Temui Hambatan saat Gunakan Kartu Tani, Ini Solusinya

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebagian besar jatah kartu tani yang digunakan untuk penebusan pupuk bersubsidi oleh petani memang sudah dibagikan. Namun, dalam perjalanannya masih terdapat kendala sehingga penggunaan kartu tani belum bisa dilakukan optimal. Hal itu terungkap dalam rakor komisi pengendalian pupuk dan pestisida (KP3) Grobogan yang dilangsungkan di pendapa kabupaten, Senin (19/3/2018).

Pelaksanaan rakor dibuka dan dipimpin langsung Bupati Grobogan Sri Sumarni. Terlihat pula Dandim 0717 Purwodadi Letkol Teguh Cahyadi dan perwakilan FKPD terkait. Hadir pula para anggota KP3 hingga level kecamatan, perwakilan BRI, Disperindag, bagian perekonomian, penyuluh, produsen dan distributor pupuk.

Hingga saat ini, sebagian penerima masih banyak yang belum bisa menggunakan kartu tani untuk penebusan pupuk. Penyebabnya, ada yang terkendala sambungan internet. Kemudian, belum diaktivasinya kartu tani sehingga tidak bisa digunakan transaksi. Selain itu, banyak yang tidak bisa mengoperasikan kartu pada alat gesek elektronik.

Terkait dengan kondisi di lapangan, Sri Sumarni meminta agar untuk sementara, petani yang sudah punya kartu tani masih bisa menebus secara tunai seperti sebelumnya. Nanti, jatah pupuk petani harus dicatat sehingga datanya jelas.

“Jadi, sambil jalan, bisa pakai penebusan seperti biasa dulu. Nanti pengecer wajib mencatat transaksinya untuk dilaporkan ke dinas pertanian dan admin kartu tani. Demikian pula dengan petani yang belum dapat kartu tani tetapi sudah terdata dalam RDKK juga bisa menebus pupuk secara manual,” katanya.

Menurut Sri, penggunaan kartu tani untuk menebus pupuk bersubsidi merupakan sebuah kebijakan baru. Jadi, memang butuh waktu bagi para petani untuk bisa menggunakan kartu tani yang pengoperasiannya berbasis teknologi tersebut.

Ia menyatakan, pengawasan dalam distribusi pupuk bersubsidi harus dilakukan dengan optimal guna mencegah terjadinya penyimpangan. Langkah tersebut perlu dikerjakan mengingat kebutuhan pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi pertanian.

Dalam kesempatan itu, Sri sempat menegaskan jika para petani tidak perlu khawatir mengalami kesulitan dalam mendapatkan pupuk bersubsidi. Soalnya, alokasi pupuk yang didapat dinilai mencukupi.

“Saat ini banyak petani mulai membutuhkan pupuk karena sedang musim tanam padi. Hal ini sudah kita perhitungkan dan kebutuhan pupuk semaksimal mungkin akan dicukupi,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Unik, Petani Desa Berugenjang Kudus Gunakan Anjing untuk Basmi Tikus

MuriaNewsCom, Kudus – Gropyokan (membasmi) tikus sudah menjadi hal yang mahfum bagi petani sebelum musim tanam padi dimulai. Pun demikian di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan Kudus, ritual ini wajib dilakukan agar padi terbebas dari hama pengerat itu. Namun ada yang tak lazim, tugas gropyokan kini digantikan oleh hewan berkaki empat, anjing.

Siang itu (Sabtu, 10/3/2018), di pematang sawah Desa Berugenjang, yang berbatasan dengan Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, lima anjing milik Sarmin dikaryakan nggropyok tikus. Dalam tempo sekitar empat jam saja, ratusan tikus dibabat.

Sarmin sendiri adalah warga Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Ia dipanggil oleh Sujono, Ketua P3A Sido Makmur untuk berburu tikus-tikus, yang sedang lelap di gorong-gorong sarang mereka.

Datang pagi hari pada pukul 07.00 WIB, Sarmin seorang rekannya dan kelima anjing-anjingnya lantas bekerja. Tak butuh waktu lama bagi anjing kampung tersebut menemukan mangsa. Jika terlihat hidung si anjing sudah lekat dengan lumpur dan cakarnya mengais, maka tandanya ada hewan pengerat dibaliknya.

Ketika melihat kelakuan itu, Sarmin lantas membantu menyingkap tanah dan haap! Seekor tikus berakhir dalam cengkraman taring anjing.

“Kalau tikusnya kecil, langsung dimakan oleh si anjing. Namun kalau besar tak mau langsung dibuang dan dikumpulkan,” tuturnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk melatih anjing cakap berburu tikus tak memerlukan waktu lama. Begitu anjing sudah pintar berlari, si pemilik tinggal mengasah kepekaannya dengan hewan buruannya.

Sarmin mengaku memiliki tujuh anjing dirumahnya. Anjing-anjing itu seringkali dikaryakan untuk berburu tikus di berbagai daerah, mulai dari Jepara, Kudus hingga Grobogan, tergantung order.

“Setengah hari (hingga pukul 12.00 WIB) kita dibayar Rp 300.000. Namun kalau sampai di Grobogan ya tambah lagi Rp 50.000 karena jaraknya jauh,” ungkapnya.

Sementara itu, Sujono yang kali itu memanfaatkan jasa Sarmin merasa puas. Ia mengaku sudah dua kali memanfaatkan layanan yang diberikan oleh anjing untuk membasmi tikus.

“Timbang gropyokan  tikus dengan memanfaatkan orang, jauh lebih efektif ini. Soalnya kalau petani sendiri yang kerja, paling tidak membutuhkan 15 orang, belum lagi biaya makan dan sebagainya, uang Rp 500.000 amblas, bahkan lebih,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sebagai ketua Pemberdaya Petani Pemakai Air (P3A) Sido Makmur, dirinya diserahi tugas menjaga lahan tani seluas 263 bahu (1 bahu atau bouw 0,7 hektar). Area seluas itu, harus ia jaga terkait pengairannya dan dipastikan bebas dari hama pengganggu.

“Ini tugas saya menjaga 263 bahu, untuk pengairannya. Maka saya inisiatif menggunakan jasa anjing pemburu tikus. Kalau di desa lain belum ada yang pakai,” ujarnya sambil meneruskan pengawasan.

Editor: Supriyadi

Harga Tinggi saat Panen, Petani Cabai di Blora Tersenyum Lebar

MuriaNewsCom, Blora – Petani cabai di Desa Purworejo, Kecamatan Blora kini bisa tersenyum lega. Ini lantaran, hasil jerih payahnya menanam cabai sejak beberapa bulan lalu sudah mulai dipanen dan dirasakan hasilnya.

Penanaman cabai di desa tersebut merupakan binaan dari program Coorporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI). Total lahan penanaman cabai luasnya mencapai 4 hektare.

Kepala BI Jateng Hamid Ponco Wibowo menerangkan, program CSR pengembangan pertanian cabai merah terintegrasi ternak sapi di Desa Purworejo ini merupakan salah satu upaya untuk membantu peningkatan perekonomian petani di daerah.

