Polisi Bekuk Pelaku Penipuan Asal Banyuurip Rembang, Korbannya Capai 15 orang

 Sardan, pelaku penipuan serta barang bukti yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. (Humas Polres Rembang)

Sardan, pelaku penipuan serta barang bukti yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang membekuk pelaku penipuan, yakni Sardan, warga RT 2 RW 1 Desa Banyuurip, Kecamatan Pancur. Lelaki 47 tahun ini, diduga telah melakukan penipuan dengan korban mencapai 15 orang.

Pelaku dilaporkan oleh Abdul Wakhid (28), warga RT 1 RW 1 Desa Sridadi, Kecamatan Kota Rembang.Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik Satreskrim Polres Rembang, aksi penipuan yang dilakukan oleh pelaku dilakukan dalam kurun waktu 14 Desember 2016 sampai 7 Januari 2017 lalu.

Kasatreskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, modus operandi yang dilakukan oleh pelaku adalah mengelabuhi korban sedang membutuhkan pinjaman dana segar. Pelaku mengaku kepada 15 korbannya bisa mencarikan pinjaman sebesar Rp 30 juta dengan bunga sangat lunak.

Syaratnya, para korban diminta untuk menyetor uang yang jumlahnya mencapai sekitar Rp 10 juta. Uang tersebut, pengakuan pelaku digunakan sebagai keperluan administrasi sebelum uang pinjaman sebesar Rp 30 juta cair.

“Karena tergiur, akhirnya para korban sepakat mengumpulkan uang dengan jumlah total mencapai Rp 10 juta untuk diserahkan kepada pelaku. Harapan korban, setelah uang tersebut diserahkan uang pinjaman yang dijanjikan bisa segera cair.Ternyata apa yang dikatakan oleh pelaku hanya akal-akalan saja,” AKP Ibnu Suka.

Kemudian uang milik para korban tersebut, ternyata digunakan untuk keperluan pribadi pelaku. Uang tersebut diduga kuat digunakan pelaku untuk membeli ponsel, membyara kredit sepeda motor serta kebutuhan pribadi lainnya.

Polisi, saat ini juga mengamankan semua barang bukti yang terkait dengan kejahatan pelaku untuk kepentingan penyidikan. Pelaku juga sudah ditahan di sel tahanan Polres Rembang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Ringkus Pelaku Penggelapan Mobil Rental

 Petugas kepolisian menunjukkan barang bukti mobil yang digelapkan oleh pelaku. (Humas Polres Rembang)

Petugas kepolisian menunjukkan barang bukti mobil yang digelapkan oleh pelaku. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Rembang membekuk dua pelaku penggelapan dan penadah mobil rental, pada Selasa (10/1/2017). Masing-masing pelaku adalah MA (26) warga Dukuh Tempel, Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber, Rembang. MA adalah tersangka yang berperan sebagai penyewa mobil yang akhirnya digelapkan.

Kemudian, satu tersangka lainnya yang memiliki peran sebagai penadah adalah AB (39), warga Jalan Dworowati III/37, RT 3 RW 8 Desa Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Keduanya dibekuk lantaran menggelapkan mobil Toyota Avanza warna hitam dengan Nopol K 8989 WM milik Erna Sulitiyorini (37) warga Jl Pemuda Gang IV Kelurahan Leteh RT 3 RW 4, Kecamatan Kota Rembang.
Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melalui Kasatreskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, kejadian tersebut bermula saat 13 Desember 2016  lalu, pelaku MA menyewa Avanza Nopol K 8989 WM milik korban di Kantor Zevana Langgeng di Jalan Pemuda, Rembang.

Kesepakatannya, mobil disewa selama satu hari dengan harga Rp 300 ribu. Namun, setelah waktu habis mobil tersebut tidak dikembalikan oleh pelaku. Ternyata mobil keluaran tahun 2015 itu justru digadaikan oleh pelaku kepada AB dengan harga Rp 20 juta.

Transaksi gadai dilakukan di depan Kampus Unissula Semarang. MA sempat mengganti nopol mobil menjadi T 6936 CK untuk memuluskan aksinya. Oleh AB, nopol mobil kembali diganti dari menjadi L 1764 SD. Tujuannya untuk mengelabuhi petugas bahwa mobil tersebut adalah hasil tindak penggelapan.
“Sementara ini motif dari pelaku MA adalah mendapatkan uang hasil penggelapkan dan digunakan untuk berfoya-foya. Kami masih menyelidiki latar belakang pelaku AB, apakah ia pertama kali menjadi penadah atau sudah sering. Masih kami kembangkan,” jelas Kasat Reskrim.

Selain Toyota Avanza, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti antara lain adalah dua ponsel dan dompet beserta isinya milik pelaku. Saat ini semua barang bukti masih diamankan di Polres Rembang untuk kepentingan penyidikan.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Intensifkan Patroli di Jalur Pantura untuk Kawal Bonek

 Petugas kepolisian Rembang bersama sejumlah Bonek. (Humas Polres Rembang)

Petugas kepolisian Rembang bersama sejumlah Bonek. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Polres Rembang menerjunkan sejumlah petugas untuk melakukan patrol di jalur Pantura Rembang. Patroli di jalur Pantura ini lebih diintefsifkan, menyusul keberangkatan suporter fanatik Persebaya atau yang dikenal dengan Bonek menuju Bandung untuk menghadiri Konggres PSSI, pada 8 Januari 2017.

Dari informasi yang dihimpun, pada  4-7 Januari 2017 ada keberangkatan Bonek menuju Bandung secara estafet mencari tumpangan kendaraan dari Jawa Timur hingga Bandung, serta naik kereta api.

Gelombang berikutnya mulai 5 – 7 Januari 2017 ada keberangkatan Bonek menuju Bandung dengan menggunakan bus dan kereta api. Sedangkan untuk Bonek dari luar Kota Surabaya akan berangkat langsung menuju Bandung dengan rute yang dilalui jalur selatan, yakni Surabaya – Krian – Mojokerto – Jombang – Nganjuk – Madiun – Walikukun – Sragen – Solo – Klaten – Lempuyangan (Kota Yogyakarta) – Kutoarjo – Kebumen – Kutowinangun – Maos – Sidareja – Banjar – Ciamis – Manonjaya – Tasikmalaya – Ciawi – Cipeundeuy – Cibatu – Nagreg – Kiaracondong – Bandung.

Kemudian, rute yang dilalui Bonek di jalur utara, yakni untuk rute bus dari Surabaya menuju Bandung Jalur Pantura melewati Tol Waru Gresik – Lamongan – Tuban – Kalipang – Lasem – Rembang – Batangan – Pati – Kudus – Demak – Dukun – Semarang – Kaliwungu – Kendal – Batang – Pekalongan – Comal – Pemalang – Tegal – Brebes – Cirebon – Bandung.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menyatakan, terkait adanya rombongan Bonek yang melewati jalur Pantura tersebut, pihaknya perlu mengintensifkan pengamanan, untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan atau menggangu keamanan dan ketertiban, yang bisa dimungkinkan oleh Bonek.

“Bonek yang estafet tidak terkoordinir dan tidak mempunyai perbekalan yang mencukupi, rawan akan melakukan pemerasan, pemaksaan dan konflik sosial selama di perjalanan.Untuk mengantisipasi hal tersebut Polres Rembang dan polsek jajaran yang berada di Pantura mengintensifkan giat patrol,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Polisi di Rembang Ini Rela Patungan untuk Belikan Bensin Ketika Mengetahui Ada Motor Warga Mogok

Anggota Sat Sabhara Polres Rembang sedang membantu warga yang motornya mogok karena kehabisan bensin. (Humas Polres Rembang)

Anggota Sat Sabhara Polres Rembang sedang membantu warga yang motornya mogok karena kehabisan bensin. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Prinsip tolong menolong rupanya juga ditanamkan dalam keseharian anggota Polres Rembang. Selain membantu memang sudah menjadi kewajiban bagi manusia, polisi juga memiliki tugas untuk membantu warga ketika mengalami kesusahan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh lima orang anggota polisi dari Polres Rembang ini. Yakni, Bripda Jalil, Bripda Deni,Bripda Sahputra,Bripda Ratno dan Bripda Arvianto. Lima anggota Sat Sabhara Polres Rembang itu rela mengeluarkan uang pribadinya dan mencari bensin eceran untuk membantu seorang warga bernama Imrom yang motornya mogok kehabisan bensin, Rabu (4/1/2017) sekitar pukul 10.30 WIB.

