Usai Ziarah, Kapolsek Margoyoso Lawan 40 Penjudi Dadu Sendirian

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (berbaju putih) mengamankan barang bukti perjudian dadu, usai berziarah di Makam Syeh Mutamakkin dan Ronggokusumo, Kamis (19/1/2017) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (berbaju putih) mengamankan barang bukti perjudian dadu, usai berziarah di Makam Syeh Mutamakkin dan Ronggokusumo, Kamis (19/1/2017) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Upaya untuk memberantas penyakit masyarakat di Kecamatan Margoyoso yang dilakukan Kapolsek Margoyoso AKP Sugino ternyata bukan isapan jempol belaka. Bahkan, dia harus menghadapi sekitar 40 orang penjudi dadu, usai melakukan ziarah di Makam Syeh Mutamakkin dan Syeh Ronggokusumo, Kamis (19/1/2017) sore.

Tanpa ditemani anggotanya, AKP Sugino melakukan penggrebekan seorang diri. Pria kekar berpangkat tiga balok emas ini mengincar bandar dadu, sedangkan puluhan penjudi lainnya lari tunggang langgang.

“Saya fokus menangkap bandar judi. Saat saya berusaha tangkap sendirian, bandar dadu berusaha kabur. Saya sempat bergulat dengan bandar dadu untuk ditangkap tangan, tetapi dia berhasil lolos dan kabur,” ungkap AKP Sugino kepada MuriaNewsCom, Jumat (20/1/2017) pagi.

Dia nekat melakukan penggrebekan seorang diri, lantaran anggotanya lama tidak kunjung datang ketika dihubungi. Khawatir keberadaannya diketahui para penjudi, AKP Sugino memutuskan menangkap penjudi dadu sendirian.

Usai bergulat dengan bandar dadu, AKP Sugino berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Anggotanya kemudian datang, setelah bandar dadu berhasil kabur. “Habis ziarah dari makam, saya dapat informasi dari ibu-ibu di depan makam, memberitahu sedang ada judi dadu. Saya menghubungi anggota, tapi tidak kunjung datang. Akhirnya saya nekat menggerebek mereka sendirian,” tuturnya.

Sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan dari tempat kejadian perkara (TKP), antara lain satu lembar alas tikar, satu buah tempat dadu terbuat dari tempurung kelapa, tiga buah mata dadu, dua buah buku tulis bertuliskan rekapan angka, dua buah spidol warna hitam, dua lembar alas untuk mata dadu, dan uang tunai sebesar Rp 630 ribu.

Tak hanya itu, AKP Sugino juga mengamankan sepuluh unit sepeda motor, satu buah handphone Nokia warna putih, dan satu buah senter warna hitam. Barang bukti berhasil dibawa ke Mapolsek Margoyoso untuk dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut, sedangkan bandar judi berhasil lolos dari tangan AKP Sugino.

Editor : Kholistiono

Warung Kopi di Margotuhu Kidul Pati Jadi Tempat Karaoke, Polisi Ciduk 2 PK

Petugas Polsek Margoyoso merazia warung kopi di Margotuhu Kidul yang menjual miras dan menyediakan fasilitas karaoke lengkap dengan wanita pemandu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Polsek Margoyoso merazia warung kopi di Margotuhu Kidul yang menjual miras dan menyediakan fasilitas karaoke lengkap dengan wanita pemandu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Margoyoso kembali merazia minuman keras di wilayah Kecamatan Margoyoso. Dari hasil razia, petugas menemukan warung kopi di Desa Margotuhu Kidul, Kecamatan Margoyoso, yang disalahgunakan menjadi tempat karaoke dan menjual miras.

Bahkan, petugas menemukan dua wanita pemandu karaoke berusia 23 tahun yang menghibur pengunjung. Kedua PK tersebut langsung diciduk petugas untuk dimintai keterangan.

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino mengatakan, razia miras di wilayah Margoyoso merupakan tindak lanjut dari Surat Telegram Rahasia Kapolres Pati pada 8 Desember 2016 tentang Cipta Situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Sitkamtibmas), serta pelaksanaan Operasi Lilin Candi 2016. “Sasaran razia adalah miras. Ternyata warung kopi di Margotuhu Kidul menjual miras dengan fasilitas hiburan karaoke, lengkap dengan wanita pemandu,” ujar AKP Sugino, Senin (12/12/2016).

