Pemkab Jepara Tak Mampu Kabulkan Tuntutan Petani Kepuk Jepara Terkait Galian C

Bendungan sungai yang roboh akibat dampak aktifitas galian C di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bendungan sungai yang roboh akibat dampak aktifitas galian C di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendapatkan aduan dari petani yang berada di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara soal aktifitas penambangan galian C meresahkan. Meski begitu, Pemkab Jepara tak mampu mengabulkan tuntutan petani yang menginginkan agar aktifitas galian C ditutup.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebupaten Jepara Trisno Santosa menjelaskan, pihanya sebagai aparat di tingkat Kabupaten Jepara tidak memiliki wewenang terkait penambangan yang ada. Sebab, wewenang sudah diambil alih semua oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov).

”Untuk itu, kami dengan para warga dan petani sepakat masalah ini akan disampaikan ke Pemprov karena wewenang ada disana semua,” ujar Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Rabu (1/6/2016).

Menurut dia, mengenai keluhan dan tuntutan yang disampaikan oleh petani tersebut telah sampai di pucuk pimpinan Pemkab Jepara yakni Bupati Jepara. Pihaknya juga mengaku diperintahkan untuk mampu menjembadani masalah ini dengan Satpol PP Provinsi Jawa Tengah.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bidang ESDM pada Dinas Bina Marga Pengairan ESDM Jepara, Ngadimin yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Menurut Ngadimin, pihaknya akan berkordinasi dengan ESDM Provinsi. Bahkan, rencananya dalam waktu dekat akan dilakukan inspeksi mendadak oleh Pemprov ke sejumlah aktifitas galian C di Jepara.

”Kami sebenarnya sudah mulai berkoordinasi dengan Pemprov. Nantinya akan ditinjau ulang masalah aktifitas penambangan tersebut yang dianggap warga dan petani menganggu itu,” ungkap Ngadimin.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi yang dia terima dari ESDM Provinsi Jawa Tengah, galian C yang dikeluhkan oleh petani Desa Kepuk tersebut mengantongi ijin. Hanya saja, ketika menganggu lingkungan, maka akan dilakukan peninjauan kembali.

Editor: Supriyadi

Kian Meresahkan, Petani Desa Kepuk Jepara Ngadu Galian C ke Satpol PP

Satpol PP Jepara saat menerima aduan petani di DesaKepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Satpol PP Jepara saat menerima aduan petani di DesaKepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sejumlah petani yang ada di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara mengadu soal keberadaan tambang galian C yang meresahkan ke Pemkab Jepara. Aduan tersebut dilakukan di kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jepara, Rabu (1/6/2016).

Selain ditemui oleh pihak Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa, mereka juga ditemui oleh Kabid ESDM pada Dinas Bina Marga Pengairan ESDM Jepara, Ngadimin.

Salah seorang perwakilan petani, Purwoko mengatakan, pihaknya bersama beberapa petani Desa Kepok sengaja mengadu ke Pemkab Jepara soal aktifitas galian C. Pihaknya menilai, aktifitas galian C selama ini merugikan petani maupun pemilik lahan persawahan disekitar lokasi penambangan.

”Ada sekitar 80 hektar lebih lahan yang dirugikan. Aktifitas galian C di sungai melebar ke area lahan milik warga,” ujar Purwoko kepada MuriaNewsCom, Rabu (1/6/2016).

Lebih lanjut dia menerangkan, keluhan tersebut sebenarnya sudah disampaikan ke pihak Desa. Namun pihak Desa tidak memberikan tanggapan atas aduan tersebut. Selain itu, pihaknya juga telah mengadu ke pihak Camat. Namun lagi-lagi tidak mendapatkan tanggapan yang memuaskan.

”Pak Camat hanya menyampaikan bahwa pihaknya tidak bisa apa-apa. Semua wewenang soal penambangan ada di pihak Provinsi,” ungkap Purwoko.

Dia menambahkan, pengaduan ke Pemkab Jepara ini dalam rangka ikhtiar mencari keadilan. Dia juga mengaku sengaja ke pihak Satpol PP dengan harapan Satpol PP sebagai aparat penegak hukum Pemkab Jepara mampu memberikan tanggapan yang memuaskan.

”Meskipun wewenang ada di Provinsi, setidaknya Satpol PP bisa memberikan peringatan dan menyalurkan aspirasi kami ke Provinsi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi