Hama Wereng Serang Tanaman Padi di Rembang

 Petani sedang melakukan penyemprotan pestisida ke tanaman padi untuk mengatasi hama wereng. (Humas Setda Rembang)

Petani sedang melakukan penyemprotan pestisida ke tanaman padi untuk mengatasi hama wereng. (Humas Setda Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Petani di beberapa kecamatan di Kabupaten Rembang diresahkan dengan adanya hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka.

Terkait hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Dinas Pertanian dan Pangan  berupaya melakukan pemberantasan hama tanaman padi tersebut. Upaya itu sebagai langkah responsif atas ditemukannya hama wereng maupun penggerek batang di lahan sawah yang ada di beberapa kecamatan.

Penyuluh pertanian Kabupaten Rembang bersama petani dan TNI di Kecamatan Bulu dan Pamotan misalnya, hari ini, Rabu (11/1/2017) berupaya melakukan pemberantasan hama wereng cokelat. Akhir-akhir ini tanaman padi petani di serang hama tersebut, sehingga harus segera dikendalikan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Suratmin mengatakan, pestisida diambil dari Brigade Proteksi Tanaman di Pati. Sebanyak ratusan liter pestisida disiapkan untuk mengatasi gangguan hama wereng ini.

“Gangguan hama ini, di Pamotan ada, Kragan ada dan juga di Pancur yang paling banyak, jumlanya sekitar 600-an hektare. Jika masih tingkat awal,gangguan hama wereng maupun penggerek batang masih bisa diatasi. Ada temuan langsung kita kendalikan,”pungkasnya.

Dari pantauan di lapangan oleh penyuluh dan kelompok tani, di temukan wereng batang cokelat rata-rata dua ekor per 4 rumpun. Pengendalian dilakukan secara cepat karena penyebaran wereng ini terhitung cepat.

Editor : Kholistiono

Per Musim, Petani Mentimun di Rembang Bisa Raup Untung Puluhan Juta

 Seorang anak terlihat sedang melihat tanaman mentimun di kebun yang ada di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Seorang anak terlihat sedang melihat tanaman mentimun di kebun yang ada di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Prospek budidaya mentimun sangat menjanjikan. Hal ini dirasakan oleh para petani mentimun di wilayah Kabupaten Rembang. Salah satunya Muslich, petani mentimun di Desa Sumur Tawang, Kecamatan Kragan.

Dirinya mengatakan, mentimun selain memiliki prospek yang menguntungkan juga dalam hal merawat dan membudidayakan tanaman mentimun ini terbilang mudah dan gampang. “Asal air tersedia dan lanjarannya ada, maka kita dapat memulai untuk membudidayakan tanaman mentimun ini,” terangnya.

Menurutnya, untuk membudidayakan tanaman mentimun, Pertama adalah melakukan pengolahan tanah terlebih dahulu, dengan membuat gunungan kecil memanjang. Setelah selesai baru kita mengulur/ menanam benih mentimun di gulutan tersebut dengan jarak tanam lebih kurang 0,5 meter  dan kemudian ditaburi pupuk organik serta dikasih pupuk kimia secukupnya. Namun, dirinya menyarakan agar lebih baik diperbanyak pupuk organik, supaya tanah tetap subur.

“Sebelumnya saya  beranggapan bahwa menanam mentimun itu banyak  kendalanya. Di antaranya yakni kesulitan menjual hasil panen dan  juga  mudah terserang penyakit. Namun setelah saya coba, ternyata menanam buah mentimun bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk bisa panen juga tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari dua bulan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk lahan seluas 4.000 meter yang ia tanami mentimun, dirinya bisa menghasilkan sebanyak 17 ton. Dari pegepul, biasanya mengambil dengan harga kisaran Rp 2.500 per kilogramnya. Sehingga, dari luasan 4.000 meter tersebut, dirinya bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 10 juta hingga Rp 12 juta.

“Harga mentimun di pasaran saat ini mencapai Rp 4 ribu per kilogram, sedangkan pedagang mengambil di petani Rp 2.500 – Rp 3.000 per kilogram. Tentunya harga ini sudah bagus dan menguntungkan petani timun,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Produksi Padi di Rembang Merosot Drastis pada Panen Pertama

Panen Raya di Rembang, baru-baru ini (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Panen Raya di Rembang, baru-baru ini (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Musim panen padi di Kecamatan Sumber dan Kaliori Kabupaten Rembang tidak maksimal. Sebab, para petani di dua kecamatan itu rata-rata mengalami penurunan hasil panen hingga tiga kali lipat dari biasanya.

