Antisipasi Pungli, Polres Jepara Pasang Spanduk

Polisi melakukan pemasangan spanduk anti pungli di mapolres setempat. (istimewa)

Polisi melakukan pemasangan spanduk anti pungli di mapolres setempat. (istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara mengantisipasi keberadaan pungutan liar (Pungli). Di antaranya mereka memasang spanduk tolak pungli di sejumlah titik strategis seperti di Mapolres Jepara, pos polisi dan di Samsat Jepara, pada Senin (24/10/2016).

“Ada beberapa tempat strategis dan rawan yang kami pasangi spanduk tolak pungli, yakni di unit pengurusan BPKB Satlantas Polres Jepara, Samsat dan Pos Polisi Shoping Center Jepara dan yang seringkali digunakan sebagai tempat pengurusan SIM keliling,” ujar Wakapolres Jepara Kompol Kompol Juara Silalahi didampingi Kasatlantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama.

Menurutnya, pemasangan di titik strategis itu dilakukan agar masyarakat berperan aktif melapor jika ada pungli yang dilakukan oleh anggota Polres Jepara. Selain berisi imbauan menolak dan memberantas pungli, terdapat pula nomor telepon (call centre) yang bisa dihubungi masyarakat untuk melaporkan adanya pungli. “Kami sengaja memasang di lokasi sentra pelayanan masyarakat karena tempat-tempat itu memang rawan pungli,” terangnya.

Selain memasang spanduk, lanjut Juara, pihaknya juga sudah membentuk tim khusus untuk menangani pungli. Selain aktif melakukan pantauan, tim juga bertugas menghimpun laporan dari masyarakat dan menindaklanjutinya.

Terkait kerawanan pungli dalam proses pembuatan SIM, Wakapolres menjamin jika tak ada anggotanya yang mempersulit prosesnya sehingga membutuhkan “uang pelicin” untuk mempermudah proses pembuatan. Hanya saja, dalam proses pembuatan SIM sudah diatur harus sesuai dengan prosedur, salah satunya dengan sejumlah tes.

“Kami siap membantu masyarakat yang akan uji SIM. Baik dari teori maupun praktik menyetir,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Penataan Lalu Lintas Jepara Termasuk Terbaik di Indonesia

Kasat Lantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama, saat Sharing Session IRSA 2016 di Shangri-la Hottel Ballroom Jakarta. (Tribratanewsjepara)

Kasat Lantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama, saat Sharing Session IRSA 2016 di Shangri-la Hottel Ballroom Jakarta. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara menjadi finalis Indonesia Road Safety Award (IRSA) bersama sejumlah kota lain di Indonesia. IRSA yaitu apresiasi terhadap kota atau kabupaten yang menerapkan tata keselamatan kota.

Dikutip dari Tribratanewsjepara, berdasarkan data Korlantas Polri, angka kecelakaan di Indonesia masih tinggi. Terjadi peningkatan kecelakaan dari 95.906 pada 2014 menjadi 98.970 kecelakaan pada 2015. Hal ini tentunya fakta mengkhawatirkan. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif yang tegas guna mereduksi angka kecelakaan di jalan.

I Wanna Get Home Safely (IWGHS) adalah bagian dari tagline kampanye keselamatan berkendara. Cakupannya adalah saat  IRSA diterapkan. Jadi, dalam kegiatan ini kota-kota dengan aplikasi tata kelola lalu lintas atau keselamatan berkendara pengguna jalan mendapat poin yang besar.

Kali ini, terdapat 92 kota dan 18 kabupaten yang direkomendasikan oleh pakar road safety sebagai nominator IRSA 2016. Jumlah tesebut mengalami kenaikan 51 persen dari tahun 2015 lalu.

Dari hasil survei dan observasi lapangan, terpilih 17 kota dan kabupaten finalis IRSA 2016 termasuk salah satunya adalah Kabupaten Jepara. Para finalis telah menjalani penjurian selama dua hari, untuk hari pertama peserta masing masing kabupaten atau kota mempresentasikan berbagai permasalahan dan keberhasilan penerapan road safety di wilayah masing-masing.

Selain itu, para finalis Juga memaparkan program kerja serta hasil evaluasi terhadap kebijakan yang telah dilakukan terkait dengan tata kelola keselamatan jalan. Selanjutnya pada hari kedua Kabupaten Jepara mendapatkan waktu pertama untuk melaksanakan Sharing Session pertama kali.

Penyelenggaraan dan penilaian IRSA disesuaikan dengan lima pilar  yang telah ditetapkan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK), yakni Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management), Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road), Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vihicle), Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User), serta Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Post-Crash Response).

Di sela-sela kegiatan Sharing Session Chief Executive Officer PT Asuransi Adira Dinamika, Indra Baruna, saat ditemui Tribratanewsjepara menjelaskan, pihaknya juga menghadirkan kota yang menjadi finalis dan sudah mempunyai praktik yang baik untuk bisa di-share bagi kota-kota lain.

“Sehingga bisa dijadikan model dan diterapkan. Dengan adanya Sharing Session ini kita ingin bahwa penerapannya bisa semakin cepat ke semua daerah,” katanya.

Ia pun berharap bahwa dalam agenda Sharing Session IRSA 2016 ini daerah-daerah yang masih tinggi tingkat kecelakaannya dapat mengambil cara terbaik atau mengambil contoh dari kota atau kabupaten yang telah berhasil menekan angka kecelakaan.

“Hal ini lebih ke arah bagaimana kita itu bisa mengambil pelajaran dari kota yang sudah menerapkan dengan baik praktik-praktik pengelolaan manajemen keselamatan di jalan. Sehingga kota atau kabupaten lain bisa meniru dan mampu mengurangi angka kecelakaan,” pungkas Indra.

Editor : Akrom Hazami

Polsek Mlonggo Jepara Persempit Ruang Gerak Penjahat

Polisi melakukan kegiatan rayonisasi razia kendaraan di depan Mapolsek Mlonggo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi melakukan kegiatan rayonisasi razia kendaraan di depan Mapolsek Mlonggo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polsek Mlonggo Jepara mempersempit ruang gerak penjahat dengan melakukan razia kendaraan bermotor, di depan mapolsek setempat, Kamis (20/10/2016) malam. Kegiatan rayonisasi ini dilakukan bersama anggota Polsek rayon utara. Di antaranya Polsek Donorojo, Keling, Kembang, Bangsri dan Mlonggo serta 2 anggota lalu lintas.

Kapolsek Mlonggo AKP Maryono menerangkan sebelum kegiatan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan terlebih dulu diawali dengan apel untuk memberikan arahan dan cara bertindak pada saat melakukan razia. Anggota sudah dibekali dengan arahan agar selalu humanis dengan senyum salam sapa dalam pemeriksaan dan selalu mengutamakan keselamatan.

