Ada Ulama Dianiaya, Polda Jateng Ikut Razia Orang Gila

MuriaNewsCom, Semarang – Polda Jawa Tengah menginstruksikan jajarannya untuk ikut melakukan razia terhadap orang gila yang berkeliaran di jalanan. Instruksi ini dilakukan, sebagai upaya untuk menekan adanya gangguan keamanan dan mencegah munculnya provokasi.

Kebijakan ini diambil sebagai imbas peristiwa penyerangan tokoh agama dan tempat ibadah di Jawa Timur, dengan pelaku orang gila. Razia ini telah dilakukan di beberapa tempat di Jateng dengan menggandeng Dinas Sosial.

”Di Cilacap, Kebumen dan Solo sudah dilakukan bersama Dinas Sosial. Ada 20 (orang gila) yang didapat,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Rabu (21/2/2018).

Ini dikatakan kapolda di sela-sela Rakernis Intelkam tahun 2018 di Hotel Patrajasa, Semarang. Rapat kerja ini digelar untuk mengurangi ganguan kamtibmas slama pilkada serentak 2018.

Seperti diketahui sebelumnya, KH Hakam Mubarok, pengasuh Ponpes Muhammadiyah di Karangasem, Paciran, Lamongan diserang orang gila hingga mengalami luka-luka. Beberapa waktu lalu, Masjid Baiturrahim di Jalan Sumurgempol Nomor 77 Karangsari, Tuban, Jawa Timur juga dirusak orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.

Kapolda menyebut, jajaran intel telah diperintahkan untuk melakukan deteksi dini. Sehingga peristiwa yang terjadi di Jawa Timur tak terjadi di provinsi ini, karena berpotensi memicu provokasi dan kerusuhan. “Penekanan ke jajaran intelejen harus deteksi dini untuk mereduksi ganggaun kamtibmas,” ujarnya.

Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto bersilaturahmi ke Ponpes Al Hikmah Benda. (Humas Polres Tegal Kota)

Jajaran kepolisian diperintahkan melakukan pendekatan ke tokoh-tokoh agama dan pondok pesantren, serta ikut salat berjamaah di pondok tersebut.

“Untuk pejabat Polda Jateng bersilaturahmi ke ulama, pendeta, dan sebagainya. Misal (untuk muslim), bermalam di pondok pesantren, melaksanakan tabligh akbar dan solat subuh berjamaah, ikut ke pondok dan masjid,” terangnya.

Untuk saat ini, hasil deteksi dini gangguan kamtibmas baik yang membawa unsur agama atau Pilkada di Jawa Tengah masih kondusif. Namun Condro meminta anggotanya tidak lengah agar tidak ada provokasi menggunakan unsur-unsur tersebut.

“Kita tidak ingin ada provokasi dengan isu agama. Hasil deteksi, di Jateng kondusif aman,” pungkasnya.

Langkah pendekatan ke tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren ini telah dilaksanakan di setiap jajaran polres, hingga ke tingkat polsek. Seperti yang dilakukan Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto beserta sejumlah pejabat utamanya, yang mengunjungi sejumlah ulama dan ponpes. Salah satunya Pondok Pesantren Al Hikmah Benda, Selasa (20/2/2018) petang dan disambut pengasuh ponpes KH Labib Shodiq Sukhaemi.

Kapolres mengatakan, melalui kunjungan tersebut pihaknya berharap bisa terjalin hubungan silaturahmi antara pondok pesantren dengan Polres. Ia berharap agar para santri membantu Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Saya juga berharap agar para santri pondok pesantren tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif atau isu-isu dan informasi yang beredar dan belum tentu kebenaranya,” ujar AKBP Jon Wesly.

Editor : Ali Muntoha

Komisi D DPRD Kudus Bentuk Tim Penguatan Perda Diniyah

Komisi D DPRD Kudus melakukan rapat dengan instansi terkait untuk membahas Perda Diniyah yang sudah lama di sahkan namun belum dilaksanakan, Kamis (26/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi D DPRD Kudus membentuk tim penguatan perda diniyah, Kamis (26/10/2017). Pembentukan tim, dilakukan agar perda yang sudah disahkan 2013 lalu dapat segera dilaksanakan. 