Imron, warga Desa Ngulaan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang ini, rencananya akan mengantar calon istrinya pulang ke rumah di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang. Namun, ketika sampai di jalan tanah di Desa Tireman, atau  barat Simpang Tiga Clangapan, Rembang, sepeda motor yang dikendarainya mogok karena kehabisan bensin.

Kelima anggota polisi yang sedang berpatroli menggunakan sepeda motor dan mendapati Imron bersama calon istrinya mendorong motor tersebut, kemudian mereka turun dan menanyakan masalah yang dialami Imron bersama calon istrinya

Setelah tahu bahan bakar imron habis, tanpa menunggu, polisi ini langsung tancap gas sepeda motor patrolinya mencari penjual pertamax eceran. Pertamax eceran itupun lalu diserahkan kepada Imron agar bisa melanjutkan kembali perjalanannya.
Kapolre Rembang AKBP Sugiarto mengaku takjub dengan tindakan para anggotanya itu. “Anggota betul-betul sudah terdorong untuk membantu warga yang kesusahan apapun tanpa menunggu perintah lagi,” ujar Kapolres. 

Dirinya juga menyampaikan, jika anggota Polres Rembang akan berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat Rembang. Polisi akan hadir membantu warga yang kesusahan. “Kami lakukan ikhlas tanpa pamrih, sehingga keberadaan polisi di tengah masyarakat betul-betul dirasakan manfaatnya. Juga agar anggota bisa merasakan kesusahan yang dialami masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan 5 Anggota Sat Sabhara Polres Rembang tersebut, juga sebagai bentuk aplikasi, bahwa Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, akan melakukan hal seperti itu ikhlas tanpa pamrih.Sehingga, keberadaan Polri di tengah masyarakat selalu di harapkan dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Aksi polisi yang terjun langsung untuk memberikan bantuan kepada warga masyarakat itu, juga  merupakan perwujutan program prioritas Kapolri Promoter ( Profesional , Modern dan Terpercaya). Program Promoter ini disinkronkan dengan motto Polres Rembang HEROES, yaitu Humanis, Edukatif , Religius,Optimis, Empati dan Simpatik .

Editor : Kholistiono

Ini 10 Kasus yang Menonjol di Polres Rembang untuk 2016 dan 2015

Beberapa tersangka tindak pidana yang ditahan di sel tahanan Polres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa tersangka tindak pidana yang ditahan di sel tahanan Polres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sepanjang tahun 2016, pihak Kepolisian Resor Rembang  mencatat ada 10 kasus yang menonjol dibandingkan tahun 2015. Pertama adalah pencurian dengan pemberatan (currat). Sedikitnya 34 kasus currat dalam kurun waktu satu tahun, dan yang dituntaskan sebanyak 20.

“Yang paling menonjol memang masih currat seperti tahun sebelumnya. Namun demikian, trendnya mengalami penurunan. Tahun lalu jumlahnya ada 58 kasus dan yang bisa dituntaskan sebanyak 12. Sedangkan kalau urutan terbanyak jumlah kasus, tahun ini sebenarnya perjudian. Jumlahnya 52 dan dituntaskan semuanya,” ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

Kemudian, di urutan kedua kasus yang menonjol di Polres Rembang adalah pencurian dengan kekerasan sebanyak 6 kasus dan dituntaskan 5 kasus. Sedangkan di tahun 2015, ada 12 kasus dan dituntaskan 7 kasus.

Selanjutnya adalah pencurian kendaraan bermotor sebanyak 22 kasus dan dituntaskan 5. Tahun 2015, kasus curanmor ada 60 kasus dan dituntaskan sebanyak 12. Kemudian, kasus pembakaran 0, pun demikian tahun sebelumnya.

data

Ada juga penganiayaan dengan pemberatan (anirat) jumlahnya 1 kasus dan dituntaskan 1. Tahun 2015 jumlahnya 0. Sedangkan, kasus pembunuhan pada 2016 ini ada 2 kasus dan dituntaskan semua. Tahun 2015 0. Ada pula uang palsu yang jumlahnya nol.

Selanjutnya adalah kasus narkoba yang jumlahnya ada 18 kasus dan dituntaskan semua. Tahun sebelumnya ada 7 kasus dan selesai semua. Kemudian ada kasus perkosaan jumlahnya 0, dan tahun 2015 ada 1 dan tidak terselesaikan.

Terkahir adalah penipuan, dengan jumlah kasus sebanyak 12 kasus dan dituntaskan 10. Sedangkan tahun 2015 ada 18 dan dituntaskan 21 kasus.

Menurut Kapolres melihat kondisi tersebut, adanya peningkatan kinerja dari personel jajaran kepolisian. Sebab jumlah laporan yang masuk menurun. Sedangkan kasus yang bisa diungkap juga semakin banyak. Selain itu, untuk kasus yang belum terungkap akan segera didalami.

“Ini juga lantaran berkat dukungan seluruh pihak.  Kami bisa menekan sejumlah tindak pidana di Rembang, termasuk peran serta rekan media yang selalu menyampaikan imbauan kami kepada warga masyarakat,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

Cek Gereja, Kapolres Rembang Ingin Pastikan Natal Aman

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat melakukan pengecekan keamanan di salah satu gereja di Rembang. (Dok. Humas Polres Rembang)

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat melakukan pengecekan keamanan di salah satu gereja di Rembang. (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melakukan kontrol dan pengecekan secara langsung terhadap sejumlah gereja yang ada di Rembang, menjelang pelaksanaan Natal.

Hal tersebut, untuk memastikan pelaksanaan ibadah Natal nanti berjalan dengan aman.Hal ini dilakukan, juga untuk mengantisipasi adanya aksi dari orang tidak bertanggung jawab yang akan mengganggu pelaksanaan Natal.

“Kita ingin memastikan, bahwa perayaan Natal kali ini dalam keadaan aman, sehingga umat Kristiani bisa khidmat dalam melaksanakan ibadahnya,” ujarnya, Jumat (23/12/2016) malam.

Dalam kesempatan itu, kapolres juga mengatakan, jika personel kepolisian sudah disebar di pos-pos maupun di gereja-gereja tempat melaksanakan ibadah Natal, dengan jumlah sesuai dengan karakter tingkat kerawanan dan jumlah jemaatnya, sehingga diyakini bahwa perayaan Natal kali ini aman.

Kapolres Rembang, juga menyampaikan pesan Kamtibmas kepada para jemaat dan mengimbau kepada seluruh jemaat bahwa polisi menjamin keamanan warga saat menjalankan ibadah terutama mendekati perayaan Natal.

Editor : Kholistiono

Diduga Cemburu, Pemuda di Rembang Ini Tega Gorok Teman Karibnya

 Korban masih mendapatkan perawatan di RSUD dr Soetrasno Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Korban masih mendapatkan perawatan di RSUD dr Soetrasno Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang –  Rendi Ardiansyah (24), warga Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, tega menggorok teman karibnya sendiri Hanafi Nur Rohman (20) warga Desa Polbayem,Kecamatan Sumber, Rembang,  dengan menggunakan sabit, Jumat (23/12/2016) sekitar pukul 10.00 WIB.

Rendi tega menggorok teman karibnya tersebut, diduga terbakar api cemburu. Namun masih beruntung, nyawa korban masih terselamatkan, dan kini masih mendapatkan perawatan di RSUD dr Soetrasno Rembang, karena luka di leher.

“Dugaan sementara, motifnya karena terbakar api cemburu. Karena, korban diduga ada hubungan dengan istri pelaku. Sehingga, pelaku nekat melakukan tindakan tersebut atau mencoba membunuh korban dengan cara menggorok lehernya,” ujar Kasat Reskrim Polres Rembang Iptu Ibnu Suka.

Saat ini, pihaknya juga sudah mengamankan pelaku dan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait motif upaya pembunuhan yang dilakukan pelaku tersebut. “Kami juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain jaket,sandal dan sabit yang dipakai pelaku untuk mencoba membunuh korban,” imbuhnya.

Dari informasi yang dihimpung, peristiwa tersebut bermula ketika pelaku akan meminjam sepeda motor kepada korban. Pelaku pun sempat istirahat di rumah korban. Ketika sedang istrirahat tesebut, tiba-tiba pelaku bangun dan menggorok leher korban.

Sontak korban pun terbangun, dan mencoba melakukan perlawanan terhadap pelaku, sehingga membuat pelaku tak leluasa. Namun begitu, korban tetap mengalami luka di leher bagian kiri dan kanan, dan harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit.

Usai menggorok leher korban, pelaku pun kabur. Tetapi, pihak kepolisian bertindak cepat dan akhirnya dapat membekuk pelaku. “Begitu kami mendapatkan lapornan, tidak lama setelah kejadian, kami berhasil menangkap pelaku dan membawanya ke Mapolres Rembang guna pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Sumber Aiptu Herman.

Editor : Kholistiono

Polisi Bakal Tindak Tegas Jika Ada Ormas Lakukan Sweeping

 Kalolres Rembang AKBP Sugiarto saat mengecek kesiapan pasukan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat mengecek kesiapan pasukan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menegaskan, pihaknya bakal menindak secara tegas terhadap ormas, jika ada yang melakukan aksi sweeping terhadap atribut Natal atau lainnya pada perayaan Natal tahun ini.

“Sweeping ormas terhadap atribut Natal, tidak boleh terjadi dan tidak boleh dilakukan oleh ormas manapun. Sampai saat ini tidak ada indikasi mengenai hal itu. Tetapai kalau ada, kita akan tangkap,” ujarnya Jumat (23/12/2016).

Pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2017, pihaknya menerjunkan 2/3 kekuatan di Polres Rembang atau sebanyak 406 personel untuk mengamankan pelaksanaan Natal dan Tahun Baru di wilayahnya.

Menurutnya, setidaknya ada 34 gereja di wilayah Kabupaten Rembang yang akan mendapatkan pengamanan. Tidak hanya dari personel kepolisian saja, namun juga ada dari unsur TNI, Satpol PP dan perlindungan masyarakat (linmas).

“Ada tujuh personel dari polri nantinya yang bakal ditempatkan di setiap gereja. Kemudian ada juga dari TNI, Satpol PP dan Linmas. Pengamanan akan kita fokuskan di Lasem dan Rembang. Namun demikian, wilayah tetap kita pantau,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, terkait dengan kerawanan berupa ancaman terorisme dan intoleransi, katanya, juga perlu diantisipasi dengan merekatkan kerukunan dan toleransi. “Kita bersama FKUB, Banser, dan pengurus gereja sepakat kerukunan kebinekaan di Rembang tetap dijaga. Saudara kita dapat melaksanakan Misa Natal dengan lancar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Kembali Amankan Kosmetik Ilegal

Petugas dari Sat Res Narkoba Polres Rembang saat melakukan pemeriksaan terhadap obat kecantikan dan kosmetik ilegal dari salah satu toko di Rembang, Senin (19/12/2016). (Dok. Humas Polres Rembang)

Petugas dari Sat Res Narkoba Polres Rembang saat melakukan pemeriksaan terhadap obat kecantikan dan kosmetik ilegal dari salah satu toko di Rembang, Senin (19/12/2016). (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Sat Res Narkoba Polres Rembang kembali mengamankan obat kecantikan dan kosmetik ilegal. Kali ini, polisi mengamankan kosmetik ilegal tersebut dari sebuah toko Ita Fashion milik Ita Noviana di Dukuh Grajen, Desa Sumberejo, Kecamatan Kota Rembang, Senin (19/12/2016).

Kasatresnarkoba, AKP Bambang Sugito mengatakan, ditemukannya kembali sejumlah obat kecantikan dan kosmetik ilegal tersebut tak lain berdasarkan informasi dari warga melalui layanan website milik Sat Res Narkoba mengenai adanya aktivitas penjualan kosmetik yang mencurigakan.

“Benar saja, saat petugas melakukan pengecekan di lapangan, ditemukan obat kecantikan dan kosmetik tidak sesuai dengan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) sesuai dengan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ujarnya.

Dari barang bukti yang diamankan, total ada 129 obat dan kosmetik ilegal berbagai jenis. Beberapa obat dan kosmetik ilegal yang diamankan itu antara lain adalah cream merk HN, sabun batangan berwarna putih, toner tubuh, body lotion, serta lipstik merk Kissproof.

Selain itu, ada juga sabun wajah merk A-Dha, serum wajah merk Animate, sabun susu beras Thailand merk K Brother Soap, pemutih ketiak merk Shin Khurim, bedak merk 88 Bounce Uo Pact, masker wajah Naturo serta lipstik warna hijau.

“Pengungkapkan untuk kali kedua dalam sepekan kosmetik ilegal ini berdasarkan pemetaan petugas. Sasaran pemetaan adalah klinik, salon dan toko penjual kosmetik yang ada di seluruh kecamatan di Kabupaten Rembang,” ungkapnya.

Saat ini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi atas kasus penemuan obat dan kosmetik ilegal. Barang bukti sudah dikirimkan ke laboratorium kosmetik dan melakukan koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) serta BPOM Semarang.

“Kami masih melakukan pengembangan dengan melakukan pemeriksaan terhadap saksi. Pengawasan dan pemetaan masih kami lakukan terhadap klinik kecantikan, salon dan toko kosmetik di Rembang,” pungkasnya.

 Editor : Kholistiono

Tim Inafis Lakukan Identifikasi Mayat Pria yang Ditemukan di Perairan Laut Jepara, Ini Hasilnya

Tim Inafis Polres Rembang sedang melakukan identifikasi mayat pria misterius yang ditemukan di perairan laut Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tim Inafis Polres Rembang sedang melakukan identifikasi mayat pria misterius yang ditemukan di perairan laut Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Tim Inafis Sat Reskrim Polres Rembang yang dipimpin Ipda Agus Saptono melakukan identifikasi mayat misterius yang ditemukan nelayan asal Rembang di perairan laut Jepara, pada Minggu (18/12/2016).

Proses identifikasi mayat misterius tersebut dilakukan di kamar jenazah RSUD dr. R. Soetrasno Rembang pada Senin (19/10/2016). “Diperkirakan, korban ini sudah meninggal sekitar sepekan. Kemudian, dilihat dari pakaian yang dikenakan, dia bukan nelayan. Tetapi seperti pekerja kantoran,” ujar Kaur Inafis Polres Rembang Ipda Agus Saptono.

Dirinya juga menjelaskan, jika kondisi korban nyaris tak dapat dikenali, karena kondisinya sudah membusuk. Mayat pria misterius ini mengenakan celana bahan, ikat pinggang anyaman warna hitam, baju batik warna ungu kombinasi merah dan sepatu pantofel.

“Selain pakaian tersebut, di saku celananya juga diketemukan uang tunai sebesar Rp 203 ribu, dengan rincian Rp 100 ribu 1 lembar, Rp 50 ribu 2 lembar, Rp 2 ribu 1 lembar, dan Rp 1 ribu sebanya 1 lembar. Selain uang tunai juga ada kartu flash BCA. Namun kartu tersebut masih kita cek pihak perbankan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk kartu BCA yang ditemukan tersebut, diharapkan juga bisa memberikan petunjuk. Karena, data-data kepemilikan kartu itu biasana ada di bank yang bersangkutan. Untuk identitas lain, katanya, sejauh ini belum ditemukan.

Baca juga : Nelayan Asal Rembang Temukan Mayat di Perairan Laut Jepara

Editor : Kholistiono

Jangan Main-main! Tim Saber Pungli Rembang Sudah Deteksi Tempat yang Jadi Sarang Pungli

Waka Polres Rembang Kompol Pranandya Subyakto. Dirinya menegaskan, jika tim saber pungli sudah mendeteksi adanya praktik pungli di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Waka Polres Rembang Kompol Pranandya Subyakto. Dirinya menegaskan, jika tim saber pungli sudah mendeteksi adanya praktik pungli di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Setelah terbentuk sekitar satu bulan lalu, tim sapu bersih (saber) pungli Pemerintah Daerah (Pemda) Rembang kini terus intens melakukan pengawasan dan pengintaian terhadap tempat-tempat yang diduga berpotensi untuk terjadinya pungutan liar.