“Kegiatan rayonisasi bertujuan untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan dengan sasaran miras, sajam, handak, narkoba, curanmor, curas, premanisme, terorisme dan kejahatan lainnya yang meresahkan masyarakat dengan melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya depan Mapolsek Mlonggo,” katanya dikutip Tribratanewsjepara.

Sampai dengan selesai kegiatan rayonisasi sekitar pukul 23.30 WIB, polisi telah memeriksa sekitar 30 jenis kendaraan yang melintas di jalan tersebut. “Setiap obyek kami periksa dengan teliti baik surat-surat kendaraan maupun penumpang dan barang-barang yang ada di kendaraan. Kami melakukan tindakan tegas kepada 2 pengendara yang tidak patuh dan taat terhadap peraturan berlalu lintas,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

SIM Keliling Dihadirkan di TMMD Jepara

Pelayanan SIM Keliling dilakukan di sejumlah daerah di kawasan Jepara. (Tribratanewsjepara)

Pelayanan SIM Keliling dilakukan di sejumlah daerah di kawasan Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara mendukung kegiatan TMMD REG 97 diwujudkan dalam berbagai kegiatannya. Di antaranya mengikutkan 10 personelnya dalam kegiatan sehari-hari dalam bentuk fisik dan memberikan kemudahan pelayanan pembuatan SIM di daerah Desa Bringin.

Penyampaian itu disampaikan Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin bahwa Polres Jepara siap membantu sepenuhnya kegiatan TMMD REG 97. Karena itu untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan motto dari kepolisian. “Yakni selalu menjunjung dan siap melayani masyarakat,” katanya.

Dalam penutupan TMMD REG 97 Kodim Jepara, Polres Jepara melayani pelayanan pembuatan SIM diberi kemudahan sehingga banyak masyarakat senang. Apalagi, masyarakat memberi apresiasi kepada TNI khususnya Kodim 0719/Jepara yang peduli dan mau membangunkan segala aspek yang ada di Desa Bringin.

Editor :Akrom Hazami

Cegah Pungli, Polres Jepara Bentuk Tim Pengawas dan Penertiban Pelayanan Publik Kepolisian

Polisi melakukan sidak ke sejumlah tempat pelayanan masyarakat di Polres Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi melakukan sidak ke sejumlah tempat pelayanan masyarakat di Polres Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara- Kabag Sumda Polres Jepara Polda Jateng, Kompol I Ketut Tutut didampingi Kasi Propam Ipda Pribadiono dan Kasi Pengawasan Iptu Sujito melakukan kontrol dan inspeksi mendadak di sejumlah tempat pelayanan masyarakat di Polres Jepara.

Dalam sidak tersebut, Kabag Sumda mendatangi ruang pelayanan surat keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Sat Intelkam, kemudian dilanjutkan diruang pembuatan sidik jari di Satreskrim Polres Jepara, dan diruang pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) serta kantor bersama Samsat Jepara.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH melalui Kabag Sumda mengatakan pihaknya membentuk satu tim khusus untuk melakukan pengawas, monitoring, penertiban pelayanan masyarakat di Polres Jepara. Hal ini tertuang dalam Surat Perintah Kapolres Jepara Nomor Sprin/1766/X/2016, tanggal 14 Oktober 2016. “Tim ini kami bentuk untuk mencegah adanya pungutan liar (Pungli) serta praktik percaloan di lingkungan pelayanan publik Polres Jepara,” kata I Ketut dikutip Tribratanewsjepara.

Dalam kegiatan sidak, pihaknya melakukan cara bertindak melakukan pemeriksaan prosedur pelayanan. Wawancara langsung dengan masyarakat di Kantor Pelayanan dan mengecek langsung petugas pelayanan dan memeriksa laci-laci petugas dan tas petugas.

“Kegiatan yang dilaksanakan itu, hasilnya tidak ditemukan adanya anggota yang melakukan pungli dan penyalahgunaan wewenang maupun pelamggaran disiplin lainnya,” tutur Kasi Propam Ipda Pribadiono.

Editor : Akrom Hazami

12 Siswa Bolos Malah Ketemu Polisi Jepara

Petugas menertibkan siswa yang konangan membolos di Bugel Kedung, Jepara. (Tribratanewsjepara.com)

Petugas menertibkan siswa yang konangan membolos di Bugel Kedung, Jepara. (Tribratanewsjepara.com)

MuriaNewsCom, Jepara – Bhabinkamtibmas Polsek Kedung Polres Jepara Polda Jateng, Bripka Wagiran melaksanakan razia terpadu kepada pelajar Matholiul Huda Bugel Kedung yang melanggar tata tertib sekolah, Selasa (18/10/2016.

Razia terpadu terselengara berkat kerja sama antara Polsek Kedung dengan Koramil Kedung, Satpol PP Kecamatan Kedung dan para dewan guru MTs /MA Matholiul Huda Bugel Kedung.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH melalui Kapolsek Kedung AKP Sukarmo mengatakan, razia terpadu tersebut dimaksudkan untuk menertibkan para pelajar berseragam yang membolos berkeliaran di luar jam sekolah tanpa alasan yang jelas. “Juga mengantisipasi mereka tak bergabung ke sejumlah kelompok yang mengarah pada kegiatan negative,” kata Sukarno.

Razia terpadu yang digelar kali ini, mengamankan 12 siswa yang kedapatan bolos sekolah atau tidak masuk sekolah di sejumlah tempat. Kedua belas siswa, selanjutnya didata dan diberikan arahan dan pembinaan oleh tim terpadu supaya tidak terulang kembali.

Sukarmo menambahkan, pembinaan generasi muda sangat penting sejak dini dilakukan agar menciptakan generasi muda yang mumpuni di berbagai bidang dengan adanya pengawasan dari semua pihak baik pihak sekolah di saat jam pelajaran maupun pengawasan dari pada orang tua ataupun masyarakat saat berada di luar lingkungan sekolah.

Editor : Akrom Hazami

Persempit Ruang Penjahat, Polres Jepara Gelar Razia

razia-lantas-malam

Polisi melakukan razia kendaraan di Bangsri, Jepara, Senin. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan personel Polsek rayon utara Polres Jepara Polda Jateng bergabung di Mapolsek Bangsri melaksanakan kegiatan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan raya depan Mapolsek Bangsri, Senin (17/10/2016) malam.

Kegiatan pemeriksaan kendaraan bermotor dengan sasaran orang, barang dan pelanggaran lalu lintas dipimpin langsung Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono.

AKP Timbul mengatakan, razia kepolisian menyasar pelaku kejahatan, serta barang berbahaya seperti senjata tajam, senjata api, miras, narkoba, kendaraan hasil curat, atau curanmor, dan lainnya.

Sedangkan sasaran pelanggaran lalu lintas adalah pelanggaran yang kerap dilakukan oleh pengendara kendaraan bermotor pada umumnya seperti SIM, STNK dan kelengkapan kendaraan bermotor.

“Selama satu setengah jam pelaksanaan razia kepolisian di jalan depan Mapolsek Bangsri, petugas kami tidak menemukan barang atau orang sesuai target operasi namun melakukan tindakan tegas terhadap delapan pengendara yang tidak mematuhi peraturan berlalu lintas,” kata Timbul dikutip Tribratanewsjepara.

Kegiatan rayonisasi ini bertujuan untuk mencegah adanya gangguan kamtibmas serta mengurangi ruang gerak para pelaku kejahatan yang akan melancarkan aksinya di wilayah Jepara, khususnya di wilayah Bangsri.

Editor : Akrom Hazami

Polres Jepara Dirikan 8 Posko Mudik

 Pos pelayanan yang didirikan di depan Shoping Center Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Pos pelayanan yang didirikan di depan Shoping Center Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya delapan posko didirikan di sejumlah titik strategis yang ada di Kabupaten Jepara. Itu terdiri dari lima pos pengamanan, satu pos pelayanan dan dua pos terpadu. Pos-pos tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemudik dan warga Jepara pada umumnya.

 Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin mengatakan, pendirian posko dilakukan untuk menjaga, memelihara, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik menjelang, pada saat dan paska Idul Fitri nanti. Lokasi pos didirikan di titik yang dinilai strategis di masing-masing wilayah.

 “Lima pos pengamanan dan satu pos pelayanan didirikan di lokasi rawan kemacetan dan kriminalitas. Selain itu kita juga membuat dua pos terpadu. Total ada 8 pos yang kami dirikan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pemudik yang datang ke Jepara sebagai kota tujuan,” ujar Samsu Arifin.

 Menurutnya, pos pengamanan didirikan di wilayah Kecamatan Welahan, Mayong, Pecangaan, Bangsri dan Keling. Sedangkan pos pelayanan didirikan di shopping center Jepara (SCJ), kemudian pos terpadu di buat di Desa Bendanpete dan PTPN Balong Beji, Kecamatan Kembang.

 “Untuk mengisi pos-pos tersebut, kami akan menempatkan 270 personel dari Polres Jepara yang akan diperkuat oleh personel dari instansi terkait, seperti Kodim 0719/Jepara, Sat Pol PP Kabupaten Jepara, Dinkes Jepara, PMI Cabang Jepara, Orari/RAPI dan Saka Bhayangkara,” jelasnya.

 Samsu juga berpesan, agar warga tetap waspada saat libur Lebaran. Sebab ada beberapa potensi kerawanan maupun gangguan Kamtibmas. Antara lain pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas) dan curanmor, sweeping ormas, tawuran antarkelompok warga, balap liar dan kebut – kebutan, penyalahgunaan narkoba, miras, petasan, aksi intoleransi beragama, terorisme, sabotase, serta bencana alam dan kebakaran.

Editor : Kholistiono

 

Bupati Jepara Ledakkan Mercon di Mapolres Jepara

 Bupati Jepara Ahmad Marzuqi melempar botol miras (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Bupati Jepara Ahmad Marzuqi melempar botol miras (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama forum kordinasi pemerintah daerah (forkopinda) melakukan pemusnahan botol minuman keras (miras) di di belakang Mapolres Jepara pada Kamis (30/6/2016). Selain botol Miras, Marzuqi juga melempar petasan pada kubangan yang telah dinyalakan api sehingga terdengar suara ledakan kecil berkali-kali.

Miras dan petasan yang dimusnahkan tersebut merupakan hasil sitaan selama Operasi Pekat Candi 2016 tahap kedua oleh jajaran Polres Jepara. Polisi berhasil mengungkap 11 kasus dengan barang bukti, total 264 botol miras resmi dan 4.111 liter miras tradisional dan oplosan. Rinciannya, 104 liter miras oplosan dan 3.618 liter miras gingseng, ciur dan arak. Para tersangka sebanyak 8 orang telah diproses dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri dan beberapa sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jepara.

 Untuk petasan, ada ratusan ribu petasan berbagai jenis. Terdiri dari petasan jenis lombok 23.440 buah, petasan sesdor 1.650 buah, petasan duduk 962 buah, petasan jenis wajik 984 buah, petasan jenis korek 74.800 buah, petasan rawet 50.000 buah, petasan korek 100.000 buah, petasan dos besar 500 buah.

 “Fenomena miras ini seperti gunung es. Masih banyak yang belum terungkap dan tertangkap pelakunya. Jadi harus diwaspadai. Sedangkan petasan, memang sudah lama saya tidak main petasan, ini bisa memusnahkan petasan dengan cara melempar dan meledakkannya,” ucap Marzuqi dengan nada santai.

 Usai pemusnahan miras tersebut, bupati juga menyinggung masalah Pilbub 2017. Dirinya memastikan tidak mencalonkan diri sebagai Bupati Jepara pada periode yang akan datang. Alasannya, ia tidak ingin memecah pegawai dan juga kader partai yang telah menyatakan mendukung Subroto (Wakil Bupati Jepara) sebagai Bakal Calon Bupati Jepara pada Pilbup 2017 mendatang.

 “Saya memilih untuk mendukung penuh beliau (Subroto-red) sebagai Bakal Calon Bupati Jepara di Pilbup 2017 nanti. Ini juga menjadi cara agar persatuan di tubuh partai PPP tetap terjaga,” terangnya.

 Ketika disinggung mengenai tekanan dari pihak lain agar dirinya tidak mencalonkan diri, Marzuqi tak memberikan jawaban. Ia hanya menegaskan bahwa pilihannya untuk tidak mencalonkan diri lagi adalah pilihan terbaik.

Editor : Kholistiono

Butuh Biaya Lahiran Istri, Pemuda di Jepara Ini Nekat Curi Burung Cucak Rowo

Pelaku saat diamankan di Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Pelaku saat diamankan di Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus kriminal kembali terjadi di wilayah hukum Polres Jepara. Kali ini seorang pemuda bernama Muhammad Yunus (24), warga Desa Sowan, Kecamatan Kedung, Jepara, tertangkap polisi usai melakukan pencurian burung Cucak Rowo di Hotel Asia, Jepara.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin mengemukakan, aksi pelaku itu dilakukan pelaku pada 20 Juni 2016, saat menjelang waktu berbuka puasa.”Saat menjelang waktu buka puasa, kondisi lokasi kejadian yakni di garasi Hotel Asia sepi. Petugas jaga di hotel sedang ke luar mencari menu buka puasa,” ujar Samsu saat gelar perkara di Mapolres Jepara, Kamis (30/6/2016).

