Pupuk Langka, Petani di Margorejo Kudus Terancam Gagal Panen

Petani sekaligus Ketua Komisi A DPRD Kudus Mardijanto memberikan keterangan terkait kelangkaan pupuk. Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kelangkaan pupuk dirasakan sejumlah petani di Kudus, khususnya di Desa Margorejo, Dawe. Padahal, saat ini sudah waktunya pemupukan. Jika tak kunjung ditangani, maka petani diperkirakan akan gagal panen.

Mardijanto, seorang petani tebu di Margorejo mengatakan kelangkaan pupuk di sana sudah menghantui warga sejak Juli lalu. Sejak itu, para warga sudah kelimpungan mencari pupuk guna kebutuhan lahan petani.

“Dampaknya, tanaman petani terancam gagal panen jika kondisinya terus berlanjut. Saat ini sudah turun hujan, sehingga sudah waktunya pemupukan,” katanya Sabtu (4/11/2017).

Menurut Ketua Komisi A DPRD Kudus ini, petani di Margorejo kebanyakan menanam tebu. Sementara pupuk yang dibutuhkan para petani tebu saat ini, jenisnya Urea dan ZA. Namun, kedua pupuk tersebut sangat sulit didapatkan, bahkan sampai ke sejumlah wilayah lainnya.

“Beberapa kali para petani keluar desa untuk mencari pupuk, namun tidak dapat. Petani terpaksa cari keluar lantaran mencari dikampung sudah tidak menemukan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kelangkaan pupuk tak hanya jenis Urea dan ZA saja. Namun untuk jenis lain seperti Phonska juga sulit ditemukan para petani. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas.

“Misal untuk satu hektare membutuhkan pupuk dua ton, namun yang ada hanya satu ton saja. Kan masig kurang,” keluhnya.

Disinggung soal hasil panen, dia menyebutkan kalau pupuk terpenuhi dalam satu hentar bisa sampai 10 ton tebu, namhn, saat kondisinya seperti ini, diprediksi maksimal hanya dua ton saja.

Dia berharap pemerintah baik dari Pemkab Kudus dan pemerintah pusat dapat bertindak menangani hal ini. Agar para Petani tak kunjung merugi.

Editor: Supriyadi

Komentar Mendag, Petani Tebu Bebas Jual Gula, Bikin APTRI Geram

Pekerja memanggul karung gula rafinasi di Kudus. (MuriaNewsCom )

MuriaNewsCom, Kudus – Komentar Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita bahwa petani tebu bebas menjual gulanya kepada pedagang dan pihak selain bulog membuat Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) geram.

APTRI bahkan menilai jika Mendag ngeles lantaran fakta di lapangan pedagang masih takut membeli gula petani.

”Kalau omongan itu betul, seharusnya Mendag berani mencabut surat No 885/M-DAG/SD/8/2017. Jangan hanya omong doang,” kata Sekretaris Jenderal APTRI, M Nur Khabsyin melalui rilisnya, Kamis (26/10/2017).

Ia menjelaskan, sesuai surat Mendag No 885, hanya Bulog yang boleh menjual gula curah ke pasar. Karena alasan itu pedagang takut membeli gula ke petani langsung karena tak boleh jual curah ke pasar. Sementara, pedagang baru  boleh jual gula ke pasar kalo mau membeli gulanya bulog Rp 11 ribu.

”Kalau dikatakan bahwa kebijakan itu hanya mengikat khusus bulog saja, ini omongan ngawur. Kebijakan ini mengikat ke petani dan pedagang juga. Jelas-jelas objeknya adalah gula tani dan pedagang dilarang jual gula curah ke pasar. Jelas petani dan pedagang yang dirugikan,” tegasnya.

Ia memastikan, perkataan Mendag terkait adanya petani yang setuju gulanya dibeli Rp 9.700 bukanlah berasal dari anggota APTRI. Ia pun yakin, orang tersebut adalah kelompok yang mengaku sebagai petani.

”Kalau APTRI sejak awal menolak kebijakan dholim itudan tidak adil bagi petani itu,” ungkapnya.

Ketidak adilan tersebut, lanjutnya, ada beberapa hal. Pertama, hanya Bulog yang boleh menjual gula curah/karungan 50 kg ke pasar. Sementara petani dipaksa menjual gulanya kepada Bulog dengan harga yang dipatok Rp 9.700/kg.

Tak hanya itu, pedagang juga dipaksa membeli gula Bulog (baik export ataupun impor) tahun lalu sebanyak 400 ribu ton dengan harga 11 ribu. Kompensasinya pedagang boleh menjual gual curah ke pasar.

”Kebijakan ini tidak adil baik bagi petani maupun pedagang. Mestinya pemerintah lebih mendahulukan dan membantu petani agar gulanya laku dibanding menolong bulog yang tidak bisa menjual gula ke pasar,” tegasnya.

Atas dasar itu, Aptri mendesak Mendag secepatnya mencabut surat No 885/M-DAG/SD/8/2017. Dengan begitu, petani bisa berkembang dan lebih sejahtera.

Editor: Supriyadi

Petani Kudus Ketakutan di Kebun Tebu

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang menimpa Kudus, membuat para petani was-was. Karena para petani takut, jika tebu yang selama ini dirawat bakal terbakar karena cuaca panas yang berkepanjangan.

Hal itu dilontarkan oleh Kabid Kehutanan dan Perkebunan di Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Harnowo. Menurutnya para petani di kudus terpaksa memanen dini tebu yang ditanam karena takut akan merugi.

“Sebenarnya semakin lama tebu di panen maka hasilnya juga makin bagus. Tebu termasuk tanaman yang butuh air. Jika tidak maka akan mudah terbakar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, tebu yang panen dengan kondisi kering juga melemahkan para petani. Sebab akan makin banyak rendemen yang menimpa para petani sebelum diolah menjadi gula.

Parahnya lagi, panen dini juga dialami hampir semua petani tebu. Sehingga jika digunakan menjadi gula pasir di PG. Dipastikan antre sehinga berdampak tebu makin kering dan rendemen juga makin banyak.

“Kalau seperti itu maka petani dapat rugi banyak. Tebu yang kering dengan diameter kecil, lalu panen juga dalam kurang air ditambah lagi harus menunggu sampai digiling di PG,” ujarnya.

Kudus memiliki luasan lahan pertanian seluas 26.326 hektare. Hanya, luasan lahan tersebut dibagi antara petani padi dengan petani tebu.

Untuk petani tebu, memiliki luasan lahan 6.320 hektare. Luasan tersebut terbagi antara produksi gula pasir 2.536,43 hektare. Sedangkan sisanya merupakan lahan gula tumbu.

Dan hingga kini, produksi tebu di Kudus 180.598,82 ton gula pasir dan 220,292,80 untuk gula tumbu. Dan untuk produksinya, 12.090,60 gula kristal dan 21.349,16 untuk gula tumbu.

Dalam kondisi standar, tanya tebu dalam satu hektare dapat menghasilkan sampai delapan ton. Namun juga harus melihat usia tebu yang sampai setahun atau sepuluh bulan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Aduh, Ribuan Hektare Lahan Tebu Kudus Bisa Gagal Panen

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

KUDUS – Data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kudus menyebutkan, luas lahan tebu di Kudus mencapai 6.007,04 hektare.
Kabid Kehutanan dan Perkebunan Kudus Harnowo mengatakan, hampir separuh lahan diperkirakan sudah dipanen.

“Ramalan cuaca dari BMKG menyebutkan, wilayah Jawa Tengah termasuk dari empat provinsi di Indonesia yang paling terdampak kemarau akibat el nino. Tanaman tebu termasuk yang terkena dampak, namun hingga saat ini kami belum menerima laporan adanya tebu yang mati akibat kemarau,” katanya.

Sementara, mengahadapi kemarau ini, Administratur PG Rendeng Toto Sudarto meminta petani menjaga lahannya agar tidak terbakar.

“Jika tanaman tebu sampai terbakar, tentu akan berpengaruh pada rendemennya. Musim ini kami menargetkan memproduksi gula sebanyak 27 ribu ton. Kami optimistis target ini tercapai, meski terdampak kemarau saat ini,” katanya. (AKROM HAZAMI)

Mesin Giling Tebu di PG Rendeng Kudus ‘Kurang Jamu Kuat’

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

KUDUS – Administratur PG Rendeng Toto Sudarto mengakui pasokan tebu dari petani kini sudah berlebih dibanding kemampuan mesin. Rata-rata dalam sehari PG Rendeng hanya mampu mengolah sebanyak 4.000 ton tebu. Sementara tebu yang diterima mencapai 6.000 tebu.

“Karena kapasitas masih terbatas, kami harus adil kepada semua petani mitra,” kata Toto.
Adapun untuk mengantisipasi kelebihan pasokan ini pihaknya sudah mengimbau petani agar mematuhi jadwal tebang. Sebab, kemampuan pabrik dan kapasitas tebang harus sama. (AKROM HAZAMI)

Petani Tebu Kudus Diserang ‘Hantu’

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Petani tebu tampak melakukan antre sebelum masuk PG Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

KUDUS – Akibat kemarau saat ini, petani tebu Kudus Mardijanto merasa diserang ‘hantu’. Yakni berupa hantu kerugian.

Hal ini terjadi karena menurunnya produktivitas tanaman tebu. Jika sebelumnya ia mampu memanen rata-rata sebanyak 70 ton per hektare, kini paling banter hanya sebanyak 40 ton hingga 50 ton per hektare.

Pendapatannya sebagai petani pun turun drastis dari semula rata-rata Rp 30 juta per hektare, menjadi Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per hektare. “Jika telat masuk ke PG, kualitas tebu pun akan menurun drastis karena rendemen pastinya akan menurun,” katanya. (AKROM HAZAMI)

PG Rendeng Lukai Hati Petani Tebu Kudus

Kunjungan anggota DPR RI ke PG Rendeng, Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

Kunjungan anggota DPR RI ke PG Rendeng, Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

KUDUS – Petani tebu di Kabupaten Kudus mengeluhkan pembatasan pengiriman tebu di Pabrik Gula Rendeng. Karena antrean lama, petani khawatir kualitas tebu yang sudah dipanen menurun. Terlebih cuaca belakangan tidak mendukung.

Mardijanto, petani tebu di Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mengatakan, dalam sehari ia mampu memanen tebu hingga sebanyak 10 truk. Rencananya tebu sebanyak itu separuhnya dikirim ke penggilingan gula tumbu, separuh lainnya ke PG Rendeng.

“Kami kecewa karena hanya dibatasi mengirim tebu sebanyak tiga truk sehari. Kami berharap petani lokal di Kudus mendapat prioritas. Sebab kami lihat tebu yang masuk justru banyak dari luar daerah,” katanya, Rabu (5/8). (AKROM HAZAMI)