Kafilah Jateng Berhasil Gusur Dominasi Jatim di MQK Nasional 2017

Sekda Jateng Sri Puryono menyerahkan piala terhadap pemenang MQK ke-VI di Ponpes Balekambang, Jepara, Selasa (5/12/2017) malam. (Humas Pemprov Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Kafilah Jawa Tengah berhasil menjadi juara umum dalam Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Tingkat Nasional ke-VI tahun 2017 yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Mubtadi’in Balekambang, Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Kontingen provinsi ini berhasil mengungguli Jawa Timur yang selalu menjadi juara umum sejak MQK kali pertama digelar pada 2012.

Dalam MQK Nasional tahun 2017 ini, khafilah Jawa Timur harus puas berada di posisi kedua. Sementara, posisi ketiga ditempati Jawa Barat, diikuti Kalimantan Selatan di tempat keempat, dan Aceh urutan kelima.

MQK ke-VI ditutup Selasa (5/12/2017) malam oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sri Puryono yang mewakili gubernur. Sri Puryono menyebut sangat bangga dengan keberhasilan kafilah dari Jateng.

Sri Puryono mengatakan, lomba membaca kitab kuning tingkat nasional itu tidak hanya untuk meraih prestasi. Namun juga bagian dari rangkaian pembangunan dan pembentukan karakter bangsa yang berkepribadian Pancasila.

“Jadikanlah pengalaman MQK untuk terus membangun pola pikir dan perilaku yang santun serta rasional. Sehingga dapat menjadi contoh dalam memperkuat perdamaian, ketentraman, dan kerukunan,” katanya.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamarudin Amin mengatakan, MQK merupakan wahana pengembangan kualitas akademik ponpes. Karena kitab kuning yang menjadi core bussiness-nya dijadikan dasar dan basis majelis-majelis lomba di MQK ini.

Kamarudin menjelaskan kitab kuning yang ditulis oleh para intelektual muslim pada abad pertengahan, masih memiliki relevansi dan kualitas untuk terus-menerus dikaji. Kandungan kitab tersebut bahkan mengajarkan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai.

“Nilai-nilai moderatisme inilah yang terkandung dalam kitab kuning. Maka tidak heran jika ponpes yang kuat dalam kitab kuningnya cenderung memiliki pemahaman yang sangat toleran dalam sikap keberagamaannya,” ujarnya.

Ditambahkan, MQK di tahun ini menunjukan peningkatan kualitas baca kitab kuning di kalangan santri yang semakin merata. Tidak hanya terfokus di Pulau Jawa, namun juga di luar Pulau Jawa, khususnya Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Selain 25 majelis yang dilombakan ada empat majelis lomba khusus, yakni dua majelis debat bahasa Arab dan dua majelis debat bahasa Inggris.

“Kami berharap hasil MQK ini memberikan rasa optimisme dan semangat untuk terus memperbaiki kajian kitab kuning di ponpes yang lebih baik,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jokowi Minta Maaf Tak Bisa Datang ke Balekambang Jepara

Joko Widodo, Presiden RI. (FB Presiden Joko Widodo)

MuriaNewsCom, Jepara – Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK) ke VI di Ponpes Roudlotul Mubtadiin, Balekambang, Kecamatan Nalumsari, Jepara, dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Jumat (1/12/2017).

Dalam kesempatan itu menag membawa pesan permintaan maaf dari Presiden RI Joko Widodo karena urung hadir.

“Saya menyampaikan salam dari presiden, diiringi permintaan maaf dari beliau. Semalam dalam peringatan Maulid Nabi di Istana Bogor, Presiden secara khusus menyampaikan maafnya karena tak bisa hadir (dalam Pembukaan MQK di Ponpes Roudlotul Mubtadiin),” tuturnya, sebelum memulai pidato sambutan.

Menurutnya,  presiden tak bisa hadir karena butuh istirahat. Hal itu karena sejak menikahkan putrinya Kahiyang, Joko Widodo tidak mengambil cuti dan terus melaksanakan kegiatan kenegaraan.

