Warga Tanjungrejo Kudus Pasrah Rumahnya Diratakan dengan Tanah oleh Petugas

Sejumlah warga ikut mengumpulkan puing-puing bangunan rumah milik warga di atas tanah milik PG Rendeng yang dirobohkan, Senin (23/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Desa Tanjungrejo Jekulo, pasrah melihat rumahnya diratakan dengan tanah oleh petugas. Mereka tak kuasa menolak meski tempat tinggalnya dihancurkan di depan mata.

Salah satunya adalah Suryanto (37). Ia hanya bisa memandang detik-detik rumahnya dihancurkan alat berat. Padahal, rumah tersebut belum lama berdiri dan digunakan untuk menopang hidup sehari-hari.

“Baru empat tahunan menempati rumah ini. Sambil buka toko untuk menghidupi keluarga,” katanya kepada MuriaNewsCom saat ditemui, Senin (23/10/2017). 

Baca: 20 Hektare Lahan PG Rendeng yang Digarap Warga di Tanjungrejo Kudus Dieksekusi

Menurut dia, tanah yang digunakan untuk membangun rumah dari hasil jual beli kepada warga. Olehnya, tanah seluas 8 x 6 meter itu dibelinya dengan harga Rp 1,5 juta pada empat tahun silam. 

Harga yang murah tersebut, kata dia, lantaran tanah yang dibeli tanpa adanya sertifikat. Melainkan sebatas membeli tanah tanpa adanya surat surat yang lengkap.

Pihaknya sadar, jika tanah merupakan milik negara. Hal itulah yang membuat harga tanah sangat murah. Namun, ia menyayangkan aksi tersebut baru dilaksanakan sekarang. Sedang sejak 19 tahun lalu hanya dibiarkan saja.

“Tak ada larangan membangun saat kami membangun rumah. Bahkan papan keterangan kalau tanah ini milik negara juga tak ada,” imbuh dia.

Editor: Supriyadi

20 Hektare Lahan PG Rendeng yang Digarap Warga di Tanjungrejo Kudus Dieksekusi

Seorang warga mengumpulkan puing-puing bangunan yang dirobohkan PG Rendeng, Senin (23/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pabrik Gula (PG) Rendeng bersama PTPN IX mulai menarik kembali tanah miliknya untuk kebutuhan pabrik. Alhasil, puluhan hektare tanah milik PG di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo dieksekusi, Senin (23/10/2017).

Perwira Keamanan PTPN IX Devisi Tanaman Tebu AKBP Ridho Wahyudi, mengatakan eksekusi tersebut merupakan tindak lanjut dari eksekusi sebelumnya pada 5 Oktober lalu. Sesuai dengan edaran, hari ini dilakukan eksekusi lahan.

“Luas tanah yang dieksekusi mencapai 20 hektare. Lahan tersebut, selama ini digunakan warga tanpa adanya sewa kepada pihak PG,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Belasan Tahun Dikuasai Warga Kudus, PTPN Ambil Alih Lahan Tebu PG Tanjung Mojo

Selama ini, tanah sudah banyak digunakan masyarakat di sana seperti mulai jadi area persawahan dan kebun. Bahkan beberapa di antaranya malah sudah berdiri bangunan kokoh sebagai permukiman warga di Tanjung Rejo.

Tanah tersebut selama ini dimanfaatkan oleh 113 warga. Ratusan warga tersebut juga sudah melakukan komunikasi dengan warga terkait eksekusi dan penarikan kembali lahan semenjak empat bulan lalu.

“Sebelum di eksekusi kami sudah memperingatkan warga untuk mengambil barang berharganya. Karena hari ini akan diselesaikan eksekusi,” ungkap dia.

Nantinya, tanah yang sudah diambil kembali akan difungsikan kembali menjadi tanaman tebu dengan kualitas yang baik. Tanaman tersebut, dibutuhkan untuk kebutuhan akan tebu di Indonesia.

Editor: Supriyadi

Belasan Tahun Dikuasai Warga Kudus, PTPN Ambil Alih Lahan Tebu PG Tanjung Mojo

Petugas melakukan pembersihan lahan bekas milik PG Tanjung Mojo yang belasan tahun dimanfaatkan warga. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan hektare lahan tebu di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, yang selama 19 tahun dikuasai warga, kembali diambil alih PTPN IX.Badan usaha milik negara (BUMN) itu Rabu (4/1012) pagi melakukan eksekusi.