Bahkan, tim saber pungli, kini telah mendeteksi beberapa tempat yang diduga ada tindakan pungutuan liar yang dilakukan oknum. Hal itu disampaikan oleh Kepala Pelaksana Tim Saber Pungli Wakapolres Rembang Kompol Pranandya Subyakto.

Namun demikian, Kompol Pranandya belum mau secara gamblang mengatakan instansi atau lembaga mana saja yang sudah masuk radar tim saber pungli. “Masih dalam pantauan. Jika hasilnya positif, maka tim akan melakukan tindakan hukum. Nanti kalau kita juga akan menginformasikan kepada masyarakat melalui media,” ujarnya, Sabtu (17/12/2016).

Dirinya juga mengatakan, jika tim yang dipimpinnya ini ada beberapa kali mendapatkan laporan dari masyarakat terkait praktik pungli yang terjadi di beberapa instansi atau lembaga. Terkait hal tersebut, pihaknya juga langsung menindaklanjuti dan memastikan apakah memang ada praktik pungli seperti yang dilaporkan masyarakat.

Untuk itu, dirinya berharap, masyarakat tidak enggan untuk melaporkan jika menemui atau mengetahui adanya praktik pungli. Tim saber pungli, juga memiliki nomor aduan yang bisa menjadi corong bagi masyarakat untuk melaporkan adanya tindakan pungli. Nomor pengaduan tersebut adalah  081 227 48 5050.

Editor : Kholistiono

Ini yang Dilakukan Polres Rembang untuk Pulihkan Trauma Korban Pencabulan

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menunjukkan dua pelaku pencabulan yang berhasil diamankan di Mapolres Rembang beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat gelar perkara terkait kasus pencabulan. Di belakang kapolres ada dua pelaku pencabulan yang berhasil diamankan di Mapolres Rembang beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Kasus pencabulan anak di bawah umur kian mengkhawatirkan di wilayah hukum Polres Rembang. Dalam kurun waktu dua pekan ini, ada tiga kasus yang ditangani Sat Reskrim Polres Rembang  terkait kasus pencabulan. Mirisnya, dua pelaku merupakan orang terdekat korban, yaitu ayah tiri.

Terkait dengan kasus pencabulan tersebut, Polres Rembang berupaya ikut membantu proses pemulihan trauma terhadap korban, yang semuanya di bawah umur. Bahkan, salah satu korban yang dicabuli ayah tirinya, kini sudah hamil enam bulan.

“Dalam proses pemulihan trauma korban pencabulan ini, kami akan menggandeng beberapa pihak. Di antaranya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) dan psikolog, untuk memberikan konseling,” ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Kamis (8/12/2016).

Tidak hanya itu saja, proses pemulihan trauma terhadap korban, juga melibatkan keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain sebagainya. Sehingga, dengan peran dari berbagai pihak, korban dapat pulih dari trauma yang dialami.

Kapolres juga berharap, agar orang tua memberikan pengawasan terhadap putra-putrinya, agar tidak menjadi korban pencabulan atau lainnya. “Sebab, sebagian besar pelaku pencabulan ini adalah orang-orang dekat. Orang yang sudah dekat dengan korban. Bisa jadi keluarga sendiri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Diimingi Dibelikan HP, Siswi SMP di Rembang Ini Dicabuli Kuli Bangunan

 AS, pelaku pencabulan terhadap siswi SMP sedang dimintai keterangan di Mapolres Rembang. (Dok.Humas Polres Rembang)

AS, pelaku pencabulan terhadap siswi SMP sedang dimintai keterangan di Mapolres Rembang. (Dok.Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Grobogan – AS, warga Desa Sambiroto, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang diamankan Sat Reskrim Polres Rembang. AS yang merupakan kuli bangunan ini, diduga telah menyetubuhi KN (14) siswi di salah satu SMP di Kecamatan Sedan. Pelaku ditangkap pada Kamis (1/12/2016) saat sedang bekerja di Puskesmas Sedan.

Aksi bejat pelaku tersebut diketahui orang tua korban, ketika mendapati KN pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Sebelumnya, KN sempat dicari kedua orang tuanya karena semalam tak pulang ke rumah.

Siswi SMP itupun akhirnya menceritakan jika dirinya telah disetubuhi oleh tersangka di sebuah perkebunan yang berada di Desa Karangasem, Kecamatan Sedan. Tak terima putrinya mengalami pelecehan seksual, orang tua KN pun melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sedan.

Selang 19 hari setelah melakukan aksi bejatnya itu, pelaku akhirnya berhasil diamankan pada Kamis (1/12/2016) sore. Sat Reskrim Polres Rembang berhasil menangkap pelaku di tempat kerjanya, yang saat itu, sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Puskesmas Sedan.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melalui Kasat Reskrim Polres Rembang Iptu Ibnu Suka mengatakan, pelaku mengenal korban secara tak sengaja. Dia mengacak nomor telepon yang ternyata merupakan milik KN. Setelah berkenalan dengan korban, tiga hari kemudian pada Sabtu (12/11/2016) malam pelaku mengajak korban keluar rumah.

“Setelah dibujuk dan disertai iming-iming akan dibelikan handphone, korban akhirnya mau menuruti permintaan pelaku. Dia lantas menjemput KN menggunakan sepeda motor tanpa sepengetahuan orang tuanya. 
Bukannya menepati janjinya membelikan handphone, pelaku justru membawa korban ke perkebunan di Desa Karangasem, Sedan. Di tempat itulah, dia kemudian menyetubuhi korban. Usai melampiaskan nafsunya, pelaku lantas pergi meninggalkan korban dengan alasan akan membeli bensin,” ujarnya.

Terkait kasus ini, pelaku dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014, tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Editor : Kholistiono

Bejat! ABG di Rembang Ini Disetubuhi Ayah Tiri Hingga Hamil 6 Bulan

AEP, pelaku pencabulan terhadap anak tiri saat dimintai keterangan penyidik di Mapolres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

AEP, pelaku pencabulan terhadap anak tiri saat dimintai keterangan penyidik di Mapolres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – AEP (43), seorang ayah tiri di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, terpaksa harus merasakan dinginnya jeruji besi. Ia dipolisikan istrinya sendiri S (34) karena tega menyetubuhi anak tirinya.

Namun, hal itu tak sebanding dengan penderitaan dan beban malu yang dirasakan korban, SR. Bahkan, perempuan belia yang berusia ini 15 tahun ini, kini hamil 6 bulan akibat perbuatan ayah tirinya tersebut. SR  sendiri, kini sudah tak bersekolah, sebab sejak kelas VIII SMP sudah memilih untuk berhenti.

Tak hanya sekali, AEP menyetubuhi SR sejak Desember 2015 lalu. Meski telah berulang kali terjadi, pihak keluarga SR baru melaporkan AEP ke Polres Rembang, pada Kamis (24/11/2016).

Kelakuan bejat buruh serabutan ini terbongkar ketika sang ibu melihat ada perubahan bentuk tubuh pada korban. Pada saat itu, ibu korban curiga dengan perubahan tersebut dan kemudian menanyakan kepada sang anak.

Saat didesak oleh sang ibu, kemudian SR berterung terang, jika dirinya telah disetubuhi oleh ayah tirinya sejak Desember 2015 silam. Mendengar penjelasan sang anak, kemudian ibu korban langsung melaporkan hal tersebut ke Polres Rembang.

Sementara itu, menurut keterangan pelaku di hadapan penyidik, AEP mengatakan jika dirinya sudah lupa berapa kali menyetubuhi anak tirinya tersebut.  “Saya lupa melakukan hal itu. Saya juga lupa sudah berapa kali hal itu saya lakukan. Yang pasti saya melakukannya saat dia pulang dari sekolah,” katanya, Senin (28/11/2016).

