Kecamatan Margorejo. Dalam kurun waktu tiga bulan, Satpol PP Pati sudah membakar gubug mesum hingga tiga kali.

Terakhir, Satpol PP membakar gubug mesum pada Selasa (7/7/2015) petang dini hari. Sebelumnya, Satpol PP sudah memberangus sejumlah gubug mesum pada Mei lalu. Dari pembakaran itu pula, gubug mesum mati satu tumbuh seribu.

Pihak Satpol PP pun kesal sejadi-jadinya. “Kami tidak habis pikir. Kami sudah merubuhkan dan membakar gubug yang digunakan untuk prostitusi beberapa waktu lalu, tapi ini masih banyak berdiri lagi. Bertepatan dengan Ramadan pula. Mereka tak pernah jera,” ujar Kasi Penegakan Perda Satpol PP kabupaten Pati Irwanto kepada MuriaNewsCom. (LISMANTO/KHOLISTIONO)