Lahan tersebut sebelumnya merupakan milik Pabrik Gula (PG) Tanjung Mojo. Sejak pabrik ini tak beroperasi, sekitar tahun 1998 lahan tebu milik pabrik dimanfaatkan oleh warga untuk menanam tebu tanpa sewa.

Perwira Keamanan PTPN IX Divisi Tanaman Tebu, AKBP Ridho Wahyudi yang memimpin eksekusi, pagi tadi menyebut, ada 113 warga yang memanfaatkan lahan tersebut. Menurutnya, sebelum dilakukan eksekusi PTPN telah melayangkan surat dan menyosialisasikan untuk mengosongkan lahan.

”Luas lahan yang digunakan warga sekitar 20 hektare. Sudah digunakan warga sejak 1998 lalu untuk menanam tebu, jati dan lainnya,” katanya.

Tak hanya digunakan untuk menanam, beberapa lahan tersebut juga dialihfungsikan oleh warga menjadi perumahan.

Baca : Masih Gunakan Mesin Tua, PG Rendeng Kudus Bakal Diberi Suntikan Dana

Ia menyebut, pihaknya selama ini sudah melakukan komunikasi dengan warga, terkait eksekusi dan penarikan kembali lahan tersebut. Semenjak empat bulan lalu, warga sudah diberikan sosialisasi secara bertahap, dengan terakhir sosialisasi dilakukan kurang dari sebulan lalu.

“Tapi kami masih memberikan waktu hingga 23 Oktober 2017. Jadi tanaman dan sejenisnya bisa diambil terlebih dahulu. Kami tak akan ambil karena bukan kami yang menanam,” ujarnya.

Nantinya, tanah yang sudah diambil kembali akan difungsikan kembali menjadi tanaman tebu dengan kualitas yang baik. Tanaman tersebut, untuk mendukung program swasembada tebu di Indonesia.

Sayangnya, dalam eksekusi tersebut warga yang memanfaatkan lahan tak nampak di lokasi, sehingga tak ada warga yang bisa dimintai keterangan.

Editor : Ali Muntoha

Masih Gunakan Mesin Tua, PG Rendeng Kudus Bakal Diberi Suntikan Dana

Pekerja tengah melakukan perawatan mesin produksi di Pabrik Gula Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus menjadi salah satu dari tiga pabrik gula di Provinsi Jateng yang akan mendapatkan suntikan dana dari Kementerian BUMN. Dana tersebut akan dikucurkan untuk merevitalisasi mesin, yang masih mengandalkan mesin tua peninggalan Belanda.

Selain PG Rendeng, dua pabrik lain yang juga mendapatkan jatah yakni PG Colomadu Karanganyar dan PG Pangkah Kabupaten Tegal. Tiga pabrik ini akan mendapat kucuran dana pinjaman sebesar Rp 1 triliun.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo mengatakan, kucuran dana untuk revitalisasi tersebut akan membantu upaya Jateng untuk swasembada gula pada 2019 mendatang.

Selama ini menurut dia, tebu hasil panen petani tak bisa tertampung pabrik gula lantaran terbatasnya kapasitas mesin produksi pabrik gula. Dengan revitalisasi maka kapasitas produksi akan bisa meningkat.

“Tiga pabrik gula ini akan mendapat pinjaman dari Kementerian BUMN sebesar Rp 1 triliun. Sehingga bisa membantu upaya revitalisasi pabrik gula,” katanya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk upaya memenuhi swasembada gula. Pasalnya, revitalisasi membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelumnya menyebut, pihaknya berencana merevitalisasi seluruh pabrik gula. sebagai salah satu upaya mendukung dan mewujudkan swasembada gula.

“Nanti akan ada desain ulang pabrik tebu yang ada di Jateng. Karena selain kondisi bangunan pabrik yang jadul, mesinnya juga jelek dimakan usia,” ujarnya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula yang juga bertujuan meningkatkan produktivitas gula berkualitas itu, perlu dilakukan karena kondisi hampir semua pabrik termasuk mesin penggiling tebu di Jateng sudah tua.

