Habis Bacok Orang, Anggota Geng Motor di Semarang Nangis di Kantor Polisi

MuriaNewsCom, Semarang – Geng motor Brutaly Romantic sering meresahkan wrga Kota Semarang. Pasalnya, mereka dikenal sadis dan tak segan-segan melukai seseorang dengan senjata tajam.

Padahal anggota geng motor ini sebagian besar masih remaja. Mereka rata-rata masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Aksi terakhir mereka menyerang Ananda Fajar, warga Sri Rejeki, Kota Semarang. Korban diserang dengan menggunakan senjata tajam, hingga harus dirawat di rumah sakit.

Aparat Polrestabes Semarang lanta melakukan pengejaran, dan Jumat (29/12/2017) sore berhasil mengamankan 13 anggota geng motor Brutaly Romantic. Mereka ditangkap di rumahnya masing-masing.

Dari tangan pelaku polisi mengamankan tiga buah clurit, tiga potongan besi berujung tajam, beberapa telepon seluler (ponsel), dan enam sepeda motor milik anggota geng.

Anggota geng motor Brutaly Romantic bersujud di kaki ibunya saat ditangkap polisi. Selama ini geng motor ini sangat meresahkan masyarakat. (Istimewa)

Meski terkenal keji saat beraksi di jalanan, nyatanya ketika berada di kantor polisi mereka jadi mlempem. Bahkan ketika dipertemukan dengan ibunya, anggota geng motor ini menangis dan bersujud di kaki ibunya untuk minta maaf.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji menjelaskan, geng motor ini selama ini sangat meresahkan dan sadis. Karena tanpa sebab, mereka bisa menyerang warga yang melintas di depan mereka dengan menggunakan senjata tajam. Mereka juga kerap menerima tantangan tawuran lewat media sosial dari kelompok lain.

“Kalau ada yang melintas di dekat mereka, langsung disabet atau dibacok dengan senjata tajam clurit. Sampai hari ini sudah ada korban, satu orang putus jari tangannya dan robek di bagian dadanya. Memang kalau kita lihat dari sisi usia, mereka masih sangat muda, rata-rata usia 16 tahun dan 17 tahun,” ujarnya.

Johan ketua geng motor itu, mengakui sempat ribut dengan korban. Ia menyebut, kelompoknya tak pernah punya dendam dengan korban, dan hanya ingin cari keributan. “Memang ribut tapi enggak tahu apa yang diributkan. Waktu itu minum congyang,” akunya.

Saat ditangkap polisi, ia pun menyatakan langsung membubarkan geng tersebut. “Mulai hari ini geng motor Brutaly Romantic saya bubarkan, saya kapok pak,” ujarnya di hadapan polisi.

Editor : Ali Muntoha

Pedagang Syok Temukan Mayat di Parkiran Pasar Bulu

Petugas Inafis Polrestabes Semarang tengah memeriksa mayat tak beridentitas di area parkir Pasar Bulu Semarang, Rabu (27/12/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Sakinah (50), salah satu pedagang di Pasar Bulu, Kota Semarang, Rabu (27/12/2017) kaget bukan kepalang saat menemukan sesok mayat tergeletak di pelataran parkir lantai dasar Pasar Bulu.

Pedagang sayuran itu menemukan mayat tersebut, saat mau membuka dagangan, sekitar pukul 04.00 WIB. Ia cukup syok, karena saat turun dari motor dan hendak naik ke lantai atas, di mana ia berjualan sayur, tiba-tiba melihat mayat tergeletak.

“Awalnya saya kira tidur, terus dibangunkan orang parkir karena tempat parkir pasti akan ramai. Namun ternyata saat dibangunkan, korban sudah tidak bernyawa,” katanya.

Mayat tersebut diketahui sebagai seorang pemulung. Korban memang sering mencari barang bekas di sekitar Pasar Bulu.

Sementara itu, Kanit Inafis Polrestabes Semarang Iptu Sawal menerangkan, kondisi mayat lusuh, kumel, dan tampak tua. Diperkirakan usia mayat paruh baya, dan tak membawa identitas.

Para personel Inafis langsung mengevakuasi mayat tersebut dan melarikannya ke RSUP Kariadi Semarang. Kini mayat telah berada di RSUP dr Kariadi Semarang untuk dilakukan autopsi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Editor : Ali Muntoha

Buka Praktik Pijat di Belakang Polsek, Pria Ini Justru Jualan Pil Koplo

Polisi menunjukkan pil koplo yang dijual tukang pijat (berkaus hitam diborgol). (Humas Polrestabes Semarang)

MuriaNewsCom, Semarang – Tinggal tak jauh dari kantor polisi tak membuat seseorang lantas takut berbuat kejahatan atau melanggar hukum. Buktinya, Istuhri alias Mbah Datuk (25), yang rumahnya berada di belakang Mapolsek Gunungpati, pun berani jualan pil koplo.

