Tenaga Kerja Pertanian di Pati Mulai Langka

Sejumlah buruh tani tengah memanen padi di kawasan Margorejo, Wedarijaksa, Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tenaga kerja pertanian di Pati mulai sulit ditemukan. Hal itu dikeluhkan Warsono, Ketua Kelompok Tani Sri Utami, Desa Tawangharjo, Wedarijaksa, Pati, Sabtu (1/4/2017).

“Mencari tenaga kerja pertanian di Pati cukup sulit, baik tenaga kerja untuk menanam maupun memanen padi. Berbeda dengan dulu, cari buruh tani sangat mudah. Kalau tidak ada terobosan baru, produksi pertanian akan terhambat,” ungkap Warsono.

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk memberikan bantuan berupa mesin tanam dan panen. Kedua alat pertanian tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja pertanian yang semakin langka.

“Kondisinya bukan gara-gara mesin lantas tenaga kerja tani nganggur. Faktanya, sekarang cari tenaga kerja tani sulit sehingga butuh alat-alat pertanian. Selain bisa menjawab kebutuhan petani akan sulitnya mencari tenaga kerja, mesin bisa mempercepat hasil pertanian,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Pati Haryanto meminta kepada petani untuk memaksimalkan bantuan mesin yang sudah disebar ke berbagai kelompok tani. Misalnya, mesin dari bantuan pemerintah disewakan kepada petani, sedangkan biaya sewa dimanfaatkan untuk perawatan mesin dan bahan bakar.

“Pemerintah sudah banyak memberikan bantuan berupa mesin tanam dan panen. Bantuan yang pernah diberikan harus dioptimalkan secara bergilir. Tetapkan sistem sewa di mana uang sewa bisa digunakan untuk perawatan mesin dan pembelian bahan bakar,” tandas Haryanto.

Editor : Kholistiono

 

Petani di Pati Bisa Beli Pupuk Bersubsidi Tanpa Kartu Tani hingga Maret 2017

Kepala Dispertanak Pati menjelaskan persoalan kartu tani di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Dispertanak Pati menjelaskan persoalan kartu tani di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Pati yang saat ini belum memiliki kartu tani masih bisa bernapas lega. Pasalnya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati memberikan kelonggaran dan batas toleransi kepada petani yang tidak memiliki kartu tani masih bisa membeli pupuk bersubsidi hingga Maret 2017.

“Kebutuhan pupuk bersubsidi 2017 di Jawa Tengah memang dialokasikan kepada pemilik kartu tani. Namun, pemerintah masih memberikan kelonggaran pembelian pupuk bersubsidi tanpa kartu tani sampai Maret 2017,” ujar Kepala Dispertanak Pati, Muchtar Efendi, Senin (23/1/2017).

Setelah Maret, kata dia, petani yang tidak punya kartu tani terpaksa harus membeli pupuk reguler nonsubsidi. Petani yang ingin membeli pupuk bersubsidi diharapkan membawa rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) yang diperoleh dari kelompok tani di daerahnya.

RDKK berisi draf rincian kebutuhan semua petani yang terdaftar di kelompok tani tersebut. “Setiap kelompok tani dipastikan memiliki RDKK. Petani minta saja syarat tersebut kepada pengurus kelompok tani masing-masing,” tuturnya.

Ditanya soal masih ada petani yang belum punya kartu tani, dia justru menyayangkan sikap petani yang dulu enggan mengikuti program tersebut. Padahal, program yang baru saja dilaunching beberapa waktu lalu itu, memberi kemudahan kepada petani yang ingin membeli pupuk bersubsidi.

Kendati sejumlah petani masih antipati terhadap program kartu tani, tetapi pihaknya mengaku terus mengupayakan untuk menyosialisasikan. Mereka yang belum memiliki kartu tani bisa mengurus di masing-masing kelompok tani untuk mendapatkan kartu tani pada periode pembuatan selanjutnya.

Editor : Kholistiono

Petani di Pati Kembali Dapat Bantuan Alat Mesin Pertanian

Anggota DPR RI Dr Ir H Djoko Ujianto (kiri) menyerahkan bantuan alat mesin pertanian mesin traktor kepada kelompok tani di halaman Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perternakan Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota DPR RI Djoko Ujianto (kiri) menyerahkan bantuan alat mesin pertanian mesin traktor kepada kelompok tani di halaman Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perternakan Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota DPR RI Djoko Udjianto menyerahkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa mesin traktor tangan sebanyak 50 unit kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kabupaten Pati. Penyerahan alsintan dilakukan di halaman Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Pati.

Sebelum menyerahkan bantuan traktor, angota DPR RI dari Fraksi Demokrat tersebut menyempatkan bertatap muka dengan perwakilan kelompok tani. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah tokoh juga hadir, seperti Ketua DPC Partai Demokrat Pati yang juga Wakil III Ketua DPRD Pati Joni Kurnianto, Kepala Dinas Dispertanak  Mochtar Effendy, serta pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto dan Saiful Arifin.

Dalam acara tatap muka dengan para petani, Djoko mengatakan, bantuan alsintan merupakan bantuan langsung dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Bantuan tersebut diharapkan supaya para petani di daerah semakin mudah dan cepat dalam menggarap lahan pertaniannya. Dengan begitu, hasil panen semakin meningkat yang pada akhirnya bisa mewujudkan swasembada pangan nasional.

Menurut Djoko, Kabupaten Pati memiliki potensi besar di sektor pertanian. Setiap tahunnya, Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Tengah, bahkan nasional. “Hasil pertanian di Kabupaten Pati untuk padi selalu surplus. Selain cukup untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, hasil pertanian masyarakat Pati juga dimanfaatkan untuk membantu pasokan pangan daerah lain,” ujar Djoko, Senin (23/1/2017).

Karena alasan tersebut, kata Djoko, kalangan petani di Pati harus diprioritaskan supaya bisa mempertahankan hasil pertaniannya. Prioritas itu berupa program peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat petani di Bumi Mina Tani.

Wakil Ketua DPRD Pati Joni Kurnianto menyambut baik program bantuan yang diberikan kepada para petani di daerahnya. Program bantuan yang digulirkan tersebut merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda) untuk meningkatkan hasil pertanian.

“Bantuan ini merupakan wujud kepedulian nyata dari pemerintah. Pemerintah bisa membuktikan tidak hanya sekadar mencanangkan swasembada pangan, tetapi juga ikut membantu merealisasikan dengan cara memberikan alat penunjang para petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya,” tutur Joni.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala  Dispertannak Pati Muchtar Effendi mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Muchtar berharap, bantuan serupa terus diberikan agar bisa menunjang kemudahan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Menurutnya, selama ini hasil dari sektor pertanian di Kabupaten Pati selalu menjadi andalan.

