Jelang Penilaian Adipura, Pemkab Jepara Bersihkan PKL Membandel

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang penilaian Adipura (Penghargaan untuk kota yang mengelola kebersihan dan tata kota terbaik), Satpol PP Jepara menertibkan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL). Kegiatan itu dilakukan mulai Senin hingga Rabu (12-14/3/2018).

Penertiban menyasar lapak PKL yang berada di areal trotoar ataupun daerah larangan berjualan. Seperti di Jl Ki Mangunsarkoro, Trotoar Pasar Jepara Satu, Kompleks Shoping Centre Jepara, Taman Kerang dan di depan Makodim 0719.

Menurut Kabid Penegakan Perda Satpol PP Jepara Sutarno, penertiban tak hanya dilakukan di tingkat ibukota kabupapaten. Di wilayah-wilayah kecamatan, hal serupa juga dilaksanakan.

“Kalau di tingkat kecamatan dilakukan oleh mereka satuan di wilayah. Sementara kami menertibkan sekitar 50 lapak,” ucapnya,

Ia mengatakan, sebelum disita pedagang yang melanggar telah diberi peringatan sebelumnya. Namun saat operasi digelar, mereka tetap saja acuh dan tidak memindahkan lapaknya dari atas trotoar.

Hal itu juga sudah sesuai dengan arahan dari‎ Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Petugas diminta persuasif dalam melakukan penindakan.

“Akan tetapi karena sulit diatur maka akhirnya PKL tersebut akhirnya ditertibkan,” tuturnya.

Perlu diketahui, selama 13 tahun Pemkab Jepara telah mendapatkan piala adipura. Namun titel itu, bukanlah titel paripurna, yang diharapkan oleh pemerintah kabupaten.

Editor: Supriyadi

4 Hari Lagi, Kios dan Lapak Pedagang Barito Kudus akan Rata dengan Tanah

MuriaNewsCom, Kudus – Pedagang onderdil di bantaran Kali Gelis telah berpindah ke Pasar Burung Jati Senin (5/2/2018). Lalu apa yang akan dilakukan dengan bekas Pasar Barito?

Sofyan Duhri, Kabid PKL Dinas Perdagangan Kudus mengatakan, seluruh kios yang ada di bantaran tersebut akan dibersihkan. Setelahnya, pengelolaan (bantaran sungai) akan diambil alih oleh BBWS Provinsi Jateng sebagai yang berwenang.

“Nanti lapaknya harus dikosongi, kembali bersih tidak ada bangunan di situ. Nanti bila tak hujan akan kita bersihkan, temponya memerlukan waktu 3-4 hari,” kata Duhri, pekan ini.

Ia mengatakan, setelah dibersihkan kewenangan berada di tangan BBWS Provinsi Jateng. Saat ini, semua PKL yang ada di Pasar Barito sudah pindah ke Pasar Burung Jati.

Namun demikian, beberapa di antaranya masih ada yang tersisa di lokasi lama. “Yang masih ada di sana merupakan mereka yang mengontrak tempat di lahan milik warga. Nanti jika kontrak sudah habis mereka wajib pindah ke tempat yang baru,” katanya.

Menurut datanya, ada 190 pedagang yang telah disediakan tempat di Pasar Burung Jati. “Akan tetapi dengan tambahan mereka yang mengontrak kios-kios di pasar tersebut jumlahnya ada 222 orang. Mereka tetap kita akomodir,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Pedagang Barito Kudus Diberi Tenggat Waktu 5 Hari untuk Pindah

MuriaNewsCom, Kudus – Pedagang Pasar Bantaran Kali Gelis (Barito) Kudus, hari ini (Rabu, 31/1/2018) menerima kunci lapak yang baru dari Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus. Penyerahan dilakukan secara langsung di lokasi pasar yang baru di Pasar Burung Kecamatan Jati.

Kepada para pedagang, Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Sudiharti menitipkan pesan agar segera membereskan dagangan dan memindahkannya. Mereka diberi tenggat waktu selama lima hari terhitung tanggal 1 Februari 2018.

“Jika hingga tanggal 5 Februari 2018 masih ada pedagang di wilayah tersebut (Bantaran Kali Gelis), maka akan diambil tindakan oleh Satpol PP,” tegasnya.

Baca: Pedagang Barito di Bantaran Kaligelis Kudus Hanya Bisa Pasrah Kena Relokasi

Menurutnya, di lokasi tersebut terdapat 190 los yang telah disiapkan pemkab, untuk merelokasi pedagang dari Bantaran Kali Gelis ke Pasar Burung Jati. Adapun, di lokasi yang baru pemkab telah menyediakan lapak-lapak berukuran kurang lebih 1,85×2 meter, bersebelahan dengan para penjual burung.

Menurut Sudiharti, seluruh pedagang di Barito akan tertampung di lokasi yang baru. Hal itu mengingat jumlah los yang tersedia, melebihi pedagang.

Menurut Ketua Paguyuban PKL Pasar Barito Sebelah utara Ali Nor Faiz, pasar tersebut dibagi menjadi dua bagian. Sebelah utara dan selatan. Di utara Kali Gelis ada 116 pedagang dan di selatan ada 62 pedagang.

Baca: Melawat ke Pasar Barito Kudus untuk Kali Terakhir

“Kalau untuk hari ini, pedagang masih berjualan seperti biasa. Namun untuk besok, sudah mulai bersiap-siap pindah. Hari ini juga ada sih yang sudah mulai kemas-kemas. Namun kita mulainya besok sampai tanggal 5 Februari,” ungkap Ali.

Ia mengatakan, dengan tenggat waktu pindah yang diberikan Pemkab Kudus, pedagang dapat melaksanakannya. Dirinya memperkirakan, untuk pedagang onderdil berskala besar perpindahan hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari.

“Ya bisa lah nanti pindah kesini dengan waktu yang telah ditentukan,” urainya.

Editor: Supriyadi

Puluhan PKL Bakal Direlokasi ke Pusat Kuliner Purwodadi, Ini Bocorannya

MuriaNewsCom, GroboganPuluhan PKL yang ada di Jalan R Suprapto dan kawasan Simpanglima Purwodadi dijadwalkan bakal direlokasi ke lokasi baru, dalam waktu dekat. Yakni, di lahan bekas pasar pagi atau eks koplak dokar yang sekarang sudah dibangun jadi Pusat Kuliner Purwodadi.

“Lokasi Pusat Kuliner Purwodadi sudah layak dan bisa digunakan berdagang. Hanya, ada beberapa yang perlu dilengkapi, seperti pintu rollingdoor dan instalasi pengolahan air limbah. Kita rencanakan pada bulan Februari nanti bisa untuk relokasi PKL,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Karsono, Selasa (30/1/2018).

