Begini Suasana Rumah Duka Brigadir Budi Wibowo di Sugihrejo Pati

Suasana rumah duka Brigadir Budi Wibowo di Sugihrejo, Gabus, Pati, Rabu (11/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Suasana duka menyelimuti keluarga Brigadir Budi Wibowo, anggota Brimob yang tewas usai terlibat baku tembak di kawasan Desa Trembul, Kecamatan Ngawen, Blora, Selasa (10/10/2017) malam.

Di rumah duka, Desa Sugihrejo, Kecamatan Gabus, Pati, Rabu (11/10/2017), anggota polisi dan masyarakat tampak memadati halaman rumah sejak pukul 09.30 WIB.

Baca: 3 Anggota Brimob Tewas Usai Saling Baku Tembak di Blora

Sejumlah karangan bunga terlihat menghiasi pekarangan dan jalan rumah duka. Salah satu ucapan duka berasal dari Kasat Brimob Polda Jateng Kombes Pol Anis Victor Brugman, Kasubden 4 Den A Por Nur Alfian, dan Jajaran Polres Pati.

Puluhan anggota polisi bersenjata laras panjang terlihat bersiap menyambut upacara pemakaman korban. Mereka berbaris di depan rumah duka.

Baca: Pemakaman 3 Brimob yang Tewas Baku Tembak di Blora Tunggu Proses Autopsi

Di mata keluarga, Brigadir Budi merupakan kepala keluarga yang baik. Dia sosok yang bertanggung jawab menafkahi istri dan dua orang anaknya.

Anak pertamanya masih sekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sedangkan anak keduanya masih kecil. Brigadir Budi sendiri usianya masih sangat muda, yaitu 30 tahun.

Dikabarkan sebelumnya, Brigadir Budi bersama satu rekan dan satu komandannya tewas dalam insiden baku tembak di Blora. Pelaku diduga Brigadir Bambang Tejo yang kemudian bunuh diri usai menewaskan dua anggotanya.

Editor: Supriyadi

Baca: Begini Kronologi Baku Tembak yang Menewaskan 3 Brimob di Blora

Begini Penjelasan Polisi Soal Pemberhentian Aksi Longmarch Ade Kenzo di Pati

Peserta aksi longmarch Jamkeswatch saat dicegat petugas kepolisian di Jalan Pati-Kudus, Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Aksi pencegatan yang dilakukan polisi terhadap rombongan aksi “longmarch BPJS” yang dipimpin Ade Kenzo atau Muhammad Ade Lukman Hakim Kumaeny sempat beredar luas di media sosial, Kamis (28/9/2017).

Rombongan longmarch diketahui dihadang petugas kepolisian, seusai melakukan audiensi kepada Bupati Pati Haryanto di Ruang Karawitan Setda Kabupaten Pati.

Ternyata, aksi pencegatan terhadap rombongan longmarch yang dilakukan polisi bukan tanpa alasan. Mereka dihadang untuk ditanya kelengkapan surat izin aksi longmarch.

Informasi yang diterima MuriaNewsCom dari Mapolres Pati menyebutkan, peserta aksi longmarch tidak memiliki surat izin yang dikeluarkan Mabes Polri. Karena itu, mereka diimbau untuk tidak melakukan aksi jalan kaki.

“Kelengkapan surat ijin aksi longmarch yang dilakukan tidak dikeluarkan oleh Mabes Polri,” kata Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, Jumat (29/9/2017).

Setelah menerima imbauan dari Polres Pati, rombongan aksi longmarch lantas berdiam diri di kawasan pemakaman umum di Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Pati. Bahkan, mereka masih berdiam diri di kawasan makam hingga malam hari dengan dikawal petugas kepolisian.

Seperti diketahui, aksi longmarch Jamkeswatch merupakan bentuk protes dari pelayanan BPJS dan JKN yang dianggap belum maksimal. Mereka menutut agar pelayanan JKN dan BPJS diperbaiki.

Salah satunya persoalan masih adanya batasan kuota dan perbedaan antara kamar rawat inap BPJS dan pasien umum, serta rujukan antarumah sakit juga dianggap masih susah.

Editor: Supriyadi

Dana Ratusan Juta Digelontor untuk Bantuan Air Bersih di 97 Desa di Pati

Seorang polisi ikut mendistribusikan air bersih di wilayah Pati yang dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati menganggarkan dana Rp 100 juta untuk menyalurkan air bersih di 97 desa di Pati yang terdampak kekeringan.

Dana tersebut disalurkan dalam bentuk air bersih sebanyak 400 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter per tangki.

Sampai saat ini, sudah ada 88 desa yang mendapatkan bantuan air bersih dengan rincian distribusi sebanyak 282 tangki.

“Mekanismenya, pihak desa harus mengajukan permohonan bantuan. Dari 97 desa yang terdampak kekeringan, sudah ada 88 desa yang mengajukan dan langsung kami dropping,” ujar Kepala BPBD Pati Sanusi Siswoyo, Kamis (21/9/2017).

Selain dari BPBD, bantuan air bersih bisa didapatkan dari instansi lain dan perusahaan seperti program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena itu, pihaknya memastikan bila warga yang terdampak kekeringan tidak kekurangan air bersih.

Dia menambahkan, wilayah yang paling sering mengalami dampak kekeringan berada di Pati bagian selatan dan timur. Kondisi itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pucakwangi, Winong, Batangan, Gabus dan sebagian Kayen.

Editor: Supriyadi

Ini Pernyataan Pihak Vihara di Pati Saat Demo Rohingya di Alun-alun

Perwakilan dari pihak vihara Kabupaten Pati Edi Siswanto membacakan pernyataan sikap terkait dengan krisis Rohingya, Jumat (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Perwakilan dari pihak vihara di Kabupaten Pati, Edi Siswanto memberikan pernyataan sikap terkait dengan isu kemanusiaan Rohingya di Myanmar. Pernyataan itu dibaca di depan puluhan peserta aksi unjuk rasa di kawasan Alun-alun Pati, Jumat (8/9/2017).

Ia mewakili seluruh umat Buddha di Indonesia mengutuk keras pembantaian umat Islam di Myanmar yang dilakukan pemerintah Myanmar dan para biksu Budha.

“Kami umat Buddha di Indonesia hidup di lingkungan Muslim dalam keadaan damai, rukun dan saling membantu, menolong,” seru Edi.

Baca Juga: Demo Rohingya Memanas, Polisi Pati Ini Justru Edarkan Kotak Amal

Lebih lanjut, Edi menyerukan bahwa umat Budha dalam melaksanakan ritual peribadatan selalu dibantu dan dilindungi, serta dijaga umat Islam.

Karena itu, ia meminta kepada pemerintah Myanmar dan para biksu agar segera menghentikan pembantaian dan penindasan terhadap umat Islam di Myanmar demi terciptanya keamanan umat Budha dan biksu di Indonesia, serta negara lainnya.

“Kami meminta kepada Dewan Pimpinan PBB agar menyeret Aung San Suu Kyi dan biksu Ashin Wirathu diadili oleh pengadilan internasional sebagai penjahat kemanusiaan,” seru Edi membacakan pernyataan sikap.

Baca Juga: Polisi Sita Tongkat dan Palu dari Mobil Pendemo Rohingya di Pati

Edi juga mendesak agar penghargaan nobel perdamaian Aung San Suu Kyi dicabut dan pemerintah Myanmar melindungi umat Muslim yang tinggal di Myanmar.

Pernyataan sikap itu dibuat Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah (Gempa) yang kemudian dibaca dan ditandatangi Edi mewakili pihak vihara di Kabupaten Pati. Usai pembacaan itu, puluhan massa membubarkan diri.

Editor: Supriyadi

Polisi Sita Tongkat dan Palu dari Mobil Pendemo Rohingya di Pati

Polisi mengamankan tongkat dan palu yang disita dari mobil peserta unjuk rasa terkait isu Rohingya di kawasan Alun-alun Pati, Jumat (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Aksi unjuk rasa terkait isu kemanusiaan Rohingya yang dilakukan massa dari Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah (Gempa) di kawasan Alun-alun Pati, Jumat (8/9/2017), berlangsung aman.

Namun, petugas sempat menemukan palu dan tongkat yang ditemukan di dalam mobil salah satu pendemo. Kedua alat itu kemudian disita polisi.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, peserta unjuk rasa sengaja digeledah untuk mengantisipasi bila ada yang membawa senjata tajam. Polisi tidak menemukan senjata tajam dari tubuh peserta unjuk rasa.

Selain memeriksa peserta demo, polisi juga menggeledah masing-masing kendaraan yang digunakan peserta demo. Alhasil, polisi menemukan palu berukuran kecil dan tongkat dari kayu dengan ukuran sekitar 70 cm.

Baca Juga: Demo Rohingya Memanas, Polisi Pati Ini Justru Edarkan Kotak Amal

“Tidak ada indikasi untuk digunakan sebagai alat kekerasan. Mungkin untuk keperluan teknis kendaraan. Tapi tetap kami sita demi keamanan bersama,” ucap AKBP Maulana.