Pembentukan tim dilakukan saat pembahasan tindak lanjut Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah yang hingga kini belum berjalan. Bahkan untuk Perbup juga belum ada sehingga dibentuklah tim tersebut.

Ketua Komisi D DPRD Kudus Setia Budi Wibowo mengatakan, tim tersebut terdiri dari sejumlah kalangan. Seperti Disdikpora Kudus, Kemenag Kudus serta unsur lainya. Dia berharap dengan adanya tim, maka perda dapat diterapkan di Kudus.

“Jadi nantinya para siswa di Kudus khususnya yang beragama Islam dapat mengerti agama serta bisa membaca Alqur’an,” katanya saat memimpin pertemuan di ruang komisi D.

Menurut dia, dibentuknya tim lantaran prihatin akan terkatung-katung nya perda tersebut selama empat tahun. Bahkan Disdikpora juga terkesan diam dengan tak mengupayakannya adanyà perbup.

Ahmad Junaidi, perwakilan Disdikpora mengatakan, soal teknis pelaksanaan perda bisa dilaksanakan. Seperti meminta guru untuk mengajar agama di sekolah tingkat SD SMP usai pulang sekolah, atau meminta siswa sekolah madrasah Diniyah di tempat yang dekat dari kediamannya.

Kepala Kemenag Kudus Noor Badi yang juga hadir berharap perda dapat segera dilaksanakan. Supaya, generasi kedepan khususunya asal Kudus akan tahu agama dan dapat membaca  Alqur’an.

Berdasarkan data, Di Kabupaten Kudus, ada 251 madasah diniyyah yang tersebar di sembilan kecamatan. Selain itu ada juga taman pendidikan Alquran (TPQ) sebanyak 308. Masih ada lagi pondok pesantren salafiyah yang jumlahnya mencapai 82 unit.

Editor: Supriyadi

Libatkan Ribuan Santri Ponpes, Peringatan Hari Santri di Grobogan Diprediksi Lebih Semarak

Kabag Kesra Moh Arifin memimpin rakor persiapan peringatan HSN di ruang rapat Setda Grobogan lantai I, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Grobogan diperkirakan lebih semarak dibanding tahun lalu. Ribuan santri dari pondok pesantren yang tersebar di berbagai kecamatan bakal dilibatkan untuk mendukung peringatan HSN.

”Peringatan HSN akan dilangsungkan 22 Oktober nanti. Pelaksanaan HSN ini kita upayakan agar meriah dan menarik dengan melibatkan ribuan santri,” kata Kabag Kesra Moh Arifin, usai menggelar rapat persiapan HSN di ruang rapat Setda Grobogan lantai I, Kamis (31/8/2017).

Rapat koordinasi persiapan HSN dihadiri Ketua PCNU Grobogan Abu Mansyur dan jajaran pengurusnya. Hadir pula Ketua Syuriah PCNU KH Khambali serta perwakilan dari sejumlah ponpes.

Menurut Arifin, dalam rakor disepakati akan dibentuk sebuah kepanitiaan khusus HSN. Panitia ini akan melibatkan unsur Pemkab Grobogan, PCNU, Ponpes dan sejumlah pihak terkait lainnya. Pihak panitia inilah nantinya yang akan merumuskan konsep terbaik agar pelaksanaan HSN bisa sesuai rencana.

”Banyak usulan terkait peringatan HSN. Seperti diadakan pentas seni, pawai ta’aruf, dan lainnya. Nanti, untuk rangkaian acara terbaik akan diputuskan panitia. Satu kegiatan yang pasti dilakukan adalah upacara peringatan HSN di alun-alun,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Santri di Pati Diajari Wirausaha Berbasis Teknologi Informasi

Santri, pelajar dan mahasiswa mengikuti workshop technopreneurship di Ponpes Al Falah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri, pelajar dan mahasiswa diajari wirausaha berbasis teknologi informasi (IT) dalam workshop technopreneurship bertajuk “Membangun Spirit Technopreneurship Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi” di Ponpes Al Islah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017).

Kegiatan tersebut diadakan Java Literacy School bekerja sama dengan PC IPNU IPPNU Pati dan Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Tengah.

Tiga narasumber yang hadir, antara lain Hasan Chabibie dari Pusat Teknologi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, internet marketer Rifan Heryadi, dan santripreneur IPNU Pati Irham Shodiq.

“Arus teknologi informasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini tidak bisa dihindari sehingga harus ditangkap dengan baik oleh para santri, pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan usahanya,” kata Hasan.

Lebih dari itu, Hasan menjelaskan, pelaku wirausaha berbasis IT di Indonesia masih sebatas menggunakan karya orang lain, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memproduksi teknologi untuk pengembangan usaha.

Kendati demikian, sikap melek IT sangat diperlukan agar para santri tidak tertinggal dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan IT sebagai usaha memasarkan produk dianggap sangat penting untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sementara itu, Rifan menambahkan, warga Indonesia memiliki pengguna media sosial tertinggi se-Asia. Karena itu, kondisi itu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasarkan produk-produk usahanya melalui IT.

“Generasi muda, para santri, pelajar dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal keterampilan untuk menyongsong arus teknologi informasi yang semakin tinggi. Terlebih, dunia masa depan akan menggunakan basis teknologi sehingga harus dipersiapkan sejak sekarang,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hidup di Pondok Juga Tetap Bisa Gaul

hafal alquran-2-tyg 21

Muhammad Sulthonun Nafi’ saat menghafal Alquran. Pada Mei mendatang, dia akan dites soal hafalan tersebut. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kasih ibu memang sepanjang jalan. Apapun akan dilakukan untuk bisa memberikan anaknya pendidikan yang terbaik. Sebagaimana seorang ibu yang menyekolahkan anaknya di pondok pesantren khusus menghafal Alquran.

Ini juga yang dilakukan Farida Hasanah, (34), warga Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus, yang memondokkan anaknya Muhammad Sulthonun Nafi’, 11 tahun, hingga anaknya menjadi hafidz atau penghafal Alquran.

Farida mengatakan, meski sejak kecil dipondokkan di Ponpes Yanbu’ul Quran, Krandon, Kudus, namun anaknya tetap bisa bersosialisasi. ”Tidak ada masalah saat hidup di pondok. Meski memang pondok ini khusus, tapi anak saya tetap bisa bergaul dengan teman-temannya. Karena berkomunikasi dengan rekannya juga harus penting. Sebab hidup di pondok itu harus selalu bersama-sama,” terangnya, Kamis (21/4/2016).

Menurutnya, sebelum memasuki ponpes, anaknya itu disekolahkan dahulu di MI NU TBS Kudus. Ini supaya anaknya bisa mempelajari baca tulis Alquran (BTA). ”Ini juga menunggu supaya anak saya genap 6 tahun, sebagaimana syarat masuk ke ponpes. Saat itu anak saya masih berusia 5 tahun,” ujarnya.

Dari Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, usia anak sekolah atau mondok di Ponpes Yanbu’ul Qur’an memang harus minimal 6 tahun. Atau setara dengan anak seusia kelas satu SD. Selain itu, di lingkungan ponpes juga disediakan sekolah formalnya, yakni MI Tahfidhul Quran TBS.

Farida mengatakan, anaknya itu memang sudah hafal 30 juz. Namun, tes baru akan dilaksanakan pada bulan Mei mendatang. Untuk bisa ikut memantau, dirinya juga sering berkonsultasi dengan para pendidik, kiai yang ada di ponpes tersebut.