Untuk tahap awal, Pusat Kuliner Purwodadi tersebut hanya memiliki kios sebanyak 70 unit. Dengan kios sebanyak ini maka belum bisa menampung semua PKL di jalan R Soeprapto, Simpanglima, dan jalan Dr Soetomo yang jumlahnya mencapai 197 orang.

”Jadi untuk Pusat Kuliner nanti hanya bisa ditempati sebagian PKL. Sedangkan sisanya akan direlokasi ke Taman Hijau Kota Purwodadi,” jelasnya.

Ia menjelaskan, proyek pembangunan pusat kuliner dibiayai dengan dana APBD 2017 senilai Rp 4 miliar. Dana itu dialokasikan terlebih dahulu untuk membangun kios serta penataan lahan parkir agar bisa digunakan untuk relokasi. Sementara, untuk taman dan beberapa kelengkapan lainnya akan dikerjakan secara bertahap.

”Sesuai DED, keseluruhan proyek pembangunan Pusat Kuliner Purwodadi membutuhkan dana sekitar Rp 7 miliar. Namun, mengingat anggaran terbatas, pada tahap awal, anggaran yang disiapkan baru Rp 4 miliar,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Pedagang Barito di Bantaran Kaligelis Kudus Hanya Bisa Pasrah Kena Relokasi

Kabid PKL Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sofyan Dhuhri (tengah) saat memimpin sosialisasi relokasi PKL Barito, Rabu (27/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pedagang Pasar Barito di bantaran Sungai Kaligelis pasrah untuk direlokasi Pemkab. Mereka mengaku terpaksa menuruti kemauan pemerintah karena tak kuasa melawannya.

Seperti diungkapkan Rukin (57) pedagang barang bekas asal Desa Bakalan Krapyak, Kaliwungu. Dia mengatakan kalau sebenarnya agak keberatan jika harus direlokasi. Namun dia terpaksa menurutinya karena tak mungkin bertahan.

“Lapaknya mau dibongkar, kalau tak menurut bisa-bisa tak jualan lagi. Lagi pula ini mata pencaharian saya,” katanya kepada MuriaNewsCom usai sosialisasi relokasi pedagang Barito di aula Dinas Perdagangan, Rabu (27/12/2017).

Menurut dia, selama 15 tahun pihaknya sudah berjualan di Pasar Barito yang berada di bantaran Sungai Kaligelis. Dan selama ini sudah mendapatkan langganan tetap. Karena itu, ia khawatir langganan yang selama ini datang kepadanya akan hilang saat pindah ke tempat baru.

Hal senada juga diungkapkan pedagang Pasar Barito Suarso (54). Dia menuturkan kalau pihaknya sudah berjualan dilapak bantaran Kaligelis selama 4 tahun. Selama itu juga langganannya juga sudah banyak yang berdatangan.

“Mudah-mudahan kalau pindah juga laris seperti sebelum pindah,” harapnya

Dia mengungkapkan, secara lokasi dianggap kebih baik ketimbang yang lawas. Lokasi yang baru lebih bersih dan lebih aman. Namun, soal ramai tidaknya masih belum diketahui.

Editor: Supriyadi

Akhir Tahun, Ratusan PKL Barito Kaligelis Kudus Direlokasi ke Pasar Burung Jati

Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus mengadakan sosialisasi relokasi pedagang Pasar Barito Kaligelis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus berencana akan merelokasi ratusan pedagag di Pasar Barito Kaligelis. Rencananya, mereka akan direlokasi ke Pasar Burung, di Jati.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, jumlah PKL yang direlokasi ada 168 pedagang. Relokasi akan mulai dilaksanakan 30 Desember nanti, dengan nomor undian.

“Setelah nomor undian diambil, lapak yang baru bisa langsung dipergunakan pada 31 Desember bagi yang sudah siap. Bagi yang belum, kami memberikan waktu dua pekan untuk pindahan ke lokasi baru,” kata Sudiharti didampingi Kabid PKL Sofyan Dhuhri usai sosialisasi relokasi PKL Balangan, Rabu (27/12/2017).

Setelah dua pekan, kata dia, lapak lama di bantaran Kaligelis akan dibongkar paksa oleh Dinas Perdagangan. Untuk pemanfaatan bekas lapak, akan dikembalikan ke aset guna pengelolaan.

Sementara untuk luasan lapak di pasar burung memiliki ukuran 1,85 meter x 2 meter dan tinggi 2 meter. Dengan luasan itu, pedagang dirasa lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Ditambahkan, relokasi harus dilakukan untuk penataan para PKL Balangan atau Barito. Karena, selama ini pihaknya melihat kawasan bantaran sungai tidak diperbolehkan berjualan.

“Lokasi baru siap digunakan. Meski selama ini digunakan untuk Pasar Hewan, namun Pasar Hewan akan dipindah ke lokasi baru di Mejobo,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Tahun Depan, Gebyar PKL Kudus Bakal Dipindah ke GOR Bung Karno

Bupati Kudus Musthofa mengunjungi stan PKL dalam kegiatan Gebyar PKL 2017 lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus rencananya akan kembali menggelar Gebyar PKL di tahun 2018 mendatang. Hanya saja, konsepnya akan sedikit berbeda. Ini lantaran Gebyar PKL tak lagi di gelar di Alun-alun, melainkan di GOR Bung Karno.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus didampingi Kabid PKL Sofyan Dhuhri mengatakan, pada tahun depan kegiatan akan dipindah ke GOR lantaran mempertimbangkan cuaca. Kondisi yang sering hujan, membuat OPD mengalihkan lokasi.

“Kami khawatir, jika lokasinya sama akan terganggu cuaca. Jika hujan angin, maka pedagang yang akan dirugikan nanti,” katanya kepada awak media usai pembahasan Gebyar PKL, Rabu (20/12/2017).

Dialihkannya ke GOR, kata dia, juga melihat dari akses keramaian. Diyakini saat lokasinya di GOR, maka akan lebih ramai dan meriah. Apalagi, lokasi di GOR yang cukup luas juga mampu menampung lebih banyak pedagang.

“Kami juga akan menggelar pengajian umum saat Gebyar PKL nanti. GOR akan cukup untuk menampungnya karena sudah luas dan aman,” ujarnya

Dia mengatakan, Perayaan Gebyar PKL tahun mendatang belum ditentukan jadwalnya. Hanya, dia berharap bisa berlangsung sesuai hari PKL yang jatuh pada 5 Januari. Namun semuanya dikembalikan pada persiapaanya.