Dua pemandu yang diciduk, antara lain AAF (23), warga Desa Wedusan, Dukuhseti dan MSL (23), warga Desa Sekarjalak, Margoyoso. Keduanya diamankan bersama dengan pemilik warung, Pujiono (48), warga Desa Gerit, Cluwak, termasuk barang bukti.

“Pemilik warung dan barang bukti kami amankan, sedangkan dua wanita pemandu karaoke kami amankan untuk dimintai keterangan. Warung kopi ini sudah menjadi target operasi (TO), karena sudah meresahkan masyarakat. Kami juga banyak mendapatkan laporan dari warga,” imbuh AKP Sugino.

Dalam razia tersebut, pihaknya melibatkan empat personel anggota reserse kriminal (reskrim), dua anggota intelijen, dan tiga anggota Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK). Razia yang dilaksanakan pada Sabtu (10/12/2016) sore tersebut juga menciduk penjual miras oplosan “es moni” dari warung Subari (57), warga Desa Purwodadi, Margoyoso. Dari sini, polisi menyita setengah botol arak putih.

Editor : Kholistiono

Meski Pernah Diadili, Warga Sidomukti Pati Ini Masih Tak Kapok Jualan Miras

Jajaran Polsek Margoyoso menyita sejumlah miras yang dirazia dari penjual miras di Margoyoso, Jumat (04/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jajaran Polsek Margoyoso menyita sejumlah miras yang dirazia dari penjual miras di Margoyoso, Jumat (04/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ingat dengan Sri Munindah (44), warga Desa Sidomukti RT 1 RW 4, Kecamatan Margoyoso? Salah satu penjual miras terbesar di Kecamatan Margoyoso ini diduga masih berjualan miras, kendati sudah diadili di Pengadilan Negeri Pati, Senin (17/10/2016) lalu.

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino mengatakan, aksi Munindah kembali terkuak setelah pihaknya menggelar razia miras di sejumlah tempat di Kecamatan Margoyoso, Jumat (04/11/2016). Dia berhasil menyita puluhan botol miras di Desa Margoyoso, Purwodadi, dan Bulumanis Lor.

“Dari hasil razia tersebut, Dakir, salah satu penjual miras yang beroperasi di Desa Purwodadi mengaku kulakan minuman setan dari rumah Munindah. Padahal, dia sudah dirazia dan diadili di Pengadilan Negeri (PN) dengan sanksi tipiring berupa denda Rp 1,5 juta,” ujar AKP Sugino.

Artinya, Munindah tidak jera dengan sanksi tipiring yang diberikan Pengadilan Negeri Pati. Bahkan, Dakir mengaku kulakan miras dari Munindah sejak dua minggu yang lalu.

“Kami sebetulnya sudah tahu informasi bahwa Munindah masih berjualan miras, kendati baru saja dikenakan sanksi tipiring di Pengadilan Negeri. Pengakuan Dakir ini semakin menguatkan bahwa Munindah tidak kapok,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya akan kembali menggencarkan razia pekat di wilayah hukum Margoyoso. Hal itu diharapkan agar penjual miras semakin jera dan berhenti mengedarkan miras di tengah-tengah masyarakat Margoyoso.

Editor : Kholistiono

Pemilik Rumah Esek-esek di Pati Minta Digaji Rp 500 Ribu per Hari, Jika…..

Camat Margoyoso Suhartono (kanan) dan Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (tengah) saat meminta Mudrik (kiri) menutup rumahnya dari aktivitas prostitusi, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Camat Margoyoso Suhartono (kanan) dan Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (tengah) saat meminta Mudrik (kiri) menutup rumahnya dari aktivitas prostitusi, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Margoyoso mendatangi sebuah rumah yang disewakan untuk tempat mesum di Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, Pati, Jumat (23/09/2016). Rumah milik Nur Khamid alias Mudrik tersebut sudah lama meresahkan masyarakat.

Hal itu diakui Kepala Desa Waturoyo, Sis Susilo. “Warga sudah sangat resah dengan adanya rumah yang disewakan untuk mesum. Bahkan, banyak pemuda dari luar daerah yang mabuk-mabukan dan tidak jarang terjadi gesekan dengan pemuda setempat,” kata Susilo.