”Bagi orang tua, jangan takut untuk bisa memondokkan putra-putrinya. Sebab saat ini dunia pendidikaan pondok pesantern juga bisa dijadikan bekal masa depan. Dan yang paling inti ialah, demi mendapatkan ilmu, kita sebagai orang tua harus bisa selalu ikhlas. Termasuk jika tidak bertemu atau memendam kangen terhadap putra putrinya selama mondok,” imbuhnya.

Editor: Merie

Mengkritisi Kurikulum Pendidikan Islam yang Baru

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pendidikan Islam di sekolah umum dan sekolah berciri khas Islam (madrasah dan ponpes) menurut Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamarudin Amin pada tahun 2016 menggunakan kurikulum pendidikan Islam yang baru. Kurikulum bernama kurikulum pendidikan Islam rahmatan lil’alamin yang menekankan kedamaian, toleransi, dan moderasi.

Kurikulum bagi 76 ribu madrasah dengan 9 juta murid, 30 ribu ponpes, dan 700-an perguruan tinggi Islam (Kompas, 22/3/2016). Menyikapi perubahan itu, Moh Rosyid, pegiat komunitas lintas agama dan kepercayaan pantura (Tali Akrap) menyatakan, hal yang mendasar selain materi kurikulum yang diperbarui, adalah pendidik/pengajar pada mata kuliah perbandingan agama di perguruan tinggi.

”Bila materi tentang agama non-Islam dididik oleh dosen atau pendeta/romo sesuai materi agama yang diajarkan,” ujarnya.

Rosyid melanjutkan, bila materi misalnya kekristenan diajarkan oleh dosen yang muslim dikhawatirkan terjadi pemutarbalikan kebenaran karena ketidakpahamannya atau faktor lain. Pendidikan agama diajarkan pendidik yang seagama sulit terwujud bila masih ada rasa bila diajarkan oleh dosen yang beragama non-Islam (karena materinya non-keislaman) berakibat permurtadan. Perasaan itu terkikis tatkala dibekali pemahaman secara kokoh dan tak fanatis.

”Memertahankan agama adalah sesuatu yang baku, tetapi memahami ajaran agama lain perannya sebagai pengetahuan, bukan dasar pindah agama,” tandas Rosyid pemerhati sejarah dari STAIN Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pondok Sarang dan PR Sukun Gelar Maulid Nabi

Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohhar saat memberikan ceramah agamanya di Pondok Pesantren Al Anwar Rembang atau yang dikenal dengan Pondok Sarang. (PR Sukun)

Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohhar saat memberikan ceramah agamanya di Pondok Pesantren Al Anwar Rembang atau yang dikenal dengan Pondok Sarang. (PR Sukun)

 

REMBANG – Pondok Pesantren Al Anwar Rembang atau yang dikenal dengan Pondok Sarang bersama PR Sukun menggelar serangkaian acara dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir Pondok Pesantren Al Anwar ke-49.

Acara yang dimulai dengan berbagai lomba jasmani dan rohani tersebut diikuti oleh para santriwan dan santriwati mulai tanggal 13 – 17 Desember 2015 lalu.

Di antaranya lomba tusuk air, giring balon, memasukkan paku, makan kerupuk, patol tarik tambang, tenis meja, lomba karya ilmiyah, kaligrafi, cerdas tangkas, lomba baca kitab (qiroatul kutub), baca puisi, sholawat nabi, tartil al qur’an, muhafadzoh nadzaman, dll.

Puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir Pondok Pesantren Al Anwar ke-49 yang dilaksanakan semalam (20/12/2015) menghadirkan Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohhar Semarang.

Dalam kesempatan tersebut Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohhar mengajak umat Islam khususnya kaum santri agar meneladani tindak laku nabi. Pandangan hidup enak adalah ketika kita punya semua hal yang bagus dalam hidup kita, seperti pasangan, anak, rumah bukan bagus secara fisik tetapi agamanya sehingga bisa merasa tentram hidupnya. (AKROM HAZAMI)