Bahkan, Pemkab Pati beberapa kali mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat dan Pemprov Jawa Tengah. Pada 2015, Pati mendapatkan penghargaan dari Presiden RI karena berhasil masuk urutan tiga besar secara nasional sebagai daerah yang memiliki produksi pangan terbaik. Pada 2016, Pati juga memperoleh penghargaan dari Pemprov Jateng sebagai daerah yang berhasil mengelola lahan pertanian secara berkelanjutan.

“Pati memiliki lahan pertanian seluas 85.740 hektare yang tersebar di 21 kecamatan. Dari luas lahan pertanian tersebut, Kabupaten Pati selalu diandalkan menjadi penyangga pangan nasional. Ini yang membuat saya sangat mengapresiasi kepada pemerintah pusat dan anggota dewan yang sudah memberikan bantuan untuk produktivitas hasil pertanian lebih optimal lagi,” kata Muchtar.

Salah satu penerima bantuan traktor dari Kelompok Tani “Tani Makmur” Desa Sinoman, Kecamatan Pati Kota, Nur Sahid mengaku senang kelompok taninya mendapatkan bantuan traktor yang sudah lama dinantikan. Traktor tersebut akan digunakan untuk menggarap sawah lebih cepat dan produktif. Dia juga mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kesempatan mendapatkan bantuan traktor untuk membantu menggarap sawah.

Editor : Kholistiono

Ratusan Hektare Tanaman Padi Siap Panen di Jakenan Pati Terendam Banjir

Sejumlah anggota TNI AD ikut mengangkut hasil panen padi yang terrendam banjir di Desa Tondomulyo, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah anggota TNI AD ikut mengangkut hasil panen padi yang terrendam banjir di Desa Tondomulyo, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pati dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah sungai meluap. Akibatnya, areal persawahan di sepanjang bantaran Sungai Silugangga terendam banjir.

Padahal, ratusan hektare sawah yang berada di sepanjang bantaran sungai tersebut terdapat tanaman padi yang siap panen. Akibatnya, para petani terpaksa memanen padi lebih awal dari waktu yang mestinya kurang beberapa hari lagi.

Mereka khawatir, tanaman padi cepat membusuk dan biji padi yang terendam keluar akar dan tunas bila tidak segera dipanen. “Kalau dibiarkan terendam banjir, biasanya biji padi akan keluar akar dan tunas karena tanamannya membusuk. Jadi, saat tahu sawah kami terendam banjir, kami langsung memanennya,” kata Sutarmin, petani asal Desa Tondomulyo yang memiliki lahan sawah seluas lima hektare.

Selain di Desa Tondomulyo, banjir juga merendam di kawasan persawahan Desa Ngastorejo seluas seratus hektare. Para petani pun berbondong-bondong segera memanen padi agar kerugian tidak terlalu banyak. Jika tidak demikian, mereka terancam tidak bisa memanen padi sama sekali.

Menanggapi hal tersebut, Danramil 05/Jakenan mengatakan, banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Kecamatan Jakenan memang tidak bisa dihindari. Selain faktor alam, banjir disebabkan lokasi geografis persawahan yang berada di bantaran Sungai Silugangga.

Pihaknya berharap, petani bisa segera mengolah sawah untuk masa tanam berikutnya. Dengan demikian, sawah bisa segera ditanam kembali di tengah musim penghujan dengan ketersediaan air yang cukup. Namun, petani mesti jeli agar benih yang ditebar bisa aman dari banjir.

Editor : Kholistiono

Sawah Terendam Luapan Sungai Silugangga, Petani di Jakenan Pati Terpaksa Panen Dini

Anggota TNI ikut membantu panen padi di Jakenan yang terendam banjir akibat luapan Sungai Silugangga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota TNI ikut membantu panen padi di Jakenan yang terendam banjir akibat luapan Sungai Silugangga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Musim panen padi di wilayah Kecamatan Jakenan, Pati saat ini tidak bisa maksimal karena terendam banjir luapan dari Sungai Silugangga. Sejumlah petani yang khawatir, memanen padi secara prematur meski belum terlalu tua.

Hal itu diakui Pulyono, petani asal Desa Tondomulyo. “Panen kali ini mengalami hambatan, karena padi sebetulnya belum waktunya untuk dipanen. Tinggal nunggu beberapa hari lagi. Namun, karena ada luapan dari Sungai Silugangga, terpaksa panen disegerakan,” ucap Pulyono, Senin (9/1/2017).

Panen padi di atas lahan seluas 3 hektare tersebut menggunakan alat mesin perontok padi jenis blower. Tidak sendirian, Pulyono saat memanen padinya dibantu puluhan anggota TNI, sembilan anggota Koramil 05/Jakenan dan sepuluh anggota siaga Kodim 0718/Pati.

“Saya berterima kasih, saat ini anggota TNI banyak terlibat dalam dunia pertanian. Meski sempat sedih karena padi terpaksa dipanen dini akibat luapan Sungai Silugangga, tetapi kehadiran para prajurit TNI bisa memberikan semangat lagi untuk terus berupaya yang terbaik. Di sini memang sudah langganan banjir, karena areal persawahan yang dekat dengan sungai besar,” tuturnya.

Komandan Koramil 05/Jakenan Kapten Inf Kambali menuturkan, anggota TNI memang diberikan tugas untuk ikut menyukseskan ketahanan pangan di setiap daerah. Langkah panen dini dilakukan supaya tanaman padi tidak membusuk, lantaran terendam banjir luapan dari Sungai Silugangga.

“Padi sebetulnya sudah tua, tapi biasanya masih menunggu beberapa hari lagi agar lebih maksimal. Berhubung terendam banjir dan untuk menghindari supaya tidak membusuk, panen diri menjadi salah satu solusi. Kami berharap, petani tidak putus asa dan terus bersemangat bercocok tanam untuk meningkatkan swasembada pangan nasional. Terlebih, Pati menjadi salah satu daerah dengan ketahanan pangan terbaik tingkat nasional,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Petani di Pati yang Belum Punya Kartu Tani Akan Diikutkan Pemutakhiran Data

Seorang petani menunjukkan kartu tani saat acara pembagian kartu tani di Desa Kutoharjo, Kecamatan Pati, beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani menunjukkan kartu tani saat acara pembagian kartu tani di Desa Kutoharjo, Kecamatan Pati, beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Pati yang belum memiliki kartu tani tidak bisa membeli pupuk bersubsidi yang dipasok dari pemerintah. Akibatnya, mereka harus membeli pupuk non subsidi hingga memiliki kartu tani.

Rencananya, mereka yang belum memiliki kartu tani akan diikutkan pada pemutakhiran data pemilik kartu tani 2017. Namun, waktu pemutakhiran data belum bisa dipastikan, sehingga petani yang ketinggalan tidak memiliki kartu tani diminta untuk membeli pupuk non subsidi.