Disinggung soal jumlah PKL yang bakal dilibatkan mencapai tiga ribuan PKL se Kudus. Nantinya para PKL akan ditata dikawasan GOR hingga kawasan balai jagong di belakang Gor.

Soal biaya penyelenggaraan, dia menyebutkan menganggarkan sekitar Rp 40 jutaan. Jumlah tersebut akan digunakan dalam pelaksanaa Gebyar PKL mendatang selama sehari penuh.

Editor: Supriyadi

Pedagang di Pasar Juwana Kembali Ditertibkan Satpol PP

Petugas Satpol PP tengah menertibkan pedagang di Pasar Juwana yang berjualan di trotoar. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pedagang yang berjualan di sisi timur Pasar Juwana Baru ditertibkan petugas Satpol PP Pati, Selasa (5/12/2017).

Mereka ditertibkan lantaran berjualan di atas trotoar yang semestinya digunakan pejalan kaki. Mereka diminta untuk mundur dari trotoar, sehingga tidak menyebabkan kemacetan jalan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP Pati Riyoso mengatakan, penertiban kali ini tidak menggusur pedagang yang berjualan di trotoar. Namun, mereka diminta untuk mundur dari trotoar yang mengganggu pejalan kaki.

“Keberadaan pedagang meluber sampai ke badan jalan, sehingga kerap mengganggu arus lalu lintas seperti angkutan. Saat angkutan menumpuk di area itu, warga kerap komplain karena macet,” ucap Riyoso.

Tidak ada perlawanan dalam penertiban tersebut. Mereka justru diakui kooperatif karena sebelumnya sudah dilakukan sosialisasi.

Terkait dengan keluhan pengunjung yang senang belanja di pinggiran jalan, Riyoso berjanji akan melakukan revitalisasi pasar. Dengan begitu, akses pengunjung ke penjual tidak mengganggu arus lalu lintas.

Riyoso yang juga Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati sedang mempertimbangkan pembangunan area parkir strategis. Tujuannya, area parkir yang akan dibangun mempertimbangkan aspek kemudahan penjual dan pengunjung.

Editor: Supriyadi

Satpol PP Bongkar Paksa Lapak PKL di Pasar Juwana Baru

Suasana eksekusi lapak PKL yang beroperasi di bahu jalan kawasan Pasar Juwana Baru, Kamis (23/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati bersama instansi terkait membongkar paksa lapak pedagang kaki lima (PKL) yang beroperasi di bahu jalan kawasan Pasar Juwana Baru, Kamis (23/11/2017).

Lapak mereka dibongkar, setelah diberikan surat pemberitahuan. Eksekusi berjalan lancar dan tidak ada perlawanan dari para PKL yang beroperasi di bahu jalan.

“Eksekusi dilakukan karena mereka masih tidak mau pindah ke dalam pasar. Seandainya mereka mengerahkan preman untuk menghadapi petugas, itu tidak mutu lagi. Sebab, aparat menjalankan tugas negara,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP Pati Riyoso.

Dia menjelaskan, aparat dalam menjalankan tugasnya dilindungi undang-undang. Sebelum eksekusi, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan.

“Selain menertibkan para pedagang yang membandel, kami juga menertibka parkir yang melebihi batas semestinya. Parkir sepeda motor harus dua lajur, sehingga tidak menimbulkan kemacetan,” tuturnya.

Selama ini, keberadaan PKL di bahu jalan kawasan Pasar Juwana Baru dikeluhkan masyarakat lantaran menyebabkan kemacetan. Teguran hingga peringatan sudah beberapa kali dilakukan.

Namun, mereka kerap membandel dengan beroperasi kembali setelah penertiban dilakukan. Karena itu, aparat akhirnya menggunakan kewenangannya untuk membongkar paksa lapak mereka.

Editor: Supriyadi

Bikin Macet, PKL di Pasar Juwana Ditertibkan

Petugas gabungan tengah melakukan penertiban PKL yang berjualan di ruas jalan Pasar Juwana, Selasa (21/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pedagang kaki lima (PKL) yang biasa mangkal di Pasar Juwana, Jalan Ki Hajar Dewantoro dan Jalan Komodo ditertibkan petugas gabungan, Selasa (21/11/2017).

Keberadaan PKL kerap dikeluhkan masyarakat, lantaran menimbulkan kemacetan, terutama pada pagi hari. Pasalnya, kawasan tersebut sering dilalui pengendara, baik pekerja maupun anak sekolah.

Petugas gabungan yang menertibkan PKL terdiri dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin), Dinas Perhubungan, dan Satpol PP.

”Penertiban PKL sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi Pasar Baru Juwana yang baik dan tidak ada PKL yang berjualan di sepanjang ruas jalan yang mengakibatkan kemacetan parah setiap pagi,” ujar Kepala Disdagperin Pati Riyoso.

Dinas Pasar sendiri sebetulnya sudah ada tim bersih yang salah satu tugasnya melakukan penertiban PKL yang tidak menaati aturan. Namun, mereka sering membandel dengan beroperasi kembali setelah dua hingga tiga hari pascapenertiban.

Hal itu dibenarkan camat Juwana Teguh Widyatmoko. Pemerintah kecamatan bersama polsek dan koramil setempat sudah beberapa kali melakukan patroli, tapi mereka terus membandel.

”Aturan hanya dijalankan saat ada petugas. Kami berharap agar dinas bisa mencarikan lahan baru untuk penempatan parkir dan PKL, sehingga trotoar dan ruas jalan bersih dari PKL,” harap Teguh.

Sementara itu, Kepala Pasar Baru Juwana Budi Hartono menjelaskan, pihaknya sudah memberikan surat peringatan agar PKL tidak boleh menempati trotoar pada 23 November 2017. Untuk parkir, dia akan mencari solusi dengan melibatkan pemuda desa.

Rencananya, petugas gabungan akan kembali melakukan penertiban menggunakan alat berat pada Kamis (23/11/2017) mendatang. PKL diharapkan bisa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah.

Editor: Supriyadi

Cegah Pedagang Jualan di Tempat Lama, Anggota Satpol PP Grobogan Siaga di Jalan Banyuono

Anggota Satpol PP bersiaga di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi untuk mencegah pedagang Pasar Pagi berjualan di lokasi lama. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya mencegah kembalinya puluhan pedagang pasar pagi Purwodadi yang berjualan di tempat lama di jalan Banyuono mulai dilakukan anggota Satpol PP. Caranya, dengan menghimbau para pedagang yang sudah berjualan untuk mengemasi barang dagangan dan menghalau pedagang yang akan masuk ke ruas jalan tersebut.