Dirinya mengaku melakukan perbuatan bejat tersebut, karena, sudah terbiasa tidur satu kamar dengan korban. “Saya kan sudah lama tidur dengannya satu kamar. Yakni satu kamar untuk 4 orang. Saya, istri, anak kecil saya, dan SR itu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Demo 25 November, Polisi Rembang Dekati Para Ulama

 Aiptu Siman anggota Polsek Bulu saat berdoa bersama dengan masyarakat dan tokoh agama di Wilayah Bulu, Rembang, Kamis (24/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aiptu Siman anggota Polsek Bulu saat berdoa bersama dengan masyarakat dan tokoh agama di Wilayah Bulu, Rembang, Kamis (24/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Menyikapi rencana aksi gerakan massa ke Jakarta pada aksi demo 25 November dan 2 Desember 2016 mendatang. Polres Rembang menggerakkan personelnya untuk melakukan pendekatan para ulama. Baik Babinkamtibmas hingga para perwira dikerahkan untuk menyambangi tokoh agama, di seluruh kecamatan yang ada di Rembang.

Seperti halnya yang dilakukan Kapolsek Gunem AKP Yuliadhi yang mendatangi Kiai Nursalim Trembes, Kapolsek Sedan AKP Joko Purnomo yang mengunjungi KH Dimyati di Dukuh Pesantren-Sedan, dan Kapolsek Lasem AKP Eko Budi S yang berkunjung ke Gus Qoyyum di Pesantren An-nur Soditan Lasem.

Sementara itu, Kapolsek Kragan AKP Siswanto juga berkunjung ke Kiai Faqih di MA Nahjatus Sholihin Kragan, dan Kapolsek Pamotan AKP Kisworo yang mengunjungi KH Fauzi dan KH Amir Mahmud di Pesantren Al-Falah Pamotan.

Kemudian, Kapolsek Sale AKP Isnaeni yang berkunjung ke sejumlah tokoh agama dan takmir masjid di Desa Gading, Mrayun, dan Wonokerto, serta Kapolsek Sluke AKP Bibit AS yang mengunjungi KH Ansori di Kalimalang-Trahan.

Sementara itu, Kapolsek Sumber AKP Suhaendi Tirta yang berkunjung ke Kiai Rosyidi di Desa Kedungtulup dan Kapolsek Bulu AKP Riwayat Susianto yang mengunjungi Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bulu Kyai Syarkowi.

Kapolsek Sulang AKP Haryanto pun berkunjung ke Pesantren Alhamdulillah Kemadu, bertemu Nyai Hj Rahmawati Syahid dan Kapolsek Kaliori AKP Sukiyatno dan Kapolsek Kota Rembang Sunarmin yang juga sowan ke sejumlah kiai.

Kapolres Rembang AKP Sugiarto meminta warga Rembang untuk tidak ke Jakarta untuk mengikuti aksi demo tersebut. Lebih baik menurut dia, warga Rembang berdoa untuk kemanan Indonesia di rumah.

“Terkait dengan adanya rencana aksi 25 November atau 2 Desember 2016 mendatang, lebih bijaknya semua warga Rembang mendoakan situasi Indonesia di rumah masing-masing agar wilayah tetap aman dan kondusif, demi tegaknya NKRI,” kata Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

Menurutnya, berdasarkan yang disampaikan oleh Kapolri, rencana aksi susulan pada 25 November dan 2 Desember nanti berpotensi ditunggangi oleh kepentingan lainnya. Sehingga kegiatan itu bisa disikapi dengan arif dan bijaksana.

Sementara itu, Komandan Kodim 0720/Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady mengungkapkan, berdasarkan data intelijen yang didapatnya, sementara ini masih belum  adanya organisasi massa di Rembang yang berencana akan gabung dalam aksi demo susulan mendatang di Jakarta.

“Lebih baik saling mendoakan di rumah saja. Jika permasalahan itu hanya untuk menuntut proses hukum atas dugaan penistaan agama, biarlah aparat penegak hukum yang menanganinya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Tak Puas Hasil Pilkades, Timses Calon Kades Lakukan Demo dan Berujung Bentrok dengan Polisi

Simulasi pengamanan pelaksanaan pemilihan kepala desa yang dilakukan di Lapangan Rumbut Malang Rembang, Selasa (22/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Simulasi pengamanan pelaksanaan pemilihan kepala desa yang dilakukan di Lapangan Rumbut Malang Rembang, Selasa (22/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Rembang – Massa pendukung dari salah satu calon kepala desa yang tidak terpilih pada pemilihan kepala desa (pilkades) di Rembang melakukan unjuk rasa. Mereka tidak menerima hasil pelaksanaan pilkades yang dinilai ada kecurangan.

Situasi unjuk rasa yang bermula damai, tiba-tiba berubah menjadi tidak kondusif. Massa yang coba merangsek, kemudian menyerang petugas kepolisian. Bentrok antara massa pendemo dan aparat pun tak bisa terhindarkan.

Untuk membubarkan massa, polisi juga menyemprotkan gas air mata. Bahkan, akibat bentrok tersebut, ada beberapa pendemo dan aparat yang harus ditandu untuk mendapatkan perawatan, karena mengalami luka.

Namun, ini adalah hanya sebuah simulasi yang dilakukan Polres Rembang dalam rangka pengamanan pelaksanaan pemilihan kepala desa yang bakal berlangsung pada 30 November mendatang. “Ini dalam rangka latihan untuk menyiapkan personel dalam menghadapi pelaksanaan pilkades,” ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto usai Apel Sispam Pilkades di Lapangan Rumbut Malang Rembang, Selasa (22/11/2016).

Dalam latihan tersebut, pihaknya menerjunkan 2/3 dari kekuatan Polres Rembang, atau sekitar 400 personel. Dengan latihan itu, diharapkan, personel lebih siap dan sigap melakukan pengamanan pelaksanaan pilkades nanti. Pada simulasi tersebut, juga dilakukan pengamanan mulai di tempat pemungutan suara (TPS), penghitungan suara hingga usai pelaksanaan pilkades.

Editor : Kholistiono

Seorang Kakek 70 Tahun dan Oknum PNS di Rembang Dibekuk Polisi Gara-gara Ini

Kedua pelaku judi togel yang berhasil diamankan anggota Sat Reskrim Polres Rembang. (Dok. Humas Polres Rembang)

Kedua pelaku judi togel yang berhasil diamankan anggota Sat Reskrim Polres Rembang. (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Anggota Sat Reskrim Polres Rembang mengamankan dua orang pelaku judi toto gelap (togel). Kedua pelaku yang diamankan tersebut adalah M bin S (70), warga Desa Taunan RT 01 RW 04, Kecamatan, Rembang dan M bin R (41), yang merupakan seorang PNS asal Dukuh Candisari,Desa Pamotan RT 03 RW 05 Kecamatan Pamotan, Rembang.

Kasat Reskrim Polres Rembang Iptu Ibnu Suka mengatakan, penangkapan terhadap kedua pelaku judi togel tersebut, berawal dari laporan masyarakat, yang menyebutkan di ruang penjagaan KUD Pamotan Desa Pamotan ada orang bemain judi jenis togel.

“Mendapatkan laporan tersebut, kemudian anggota bergerak untuk melakukan penyelidikan di tempat sesuai informasi masyarakat. Benar saja, pada Rabu (2/11/2016) sekitar pukul 19.30 WIB, ketika anggota kami ke lokasi mendapatkan M bin S sedang melayani pembeli,” ujarnya.

Kemudian, saat dilakukan penggeledahan, tersangka tak bisa berkutik karena ditemukan barang bukti pada pelaku.Selanjutnya, pelaku dan barang bukti langsung diamankan dan dibawa ke Polres Rembang untuk proses penyidikan lebih lanjut.

Selain pelaku, barang bukti yang berhasil diamankan petugas yakni, uang tunai Rp 237 ribu,1 buah bolpoin warna hitam dan dua lembar kertas rekapan atau tulisan angka tebakan serta uang taruhan.

“Pelaku mengaku bahwa dirinya telah melakukan perjudian togel dengan taruhan uang yang niatnya untuk sambilan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua pelaku menjalani proses hukum di Sat Reskrim Polres Rembang dan akan dijerat dengan Pasal 303 KUHP,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

3 Tahun Beraksi, Toni Mondol Gasak 50 Sepeda Motor

Barang bukti sepeda motor yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. Untuk saat ini jumlahnya mencapai 19 unit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Barang bukti sepeda motor yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang. Untuk saat ini jumlahnya mencapai 19 unit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sepandai-pandai tupai melompat, pasti terpeleset juga. Ungkapan itu seolah cocok untuk PPH (41) alias Toni Mondol, pelaku pencurian sepeda motor (curanmor) yang akhirnya dibekuk polisi.