“Setelah melakukan rutinitas tersebut beliau sebagai manusia biasa juga merasa cukup lelah dan membutuhkan istirahat,” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga sempat menyinggung terkait ketidakhadiran Joko Widodo. 

“Saya yakin kehadiran dari Pak Menteri Agama, merupakan wakil dari Pak Presiden,” tuturnya singkat.

Rencana kedatangan Presiden Joko Widodo memang sudah lama dipersiapkan. Pada bulan November lalu, Pemkab Jepara pun telah melakukan rapat-rapat persiapan. 

Seperti yang dilakukan pada tanggal 22 November 2017, pemkab bersama jajaran Polri dan TNI melakukan rapat persiapan kedatangan presiden. Dalam rapat dibahas pengamanan akan melibatkan 1.861 personel gabungan. 

Meski demikian, ketidakhadiran presiden tak mengurungkan semangat para peserta MQK ke VI di Ponpes Roudlotul Mubtadiin.

Acara pembukaan berlangsung meriah, dengan parade kafilah dan pertunjukan tari kolosal tentang Ratu Kalinyamat. Acara tersebut diikuti oleh 1.456 santri dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Editor : Ali Muntoha

Menteri Agama Instruksikan Pemerintah Daerah Bantu Pesantren

Menag, Lukman Hakim Saifudin saat membacakan sambutannya dalam pembukaan MQK Nasional ke VI di Ponpes Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Nalumsari-Jepara, Jumat (1/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin membuka Musabaqoh Qiraatil Kutub (MQK) Nasional 2017 Ke VI di Ponpes Roudlotul Mubtadiin, Desa Balekambang, Kecamatan Nalumsari Jepara, Jumat (1/12/2017). 

Ia mewakili Presiden Joko Widodo yang urung hadir pada kegiatan yang berlangsung hingga 7 Desember 2017 tersebut. 

Dalam sambutannya, Menag menyebut bahwa pondok pesantren merupakan Indonesia dalam bentuk mini. Lembaga ini tak bisa dilepaskan dari kesejarahan republik ini. Tanpa sumbangsih perjuangan dari santri, kata menteri, belum tentu negara ini bisa terbentuk.

“Ponpes merupakan miniatur Indonesia. Lembaga ini merupakan bagian perjuangan yang tak dapat dipisahkan dari sejarah kita,” ucapnya.

Selain itu, ia menggaris bawahi bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sejak dahulu hidup mandiri. Maka dari itu, ia meminta pemerintah daerah juga ikut memperhatikan kehidupan ponpes dengan cara menyisihkan anggaran khusus.

“Pemerintah daerah dan tentunya pemerintah pusat sudah sepantasnya membantu pesantren. Kami (Kemenag RI) akan terus meningkatkan alokasi untuk pesantren. Di tingkat daerah pun demikian, sudah seharusnya mengalokasikan anggaran untuk membantu pesantren maupun pendidikan diniyah,” ungkap Lukman. 

Lebih lanjut, ia meminta regulasi-regulasi yang menghalangi bantuan kepada pondok pesantren agar segera dievaluasi dan dihilangkan. Hal itu bertujuan agar bantuan yang dikucurkan bisa terlaksana dan bertambah kepada pesantren.  

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyambut baik dengan terselenggaranya MQKN Ke VI di Jepara. Baginya, ajang ini merupakan kesempatan untuk mengkaji tentang kitab kuning terkait dengan bangsa Indonesia. 

“Saya lebih tertarik lagi ada debat konstitusi berbasis kitab kuning. Debat ini akan lebih memantapkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara,” tutur dia.

Terpisah, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku akan membahas instruksi dari Menag RI. Menurutnya, saat ini Pemkab Jepara telah mengalokasikan anggaran untuk pesantren meskipun tidak banyak.

“Setiap bulan, kita sudah mengalokasikan fasilitasi kepada mereka (pondok pesantren) sebesar Rp 5 juta. Meskipun itu jauh dari harapan. Ke depan akan kita tingkatkan sesuai dengan kemampuan anggaran kita,” janji Marzuqi yang juga seorang tokoh kiai dari Nahdlatul Ulama. 

Pada kegiatan MQK N Ke VI diikuti oleh 1.456 santri (sebelumnya rilis dari penyelenggara menyebut 2.680), dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Mereka akan berlomba dalam tiga lomba yakni, membaca, menerjemahkan dan memahami kitab kuning. 

Editor : Ali Muntoha

MQK VI di Balekambang Jepara Hari Ini Dibuka, Ribuan Santri Jadi Peserta

Santri di Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Balekambang, Jepara. Ponpes ini akan menjadi lokasi MQK N VI 2017. (Ponpes Balekambang)

MuriaNewsCom, Jepara – Musabaqoh Qira’atil Kutub (MQK) Nasional ke VI di Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Balekambang, Nalumsari, Jepara bakal diikuti 2.680 santri. Kegiatan ini akan dibuka secara resmi pada Jumat (1/12/2017) besok pukul 14.00 WIB. 

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Ahmad Zayadi mengatakan, bila sesuai jadwal, Presiden RI Joko Widodo akan membuka langsung kegiatan tersebut.

“Upacara pembukaan akan berlangsung di lapangan Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Balekambang, Jepara,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima MuriaNewsCom, Kamis (30/11/2017). 

Selain itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama sejumlah menteri kabinet kerja dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga dijadwalkan hadir dalam acara tersebut. 

Persiapan MQK ke VI menurut Zayadi telah mendekati tahap akhir. Para santri dari perwakilan provinsi telah tiba sejak Rabu (29/11/2017). Selain itu, dewan juri juga telah tiba di venue acara pada siang ini.

Ada tiga perlombaan pokok dalam MQK. Pertama, lomba membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan dan terbagi dalam tingkatan, yaitu: dasar, menengah, dan tinggi.

Untuk marhalah ula (tingkat dasar), lanjut Zayadi, ada lima bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), AkhlakTarikh (sejarah), dan Tauhid

Marhalah ula diikuti santri yang sudah berada di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal lima belas tahun kurang sehari,” ujarnya.

Untuk marhalah wustha (tingkat menengah), ada sembilan bidang lomba, yakni: Fiqh, Nahwu (gramatika Bahasa Arab), Akhlak, Tarikh (sejarah), Tafsir, HadisUshul Fiqh, Balaghah, dan Tauhid. Bidang ini diikuti para santri yang sudah menetap minimal satu tahun di pondok pesantren dengan usia maksimal 18 tahun kurang sehari.

Sedang untuk marhalah ulya (tingkat tinggi), ada 11 bidang lomba. Selain sembilan bidang lomba seperti yang dilombakan pada tingkat menengah, dua lainnya adalah bidang Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadis.

Marhalah ulya ini akan diikuti santri yang sudah mukim di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal 21 tahun kurang sehari,” urainya.

Kedua, lomba debat konstitusi berbasis kitab kuning. Lomba ini akan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris.

Ketiga, Eksibisi, yaitu pertunjukkan atraktif tentang nazham kitab populer di pondok pesantren yang diisi oleh Tim (maksimal 5 orang) dari setiap kafilah. Nazham yang akan ditampilkan antara lain dari kitab  Alfiyah Ibn Malik (kitab berisi 1000 bait syair tentang ilmu gramatika Bahasa Arab).

Selain kegiatan pokok tersebut, ada sejumlah kegiatan penunjang yang dihelat di lokasi MQK. Kegiatan penunjang sifatnya tidak dilombakan. Kegiatan sersebut adalah Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren, Sarasehan dan Musyawarah MQK, Bazar dan Pameran Produk Pondok Pesantren, Diskusi Kepesantrenan dan Kitab Kuning, Pentas Seni kaum santri.

Menurut Ahmad Zayadi, pentas seni MQK 2017 juga akan menghadirkan Habib Syeikh. Habib Syeikh dijadwalkan mengisi Pentas Seni, pada Sabtu, (2/12/2017), mulai pukul 19.30 WIB.

Editor : Ali Muntoha