”Pertumbuhan ekonomi nasional sangat dipengaruhi sektor pertanian. Seperti di Kabupaten Blora ini yang didominasi pertanian menjadikan kami tertarik untuk ikut mengembangkan,” katanya saat menghadiri panen cabai dengan Bupati Blora Djoko Nugroho, Rabu (21/2/2018).

Model pengembangan dilakukan secara alami dengan mengintegrasikan antara peternakan sapi potong yang ada di desa dengan pertanian cabai merah keriting.

Dengan model terintegrasi, kotoran dari hasil peternakan sapi diolah menjadi pupuk organik guna kebutuhan pemupukan dan pestisida cabai. Dengan demikian, biaya produksi pertanian cabai bisa lebih hemat namun harga jualnya tinggi karena ditanam secara organik.

”Komoditas yang ditanam disini adalah cabai merah keriting jenis lado. Pendampingan di sini dilakukan mulai menanam, merawat, pemupukannya hingga panen. Harga cabainya masih bagus, per kilogramnya laku Rp 24-27 ribu,” jelasnya.

Bupati Djoko Nugroho mengucapkan terimakasih kepada BI yang telah bersedia mengucurkan program sosial berupa pendampingan pertanian cabai merah terintegrasi peternakan sapi di Desa Purworejo. Ia meminta agar kelompok tani bisa memanfaatkan program sosial dari BI ini secara serius.

”Alhamdulillah panen cabai binaan BI ini hasilnya bagus dan harganya masih bagus. Semoga berkah untuk para petani. Saya minta petani di Desa Purworejo untuk tenanan (serius-jawa) dalam mengikuti program dari BI ini. Karena dengan program seperti ini bisa meningkatkan pendapatan petani,” terangnya usai memetik cabai dilahan milik petani.

Usai panen perdana, acara dilanjutkan dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana pendukung pertanian cabai dari BI Perwakilan Jateng. Bantuan diberikan pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bina Tani Desa Purworejo Kecamatan Blora dan Kelompok Tani Taruna Muda Serut Desa Dringo, Kecamatan Todanan.

Editor: Supriyadi

Tolak Impor Beras, Ratusan Petani Pati Demo di Depan Pendapa

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan petani di Pati menggelar aksi di depan pendapa kabupaten, Senin (22/1/2018). Aksi dilakukan para petani terkait isu kabar impor beras, yang dianggap mencekik petani.

Subhan, petani Pati yang ikut aksi mengatakan, saat ini para petani sedang dalam proses panen raya. Melihat hal itu, tidak sepatutnya jika pemerintah melakukan impor beras di saat warganya panen.

“Itu hanya akan membuat harga padi anjlok. Akhirnya yang dirugikan adalah kami dari para petani pribumi,” katanya saat aksi.

Atas dasar itu, ia menuntut pemerintah pusat dapat membatalkan rencana impor beras. Jika tetap dilakukan, langkah itu akan semakin mencekik para petani, khususnya petani Pati.

Dia menyebut, saat ini harga padi sudah berangsur turun. Dari Rp 600 ribu menjadi Rp 500 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 400 ribuan.

Dalam aksi tersebut, masa menginginkan Bupati Pati datang menemui demonstran. Sayangnya hingga siang ini (sekitar jam 11.30 WIB) Bupati Haryanto tak kunjung datang menemui.

Editor: Supriyadi

Tanam Padi, Lima Warga Cepogo Jepara Tersambar Petir, Satu Tewas

MuriaNewsCom, Jepara – Satu orang buruh tani di Desa Cepogo, Kecamatan Kembang tewas tersambar petir, ketika sedang tandur (tanam padi) di sawah, Rabu (3/1/2018) siang. Sementara empat buruh lain yang berada di tempat  sama mengalami luka bakar dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Kepala Desa Cepogo Ruskanto menuturkan, kelimanya merupakan warga RT/RW : 03/13. Saat menanam, hujan disertai petir telah mengguyur areal persawahan, namun mereka‎ tetap melanjutkan pekerjaan.

“Yang meninggal dunia bernama Sulastri. Sementara yang mengalami luka bakar adalah Satijah, Sukanah, Sujiyati dan Widodo,” ujarnya.

Menurut penuturan Ruskanto, saat menggarap sawah mereka terbiasa bergerombol guna mempercepat pengerjaan tandur. Setelah peristiwa, kelimanya termasuk korban meninggal dunia dibawa ke RSUP Rehata, Kelet.

Dua di antara korban yang mengalami luka bakar sudah diperbolehkan pulang. Sementara dua orang lain, masih harus mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Sementara korban meninggal, diketahui terdapat luka bakar (gosong) di bagian dada. Jenazah yang bersangkutan kini telah dimakamkan di pemakaman desa setempat.

“Ini peristiwa yang jarang terjadi, karena di wilayah kami minim ancaman bencana. Termasuk sambaran petir mengingat wilayah kami berada di lereng Gunung Muria,” urainya.

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Grobogan Siapkan 73 Penyuluh Pertanian Swadaya  untuk Dampingi Petani

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengukuhkan 73 penyuluh pertanian swadaya di halaman kantor dinas pertanian, Rabu (27/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 73 penyuluh pertanian swadaya (PPS) dikukuhkan keberadaannya oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Rabu (27/12/2017).

Pengukuhan yang dilangsungkan di halaman Kantor Dipertan Grobogan dihadiri sejumlah pejabat. Antara lain, Dandim 0717 Letkol Teguh Cahyadi, Asisten II Ahmadi Widodo, dan Kepala Dipertan Edhie Sudaryanto. Para penyuluh swadaya ini nantinya akan disebar ke berbagai desa untuk memberikan bimbingan pada para petani.

Menurut Sri Sumarni, keberadaan penyuluh swasta saat ini memang sangat dibutuhkan. Sebab, jumlah penyuluh lapangan yang berstatus PNS makin berkurang lantaran banyak yang sudah pensiun. Sementara formasi pengisian tenaga PNS saat ini juga terbatas kuotanya.

“Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah mengangkat penyuluh swadaya. Kita harapkan, dengan adanya penyuluh swadaya, para petani atau kelompok tani bisa lebih cepat terlayani jika ada kendala di lapangan,” tegasnya.

Dijelaskan, pengangkatan penyuluh swadaya itu dasarnya mengacu pada dengan UU No 16 tahun 2006 tentang sistem penyuluh pertanian, perikanan, dan kehutanan. Dalam peraturan itu menyatakan jika penyuluh pertanian terdiri dari unsur pemerintah, swasta dan swadaya. Kemudian, aturan lainnya yang jadi panduan adalah PP No 72 Tahun 2011 tentang Pedoman Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian.

Kadinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, penyuluh swadaya berasal dari kalangan petani sendiri. Yakni, petani yang punya kapabilitas dan kompetensi untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan secara swadaya dan mandiri.

Sebelum ada penyuluh swadaya, jumlah petugas penyuluh yang dimiliki ada 92 orang. Terdiri dari 54 penyuluh PNS dan 38 tenaga penyuluh harian lepas. Petugas sebanyak itu belum sebanding dengan jumlah desa sebanyak 280 desa.