Menurutnya, diketahuinya aksi pelaku melalui tayangan CCTV yang ada di hotel tersebut. Tak hanya pelaku yang diamankan, tetapi juga beberapa barang bukti seperti burung yang dicuri, sepeda motor dan beberapa alat yang digunakan saat pelaku menjalankannya aksi pencuriannya.”Pelaku dikenakan pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Ada banyak barang bukti yang diamankan,” katanya.

Sementara itu, dari pengakuan pelaku, ia mencuri karena desakan ekonomi. “Untuk persiapan lahiran istri saya, dan untuk keperluan lain,” ujar Yunus.

Editor : Kholistiono

Keren, Satu-satunya di Indonesia, Video Safety on Bus Diluncurkan Polres Jepara

 Jajaran Satlantas Polres Jepara membagikan CD Video Safety on Bus (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Jajaran Satlantas Polres Jepara membagikan CD Video Safety on Bus (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Video Safety on Bus yang diklaim satu-satunya di Indonesia diluncurkan Polres Jepara. video tersebut dibagikan kepada semua perusahaan bus, terutama perusahaan otobus (PO) bus antarprovinsi di Kabupaten Jepara, Rabu (29/6/2016) petang.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin mengatakan, setiap terjadi kecelakaan bus, sering mengakibatkan jatuh korban banyak. Itu lantaran saat terjadi kecelakaan, penumpang terjebak di dalam bus karena tak memahami kondisi bus. Guna menekan korban kecelakaan, terutama penumpang bus, Polres Jepara meluncurkan program Safety on Bus.

“Safety on Bus merupakan tayangan video dan peragaan keselamatan penumpang bus. Di mana, penumpang diberi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bus mengalami kecelakaan,” ujar Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk pelaksanaan program ini, yakni sebelum bus berangkat, terutama bus antarkota antarprovinsi, wajib menayangkan dan memperagakan prosedur keamanan di dalam bus. Program ini lazimnya dijumpai pada transportasi pesawat. Di mana, sebelum pesawat take of, pramugari memberikan penjelasan standar keselamatan pada penumpang.

“Di situ ditunjukkan mana pintu depan, mana pintu belakang, dan pintu darurat. Juga ditunjukan cara memecah kaca dengan palu keselamatan serta cara membuka pintu darurat,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, selama ini ketika terjadi kecelakaan, bus acap menelan korban banyak dari pihak penumpang. Itu lantaran penumpang terjebak di dalam bus dan tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.

Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Jepara Samsul Arifin mengatakan, selama ini belum ada perusahaan otobus yang memberikan pemahaman keselamatan kepada penumpang sebelum bus berangkat.

“Kelihatannya di Indonesia program ini baru pertama kali. Biasanya perusahaan bus hanya mengajak penumpang berdoa dan memperkenalkan awak bus kepada penumpang sebelum bus berangkat,” beber Samsul.

Nantinya, Safety on Bus menjadi standar operasional prosedur bagi bus AKAP jurusan Jepara – Jakarta sebelum bus berangkat. Setiap bus yang akan berangkat diwajibkan menayangkan dan memperagakan keselamatan di dalam bus. “Apalagi bus Jepara ini terkenal bagus-bagus dan cepat, jadi keselamatan dan kenyamanan penumpang harus menjadi prioritas,” kata Samsul.

Dia menambahkan, jumlah bus jurusan Jepara – Jakarta lebih dari 150 armada. Pada hari-hari biasa, setiap sore sedikitnya 80 bus bertolak dari Jepara ke Jakarta. Pada musim mudik seperti saat ini, jumlah bus yang berangkat membawa penumpang dari Jepara ke Jakarta kurang dari 50 armada.

Editor : Kholistiono

 

Ingat Ya, Malam Takbiran di Jepara Tak Boleh Ada Pawai

Silaturrahmi antara Forkompimda dengan ormas (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Silaturrahmi antara Forkompimda dengan ormas (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menyatakan, bahwa untuk perayaan malam Idul Fitri atau takbiran nanti tidak diperbolehkan melakukan pawai, apalagi menggunakan mobil bak terbuka untuk mengangkut manusia. Pihaknya akan menindak tegas masyarakat yang melanggar aturan.

“Untuk malam takbiran nantinya tidak ada arak-arakan atau pawai.Jika melanggar akan kami tindak sesuai dengan UU Lalu Lintas, bahwa mobil bak terbuka bukan untuk mengangkut manusia,” ujar Samsu Arifin, dalam acara silaturrohmi antara Forkopimda dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Pendopo Kabupaten Jepara, Kamis (23/6/2016) malam.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, kalau untuk kondusifitas daerah saat ini situsinya sangat kondusif. Harapannya, lewat partisipasi masyarakat, baik perorangan maupun oraganisasi kemasyarakatan bisa  dipertahankan dan ditingkatkan lebih baik lagi di tahun mendatang.

“Kami telah menerbitkan surat edaran terkait pelaksanaan takbir keliling. Kepada ormas, diharapkan juga agar  mampu untuk mengendalikan para pemuda, sanak saudara dan tetangganya supaya tidak melakukan takbir secara hura-hura,” ujar Marzuqi.

Menurutnya, itu penting sekali agar di tahun yang lalu tidak terulang kembali. Sehingga pelaksanaan takbir bisa kidmah dengan mengagungkan asma Allah secara baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.

“Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri yang akan datang, kita sangat bersyukur, di mana untuk penentuan 1 Ramadan dan 1 syawal kali ini semua ormas-ormas lainnya, seperti NU dan Muhammadiyah juga menyatakan yang sama dan semoga di tahun berikutnya akan tetap bisa sama,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Kakek Cabul di Jepara Serahkan Diri ke Polisi

Korban pencabulan saat melapor ke Unit PPA Polres Jepara beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Korban pencabulan saat melapor ke Unit PPA Polres Jepara beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – M (64) seorang kakek yang diduga melakukan pencabulan terhadap IYN, bocah yang masih berusia 14 tahun hingga hamil 6 bulan, yang juga masih keponakannya sendiri, kini menyerahkan diri ke polisi. M sendiri, sebelumnya sempat menghilang sejak awal Ramadan lalu.

Salah satu keluarga korban, Kemijan mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi mengenai penyerahan diri tersebut dari pihak Polsek Keling, Jepara pada Kamis (23/6/2016). Berdasarkan informasi itu, diketahui bahwa M menyerahkan diri pada Sabtu (18/6/2016).

“Anggota polisi dari Babinkamtibmas Polsek Keling yang memberitahu kalau pelaku menyerahkan diri, setelah sebelumnya menghilang,” ujar Kemijan kepada MuriaNewsCom, Jumat (24/6/2016).