“Padahal selain kualitas tanaman, kondisi pabrik maupun mesin juga mempengaruhi posisi rendemen atau kadar kandungan gula dalam batang tebu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Gara-gara Aksi Pekerja, Agus Kembali jadi Adm PG Rendeng Kudus

pg 2

Aksi yang dilakukan pekerja PG Rendeng, Kudus, Kamis (25/8/2016). MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Administratur (Adm) PG Rendeng Kudus yang lama, Agus Sulistiyono menenangkan ratusan buruh yang melanjukan aksi mogok kerja, Kamis (25/8/2016). Agus, begitu sapaannya menjelaskan kalau dirinya masih tetap menjabat sebagai Adm sesuai dengan keinginan pekerja.

Hal itu ditunjukkan dengan mengurai massa saat pekerja berunjuk rasa. Agus menuturkan, dirinya diputuskan untuk tetap menjabat sebagai Adm di PG Rendeng oleh atasannya.

“Mereka memutuskan saya tetap di sini, hanya untuk hitam di atas putih masih menunggu dua hingga tiga hari ke depan,” katanya.

Mendapatkan pernyataan itu pekerja menjadi agak tenang. Namun pekerja juga masih menuntut keputusan tersebut lewak SK hitam di atas putih terkait hal itu.

Agus yang juga warga asli Kudus itu mengungkapkan, dirinya kini menjabat dua posisi sama di dua PG. Pertama di PG Rendeng dan PG Siluwok Batang.

“Namun saya lebih banyak di sini ketimbang di sana. Paling dalam sepekan hanya sehari di Batang, sedangkan sisanya di PG Rendeng,” ungkapnya.

Hal itu, lanjutnya karena di Batang sudah tidak produksi. Sedangkan di Rendeng masih mengejar target produksi.

Sedangkan, Praminda yang seharusnya menjabat sebagai Adm baru, dikembalikan ke PG lama yakni di Klaten. Hal itu lantaran ratusan pekerja menolaknya. “Kalau total pekerja ada sekitar 750 orang. Jumlah itu termasuk tenaga yang bekerja saat giling saja seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pekerja PG Rendeng Kudus Unjuk Rasa Tak Terima Atasannya Dicopot

pg demo

Seorang pengunjuk rasa memasang poster tuntutan para pekerja PG Rendeng Kudus, Rabu.

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan pekerja Pabrik Gula PG Rendeng, menggelar aksi unjuk rasa menolak pencopotan Administratur (Adm) Agus Sulistyanto dari jabatannya di lokasi pabrik, Rabu (24/8/2016).

Dalam aksinya,  pendemo juga melayangkan ancaman ke Direksi PTPN IX, pihak yang menaungi PG Rendeng. Mereka akan mogok kerja jika sampai apa yang jadi tuntutannya  tak digubris.

Pengunjuk rasa tampak menempel sejumlah poster berisi tuntutan aksi di dinding maupun kaca kantor PG Rendeng. Beberapa poster isi tulisannya, mengecam kebijakan direksi PTPN IX yang mencopot Agus Sulistyanto dari posisi Adm PG Rendeng. Diketahui, yang bersangkutan baru sekitar satu bulan menjabat.

”Kebijakan PTPN ini justru akan memperburuk PG Rendeng yang saat ini sudah mulai membaik,” kata Edi, seorang pendemo di lokasi.

Pergantian jabatan Adm terlihat cukup mendadak. Para pekerja baru tahu SK pergantian jabatan tersebut pada hari itu. Pekerja menyayangkan kondisi itu. Mereka juga melihat sosok Adm Agus sebagai pribadi yang berkinerja baik.

“Beliau tak ada kesan membeda-bedakan. Bahkan, termasuk ke karyawan paling rendahan pun sikap beliau cukup baik,” tandasnya.

Oleh karena itu,karyawan menilai kebijakan penggantian jabatan Adm merupakan langkah keliru. Menurutnya, para pekerja tak akan rela jika Adm Agus Sulistyanto dipindah. ”Kami tetap meminta agar pak Agus tidak jadi dipindah,”  serunya.