Aksi unjuk rasa yang diikuti puluhan massa Gempa tersebut membubarkan diri sekitar pukul 11.30 WIB, setelah mereka ditemui Ketua Viraha Pati Edi Siswanto. Mereka lega setelah Edi mengungkapkan bahwa umat Buddha di Indonesia tidak terlibat dalam aksi penganiyaan etnis Rohingya di Myanmar.

“Kita meminta kepada aparat dan pemerintah untuk ikut menyelesaikan masalah krisis kemanusiaan yang menimpa umat Muslim di Myanmar. Selain itu, kami ingin memastikan tidak ada umat Buddha di Indonesia yang terlibat dengan krisis Rohingya,” jelas Ketua DPW Gempa Jawa Tengah Mustaqim.

Editor: Supriyadi

Demo Rohingya Memanas, Polisi Pati Ini Justru Edarkan Kotak Amal

Aksi unjuk rasa yang dilakukan Gempa terkait dengan isu Rohingya di kawasan Alun-alun Pati, Sabtu (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan massa yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah (Gempa) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Alun-alun Pati, Jumat (8/9/2017).

Aksi mereka dilakukan terkait dengan isu etnis Rohingya di Myanmar. Berbagai spanduk yang berisi kecaman terhadap biksu dan foto-foto korban Rohingya dibentangkan.

Bahkan, massa membakar poster bergambar biksu. Mereka sempat menyerukan pembalasan kepada biksu yang dianggap melakukan pembantaian terhadap etnis Rohingya dengan poster bertuliskan ’Darah dibalas dengan darah’

Di tengah ketegangan aksi demonstrasi yang menggebu-gebu, polisi yang mengamankan massa justru menggelar aksi yang mengagetkan. Polisi mengumpulkan donasi untuk membantu etnis Rohingya.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, aksi donasi yang dilakukan polisi di tengah pengamanan massa tersebut untuk memberikan contoh bahwa aksi keprihatinan terhadap etnis Rohingya harus dilakukan dengan positif.

“Donasi kemanusiaan yang akan dikirim untuk umat Rohingya akan lebih bermanfaat ketimbang menghujat, mengutuk dan menebar kebencian. Itu alasannya polisi ikut berdonasi di tengah tugasnya mengamankan massa,” kata AKBP Maulana.

Sebelum membubarkan diri, massa menuntut polisi untuk mempertemukan dengan biksu. Mereka berteriak tidak akan bubar sebelum dipertemukan dengan biksu.

Massa dan petugas keamanan akhirnya terlibat aksi saling menunggu. Sebab, polisi tidak memenuhi tuntutannya untuk bertemu dengan biksu.

Editor: Supriyadi

10 Perwira Polres Pati Dirotasi, Ini Pejabat Baru yang Mengisinya

Kasat Sabhara Polres Pati yang baru, AKP Sugino berjabat tangan dengan Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak sepuluh perwira polisi mengikuti upacara serah terima jabatan di halaman Mapolres Pati, Rabu (23/8/2017).

Kasat Reskrim Polres Pati awalnya dijabat AKP Galih Wisnu Pradipta diganti oleh AKP Ari Sulistyawan yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat Resnarkoba Polres Temanggung. Sementara AKP Galih pindah ke Panit 1 Unit II Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah.

AKP Amlis Chaniago bertukar posisi dengan AKP Sugino. AKP Amlis saat ini menjabat sebagai Kapolsek Margoyosos, sedangkan AKP Sugino menjagi Kasat Sabhara Polres Pati.

Kapolsek Sukolilo yang baru dijabat oleh Iptu Supriyono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakapolsek Margorejo. Sementara Kapolsek Sukolilo yang lama, AKP Sholihul Hadi menjabat sebagai Kasubbag Dal Ops Bag Ops Polres Rembang.

Kapolsek Kayen yang lama AKP Sutoto dipindahkan sebagai Kapolsek Gabus, sedangkan Kapolsek Kayen yang baru dijabat AKP Sutopo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Gunungwungkal.

Sementara Kapolsek Gunungwungkal yang baru dijabat oleh AKP Sudarsono. “Ada satu yang pensiun, yaitu Bapak AKP Sudarsono yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Gabus,” ujar Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan.

Dia berharap, perwira yang mendapatkan jabatan baru bisa berkerja maksimal untuk masyarakat. Sebab, keberadaan polisi memang untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Editor: Supriyadi

Lihat Bentor dengan Kondisi Mengerikan, Begini Reaksi Polisi Pati

Sejumlah bentor yang disita petugas di Satlantas Polres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan becak motor (bentor) yang beroperasi di kawasan jalan utama Pati ditilang dan disita polisi. Hingga pertengahan Agustus 2017, sedikitnya ada 50 bentor yang diamankan di Satlantas Polres Pati.

“Operasi kami lakukan di jalan-jalan utama. Pedesaan belum kita jangkau. Kami akan lakukan secara bertahap, mungkin di pedesaan nanti bisa. Ini sesuai dengan perintah Ditlantas Polda Jawa Tengah,” kata Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Selasa (22/8/2017).

Untuk mengambil bentor yang disita petugas sebagai barang bukti, pemilik bentor harus melengkapi surat dan ketentuan teknis. Bukti kepemilikan yang sah seperti BPKB juga harus bisa ditunjukkan kepada petugas.

Selain itu, pemilik harus mengembalikan fungsi asal bentor. Setelah semua syarat dipenuhi dan melalui mekanisme sidang, pemilik bisa mengambilnya di Kantor Satlantas Polres Pati.

“Pengembalian fungsi bentor harus dilakukan di Satlantas, kemudian pemilik membuat surat pernyataan agar tidak dirakit kembali. Beberapa pemilik yang memenuhi syarat sudah ada yang mengambil,” tuturnya.

Dia berharap, penerapan aturan yang tegas sesuai dengan undang-undang membuat para pemilik sadar, karena bentor melanggar ketentuan tertib berlalu lintas. Selain berpotensi menyebabkan kecelakaan, bentor dinilai mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

Ia menambahkan, rata-rata bentor yang diamankan merupakan kendaraan tua dengan kondisi yang cukup mengerikan. Rem bentor juga banyak yang tidak layak jalan, sehingga membahayakan penumpang.

Editor : Ali Muntoha

TNI dan Polisi Bersihkan Kompleks Makam Keramat Nyai Ageng Ngerang Pati

Anggota TNI AD bersama polisi dan masyarakat kerja bakti membersihkan makam leluhur bangsawan Pati dan Mataram, Nyai Ageng Ngerang, Tambakromo, Pati, Rabu (23/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota TNI AD bersama polisi dan masyarakat kerja bakti membersihkan makam leluhur bangsawan Pati dan Mataram, Nyai Ageng Ngerang, Tambakromo, Pati, Rabu (23/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan prajurit TNI AD dari Koramil Tambakromo dan Kodim 0718/Pati bersama polisi dan masyarakat setempat membersihkan Kompleks Makam Nyai Ageng Ngerang, Dukuh Ngerang, Desa Tambakromo, Pati, Rabu (23/11/2016).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda “Minggu Militer” yang dicanangkan Kodim 0718/Pati. Mereka mencabuti rumput, membersihkan sampah, dan melakukan penataan agar kompleks makam yang disakralkan penduduk setempat tersebut bersih.

Makam yang diyakini menjadi leluhur bangsawan Pati dan Mataram (sekarang Kasultanan Surakarta dan Yogyakarta) tersebut memang selalu ramai diziarahi pengunjung. Karena itu, kegiatan Minggu Militer diharapkan membuat suasana kompleks makam menjadi bersih.

Di sektor ekonomi, keberadaan Makam Nyai Ageng Ngerang mendongkrak perekonomian penduduk setempat. Sebagian masyarakat memanfaatkannya dengan membuka warung di sekitar makam. Hal itu yang membuat agenda Minggu Militer diadakan di sana.

“Kerja bakti dilakukan diawali dengan apel. Setelah itu, kami mengadakan senam bersama. Kegiatan Minggu Militer dengan bersih-bersih kompleks makam Nyai Ageng Ngerang diharapkan bisa membantu masyarakat untuk membudayakan hidup sehat. Sebab, lingkungan yang bersih akan membuat hidup menjadi sehat. Terlebih, makam ini diziarahi banyak pengunjung dari berbagai daerah,” kata Komandan Koramil Tambakromo Kapten Inf Supomo.

Lebih dari itu, kerja bakti menjadi upaya anggota TNI AD untuk manunggal dengan rakyat. Tugas prajurit TNI AD saat ini tidak hanya berkutat pada wilayah pertahanan negara saja, tetapi juga banyak bidang. Tugas tersebut yang saat ini dibingkai dengan slogan kemanunggalan TNI dan rakyat.