Pria yang sehari-hari membuka praktik pijat itu, bahkan menjual pil koplo jenis trihex kepada para pelajar SMA di daerah tersebut. Aksi ini telah berlangsung cukup lama, dan akhirnya terendus juga oleh polisi.

“Tersangka kami tangkap di rumahnya, Selasa (21/11/2017) lalu sekitar pukul 19.30 WIB. Kami menemukan 300 strip pil koplo jenis trihex. Itu per satu stripnya diberi 10 butir,” kata Kapolsek Gunungpati, AKP Budi Abadi, kemarin.

Tak hanya dijual ke anak SMA, pil koplo itu juga dijual ke sopir angkutan umum. Tersangka yang tinggal di daerah Cempoko, Gunungpati, Kota Semarang ini menjual barang tersebut di rumahnya.

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika pil itu dibeli dari seseorang di Semarang.
“Per stripnya dijual Rp 10 ribu dan dijual kembali 25 ribu rupiah. Pelanggannya pelajar MA dan sopir angkot. Transaksi tidak menggunakan ponsel atau media sosial, tapi pelanggan langsung datang ke rumah tersangka,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah pihaknya mendapat informasi dari warga terkait peredaran dan transaksi pil koplo di wilayahnya.

“Kami lalu melakukan penelusuran dan mendapat identitas pelaku. Kemudian dilakukan penindakan. Ternyata praktik tersebut sudah dijalankannya selama satu tahun ini,” ungkapnya.

Sementara itu, tersangka mengaku menjual pil koplo karena dia butuh tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Sebab upah dari jasa pijat tidak mencukupi.

“Butuh uang tambahan, lumayan dalam satu pekan saya bisa jual satu sampai dua boks. Satu boks berisi 10 strip, per strip saya jual Rp 25 ribu. Kalau keuntungannya tinggal dikalikan saja,” aku tersangka.

Editor : Ali Muntoha

Siap-siaplah Ditamuni Polisi Kayak Gini Jika Terekam CCTV Langgar Lalin di Semarang

Satlantas Polrestabes Semarang mendatangi rumah pelanggar lalu lintas di kawasan Gergaji, Kota Semarang, yang terekam melakukan pelanggaran melalu CCTV. (Group FB MIK Semar)

MuriaNewsCom, Semarang – Program E Tilang CCTV yang mulai diberlakukan di Kota Semarang sejak Senin (25/9/2017) ternyata tak sekadar gertak sambel. Ratusan pelanggar lalu lintas yang terekam kamera CCTV langsung ditindak, didatangi rumahnya untuk menjatuhkan tilang.

Bahkan Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi pun turun langsung mendatangi rumah-rumah pelanggar lalu lintas, untuk memberikan surat tilang.

Seperti yang dilakukan Kamis (28/9/2017) pagi tadi, Yuswanto mendatangi sejumlah rumah pelanggar. Dari rumah mewah, hingga rumah yang berada di dalam gang-gang sempit.

Saat mendatangi pelanggar, kasatlantas menunjukkan bukti pelanggaran berupa rekaman CCTV. Seperti ketika mendatangi pelanggar di Jalan Atmodirono, Semarang.

Yuswanto menunjukkan bahwa mobilnya terekam CCTV Dishub melakukan pelanggaran lampu merah Kaligarang, pada Senin (25/9/2017) pukul 09.30 WIB.

Si pelanggar mengaku saat itu yang membawa mobilnya adalah istrinya. Kendati demikian tetap menjatuhkan tilang, STNK mobilnya pun ditahan, dan diberi surat tilang.

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi menunjukkan bukti tilang. (Group FB MIK Semar)

 

Ws warga Semarang Selatan juga didatangi kasatlantas bersama anggotanya.  Ia juga terekam melakukan pelanggaran di lokasi yang sama yaitu persimpangan Kaligarang. Ia mengakui tak mengetahui adanya tilang menggunakan CCTV.

“Sebenernya bukan saya saja, namun banyak juga yang melanggar. Namun apesnya saya saja yang terekam,” kata Ws, dikutip dari Tribunjateng.com.

Sementara Yuswanto Ardi menjelaskan jika dalam melakukan penindakan pihaknya tetap menggunakan asa praduga tak bersalah. “Jika terbukti tidak melakukan pelanggaran, maka kami tidak akan menindak,” ujarnya.

Program E Tilang CCTV ini mulai diberlakukan di Kota Semarang sejak Senin lalu, berhasil menjaring ratusan pelanggar. Bahkan dua hari sejak diterapkan tercayat sudah ada 130 pelanggar.

Ada 26 titik CCTV yang dipasang Dinas Perhubungan Kota Semarang untuk program ini. Dari jumlah pelanggar sebanyak itu, kata Yuswanto didominasi pelanggaran yang terjadi di simpang Tlogosari dan Fatmawati.

Selanjutnya, menurut dia, kepolisian masih memiliki tugas untuk menelusuri identitas pemilik kendaraan yang melanggar tersebut. “Masih diselidiki karena yang mengendari belum tentu pemiliknya,” ujarnya pada Antarajateng.com.