Para pekerja mengancam akan melakukan mogok kerja menghentikan produksi gula yang saat ini masuk pada proses giling.  ”Aksi ini selain didukung oleh para karyawan juga  mendapat dukungan dari para petani mitra PG Rendeng yang tergabung dalam APTRI,” tandasnya.

Tidak ada pihak manajemen yang menemui pekerja, namun pekerja tetap meminta agar tuntutan mereka didengar. Adm Agus Sulistyanto sendiri pada saat aksi juga tidak ada di kantor.

Editor : Akrom Hazami

Aduh, Ribuan Hektare Lahan Tebu Kudus Bisa Gagal Panen

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

KUDUS – Data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kudus menyebutkan, luas lahan tebu di Kudus mencapai 6.007,04 hektare.
Kabid Kehutanan dan Perkebunan Kudus Harnowo mengatakan, hampir separuh lahan diperkirakan sudah dipanen.

“Ramalan cuaca dari BMKG menyebutkan, wilayah Jawa Tengah termasuk dari empat provinsi di Indonesia yang paling terdampak kemarau akibat el nino. Tanaman tebu termasuk yang terkena dampak, namun hingga saat ini kami belum menerima laporan adanya tebu yang mati akibat kemarau,” katanya.

Sementara, mengahadapi kemarau ini, Administratur PG Rendeng Toto Sudarto meminta petani menjaga lahannya agar tidak terbakar.

“Jika tanaman tebu sampai terbakar, tentu akan berpengaruh pada rendemennya. Musim ini kami menargetkan memproduksi gula sebanyak 27 ribu ton. Kami optimistis target ini tercapai, meski terdampak kemarau saat ini,” katanya. (AKROM HAZAMI)

Mesin Giling Tebu di PG Rendeng Kudus ‘Kurang Jamu Kuat’

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

KUDUS – Administratur PG Rendeng Toto Sudarto mengakui pasokan tebu dari petani kini sudah berlebih dibanding kemampuan mesin. Rata-rata dalam sehari PG Rendeng hanya mampu mengolah sebanyak 4.000 ton tebu. Sementara tebu yang diterima mencapai 6.000 tebu.

“Karena kapasitas masih terbatas, kami harus adil kepada semua petani mitra,” kata Toto.
Adapun untuk mengantisipasi kelebihan pasokan ini pihaknya sudah mengimbau petani agar mematuhi jadwal tebang. Sebab, kemampuan pabrik dan kapasitas tebang harus sama. (AKROM HAZAMI)

PG Rendeng Lukai Hati Petani Tebu Kudus

Kunjungan anggota DPR RI ke PG Rendeng, Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

Kunjungan anggota DPR RI ke PG Rendeng, Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

KUDUS – Petani tebu di Kabupaten Kudus mengeluhkan pembatasan pengiriman tebu di Pabrik Gula Rendeng. Karena antrean lama, petani khawatir kualitas tebu yang sudah dipanen menurun. Terlebih cuaca belakangan tidak mendukung.

Mardijanto, petani tebu di Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mengatakan, dalam sehari ia mampu memanen tebu hingga sebanyak 10 truk. Rencananya tebu sebanyak itu separuhnya dikirim ke penggilingan gula tumbu, separuh lainnya ke PG Rendeng.

“Kami kecewa karena hanya dibatasi mengirim tebu sebanyak tiga truk sehari. Kami berharap petani lokal di Kudus mendapat prioritas. Sebab kami lihat tebu yang masuk justru banyak dari luar daerah,” katanya, Rabu (5/8). (AKROM HAZAMI)

Prosesi Awal Giling PG Rendeng, Temanten Tebu Tak Diarak Barongan

Karyawan PG Rendeng menyerahkan temanten laki-laki Raden Bagus Slamet Raharjo, kepada Administratur Toto Sudarti, Jumat (22/5/2015). (MURIA NEWS/FAISOL HADI)

KUDUS – Prosesi selametan awal giling di PG Rendeng, Jumat ‎(22/5/2015) pagi dilaksanakan. Namun, pelaksaan prosesi tersebut berlangsung sangat sederhana. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, ada prosesi arak-arakan kesenian barongan.

Lanjutkan membaca