Toni merupakan warga Desa Kabongan Kidul,Kecamatan Rembang. Kelihaiannya mencuri motor tak perlu diragukan lagi. Selama tiga tahun ini, pria sudah puluhan kali mencuri sepeda motor di wilayah Rembang, Blora dan Kudus.

Toni berhasil dibekuk pada Rabu (26/10/2016) lalu. Hal ini, setelah polisi melakukan penyelidikan dan pengembangan atas laporan warga  bernama Tetyowati (51), warga Kelurahan Sidowayah, Kecamatan Rembang, yang kehilangan sepeda motor jenis Vario pada Mei 2013 lalu.

“Dalam pengembangan yang kita lakukan, akhirnya terungkap nama Toni ini, yang kemudian kita target. Setelah, tercium keberadaannya, maka anggota kami langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku,” ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto saat gelar perkara di Mapolres Rembang, Rabu (2/11/2016).

Menurutnya, dari pengakuan pelaku, sejak 2013 hingga 2016 ini, Toni sudah menggasak sebanyak 50 sepeda motor berbagai merek di beberapa wilayah. Di antaranya, Rembang, Kudus dan Blora. Namun, barang bukti yang saat ini berhasil diamankan tim Reskrim Polres Rembang  ada 19 sepeda motor.

Setelah mengamankan Toni, polisi juga mengamankan Sumarto (46) warga Desa Terteg, Kecamatan Pucakwangi, Pati dan Mulut (45) warga Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati. Keduanya merupakan penadah hasil curian sepeda motor dari Toni.

“Motor curian dari Toni, kemudian dibeli Sumarto maupun Mulut dengan harga Rp 1.5 juta hingga Rp 2 juta. Tergantung merk sepeda motor. Setelah itu kedua penadah tersebut langsung menjualnya kembali di wilayah Kecamatan Rembang bagian pedalaman,” kata Kapolres.

Menurutnya, aksi pencurian yang dilakukan, pelaku biasanya mengintai warga yang memarkirkan kendaraannya di pekarangan rumah atau persawahan. Ketika pemilik kendaraan lengah, kemudian pelaku langsung melancarkan aksinya tersebut dengan menggunakan kunci letter T.

Lebih lanjut ia katakana, dari 19 unit sepeda motor yang berhasil diamankan oleh Polres Rembang,di antaranya adalah Honda Vario atas nama Joko Susilo warga Desa Weton, Kecamatan Rembang, Honda Supra X atas nama Muhammad Khoirul Anam warga Desa Labuhan Kecamatan Sluke, Yamaha Vixion atas nama Sandi Susanto warga Desa Sendangagung, Kecamatan Rembang, Honda Supra Fit atas nama Riniwati warga Desa Langenharjo Kecamatan Juwana Pati, Honda Revo atas nama Ibnu Khaldun Ngawen, Blora dan selebihnya masih dalam tahap pendataan Reskrim.

“Bagi korban atau masyarakat yang merasa kehilangan sepeda motor, maka kami persilakan untuk mengkroscek di Polres Rembang dengan cara membawa surat kehilangan, BPKB, STNK dan sejenisnya. Bilamana kendaraan itu milik korban pencurian maka akan kita kembalikan secara gratis,” ucapnya.

Sementara itu, saat diwawancarai MuriaNewsCom, pelaku yakni Toni Mondol mengaku melakukan tindakan kriminal tersebut lantaran beban ekonomi. “Saya melakukan ini karena untuk bayar hutang. Sebab beban ekonomi memang berat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Personel Sat Sabhara Bersenjata Lengkap Tiba-tiba Berlarian Amankan Mapolres Rembang, Ada Apa?

Personel Sat Sabhara Polres Rembang mengikuti kegiatan alarm stelling di Mapolres Rembang, Rabu (2/11/2016). (Dok. Humas Polres Rembang)

Personel Sat Sabhara Polres Rembang mengikuti kegiatan alarm stelling di Mapolres Rembang, Rabu (2/11/2016). (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Lonceng dan alarm pada megaphone dibunyikan secara terus menerus sebagai tanda keadaan siaga. Mendapati situasi seperti ini, seluruh personel Sat Sabhara Polres Rembang dengan bersenjata lengkap langsung berlarian menempati posnya masing-masing.

Mapolres Rembang di bagian depan, belakang, kiri dan kanan langsung dijaga personel yang menggunakan senjata lengkap tersebut. Tak ketinggalan, tahanan dan barang barang penting yang ada di dalam Polres Rembang juga dijaga ketat.

Eits, jangan was-was dulu. Ini merupakan bagian dari kegiatan alarm setilling. Penempatan personel pada alrm stelling ini permanen dan telah ditetapkan dengan sprin Kapolres, sehingga apabila sewaktu-waktu dihadapkan kepada situasi darurat dan diperlukan pengamanan Polres Rembang semua personel sudah mengetahui tempatnya masing-masing. Dengan demikian, kesiap-siagaan personel dalam pengamanan Polres bisa dilaksanakan dengan cepat dan sesuai SOP yang telah ditetapkan.

“Kegiatan alarm stelling dilaksanakan untuk melatih seluruh personel, khususnya Sat Sabhara agar lebih sigap dan cekatan dalam melaksanakan pengamanan Polres Rembang apabila secara mendadak mendapatkan serangan dari luar dan dapat dilaksanakan sesuai SOP,” ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melalui Kasat Sabhara Polres Rembang AKP Roy Irawan, Rabu (2/11/2016).

Dirinya juga menjelaskan, tujuan latihan tersebut untuk membekali personel agar memiliki kemampuan taktik dan teknik dalam operasi pengamanan polres dengan sasaran mewujudkan pemahaman dan kemampuan mengaplikasi taktik dan teknik pengamanan polres, serta kemampuan bekerja sama dalam pengamanan, pengintaian, pengindentifikasian dan tindakan terhadap sasaran.

Selesai latihan, seluruh personel dikumpulkan di halaman Polres Rembang dan diberikan arahan oleh Kasat Sabhara. Dalam arahanya, Kasat Sabhara menyampaikan kegiatan pelatihan semacam ini akan terus kita laksanakan, apabila dihadapkan pada situasi yang sebenarnya, agar pergerakan personel lebih cepat dalam berkumpul serta cepat dalam menempati posnya masing-masing, dalam hal ini pengamanan polres.

“Masing-masing personel diharapkan sudah paham dan mengerti akan berbuat apa, bertanggung jawab kepada siapa dan di mana penugasannya. Bila diantara personel ada yang berhalangan hadir agar di koordinasikan, untuk mengetahui keberadaan anggota tersebut dan setelah selesai latihan pengamanan Polres Rembang,” pungkasnya.

 Editor : Kholistiono

Agar Tak Sembarang Tembak, Senpi Anggota Polres Rembang Diperiksa Propam

Pemeriksaan senpi milik anggota polisi di Mapolres Rembang, pada Selasa (25/10/2016) . (Dok. Humas Polres Rembang)

Pemeriksaan senpi milik anggota polisi di Mapolres Rembang, pada Selasa (25/10/2016) . (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Bagian Sumber Daya (Sumda) bekerjasama dengan Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Resor Rembang, Jawa Tengah, melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap senjata api yang dibawa anggota polres dan polsek, di Halaman Polres Rembang, Selasa ( 25/10/2016).

Dalam pemeriksaan yang dipimpin Kepala Bagian Sumda Kompol Kelik Budi Antara dan Kepala Seksi Propam (Kasi Propam) Ipda Hery Basuki, satu per satu senjata api diperiksa kelaikan dan kebersihannya.Selain itu, masa berlaku surat izin membawa senjata juga diperiksa apakah masih aktif atau sudah mati.