Editor : Kholistiono

 

Polisi Jadi Ustadz Dadakan, Ceramah Soal Pendidikan Tertib Lalu Lintas di Pati

KBO Satlantas Polres Pati Iptu Syamsi menjadi ustadz dadakan dalam majelis pengajian perkumpulan haji se-Kecamatan Kayen. Dia menyosialisasikan materi tertib berlalu lintas di sana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

KBO Satlantas Polres Pati Iptu Syamsi menjadi ustadz dadakan dalam majelis pengajian perkumpulan haji se-Kecamatan Kayen. Dia menyosialisasikan materi tertib berlalu lintas di sana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tingginya angka kecelakaan yang terjadi di wilayah hukum Polres Pati, tidak lepas dari faktor minimnya tingkat kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas. Dari catatan tingkat kecelakaan kendaraan bermotor, Kabupaten Pati menempati peringkat lima besar se-Jawa Tengah sebagai daerah yang rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, jajaran Satlantas Polres Pati terus melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas. Salah satunya, kegiatan blusukan ke sejumlah lokasi, seperti pasar, terminal, sekolah, desa-desa bahkan ke pertemuan-pertemuan majelis pengajian.

Seperti yang dilakukan KBO Satlantas Polres Pati Iptu Syamsi. Dia menjadi “ustadz” dadakan, ceramah tentang pentingnya tertib belalu lintas. Bedanya dengan ustadz pada umumnya, Iptu Syamsi tidak memberikan tausiah keagamaan, tetapi memberikan materi pendidikan tertib berlalu lintas kepada para jemaah pengajian.

“Sosialisasi bisa dilakukan di mana saja, termasuk di acara majelis pengajian. Dengan memberikan pemahaman pentingnya tertib berlalu lintas, diharapkan bisa menekan angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Pati,” ujar Iptu Syamsi, Senin (24/10/2016).

Pada kesempatan itu, Iptu Syamsi juga mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dengan cara mematuhi peraturan lalu lintas dan menaati rambu-rambu saat berkendara di jalan raya. Pendidikan tertib berlalu lintas dinilai sangat mudah diterima dengan pendekatan persuasif.

Dengan begitu, pola pikir masyarakat akan berubah dan selalu menjadi pelopor keselamatan bagi dirinya sendiri dan orang lain saat di jalan raya. Dalam berkendara, warga juga diimbau untuk melengkapi kendaraanya dengan surat-surat kendaraan, seperti Surat Izin Pengemudi (SIM) dan Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK).

Kendati terlihat tidak sesuai dengan konteks kegiatan pengajian, tapi sosialisasi tertib berlalu lintas di majelis pengajian perkumpulan haji se-Kecamatan Kayen itu mendapatkan respons positif. Pasalnya, sosialisasi tersebut membuat mereka tahu akan pentingnya tertib berlalu lintas untuk keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Editor : Kholistiono

Razia Tengah Malam, Puluhan Pengendara Tak Berhelm Ditilang

Seorang pengendara sepeda motor ditilang polisi karena tidak membawa helm dan surat-surat berkendara. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pengendara sepeda motor ditilang polisi karena tidak membawa helm dan surat-surat berkendara. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Puluhan petugas gabungan dari jajaran kepolisian resort (Polres) Pati dan Kodim 0718 Pati menggelar razia kendaraan bermotor di Jalan Lingkar Conge, Juwana, Jumat (9/10/2015) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Akibat razia dadakan pada tengah malam tersebut, puluhan pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm ditilang. Mereka menganggap, malam hari tidak ada razia sehingga dengan tenangnya tidak mengenakan helm.

”Saya mau keluar mau beli makan. Saya kira tidak ada razia, soalnya malam hari. Lagipula jarak rumah saya dengan tujuan dekat. Tapi tetap saja ditilang, karena tidak bawa helm,” ujar salah seorang pengendara yang enggan disebut namanya kepada MuriaNewsCom.

Selain merazia pengendara yang tidak memiliki surat-surat lengkap, petugas juga memeriksa kendaraan yang diduga membawa narkoba, senjata tajam, senjata api, maupun bahan peledak.

”Razia tengah malam ini memang sengaja dilakukan untuk menekan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ternyata banyak pengendara yang tidak bawa helm pada malam hari. Padahal, itu membahayakan diri sendiri,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho.

Karena itu, ia mengimbau agar pengendara tertib dalam berkendara dengan mengenakan helm dan membawa surat-surat berkendara, meski malam hari. ”Meski malam hari, mestinya selalu pakai helm karena itu buat keamanan diri sendiri,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)