Bahkan, masyarakat yang geram sempat akan membakar rumah tersebut. Namun, pemdes setempat menahan dan memilih untuk melaporkan kepada Muspika Margoyoso. Tapi, sikap mengejutkan muncul dari Mudrik.

Dia tidak mau bila rumahnya itu dihentikan dari aktivitas jasa persewaan untuk kegiatan mesum. Mudrik hanya mau menutup persewaan kamar rumahnya bila digaji atau ganti rugi Rp 500 ribu setiap hari. Sikap Mudrik sempat menyulut emosi kades.

“Kamu tahu siapa yang datang ke sini? Itu Pak Camat dan Pak Kapolsek. Yang sopan kalau bicara. Kalau tidak mau dibina baik-baik, kami serahkan kepada polisi biar ditindak,” ujar Susilo kepada Mudrik.

Proses penertiban pun berlangsung alot. Muspika akhirnya tidak mampu menertibkan rumah Mudrik yang disewakan untuk kegiatan mesum. “Langkah persuasif sudah kita lakukan. Tinggal nunggu saja langkah hukum bila masih membuka rumahnya untuk persewaan kegiatan prostitusi,” tukas Kapolsek Margoyoso AKP Sugino.

Rencananya, Polsek Margoyoso akan menertibkan seluruh tempat yang digunakan untuk prostitusi di wilayah hukumnya. Hal itu menjadi tindak lanjut laporan masyarakat yang resah dengan adanya penyakit masyarakat (pekat).

Senada dengan itu, Camat Margoyoso Suhartono juga banyak mendapatkan keluhan dari warga. “Prostitusi dalam agama dilarang. Apalagi sudah meresahkan warga. Saya sering dikomplain dari warga, termasuk para kiai untuk menertibkan tempat-tempat yang menjadi ajang prostitusi di Margoyoso,” pungkas Suhartono.

Editor : Kholistiono

4 Tempat Esek-esek di Kecamatan Margoyoso Dirazia

Polisi dan jajaran Muspika menyambangi rumah Mudrik di Desa Waturoyo, Margoyoso, Jumat (23/09/2016). Rumah itu selama ini disewakan untuk prostitusi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi dan jajaran Muspika menyambangi rumah Mudrik di Desa Waturoyo, Margoyoso, Jumat (23/09/2016). Rumah itu selama ini disewakan untuk prostitusi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak empat tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas prostitusi di Kecamatan Margoyoso, Pati dirazia polisi, Jumat (23/09/2016).  Keempat tempat yang dirazia berlokasi di Desa Waturoyo, Desa Margoyoso, dan Desa Margotuhu Kidul.

Di Desa Waturoyo, penertiban yang dipimpin Kapolsek Margoyoso AKP Sugino melibatkan Camat Margoyoso Suhartono, kepala desa setempat, dan anggota Koramil Margoyoso. Mudrik, pemilik warung dan rumah yang digunakan untuk jasa esek-esek menolak untuk ditertibkan.

Padahal, Mudrik diketahui sudah menandatangani surat pernyataan untuk tidak melanjutkan usaha kamar yang digunakan untuk aktivitas esek-esek. Namun, pria paruh baya bertato itu justru menolak ditertibkan saat Jajaran Muspika mendatangi rumahnya.

“Saya memang ditakdirkan untuk kerja begini ya mau bagaimana lagi. Wong memang sudah ditakdirkan seperti ini. Kalau saya mau dihidupi, saya mau tutup tempat ini,” ujar Mudrik.

Tidak bisa dinasehati, Jajaran Muspika kemudian membuat keputusan untuk melakukan penangkapan bila suatu ketika terbukti masih digunakan untuk aktivitas prostitusi. “Kita beri pembinaan baik-baik, tapi tidak mau. Kalau secara persuasif tidak mau, nanti kita akan tegakkan menggunakan mekanisme hukum karena sudah meresahkan masyarakat,” kata AKP Sugino.

Pihaknya mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat terkait adanya tempat yang digunakan PSK untuk melayani pria hidung belang di Desa Waturoyo. Warga setempat resah, karena rumah Mudrik sudah lama disewakan untuk tempat mesum.

Editor : Kholistiono