Kabag Sumda Polres Rembang Kompol Kelik Budi Antara mengatakan, bahwa pemeriksaan senjata api tersebut dilaksanakan atas perintah Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

“Pemeriksaan senjata api berkala digelar dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana inventaris atau senjata api itu dijaga dengan baik,” katanya.

Menurut dia, pemeriksaan juga ditujukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan senjata api serta amunisinya oleh anggota Polri khususnya anggota Polres Rembang.Oleh sebab itu, kata dia, personel yang berhak memegang senjata api hanya yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.”Hal itu guna mengantisipasi penyalahgunaan senjata api oleh anggota,” tegasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, bahwa dari hasil pemeriksaan terhadap surat izin dan kondisinya, senjata api yang dibawa anggota Polres Rembang dalam kondisi lengkap dan layak digunakan.
Bahkan, kata dia, ada beberapa anggota yang ditegur karena kurang bersih dalam merawat senjata api yang dibawanya.

Editor : Kholistiono

Ini Nomor Layanan Pengaduan jika Menjumpai Pungli yang Dilakukan Oknum Polisi

Beberapa petugas kepolisian sedang menunjukkan spanduk yang berisi nomor layanan pengaduan pungli (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa petugas kepolisian sedang menunjukkan spanduk yang berisi nomor layanan pengaduan pungli (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Untuk menghindari praktek pungutan liar (pungli) di layanan publik, Polres Rembang membuka layanan telepon dan SMS pengaduan masyarakat. Melalui telepon dan SMS pengaduan ini masyarakat bisa melaporkan tindakan yang dilakukan oknum polisi dalam melakukan pelayanan publik, baik itu pelayanan publik yang dilakukan di Mapolres Rembang maupun pelayanan publik lainnya, khususnya di pelayanan administrasi kendaraan.

Kasat Lantas Plores Rembang AKP Muh Rikha Zulkarnain melalui Kanit Regiden Iptu Setiyanto mengatakan, jika ada masyarakat yang merasa dipungut biaya dalam pengurusan SIM, BPKB, STNK dan lainnya, tidak sesuai dengan aturan, maka bisa melapor ke jajaran kepolisian atau juga nomor telepon 08127567891.

“Masyarakat bisa langsung melaporkan setiap ditemukannya praktek pungli yang dilakukan anggota polisi, melalui layanan SMS atau telepon yang langsung masuk ke nomor Pak Kapolres,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Senin (24/10/2016).

Menurutnya, nomor layanan pengaduan tersebut, dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, karena dicantumkan pada spanduk yang dipasang di tempat strategis di kantor Samsat atau Satlantas.

Dirinya juga menyatakan, Kapolres telah menegaskan, jika terjadi tindakan pungli, maka Kapolres akan mengambil tindakan tegas untuk memberikan sanksi kepada anggotanya jika terbukti melakukan pungli. Seperti halnya penundaan kenaikan jabatan hingga pemecatan.

Editor : Kholistiono

3 Pengedar Sabu Dibekuk Polres Rembang

Salah satu tersangka pengedar narkoba sedang dimintai keterangan oleh penyidik di Polres Rembang (Dok. Humas Polres Rembang)

Salah satu tersangka pengedar narkoba sedang dimintai keterangan oleh penyidik di Polres Rembang (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang– Peredaran narkoba di Kabupaten Rembang sudah cukup mengkhawatirkan. Buktinya, polisi terus meringkus pengedar barang haram itu dari jaringan berbeda.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melalui Kasat Res Narkoba AKP Bambang Sugito mengatakan, dalam pekan ini, sudah ada tiga orang pengedar narkoba kembali diamankan oleh Satres Narkoba Polres Rembang.

Pelaku diamankan dalam waktu terpisah di dua lokasi berbeda. Masing-masing di area SPBU Tasiksono Lasem dan di Jalan Pantura, Desa Blimbing, Kecamatan Sluke. Ketiga tersangka, merupakan jaringan berbeda.

“Satu orang merupakan jaringan Jawa Timur. Tersangka ini atas nama Nurhadi Prayitno alias Dalboh (39), warga RT 1 RW 1 Desa Blimbing, Kecamatan Sluke. Pelaku ditangkap di Jalan Pantura dekat tempat tinggalnya pada Senin (19/10/2016) lalu,” ujarnya.

Kemudian, dua pelaku lagi ditangkap di area SPBU Tasiksono, pada Rabu (19/10/2016). Keduanya mengaku mendapatkan sabu tersebut dari Semarang. Dua tersangka masing-masing adalah Tri Asmara Dada Hartono yang berprofesi sebagai sopir, warga RT 6 RW 1 Desa Sarirejo, Kaliwungu, Kendal serta Heru Susanto (36) warga RT 1 RW 2 Desa Kutoarjo, Kaliwungu, Kendal.

Dari tangan tersangka di Blimbing Sluke, polisi berhasil mengamankan satu paket sabu senilai Rp 600 ribu, satu unit ponsel warna putih, uang tunai Rp 59.000, serta sepeda motor Honda Supra warna hitam dengan nopol H 2276 QG.

Sedangkan dari dua tersangka di SPBU Tasiksono, polisi berhasil mengamankan satu paket sabu seberat 6 gram lebih, satu mobil Avanza dengan nopol H 9011 HM, serta uang tunai sebesar Rp 315.000.

“Dua tersangka yang dibekuk di Tasiksono, termasuk paket besar. Dengan berat barang bukti lebih dari 6 gram dengan nilai Rp 12 juta. Ketiga tersangka diancam dengan pasal 114 dan 112 Undang-undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya 14 tahun penjara,” jelasnya.

Menurut AKP Sugito , ketiga tersangka ini juga merupakan jaringan berbeda dari penangkapan tiga orang pengedar di area Rumah Makan Robyong Sluke, beberapa pekan sebelumnya. Tiga tersangka terakhir ini juga ditangkap dari informasi orang yang berbeda.

Editor : Kholistiono

Cantiknya Uti, Polwan di Polres Rembang yang Piawai Bermain Ketoprak

Bripda Wahyuti, Polwan yang bertugas di Sat Lantas Polres Rembang. Bripda Wahyuti juga piawai menjadi pemain ketoprak (Dok. Humas Polres Rembang)

Bripda Wahyuti, Polwan yang bertugas di Sat Lantas Polres Rembang. Bripda Wahyuti juga piawai menjadi pemain ketoprak (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Wahyuti adalah seorang polisi wanita asal Kabupaten Rembang yang bertugas di Polres Rembang. Dara cantik yang biasa bertugas sebagai polisi lalu lintas ini, menunjukkan sisi lain dari polisi yang terkenal galak, kaku, dan menakutkan ini dia ubah menjadi sebaliknya.

Parasnya yang cantik seakan mempunyai nilai pikat tersendiri bagi sebagian orang. Wahyuti tak hanya menjadi seorang polisi, kecintaannya terhadap dunia seni tradisional juga menjadikannya sebagai seorang pemain ketoprak.

Dua peran dijalankan Bripda Wahyuti saat menjalankan tugas sebagai anggota Sat Lantas Polres Rembang, sebagai sosok tegas dan disiplin. Berbeda saat di atas panggung ketoprak, dia mampu tampil dengan lembut dan lemah gemulai.

Bripda Wahyuti usai menjalankan tugas sebagai anggota Polri masih menyempatkan bermain ketoprak. Semua tidak lepas dari keinginannnya menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Sebelum menjadi anggota Polwan, dirinya juga sudah menjadi pemain ketoprak. Berbagai peran mampu dimainkan dengan baik hingga sekarang. Mulai peran sebagai anak raja hingga peran pembantu. Bripda Wahyuti juga dipercaya sebagai pemain utama.

Bripda Wahyuti menjadi pemain ketoprak berawal dari lingkungan keluarga ,orang tua ,saudara-saudara kakeknya yang dikenal sebagai seniman. Di rumah orang tuanya juga memiliki perangkat gamelan dan wayang kulit.

“Kali pertama main ketoprak diajak paman saya yang tinggal di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, pada 2013 lalu. Saat itu saya menunggu pengumuman hasil pendaftaran menjadi polisi . Pertama saya main juga grogi, namun lambat laun mental saya semakin matang untuk bisa bermain di hadapan banyak orang,” katanya.

Untuk bisa bermain, dirinya juga rutin mengikuti latihan, sebelum jauh-jauh hari sebelum tampil. Baik itu menghafalkan naskah atau gerakan, agar mampu tampil dengan bagus dan mendapat sambutan hangat dari penonton.

Kemudian, begitu diterima menjadi polwan, dirnya sempat berhenti latihan, sebab menjalani pendidikan. Selepas pendidikan polisi, perempuan kelahiran Rembang 26 juli 1994 kembali ikut latihan ketoprak.

Kali pertama ditempatkan Binmas Polres Rembang, banyak kegiatan berhubungan dengan masyarakat. “Kebetulan ada petugas yang sama-sama getol di bidang seni . Jadi, saya bersama unsur TNI,Perhutani,dan masyarakat membentuk ketoprak Rikkat ( Polri bersama Masyarakat ). Ketoprak ini memberikan sosialisasi tentang Kamtibmas, dan akhirnya respon masyarakat diterima positif,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Kisah Polisi di Rembang yang 12 Tahun Tinggal di Kuburan

Aiptu Widodo Ramelan (kanan) saat berbincang dengan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto (tengah) saat berkunjung ke rumahnya di kompleks pemakaman umum Krapyak di Desa Sidowayah, Rembang, Kamis (13/10/2016). (Dok.Humas Polres Rembang)

Aiptu Widodo Ramelan (kanan) saat berbincang dengan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto (tengah) saat berkunjung ke rumahnya di kompleks pemakaman umum Krapyak di Desa Sidowayah, Rembang, Kamis (13/10/2016). (Dok.Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Sudah 12 terakhir ini, Aiptu Widodo Ramelan (52) tinggal di kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Desa Sidowayah, Rembang. Pria yang menjabat sebagai Kasi Humas Polsek Lasem ini, setiap harinya banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga di areal kuburan tersebut.

Aiptu Widodo, bercerita, dirinya memilih untuk menetap di kompleks pemakaman tersebut, sekitar tahun 2004 lalu. Dirinya memang sengaja untuk tinggal di kompleks pemakaman itu, yang nota bene merupakan tanah milik Negara, karena untuk kebaikan keluarga.

“Saya ini merupakan keluarga besar. Anak bapak dan ibu saya itu ada 10, dan saya adalah anak nomor 7. Kami pun terhitung berasal dari keluarga yang pas-pasan. Karena saudara saya banyak, ketika ada jatah warisan untuk kami, saya memilih jatah itu saya berikan kepada saudara yang lain, yang mungkin kehidupannya masih kurang beruntung ketimbang saya. Kemudian, saya pilih tinggal di kompleks pemakaman ini,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (13/10/2016).

Dirinya juga menceritakan bagaimana awalnya hingga bisa membuat rumah sederhana berukuran 9X6 meter itu. Awal-awal dulu, menurutnya, dirinya dibantu rekan-rekannya di kepolisian dan juga yang lain untuk bisa mendirikan rumah yang layak ditempati.

“Lahan yang saya tempati ini adalah milik Negara, dan dulunya merupakan lahan yang bekas ditanami bambu. Saya banyak dibantu teman-teman ketika mendirikan rumah ini, baik itu material atau yang lainnya. Saya sangat berterima kasih untuk kebaikan mereka semua,” imbuhnya.

Meski tinggal di kompleks pemakaman, dirinya bersama istrinya Yatni (49) dan empat anaknya, Aiptu Widodo mengaku sudah terbiasa. Padahal ketika membuka pintu rumah, dan hanya selangkah keluar sudah ada patok-patok kuburan.

Bahkan, karena tinggal di kompleks kuburan tersebut, Aiptu Widodo dijuluki dengan penjaga kuburan. “Nggak apa-apa, itu kan hanya julukan. Yang penting saya bisa hidup nyenyak, meski tidak tinggal di rumah yang bagus atau naik mobil mewah. Saya bersyukur dengan rezeki yang saya dapatkan, dan mudah-mudahan halal,” katanya.

Aiptu Widodo Ramelan sedang memberi makan ternaknya. Usai berdinas, biasanya dirinya mengurus ternak yang dipeliharanya di rumah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aiptu Widodo Ramelan sedang memberi makan ternaknya. Usai berdinas, biasanya dirinya mengurus ternak yang dipeliharanya di rumah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Di rumah sederhana itu, Aiptu Widodo juga beternak ayam dan entok. Dengan cara seperti itu, dirinya berharap bisa menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu, dengan beternak, menurutnya juga bisa mengusir jenuh ketika usai bertugas.

Dirinya juga menuturkan, dalam mendidik anak-anaknya agar mau belajar hidup sederhana dan tidak gengsi dengan kondisi seperti sekarang ini. Katanya, untuk anaknya yang pertama, yakni Shabara Novi Ramelan kini sudah bekerja sebagai security di Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rembang.

“Dulu sempat mendaftar sebagai polisi, tapi tidak lolos. Kemudian untuk anak saya yang nomor dua, yaitu Al Prasetyo Ramelan, Alhamdulillah sudah bertugas sebagai anggota TNI. Sedangkan untuk yang nomor tiga, Ramadhan Bayu Aji Ramelan masih sekolah di SMP dan yang keempat yakni Romandhona Sukma Ramelan masih SD,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia katakan, dalam waktu yang mungkin tidak lama, dimungkinkan dirinya akan pindah dari kompleks pemakaman tersebut. Sebab, dirinya sudah mendaftarkan diri untuk bisa menghuni perumahan Bhayangkara Residence yang digagas oleh Kapolres Rembang.

“Sekarang kan sedang dibangun perumahan yang diperuntukkan anggota Polri yang berada di wilayah Kaliori. Jumlahnya sekitar 80 unit, dan Alhamdulillah, ketika saya ikut mendaftar, bisa lolos verifikasi dan bisa menempati rumah itu nanti. Meski harganya mencapai ratusan juta, namun ada kemudahan yang diberikan dengan cara mengangsur,” jelasnya.

Dirinya juga mengatakan, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, hari ini sempat berkunjung ke rumahnya yang berada di kompleks pemakaman Krapyak, untuk melihat langsung kondisi tempat tinggalnya. “Saya berterima kasih Pak Kapolres menyempatkan waktunya berkunjung ke rumah saya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kapolres Rembang Imbau Warga Korban Penipuan Dimas Kanjeng Melapor ke Polisi

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto. Kapolres mengimbau warga korban penipuan Dimas Kanjeng untuk melapor (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto. Kapolres mengimbau warga korban penipuan Dimas Kanjeng untuk melapor (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski hingga kini belum ada warga di Kabupaten Rembang yang menyampaikan laporan ke Polres Rembang, terkait kasus penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi, namun Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengimbau, jika ada warga yang telah menjadi korban atau terindikasi akan menjadi korban, untuk segera menyampaikan laporan kepada pihaknya.

“Kami mengimbau kepada masyarakat, apabila telah menjadi korban, atau ada indikasi akan menjadi korban, dapat segera melapor. Sehingga dapat ditangani lebih cepat,” imbaunya, Rabu (12/10/2016).

Kapolres menegaskan, jika nantinya memang ada yang melapor, maka laporan tersebut nanti akan ditampung dan selanjutnya diproses serta diteruskan kepada Mapolda Jatim untuk ditindaklanjuti. Sebab, diyakini korban penipuan dengan modus penggandaan uang itu sangat banyak dan dimungkinkan tersebar di berbagai daerah termasuk Rembang.

Kapolres Rembang meminta, agar warga yang menjadi korban penipuan tidak ragu lagi untuk membuat laporan hukum kepada polisi. Sebab, laporan tersebut akan diproses sebagaimana mestinya oleh aparat kepolisian hingga bisa selesai tuntas.

“Jika memang merasa pernah menjadi korban penipuan silakan melaporkan kepada polisi. Jangan ragu, sudah pasti laporan tersebut akan diproses sebagaimana mestinya sesuai dengan hukum yang berlaku,” katanya.

Menurutnya, laporan korban penipuan yang mungkin saja tersebar di berbagai daerah bisa membantu mengungkap kasus tersebut. Hal itu akan menjadi salah satu bahan kepolisian untuk melakukan proses penyidikan.

Editor : Kholistiono