Menurutnya, anggota kepolisian  tersebut memberikan informasi secara langsung dengan mendatangi kediamannya di Kecamatan Keling, Jepara. Setelah menyerahkan diri ke Polsek Keling, kemudian pelaku dibawa ke Mapolres Jepara.

“Informasinya seperti itu, pelaku dibawa ke Polres Jepara untuk menjalani proses hukum. Bagi kami, meskipun dia menyerahkan diri, proses hukum harus tetap berjalan sebagaimana mestinya,”ungkapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, pihaknya menolak menyelesaikan kasus tersebut hanya dengan cara kekeluargaan. Pihaknya bersama warga sekitar menginginkan agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Apalagi perilaku yang telah dilakukan sudah sangat keterlaluan.

Seperti diberitakan MuriaNewsCom pada Senin, 13 Juni 2016 lalu, nasib malang menimpa IYN, warga Kecamatan Keling, Jepara. Bocah yang baru lulus sekolah dasar (SD) tersebut kini mengandung janin atas perbuatan yang diduga dilakukan pamannya sendiri yang berinisial M (64), yang tempat tinggalnya masih satu desa dengan korban. Kasus tersebut diketahui setelah beberapa kerabat korban mengantarkan korban untuk lapor ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jepara.

Editor : Kholistiono

Kapolres Minta Paslon Tak ‘Main Uang’ di Pilkada Jepara

Rapat koordinasi jajaran Polres Jepara dengan Panwas terkait Pilkada Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Rapat koordinasi jajaran Polres Jepara dengan Panwas terkait Pilkada Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin mengingatkan, calon yang akan berlaga saat Pemilihan Bupati (Pilbup) Jepara 2017 memberi teladan berkompetisi secara sehat. Salah satu caranya dengan tidak menggunakan politik uang untuk memengaruhi pilihan seseorang dan tidak melanggar aturan main yang ada.

Imbauan itu disampaikan Kapolres Jepara saat menerima kunjungan silaturahmi dan koordinasi jajaran Panwas Pilkada Jepara, Rabu (22/6/2016). AKBP Samsu didampingi Wakapolres Kompol Juara Silalahi, Kabag Ops hingga sejumlah kepala satuan. Sedang dari Panwas hadir tiga komisioner dan kepala sekretariat.

“Masyarakat itu cenderung pasif dan mengikuti, semua tergantung bakal paslon dan tim suksesnya. Oleh karena itu, mari kita wujudkan pilkada yang demokratis, aman, lancar dan kondusif,” ujar AKBP Samsu Arifin.

Dia menilai, upaya pencegahan pelanggaran pemilu harus terus digencarkan sejak dini. Potensi pelanggaran baik yang bersifat administrasi hingga pidana pemilu harus ditutup.“Penanganan pelanggaran pemilu dibatasi waktu, padahal penanganan harus cermat. Ini jadi tantangan, makanya kita sepakat upaya pencegahan dimaksimalkan,” ungkapnya.

Pihaknya menyoroti sejumlah hal yang berpotensi mengganggu, menghambat atau menodai gawe pilbup. Ia juga menyinggung soal praktek politik uang yang biasanya marak tiap kali hajatan pemilu.“Bakal calon peserta Pilbup Jepara harus mentaati aturan main. Selain bagian dari pendidikan politik, itu juga sekaligus penting agar gelaran pilbup berjalan demokratis dan bermartabat,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Pelaku Pelecehan Seksual Terhadap ABG di Jepara Terancam Pidana Lebih 5 Tahun

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pelaku tindakan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, Zainal Arifin (25), warga Desa Langon Kecamatan Tahunan Jepara terdapat korban berinisial MA (15) terancam mendekam di penjara minimal 5 tahun. Sebab, ia dikenakan Pasal 82 ayat (1) UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jepara, Aiptu Rofiqoh menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan dari pihak keluarga korban atas kasus pelecehan berupa tindakan memegang dada MA yang dilakukan oleh tersangka. Sampai saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku.“Pelaku mengakui perbuatannya, dia dikenakan pasal tentang perlindungan anak di bawah umur dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara,” ujar Rofiqoh, Selasa (21/6/2016).

 Menurutnya, tindakan tersangka tergolong melakukan tindakan pelecehan seksual karena meremas bagian tubuh anak perempuan di bawah umur. Meski diancam penjara di atas lima tahun, namun pihaknya akan tetap menyerahkan putusan di pengadilan ketika proses penanganan secara hukum tetap berlanjut.

 “Sejauh ini kami masih membuka peluang di antara kedua belah pihak, baik dari pelaku maupun korban untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Tetapi, kalau pihak korban tidak bersedia maka proses hukum terus berlanjut,” terangnya.

 Berdasarkan keterangan pelaku, alasan pelaku melakukan tindakan pelecehan tersebut hanya karena tak mampu menahan gairahnya. “Pengen saja, tidak ada maksud apa-apa,” ucap pelaku singkat saat ditanya petugas di Mapolsek Tahunan sebelum diserahkan ke unit PPA Polres Jepara.

 Tindakan pelaku dilakukan ketika kondisi di lokasi, yakni di dekat Perempatan Jalan Desa Langon, Kecamatan Tahunan. Waktu itu kondisinya cukup sepi lantaran waktu usai berbuka puasa. Pelaku terbilang cukup nekat karena lokasi kejadian berada di tempat umum dan kondisinya terdapat lampu yang cukup terang.

 Seperti diberitakan, kejadian tersebut terjadi saat korban hendak pulang dari konter membeli pulsa. Saat di jalan, tiba-tiba didekati seorang lelaki dan lelaki tersebut melakukan pelecehan seksual dengan meremas bagian dada korban.

Baca juga : Remas Payudara ABG, Seorang Pemuda di Jepara Dipolisikan

Editor : Kholistiono

Remas Payudara ABG, Seorang Pemuda di Jepara Dipolisikan

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus pelecehan seksual kembali terjadi di Kabupaten Jepara. Kali ini giliran seorang pemuda bernama Zainal Arifin (25) dipolisikan setelah melakukan tindakan tidak senonoh yakni meremas payudara anak dibawah umur, berinisial MA (15), warga Desa Tahunan, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (20/6/2016) sekitar pukul 18.30 WIB di dekat Perempatan Desa Langon. Kronologinya, korban sebelumnya membeli pulsa di salah satu konter di Desa Langon, Kecamatan Tahunan bersama temannya. Ketika hendak pulang mengendarai sepeda motor, korban tiba-tiba didekati pelaku kemudian secara mendadak pelaku melakukan tindakan pelecehan seksual tersebut.

“Ketika sampai di rumah, korban tiba-tiba menangis. Ketika saya tanya, ternyata memang itu yang dialami korban. Dia mengaku diremas bagian dadanya sama orang yang tidak dikenal,” ujar salah satu paman korban, Sya’roni kepada MuriaNewsCom, saat melaporkan kasus tersebut di Mapolres Jepara, Selasa (21/6/2016) dini hari.

Setelah mengetahui kejelasan dari korban mengenai pelecehan yang dilakukan lelaki tak dikenalnya, kemudian ia bersama pihak keluarga lainnya ke lokasi kejadian dan berharap pelaku kembali melintas di jalan yang sama. Tak berselang lama, sekitar pukul 19.15 WIB, pihaknya mengetahui pelaku melintas di jalan tersebut.

“Kemudian saya bersama keluarga menangkapnya, dan membawanya ke Kantor Polsek Tahunan. Saat saya Tanya, awalnya tidak mengakui kelakuannya, tetapi lama-lama mengaku juga,” ungkapnya.

Dia juga mengemukakan, setelah diinterogasi di Mapolsek Tahunan, pelaku mengakui perbuatannya. Pelaku yang diketahui telah beristri tersebut kemudian diserahkan ke Polres Jepara, untuk selanjutnya ditangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Sementara itu, Kanit PPA Polres Jepara, Aiptu Rofiqoh mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, setelah mendapatkan keterangan dari korban. Pelaku mengakui tindakannya tersebut, dan saat ini pelaku di tahan di Mapolres Jepara. “Kami sudah terima laporannya, dan masih dalam proses pemeriksaan,” katanya.

Editor : Kholistiono

Ikuti perkembangan berita terbaru melalui media sosial kami :

Fanpage : Muria News Com

Twitter : @Muria News Com

Youtube : Muria Channel

 

Jelang Operasi Ramadhania, Ratusan Kendaraan Polres Jepara Diperiksa Polda Jateng

Pengecekan kendaraan oleh petugas dari Polda Jateng (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Pengecekan kendaraan oleh petugas dari Polda Jateng (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

           MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang digelarnya Operasi Ramadhania 2016, ratusan kendaraan Polres Jepara kondisinya dicek oleh petugas dari Polda Jawa Tengah. Kendaraan yang dicek kondisinya tidak hanya kendaraan roda empat, namun juga roda dua dan roda enam.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menjelaskan, pengecekan kendaraan yang dilakukan ini dalam rangka menunjang pelaksanaan Operasi Ramadhania yang akan dimulai 30 Juni 2016 mendatang. Semua kendaraan milik semua polsek yang ada di Jepara dan Polres Jepara dicek satu persatu oleh petugas dari Polda Jateng.

“Selain kendaraan ada beberapa peralatan khusus yang juga dicek. Ini dilakukan agar dapat dipastikan bahwa kondisinya baik, sehingga mampu memberikan pelayanan dan pengamanan yang maksimal,” ujar Samsu kepada MuriaNewsCom, Kamis (16/6/2016).

Menurutnya,  saat dicek siang tadi, kondisi semua kendaraan dan peralatan khusus dalam kondisi baik dan masih layak digunakan. Hal itu tidak terlepas dari program perawatan yang dilakukan secara rutin.

“Untuk kendaraan roda dua ada 187, roda empat 61, dan roda enam ada tujuh kendaraan. Semua dalam kondisi baik. Selain kendaraan darat, juga ada kapal dan perahu yang kondisinya juga baik,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam Operasi Ramadhania nanti, pihaknya akan mendirikan sejumlah pos pengamanan dan pelayanan di sejumlah titik, terutama yang dianggap rentan terhadap keramaian dan kemacetan, seperti di sejumlah pasar yang ada di jalan utama Jepara-Kudus maupun di pusat kota Jepara.

 

Editor : Kholistiono

Warga Jepara, Jangan Coba Main Petasan saat Ramadan Jika Tak Ingin Dikejar Polisi

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang Ramadan tahun ini, Polres Jepara bakal menggencarkan razia penyakit masyarakat (pekat), seperti narkoba, minuman keras dan dugaan prostitusi selubung. Selain itu juga razia bakal menyasar penjualan petasan yang ada di wilayah hukum Polres Jepara.

Hal itu seperti yang disampaikan Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin. Menurut dia, razia pekat kali ini juga berkonsentrasi pada masalah petasan. Apalagi mengaca tahun-tahun sebelumnya banyak petasan beredar di Jepara.

“Sebenarnya selama ini belum ditemukan pabrik pembuat petasan di Jepara. Lebih pada peredarannya karena konsumennya lumayan banyak,” ujar Samsu, Senin (30/5/2016).

Menurut dia, Jepara bukan sebagai produsen petasan. Petasan yang beredar di Jepara banyak dipasok dari luar daerah seperti Indramayu dan Cirebon. Pihaknya bakal melakukan razia dan memberikan sanksi tindak pidana ringan bagi penjual dan pembuat petasan.

“Kami akan memberikan sanksi tindak pidana ringan bagi penjual dan pembuat petasan. Sebab, selain membahayakan, petasan juga dinilai mengganggu masyarakat,” ungkapnya.

Mendekati Ramadan ini, pedagang kembang api mulai bermunculan di sudut-sudut wilayah Jepara. Mereka mulai menggelar lapak dari sore sampai malam.

Selain menjual kembang api berbagai macam jenis dan ukuran, pedagang musiman juga menjual petasan.

Beberapa pedagang ada yang terang-terangan memajang petasan di lapaknya, ada pula pedagang yang menyembunyikan petasan dagangannya.

Editor : Akrom Hazami

 

Berani Gunakan Atribut PKI di Jepara, Siap-siap Berurusan dengan Polisi

AKBP Samsu Arifin, Kapolres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

AKBP Samsu Arifin, Kapolres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menyatakan bahwa pihaknya akan menindak tegas secara hukum bagi siapa saja yang sengaja memakai atau atau mengajak atau memproduksi atribut-atribut berbau partai komunis Indonesia (PKI) atau lambang terlarang lainnya. Hal itu dilakukan sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

”Kami akan menindak secara hukum jika ada pelanggaran hukum itu. Sebab larangan tentang PKI itu telah diatur dalam Undang-undang,” ujar Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, sebenarnya bukan kali ini saja, dari dulu dia mengaku kalau ada yang memakai atribut lambang terlarang akan ditindak tegas. Hanya saja, isu PKI kali ini muncul lagi sehingga perlu kembali diingatkan agar tidak ada yang melanggar aturan pelarangan tersebut.

”Sampai saat ini kami belum menemukan. Sejak isu mengenai PKI muncul lagi, akmi terus melakukan pemantauan,” kata dia.