“Nanti ada pemutakhiran data kartu tani, tapi belum tahu kapan waktunya. Yang jelas, 2017 nanti pasti ada. Konsekuensinya, petani yang belum punya kartu tani harus membeli pupuk non subsidi untuk kebutuhan pertanian,” kata Kelompok Jabatan Fungsional Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati, Puji Hartatik.

Sesuai dengan aturan, stok pupuk bersubsidi di Kabupaten Pati untuk 2017 diperuntukkan bagi petani yang memiliki kartu tani. Karena itu, mereka yang ketinggalan belum punya kartu tani diharapkan bersabar untuk menunggu hingga ada waktu pemutakhiran data.

Sejauh ini, para petani di Pati diakui sudah terakomodasi dengan memiliki kartu tani. Bila ada yang belum punya, Puji menyebut ada dua kemungkinan. Pertama, petani mengabaikan sosialisasi kartu tani. Kedua, perangkat desa kurang sukses dalam melakukan sosialisasi program kartu tani.

Editor : Kholistiono

Mulai Januari 2017, Petani di Pati Tidak Bisa Beli Pupuk Bersubsidi Tanpa Kartu Tani

 Seorang petani menunjukkan kartu tani yang bisa digunakan untuk membeli pupuk bersubsidi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani menunjukkan kartu tani yang bisa digunakan untuk membeli pupuk bersubsidi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Kabupaten Pati dipastikan tidak akan bisa membeli pupuk bersubsidi bila tidak memiliki kartu tani. Ketentuan tersebut mulai berlaku per Januari 2017.

Kelompok Jabatan Fungsional Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Puji Hartatik mengatakan, pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah hanya untuk petani yang memiliki kartu tani. Kartu tersebut bisa didapatkan dengan mendaftar di kelompok tani setempat.

“Petani yang belum punya kartu tani memang tidak bisa membeli pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah pusat. Ketentuan itu berlaku, mulai Januari 2017. Solusinya, petani bisa mendaftar di kelompok tani yang ada di daerahnya masing-masing,” ujar Puji, Jumat (30/12/2016).

Hanya saja, petani yang saat ini mengajukan kartu tani belum bisa dipastikan segera mendapatkan atau tidak. Sebab, pengadaan kartu tani pada tahap berikutnya masih menunggu dari kebijakan pemerintah pusat.

“Kartu tani sudah dibagikan beberapa waktu yang lalu. Kalau ada petani yang sekarang ini belum mendapatkan kartu tani, bisa mendaftar di kelompok tani setempat. Namun, kepemilikan kartu tani belum bisa dipastikan karena pengadaan kartu tani pada tahap selanjutnya menunggu kebijakan pemerintah pusat,” imbuhnya.

Kendati begitu, dia memastikan bila pengadaan kartu tani akan dilakukan pada 2017. Hal itu untuk mengakomodasi para petani yang belum mendapatkan kartu tani. Tapi, kepastian waktu pengadaannya belum bisa dipastikan.

Editor : Kholistiono

Dandim: Jangan Sampai Petani di Pati Diacak-acak Tengkulak

Kodim 0718/Pati bersama dengan Dispertanak, Muspika dan petani di Desa Banjarsari Gabus merealisasikan gerakan percepatan tanam, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kodim 0718/Pati bersama dengan Dispertanak, Muspika dan petani di Desa Banjarsari Gabus merealisasikan gerakan percepatan tanam, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma memperingatkan kepada petani di Pati untuk waspada terhadap keberadaan tengkulak. Pasalnya, Presiden Joko Widodo bersama dengan Menteri Pertanian bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk mengantisipasi agar petani tidak dimanfaatkan ajang bisnis bagi tengkulak.

“Jangan sampai para petani di Pati diacak-acak oleh tengkulak atau orang-orang yang sengaja mempermainkan petani sebagai ajang bisnis yang menguntungkan pribadi. Jangan sampai petani yang berjuang mewujudkan kedaulatan pangan dimanfaatkan oleh tengkulak,” kata Andri, usai mengikuti percepatan tanam di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Kamis (27/10/2016).

Keberadaan tengkulak dianggap merugikan petani, karena mereka disebut pintar memainkan harga. Akibatnya, harga jual gabah dari petani dihargai murah, sehingga banyak petani yang merugi lantaran biaya produksinya tidak sesuai dengan harga jual.

Selain soal tengkulak, Dandim juga mengimbau kepada petani untuk segera melaporkan bila ada kemungkinan oplosan pupuk bersubsidi yang beredar di tengah-tengah petani. Pihaknya tidak segan untuk menangkap pelaku dan menindaknya dengan tegas bila ada pelaku pengoplos pupuk bersubsidi.

“Kalau ada masalah pertanian, jangan sungkan untuk melaporkan kepada kami. Terlebih, kalau ada pihak yang mengoplos pupuk bersubsidi dan diedarkan kepada para petani. Kami bersama dengan kepolisian tidak segan untuk menindak mereka,” tegas Dandim.

Menurutnya, petani memiliki peran besar dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan. Peran mulia petani kepada bangsa dan negara itu, kata Dandim, mesti dijaga dengan baik. Jangan sampai ada pihak tidak bertanggung jawab yang merugikan petani.

Baca juga :Kodim 0718/Pati dan Petani di Gabus Tanam Padi Sistem Jajar Legowo

Editor : Kholistiono

 

Nasib Petani Ketela, Jerih Payahnya Hanya Jadi Seharga Kerupuk

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

HAMPIR seluruh petani ketela di Kabupaten Pati saat ini tengah menangis. Jerih payahnya menanam ketela pohon selama berbulan-bulan, tak laku dijual. Jikapun ada yang berani nebas itupun harganya sangat mengenaskan, tak lebih mahal dari harga kerupuk.

Nasib para petani ini pun tak ubahnya seperti buah simalakama, dimakan mati tak dimakan keluarga lain yang mati. Ketela dijual rugi, dan tak dijual lebih tambah rugi. Tak ada jaminan harga ketela akan naik dalam waktu dekat ini.

Jerih payah, cucuran keringat, dan modal yang dikeluarkan untuk menanam ketela tak bisa tertutup. Modal puluhan juta untuk menanam dan merawat hingga ketela itu besar tak bisa kembali. Bagaimana tidak, harga ketela di pasaran saat ini berada pada ambang paling bawah, hanya sekitar Rp 600-700 saja per kilogramnya.

Seorang bapak tua di salah satu desa di Kecamatan Gembong, merenung di teras rumah sejak sore. Tatapan matanya getir, memikirkan apa yang akan dilakukannya. Awalnya, ia cukup merasa ayem, ketela yang ditanam di lahan yang tak seberapa luas dibeli oleh tengkulak. Meskipun harganya hanya separuh dari hasil panen tahun sebelumnya.