Pada tahun 2015, pihaknya sudah mengukuhkan 70 penyuluh swadaya. Kemudian, pada tahun ini ditambah lagi ada 73 penyuluh. Dengan demikian, jumlah keseluruhan penyuluh ada 188 orang.

“Meski ada penmabahan namun kita masih kekurangan 45 tenaga penyuluh. Idealnya tiap desa ada satu orang penyuluh,” imbuh Edhie.

Lebih lanujut ia menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No 56/Permentan/RC040/11/2016, tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian, Kabupaten Grobogan ditetapkan sebagai Kawasan Pertanian untuk 7 Komoditas Strategis Nasional. Yaitu padi, kedelai, jagung, bawang merah, cabai, tebu dan sapi potong.

Selain itu ada komoditas lain yang juga menjadi tanggung jawab untuk terus dikembangkan. Yakni, komoditas prioritas daerah, seperti kacang hijau, melon, semangka, tembakau, pisang, jambu air dan kelapa.

“Besarnya tugas dan tanggung jawab tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya peran Penyuluh Pertanian Swadaya,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Intensitas Hujan Tinggi, Petani Bawang Merah di Grobogan Ketar-Ketir

Petani bawang merah sedang melangsungkan panen meski kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Masih tingginya curah hujan membuat para petani bawang merah dilanda kecemasan. Soalnya, intensitas hujan yang tinggi akan berdampak pada harga jual hasil panen bawang merah.

Berdasarkan keterangan petani, secara umum, kondisi tanaman bawang merah yang ditanam menjelang akhir tahun ini dinilai cukup bagus. Dari awal hingga menjelang panen, tidak ada serangan hama pada tanaman.

”Kondisi tanaman rata-rata sangat bagus. Serangan hama kali ini masih wajar, tidak seperti beberapa waktu lalu,” kata Sucipto, petani bawang merah di Desa Sugihan, Kecamatan Toroh, Selasa (5/12/2017).

Kekhawatiran petani terjadi ketika memasuki masa panen. Tingginya curah hujan menjadikan tanah sawah menjadi lembek. Kondisi itu berdampak dengan banyaknya tanah yang menempel pada umbi bawang merah
ketika dipanen.

”Hasil panen tidak bisa menarik. Soalnya, umbi bawang merah terlihat kotor karena banyak tanah menempel saat proses pencabutan dari tanah,” katanya.

Kondisi umbi bawang merah yang kotor sebenarnya bisa diatasi dengan penjemuran selama dua sampai tiga hari. Namun, tindakan ini tidak bisa dilakukan karena dalam beberapa minggu terakhir praktis jarang ada cuaca panas.

”Umbi bawang merah yang dipanen sebenarnya maksimal hasilnya. Sayangnya, banyak tanah yang menempel. Dengan kondisi seperti ini, harga jualnya jadi turun jadi Rp 10 ribu per kilonya. Saat belum banyak hujan, harga bawang merah bisa sampai Rp 20 ribu,” cetusnya.

Panen bawang merah idealnya dilakukan pada usia 60 hari. Dengan kondisi cuaca yang banyak hujan, sebagian petani sempat menunda panen hingga usia tanaman mencapai 65-70 hari. Penundaan panen dilakukan karena mereka berharap ada cuaca panas pada saat itu. Namun, cuaca panas ternyata tidak kunjung muncul sehingga petani mau tidak mau harus segera memanen bawang merahnya.

”Panen bawang merah kalau lebih dari 70 hari sudah tidak bagus hasilnya. Jadi, mau tidak mau harus kita panen meski kondisi cuaca banyak hujan,” cetus Susanto, petani di Kecamatan Godong.

Editor: Supriyadi

Petani di Desa Mangunrejo Grobogan Ditemukan Tewas di Tengah Sawah

Seorang petani ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di tengah areal sawah di Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon, Jumat (24/11/2017).

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang petani ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di tengah areal sawah di Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon, Jumat (24/11/2017).

Petani yang tergeletak dalam posisi tengkurap itu diketahui bernama Gunadi, warga Mangunrejo yang tinggal di Dusun Jambangan RT 02, RW 04. Saat ditemukan, petani berusia 70 tahun itu mengenakan celana pendek warna hitam dan baju putih lengan panjang.

Informasi yang didapat menyebutkan, kakek yang tewas di tengah sawahnya sendiri itu diketahui oleh beberapa petani yang saat itu hendak menuju sawahnya, sekitar pukul 13.30 WIB. Beberapa petani kemudian melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Tidak lama kemudian, istri korban bernama Sutiyem (60) tiba dilokasi kejadian. Saat itu, Sutiyem kebetulan memang sedang mencari keberadaan suaminya.

Ceritanya, sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB, Gunadi pamit mau ke sawah. Namun, hingga selepas Jumatan tidak kunjung pulang ke rumah hingga akhirnya dicari sampai ke areal sawah.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim Inafis Polres Grobogan dan Puskesmas setempat, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Diduga korban meninggal karena sakitnya kambuh.

”Dari keterangan pihak keluarga, korban menderita sakit nafas sejak beberapa tahun terakhir. Setelah diperiksa, jenazah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Petani di Sedayu Grobogan Masih Gunakan Alat Bajak Tradisional untuk Persiapan Lahan

Seorang petani menyiapkan sawahnya dengan menggunakan alat tradisional dengan tenaga sapi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Areal pertanian di wilayah Grobogan tidak semuanya dipersiapkan dengan peralatan modern, semisal traktor mesin. Pada sejumlah desa, proses pengolahan lahan menjelang musim tanam masih memakai alat tradisional berupa bajak yang ditarik dengan sapi.

Salah satu petani yang masih familiar dengan bajak tradisional berada di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan. Di desa yang terdapat obyek wisata air terjun Gulingan itu masih banyak petani yang membajak sawah dengan memanfaatkan sapi peliharaannya.

”Alat bajak tradisional disini jumlahnya masih banyak. Kurang lebih ada 50 an yang masih punya bajak tradisional,” kata Kepala Desa Sedayu Sariyun, Kamis (9/11/2017).

Menurutnya, masih dipakainya alat bajak tradisional itu disebabkan lahan sawah yang ada sebagian besar dalam posisinya teras siring. Kondisi itu terjadi karena wilayah Desa Sedayu berada di kawasan atas perbukitan Kendeng Utara.

“Disini ada yang punya traktor mesin tetapi kalau dipakai di lahan teras siring malah susah mengoperasikannya. Traktor mesin dipakai untuk mengolah sawah di sebelah timur Desa Sedayu yang lokasinya datar dan luas. Kalau di lahan teras siring yang lokasinya sempit lebih enak pakai bajak sapi,” jelasnya.

Sariyun menyatakan, menjelang musim tanam padi seperti saat ini, banyak alat bajak tradisional yang mudah ditemukan di areal sawah. Bagi warga Desa Sedayu, kondisi seperti itu sudah dianggap biasa. Namun, bagi warga dari luar daerahnya, pemandangan petani membajak sawah dengan alat tradisional menjadi sesuatu hal yang istimewa.

“Kalau jaman dulu, pemandangan orang bajak pakai sapi sudah biasa. Tetapi sekarang ini jarang dijumpai karena sudah berganti traktor mesin. Di wilayah Grobogan, kemungkinan hanya di Desa Sedayu yang masih banyak bajak tradisionalnya,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Petani Ditemukan Tewas di Sumur Sawah Desa Sukorukun Pati


Warga ikut mengevakuasi korban yang meninggal dunia di dalam sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang petani asal Desa Sriwedari RT 2 RW 2, Kecamatan Jaken, Bunarto (57) ditemukan tewas di sebuah sumur sawah di Desa Sukorukun, Jaken, Sabtu (28/10/2017).

Jamsi, salah satu saksi mengatakan, saat itu korban sedang memperbaiki peralon di dalam sumur sawahnya. Namun, tiba-tiba korban lemas dan tergeletak.

“Waktu itu saya menunggui di atas sumur. Dia jatuh beberapa saat setelah mencoba melakukan perbaikan peralon,” ujar Jamsi.

Kaget dengan kondisi korban, Jamsi berteriak meminta tolong kepada warga. Setelah itu, pemerintah desa melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Ari Sulistyawan menjelaskan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan korban meninggal dunia lantaran kehabisan oksigen.

“Sumurnya cukup dalam sehingga kehabisan oksigen, karena korban terlalu lama berada di dalam sumur,” jelasnya.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga korban sudah menerima kepergian Bunarto. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan yang diketahui kepala desa.

Editor : Akrom Hazami

Petani di Jepara Belum Kebagian Kartu Tani

Beberapa petani di Jepara saat melakukan panen padi di MT pertama belum lama ini (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara– Petani di Jepara masih harus bersabar untuk dapat menggunakan Kartu Tani. Lantaran hingga penguhujung bulan Oktober 2017, distribusi kartu belum dilaksanakan oleh Pemprov Jateng. 

“Belum di distribusikan untuk kartu tani, nanti provinsi yang akan melaksanakannya, kita hanya mendata dan kita kembalikan ke Pemprov Jateng,” kata Achid Setiawan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Rabu (25/10/2017). 

Ia mengatakan, Jepara dimungkinkan baru bisa melaksanakan program tersebut pada akhir 2017 atau awal 2018. Secara detil, Achid tak mengungkapkan alasan mengapa Jepara hingga kini belum mendapatkan jatah Kartu Tani, padahal sudah melakukan pendataan petani. Namun demikian, ia mengindikasi hal itu karena ada evaluasi tertentu pada penggunaan kartu tersebut di beberapa wilayah di Jateng. 

Ditanya tentang kesiapan petani Jepara, Achid mengaku hal tersebut juga bergantung pada kemanfaatan kartu tersebut bagi petani. 

“Sepertinya akan menguntungkan (bagi petani). Namun kalau benar-benar online itu kan hal yang baru. Untuk itu kami sudah melakukan sosialisasi sejak pertama kali kita mendata petani,” kata dia. 

Meskipun Jepara termasuk kabupaten yang belum melaksanakan program kartu tani, namun Achid tak mempermasalahkannya. Hal itu berkaca pada permasalahan beberapa daerah yang telah mengaplikasikan program ini. 

 

 

“Hambatan-hambatan yang kemarin sempat terjadi (di daerah lain), mudah-mudahan telah diperbaiki, sehingga hal itu menguntungkan bagi kita yang belum melaksanakannya. Nantinya setelah permasalahan diperbaiki, rencananya kartu tani diterapkan di seluruh kabupaten (Jawa Tengah),” urainya. 

Adapun, data dari DKPP, jumlah kelompok tani di Jepara ada 1.100 dengan anggota yang bervariasi mulai dari 50 sampai 200 orang. 

Penelusuran MuriaNewsCom di laman Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Jawa Tengah, manfaat kartu tani satu diantaranya adalah untuk media pembelian pupuk bersubsidi. Dengan kartu tersebut, petani dapat menebus pupuk melalui sistem gesek pada alat EDC (electronic data capture). Disamping itu, alat ini juga dapat digunakan untuk melakukan transaksi jual beli hasil panen, yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Pertanian Indonesia (SINPI) Jateng. 

Editor: Supriyadi

Musim Hujan Tiba, Petani di Pati Disarankan Ikut Asuransi

Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi menunjukan peta lahan pertanian di Pati yang rawan terkena bencana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Pati disarankan untuk mengikuti asuransi menjelang musim hujan. Pasalnya, sejumlah lahan pertanian di Pati rawan terkena banjir saat musim penghujan tiba.

Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi mengatakan, asuransi tani perlu diambil sebagai langkah untuk mengurangi risiko ketika terjadi bencana banjir. Karena itu, asuransi tani dinilai penting untuk petani maupun kelompok tani supaya tidak terjadi kerugian secara total.

“Asuransi tani bisa dilakukan perorangan maupun kelompok tani, nanti Dinas Pertanian sifatnya mengetahui. Selanjutnya diajukan ke Jasindo,” ujar Muchtar.

Sejauh ini, asuransi tani hanya mengover untuk tanaman padi. Sementara tanaman pertanian lainnya seperti palawija belum ada program asuransi tani.

Prosedurnya, petani membayar premi asuransi sebesar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawah. Biaya premi itu sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar Rp 144 ribu.

“Biaya premi asuransi tani sebetulnya Rp 180 ribu per hektare, tapi dapat subsidi dari pemerintah. Petani tinggal bayar 30 persen saja. Ini peluang bagus untuk dimanfaatkan petani,” jelas Muchtar.

Saat ini, sedikitnya ada 2.500 hektare sawah yang didaftarkan program asuransi tani. Sebagian besar petani yang ikut asuransi tani dari kawasan Pati selatan.

Adapun pengajuan klaim asuransi, syaratnya harus ada kerusakan tanaman minimal 75 persen. Padi yang ditanam juga harus berusia minimal 30 hari.

Satu hektare sawah bisa diklaim hingga Rp 6 juta. “Lumayan, daripada rugi total. Ini sifatnya hanya antisipasi saja, tentu kita berharap tidak ada musibah dan bisa panen,” pungkas Muchtar.

Editor: Supriyadi

Ini yang Disampaikan Presiden Jokowi Saat Kunjungi Salatiga

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat hadir di Kota Salatiga, Senin. (Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Salatiga – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melaksanakan silaturahmi dengan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thaiyybah di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, Senin (25/9/2017).

Kegiatan dihadiri oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Wali Kota Salatiga Yulianto SE, Menteri pertanian Amran Sulaiman dan para serikat paguyuban petani di Salatiga.

Kegiatan silaturahmi ini bertujuan untuk meningkatkan hasil tanam para petani dengan cara menanam, memproduksi dan memasarkan sendiri. “Petani meningkat kesejahteraannya kalau tidak hanya berkutat dalam sisi produksi saja Karena sebetulnya keuntungan petani oleh proses agrobisnisnya,” ujar Presiden dilansir dari tribratanewspolda jateng.com.

Presiden menyarankan kepada paguyuban petani Qaryah untuk mempunyai penggilingan padi sendiri dan mesin pengering sendiri. Presiden berpesan juga agar jangan hanya menanam dan produksi, tapi bisa melakukan panen sendiri, mengolah hasil sendiri dan memasarkan sendiri

“Kita jangan hanya memikirkan menanam dan memanen tetapi harus bisa memasarkan karena keuntungan terbesar berada di pemasaran,” ucap Presiden.

Di Salatiga, Presiden juga membagikan kartu Indonesia pintar (KIP) kepada siswa dan Program Keluarga Harapan (PKH) di SMAN 3 Salatiga. KIP dibagikan kepada siswa yang kurang mampu dan yatim piatu.

Untuk siswa Sekolah Dasar (SD) menerima bantuan sebesar Rp 450.000, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar Rp 750.000, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar Rp 1.000.000 dan untuk PKH menerima bantuan sebesar Rp 189.000.

“Dana yang ada agar dibelikan keperluan sekolah dan keperluan rumah tangga saja. Tidak boleh untuk yang lain,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Otodidak, Petani Asal Grobogan Ini Sukses Budidayakan Kembang Kol di Dataran Rendah

Rofiq (pegang kembang kol) bersama pekerja sedang melangsungkan panen di areal sawahnya di Dusun Permas, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganHamparan tanaman kembang kol tumbuh subur di sebuah areal persawahan di Dusun Permas, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Grobogan. Meski tumbuh dengan baik, namun keberadaan tanaman yang lazim ada di dataran tinggi ini memang terlihat aneh.

“Saat ini, cuma saya satu-satunya petani yang mencoba menanam kembang kol. Petani lainnya, masih setia tanam palawija, baik kacang hijau atau jagung,” kata Rofiq, pemilik lahan kembang kol yang ditemui di areal sawahnya, Jumat (15/9/2017).

Rofiq sengaja menanam kembang kol lebih disebabkan rasa penasaran. Selama ini, kembang kol hanya ditanam oleh petani di dataran tinggi saja.

Sementara di dataran rendah jarang sekali petani ditemukan tanaman kembang kol di areal sawah. Lebih-lebih, pada saat musim kemarau seperti sekarang.

Padahal, pangsa pasar kembang kol di Grobogan dinilai masih cukup menjanjikan. Hal itu dilihat dari banyaknya menu makanan yang menggunakan bahan kembang kol di berbagai rumah makan maupun saat pesta hajatan.

“Dari gambaran ini, akhirnya saya nekat pingin nanam kembang kol. Saya mau coba apakah tanaman yang banyak ditemukan di dataran tinggi itu bisa tumbuh dilahan keras pada dataran rendah seperti di sini,” jelas bapak satu anak itu.

Selepas lebaran Idul Fitri, Rodiq mulai mempersiapkan lahan seluas 2.500 meter persegi. Setelah siap, ia pun mulai menanam benih di areal sawahnya.

Dalam perjalanan, Rofiq sempat menemukan kendala. Yakni, munculnya hama ulat yang melahap daun kembang kol. Namun, kendala itu akhirnya bisa diatasi setelah mencari informasi cara penanganan dan mendapat bimbingan penyuluh dari Dinas Pertanian Grobogan.

Setelah berusia 55 hari, sebagian tanaman sudah menghasilkan kembang kol dengan ukuran cukup besar. Hasilnya, tidak kalah jauh dengan kembang kol yang ditanam di dataran tinggi. Kondisi ini membuat Rofiq merasa puas karena rasa penasarannya akhirnya terobati.

Beberapa hari lalu, Rofiq dibantu beberapa orang pekerja mulai panen kembang kol. Panen perdana dapat kembang kol hampir satu kuintal. Hasil panen pertama sudah ditampung pembeli dengan harga Rp 9.000 per kilo.

Saat ini, Rofiq kembali panen kembang kol untuk kedua kalinya. Hasil panen kedua bisa dapat hampir empat kuintal. Sayangnya, saat panen kedua harga jualnya turun jadi Rp 7.000 per kilo.

“Meski turun, masih ada keuntungan kok. Apalagi, tanaman belum seluruhnya dipanen. Saya perkirakan masih panen dua sampai tiga kali lagi. Panen kembang kol ini tidak bisa dilakukan serempak seperti panen jagung atau padi. Tetapi diambil yang bunganya sudah maksimal pertumbuhannya,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ini ‘Jimat’ Petani Grobogan Agar Tetap Bisa Tanam Jagung di Lahan Minim Air

Salah seorang petani menunjukkan tugal khusus yang digunakan untuk tanam jagung pada lahan minim air akibat kemarau. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah alat sederhana dibuat petani untuk memudahkan penanaman jagung pada lahan sawah yang kondisi tanahnya mlethek (merekah) saat kemarau. Untuk memudahkan tanam jagung pada lahan minim air, petani menciptakan sebuah taju atau tugal khusus.

Tugal khusus yang ujungnya runcing seperti tombak ini dibuat dari pipa besi berukuran 0,5 inchi. Panjang tugal sekitar 1,5 meter dan pada bagian atasnya diberi pegangan.

Alat sederhana juga dilengkapi sebuah pijakan berlubang yang posisinya sekitar 30 cm dari atas mata tugal. Pijakan ini berfungsi sebagai rembesan air untuk memudahkan tugal saat ditancapkan ke dalam tanah serta menjaga kelembaban yang diperlukan buat menunjang pertumbuhan tanaman jagung.

Saat kondisi kering, titik tancapan tugal ditempatkan pada sela-sela tanah yang merekah atau dalam Bahasa Jawa disebut nelo. Kedalaman tancapan tugal bisa mencapai 30 cm.

Setelah lubang dibuat, benih jagung dimasukkan kedalamnya dan ditutup tipis-tipis. Tujuannya agar benih jagung yang tumbuh bisa lebih mudah menembus lubang tanam.  Petumbuhan awal tanaman akan terlihat sekitar 7 hari setelah tanam (HST). Pada fase awal, tanaman jagung terlihat seperti rumput. Namun, pada usia 14 HST, kondisi tanaman akan berangsur-angsur normal dan tampak kokoh ketika sudah menembus rekahan tanah serta terkena sinar matahari.

Setelah dipupuk dengan kocoran pada 21 HST, batang tanaman akan terisi dengan sempurna. Selanjutnya tanaman jagung dikocor sekali lagi pada umur 35 HST dan setelah itu tinggal menunggu masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, areal tanam jagung di lahan yang tanahnya merekah pada musim kemarau itu luasnya sekitar 40 ribu hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Menurutnya, pada musim kemarau seperti itu, petani mengoptimalkan pemanfaatan lahannya dengan merekayasa irigasi sistim kocor.

“Dengan rekayasa ini, pengocoran yang biasanya dilakukan 4 kali bisa berkurang jadi 2 kali saja. Oleh sebab itu, di Grobogan tetap memiliki areal jagung yang cukup luas saat kemarau,” jelasnya.

Edhie menambahkan, jagung merupakan salah satu komoditas andalan di Grobogan. Setiap tahun, luas panen jagung di Grobogan sekitar 120 ribu hektar dengan produktivitas rata-ratanya mencapai 6 ton per hektar.

“Produksi jagung setiap tahun totalnya mencapai 720 ribu ton. Dengan capaian ini, Grobogan menyumbang lebih dari 20 persen prdiksi jagung di Jawa Tengah,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Anggota DPR RI Minta Pemerintah Batalkan Pajak Gula

Aksi tolak pajak gula yang dilakukan puluhan petani tebu di Pati, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah membatalkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen untuk komoditas gula. Hal itu disampaikan Firman, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Pemerintah itu mestinya beri insentif kepada petani dulu. Kalau mereka sudah dapat insentif, berkembang dan maju, mungkin bisa dikenakan pajak. Tapi petani saat ini tengah berjuang dan belum siap dikenakan pajak,” ujar Firman.

Insentif yang dimaksud Firman, salah satunya berupa pemberdayaan, fasilitasi alat pertanian, pemberian bibit, serta berbagai insentif yang bisa meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani lainnya. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah sebatas pada subsidi pupuk.

Itu pun petani kurang bisa menikmati subsidi pupuk dengan maksimal, lantaran masih banyak distributor yang bermain. “Kalau subsidi pupuk itu yang diuntungkan bukan petani, tapi distributor,” kata Firman.

Menurut Firman, petani merupakan pahlawan bangsa yang perlu diperjuangkan dan disejahterakan terlebih dulu. Sebab, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Karenanya, dia meminta kepada pemerintah supaya ada pengkajian ulang atas kebijakan dalam PP Nomor 31 Tahun 2007 yang menjelaskan perkebunan komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis.

Pasalnya, imbas dari peraturan yang menyebut gula tidak masuk barang strategis, petani dikenakan pajak sebesar 10 persen. “Saudara-saudara kita petani tebu di Pati sudah menyuarakan dengan aksi unjuk rasa. Kami akan berupaya agar peraturan itu dibatalkan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan petani tebu di Pati menggelar aksi unjuk rasa di sepanjang Jalan Wedarijaksa-Tayu untuk menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Mereka menuntut agar Menteri Keuangan membebaskan gula tani dari PPN 10 persen.

Editor : Akrom Hazami

Petani Tawangmangu Karanganyar Tiba di Boyolali

Petani tampak melakukan jalan kaki dari Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Boyolali – Petani Tawangmangu yang sedang laku jalan kaki menuju Kota Semarang, sampai di Boyolali, Selasa (15/8/2017) siang.  Mereka berencana mampir di rumah dinas Bupati Boyolali Seno Samodro.

Sebelumnya, rombongan sampai di Solo pada Senin (14/8/2017) malam. Mereka dipersilakan menginap di rumah pribadi Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Tiba di rumah Rudi (sapaan Hadi Rudyatmo) di Pucangsawit, Jebres, Solo, pukul 23.00 WIB. Ada 20 orang peserta jalan kaki langsung dipersilakan makan. Setelah kenyang, mereka pun beristirahat.

Pagi harinya, Selasa sekitar pukul 06.00 WIB, para petani sudah siap melanjutkan perjalanan. Rudi berkesempatan melepas keberangkatan dengan menitipkan beberapa pesan.

“Semoga bapak dan ibu semua diberi kelancaran dalam perjalanan, selalu menjaga kesehatan, istirahat secara berkala dan jangan memaksakan kaki, semoga selamat sampai tujuan,” kata Rudi.

Sebelumnya Ketua DPC PDIP Solo itu lebih dulu ngobrol dengan para petani. Ia mengapresiasi kesungguhan dan tekad petani dalam mendukung Ganjar Pranowo pada pencalonan Pilgub Jateng 2018. Rudi pun menitipkan salam untuk orang nomor satu di Jateng itu. “Kalau sudah sampai Semarang sampaikan salam untuk pak gubernur, nggih,” katanya.

Para petani yang memberi nama dirinya “Sedulur Tani Tawangmangu” berjalan kaki dari Tawangmangu ke Semarang untuk menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Rombongan tersebut berangkat dari Tawangmanggu pada Senin (14/8) sore dan direncanakan tiba di Semarang, Kamis (17/8/2017). Mereka akan menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai upacara HUT RI ke 72.

Para petani berjalan kaki sebagai bentuk dukungan pada Ganjar dalam Pilgub Jateng 2018. Mereka ingin bertemu secara langsung sebagai perwujudan dukungan moral dari petani lereng Gunung Lawu.

Salah seorang pelaku jalan kaki, Suratno mengatakan, aksi jalan kaki tersebut merupakan bentuk syukuran atas kepastian Ganjar Pranowo maju sebagai bakal calon gubernur melalui DPD PDIP Jateng. Pihaknya merasa lega karena Ganjar telah mengembalikan formulir pendaftaran di kantor DPD PDIP Jateng, Jumat (11/8/2017) lalu.

“Kami para kadang tani berangkat sebagai relawan menuju Semarang untuk memberikan dukungan moral kepada Ganjar Pranowo bertarung di Pilgub yang akan datang. Begitu sampai di Semarang, kita nanti akan bergabung dengan relawan se-Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng,” kata Suratno asal Tawangmangu ini.

Hal senada juga disampaikan peserta aksi lainnya, Sutardi. Ia mengaku, keterlibatannya untuk berjalan kaki dari Karanganyar ke Semarang sebagai pelunas janji. Sebab, sebelum beberapa jam penjaringan internal PDIP ditutup, Ganjar Pranowo akhirnya bersedia mendaftarkan diri.

“Ini nazar saya mendukung Ganjar Pranowo kembali mengikuti Pilgub Jateng 2018. Meski rekomendasi belum turun, saya yakin jika Ganjar kembali dicalonkan PDIP akan memenangkan Pilgub. Pokoknya nek ora Ganjar ora,” ucapnya optimis.

Para peserta berjalan kaki mengenakan caping dan membawa bendara merah putih. Satu spanduk bertuliskan “Masyarakat Tawangmangu Peduli’ nampak dipegang oleh peserta kalan kaki  di barisan terdepan.

Editor : Akrom Hazami

Petani Jalan Kaki dari Tawangmangu Karangangar ke Semarang, Ternyata Demi Ini…

Petani Tawangmangu saat melakukan aksi jalan kaki dari Tawangmangu, Karanganyar, ke Kota Semarang. (Facebook)

MuriaNewsCom, Karanganyar – Ada yang beda dengan aksi petani ini. Adalah puluhan petani menggelar aksi jalan kaki dari Tawangmangu, Karanganyar, menuju Kota Semarang, Senin (14/8/2017). Rencananya mereka akan menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada Kamis (17/8) usai upacara HUT RI ke 72.

Para petani berjalan kaki sebagai bentuk dukungan pada Ganjar dalam Pilgub Jateng 2018. Mereka ingin bertemu secara langsung sebagai perwujudan dukungan moral dari petani lereng Gunung Lawu.

Salah seorang pelaku jalan kaki, Suratno mengatakan, aksi jalan kaki tersebut merupakan bentuk syukuran atas kepastian Ganjar Pranowo maju sebagai bakal calon gubernur melalui DPD PDIP Jateng. Pihaknya merasa lega karena Ganjar telah mengembalikan formulir pendaftaran di kantor DPD PDIP Jateng, Jumat (11/8/2017) lalu.

“Kami para kadang tani berangkat sebagai relawan menuju Semarang untuk memberikan dukungan moral kepada Ganjar Pranowo bertarung di Pilgub yang akan datang. Begitu sampai di Semarang, kita nanti akan bergabung dengan relawan se-Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng,” kata Suratno asal Tawangmangu ini.

Hal senada juga disampaikan peserta aksi lainnya, Sutardi. Ia mengaku, keterlibatannya untuk berjalan kaki dari Karanganyar ke Semarang sebagai pelunas janji. Sebab, sebelum beberapa jam penjaringan internal PDIP ditutup, Ganjar Pranowo akhirnya bersedia mendaftarkan diri.

“Ini nazar saya mendukung Ganjar Pranowo kembali mengikuti Pilgub Jateng 2018. Meski rekomendasi belum turun, saya yakin jika Ganjar kembali dicalonkan PDIP akan memenangkan Pilgub. Pokoknya nek ora Ganjar ora,” ucapnya optimis.

Aksi jalan kaki dari pendukung Ganjar di tanah kelahirannya di kaki Gunung Lawu itu mengambil start di pertigaan Jalan Pringgo Sari Dusun Karangsari, Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangamanggu atau depan Rivel Hill pintu II grojokan Sewu. 

Sebelum berangkat, mereka menggelar prosesi upacara pelepasan yang dihadiri tokoh masyarakat setempat. Pemberangkan dilaksanakan sekitar pukul 16.00 WIB. Para peserta berjalan kaki mengenakan caping dan membawa bendara merah putih. Satu spanduk bertuliskan “Masyarakat Tawangmangu Peduli’ nampak dipegang oleh peserta jalan kaki  di barisan terdepan.

“Rencananya, kami akan mampir di rumah pribadi Pak Rudi (Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo)  malam ini. Rabu siang, kami juga berencana mampir di rumah dinas Pak Seno (Bupati Boyolali Seno Samodro),” tegas Sutardi.

Sebelumnya aksi dukungan muncul dari berbagai daerah setelah Ganjar memastikan mendaftar di DPD PDIP, Jumat (11/8). Di antaranya aksi nelayan di Rembang, petani tembakau Temanggung, Dulur Ganjar Banyumas, relawan Ganjar Kabupaten Semarang serta Demak. 

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati Kudus Peduli Petani Kopi Muria

Bupati Kudus Musthofa yang hadir dalam kesempatan tradisi wiwit di pegunungan Muria, Colo, Dawe, Selasa (8/8/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Petani kopi di pegunungan Muria, Colo, Dawe, mendapat perhatian serius dari Pemkab Kudus. Hal ini tampak saat tradisi wiwit yang dihelat di wilayah itu, Selasa (8/8/2017).

Bupati Kudus Musthofa yang hadir dalam kesempatan menuturkan, agar hasil panen kopi ini bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Tentunya berimbas pada peningkatan kesejahteraan terutama para petani.

Untuk mengoptimalkan hasil panen ini, Musthofa meminta dinas terkait dan masyarakat proaktif untuk bersama mengoptimalkan hasil panen kopi. Agar sejak proses tanam, panen, hingga pengemasan dan pemasaran bisa memberi hasil maksimal.

“Pemerintah atau negara wajib hadir untuk memfasilitasi optimalisasi hasil panen kopi ini,” kata Musthofa disambut wajah sumringah petani kopi.

Ada tiga OPD yang diminta memfasilitasi. Yakni Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Perdagangan. Ketiganya memiliki peran secara teknis mengoptimalkan hasil pertanian dan wisatanya.

“Termasuk objek-objek wisata produktif hasil diberdayakan. Apalagi kopi robusta di Muria ini selain potensi pertanian, juga sebagai wisata alam,” imbuhnya.

Momen ini dihadiri juga oleh Ketua DPRD Kudus Masn dan sejumlah kepala OPD. Selain pula, hadir juga ratusan masyarakat setempat yang juga petani kopi yang hadir turut merasakan syukur atas hasil tanaman kopi pada tahun ini. Bersama Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH), mereka saling berbaur akrab.

Musthofa tanpa canggung menikmati nasi ‘kepungan’ bersama dengan masyarakat. Ini sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan berbagai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Editor : Akrom Hazami

Petani Garam Jepara Harapkan Bantuan Plastik Geo Membran

Petani mempergunakan lapisan plastik hitam (geo membran) pada lahan garamnya di salah satu lokasi di Kabupaten Jepara, Sabtu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, berharap pemerintah memberikan bantuan plastik geo membran. Hal itu untuk mengantisipasi musim yang tidak menentu. Sehingga panas tak bisa maksimal memanaskan air laut yang nantinya akan dipanen menjadi garam. 

Hal itu diungkapkan oleh Saroni (48). Petani garam asal Desa Panggung-Kedung itu mengungkapkan, dengan penggunaan plastik geo membran dapat memaksimalkan panas matahari yang tidak menentu seperti sekarang ini. 

“Kalau pake geo membran, pemanasannya bisa maksimal. Agak siangan saja, kita kalau menginjak geo membran pasti kakinya tak kuat karena panas. Tapi kalau tidak memakainya hanya beralas tanah panasnya kurang,” tuturnya, Sabtu (5/8/2017).

Ia mengatakan penggunaan plastik berwarna hitam tersebut sudah mulai diaplikasikan pada lahannya sekitar 4 tahun lalu. Berawal dari bantuan pemerintah, ia merasakan manfaat yang besar dari penerapan teknologi sederhana itu. 

Saroni menyebut, jika membeli geo membran di pasaran harganya cukup mahal. Per gulung dengan ukuran panjang 42 meter dan lebar 4,4 meter dijual sekitar Rp 2,4 juta. Dengan hal itu, ia mengatakan biaya terbesar dari panen garam adalah penyediaan geo membran. 

Dirinya mengatakan, dibanding bantuan lain seperti slender mesin dan sebagainya, geo membran dirasa lebih berguna untuk bertani garam.  “Ya kalau dibandingkan bantuan yang lain, geo membran lebih bermanfaat bagi kami,” tutup dia.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Petani Garam di Jepara Setuju Ada Impor, tapi …

Petani garam di Jepara sedang memanen produknya, Rabu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Jepara tak mempermasalahkan impor garam yang dilakukan oleh pemerintah. Hanya, mereka tak ingin jumlah garam yang didatangkan dari luar negeri terlalu berlimpah. Hal itu karena akan menyebabkan harga jual produk mereka anjlok. 

“Impor boleh-boleh saja jika memang kekurangan namun jangan terlalu banyak. Ini (produksi) garam jika cuaca panas terus pasti akan berlimpah dan otomatis menurunkan harga jual garam. Namun kalau impornya kebanyakan sementara di sini juga sedang panen, harganya bisa terpuruk,” kata Saroni (48) petani garam asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung, ditemui di lahan tambaknya di Bulak Baru, Jepara, Rabu (2/8/2017). 

Dirinya mengatakan, saat ini harga jual garam krosok per tombong (80 kilogram) masih tinggi yakni Rp 300.000. Artinya, setiap kilogram dihargai Rp 3.750. Sementara sebelumnya garam hanya diharga sekitar Rp 300- Rp 400 per kilogram. 

Dirinya mengakui, harga tersebut adalah yang tertinggi semenjak dirinya bertani garam. Saroni menyebut, harga garam memang pernah tinggi namun tak lebih dari Rp 100.000 per tombong. 

Petani lain, Khamsani (45) mengakui hal serupa. Kini harga garam masih berada di angka penjualan tersebut. Terkait impor garam, ia sendiri telah mengetahuinya dari berita di televisi. Bahkan ia sempat disurvei dari pihak kepolisian.

“Baru kemarin ada pak polisi, tanya tentang pasokan garam bagaimana. Ya saya jawab saja masih balapan dengan hujan, belum bisa maksimal panennya. Menurut polisi, ia disuruh untuk mengecek ke lapangan karena presiden sudah turun tangan untuk menyiasati harga garam yang bergejolak,” tutur dia. 

Lebih lanjut ia mengatakan, hingga kini dirinya belum memiliki stok garam. Hal itu karena setiap kali panen, pengepul selalu saja sudah menunggu produknya.  “Ini saja saya sudah dibayar duluan, baru saya panen. Sehingga saya memang belum bisa memiliki simpanan garam di gudang,” terangnya. 

Khamsani berujar dirinya sudah memanen sekitar 13 tombong garam dari lahan miliknya. Sementara itu Saroni telah memanen 35 tombong dari lahannya seluas lebih kurang dua hektar. 

Adapun, peruntukan garam produksi warga Kedung itu lebih banyak dipergunakan untuk bidang industri. Seperti pengawetan ikan, bumbu kacang asin dan sejenisnya. Akan tetapi, garam tersebut pun bisa dikonsumsi untuk harian. 

Editor : Akrom Hazami

 

Aksi 2 Bocah Curi Barang Petani Honggosoco Kudus Berakhir di Sini

Kapolsek Jekulo AKP Subakri. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, benar-benar naik pitam, beberapa waktu terakhir ini. Sebab, mereka kerap jadi korban pencurian barang taninya.

Petani pun mencari cara agar bisa menangkap pencuri. Mereka pun sepakat melakukan kerja sama satu sama lain. Seperti dengan membiarkan alat mesin diesel penyedot air irigasi, di sawah.

Benar, dua orang pencuri berusia belasan tahun datang ke sawah. LS (16) dan BD (14) warga Dawe, berniat mencuri mesin penyedot air itu. Belum sempat mengamankan barang curiannya, sejumlah petani langsung mengejarnya.

“Warga yang kebanyakan petani menangkap basah pelaku yang membawa alat tersebut untuk dibawa kabur. Namun petani berhasil menangkapnya dan mengamankan,” kata Kapolsek Jekulo AKP Subakri kepada wartawan di Kudus, Rabu (12/7/2017).

Pihaknya berterima kasih kepada masyarakat yang sudah ikut menangkap pelaku. Termasuk juga, lanjut Subakri, terima kasih karena warga tak melakukan hakim sendiri. “Pelaku benar-benar aman dari amukan warga,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Hasil Panen Bawang Merahnya jadi Juara di Aceh, Begini Respons Tri Joko Purnomo

Tri Joko Purnomo menunjukkan hasil panen bawang merah miliknya yang sebagian diantaranya disertakan dalam kontes hortikultura Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV di Aceh. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Komoditas bawang merah dari Grobogan berhasil meraih juara dalam Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV di Aceh. Bawang merah yang meraih juara dalam kontes hortukultura itu ditanam oleh Tri Joko Purnomo dari kelompok tani Niaga Tani Desa/Kecamatan Penawangan.

Joko mengaku tidak menyangka jika hasil jerih payahnya bakal jadi juara dalam kontes tingkat nasional tersebut. “Terus terang saya kaget dan tidak percaya saat dapat kabar ini,” kata Joko ditemui di rumahnya, Senin (9/5/2017).

Menurut Joko, bawang merah varietas Bima Brebes yang disertakan dalam lomba ditanam 22 Februari lalu. Kemudian, bawang merah itu dipanen pada 18 April dalam usia 55 hari. Usai dipanen, bawang merah sempat dijemur selama 14 hari sebelum dibawa ke ajang Penas KTNA tersebut.

“Sebenarnya, saya diajak untuk hadir ke acara Penas. Namun, karena kesibukan bersamaan, saya tidak bisa ikut,” jelas Joko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Penawangan tersebut.

Menurut Joko, saat kontes digelar pada 6 Mei lalu, dia sempat dapat SMS dari pihak panitia Penas untuk menghadiri acara pengumuman pemenang. Karena tidak ikut ke lokasi, informasi itu kemudian diteruskan pada pegawai Dinas Pertanian Grobogan yang hadir dalam acara Penas.

“Waktu itu pihak panitia tidak mengabarkan kalau saya dapat juara. Hanya memberitahukan untuk datang ke lokasi kontes karena bakal dilakukan pengumuman pemenangnya,” katanya.

Kabar kalau bawang merahnya menjadi juara dalam kontes hortukultura itu didapat dari staf dinas pertanian melalui WhatsApp. Setelah itu, datang ucapan selamat dari berbagai pihak.

“Beberapa pegawai dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng juga mengucapkan selamat. Kemudian dari rekan kelompok tani juga banyak yang memberikan ucapan selamat,” imbuhnya.

Joko tidak mengira jika hasil panennya bakal bisa jadi juara tingkat nasional. Sebab, banyak petani lain yang dinilai lebih dulu punya nama dalam urusan bawang merah. Salah satunya dari Brebes.

Editor : Akrom Hazami

 

Dinas Pertanian Grobogan Mulai Antisipasi Serangan Hama pada Tanaman Padi

Sejumlah petani di Grobogan menggunakan alat pengasap untuk membasmi hama tikus (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Pertanian Grobogan sudah mulai melakukan langkah untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya serangan hama pada tanaman padi. Tindakan itu dilakukan dengan harapan jika nanti muncul serangan hama akan mudah ditangani.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, antisipasi serangan hama itu memang lebih diintensifkan. Terutama untuk hama tikus dan wereng yang biasa menyerang tanaman padi.

“Kegiatan mengantisipasi hama sudah mulai kita lakukan di Kecamatan Godong, dan Penawangan. Untuk menekan gangguan hama, pihaknya menggandeng kerjasama dengan para petani. Yakni, untuk melakukan gerakan gropyokan tikus dan penyemprotan secara berkala,”

Menurut Edhie, salah satu upaya untuk mencapai target adalah menekan serangan hama sedini mungkin. Untuk itu, dia sudah menugaskan pada petugas penyuluh agar memonitor terus perkembangan di lapangan. Kemudian, semua kelompok tani sudah diminta agar segera melaporkan pada petugas terdekat jika muncul serangan hama di wilayahnya. Baik itu, hama tikus, wereng, penggerek batang dan lainnya. 

Editor : Akrom Hazami