”Ada puluhan anggota yang kita kerahkan untuk melakukan penertiban di sepanjang jalan Banyuono. Pada lokasi ini sudah tidak boleh lagi digunakan untuk berjualan. Kalau mau jualan, silahkan dilokasi baru yang sudah dibuatkan Pemkab Grobogan di jalan Gajah Mada,” kata Kepala Satpol PP Grobogan Bambang Panji Asmoro Bangun, Senin (6/11/2017).

Sebelum direlokasi, disepanjang jalan Banyuono tersebut ditempati sekitar 400 pedagang. Kemudian, sekitar 500 pedagang lagi berjualan di bekas lahan milik PT KAI yang sekarang sedang dibangun untuk pusat kuliner.

”Setelah ini, kami akan terus memantau supaya pedagang tidak lagi kembali jualan di lokasi lama. Anggota akan kita siagakan terus di lokasi dari Subuh sampai siang untuk memastikan tidak ada pedagang yang jualan lagi,” tegas mantan Camat Brati itu.

Tindakan penertiban yang dilakukan Satpol PP itu terkait dengan masukan yang disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni. Tepatnya saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni meminta Satpol PP segera melakukan tindakan untuk menertibkan keberadaan pedagang yang berjualan lagi di Pasar Pagi lama. Yakni, di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi karena jumlah pedagang yang berjualan ada puluhan.

”Harusnya, disepanjang jalan Banyuono sudah tidak ada lagi pedagang yang jualan. Soalnya, sudah kita bangunkan pasar baru di jalan Gajah Mada. Sebelumnya, para pedagang sudah direlokasi kesana,” tegasnya saat itu.

Editor: Supriyadi

Bupati Grobogan Minta Satpol PP Tertibkan Pedagang Bandel di Pasar Pagi Lama

Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta Satpol PP segera menyikapi maraknya pedagang di pasar pargi lama saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta Satpol PP segera melakukan tindakan untuk menertibkan keberadaan pedagang yang berjualan lagi di Pasar Pagi lama. Yakni, di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017).

Menurutnya, beberapa hari lalu sempat melintas di jalan Banyuono selepas subuh. Saat lewat dijalan itu, Sri merasa kaget karena ada puluhan pedagang yang sudah berjualan dipinggiran jalan.

”Harusnya, disepanjang jalan Banyuono sudah tidak ada lagi pedagang yang jualan. Soalnya, sudah kita bangunkan pasar baru di jalan Gajah Mada. Sebelumnya, para pedagang sudah direlokasi kesana,” tegasnya.

Terkait kondisi itu, Sri meminta pihak Satpol PP supaya melakukan upaya penertiban. Semua pedagang harus diarahkan agar berjualan di pasar baru.

Sebelum direlokasi, disepanjang jalan Banyuono tersebut ditempati sekitar 400 pedagang. Kemudian, sekitar 500 pedagang lagi berjualan di bekas kawasan pada lahan milik PT KAI yang sekarang sedang dibangun untuk pusat kuliner.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Grobogan Bambang Asmoro Bangun akan segera merespon perintah bupati. Mulai Minggu besok, anggotanya akan diminta mendekati para pedagang agar tidak berjualan ke lokasi lama. Soalnya, di sepanjang ruas jalan Banyuono ini sudah tidak boleh lagi digunakan untuk berjualan.

”Sudah kita koordinasikan upaya untuk menertibkan para pedagang yang jualan lagi di jalan Banyuono. Pedagang akan kita upayakan agar berjualan di tempat baru,” jelasnya. 

Editor: Supriyadi

Woro-woro, Empat Ruas Jalan di Jepara Ini ’Haram’ Ditempati PKL 

Ruas Jl Kartini Jepara yang nantinya terlarang bagi PKL, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Empat ruas jalan protokol di Kota Jepara akan menjadi tempat terlarang  bagi pedagang kaki lima (PKL). Masing-masing jalan itu adalah Jl Pemuda, Jl R.A. Kartini, Jl Ahmad Yani dan Jl Soekarno-Hatta. 

Anwar Sadat Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Jepara mengatakan, ruas-ruas tersebut disterilkan bagi pedagang mulai pagi hingga malam hari. “Ruas jalan itu merupakan kawasan tertib dan terkendali yang harus steril dari PKL baik pagi, siang dan malam hari,” katanya, Jumat (15/9/2017). 

Ia menyatakan hal itu berdasar pada peraturan daerah Jepara nomor 20/2012 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3).

Selain itu adapula Perbup Jepara no 163/2010 tentang lokasi perdagangan untuk PKL, dan adalah Pergub Jawa Tengah nomor 300/3 tahun 2016 tentang Kawasan Tertib di Jateng Tahap II, serta Perbup nomor 300/312 tahun 2016 tentang penetapan kawasan tertib di Jepara.  

Selain empat ruas jalan tersebut, PKL juga dilarang berjualan di depan kantor pelayanan publik dan dalam area taman kota serta jembatan. Solusinya, pemkab mengizinkan pedagang kecil berjualan sesuai zona yang telah ditentukan. 

Di antaranya, Jl Yos Sudarso, Jl Sosrokartono, Jl MH Thamrin, depan Stadion Kamal Junaidi, Depan Rusunawa, sekitar Taman Kepiting dan Pujasera Ngabul. 

“Boleh berjualan ditempat yang telah ditentukan, namun secara terkendali. Artinya PKL boleh menggelar dagangannya mulai pukul 14.00 sampai 06.00. Setelah berdagang, mereka harus membereskan lapak yang ada seperti sediakala,” tutup Anwar. 

Editor: Supriyadi

PKL CFD Kudus Halal Bihalal dengan Bupati  

Bupati Kudus Musthofa saat menyampaikan sambutannya di hadapan PKL di pendapa pemkab setempat. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Para PKL Car Free Day (CFD) Kudus mendapatkan kesempatan bertemu dengan Bupati Kudus Musthofa di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (21/7/2017) sore.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir bersama forkopinda dan pejabat pemkab ini mengatakan bahwa para PKL dan para pedagang CFD sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan. Mereka merupakan bentuk kemandirian ekonomi pedagang. “Secara pribadi bersama seluruh pejabat saya mengucapkan maaf atas semua kesalahan. Termasuk dalam melayani seluruh masyarakat,” katanya.

Bupati menambahkan bahwa dirinya berpesan pada seluruh pedagang agar tetap menjaga kebersihan dan ketertiban kota Kudus. Karena pemkab sudah menata kota dengan berbagai taman yang cantik. “Kutitipkan kebersihan kota pada Bapak dan ibu semua. Jangan sampai Kudus menjadi kota sampah,” pesannya.

Di akhir sambutan, Bupati meminta semua pedagang tetap menjaga kekompakan. Tidak mengedepankan ego untuk menang sendiri. Bahkan kalau perlu dibentuk kelompok per area.

Menjawab mengenai tambahan jam CFD, Bupati melalui Dinas Perhubungan menyetujui tambahan satu jam. Namun sebelum batas waktu berakhir, pedagang sudah mengemasi seluruh dagangan.

Ketua paguyuban pedagang CFD Nono Ani Sulastri mengatakan bahwa bupati ini adalah sosok yang peduli pada pedagang termasuk pedagang di CFD. Karena itulah tidak salah apabila disebut sebagai Bapaknya pedagang. “Terima kasih, Pak Musthofa. Atas kesempatan yang diberikan pada kami bisa berjualan di CFD Kudus ini,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Satpol PP Jepara Sita Lapak PKL 

Hasil sitaan Satpol PP dari lapak PKL yang membandel di empat kecamatan yakni Kalinyamatan, Welahan, Ngabul dan Mayong, Selasa (11/7/2017).(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto) 

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jepara menyita lapak pedagang kaki lima (PKL) di empat kecamatan. Hal itu lantaran, pedagang dinilai membandel karena nekat berjualan di atas trotoar. 

Kepala Seksi Penegakan Perda Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Anwar Sadat memaparkan, penyitaan dilakukan pada saat giat patroli rutin. Lapak-lapak pedagang yang disita sebelumnya telah diberi surat peringatan hingga tiga kali.

“Meskipun sudah diberikan surat peringatan sebanyak tiga kali, namun mereka masih membandel. Tetap nekat berjualan di atas trotoar. Adapun lokasi penertiban berada di depan Kecamatan Kalinyamatan, area Pasar Mayong, Welahan dan Ngabul,” tuturnya seusai operasi, Selasa (11/7/2017). 

Pada saat penertiban, bahkan petugas menemukan sebuah lapak yang sudah permanen. Sehingga petugas kesulitan saat akan membongkarnya. Menggunakan sebuah truk, Satpol PP Jepara hanya dapat mengangkut sebagian lapak pedangang. Beberapa barang yang berukuran besar seperti gerobak dan sebagainya terpaksa ditinggalkan.

Menurutnya tidak ada perlawanan dari PKL. Hal itu karena, sebagian di antaranya baru menggelar dagangan waktu malam. Ia memaparkan, pihak pemkab sebenarnya telah memberikan toleransi kepada pedagang kaki lima untuk dapat berjualan pada malam hari dengan syarat, lapak harus disingkirkan di siang hari. 

“Mereka melanggar Perda 20/2012 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan. Barang yang kami sita bisa diambil lagi dengan jarak waktu satu minggu,” tambahnya. 

Editor : Kholistiono

Jelang Ramadan, PKL di Jalan Penjawi Pati Bakal Ditertibkan

Salah satu pedagang makanan yang berada di kawasan Jalan Penjawi Pati. Rencananya PKL yang berada di kawasan Jalan Penjawi akan ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Penjawi Pati rencananya akan ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati, menjelang Ramadan yang kurang sebulan lagi. Hal itu ditegaskan Kasatpol PP Pati Rubiono, Sabtu (29/4/2017).

Penataan PKL menjelang Ramadan dilakukan, mengingat banyaknya PKL yang berjualan di sebelah kanan Jalan Penjawi. Hal itu dinilai mengganggu pengguna jalan. Selain itu, penertiban diharapkan agar pengunjung nyaman dan tata letak kota tetap indah.

“Akibat PKL yang tidak tertib, beberapa kali ada kecelakaan. Hal itu disebabkan sempitnya jalan akibat PKL banyak yang tidak tertib dan tidak memperhatikan faktor ketertiban jalan sebagai fasilitas umum,” kata Rubiono.

Dalam penataannya, pihaknya mengaku sudah melayangkan peringatan kepada PKL yang beroperasi di jalan sepanjang satu kilometer itu agar tidak berada di timur jalan. Mereka diberi batas waktu hingga 17 April 2017 lalu.

Karenanya, bila peringatan itu tidak diperhatikan, pihaknya akan melakukan langkah penertiban. Terlebih, jelang Ramadan biasanya orang banyak yang berburu takjil sehingga bisa berpotensi mengakibatkan macet, mengganggu kenyamanan dan rawan kecelakaan.

Dia berharap, kawasan Jalan Penjawi bisa menjadi pusat kuliner masyarakat yang mengutamakan ketertiban dan kenyamanan bersama. Satpol PP juga memaklumi para PKL mencari nafkah untuk kebutuhan hidup. Namun, ia menegaskan, jangan sampai PKL melanggar aturan dan mengganggu ketertiban jalan.

Editor : Kholistiono

PKL Alun-alun Purwodadi akan Menempati Lokasi Jualan Baru

Perwakilan dari BRI Cabang Purwodadi Siswati menyerahkan bantuan banner pada Ketua Paguyuban PKL alun-alun Purwodadi Nur Wakhid. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perwakilan dari BRI Cabang Purwodadi Siswati menyerahkan bantuan banner pada Ketua Paguyuban PKL alun-alun Purwodadi Nur Wakhid. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepastian kapan PKL alun-alun Purwodadi direlokasi ke tempat baru akhirnya mendapat kepastian. Berdasarkan keterangan Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Grobogan Adi Sucipto, proses relokasi akan dilangsungkan Sabtu, (11/2/2017).

“Jadwal relokasi sudah disepakati Sabtu malam atau malam Minggu nanti. Saat ini, kita masih melakukan serangkaian persiapan untuk menempati tempat jualan baru di sisi timur alun-alun,” ungkap pria yang lebih dikenal dengan nama Yanto Bakso itu, usai acara pembagian banner papan nama dan kaos bagi pedagang di gedung Riptaloka, Senin (6/2/2017).

Menurut Yanto, acara pindahan akan dikemas secara sederhana. Selain syukuran dan potong tumpeng, ada hiburan keroncong yang akan digelar dalam acara pindahan.

“Acara pindahannya sederhana saja. Syukuran dan nanggap keroncong,” jelasnya.

Yanto menjelaskan, proses relokasi bisa dijadwalkan menyusul sudah selesainya pembagian jatah tempat jualan bagi para pedagang sebanyak 56 orang. Proses pembagian tidak dilakukan dengan cara undian tetapi dibagi sesuai jenis dagangan biar terlihat lebih rapi dan menarik.

“Untuk pembagian tempat diserahkan pada paguyuban dan sudah disepakati bersama. Hasilnya juga sudah kita laporkan pada dinas terkait,” katanya.

Sementara itu, supaya papan nama tempat jualan bisa seragam, para pedagang mendapat bantuan banner dan kaos dari pihak perbankan. Yakni, dari BRI dan BKK Purwodadi.

Banner dari BRI akan ditempatkan di sisi timur dan sumbangan BKK dipasang di tempat jualan sisi barat. Penyerahan bantuan dari BKK diserahkan langsung Direkturnya Kusnanto. Sedangkan dari BRI diserahkan Siswati.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Bambang Panji yang hadir dalam kesempatan itu sempat menyampaikan sedikit arahan pada para PKL. Antara lain, para PKL diminta ikut membantu menjaga ketertiban, keamanan dan kebersihan.

“Selain itu, para PKL harus mematuhi jam tayang yang sudah ditentukan. Satu hal lagi, semua peralatan jualan harus dibawa pulang setelah selesai berdagang,” kata Bambang seperti disampaikan Kasi Binwaslu Agus Sumarsono.

Editor : Akrom Hazami

 

Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi Wadul Listrik dan PDAM

 

Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi saat menggelar audensi dengan Komisi B DPRD Grobogan dan pihak Disperindag, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi saat menggelar audensi dengan Komisi B DPRD Grobogan dan pihak Disperindag, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua persoalan utama disampaikan Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi saat menggelar audensi dengan Komisi B DPRD Grobogan, Selasa (17/1/2017). Yakni, soal pasokan listri dan aliran air PDAM ke tenda PKL yang belum tersambung sampai saat ini.

“Soal listrik dan PDAM ini jadi kendala karena setelah kita cek lokasi belum terpasang. Kami berharap agar bisa dibantu mengatasi masalah ini,” kata Ketua Asosisasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Grobogan Adi Sucipto alias Yanto Bakso yang jadi juru bicara pada PKL alun-alun dalam audensi tersebut.

Acara audensi juga dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Muryanto serta Ketua Paguyuban PKL alun-alun Purwodadi Nur Wakhid dan beberapa anggotanya. Audensi dipimpin langsung Ketua Komisi B Budi Susilo.

Yanto menyatakan, pihak paguyuban sebenarnya sudah punya Pal dan meter listrik sendiri di sebelah barat alun-alun. Dengan dipindahnya tempat jualan maka jarak Pal listrik yang sudah ada cukup jauh dari lokasi baru.

“Yang kami ingin tanyakan, apakah dalam pembangunan tempat jualan baru itu sudah satu paket dengan pemasangan listrik dan PDAM apa tidak. Soalnya, di lokasi baru sudah ada instalasi listrik dan kran airnya,” jelas Yanto.

Jika tidak ada paket pemasangan listrik maka solusinya adalah memindahkan Pal milik paguyuban ke sisi timur supaya dekat dengan lokasi baru. Namun, upaya ini baru akan dilakukan setelah ada kejelasan.

“Kalau masalah air, dulu para pedagang bawa sendiri-sendiri. Tetapi di lokasi jualan baru sudah ada instalasi air dan krannya sudah terpasang. Kami ingin kejelasan soal listrik dan PDAM ini sebelum pindah kesana,” imbuhnya.

Kepala Disperindag Muryanto menyatakan tidak tahu masalah listrik dan sambungan PDAM. Sebab, proyek revitalisasi alun-alun bukan menjadi kewenangannya. Tetapi dilakukan oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan yang sekarang berubah nama jadi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman.

“Nanti masalah ini akan kita koordinasikan dengan dinas yang menangani masalah revitalisasi alun-alun. Kewenangan kami hanya masalah PKL nya,” katanya.

Menurutnya, soal lainnya yang disampaikan, seperti penataan tempat diserahkan pada pihak paguyuban, pihaknya menyatakan tidak ada masalah. Yakni, tidak akan dilakukan dengan model undian.

“Kita akan mendampingi saat pembagian tempat dan nanti biar diatur oleh paguyuban. Jika diundi maka dalam satu deret maka kemungkinan akan campur jenis jualannya. Ada kuliner serta minuman dalam satu deretan dan ini akan sedikit mengurangi estetika,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi B Budi Susilo berjanji akan segera menindaklanjuti masalah lsitrik dan sambungan PDAM yang dipertanyakan para PKL.

“Secepatnya akan kita koordinasikan dengan dinas terkait. Dalam satu atau dua hari mendatang akan kita beri kepastian,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Budi juga meminta agar tenda sebanyak 56 unit semuanya diserahkan untuk PKL. Sebelumnya, hanya ada 54 PKL yang terakomodir. Namun, setelah dilakukan penelusuran lagi, jumlah PKL nya ternyata masih ada 56.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Pantau Aktivitas PKL di Area GOR

Bupati Kudus Musthofa saat berkomunikasi dengan PKL di area GOR setempat, Jumat (13/1/2017). (ISTIMEWA)

Bupati Kudus Musthofa saat berkomunikasi dengan PKL di area GOR setempat, Jumat (13/1/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa memperingatkan para pedagang kaki lima (PKL) di GOR, Jumat (13/1/2017). Di antaranya agar tertib menjaga kebersihan.

”Setiap pagi kalau saya jogging di sini, tidak ingin lagi melihat adanya sampah di tempat ini. Semua harus dibersihkan setiap kali selesai jualan,” kata Musthofa.

Menurut pembina Forum UMKM Jawa Tengah ini meminta agar dibentuk sebuah paguyuban. Yang diketuai dari salah satu anggotanya sendiri. Sehingga akan mudah dalam koordinasi dan penataan lebih lanjut termasuk dalam mematuhi aturan yang ada.

Dirinya mengimbau para pedagang bisa memberikan pelayanan yang baik. Termasuk adanya standar harga yang wajar dan tidak memanfaatkan momen dengan menaikkan harga sesukanya. ”Berikan senyum dan keramahan. Tunjukkan bahwa Kudus ini nyaman bagi siapa saja,” pesan bupati yang juga sebagai dewan pertimbangan pedagang pasar se-Jawa Tengah ini.

Editor : Akrom Hazami

Atap Tenda PKL Alun-alun Purwodadi yang Jebol Diterjang Angin Akhirnya Diperbaiki

atap-teda-2

Pekerja melakukan perbaikan atap tenda PKL di Alun-alun Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Atap tenda PKL Alun-alun Purwodadi, Kabupaten Grobogan, yang sebelumnya jebol akhirnya mulai ditangani. Beberapa bagian atas tenda yang sempat terlihat berlubang sudah tertutup semuanya.

Dari pantauan di lapangan, ada dua pekerja yang menangani kerusakan atap yang terbuat dari bahan membrane tersebut. Selain mengatasi atap yang jebol, pekerja juga tampak mengencangkan baut di ujung tenda.

“Atap yang robek sudah kita perbaiki. Atap lain yang terlihat kendor juga sudah kita kencangkan,” kata salah seorang pekerja yang berada di atap tempat jualan PKL itu, Sabtu (7/1/2017).

Seperti diberitakan, beberapa atap tenda PKL sempat robek saat ada angin kencang, Rabu (3/1/2017) lalu. Angin kencang yang datang tiba-tiba itu melanda sekitar kawasan alun-alun saat cuaca cerah.

Selain tenda yang jebol, hembusan angin kencang juga menyebabkan pagar pengaman sekeliling alun-alun kocar-kacir. Robohnya pagar pengaman dari seng setinggi dua meter itu bahkan sempat menimpa kendaraan yang tengah melintas. Saat ini, pagar pengaman yang sebelumnya roboh juga sudah dirapikan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman yang sebelumnya bernama Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan M Chanief ketika menyatakan, meski proyek sudah rampung namun pihak rekanan masih punya tanggung jawab pemeliharaan pekerjaan.

Masa pemeliharaannya selama enam bulan kedepan. Dalam masa pemeliharaan ini, kalau terjadi kerusakan masih jadi tanggung jawab pihak rekanan. “Kalau ada kerusakan dari proyek masih jadi tanggungan rekanan. Masa pemeliharaannya enam bulan,” katanya.

Menurut Chanif, proyek revitalisasi alun-alun terhitung akhir Desember 2016 sudah rampung 100 persen. Meski begitu, pihak rekanan tetap terkena denda akibat keterlambatan menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditentukan.

“Sesuai kontrak proyek harus selesai 22 Desember. Tetapi karena pada batas waktu yang ditentukan belum selesai maka pihak rekanan terkena denda. Nilai denda sekitar Rp 10 juta per hari,” katanya.

Soal masih dipasangnya pagar pengaman, terang Chanif, hal itu dilakukan karena beton untuk beberapa kantong parkir belum kering. Oleh sebab itu, pagar sekeliling tetap dipasang sampai umur beton memenuhi persyaratan. “Jadi pagar pengaman masih akan terpasang sekitar 20 hari, sampai beton kantong parkir kering. Sebelum akhir bulan Januari, pagar pengaman kita targetkan sudah dibuka,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Kamis, Ada Kirab PKL, Perhatikan Jalur yang Dipakai Jika Tidak Ingin Terjebak Kemacetan

Bupati Kudus H Musthofa bakal dinobatkan sebagai Bapak PKL oleh pedagang dari seluruh Jawa Tengah, dalam acara Gebyar PKL 2017, 4-5 Januari 2017.(MuriaNewsCom)

Bupati Kudus H Musthofa bakal dinobatkan sebagai Bapak PKL oleh pedagang dari seluruh Jawa Tengah, dalam acara Gebyar PKL 2017, 4-5 Januari 2017.(MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Even ”Gebyar PKL 2017” yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Perdagangan Kudus, bakal menampilkan berbagai acara yang spesial, selama dua hari penyelenggaraan. Yakni 4-5 Januari 2017.

Pada pembukaan kegiatan yang digelar Rabu (4/1/2017) ini, akan ada ”Kirab Parade Tumpeng 2017”, yang akan dilaksanakan oleh para pedagang kaki lima (PKL). Ini adalah prosesi mengawali selametan dalam rangka HUT ke-4 PKL Kudus. Waktu pelaksanaan Kirab PKL diganti Kamis (5/1/2016), pukul 13.00 WIB.  

Dan bagi Anda yang akan melalui jalur-jalur di Kabupaten Kudus, perhatikan benar jalur yang akan dipakai kirab. Start kirab ini adalah dari Gedung DPRD Kudus atau di Jalan Jenderal Ahmad Yani, kemudian menuju ke Jalan dr Loekmonohadi, hingga sampai ke kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Peserta kirab akan diterima langsung Bupati Kudus H Musthofa di pendapa, untuk selanjutnya digelar acara selamatan atau syukuran bersama. Di sinilah juga akan digelar acara penobatan Bupati Kudus h Musthofa sebagai Bapak PKL Jawa Tengah, oleh perwakilan asosiasi PKL Jawa Tengah.

Jalur yang dilalui peserta kirab, akan semakin padat. Sehingga pengendara atau pengguna jalan, diharapkan bisa memilih jalur alternatif lainnya, yang sudah disiapkan petugas. Nantinya, akan ada petugas dari Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian yang mengarahkan hal tersebut.

Pasalnya, peserta kirab akan terdiri dari barongsai, aksi teatrikal, musik perkusi, deretan parade tumpeng, dan yang lebih memenuhi jalan adalah parade gerobak PKL. Gerobak ini akan dibawa dari lokasi start ke finish di alun-alun.

”Kirab PKL ini adalah bagian dari Gebya PKL 2017. Ini memang salah satu kado dari PKL yang ada di Kudus, untuk Bapak Bupati Kudus H Musthofa yang sudah memberikan ruang seluas-luasnya bagi mereka, untuk mencari nafkah. Sehingga memang perlu disyukuri bersama,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti.

Setelah kirab, acara akan dilanjutkan dengan mengumpulkan ribuan PKL di Kudus, untuk menjajakan jajanannya di sepanjang Jalan dr Loekmono Hadi hingga ke kawasan alun-alun. Ditambah lagi dengan Jalan Sunan Kudus, yang juga menjadi lokasi Gebyar PKL 2017 ini.

Editor: Merie

“Ini Bukan Hari Baik untuk Bongkar Lapak PKL”

Salah seorang PKL, Wawan, saat berada di lokasi pembongkaran lapak di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah seorang PKL, Wawan, saat berada di lokasi pembongkaran lapak di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Wawan Setiawan (50), seorang PKL di Kudus ini menolak lapaknya dibongkar Satpol PP secara paksa.

Dia meminta waktu untuk membongkar lapaknya sendiri. Hal itu, dilakukan lantaran dirinya mencari hari yang baik menurut perhitungannya.

“Saya ini orang Jawa, jadi harus cari hari baik serta hitungan yang baik pula. Tidak bisa sembarangan, kalau tidak laku, gara-gara hari pindah jelek, gimana,” tanyanya saat lapaknya hendak dibongkar Satpol PP.

Dia yang telah lama membuka lapak di jalan R Agil Kusumadya bersedia pindah meskipun terpaksa. Itu dilakukan karena telah ada tempat baru yang disediakan.

Tempat baru yang dimaksud, adalah sama di jalan R Agil. “Sebenarnya kalau keberatan ya keberatan, sebab sudah 27 tahun di sini. Tapi bagaimana lagi, maksimal seminggu harus sudah pindah ini,” ungkapnya.

M Sunaryo, pedagang warung juga mengungkapkan kekesalannya. Namun lantaran sudah menjadi kebijakan pemerintah, dia hanya bisa menerima.

“Lokasi baru kecil, hanya sekitar tiga meter. Padahal saya jualan makanan. Tapi bagaimana lagi, tidak bisa apa-apa,” keluhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Keberadaan PKL Baru yang Seperti Ini Banyak Dikeluhkan

f-pkl (e)

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di Kudus kini terus bertambah jumlahnya. Hal itu berpotensi memunculkan perselisihan antarpedagang. Sebab, ada beberapa lapak PKL lama justru ditempati pedagang yang baru.Bahkan, keluhan tentang keberadaan PKL baru tersebut mulai bermunculan kepada dinas terkait.

Menyikapi hal itu, Plt Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kudus Sudiharti mengatakan, bahwa para PKL juga memiliki tanggung jawab untuk menegur kepada pedagang yang baru, jika dirasa mengganggu.

“Jangan hanya protes saja,mereka juga memiliki wewenang untuk melarang bagi PKL baru untuk berjualan kalau memang mengganggu. Jadi, tidak hanya lapor tapi juga dapat mengurai,” katanya.

Menurutnya, seharusnya para paguyuban dapat bertindak terlebih dahulu sebelum melapor ke dinas. Jika tindakan itu tidak menuai hasil, maka langkah selanjutnya adalah dengan memberikan laporan kepada pihak dinas.” Jika langsung lapor, buat apa ada paguyuban segala. Tidak bisa, kalau paguyuban hanya meminta yang enak-enak seperti bantuan saja, tapi tugasnya juga dilaksanakan,” ujarnya.

Dia menjelaskan jumlah PKL hingga kini sekitar 3,3 ribuan. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang terdata oleh pihak dinas. Sedangkan jumlah yang tidak terdata diyakini tidak kalah banyak.

Editor : Kholistiono

PKL Soto Ingin Ketemu Anggota Dewan Adukan Nasibnya

Deretan warung PKL di jalur lambat Jalan Agil Kusumadya yang hendak digusur Disdagsar Kudus karena dianggap menghalangi warung makan di belakangnya (MuriaNewsCom/Merie)

Deretan warung PKL di jalur lambat Jalan Agil Kusumadya yang hendak digusur Disdagsar Kudus karena dianggap menghalangi warung makan di belakangnya (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kudus menggusur tiga Pedagang Kaki Lima (PKL) di jalur lambat Jalan R Agil Kusumadya, memang semakin nyata. Hal ini tentu membuat pedagang semakin khawatir.

Mereka berniat untuk mengadukan nasibnya ke pihak wakil rakyat. “Apa bisa kami ini mengadu ke orang-orang di DPRD Kudus sana. Supaya mereka mengerti bagaimana perasaan waswas kami kalau kemudian kami digusur,” kata Rusmiyati, pedagang soto di lokasi tersebut.

Rencana dipindahkannya tiga orang PKL di lokasi itu, adalah karena adanya permintaan dari salah satu pemilik warung di sana. Disdagsar kemudian menindaklanjutinya dengan meminta ketiga PKL tersebut dipindah ke tempat lain.

Rusmiyati mengatakan, dirinya siap pindah jika memang akan ada pembangunan dari pihak pemerintah. “Tapi kalau karena adanya permintaan dari orang lain yang merasa terganggu dengan kehadiran saya, ya saya tidak mau,” katanya.

Perempuan yang sudah berjualan di lokasi itu selama 16 tahun tersebut mengatakan, dirinya ingin mengadu ke pihak wakil rakyat, supaya keluhannya bisa tersampaikan. “Apa yang harus saya lakukan supaya bapak dan ibu anggota dewan itu bisa mendengar keluhan saya?” jelasnya.

Rusmiyati menuturkan, dulu pada saat kali pertama dirinya mengadukan persoalan tersebut ke kepala Disdagsar, dirinya disambut baik. Bahkan didukung untuk tetap jualan di sana. “Tapi kok sekarang beda situasinya. Saya tetap disuruh pergi dari sini,” terangnya.

Di sisi lain, Ketua Komisi B DPRD Kudus Muhtamat siap untuk menerima para pedagang.
“Terus terang saya belum mengetahui persis persoalan ini. Tapi kalau kemudian PKL mau mengadukan nasibnya, ya monggo saja,” katanya.

Muhtamat mengatakan, memang sejauh ini belum ada rencana untuk sebuah pembangunan di lokasi itu. Termasuk pembangunan taman, sebagaimana yang pernah disampaikan dinas ke pedagang.

“Jadi kalau kemudian ada yang mau mengadu ke kami, silakan saja. Nanti kita cari solusinya bersama,” imbuhnya.

Editor: Merie

Mau Diadukan ke Ombudsman, Pemkab Kudus Tak Pikir Pusing

Asisten III Setda Kudus Mas'ut saat melakukan penyegelan kios di Kudus Plasa (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Asisten III Setda Kudus Mas’ut saat melakukan penyegelan kios di Kudus Plasa (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bersikap santai terhadap rencana pedagang Kudus Plasa yang kiosnya disegel,yang akan mengadukan pemkab ke Ombudsman dan kepolisian.

Asisten III Setda Kudus Mas’ut mengatakan, jika pihaknya hanya menjalankan tugas saja. “Penyegelan dan penggembokan terhadap 15 kios itu sudah menjadi keputusan. Ini bukan berarti kami tidak menghormati pengadilan, yang proses persidangan mengenai polemik kios tersebut masih berjalan,” kata Mas’ut kepada MuriaNewsCom.

Dia juga menambahkan, jika  yang dilakukan pemkab hanyalah untuk melindungi aset saja. Sebab, sudah menjadi tugas pemkab untuk melindungi apa yang menjadi milik pemerintah derah.

Soal proses yang sedang berjalan di pengadilan, menurutnya, bukan berarti pemkab tidak dapat melakukan penyegelan.”Kami tidak mendapatkan surat dari pengadilan, khususnya larangan untuk menyegel. Jadi tidak menjadi masalah jika demikian,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Buntut Penyegelan Kios Kudus Plasa, Pedagang Bakal Adukan Pemkab ke Ombudsman