Kusnan, petani di Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber menuturkan, selain disebabkan minimnya curah hujan pada tahun ini, petani juga mengeluhkan banyaknya tanaman yang diserang hama sundep.
“Saat kondisi normal, 2 petak sawah yang saya miliki bisa menghasilkan padi sebanyak 1,5 ton. Saat ini mungkin hanya mencapai 5 kwintal,” ungkapnya.

Hal serupa dikatakan Sunardi, petani di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori. Panen padi kali ini memang sangat drastis. Dulu satu petak sawahnya, katanya, mampu menghasilkan 20 sak gabah. Kali ini kemungkinan hanya meraup 5 sak. “Padahal merupakan panenan pertama. Tentu berbeda jauh dibandingkan tahun lalu, bisa panen dua kali,” katanya.

Sunardi mengaku, saat ini sulit mencari pasokan air. Jika harus menyedot dari sungai, aliran sungai juga sama-sama mengering.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Suratmin, mengakui, merosotnya gabah kering hasil panen di kabupaten setempat. Tak hanya di dua kecamatan tersebut, namun juga dialami sejumlah wilayah lain.

Padahal menurutnya, tahun ini pemerintah pusat telah menargetkan produksi padi tembus 251 ribu ton di Rembang. Begitu melihat keluhan-keluhan yang disampaikan oleh petani, menurutnya sulit mengejar target tersebut.

“Anomali cuaca tak bisa dihindari. Pemerintah tinggal mengevaluasi, kedepan akan terus berupaya menambah jumlah embung, guna menopang sektor pertanian,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Curah Hujan di Rembang Minim, Serapan Pupuk Rendah

Koordinasi Komisi Pengawas Pupuk Dan Pestisida (KP3) Kabupaten Rembang di Hotel Fave, Senin (21/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Koordinasi Komisi Pengawas Pupuk Dan Pestisida (KP3) Kabupaten Rembang di Hotel Fave, Senin (21/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Akibat minimnya curah hujan selama musim tanam pertama tahun ini, realisasi tanam dan penyaluran pupuk di Kabupaten Rembang dinilai masih sangat rendah. Kondisi tersebut dikhawatirkan menghambat target peningkatan produksi pangan di wilayah setempat.

Bupati Rembang Abdul Hafidz, menyampaikan, dari alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 58 ribu ton lebih, yang baru diserap oleh petani tak lebih dari 13 ribu, atau kurang dari 22 persen. Serapan tersebut yaitu dari jenis Urea, ZA, SP 36, NPK,dan Organik, hingga bulan Maret ini.

Hafidz berharap, penyaluran dan permintaan pupuk bersubsidi akan meningkat pesat pada Bulan Oktober – Desember 2016. ”Agar program peningkatan produksi pangan khususnya padi/beras dapat berhasil, maka kebutuhan pupuk untuk petani harus kita cukupi,” ujarnya pada rapat koordinasi Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten Rembang, di Hotel Fave, Senin (21/3/2016).

Hafidz juga meminta kepada Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) agar memastikan pupuk bersubsidi tidak diselewengkan keluar daerah. Pengawas pupuk, sebut Hafidz, harus bertindak tegas jika ditemukan penyimpangan, baik di tingkat kelompok tani, pengecer maupun distributor. ”Untuk diberi peringatan namun jika tidak mengindahkan izin penyaluran pupuk bersubsidi akan dicabut,” tegasnya.

Selain itu, KP3 harus mengawasi agar penyaluran pupuk bersubsidi sampai kepada para petani secara tepat waktu, tepat harga, dan tepat dosis. Juga mengawasi harga agar tidak melebihi HET yang ditetapkan. ”Para distributor dan pengecer agar segera menebus alokasi pupuk yang ditetapkan. Para PPL agar memerintahkan para petani agar segera membeli pupuk untuk kebutuhan musim tanam yang akan datang,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Suratmin menjelaskan. Curah hujan yang rendah menyebabkan rendahnya realisasi tanam dari bulan Oktober 2015 – Maret 2016 yakni 61% atau 21.5 ribu hektare.

Secara rinci ia menjelaskan untuk pupuk urea dari alokasi 23.100 ton sampai pertengahan maret terealisasi 4.972 ton. SP36 alokasi 9.060 ton terealisasi 1.845 ton, NPK 4.375 ton terealisasi 1.775 ton, ZA 14.760 ton terealisasi 2515, Organik 7.180 terealisasi 1.605 ton.

Editor : Titis Ayu Winarni