Pancaroba Mengintai, Petani di Banyuurip Pati Siapkan Green House untuk Selamatkan Bibit Tanaman

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sudarmi (kiri) dan Ratna melihat kondisi bibit cabai yang ia tanam di rumah hijau. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Memasuki April, peralihan musim dari musim hujan menuju kemarau tampaknya sudah mengintai dengan kadar intensitas hujan yang mulai minim. Untuk mengantisipasi hal itu, sejumlah kelompok tani wanita (KWT) Berkah Lumintu Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo menyiapkan “green house” untuk menyelamatkan bibit-bibit tanaman.

“Dengan green house, kondisi cuaca, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya bisa dikendalikan. Meski ada peralihan musim yang berpotensi menyebabkan perubahan cuaca, kita sudah bisa melakukan antisipasi,” ujar Ketua KWT Berkah Lumintu, Sudarmi kepada MuriaNewsCom, Kamis (31/3/2016).

Ia menilai, bibit-bibit tanaman yang disiapkan untuk ditanam seperti cabai, sawi, dan beragam sayuran lainnya bisa saja mati dengan mudah lantaran cuaca tidak mendukung. Namun, ia saat ini tak lagi khawatir karena sudah menyiapkan green house.

Baca juga : Petani Wanita Desa Banyuurip Pati Ciptakan Rumah Kaca dari Bambu dan Plastik

“Perubahan suhu dan kelembaban yang fluktuatif memang memengaruhi kondisi bibit tanaman. Belum lagi, tiupan angin kencang berpotensi merobohkan tanaman, merusak daun, dan menggagalkan proses penyerbukan bunga. Kekhawatiran itu akhirnya membuat kita sepakat untuk membuat rumah hijau dari kerangka bambu dan penutup dari plastik,” imbuhnya.

Sementara itu, Sri Ratnawati yang juga bergiat di KWT Berkah Lumintu mengatakan, daerah Banyuurip dikenal sebagai daerah perbukitan yang subur dan kaya akan ragam tanaman. Beberapa kali tanaman rambutan miliknya diserang hama seperti jamur dan bakteri.

Hal itu juga menginspirasi Ratna untuk ikut membuat green house. “Rumah hijau ini juga untuk mengantisipasi adanya hama pengganggu dan penyakit tanaman lainnya seperti jamur dan bakteri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Petani Wanita Desa Banyuurip Pati Ciptakan Rumah Kaca dari Bambu dan Plastik

Petani

Sudarmi (kanan) dan teman kelompok wanita tani tengah melihat kondisi bibit di dalam green house bambu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Keterbatasan dana tidak lantas membuat sejumlah kelompok tani wanita (KWT) Berkah Lumintu di Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo, Pati terbatas dalam mengembangkan budidaya tanaman. Keterbatasan itulah justru dimanfaatkan untuk membuat suatu terobosan yang inovatif.

Salah satu karya yang dibuat, antara lain rumah kaca atau yang akrab didengar “green house”. Rumah ini dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan buruk dari bibit-bibit yang ditanam akibat cuaca.

Berhubung tidak ada dana untuk membuat green house seperti yang diterapkan di dunia pertanian modern dalam skala besar, mereka akhirnya memanfaatkan bambu dan plastik untuk disulap menjadi rumah kaca. Bentuknya pun menarik dan tak kalah dengan green house pada umumnya.

Ketua KWT Banyuurip Sudarmi kepada MuriaNewsCom mengatakan, green house digunakan untuk sarana pembibitan ragam tanaman, sekaligus tempat karantina tanaman. “Dananya minim. Jadi, kita manfaatkan yang ada, seperti bambu dan plastik,” ujarnya, Kamis (31/3/2016).

Ia mengatakan, bambu dan plastik memang tidak bisa bertahan lama seperti bahan tembus cahaya lainnya seperti kaca, achrilic, dan sejenisnya. Namun, kedua bahan itu cukup bisa diandalkan untuk melakukan karantina tanaman-tanaman selama tiga hingga empat tahun.

“Itupun kalau bambu belum lapuk, kita masih bisa terus gunakan. Plastiknya juga harus tebal biar awet. Rumah kaca ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya matahari dan kadar air hujan,” kata Darmi.

Editor : Kholistiono