Dia menambahkan, saat ini masih intensif melakukan pemantauan peredaran benda-benda yang berkait dengan PKI. Sejauh ini, pihaknya memastikan di Kabupaten Jepara masih aman dari ancaman PKI.

”Masalah PKI sebenarnya sudah selesai, semestinya tidak dimunculkan lagi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

4 Pelaku Narkoba Diamankan Polres Jepara

f-Narkoba 

  MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara mengamankan empat pelaku narkoba. Keempat pelaku yang merupakan pengguna sekaligus pengedar narkoba tersebut, adalah SR warga Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, MA warga Desa Pekalongan, Kecaatan Batealit, AG warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Jepara kota, dan EP warga Desa Senenan, Kecamatan Tahunan.

Untuk SR ,diamankan dari salah satu rumah warga di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Kota Jepara, dengan barang bukti narkoba jenis sabu seberat 0,3 gram. Kemudian, MA ditangkap di depan warung nasi kucing di Desa Bawu, Kecamatan Batealit, dengan barangbukti ganja satu bungkus seberat 0,4 gram, satu linting dengan berat 0,5 gram.

Sedangkan AG diamankan di rumahnya di Kelurahan Kauman, dengan barangbukti narkoba jenis ganja dua bungkus dengan berat 8,2 gram dan satu bungkus biji dengan berat 1,6 gram. Sementara, EP diamankan di salah satu gang di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, dengan barang bukti sabu seberat 0,5 gram.

“Selain ditemukan barang bukti berupa narkoba, juga ada beberapa barang bukti berupa alat hisap. Keempat sudah ditahan. Tiga dititipkan di tahanan rutan dan satu lagi masih kami tahan di Mapolres,” ujar Kasat Narkoba Polres Jepara AKP Supardiyono kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/4/2016).

Menurutnya, awalnya keempat pelaku itu diketahui sebagai pengguna. Namun, setelah diselidiki keempatnya juga berperan sebagai pengedar narkoba. Dalam hal ini,  keempatnya terancam hukuman pidana dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara.

“Mungkin awalnya mereka memang pengguna, tetapi lama-kelamaan menjadi pengedar juga. Sehingga mereka dikenakan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman minimal empat tahun penjara,” ungkapnya.

Dia menambahkan, penangkapan tersebut dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat saat Program Operasi Bersinar berlangsung sejak 18 Maret hingga 19 April 2016 lalu. Saat ini, meski jadwal operasi telah selesai, namun razia narkoba tetap akan terus dilakukan sebagai kegiata rutin.

Editor : Kholistiono

Begini Kata Kasatlantas Polres Jepara, Soal Mobil Penumpang Pelat Hitam

AKP Andhika Wiratama, Kasatlantas Polres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman) Wahyu Khoiruz zaman

AKP Andhika Wiratama, Kasatlantas Polres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)
Wahyu Khoiruz zaman

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kasatlantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama menyatakan mobil berpelat nomor hitam yang digunakan untuk angkutan umum adalah melanggar undang-undang. Sehingga pihaknya bakal menindak tegas mereka jika masih dijumpai beroperasi.

Meski begitu sejauh ini pihaknya mengaku masih kesulitan menindak pelanggaran tersebut. Itu karena minimnya informasi dan laporan dari masyarakat yang diterima pihaknya.

”Sedangkan setiap kali kami operasi, penumpang tidak ada yang mau mengaku kalau dia penumpang dan ditarik tarif,” ujar Andhika kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, transportasi umum berpelat hitam harus ditindak tegas. Jika tidak, akan menimbulkan kecemburuan bagi pelaku transportasi umum resmi. Andhika menyarakan pada masyarakat untuk tidak menggunakan transportasi umum pelat hitam.

”etidaknya kalau pelat kuning terdaftar, sehingga jika terjadi apa-apa bisa dipantau. Tapi kalau pelat hitam susah dipertanggungjawabkan kalau ada penyimpangan atau tindak kriminal,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, meski angkutan penumpang umum di Jepara hanya sampai sore, tetap tidak ada dispensasi bagi angkutan pelat hitam beroperasi pada malam hari.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Tanggapan Bappeda Jepara Terkait Oknum yang Mengaku dari Bappenas dan Diduga Melakukan Penipuan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara Sujarot memberikan tanggapan atas adanya oknum yang mengaku sebagai anggota Bappenas dan menjanjikan memberikan bantuan kepada 93 lembaga pendidikan swasta di Jepara.
Menurut Sujarot, selama ini instansi Bappenas maupun Bappeda ketika memberikan bantuan melalui instansi atau kementerian terkait.

“Saya belum tahu persis masalah dugaan penipuan itu. Setahu saya, selama ini ketika Bappenas maupun Bappeda ingin memberikan bantuan kepada instansi, baik pendidikan maupun lainnya harus melalui instansi atau lembaga atau kementerian teknis, tidak secara langsung,” ujar Sujarot saat dihubungi MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Menurut dia, mekanisme yang lazim dijalankan memang seperti itu, karena Bappenas maupun Bappeda bukan instansi yang bisa mengeksekusi kebijakan. Hanya saja, pihaknya tidak berani secara langsung menilai salah atau benar. Sebab, pihaknya belum mengetahui persis masalahnya.

“Jika memang ada aturan baru kalau Bappenas bisa memberikan bantuan secara langsung, saya belum tahu. Dalam hal ini, saya belum bisa berkomentar dan memberikan banyak tanggapan,” tegasnya.
Seperti diberitakan, Sedikitnya 93 lembaga pendidikan swasta tingkat usia dini hingga menengah atas di Kabupaten Jepara diduga terkena penipuan oleh oknum berinisial HRS, yang mengaku sebagai Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan UMKM Kementerian PPN/Bappenas. HRS menjanjikan dapat membantu memberikan kucuran bantuan sebesar Rp 100 juta.

Dugaan adanya penipuan tersebut muncul, setelah sejumlah pengelola lembaga pendidikan itu merasa curiga, kemudian melaporkan HRS ke Polres Jepara. HRS menjanjikan bantuan ratusan juga dan meminta sejumlah uang ratusan ribu kepada masing-masing lembaga pendidikan dengan dalih memuluskan cairnya bantuan tersebut.

Hal itu seperti yang disampaikan Pengelola PAUD Annur Tengguli Jepara, Muhammadun. Menurut dia, kepada para korbannya, HRS mengaku dapat membantu mencairkan bantuan dana hibah sebesar Rp 100 juta per lembaga dari Bappenas. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, masing-masing pengelola lembaga diminta untuk mengajukan proposal dan membayar sejumlah uang.

Editor : Kholistiono

Diduga Lakukan Penipuan, Oknum yang Mengaku dari Kementerian PPN/Bappenas Digelandang ke Mapolres Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya 93 lembaga pendidikan swasta tingkat usia dini hingga menengah atas di Kabupaten Jepara diduga terkena penipuan oleh oknum berinisial HRS, yang mengaku sebagai Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan UMKM Kementerian PPN/Bappenas. HRS menjanjikan dapat membantu memberikan kucuran bantuan sebesar Rp 100 juta.

Dugaan tersebut muncul, setelah sejumlah pengelola lembaga pendidikan itu merasa curigadan kemudian melaporkan HRS ke Polres Jepara. HRS disebut menjanjikan bantuan ratusan juga dan meminta sejumlah uang ratusan ribu kepada masing-masing lembaga pendidikan dengan dalih memuluskan cairnya bantuan tersebut.

Hal itu disampaikan Pengelola PAUD Annur Tengguli, Jepara Muhammadun. Menurut dia, kepada para korbannya, HRS mengaku dapat membantu mencairkan bantuan dana hibah sebesar Rp 100 juta per lembaga dari Bappenas. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, masing-masing pengelola lembaga diminta untuk mengajukan proposal dan membayar sejumlah uang.

“Kami diminta membuat proposal. Kami dijanjikan mendapatkan bantuan senilai Rp 100 juta. Masing-masing lembaga ada yang kena Rp 300 ribu ada yang Rp 600 ribu,” ujar Muhammadun kepada MuriaNewsCom, Kamis petang (24/3/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, informasi mengenai janji dapat memberikan bantuan itu terjadi pada akhir tahun 2014 lalu. Kemudian dilakukan sejumlah pertemuan, untuk membicarakan pembuatan proposal itu terjadi April 2015 di tiga tempat. Yaitu di Kabupaten Jepara, Pati, dan Demak.

“Pertemuan berikutnya dengan HRS kembali terjadi pada September 2015. Saat itu pertemuan untuk melakukan Penandatanganan Nota Perjanjian Hibah Daerah dan Surat Pertanggungjawaban. Saat itu diminta lagi membayar ada yang Rp 100 ribu, dan ada yang Rp 150 ribu,”terangnya.

Setelah pertemuan tersebut, HRS kembali bertemu dengan para korbannya di Panti Asuhan Sunu Ngesti, Jepara, pada Rabu 23 Maret 2016. Pertemuan itu untuk sosialisasi pembuatan rekening bank. Namun, saat itu, HRS tidak menghadirkan pihak bank.

“Katanya blangkonya habis ,terus tidak menghadirkan pihak bank. Dari situ mulai muncul kecurigaan, kemudian kami langsung berkoordinasi dengan polisi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwasana, membenarkan adanya laporan itu. Usai menerima laporan, HRS langsung digelandang dari panti asuhan ke Mapolres Jepara. Kini HRS masih diperiksa intensif di Mapolres Jepara.

Editor : Kholistiono

Belasan Warga Tunahan Jepara Diperiksa Polisi Terkait Kasus Penganiayaan

Beberapa warga Desa Tunahan saat mendatangi Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Beberapa warga Desa Tunahan saat mendatangi Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara mengamankan belasan warga Desa Tunahan, Kecamatan Keling, Jepara. Mereka diamankan guna dilakukan pemeriksaan sekaligus dimintai keterangan terkait kasus penganiayaan yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia bernama Ruslan (50).

Pengamanan tersebut dilakukan setelah puluhan warga menggerudug Mapolres Jepara, Selasa (26/1/2016) siang tadi. Satu per satu diantara mereka ditarik polisi untuk masuk ke ruang pemeriksaan.

Keterangan dari satu warga ke warga yang lain pun mengarah ke sejumlah nama, kemudian secara berantai mereka yang masih berada di Mapolres Jepara, memudahkan aparat untuk memanggil dan memasukkan mereka ke ruang pemeriksaan.

“Kami tidak memanggil mereka untuk datang kesini (Mapolres Jepara-red), tapi mereka sendiri yang datang. Ini justru memudahkan kami untuk memintai keterangan dari para saksi,” ujar Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/1/2016).

Menurutnya, dari keterangan satu ke keterangan yang lain, didapatkan informasi sementara jika peristiwa penganiayaan yang terjadi pada Senin (25/1/2016) pukul 21.15 WIB tersebut, dilakukan oleh sejumlah orang.

“Kami belum bisa menyimpulkan, karena proses pemeriksaan sampai saat ini masih berlangsung. Kita tunggu nanti kesimpulan terkait kronologi, modus dan motif dari penganiayaan ini,” imbuhnya.

Dia menambahkan, selain belasan warga yang diperiksa. Dua saksi yang merupakan istri dan anak korban juga telah dimintai keterangan. Dari keterangan awal, pihak kepolisian mengamankan sejumlah warga tersebut untuk diperiksa terkait adanya keterlibatan mereka atau tidak.

Editor : Kholistiono

Mapolres Jepara Digerudug Warga Desa Tunahan

Warga Desa Tunahan, Kecamatan Keling, mendatangi Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Warga Desa Tunahan, Kecamatan Keling, mendatangi Mapolres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sejumlah warga dari Desa Tunahan, Kecamatan Keling, Jepara menggerudug Mapolres Jepara, Selasa (26/1/2016). Mereka yang datang menggunakan empat kendaraan terdiri dari dua truk dan dua pikap tersebut, meminta agar salah satu warga yang diamankan polisi untuk dilakukan pemeriksaan atas kasus penganiayaan yang mengakibatkan salah seorang warga bernama Ruslan (50), warga RT 19 RW 06 desa setempat, segera dibebaskan.

Mereka tiba di Mapolres Jepara siang tadi sekitar pukul 14.00 WIB. Kemudian, mereka diterima oleh Kapolres Jepara di Aula Mapolres setempat, dengan dikawal oleh belasan aparat. Di hadapan Kapolres, sejumlah warga tersebut meminta agar salah seorang warga berinisial IR, yang diamankan polisi guna dimintai keterangan segera dibebaskan.

Dari keterangan yang dihimpun MuriaNewsCom, sejumlah warga tersebut membeberkan penyebab kasus penganiayaan itu terjadi. Salah satunya, selama ini berembus kabar jika korban yang tewas tersebut memberikan keresahan dan diduga korban merupakan dukun santet.

Sementara itu, Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin yang menerima puluhan warga tersebut memberikan nasehat. Menurut Samsu, apa yang dilakukan beberapa warga yang melakukan penganiayaan terhadap korban hingga mengakibatkan nyawa korban melayan sudah melanggar hukum.

“Sehingga harus diproses secara hukum. Orang yang kami amankan untuk sementara ini masih diperiksa, apakah terlibat dan bersalah atau tidak,” katanya.

Editor : Kholistiono