Ia menegaskan bahwa mekanisme pengenaan bukti pelanggaran tetap melalui putusan pengadilan untuk menentukan besaran denda yang harus mereka bayar.

Editor : Ali Muntoha

Ditanya Siapa Bandarnya, Kurir Sabu di Semarang Malah Jawab ‘112’

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Aparat dari Satuan Reskrim Narkoba Polrestabes Semarang, sempat mengernyitkan dahi saat menginterogasi kurir sabu bernama Eko Prasetyo Ardi (25), warga Weleri, Kendal.

Pasalnya, ketika ditanya siapa Bandar yang menyuruh untuk mengantarkan narkoba itu, Prasetyo justru memberi jawaban aneh. Tersangka menyebut ‘112’ sebagai bos  yang memerintahkannya. Namun ia selalu berkelit ketika didesak untuk memberitahu jati diri misterius tersebut.

Bahkan tersangka juga sempat mengaku mendapatkan barang haram itu dari bandar dari penjara. Namun polisi masih mendalami keterangan tersebut.

”Ini masih kami dalami betul atau tidak. Karena pengedar selalu bilang dapatnya dari lapas. Jadi kalau tersangka tidak bisa menyebutkan siapa seseorang itu tidak masuk akal,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, saat jumpa pers, Senin (18/9/2017).

Tersangka juga mengaku tugasnya hanya menerima sabu kemudian membaginya dalam paket dan meletakkan di suatu tempat. Tempat untuk meletakkan sabu itu diakui terserah dirinya, namun ia melaporkan posisi sabu kepada bosnya.

Ia menyebut, tersangka Eko dibekuk pada Jumat (15/9/2017) lalu di Jalan MT Haryono Semarang. Sebelum ditangkap, polisi terlebih dahulu membuntuti tersangka. Saat ditangkap dan digeledah polisi menemukan sabu seberat 5 gram di motornya.

Tersangka kemudian digelandang untuk mencari barang bukti lain di rumah kosnya di daerah Tlogosari, Kota Semarang. Di rumah kos itu kembali ditemukan sabu seberat 195 gram.

Kasat Res Narkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi menyebut, tersangka menjalankan aksinya sejak 5 bulan terakhir. Setiap menjual 100 gram sabu ia mendapatkan upah Rp 1 juta.

“Sekali transaksi itu 30 gram, 20 gram, 12 gram, paling kecil 5 gram. Setiap 100 gram dia dapat Rp 1 juta, ini dia sudah dapat Rp 4 juta,” ujarnya.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan jeratan pasal itu tersangka dikenai ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Taksi Online Berpelat Hitam di Semarang Bakal Ditilang

Foto : Istimewa

MuriaNewsCom, Semarang – Aksi unjukrasa yang digelar para sopir taksi konvesional di depan Kantor Gubernur Jateng, Kamis (7/9/2017) lalu mendapat respon. Pihak kepolisian memastikan, taksi online yang beroperasi menggunakan pelat nomor hitam bakal ditindak dengan tilang.

Tak terkecuali taksi online yang saat ini sudah beroperasi seperti Gocar, Uber, maupun Grab. Wakapolrestabes Semarang AKBP Raden Setijo Hasto mengatakan, sesuai aturan angkutan umum harus menggunakan pelat polisi berwarna kuning.

Jika taksi online beroperasi menggunakan pelat hitam menurutnya hal ini sama dengan melanggar Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Oleh karenanya, pihaknya memastikan akan mengambil tindakan terhadap mobil pribadi yang digunakan untuk angkutan umum. Meski demikian, ia memastikan penindakan tak akan dilakukan secara sembarangan.

Tindakan tersebut akan dilakukan berdasarkan bukti di lapangan.

“Tidak bisa sembarangan menilang. Harus ada bukti kalau kendaraan pelat hitam itu sudah berbayar dari penumpang. Jadi ada buktinya di HP (hand phone) kalau sudah berbayar dari penumpang,” katanya.

Menurutnya, sopir taksi konvensional bisa membantu aparat kepolisian, dengan menginformasikan mana saja kendaraan yang diindikasikan melanggar.

Penegasan ini juga disampaikan Setijo Hasto saat audiensi dengan pengusaha angkutan umum di Kantor Gubernuran Jalan Pahlawan, Jumat (8/9/2017) petang.

Hasto memastikan, aturan ini telah diberlakukan. Sejauh ini pihaknya telah melakukan penindakan terhadap 128 mobil pelat hitam yang terbukti menarik penumpang. Ia berharap kebijakan penertiban tersebut bisa menjadi yurisprudensi bagi kondisi hukum ke depan.

Saat ditanya dengan kondisi ojek online yang juga mengenakan pelat hitam, pihaknya mengaku belum jauh membahas ke ranah tersebut. Ia menyebut, ojek sementara masih menjadi kebutuhan besar masyarakat.

“Mungkin ke depan ke arah sana. Sementara masih di kendaraan roda empat. Namun semua arahnya menuju tertib seperti yang disampaikan Gubernur,” tandas Hasto.

Editor : Ali Muntoha