Polres Kudus Sterilisasi Gereja Jelang Hari Raya Paskah

MuriaNewsCom, Kudus – Hadapi perayaan Paskah, Polres Kudus sterilisasi gereja. Hal itu guna meminimalisir gangguan pada saat umat melakukan ibadah misa Tri Hari Suci.

Kepala Bagian Operasional Polres Kudus AKBP Tugiyanto menjelaskan. Ada puluhan gereja yang mendapatkan penjagaan dari personel polri.

“Jumlah polisi yang disiagakan seluruhnya mencapai 200 personel,” katanya, disela-sela sterilisasi di Gereja Santo Yohanes Evangelista, Jl Sunan Muria, Kudus Kamis (29/3/2018).

Tugiyanto menyebut, sterilisasi gereja dilakukan utamanya yang memiliki jemaat yang banyak. Selain menggunakan anjing pelacak, polisi juga menyiapkan pendeteksi logam atau metal detector.

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh, mulai dari altar, kursi umat hingga mimbar. “Kegiatan sterilisasi ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi jemaat yang melaksanakan ibadah. Kami berharap pada saatnya tidak ada ancaman.” urainya.

Ketua Wilayah Betlehem Gereja Santo Yohanes Evangelista Andreas Bambang Ruyanto mengatakan, jumlah jemaat di tempat tersebut mencapai 3500 orang. Ia mengatakan, kegiatan misa dimulai pada hari ini, hingga Minggu (1/4/2018).

Editor: Supriyadi

Polres Kudus Ajak Warga  Jadi Generasi Anti Hoaks

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mengajak seluruh Kudus untuk menangkal penyebaran berita bohong atau hoaks. Hal itu dilakukan dengan mengajak komunitas sepeda motor sebagai representasi pengguna media sosial agar dapat menyebarkan pesan antihoaks kepada khalayak ramai.

“Anak muda atau mereka yang memunyai rentang usia 17-40 tahun merupakan generasi yang produktif. Mereka giat bekerja, pun juga giat menggunakan media sosial. Nah di klub motor ini rerata isinya anak muda. Maka kami ajak mereka untuk serukan anti hoaks kepada komunitas motor,” ungkap Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, Minggu (18/3/2018) di Alun-alun Kudus.

Dirinya mengajak komunitas motor untuk cerdas menggunakan media sosial. Hal itu karena di tahun politik, banyak pihak yang merasa benar dan menyerang lawan menggunakan media sosial.

Disinggung mengenai eskalasi hoaks di Kabupaten Kudus belakangan ini, kapolres menyebut belum begitu signifikan. Namun demikian, ada beberapa pihak yang mulai menyindir lawan politik, meskipun jumlahnya tak banyak.

“Di Kudus belum ada penyebar hoaks, namun demikian ada yang sudah mengarah, menyindir lawan, sudah ada walaupun jumlahnya hanya satu dan dua,” kata dia.

Editor : Ali Muntoha

Uang Palsu Beredar Jelang Pilbup Kudus, Begini Kata Polres

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mengingatkan warga agar waspada dengan peredaran uang palsu, jelang Pilkada 2018. Hal itu seiring ditemukannya pelaku pengedar uang palsu, yang beroperasi sebulan belakangan.

“Bahwa fenomena uang palsu banyak beredar pada momen-momen besar yang terjadi di Indonesia. Terutama pileg, pilpres, kita sedang menghadapi pilkada (Pilbup Kudus 2018). Dan menjelang pilkada uang palsu banyak beredar di pasar tradisional,” tutur Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, Kamis (15/3/2018).

Ia menyebut, penangkapan pengedar uang palsu di Kudus didahului oleh informasi masyarakat. Para tersangka yang ditangkap, mengaku memang sengaja mengedarkan uang tersebut di pasar tradisional.

Pihaknya menduga, ada ratusan lembar upal yang telah beredar di Kudus. Hal itu berdasarkan pengakuan pelaku pengedar, yang telah mengedarkan 24 juta (240 lembar) uang palsu pecahan 100 ribu.

“Dalam kasus tersebut kami dapat menyita 69 lembar uang palsu pecahan 100 ribu. Sementara sisanya sudah beredar di masyarakat,” tambahnya.

Baca : Edarkan Uang Palsu di Pasar Dawe, Aswati Nangis di Kantor Polisi

Dirinya mengingatkan, jika dilihat sekilas mata uang palsu tersebut hampir mirip dengan uang asli. Hanya saja, bila warga mau melihat lebih jeli, uang palsu tersebut memiliki warna kuning (di balik logo Garuda) yang lebih menyolok. Jika diraba dengan teliti, terdapat perbedaan tekstur dengan yang asli.

“Bila diterawang seksama pasti kelihatan. Namun bila transaksi dilakukan malam atau dini hari pasti tidak kelihatan,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia mengimbau warga berhati-hati jika ada orang yang membelanjakan uang pecahan 100 ribu. “Harap diteliti dengan lebih cermat,” imbau Gurning.

Editor : Ali Muntoha

Edarkan Uang Palsu di Pasar Dawe, Aswati Nangis di Kantor Polisi

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mencokok lima orang yang mengedarkan uang palsu pecahan Rp 100 ribu, di Pasar Dawe. Modus operandi yang dilakukan tersangka, dengan membelanjakan uang palsu di pasar-pasar tradisional, untuk mendapatkan kembalian.

Kelima tersangka itu adalah Eko Purwanto (35) warga Desa Klumprit, Kecamatan Gebog, Aswati (41) warga Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Risky Pamungkas (21) warga Desa Klumprit, Kecamatan Gebog, Muhammad Sumardi (27) warga Singocandi, Kecamatan Kota dan Suripan (59) warga Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu.

Dalam kasus itu, masing-masing tersangka memunyai peran tersendiri. Seperti Suripan (59), ia bertindak sebagai pemasok uang palsu dari Surabaya. Di depan pewarta ia menyebutkan, hanya menjadi suruhan untuk membeli uang palsu.

“Saya sudah dua kali transaksi, sekali transaksi saya beli dengan uang asli sebesar Rp 5 juta,dapat uang palsu Rp 15 juta. Lalu saya setorkan kepada Eko, karena yang menyuruh dia,” ujarnya.

Ia mengaku sudah sebulan ini bertransaksi uang palsu, dengan warga Surabaya itu. Menurutnya, ia tidak mengedarkan ke pasar-pasar, tugas itu menurutnya dijalankan oleh Eko.

Sementara seorang tersangka lain, Aswati (41) mengaku terpaksa mengedarkan upal karena terjerat utang. “Saya terpaksa karena saya banyak utang. Saya sudah belanjakan uang palsu sebesar Rp 200 ribu ujarnya sambil terisak.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, kelima tersangka menggunakan modus membeli sesuatu di pasar tradisional. Lalu uang kembalian (asli) dari pedagang tersebut menjadi untung bagi para pelaku.

“Mereka membelinya dengan perbandingan 1:3, artinya satu juta uang asli ditukar tiga juta uang palsu. Mereka membelanjakan uang pecahan Rp 100 ribu di pasar tradisional, untuk menghindari kecurigaan,” jelas Gurning.

Selain kelima tersangka, turut disita pula 69 lembar pecahan seratus ribu uang palsu senilai (Rp 6.900.000). Sebuah kendaraan bermotor, tiga buah telepon genggam, uang tunai Rp 164.000 dan 20 sachet kopi bubuk yang diduga hasil transaksi uang palsu.

Mereka terancam pidana kurungan 15 tahun penjara, karena melanggar pasa 36 (3) UU RI No 7/2011 tentang mata uang subsider pasal 245 KUHP.

Editor : Ali Muntoha

Penganiaya Babinsa Gebog Diringkus Polres Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus menangkap Muhammad Harisyanto (31) warga Desa Getasrabi yang menganiaya personel Babinsa Koramil Gebog.

Di depan pewarta, tersangka mengaku saat melakukan penganiayaan ia sedang mabuk, sehabis menenggak enam botol bir. Dirinya menyebut, persoalan berawal dari cekcok internal rumah tangganya.

“Awalnya ada permasalahan dengan paman saya (Jasiman) yang berkata tak enak, kemudian disampaikan oleh istri kepada saya. Lalu saya marah dan merusak rumah paman saya,” akunya, Selasa (26/2/2018), saat press realease di Mapolres Kudus.

Setelah merusak rumah, Ashadi Trileksono yang merupakan anggota Babinsa Koramil Gebog berniat melerai. Namun tak disangka, amukan Hariyanto makin menjadi.

Ia kemudian secara membabibuta mengayunkan batang knalpot, dan mengarah ke personel TNI tersebut. Ayunan knalpot itu sempat mengenai helm yang dipakai Ashadi. Meski memakai pelindung kepala, namun Bhabinsa tersebut tetap mengalami luka di bawah mata sebelah kanan.

Akhirnya, upaya Ashadi menenangkan Hariyanto berhasil. Dirinya dapat meringkus pelaku dengan memitingnya.

“Saat dipiting saya gigit tangannya. Saat itu saya tak tahu kalau dia adalah petugas, karena jarang pulang ke rumah,” tutur dia.

Kasatreskrim Polres Kudus AKP Onkoseno G. Sukahar mengatakan, pelaku dikenai pasal berlapis. “Yang bersangkutan dikenai pasal 351 tentang penganiayaan dan 212 serta 213 melawan petugas. Ancamannya lima tahun penjara,” jelasnya.

Kini pelaku hanya dapat menyesali perbuatannya, ia harus meringkuk di tahanan, sembari menanti masa persidangan berlangsung.

“Kapok, anak saya dua masih kecil 1,5 tahun dan 2,5 tahun,” ungkap pelaku.

Editor: Supriyadi

Kapolres: Kalau Perlu Razia Setiap Hari Agar Kudus Bebas Miras

MuriaNewsCom, Kudus – Ancaman sanksi tegas maupun denda besar yang digaransikan oleh Kepolisian kepada pengedar minuman keras, nampaknya masih belum membuat para oknum pengedar miras di wilayah Kudus jera. Hal ini terbukti dengan masih ditemukannya miras yang masih beredar di kalangan masyarakat Kudus.

Polres Kudus sejauh ini juga tidak tinggal diam. Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning memerintahkan jajarannya untuk rutin merazia untuk semakin intensif menggelar razia dan operasi pemberantasan miras di wilayah tugasnya masing-masing agar miras. Tujuannya mirsa di Kudus benar-benar hilang.

Perintah orang nomor satu dijajaran Polres Kudus langsung direspon oleh jajaran dengan menggelar razia miras maupun penyakit masyarakat lainnya di wilayah Kudus. Hasilnya, berhasil mengamankan puluhan botol minuman keras berbagai merk hingga miras lokal (putihan) dari empat warung yang berbeda.

Keempat warung tersebut adalah milik FA (36) warga Purwosari Kec Kota Kudus, SG (32) dan BP (24) yang keduanya warga Pasuruhan lor Kec Jati Kudus, serta RB (58) warga Loram Wetan Kec Jati Kudus.

”Keberhasilan dalam pelaksanaan razia tersebut merupakan peran aktif masyarakat dalam membantu pihak Kepolisian dalam memberantas penyakit masyarakat,” katanya seperti dikutip dari laman Tribrata News.

Kapolres menegaskan, razia minuman keras akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas Kamtibmas di wilayah hukum Polres Kudus. Dengan cara itu, para penjual mirsa akan berkurang dan hilang.

”Kalau perlu, razia akan dilakukan setiap hari,” tegasnya.

Di sisi lain, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah membantu memberikan informasi tentang peredaran miras kepada Kepolisian. Ia pun berharap masyarakat semakin pro aktif memberikan informasi.

Editor: Supriyadi

Asyik Pesta Miras, Belasan Pelajar di Kudus ’Diseret’ Ibu Kandung ke Kantor Polisi

MuriaNewsCom, Kudus – Sebelas pelajar di bawah umur di Kudus harus berurusan dengan pihak kepolisian usai menggelar pesta minuman keras (Miras), Senin (22/1/2018). Uniknya, belasan pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA itu diseret ke kantor polisi setelah ibu kandung salah satu siswa melaporkan pesta miras tersebut ke kantor polisi.

Dikutip dari laman Tribrata News Polres Kudus, kejadian unik tersebut berawal saat IM beserta belasan temannya berkumpul di rumahnya di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati saat jam sekolah. Karena penasaran, ibu IM mencoba mempergoki kelakuan anaknya.

Itu dilakukan lantaran IM sendiri sudah tidak sekolah. Sementara teman-teman anaknya yang berkumpul masih mengenaklan seragam sekolah. Tiga di antaranya bahkan masih mengenakan SMP dan tujuh lainnya sudah berseragam SMA.

Rasa penasaran ibu IM langsung membuatnya mengurut dada. Ia memergoki anaknya sedang pesta miras bersama belasan temannya tersebut. Kuat dugaan, hal tak terpuji itu (pesta miras) sudah sering dilakukan hingga membuat sang ibu mengautkan hati untuk melapor ke polisi untuk efek jera.

Bhabinkantibmas Desa Loram Wetan, Aiptu Noor Rojak mengatakan, begitu mendapatkan laporan tersebut, pihaknya langsung mendatangi lokasi bersama anggota polsek yang piket. Begitu sampai ternyata pesta miras yang diadukan sang ibu benar adanya.

”Saya bersama anggota Polsek yang piket langsung mendatangi rumah tersebut. Setelah sampai kami mendapati anak-anak berseragam sekolah sedang minum-minuman keras saat jam sekolah,” terang Rojak.

Kesebelas pelajar itu pun tak berkutik. Mereka pun akhirnya digelandang ke Mapolsek Jati untuk mendapat pengarahan supaya tidak mengulangi perbuatan tersebut lagi. Terlebih lagi, tiga di antaranya masih SMP.

”Selain membawa belasan pelajar itu, kami juga membawa sejumlah barang bukti. Yakni botol air mineral berisi arak putih 1/4 liter, gir sepeda, dan besi berukuran panjang 25 cm,” tegasnya.

Belasan pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA mendapat pembinaan di depan orang tua setelah diamankan polisi usai menggelar pesta miras. (Humas Polres Kudus)

Sementara itu, Kapolsek Jati AKP Bambang Sutaryo menerangkan, sebelas pelajar yang diamankan berinisial MH, IM, MM, AS, DN, MN, AP, AN, AF, MK dan EN. Tujuh di antaranya masih SMA dan 3 pelajar SMP.

”Sementara, untuk IM tidak sekolah. Rumahnya lah yang digunakan untuk pesta miras,” terang Bambang

Kapolsek menambahkan, kesebelas anak yang rata rata pelajar tersebut sempat diamankan di Polsek Jati. Mereka diberi pembinaan dihadapan orang tua mereka masing dan diminta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuaanya yang di ketahui oleh Kepala Sekolah, Kepala Desa, Ketua RT dan RW setempat.

” Itu sebagai sanksi sosial kepada mereka. Mudah-mudahan, tidak diulangi lagi,” ungkap Kapolsek.

Di sisi lain, Kapolsek juga berterima kasih kepada Ibu kandung IM yang berani melaporkan anak kandungnya sendiri dan teman- temanya yang sedang melakukan pesta miras. Ia berharap hal ini bisa menjadi contoh dan pelajaran untuk warga sekitar.

”Saya berharap kepada warga yang mengatahui tindakan kriminal atau ketertiban masyarakat untuk segera melapor ke pihak kepolisian. Itu supaya tetap kondusif,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Simpan Ratusan Butir Pil Jenis Psikotropika, Warga Dawe Dicokok Polisi

MuriaNewsCom, Kudus – DZ (18) ditangkap petugas Satuan Narkoba Polres Kudus karena konsumsi obat-obatan jenis psikotropika. Selain itu, warga Desa Samirejo, Kecamatan Dawe tersebut juga tertangkap tangan menyimpan ratusan pil terlarang.

Kasatresnarkoba Polres Kudus AKP Sukadi menerangkan, penangkapan tersangka diawali informasi yang diterima dari laporan masyarakat. Ia dicokok di Desa Singocandi pada rabu (10/1/2018) malam. Setelah ditelusuri, ternyata yang bersangkutan tak hanya mengkonsumsi pil jenis psikotropika, namun juga menyimpan ratusan pil.

“Setelah dilakukan penggeledahan di lokasi penangkapan di Desa Singocandi, RT 03 RW 01, yang bersangkutan membawa ratusan obat-obatan jenis psikotropika. Diantaranya 99 butir Alprazolam 1 miligram dan 110 butir Alprazolam 0,5 gram,” tuturnya, Kamis (11/1/2018).

Selain itu, disita pula sebuah handphone, yang digunakan oleh tersangka untuk berkomunikasi.

Yang bersangkutan diduga melanggar pasal 62 UU no 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Untuk pengembangan, tersangka kini dalam proses penyidikan untuk menelusuri darimana pil tersebut berasal. Selain itu, barang bukti yang telah disita dikirimkan ke laboratorium forensik.

Editor: Supriyadi

Alamak, 2 Pemuda Aceh Penerbang Layang-layang Mirip Bendera GAM di Kudus juga Jual Obat Ilegal

Petugas menunjukkan obat tak berizin yang diamankan dari tangan pelaku di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua warga Aceh Utara Agus Munanda (24) dan Muhammad Iqbal (22) yang ditangkap Polres Kudus gara-gara menerbangkan layang-layang dengan motif mirip bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata peracik dan penjual obat-obatan ilegal.

Hal itu diketahui setelah polisi melakukan pemeriksaan dan memeriksa tempat kos pelaku di Perum Jember Asri Blok D Jl. Kudus-Jepara Km 08 turut Kelurahan Purwosari Kota.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, obat tersebut dinyatakan ilegal lantaran tak ada izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu sebagian besar obatnya merupakan obat racikan.

”Ada beberapa obat yang memiliki izin dari BPOM. Tapi setelah petugas melakukan pengecekan ke BPOM ternyata tidak terdaftar,” katanya saat gelar perkara di Polres Kudus, Jumat (29/12/2017)

Baca: 2 Pemuda Aceh Ditangkap Polres Kudus Gara-gara Terbangkan Layang-layang Mirip Bendera GAM

Kapolres menyebut, untuk melancarkan aksi pelaku membuka balai pengobatan dengan nama Balai Pengobatan Jion Zen. Dari balai pengobatan tersebut pelaku berhasil menjual obat tanpa kecurigaan selama tiga bulan di Kudus.

”Selama tiga bulan jualan itu penghasilan mereka mencapai puluhan juta. Namun digunakan untuk kebutuhan hidup. Saat diamankan sisa penjualan masih menyisakan uang Rp 10 jutaan,” ungkapnya.

Disebutkan, obat yang diamankan sejumlah 255 berbagai merk, kapsul tanpa merk 5700 butir, bahan obat sebanyak 19 toples serta kapsul ksong 6,5 pak. 

Meski begitu, ia mengakui masih terdapat seorang pelaku lainya yang kini masih buron. Pelaku tersebut merupakan dalang dari praktik usaha obat ilegal itu

“Saat ini pelaku sedang dalam pengejaran. Semoga saja cepat tertangkap,” tegasnya

Sementara itu, terkait ancaman pidana, para pelaku diancam 15 tahun penjara. Mereka dijerat dengan pasal 106 dan pasal 197 UU No 36 tentang kesehatan.

Editor: Supriyadi

2 Pemuda Aceh Ditangkap Polres Kudus Gara-gara Terbangkan Layang-layang Mirip Bendera GAM

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning memimpin acara jumpa pers di aula Mapolres Kudus, Jumat (29/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua warga Aceh Utara Agus Munanda (24) dan Muhammad Iqbal (22) ditangkap Polres Kudus, Rabu (27/12/2017). Penangkapan tersebut terkait dengan aksi keduanya yang menerbangkan layang-layang dengan motif Bulan Sabit dan Bintang mirip bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, penangkapan terhadap pelaku bermula saat petugas melihat adanya layang-layang yang bergambar aneh yang diterbangkan di area Perumahan Jember Asri.

Dari kejauhan, layang-layang berwarna merah tersebut dilengkapi dengan gambar bulan sabit dan bintang. Sepintas, layang-layang tersebut mirip dengan bendera GAM

”Sepintas layang-layang tersebut bergambar bendera khas aceh, yakni GAM. Karena penasaran, kami akhirnya mendatangi lokasi,” katanya kepada awak media saat jumpa pers di aula Mapolres Kudus, Jumat (29/12/2017).

Hanya saja, setelah didekati ternyata layang-layang tersebut bukan bermitif bendera dari GAM, melainkan bendera partai di Aceh. Akan tetapi, karena pelaku terlihat mencurigakan, keduanya akhirnya diminta menunjukkan kontrakannya di Perum Jember Asri Blok D Jl. Kudus-Jepara Km 08 turut Kelurahan Purwosari Kota.

“Karena kami masih curiga akhirnya kami ke perumahan tersebut. Di sana, kami menemukan praktik pembuatan obat tanpa adanya izin dari BPOM,” ungkapnya.

Kapolres menambahkan, pengungkapan tersebut atas kerjasama antara petugas Polres Kudus dengan Kodim Kudus 0722 besarta para saksi sejumlah 11 orang. Kemudian, kedua pelaku diamankan dari Kodim Kudus 0722.

“Saat ini pelaku kami amankan di Mapolres Kudus untuk proses lebih lanjut, termasuk kemungkinan-kemungkinan lainnya,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Pertama di Kudus, Kantor Bhabinkamtibmas Desa Pasuruhan Lor Diresmikan

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning meresmikan kantor Bhabinkamtibmas Desa Pasuruhan Lor dengan menggunting pita, Rabu (13/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kantor Bhabinkamtibmas Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati akhirnya diresmikan, Rabu (13/12/2017). Peresmian dilakukan langsung oleh Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning dengan dihadiri segenap pejabat di lingkungan Polres Kudus, Pemdes Pasuruhan Lor, dan Kodim 0722/Kudus.

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita di depan pintu masuk kantor kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah. Di sela ramah tamah tersebut Kapolres berterimakasih kepada pemdes, yang telah memberikan fasilitas kantor untuk meningkatkan pelayanan ke masyarakat.

”Ini yang pertama kali di Kudus. Rencananya tiap satu kecamatan akan ada satu kantor Bhabinkamtibmas,” kata Kapolres.

Dengan kepemilikan kantor tersebut, masyarakat diharapkan bisa lebih nyaman. Terutama dalam hal keamanan dalam bermasyarakat.

”Kalau di tiap desa ada kantornya (Bhabinkamtibmas), masyarakat akan lebih nyaman. Mereka bisa saling bertukar pendapat dan saling menjaga kondusifitas,” tegasnya.

Sementara itu, Kades Pasuruan Lor Nor Badri mengatakan, kantor yang digunakan saat ini merupakan gedung yang digunakan untuk PKK. Karena ruangannya banyak, para pengurus PKK bersedia membagi ruangan dengan Bhabinkamtibmas.

”Dengan adanya kantor ini, maka saat masyarakat membutuhkan petugas tidak usah jauh-jauh ke kantor polisi. Melainkan cukup datang ke kantor Bhabinkamtibmas saja,” katanya saat sambutan.

Menurut dia, lokasi kantor yang berada di tengah desa dan dekat pemukiman menjadi lokasi yang strategis bagi masyarakat saat hendak datang.  Terbukti, meski baru hari ini diresmikan, namun masyarakat juga sudah kerap datang meskipun hanya sebatas ngobrol.

“Tiap malam selalu ramai, hingga jam 02.00 WIB dini hari. Bahkan saya juga sering datang ke sini untuk berkumpul dengan petugas,” ujarnya

Editor: Supriyadi

Sambut Hari Anti Korupsi, KMKB Gelar Aksi di Alun-alun Kudus

Ketua KMKB Sururi Mujib saat berorasi di alun-alun Kudus, Jumat (8/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Menyambut Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember besok, puluhan aktivis dari Konsorsium Masyarakat Untuk Kudus Bersih (KMKB) menggelar aksi penolakan korupsi di Kudus. Bagi KMKB, di Kudus terlalu banyak dugaan korupsi yang belum terpecahkan.
 
Ketua KMKB Kudus Sururi Mujib mengatakan, korupsi adalah kejahatan dan penyakit kronis untuk menggerogoti uang rakyat. Jika terus dilakukan tanpa ditangani, maka korupsi akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
” Untuk itu, guna mencegah korupsi butuh perhatian serius dari semuanya. Semua harus mengawasi dengan seksama,” katanya saat aksi di Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/12/2017).
 
Menurut dia, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen dan konsistensi dalam hal merumuskan clean governance dan good government yang ikut mendorong akselerasi sistem dan tata keloloa pemerintahan yang bersih dari KKN dan bebas korupsi.
 
“Hal itu sesuai amanat dalam undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN,” imbuhnya.
 
Pihaknya mempertanyakan tentang pelaksanaan pemberian di daerah yang sudah sesuai undang-undang ataukah belum. Bagi dia belum lantaran masih banyak dugaan adabya kecurangan seperti pungli di beberapa pelayanan publik.
 
“Kami duga masih ada jual beli proyek di pemerintahan ini, dan malahan dugaan terjadinya bancakan uang rakyat setiap ada pembahasan soal APBD murni maupun perubahan,” ucapnya. 
 
Editor: Supriyadi

Kapolda Jateng Siapkan 1.207 Personel  Àntispasi Bencana di Jawa Tengah

Puluhan jemaah pengajian mengikuti poengajian bersama Mbah Maemoen Zubair yang dihadiri Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono di Mapolres Kudus, Kamis (30/11/2017) malam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolda Jateng Ispektur Jenderal Polisi Condro Kirono mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan 1.207 personel untuk mengantisipasi bencana alam di wilayah Jawa Tengah. Ribuan personel tersebut sudah terlatih khususnya dalam penanganan bencana.

”Ini merupakan cara menyikapi risiko tinggi dengan adanya perubahan cuaca,” katanya saat ngaji bareng di Mapolres Kudus, Kamis (30/11/2017) malam.

Menurut dia, selain menyiapkan petugas yang di Jateng, Polda Jateng juga menyiapkan Brimob untuk diberangkatkan ke Bali untuk penanggulangan bencana Gunung Agung. Jumlahnya, mencapai 500 petugas.

”Petugas sudah siap, tinggal menunggu instruksi dari mabes polri saja untuk pemberangkatannya. Semuanya sudah terlatih untuk siaga bencana, terutama dari Samapta Bhayangkara (Sabhara),” ungkap dia. 

Selain ke Bali, lanjutnya, Polda Jateng juga mengirim anggota ke wilayah jalur rawan bencana atau daerah yang mengalami bencana, seperti Karanganyar, Purworejo dan lainya.

Sedangkan sebagian personel masih dipersiapkan di markas menunggu jajarannya yang meminta bantuan untuk diturunkan.

”Pokonya kita siap siaga. Termasuk yang di wilayah hukumnya, kami siap siaga selama 24 jam. Jadi kalau ada bencana silahkan hubungi polres terdekat,” tegasnya.

Meski begitu, guna berjaga-jaga, Kapolda juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada. Terlebih saat memutuskan berlibur ke pantai, yang mana memiliki risiko tinggi dengan adanya perubahan cuaca gelombang tinggi.

”Sebagaimana diketahui, dengan adanya siklon tropis Cempaka telah menyebabkan perubahan cuaca. Untuk itu, jika berada di wilayah pantai harus lrbi waspada,” katanya.

Ia menyebutkan, jajaran kepolisian juga disiapkan untuk memantau obyek wisata seperti pantai. Pihaknya tak menginginkan jika ada hal yang tak diinginkan sampai terjadi. Apalagi pada hal yang sudah diantisipasi.

”Personel Polda Jateng yang memiliki keahlian bidang kebencanaan juga siap diperbantukan untuk daerah-daerah rawan bencana yang memang membutuhkan bantuan,” ungkap dia. 

Ditambahkan, jajaran juga diimbau agar rajin – rajin melihat dan memonitor perkembangan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Editor: Supriyadi

Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Petugas kepolisian memeriksa jenazah Aminah yang tewas di tangan anak kandungnya sendiri menggunakan pacul dengan disaksikan sejumlah perangkat desa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang anak di Dukuh Kebangsan RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, tega membunuh ibu kandungnya sendiri, Selasa (28/11/2017). Ia membunuh ibunya dengan cara memukul kepala ibunya menggunakan pacul berkali-kali di belakang rumah.

Kepala Dusun (Kadus) Desa Getasrabu Bahrin (56) mengatakan, pelaku bernama Anshori (30) warga Dukuh Kebangsan, sedangkan korban (sang ibu) bernama Aminah (70). Keduanya masih memiliki hubungan pertalian darah, yakni ibu dan anak.

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Berdasarkan penjelasan Bahrin, pembunuhan sadis tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, sang anak meminta uang kepada korban. Karena tak diberikan, sang anak diduga nekad membunuh ibunya dengan pacul yang didapat di halaman belakang rumah.

“Karena tak diberikan uang, makanya anaknya membunuh ibunya. Ibunya dibunuh dengan cara memukul kepala ibunya dengan pacul. Kepala yang diincar adalah kepala bagian belakang,” katanya kepada MuriaNewsCom

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Saat ini, pelaku sudah diamankan di Mapolsek Gebog untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Sedang mayat korban, masih berada di halaman belakang rumah dan masih diperiksa petugas.

Adanya kasus pembunuhan itu menggegerkan warga setempat dan juga pengguna jalan. Warga kemudian mengerumuni lokasi pembunuhan, meski sudah dilingkari dengan garis polisi.

Editor: Supriyadi

Baca: Kepincut Kenalan di FB, Wanita di Kudus Ini Ketipu Ratusan Juta

Kepincut Kenalan di FB, Wanita di Kudus Ini Ketipu Ratusan Juta

Caption : Ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Apa yang menimpa perempuan dari Kabupaten Kudus ini bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, agar tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Apalagi jika orang tersebut dikenal dari media sosial.

Perempuan bernama Siti Rohmah (33), warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, ini harus kehilangan uang ratusan juta rupiah, karena kepincut dengan seseorang yang baru dikenalnya melalui Facebook.

Seperti tersihir, perempuan ini dengan mudah beberapa kali mengirimkan uang kepada pelaku. Selama dua pekan berkenalan, korban telah menyetorkan uang sebesar Rp 145.700.000, ke rekening pelaku.

Modus pelaku adalah pura-pura pinjam uang untuk transportasi pulang kampung. Namun saat ditagih, pelaku selalu berkelit. Korban yang merasa telah tertipu pun langsung melaporkan hal ini ke Polres Kudus pada Senin (27/11/2017) kemarin.

“Yang bersangkutan dalam hal ini korban, sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Polres Kudus. Dan tengah ditindaklanjuti tim Reskrim,” kata Wakapolres Kudus, Kompol M Ridwan, Selasa (28/11/2017).

Ridwan menceritakan kronologi penipuan yang menimpa perempuan itu. Korban mulai berkenalan dengan pelaku via Facebook pada Selasa (7/11/2017) sekitar pukul 12.00 WIB dengan seseorang yang menggunakan akun Facebook Satria Utama.

Dalam perkenalan melalui chat di Facebook itu korban merasa semakin akrab, hingga keduanya saling bertukar PIN BBM. Korban dan pelaku pun terus berkomunikasi melalui BBM.

Hingga akhirnya, pada Senin (20/11/2017) pelaku meminjam uang kepada korban sebesar Rp 9 juta, untuk biaya pulang kampung dari Batam ke Bandung. Tak pikir panjang, korban pun langsung mentransfer uang itu ke rekening pelaku.

Tak berhenti sampai di sini, pelaku terus membujuk agar korban mengirimkan uangnya. Bahkan selama tiga hari berturut turut, korban sudah meminjamkan uang kepada pelaku totàl mencapai Rp 145.700.000.

“Setelah itu, sehari kemudian pelaku menghubungi korban menjanjikan akan ke Kudus untuk membayar utang. Namun pelaku hanya beralasan,” ujarnya.

Tak berhenti hingga di situ, pelaku bahkan membujuk korban untuk meminjamkan uang lagi. Karena merasa tertipu itulah, akhirnya korban melaporkan ke kantor polisi.

Editor : Ali Muntoha

Antisipasi Bentrokan, Ratusan Polisi Kawal Penyegelan Depo Air di Pegunungan Muria

Warga menunjukkan sumber air pegunungan kepada kasat Shabara Polres Kudus AKP Sutopo. Rabu (8/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penyegelan usaha air Pegunungan Muria Rabu (8/11/2017) dikawal ratusan petugas kepolisian Polres Kudus. Selain mengawal, petugas juga disiapkan bertindak saat ada perlawanan.

KBO Polres Kudus Kompol Tugiyanto mengatakan, petugas kepolisian yang diterjunkan dalam penyegelan ada 108 petugas. Semua petugas disebar di semua wilayah penyegelan yang terbagi dalam beberapa kelompok.

“Kami mewaspadai adanya perlawanan dari masyarakat. Sehingga petugas juga disiagakan dalam penyegelan kali ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Depo Air Pegunungan Muria Disegel

Menurut dia, ratusan petugas yang disiapkan tak hanya berasal dari Polres Kudus saja. Namun juga dari Polsek Dawe dan Polsek Gebog juga dilibatkan dalam penertiban pagi ini. Karena, lokasi penyegelan juga terdapat di dua kecamatan tersebut.

Dikatakan, petugas diminta selalu siaga selama pengamanan. Ketika ada masyarakat yang memberikan perlawanan atas segel yang dilakukan, petugas juga diminta mengambil sikap sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain dari Petugas Kepolisian, pengamanan juga dihadirkan dari Satpol-PP Kudus dan Kodim 0722 Kudus.

Berdasarkan pantauan, penyegelan di sejumlah lokasi nampak aman tanpa adanya perlawanan. Namun petugas tetap siaga selama penyegelan berlangsung.

Editor: Supriyadi

Polres Kudus Sweeping Massa Aksi Bela Rohingya di Perbatasan

Salah seorang petugas Polres Kudus masuk ke bus untuk memeriksa dan memberi imbauan untuk tidak mengikuti aksi solidaritas rohingya di perbatasan Kudus-Demak, Kamis (7/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus melakukan sweeping terhadap pengguna jalan yang hendak melakukan aksi solidaritas Rohingya di Magelang, Kamis (7/9/2018). Sweeping tersebut dilakukan di perbatasan Kudus – Demak, tepatnya di kawasan Tanggulangin, Jati.

Selama melakukan sweeping, petugas memeriksa kendaraan yang melintas, mulai dari kendaraan roda dua, mobil pribadi, minibus, dan bus.

Kabag Operasional Polres Kudus Kompol Tugiyanta menyebutkan, dalam aksi ini, pihaknya menerjunkan 60 personel bersenjata lengkap.

“Kami memeriksa kendaraan yang melintas, khususnya kendaraan minibus dan bus. Ini adalah operasi penyekatan yang dilakukan jajaran Polres Kudus,” katanya.

Dalam operasi yang dilakukan mulai pukul 10.00 WIB itu, sejumlah minibus dihentikan dan diperiksa. Pemeriksaan dimulai dari surat-surat kendaraan, barang bawaan, hingga tujuan berkendara.

Petugas Polres Kudus memeriksa mobil pribadi milik pengguna jalan untuk memastikan tidak ikut aksi solidaritas rohingya di Magelang, Kamis (7/9/2017). (Polres Kudus)

Selain itu, lanjut dia, petugas juga memberikan imbauan kepada rombongan untuk tidak mengikuti aksi solidaritas etnis rohingya di Magelang. Apalagi, aksi tersebut tak mendapatkan izin dari kepolisian.

“Hingga kini kami tak menemukan rombongan yang menuju Borobudur. Namun, jika menemukan akan kami minta pulang kembali,” ujarnya

Sementara itu, salah satu sopir minibus, Budi (31) warga Pasuruan Lor, Kecamatan Jati mengaku kaget dengan operasi tersebut. Karena, pihaknya sedang buru-buru berjalan ke Semarang untuk mengantar saudara. 

“Kalau kami satu keluarga, jadi tidak masalah dihentikan karena lengkap. Lagipula kami juga tak punya tujuan ke Magelang,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Kapolres Larang Masyarakat Kudus Ikut Aksi Rohingya di Magelang

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning melarang masyarakat Kudus, untuk terjun aksi bela Rohingya di Magelang, Jumat (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning melarang masyarakat Kudus, untuk terjun aksi di Masjid An Nur Mungkid, Magelang terkait Rohingnya Jumat (8/9/2017) mendatang. Larangan tersebut dilakukan, lantaran tak ada izin dalam aksi yang dilakukan nanti.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Kudus, agar tak terpengaruh ajakan ke sana. Karena, aksi damai tersebut tak memiliki izin dari Polres Magelang dan Polda Jateng,” katanya usai acara silaturahmi Forkopimda dengan Pemkab Kudus dan FKUB di Pendapa Kudus, Rabu (6/9/2017).

Menurutnya, monitor akan terus dilakukan mulai hari ini hingga Jumat mendatang. Monitor dilakukan secara intensif dan persuasif, agar tak ada satupun masyarakat Kudus yang ikut ke sana.

Baca Juga: Aksi Bela Rohingya Dialihkan, Borobudur Tetap Ditutup untuk Wisatawan Perorangan

Hingga kini, lanjutnya, belum ada kabar terkait masyarakat Kudus yang ikut aksi tersebut. Pengajuan izin akan aksi juga tidak ada masuk sehingga dianggap Kudus masih kondusif. Namun, segala kemungkinan tetap diwaspadai termasuk adanya masyarakat yang diam-diam berangkat.

“Di sana adanya doa bersama di Masjid pas jumatan. Kalau untuk jumatan, di sini juga ada. Jadi tidak usah jauh-jauh,” ungkapnya.

Senada, Bupati Kudus Musthofa juga menyatakan hal yang sama. Dia mengimbau masyarakat Kudus tak usah terprovokasi untuk pergi ke sana. Sebagai kepala daerah, mendukung apa yang dijalankan oleh polres Kudus.

“Jangan ada yang terpengaruh oleh kabar-kabar semacam itu. Kudus masih kondusif dan aman,” jelasnya. 

Editor: Supriyadi

Selain Over Kapasitas, Sopir Bus Indonesia yang Terguling di Kudus Juga Ugal-ugalan

Sejumlah petugas melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kecelakaan Bus Indonesia di Proliman, Tanjung, Kudus, Jumat (1/9/2017). (Polres Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Fakta baru terkait kecelakaan lalu lintas antara Bus Indonesia Nopol L 7519 UV dengan 7 sepeda motor dan 3 mobil yang terjadi di Jalur Pantura Kudus, tepatnya di Proliman, Tanjung, Kudus, Kamis (31/8/2017) malam, kembali mencuat.

Di luar dugaan, selain penumpang yang over kapasitas, sopir Bus Indonesia juga ugal-ugalan saat melaju di tempat kejadian perkara.

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto menjelaskan, jika kejadian laka lantas yang terjadi di Simpang Tanjung karena sopir yang ugal-ugalan dengan memacu kendaraan cukup tinggi.

Akibatnya ketika berada di traffic light, bus tidak terkendali yang kemudian oleng dan menabrak 10 kendaraan lain yang berada di trafic light dari arah selatan atau dari jalur Kudus- Purwodadi yang sedang berhenti menunggu lampu menyala hijau.

”Kondisi bus juga over kapasitas penumpang karena mengangkut 90 orang namun sudah turun di simpang Ngembal Kudus sebanyak 20 orang. Pada saat kejadian masih mengangkut 70 penumpang,” ujarnya.

Akibatnya, lima orang harus kehilangan nyawa dan puluhan lainnya harus menjalani perawatan karena luka yang diderita. Atas kejadian itu, sang sopir langsung dites urin guna mengetahui kondisi sang sopir dalam pengaruh alkohol atau tidak.

”Hasilnya masih belum keluar. Saat ini kami juga masih menunggu olah TKP. Begitu ada informasi, sesegera mungkin akan kami beritahu,” tegasnya.

Ia menambahkan, sampai saat ini korban yang meninggal hanya lima orang, sedangkan yang luka-luka dan dirawat di RS Mardi Rahayu dan RS dr. Loekmono Hadi Kudus masih 15 orang.

Editor: Supriyadi

Kabid Humas Polda Jateng: Polisi Harus Melek Media Sosial

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol R. Djarod Padakova saat memimpin apel di Mapolres Kudus, Kamis (24/8/2017). (Polres Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol  R. Djarod Padakova berpesan kepada anggota kepolisian Polres Kudus, agar tidak gagap teknologi (gaptek) terhadap media sosial. Artinya, setiap anggota harus melek media sosial. 

Pesan tersebut disampaikan saat bertandang ke Mapolres Kudus, Kamis (24/8/2017). Dia mengatakan, setiap anggota kepolisian dapat aktif di media sosial. Seperti Facebook yang banyak digunakan masyarakat dan dijadikan tempat berbagi informasi.

“Anggota polisi dapat memantau media sosial. Manfaatnya sangat banyak, seperti menangkal adanya berita hoax sehingga jika ada berita hoax dapat Langsung diluruskan,” katanya.

Baca Juga: Akun Medsos Anggota Polres Kudus Tak Bisa Dibuka Humas Polda Jateng, Ini Alasannya

Dalam menangkal berita hoax, kata dia, tak melulu harus menggunakan akun sosial media milik Polres Kudus. Namun juga bisa menggunakan akun pribadi tiap anggota. Sehingga, masyarakat juga bisa lebih nyaman.

Selain itu, masyarakat sangat familiar akan sosial media. Media sosial merupakan media yang paling mudah diakses. Sehingga hal ini diharapkan akan efektif untuk meningkatkan citra Polri di mata masyarakat.

“Jika masyarakat enggan melaporkan kejadian, maka petugas dapat memantau lewat media sosial. Dan informasi dapat diluruskan anggota,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

 

Akun Medsos Anggota Polres Kudus Tak Bisa Dibuka Humas Polda Jateng, Ini Alasannya

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol R.Djarod Padakova (kanan) saat memeriksa handphone anggota Polres Kudus, Kamis (24/8/2017). (Polres Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus –  Beberapa akun media sosial (medsos) milik anggota Polres Kudus yang diperiksa Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol R.Djarod Padakova ternyata tak bisa dibuka. Alasannya, beberapa anggota tersebut tak memiliki paketan internet dan harus bergantung pada WiFi.

”Waktu dibuka, ada yang paketannya habis. Jadi akunnya tak bisa dibuka dan harus bergantung dengan WiFi,” kata Djarod, Kamis (24/8/2017).

Meski begitu, pemeriksaan tetap berjalan lancar. Puluhan akun media sosial milik anggota yang diperiksa juga tak disalahgunakan. Karena itu, ia meminta semua anggota polisi melek media supaya lebih dikenal masyarakat.

”Handphone milik anggota juga sudah canggih, semua smartphone. Untuk itu, sudah selayaknya untuk melek media,” ujarnya.

Baca Juga : Akun Medsos Anggota Polres Kudus Diperiksa Kabid Humas Polda Jateng

Salah satu caranya, lanjutnya, dengan mempublikasikan berbagai prestasi yang dilakukan oleh Polri. Mulai dari keberhasilan mengungkap kasus, memberitakan berbagai terobosan-terobosan dan kegiatan-kegiatan Polri yang dapat meningkatkan citra Polri dimata masyarakat.

Karena itu, apabila melihat atau menemui kejadian apapun yang berhubungan dengan aksi seorang polisi yang heroik di lapangan, hendaknya direkam atau difoto menggunakan HP masing-masing. Kemudian hasilnya diposting ke media sosial seperti facebook, YouTube dan lain lain.

”Mengapa saya memilih media sosial? Karena media sosial merupakan media yang paling mudah diakses. Sehingga lebih efektif untuk meningkatkan citra Polri di mata masyarakat,” tambahnya.

Apalagi, tambah Djarod, ia yakin handphone canggih yang dimiliki anggota sudah dilengkapi dengan akun media sosial. Karenanya, hal itu tak akan memberatkan dan bisa dilaksanakan dengan maksimal.

Editor: Supriyadi

Akun Medsos Anggota Polres Kudus Diperiksa Kabid Humas Polda Jateng

 

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol R.Djarod Padakova (kanan) saat memeriksa handphone anggota Polres Kudus, Kamis (24/8/2017). (Polres Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Akun media sosial (medsos) anggota Polres Kudus diperiksa jajaran Humas Polda Jateng, Kamis (24/8/2017). Tak tanggung-tanggung, pemeriksaan dilakukan langsung oleh Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol R.Djarod Padakova.

Pemeriksaan sendiri dilakukan orang nomor satu di jajaran Humas Polda Jateng itu usai memimpin apel anggota di halaman Mapolres Kudus. Tujuannya, ia ingin mengetahui pemanfaatan medsos oleh anggota, terutama dalam menciptakan kondusifitas melalui opini publik.

”Menciptakan opini publik bukanlah perkara yang mudah, kendati demikian kita harus tetap berusaha,” katanya.

Salah satu caranya, lanjutnya, dengan mempublikasikan berbagai prestasi yang dilakukan oleh Polri. Mulai dari keberhasilan mengungkap kasus, memberitakan berbagai terobosan-terobosan dan kegiatan-kegiatan Polri yang dapat meningkatkan citra Polri dimata masyarakat.

Karena itu, apabila melihat atau menemui kejadian apapun yang berhubungan dengan aksi seorang Polisi yang heroik di lapangan, hendaknya direkam atau difoto menggunakan HP masing-masing. Kemudian hasilnya diposting ke media sosial seperti facebook, YouTube dan lain lain.

”Mengapa saya memilih media sosial? Karena media sosial merupakan media yang paling mudah diakses. Sehingga hal ini diharapkan akan efektif untuk meningkatkan citra Polri di mata masyarakat,” tambahnya.

Apalagi, Djarod yakin anggota Polres Kudus memiliki handphone canggih dan dilengkapi dengan akun media sosial. Karenanya, ia menilai hal itu tak akan memberatkan masing-masing anggota dan bisa dilaksanakan dengan maksimal.

”Handphone milik anggota sudah canggih. Semuanya smartphone. Sehingga sudah selayaknya untuk melek media,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

 

Warga Kudus Ini Syok Lihat Mayat Tergantung di Pintu Kamar Kosnya

Polisi dan warga tengah mengevakuasi mayat yang tergantung di pintu kamar kos di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. (Foto : Polsek Bae)

MuriaNewsCom, Kudus – Penghuni rumah kos milik Ngadiran (47) di Desa Dersalam RT 04 RW 01, Gang 9, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, dibuat syok setelah mendobrak kamar yang dihuni Johan Rudianto (23), Selasa (22/8/2017) dini hari tadi.

Bagaimana tidak, setelah pintu didobrak, pemilik dan penghuni kos mendapati Johan sudah tak bernyawa dengan kondisi tergantung di pintu. Johan yang merupakan warga Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, itu ditemukan meninggal dunia dengan tubuh sudah kaku.

Sebelumnya mereka memang sudah memperkirakan ada sesuatu yang terjadi dengan Johan, namun tak menyangka jika pemuda itu gantung diri. Awalnya penghuni kos lain merasa curiga lantaran sejak Senin (21/8/2017) pagi Johan tak kelihatan, sementara kamar dalam posisi terkunci.

Dari kecurigaan itu, akhirnya penghuni kos dan warga melapor ke polisi. Setelah polisi dan pemilik kos datang, pintu kamar Johan akhirnya dibuka dengan cara didobrak. Dari sinilah diketahui jika Johan sudah meninggal dunia.

“Diduga sudah meninggal pagi sebelum atau malamnya. Karena saat petugas datang, kondisi mayat sudah dalam keadaan kaku,” kata Kapolsek Bae AKP Sardi, saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, saaat ditemukan tubuh korban tergantung dengan tali warna hijau terikat di lehernya. Mayat Johan pun sudah dilakukan pemeriksaan oleh dr Dewi Aprilia, tim medis dari Puskesmas Dersalam.

Dari hasil pemeriksaan diindakasi Johan meninggal dunia karena bunuh diri. Karena di tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan.

Editor : Ali Muntoha

16 Nasabah Swissindo yang Datangi Bank Mandiri Kudus Ternyata Warga Purwodadi

Deputi Jenderal UN-Swissiindo Kabupaten Kudus saat menjelaskan hasil pertemuan Swissindo dengan Bank Mandiri Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Enam belas dari ratusan nasabah United Nation (UN) Swissindo yang datang ke Bank Mandiri Kudus, Jumat (18/8/2017) ternyata bukan berasal dari Kabupaten kudus. Belasan nasabah tersebut berasal dari Purwodadi yang ikut mengadu nasib untuk bisa membuka rekening.

Yatim (57) Kelurahan Pagas, RT 2/RW 2 Kecamatan Kedungjati, Grobogan mengaku, baru bergabung dengan kelompok tersebut sekitar lima hari yang lalu. Dia bergabung bersama dengan sejumlah tetangganya.

“Kami diminta mengumpulkan fotocopy KTP dan photo 3×4 dua lembar. Setelah itu dapat sertifikat dari Swissindo,” jelasnya

Dia menyebutkan, saat ini ada 16 warga Purwodadi yang datang ke Mandiri Kudus. Mereka datang dengan menyewa sebuah mobil dengan tujuan membuat rekening guna registrasi Swissindo.

Registrasi tersebut dilakukan dengan membuka rekening baru. Rekening itu, nantinya dimanfaatkan untuk bertransaksi dengan UN-Swissindo.

Baca Juga : Ratusan Nasabah Swissindo Kudus Ditolak Bank Mandiri

Di sisi lain, Deputi Jenderal UN-Swissiindo Kabupaten Kudus Mughtanim menjelaskan, nasabah Swissindo saat ini memang tersebar di banyak kota. Termasuk wilayah di sekitar Kudus, seperti Pati, Demak, dan Purwodadi.

“Karena itu, ada belasan warga luar Kudus yang ikut datang. Seperti dari Purwodadi, Pati dan Demak misalnya. Tapi yang datang ke Kudus hanya nasabah yang dekat dengan Kudus,” kata Deputi Jenderal UN-Swissiindo Kabupaten Kudus.

Terpisah KBO Polres Kudus Kompol Tugiyanta menambahkan, hingga saat ini masih belum ada laporan terkait kerugian atas Swissindo. Termasuk juga dengan laporan dengan dugaan penipuan juga belum ada yang masuk ke Polres Kudus.

“Laporan belum ada sampai dengan sekarang. Namun bukan berarti kami tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Anggota Polres Kudus Dirazia

Papan razia terpampang jelas di pintu masuk Polres Kudus saat pemeriksaan kelengkapan kendaraan, Kamis (10/8/2017). (Polres Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemandangan berbeda terlihat di Polres Kudus, Kamis (10/8/2017) pagi. Semua anggota mulai dari Bintara hingga perwira dicegat sie Propam Kudus untuk diperiksa kelengkapan surat dan kelengkapan kendaraan.

Kepada MuriaNewsCom, Wakapolres Kudus Kompol M Ridwan mengatakan, pemeriksaan kelengkapan kenderaan ini dilakukan untuk menerapkan kedisiplinan di antara anggota. Karena itu, ia memastikan tak ada tebang pilih saat pemeriksaan.

”Tak ada tebang pilih. Bagi petugas yang melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi. Selain itu, mereka juga  diharuskan melengkapi kendaraannya, mulai dari surat-surat kendaraan hingga kelengkapan kendaraannya sendiri,” katanya

Aturan tersebut, katanya, berlaku untuk semua anggota. Untuk itu, jika ada personel yang melanggar harus ditindak, tidak peduli itu Bintara atau Perwira. ”Karena mereka juga termasuk contoh penegakan aturan bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Sementara, Kasi Propam Ipda TM Effendi yang memimpin langsung razia menegaskan, sasaran dalam kegiatan kali ini adalah kendaraan personel Polri maupun ASN. Mulai dari surat-surat kendaraan bermotor serta kelengkapan kendaraan seperti STNK, SIM, TNKB, spion, knalpot dan yang lainnya.

Selain itu sikap tampang dan kelengkapan surat-surat identitas diri juga merupakan sasaran pemeriksaan seperti KTP dan KTA.

”Ini merupakan langkah awal untuk penegakkan aturan berlalu lintas, sehingga personel Polri diharapkan bisa memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Oleh karena itu, sebelum dilakukan penertiban kepada masyarakat, Propam melakukan penertiban kepada personel Polri terlebih dahulu,” ucapnya.

Beruntung dalam pemeriksaan tidak dijumpai adanya pelanggan yang dilakukan. Meski begitu, Effendi memastikan, razia kelengkapan akan digelar kembali sewaktu-waktu supaya petugas benar-benar tertib.

Editor: Supriyadi