Namun sore itu, si tengkulak mendatanginya dan bilang tak jadi nebas ketelanya. Si tengkulak tak mau rugi membeli ketela sang kakek dengan harga penawaran sebelumnya. Karena saat kesepakatan itu terjadi harga ketela masih di kisaran Rp 800-900 per kilogram. Namun kini harga ketela semakin terjun bebas.

Kulo wani njabel tapi regane ora semono mbah. Waniku cuma seprapate, pripun mbah? (Aku berani membeli/memanen tapi harganya tidak segitu mbah. Beraniku cuma seperempat saja, bagaimana mbah?” kata tengkulak.

Mau tak mau si kakek melepas dengan harga yang jauh lebih murah. Bagaimana tidak, saat ini sudah tidak ada lagi tengkulak yang berani membeli ketela milik petani. Para tengkulak juga sudah banyak menanggung rugi, karena harga semakin tak terkontrol.

Hasil panenan yang tak seberapa itu, tak bakal cukup untuk menutup modal yang dikeluarkannya. Bahkan hasil panen itu kemungkinan tak akan cukup untuk digunakan memulai menanam kembali.

Kondisi seperti ini hampir terjadi di daerah-daerah yang menjadi penghasil ketela pohon di Kabupaten Pati. Tahun-tahun sebelumnya pada bulan Oktober seperti ini, para petani sudah mulai mengolah tegalannya dan tinggal menunggu hujan untuk memulai tanam.

Saat ini, saat musim hujan datang lebih cepat, justru para petani tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mau memulai tanam, wong ketelanya saja belum dipanen, tak ada tengkulak yang mau membeli. Jika kondisi ini berlarut-larut, petani khawatir ketelanya akan jadi busuk karena sudah berumur tua dan terus diguyur hujan.

Terpuruknya harga ketela ini hamper sama persis dengan kondisi beberapa tahun lalu. Harga ketela terjun bebas, dan tak ada tengkulak yang berani membeli. Para tengkulak hanya berani menjual jasa, yakni menjual jasanya memanen dan menjualkannya ke pabrik. Berapapun hasil penjualan dipotong untuk ongkos kuli, truk untuk angkut ketela dan ongkos capek, sisanya baru diberikan kepada pemilik. Namun saat ini pun tak banyak tengkulak yang mau menjual jasanya seperti itu.

Banyak yang bertanya-tanya kemana perginya pemerintah dalam kondisi seperti ini. Padahal ketela pohon merupakan salah satu komoditas andalan di Bumi Mina Tani. Separuh lebih petani di kabupaten ini menanami tanahnya dengan ketela pohon. Jika kondisi ini terus berlarut, maka petani akan semaki terjepit.

Apalagi di kalangan petani saat ini beredar kabar jika hancurnya harga ketela ini akan terus terjadi hingga musim panen tahun depan. Akibatnya, tak sedikit petani yang mulai ragu-ragu dan akhirnya mengolah tanahnya untuk beralih ke komoditas lain.

Pemerintah harus segera turun tangan. Misalnya dengan memberi kebijakan khusus seperti pada komoditas beras dan lainnya, yakni menentukan harga pembelian pemerintah (HPP). Dengan adanya patokan harga, maka petani akan terlindungi. Selain itu, harus ada upaya untuk menampung atau menyerap hasil panen petani, jika harga di pasaran tak terkontrol.

Sehingga ketika musim panen tiba, para tengkulak tak bisa bermain-main. Dan juga harga tak melulu menjadi kewenangan pabrik untuk menentukannya. Dengan adanya aturan ketat mengenai harga dasar ketela ini, maka para petani akan merasa terlindungi, dan peran pemerintah benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat. (*)

5 Persawahan Desa di Kecamatan Tambakromo Pati Dihuni Tikus Endemis

Petani di Desa Tambakharjo berburu hama tikus di lubang-lubang areal persawahan setempat, Kamis (20/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petani di Desa Tambakharjo berburu hama tikus di lubang-lubang areal persawahan setempat, Kamis (20/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tambakromo adalah satu di antara 21 kecamatan di Kabupaten Pati yang salah satu desanya dihuni tikus endemis. Populasi mereka sangat banyak dan susah dikendalikan hingga mengancam tanaman padi.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Tambakromo, Sri Wartini mengatakan, ada lima desa di Kecamatan Tambakromo yang dihuni tikus endemis dengan populasi yang cukup banyak. Di antaranya, Desa Tambakharjo, Mangunrekso, Tambakagung, Kedalingan, dan Karangawen.

Kendati begitu, Sri menyatakan bahwa serangan hama tikus di Kecamatan Tambakromo tahun ini masih aman dan terkendali. Pasalnya, para petani sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menekan populasi hama tikus endemis.

“Pada awal memasuki masa tanam, para petani biasanya melakukan geropyok tikus secara rutin. Hal itu diharapkan bisa mengurangi populasi tikus. Belum lagi, para petani sudah membuat rumah burung hantu. Keberadaan burung hantu yang menjadi predator alami tikus terbukti sangat ampuh mengendalikan hama tikus,” kata Sri kepada MuriaNewsCom.

Kemungkinan buruk akibat tidak ada pengendalian hama tikus bisa menyebabkan gagal panen. Koloni tikus bisa merusak tanaman padi sejak masih muda hingga ketika sudah siap panen. Karena itu, pengendalian hama tikus sangat diperlukan agar petani yang memiliki sawah di kawasan endemis tikus bisa panen dengan baik.

Namun, Sri menyarankan, agar pengendalian hama tikus tidak menggunakan kawat yang dialiri listrik. Selain sangat berbahaya bagi manusia, kawat listrik juga mengancam aneka predator alami yang memangsa tikus. “Kawat listrik sama sekali bukan menjadi solusi dan justru mengancam keselamatan diri sendiri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Petani di Pati Didorong Buat Badan Usaha Milik Petani, Ini Tujuannya

 Seorang petani mengambil gabah yang baru saja dipanen. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang petani mengambil gabah yang baru saja dipanen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati dengan segala sumber daya alam (SDA) yang melimpah diharapkan bisa dikelola petani dan masyarakat dengan baik. Salah satunya dengan mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang saat ini diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2013.

Hal itu dikemukakan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno. “Pati punya gunung, punya laut dan sawah. Kalau dikelola petani dan nelayan dengan manajemen yang baik melalui BUMP, saya kira petani bisa sejahtera,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Bahkan, BUMP diakui bisa memotong mata rantai permainan tengkulak dan mafia hasil pertanian lainnya. Dengan BUMP pula, pemberdayaan petani tak sekadar bergerak di wilayah pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), usaha, dan lingkungan saja.

Lebih dari itu, keberadaan BUMP disebut akan bisa meningkatkan posisi tawar petani ketika menjalin kemitraan. Sebab, BUMP sudah memiliki badan hukum sebagai legal-formalnya dalam melakukan kemitraan.

“Dengan BUMP, petani nanti memiliki saham sendiri. BUMP bukan sekadar sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat saja, tetapi juga lembaga bisnis bagi petani. Di sana, petani juga bisa melakukan manajerial bisnis dari hasil pertanian,” tambahnya.

Dengan memanfaatkan BUMP yang diatur dalam undang-undang, masyarakat Pati akan mencapai kejayaannya sebagai sebuah daerah yang benar-benar sejahtera melalui “mina” dan “tani”-nya. Karena itu, pemerintah diharapkan bisa ikut membantu misi itu melalui sebuah kebijakan yang terkomodasi dalam perda maupun perbup.

Baca juga :Serikat Petani Desak Pemkab Pati Buat Perda Perlindungan Petani

 Editor : Kholistiono

 

Serikat Petani Desak Pemkab Pati Buat Perda Perlindungan Petani

 Seorang buruh tani tengah memisahkan biji padi secara manual di areal persawahan Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang buruh tani tengah memisahkan biji padi secara manual di areal persawahan Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab Pati didesak untuk membuat turunan UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan Petani dalam bentuk peraturan daerah (perda). Desakan itu dilontarkan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah, Edi Sutrisno, Kamis (28/7/2016).

Dalam undang-undang tersebut, kata Edi, terdapat upaya untuk memberdayakan petani, kesinambungan, kedaulatan pangan, termasuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP). BUMP bisa dibuat dalam format perseroan terbatas (PT) atau koperasi.

“Kepemilikan saham di BUMP nanti harus dari petani. Makanya, petani juga harus tahu supaya bisa segera membuat BUMP yang berfungsi mengatur secara kelembagaan. Bila itu berjalan baik, petani akan sejahtera dan kedaulatan pangan akan terwujud,” tutur Edi.

Sayangnya, wacana BUMP yang ada dalam UU Nomor 19 Tahun 2013 kalah seksi dengan UU Nomor 6 Tahun 2013 tentang Desa yang salah satunya mengatur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Padahal, BUMDes diakui bersifat politis, sehingga tidak bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat yang sustainable.

Karena itu, ia mendorong pemerintah provinsi dan daerah untuk membuat turunan UU Perlindungan Petani dalam bentuk perda yang kemudian diatur secara terperinci pada peraturan bupati (perbup). “Pati sepertinya belum pernah menggagas untuk membuat perda dan perbup soal perlindungan petani, termasuk BUMP. Kami minta agar hal itu diprioritaskan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Kaya Nitrogen, Petani Pati Manfaatkan Orok-orok sebagai Pengganti Pupuk Kimia

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman orok-orok ternyata tak hanya berperan sebagai refugia yang mendatangkan predator alami bagi hama padi. Tanaman yang merupakan keluarga Fabaceae atau polong-polongan ini ternyata kaya akan unsur Nitrogen (N) yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia.

Sujak, Ketua Poktan Tanah Mas Desa Babalan, Kecamatan Gabus adalah salah satu petani yang sudah memanfaatkan tanaman Orok-orok sebagai refugia, sekaligus pupuk alami. Kandungan biomasa dan Nitrogen yang mencapai 3,01 persen, membuat orok-orok cocok sebagai pengganti pupuk kimia.

“Dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia melalui pemanfaatan Orok-orok, biaya produksi juga berkurang. Hasil panen juga tidak kalah bagus bila menggunakan pupuk kimia. Kalau biasanya saya gunakan 50 kg pupuk ponska dalam satu petak sawah, sekarang tidak lagi. Kami juga sudah tidak pakai pupuk urea,” ungkap Sujak.

Hal itu dibenarkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOT) Kecamatan Gabus, Sujianto. Pemanfaatan tanaman Orok-orok bisa lebih hemat penggunaan pupuk kimia mencapai 45 persen.

Unsur N sendiri dikenal punya peran penting untuk pertumbuhan tanaman pertanian, mulai dari penguat akar, batang, dan daun. Karena itu, tanaman yang ditanam di pinggiran pematang sawah ini bisa menjadi alternatif bagi petani sebagai pengganti pupuk kimia.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya menambahkan, saat ini tanaman refugia banyak dikembangkan di Desa Babalan. Petani sudah mulai tahu manfaat Orok-orok sebagai tanaman refugia, sekaligus alternatif pengganti pupuk kimia.

Sejumlah kalangan menyebut, pupuk kimia selain merusak tanah, juga tidak baik untuk kesehatan. Hasil pertanian yang terkontaminasi dengan pupuk kimia disebut sebagai biang kanker. Lebih dari itu, pupuk kimia cenderung memakan biaya produksi yang tinggi.

 Editor : Kholistiono

 

Petani di Babalan Pati Manfaatkan Tanaman Orok-orok untuk Basmi Hama Pertanian, Ini Keistimewaannya

 Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)


Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman bunga jenis orok-orok saat ini mulai dikembangkan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati. Tak hanya sebagai tanaman hias yang mempercantik sawah, bunga orok-orok yang mencolok menjadi sumber makanan bagi predator alami yang menjadi musuh hama pertanian.

Ketua Kelompok Tani Tanah Mas Desa Babalan, Sujak mengatakan, tanaman orok-orok punya kemampuan yang baik untuk memikat predator alami hama. Konsep tersebut, disebut sebagai sistem refugia yang sebetulnya sudah pernah dipakai petani masa lalu untuk memerangi hama.

Hanya saja, petani saat ini sudah mulai lupa dengan konsep dan sistem yang dipakai petani masa lalu. Padahal, konsep refugia diakui sangat efektif menanggulangi populasi hama secara alami. Imbasnya, petani menjadi hemat dalam penggunaan pupuk kimia.

“Tanaman orok-orok bisa mengundang lebah yang posisinya sebagai predator bagi hama pertanian. Lebah merupakan musuh alami bagi sejumlah jenis hama, seperti belalang sangit, wereng, penggerek batang, ulat, dan lain sebagainya,” kata penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya, Jumat (15/7/2016).

Selain orok-orok, kata dia, sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk sistem refugia adalah kecipir, turi, cokra-cakri, bunga matahari, tanaman bunga kertas, dan lainnya. Sistem refugia memilih jenis tanaman berbunga, lantaran bisa mengundang lebah, kumbang, lalat, kupu-kupu, dan beragam predator alami bagi hama.

Selain Desa Babalan, sejumlah petani yang mulai kembali memanfaatkan sistem refugia, di antaranya petani di Desa Tanjang dan Gabus. Diperkirakan, pemanfaatan tanaman refugia untuk mendukung aktivitas pertanian di Kecamatan Gabus saat ini sudah mencapai 20 persen.

Editor : Kholistiono

Petani Pati Diimbau Jual Hasil Penen Masa Tanam Kedua ke Bulog

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Komandan Koramil 15/Batangan Kapten Inf Muhammad Sofi’i mengimbau kepada petani di Kecamatan Batangan, Pati untuk menjual hasil panennya kepada Bulog. Hal itu diharapkan agar petani bisa membantu pemerintah dalam menyokong ketahanan pangan nasional.

“Pada masa tanam kedua, sejumlah petani di Desa Tlogomojo, Batangan rencananya akan menyimpannya sebagai cadangan kebutuhan pada musim kemarau mendatang karena sawahnya bersifat tadah hujan, sehingga sulit ditanami. Dari luas sawah 52 hektare, 37 hektare sawah di antaranya belum dipanen,” kata Sofi’i kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/6/2016).

Karena itu, ia memerintahkan kepada Babinsa desa setempat, Serda Darmanto untuk memantau, mencatat, dan menjalin kerja sama dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan kelompok tani (Poktan). Bila ada petani yang akan menjual hasil panen, kata dia, maka diarahkan untuk diserap Bulog.

“Masih ada 37 hektare sawah di Desa Tlogomojo yang belum dipanen pada masa tanam kedua. Kalau ada yang mau jual, memang kami arahkan supaya diserap Bulog. Bulog sendiri representasi dari pemerintah. Serapan gabah ke Bulog diharapkan bisa menopang ketahanan pangan,” imbuhnya.

Menanggapi perintah tersebut, Darmanto menuturkan, saat ini sudah mulai melakukan pendataan kepada petani yang belum memanen padinya. “Kami berharap petani bisa bekerja sama untuk menjual hasil panennya kepada pemerintah, yaitu Bulog,” harapnya.

Editor : Akrom Hazami

Hadapi Ramadan, Petani Pati Harapkan Harga Bawang Merah Stabil

bawang 2

Sejumlah petani Desa Bangsalrejo tengah menanam bawang merah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Desa Bangsalrejo, Kecamatan Wedarijaksa berharap agar harga bawang merah bisa stabil, menjelang Ramadan yang kurang beberapa hari lagi. Pasalnya, saat ini harga bawang merah anjlok di angka Rp 22 ribu per kilogram.

“Hari ini, kami mulai menanam lagi setelah panen dengan harga yang tidak memuaskan. Kami tidak putus asa, kami berharap harga bawang merah kembali stabil jelang Ramadan sampai Lebaran nanti,” ujar Marsudi, petani bawang merah asal Desa Bangsalrejo, Rabu (18/5/2016).

Ia mengatakan, hasil panen yang bagus saat harga melambung sangat jarang terjadi. Rata-rata, kata dia, momentum panen biasanya disertai dengan harga yang turun drastis.

Kendati begitu, Marsudi tidak terlalu mempersoalkan anjloknya harga bawang merah di tengah panen raya, selama pupuk tidak langka dan harga pupuk tidak melambung tinggi. “Harga bawang merah anjlok saat panen raya bukan jadi persoalan bila harga pupuk tidak tinggi dan ketersediannya tidak langka,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa membuat kebijakan atau terobosan agar harga bawang merah tetap stabil. Kalau tidak begitu, rakyat yang menjadi petani bawang merah dipastikan selalu merugi.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Petani Pati Sulap Pupuk dan Pakan Ternak Jadi Makanan Lezat

Jpeg

Ita menunjukkan stik Azolla hasil olahan pangan dari tanaman Azolla yang ia taruh di ember. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pegiat pertanian asal Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Endah Tri Yusnita berhasil menyulap tanaman paku air Azolla microphylla yang selama ini dipakai untuk pupuk dan pakan ternak, menjadi makanan lezat.

Ia mengatakan, tanaman Azolla dicuci bersih, kemudian diblender bersama gula. Setelah itu, Azolla yang sudah diblender dicampur dengan bahan-bahan utama seperti tepung terigu, keju, garam, dan gula.

“Semua bahan diaduk-aduk hingga benar-benar menyatu. Selanjutnya, bahan dipotong dan dimasukkan dalam mesin pembuat mie. Kalau sudah berbentuk potongan kecil-kecil memanjang, goreng dan tiriskan,” ujar Ita, Rabu (11/5/2016).

Tanaman Azolla didapatkan Ita dari sejumlah petani yang memiliki Azolla. Di rumahnya, Ita menyimpan Azolla dalam ember yang dijadikan indukan. Sebab, tanaman ini mudah berkembang biak.

“Azolla tumbuh subur bila airnya diberi cucian ikan atau cucian beras. Selama ini, tanaman itu dimanfaatkan petani sebagai pupuk alami untuk berbagai tanaman. Azolla juga dimanfaatkan untuk pakan ternak. Namun, saya mencoba untuk membuatnya sebagai olahan pangan stik,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dia, masyarakat masih belum tahu bila Azolla yang hidup subur di areal persawahan itu bisa dimanfaatkan sebagai olahan pangan yang kaya akan gizi. “Saya sendiri bingung mencari nama lain Azolla dalam bahasa Jawa. Masyarakat kurang akrab dengan manfaat Azolla,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Pertama di Dunia! Petani Pati Ciptakan Olahan Pangan dari Azolla 

Pertama di Dunia! Petani Pati Ciptakan Olahan Pangan dari Azolla

Ita menunjukkan stik yang dibuat dari tanaman paku air Azolla microphylla. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ita menunjukkan stik yang dibuat dari tanaman paku air Azolla microphylla. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Di saat sejumlah peneliti di berbagai negara melakukan penelitian tanaman paku air Azolla microphylla untuk dijadikan sumber pangan alternatif, petani di Pati justru sudah memanfaatkannya sebagai olahan pangan.

Di Perumahan Kusuma Indah Gang IV Nomor 19, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, misalnya. Seorang ibu bernama Endah Tri Yusnita yang berkecimpung di dunia pertanian berhasil menyulap Azolla menjadi stik yang enak dan renyah.

Ide itu berawal dari pertemuan teman-temannya di komunitas organik. Awalnya, Ita hanya mengetahui bila Azolla selama ini dimanfaatkan sebagai pupuk alami dan pakan ternak, karena kaya akan protein dan mampu mengikat nitrogen dari udara bebas.

“Ada yang nyeletuk, bagaimana kalau Azolla dijadikan olahan pangan. Dari situ, saya bereksperimen membuatnya menjadi olahan stik. Ternyata hasilnya bagus, rasanya enak, dan tentunya kaya akan protein,” ujar Ita kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/5/2016).

Produk stik Azolla pun dijual dengan harga Rp 12 ribu per 200 gram. Dibuat dengan bahan keju, stik Azolla buatan Ita yang memiliki cita rasa asin, gurih, dan manis kian digemari pelanggan.

“Selain dijual di rumah, saya juga menjual di Pasar Pragola dan sejumlah toko. Semua bahan stik Azolla bebas bahan kimia. Setahu saya, belum ada yang membuat stik dari Azolla, bahkan di dunia sekalipun,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pancaroba Mengintai, Petani di Banyuurip Pati Siapkan Green House untuk Selamatkan Bibit Tanaman

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Memasuki April, peralihan musim dari musim hujan menuju kemarau tampaknya sudah mengintai dengan kadar intensitas hujan yang mulai minim. Untuk mengantisipasi hal itu, sejumlah kelompok tani wanita (KWT) Berkah Lumintu Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo menyiapkan “green house” untuk menyelamatkan bibit-bibit tanaman.

“Dengan green house, kondisi cuaca, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya bisa dikendalikan. Meski ada peralihan musim yang berpotensi menyebabkan perubahan cuaca, kita sudah bisa melakukan antisipasi,” ujar Ketua KWT Berkah Lumintu, Sudarmi kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016).

Ia menilai, bibit-bibit tanaman yang disiapkan untuk ditanam seperti cabai, sawi, dan beragam sayuran lainnya bisa saja mati dengan mudah lantaran cuaca tidak mendukung. Namun, ia saat ini tak lagi khawatir karena sudah menyiapkan green house.

Baca juga : Petani Wanita Desa Banyuurip Pati Ciptakan Rumah Kaca dari Bambu dan Plastik

“Perubahan suhu dan kelembaban yang fluktuatif memang memengaruhi kondisi bibit tanaman. Belum lagi, tiupan angin kencang berpotensi merobohkan tanaman, merusak daun, dan menggagalkan proses penyerbukan bunga. Kekhawatiran itu akhirnya membuat kita sepakat untuk membuat rumah hijau dari kerangka bambu dan penutup dari plastik,” imbuhnya.

Sementara itu, Sri Ratnawati yang juga bergiat di KWT Berkah Lumintu mengatakan, daerah Banyuurip dikenal sebagai daerah perbukitan yang subur dan kaya akan ragam tanaman. Beberapa kali tanaman rambutan miliknya diserang hama seperti jamur dan bakteri.

Hal itu juga menginspirasi Ratna untuk ikut membuat green house. “Rumah hijau ini juga untuk mengantisipasi adanya hama pengganggu dan penyakit tanaman lainnya seperti jamur dan bakteri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemkab Pati Kucurkan Dana Rp 2,1 Miliar untuk Percepatan Tanam di Desa Wotan Pati

Bupati Pati Haryanto memanen padi di Desa Wotan, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto memanen padi di Desa Wotan, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab Pati mengucurkan dana Rp 2,1 miliar untuk kepentingan percepatan tanam di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Pati. Hal itu diharapkan agar kelompok tani bisa melakukan tanam serentak.

Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/3/2016) mengatakan, percepatan tanam menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah untuk melakukan tanam serentak. Dengan begitu, hama padi bisa diantisipasi dengan baik.

”Kalau petani bisa panen serentak, hama tidak akan menular dari satu sawah ke sawah yang lainnya. Misalnya saja hama tikus. Hewan itu minimal akan kuwalahan ketika makan padi sebanyak ribuan hektare,” kata Haryanto.

Desa Wotan sendiri merupakan daerah penyuplai pangan terbesar di Pati. Tak hanya itu, desa itu memiliki luas sawah paling besar di Pati, bahkan terluas di Indonesia untuk ukuran desa.

Pemberdayaan kelompok tani di desa Wotan diharapkan bisa menjadi penyangga pangan di wilayah Pati dan nasional. ”Kalau pengairan sawah lancar dan dimanajemen dengan baik, petani bisa panen sebanyak tiga kali dalam setahun,” ungkapnya.

Karena itu, Ketua Gapoktan Desa Wotan, Rosidi meminta kepada bupati untuk membuat embung supaya pengairan di daerah tersebut lancar saat musim kemarau dan air bisa dimanajemen dengan baik pada musim hujan. ”Betul kata Pak Bupati, kalau pengairan lancar, kami bisa penen tiga kali dalam setahun. Karenanya, saya meminta kepada bupati untuk membuat embung,” harap Rosidi.

Tak hanya itu, ia juga meminta kepada pemkab untuk memberikan bantuan alat panen dan hand tracktor. Hal itu untuk menunjang produktivitas pertanian terkait dengan percepatan tanam.

Belum lagi, luas sawah di desa Wotan mencapai 1.723 hektare. Dengan sawah seluas itu bila dikerjakan dengan tenaga manusia secara manual dinilai butuh waktu lama, sehingga panen serentak tidak bisa dilaksanakan dengan baik.

Sesuai dengan target, petani di Desa Wotan diharapkan bisa kembali menanam padi maksimal 31 Maret 2016. Bila musim hujan selesai, pengairan di daerah tersebut cukup menjadi kendala. ”Semoga saja pada April dan Mei masih ada hujan,” tukasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Optimalkan Pertanian Off Farm, Gapoktan Tani Makmur Jadi Nominasi Terbaik Pati Kota

Gapoktan Tani Makmur Desa Winong, Kecamatan Pati dalam suatu acara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gapoktan Tani Makmur Desa Winong, Kecamatan Pati dalam suatu acara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dunia pertanian ternyata tidak semata dengan bercocok tanam. Pengolahan hasil pertanian dan peternakan juga menjadi bagian dari dunia pertanian.

Hal itu yang ditunjukkan Gabungan kelompok tani (gapoktan) “Tani Makmur” Desa Winong, Kecamatan Pati. Kendati di desanya hanya memiliki lahan pertanian yang minim, tetapi kelompok taninya dianggap prestasi karena bisa memanfaatkan pertanian off farm.

Kepala Desa Winong Jarnawi kepada MuriaNewscom, Kamis (3/2/2016) mengatakan, lahan pertanian di Winong hanya berkisar di angka sepuluh hektare saja. Praktis, lahan tersebut sangat minim bila hanya mengandalkan pertanian on farm.

Dengan demikian, gapoktan setempat berupaya untuk mengoptimalkan peran off farm dengan mengandalkan olahan hasil pertanian dan peternakan. Jika tidak begitu, pertanian di Desa Winong tidak akan pernah maju.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Tani Makmur Eko Jati Hartini mengaku, mereka lebih banyak bergiat dengan mengoptimalkan hasil pertanian di antaranya berdagang sayur keliling, membuka kios di pasar, hingga di rumah-rumah.

”Hasil pertanian juga dimanfaatkan bakul nasi dan lontong, serta beberapa di antaranya dibuat makanan kecil misalnya tempe dan rempeyek. Pemanfaatan hasil tani itulah yang dinamakan off farm, mengingat lahan pertanian di desa kami sangat minim,” imbuhnya.

Prestasi itu membuat gapoktan Tani Makmur sempat mendapatkan dana hibah program usaha agribisnis pedesaan (PUAP) senilai Rp 100 juta. Dana itu disalurkan kepada anggota gapoktan yang memiliki usaha pertanian, peternakan, dan usaha lain berbasis pertanian.

Editor: Titis Ayu Winarni

Petani Pati Disenjatai Ini untuk Atasi Hama Blast

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Ayom menyemprot hama blast secara serentak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Ayom menyemprot hama blast secara serentak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Ayom, Dukuh Randu, Desa Kutoharjo, Pati diberi stimulan pestisida dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati untuk mengatasi hama blast yang mulai menyerang tanaman padi pada masa tanam pertama.

Pengamat Hama Penyakit pada Balai Penyuluhan Kecamatan Pati Tri Agus Susanto mengatakan, bantuan stimulan itu dibagikan kepada petani sebagai upaya untuk menanggulangi hama blast yang mulai mengancam sekitar 40 hektare tanaman padi.

“Petani diberi stimulan untuk melakukan pencegahan untuk menekan populasi hama blast yang kian merambah dari satu sawah ke sawah lainnya. Mereka diminta untuk menyemprot pestisida stimulan itu secara serentak,” ujar Agus kepada MuriaNewsCom, Kamis (11/2/2016).

Dengan gerakan penyemprotan serentak, hama itu akan hilang secara tuntas. Lagipula, hama penggerek tanaman padi juga mulai menyerang sejak masa tanam pertama sekitar dua pekan lalu.

“Kalau penyemprotan dilakukan secara individu, hama itu akan pindah ke areal sawah tetangga. Karena itu, penyemprotan secara serentak diperlukan supaya hama benar-benar hilang secara tuntas, bukan berpindah tempat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : 40 Hektare Sawah di Dukuh Randu Pati Terancam Hama Blast

40 Hektare Sawah di Dukuh Randu Pati Terancam Hama Blast

Sukarman menunjukkan padi di Dukuh Randu, Kutoharjo, Pati yang mulai diserang hama blast. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sukarman menunjukkan padi di Dukuh Randu, Kutoharjo, Pati yang mulai diserang hama blast. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya ada 40 hektare sawah di Dukuh Randu, Desa Kutoharjo, Kecamatan Pati terancam hama blast. Dalam dua pekan terakhir, sudah ada 20 hektare yang mulai terkena dampak hama yang disebabkan jamur ini.

Baca juga : 376 ha Tanaman Padi di Kecamatan Winong Terserang Blast 

Hal itu diamini Ketua Kelompok Tani Sri Ayom Dukuh Randu Sukarman. Ia mengatakan, hama blast disebabkan dua faktor, yaitu peralihan musim dan kesalahan petani yang menggunakan pupuk urea berlebihan.

”Pertama, hama blast disebabkan kondisi cuaca yang awalnya kering menjadi lembab karena musim hujan. Hal itu memicu munculnya jamur cendawan. Hama itu menyerang semua bagian tanaman, mulai dari batang hingga daun yang perlahan memutih kemudian mengering dan mati,” ujar Sukarman kepada MuriaNewsCom, Kamis (11/2/2016).

Kedua, lanjutnya, hama blast disebabkan pemberian pupuk urea yang berlebih. Akibatnya, cendawan tumbuh subur pada tanaman padi yang menyebabkan matinya tanaman.

”Musim hujan menyebabkan lingkungan terlalu lembab dan kadar urea yang diberikan terlalu tinggi menyebabkan hama blast tumbuh subur,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bulog Pati Enggan Beli Gabah Petani dengan Harga Mahal

Petani di Pati sudah mulai panen yang ditanam pada masa tanam ketiga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petani di Pati sudah mulai panen yang ditanam pada masa tanam ketiga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Minimnya serapan gabah kering dan beras dari petani di Pati ke Bulog Sub Divre II Pati pada awal tahun bukan tanpa alasan. Di satu sisi, petani minta supaya hasil panennya dihargai tinggi.

Di sisi lain, pihak Bulog masih enggan bila harga gabah dan beras di pasaran masih tinggi. Hal itu diakui Kepala Bulog Sub Divre II Pati Ahmad Kholisun.

“Awal tahun ini, Bulog masih belum melakukan penyerapan dari petani. Harga gabah dan padi di pasaran masih terlalu tinggi,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Saat ini, harga gabah kering panen di pasaran mencapai Rp 4.100 hingga Rp 4.300 per kilogram. Itu pun petani masih menginginkan harga gabah kering panen di atas Rp 4.500 per kilogram.

“Kami ingin pembeli bisa membeli gabah di atas Rp 4.500 per kilogram. Semua itu karena pengaruh penerapan pupuk berimbang, sehingga menambah biaya operasional bagi petani,” kata Manteri Tani Kecamatan Pati Sukamto.

Belum lagi, petani harus berhadapan dengan hama tikus yang menyerang bertubi-tubi, kekeringan panjang dan banjir yang menjadi ancaman puso, dan biaya operasional pertanian yang cukup tinggi.

Editor : Kholistiono

Baca juga:

Petani di Pati Pilih Jual Hasil Tani ke Tengkulak Ketimbang ke Bulog

Petani di Pati Pilih Jual Hasil Tani ke Tengkulak Ketimbang ke Bulog

Petani di Pati tengah memanen padi yang ditanam pada masa tanam ketiga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petani di Pati tengah memanen padi yang ditanam pada masa tanam ketiga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Pati enggan menjual hasil taninya kepada Bulog Sub Divre II Pati. Pasalnya, tengkulak berani menghargai hasil tani dengan mahal ketimbang Bulog.

Hal itu yang membuat petani lebih memilih menjualnya kepada tengkulak ketimbang kepada pihak Bulog. Hal itu diakui Sukamto, Manteri Tani Kecamatan Pati.

“Petani ingin hasil taninya yang ditanam dengan berjibaku dan kerja keras dihargai mahal. Jadi, petani bisa dipastikan memilih pembeli yang mau menawar dengan harga tinggi,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (9/2/2016).

Ia mengaku, selama ini Bulog menawar dengan harga di bawah tengkulak. Karena itu, ia meminta agar pihak pemerintah tidak menyalahkan petani jika hasil panennya tidak terserap Bulog dengan baik.

“Tengkulak biasanya membawa hasil panen petani Pati ke luar daerah, seperti Jawa Timur dan Bali. Lagi-lagi, karena mereka berani menghargai hasil tani lebih tinggi. Intinya, siapa yang mau beli lebih tinggi, di situlah petani akan menjual,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono