Digerojok Bantuan Peralatan, Petani di Blora Diminta Tingkatkan Hasil Panen

MuriaNewsCom, BloraPara petani diminta untuk membantu program pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan nasional. Caranya, dengan berupaya untuk terus meningkatkan produksi atau hasil panen. Hal itu disampaikan Bupati Blora Djoko Nugroho saat menyerahkan bantuan peralatan dan mesin pertanian (Alsintan) pada petani di Kantor Dinas Pertanian.

Dalam acara itu Djoko mengatakan, adanya bantuan peralatan tersebut akan mempercepat pengolahan tanah buat persiapan musim tanam. Dengan demikian, waktu yang diperlukan untuk persiapan bisa lebih singkat dibandingkan dengan memakai alat pengolah sawah tradisional.

“Saya harapkan dengan adanya bantuan peralatan ini, secara tidak langsung bisa meningkatkan produksi hasil pertanian. Tolong bantuan peralatan ini dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Khusus bantuan traktor, jangan ditinggal disawah karena rawan pencurian,” pesannya.

Menurut Djoko, bantuan alsintan itu diperuntukkan bagi kelompok tani. Artinya bantuan itu merupakan milik bersama dan digunakan bersama-sama secara bergantian, bukan milik pribadi.

“Boleh disewakan kepada petani lain di luar kelompok tani tetapi jangan mahal-mahal. Ojo didol, nek konangan ngko ra tak wek i bantuan neh (Jangan dijual, kalau ketahuan dijual nanti tidak akan diberikan bantuan lagi-red),” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora Reni Miharti menyatakan, jumlah alsintan yang dibagikan kali ini sebanyak 99 unit. Yakni, dari APBN meliputi bantuan traktor roda dua sebanyak 15 unit, rice transplanter 2 unit, cultivator 3 unit dan rota tanam 1 unit.

Kemudian dari APBD Provinsi ada bantuan power thresser 5 unit, dan corn sheller 3 unit. Sedangkan lewat APBD Kabupaten Blora bantuan alsintan berwujud traktor roda dua sebanyak 70 unit.

“Jumlahnya penerima ada 99 kelompok tani. Masing-masing kelompok tani mendapatkan satu unit alsintan. Penerima adalah kelompok tani yang sebelumnya mengajukan bantuan dan sudah terverifikasi oleh tim Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sehingga dinyatakan layak menerima alsintan,” jelas Reni.

Editor: Supriyadi

Gandeng Qaryah Thayyibah, Bupati Kudus Kembangkan Ekonomi Desa lewat Pertanian

MuriaNewsCom, Kudus – Tekad Bupati Kudus Musthofa untuk mengembangkan pertanian di Kudus kembali digenjot. Di enam bulan terakhir masa jabatannya ini, ia mengajak masyarakat petani lebih berdaya. Yakni dengan menggandeng Qaryah Thayyibah Salatiga.

Acara pelatihan peserta dan pendamping dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) Disnakerperinkop UKM Kudus selama tiga hari yang dimulai pada Senin (12/2/2018). Dengan diikuti 107 orang dengan fokus utama di Kecamatan Dawe dan Undaan.

Mereka berasal dari kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD) dan fasilitator pemberdayaan ekonomi desa. Dengan tujuan terwujudnya pemberdayaan ekonomi desa dengan konsep jamaah produksi sebagaimana diterapkan di Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT).

Bupati Kudus mengaku bahagia bisa merealisasikan program Presiden RI dalam mewujudkan nawacita. Salah satunya membangun kekuatan ekonomi dari desa. Apalagi saat ini Kudus merupakan yang pertama dan satu-satunya yang kerja sama dengan SPPQT.

“Saya hanya ingin desa bisa mandiri, semua masyarakat bisa tersenyum bahagia, dengan kesejahteraan yang semakin meningkat,” kata Musthofa saat sambutan..

Ia berpesan pada seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan ini sebaik-baiknya. Karena manfaat yang didapat akan sangat besar bagi perekonomian. Terlebih potensi pertanian di Kudus sangat besar yang tentunya harus dioptimalkan.

“Ini kesempatan berharga dan sangat langka bisa bersama belajar dari Kang Din (Ahmad Bahruddin, red) dari Qaryah Thayyibah ini,” lanjutnya.

Termasuk dukungan dari camat dan seluruh OPD diharapkan bisa mengkoordinir hingga implementasinya. Karena tidak ada kata lain selain demi kepentingan dan kemaslahatan umat.

Menanggapi hal ini, Kang Din menyambut positif kegiatan di Kudus ini. Menurutnya ini tindak lanjut positif bagi keberkuasaan ekonomi rakyat khususnya pertanian.

“Bagus sekali gagasan Pak Musthofa ini. Tentu ini bagus untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena mayoritas masyarakat desa di Kudus adalah petani,” kata Kang Din.

Editor: Supriyadi

Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, Selasa (23/1/2018). Dalam kesempatan itu, ia didampingi oleh Bupati Kudus Musthofa dan jajaran terkait.

“Ini adalah panenkedua setelah kita melakukan panen raya di Demak. Luasan lahannya cukup luas, semoga produksi ini bisa menjadi stok (di Bulog). Harga gabah sudah mulai menurun karena wilayah-wilayah di Indonesia sudah mulai panen. Kita jaga terus harga pembelian pemerintah (HPP) agar jangan sampai merugikan petani,” ucap Amran.

Sementara itu Bupati Kudus Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar setop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Dalam kesempatan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

Adapun, luas hamparan sawah di Desa Berugenjang ‎adalah 516 hektar, dengan provitas atau hasil produksi 7-8 ton per hektar. Sedangkan varietas padi yang ditanam adalah ciherang.

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Grobogan Kembangkan Budidaya Nanas Merah

Kasi Buah Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Grobogan Slamet Waluyo menunjukkan nanas merah yang sudah berbuah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Beberapa tanaman nanas merah yang ada di kebun milik Dinas Pertanian Grobogan berhasil tumbuh dengan baik. Bahkan, salah satunya sudah mengeluarkan buah.

Sesuai jenisnya, buah nanas terlihat berwarna merah. Beda dengan nanas biasa yang buahnya berwarna hijau kekuning-kuningan.

“Beberapa waktu lalu, kita melakukan uji coba penanaman nanas merah. Ternyata bisa tumbuh baik dan ada yang sudah berbuah. Kedepan, komoditas nanas merah ini layak dikembangkan,” kata Kasi Buah Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Grobogan Slamet Waluyo.

Menurut Slamet, bibit nanas meras didapat dari petani di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan. Petani yang tinggal di pinggir kawasan hutan itu menanam nanas buah di pekarangan.

Bibit nanas merah itu kemudian ditanam di kebun yang berada di komplek kantor Dinas Pertanian. Nanas merah yang ditanam ada dua macam. Yakni, berdaun halus dan daunnya berduri tajam.

Bibit nanas ada yang ditanam langsung dilahan. Beberapa bibit lagi ditanam dalam pot besar.

”Dari uji coba yang kita lakukan, nanas yang ditanam dalam pot lebih baik pertumbuhannya. Nanas yang keluar buahnya ini hasil tanam dalam pot. Nanas yang ditanam langsung ditanah pertumbuhannya kurang maksimal,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Hindari Penyalahgunaan, DPRD Grobogan Minta Dinas Ketahanan Pangan Kelola Mesin Pengering

Kepala DKP Muhammad Hidayat (baju hijau) saat mendampingi Komisi B DPRD memeriksa mesin pengering gabah di Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari, Sabtu (18/3). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) diminta mengambil alih pengelolaan mesin pengering gabah yang ada di kompleks Sistem Resi Gudang, Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari.

Permintaan itu dilontarkan Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo berdasarkan masukan yang didapat serta hasil kunjungan ke lokasi.

“Hari Sabtu (18/3/2017) Komisi B sudah melakukan kunjungan ke tempat mesin pengering gabah tersebut bersama DKP. Kami minta pada Kepala DKP untuk mengelola penggunaan mesin pengering itu,” kata Budi di Grobogan, Senin (20/3/2017).

Menurutnya, mesin pengering gabah berkapasitas hingga 10 ton itu merupakan bantuan dari DKP Provinsi Jawa Tengah beberapa tahun silam. Untuk pengelolaanya diserahkan pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulia yang ada di wilayah tersebut.

Mesin pengering itu selama ini digunakan secara bergantian oleh para petani yang berada di bawah naungan gapoktan tersebut. Namun pada saat musim panen MT I akhir tahun 2016 hingga awal 2017 lalu dikabarkan sempat terjadi sedikit persoalan. Hal ini seiring  adanya orang dari luar gapoktan yang juga berkeinginan untuk menggunakan mesin pengering tersebut.

“Informasi yang kita terima, ada pihak di luar anggota gapoktan yang ingin pakai mesin pengering. Hal ini tentu bisa memicu konflik jika tidak disikapi. Oleh sebab itu, kami merekomendasikan supaya penggunaan mesin pengering diatur dinas terkait saja,” jelasnya.

Budi menambahkan, keberadaan mesin pengering memang sangat dibutuhkan petani. Khususnya, saat puncak panen MT I. Sebab, puncak panen ini biasanya berlangsung saat curah hujan tinggi sehingga untuk mengeringkan gabah butuh bantuan mesin pengering.

 

Editor : Akrom Hazami

Menteri Pertanian, Panen Raya Padi di Blora

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Selasa (24/01/2017) menghadiri panen raya padi di lahan milik Pelda Wardoyo (Babinsa Koramil 08/Kedungtuban) Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. (ISTIMEWA)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Selasa (24/01/2017) menghadiri panen raya padi di lahan milik Pelda Wardoyo (Babinsa Koramil 08/Kedungtuban) Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Selasa (24/01/2017) menghadiri panen raya padi di lahan milik Pelda Wardoyo (Babinsa Koramil 08/Kedungtuban) Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. Dengan luas siap panen 1.182 hektare.

Di lokasi panen raya padi, Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman didampingi Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Brigjen TNI M Afifudin, Aster Kasdam IV/Diponegoro Kolonel Kav Puji Setiono, Bupati Blora Djoko Nugroho, langsung melakukan panen raya dilanjutkan tanam padi dengan menggunakan mesin Transplanter.

Bukan sekadar panen raya agenda kunjungan kerja Menteri Pertanian di wilayah Kabupaten Blora, Andi juga membawa sejumlah bantuan kepada para petani Desa Pulo Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, yakni bantuan berupa peralatan dan mesin pertanian. Bukan hanya itu, Jamini (45) tahun isteri Sukiran (50) tahun Desa Pulo juga dapat bagian traktor roda dua pemberian langsung dari menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, karena keberaniannya menyampaikan jawaban atas pertanyaan dari Menpan Andi

Di kesempatan itu Menteri Pertanian Andi mengajak para petani untuk berproduksi dan meningkatkan swasembada pangan. “Kita sudah tidak lagi melakukan impor bahkan kita melakukan ekspor,” ujar Menteri Andi dihadapan warga yang hadir.

Dalam kesempatan itu, spontanitas Andi melakukan transaksi pembelian gabah basah dengan hasil panen manual seharga Rp. 3.700 per kg milik para petani yang ada di sekitar lokasi panen raya. Selanjutnya menpan berharap para petani jangan ada yang menjual gabah pada tengkolak jual pada bulog “Harga sama yang ada di pasaran, bila ada yang menurunkan laporkan,” tandas Andi.

Bupati Blora Djoko Nugroho mengatakan, Kabupaten Blora sebenarnya mempunyai lahan pertanian yang terbatas, karena hampir 50% dari wilayah Blora merupakan hutan jati milik negara yang dikelola oleh Perhutani. “Namun dengan keterbatasan itu, terdapat secercah harapan dengan semangat petani Blora yang mampu mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Blora,” katanya.

Hadir dalam acara tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat  (Kasad), Brigjen TNI M. Afifudin, Aster Kasdam IV/Diponegoro Kolonel Kav Puji Setiono, Bupati Blora Djoko Nugroho, para Danrem diwakili Kasrem, Dandim diwakili Kasdim, Kasiter Korem se jajaran Kodam IV/Diponegoro, Forkopimda, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Blora, Forkopimcam, Kades se kecamatan Kedungtuban serta tamu undangan lainnya.

Editor : Akrom Hazami

Metode Tani Seperti Ini Lho yang Bikin Pertanian di Blora Maju

Petani membajak sawahnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.  (Humas dan Protokol Setda Kabupaten Blora)

Petani membajak sawahnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.  (Humas dan Protokol Setda Kabupaten Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Pemerintah Kabupaten Blora bersama Dinas Pertanian Perkebunan Perikanan Dan Peternakan (Dintanbunakikan) Kabupaten Blora menyukseskan acara Gerakan Tanam Padi Sistim Jajar Legowo dengan Alat Tanam Transplanter di Kelompok Tani Sari Makmur I, Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu.

Hadir dalam acara ini, Kepala Dintanbunakikan Reni Miharti, Camat Cepu Mei Nariyono dan Forkopimcam Kecamatan Cepu. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas petani yang ada di Kabupaten Blora.

Metode Rice Transplanter yang digunakan kali ini merupakan teknologi mekanis untuk menebarkan bibit padi di lahan sawah. Teknologi ini mulai banyak dipergunakan para petani di beberapa daerah di Jawa. Dengan teknologi ini petani dapat mempersingkat waktu tanam sekaligus penghematan biaya tanam serta meningkatkan kualitas tanaman padi.

Camat Cepu, Mei Nariyono dalam sambutannya berharap dengan penggunaan teknologi pertanian ini memperoleh hasil yang bagus. “Diharapkan dengan adanya teknologi ini dapat meningkatkan taraf hidup petani karena menuai keuntungan dari tanaman padi,” katanya.

Bupati Blora Djoko Nugroho menyampaikan bahwa pertanian merupakan salah satu penyumbang tertinggi pendapatan daerah. Oleh karena itu dengan adanya pemberian alat teknologi pertanian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Kalau sudah dikasih ya dimanfaatkan sebaik-baiknya, ini juga untuk kemajuan kita bersama, kemajuan Blora,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Kudus Terganggu Genangan Air

jalan-swah-e2

Petani melintasi jalan persawahan di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) lahan pertanian milik petani Undaan, Kudus, terganggu genanang air. Hal itu disebabkan karena air irigasi di sawah tidak bisa dibuang. Kondisi demikian menghambat proses pertanian setempat.

Kades Wates Sirin, mengatakan sawah warga tidak memiliki aliran pembuangan air irigasi. Jadi air irigasi yang masuk ke sawah dibiarkan mengendap dan hilang dengan sendirinya.

Bila air tak juga mengendap, maka sawah penuh air. “Area sawah di sini mencapai 425 Ha. Sawah tidak memiliki saluran pembuangan. Air pun jadi mandek, dan menggenangi sawah warga,” kata Sirin, Rabu (5/10/2016).

Menurutnya, jika air bisa dibuang ke jalur irigasi di Desa Undaan Lor, maka sawah warga bisa selamat dari luberan air.  “Kalau dulu di sekitar jalan itu ada sudetan. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Praktis, air tidak bisa mengalir ke irigasi Undaan Lor,” ujarnya.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan, saluran di desanya lebih rendah dari Desa Wates. Air dari Desa Wates untungnya tidak dibuang ke irigasi Desa Undaan Lor. “Jika itu terjadi maka air akan membanjiri persawahan warga desa kami,” kata Edy.

Dia mengatakan, luar area sawah desanya sekitar 400 Ha. Sebagian besar merupakan dataran rendah ketimbang Wates. “Kami tidak bisa mengorbankan petani di sini. Jadi air dari Wates tidak bisa dikirim ke saluran air sawah di Undaan Lor” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Padi Siap Panen di Blora Ambruk Diterjang Angin Kencang

f-padi, upload jam 16

Petani sedang mengikat padi yang roboh akibat terjangan angin. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Hujan disertai angin kencang yang melanda Kabupaten Blora pada Kamis (31/3/2016) siang, membuat lahan pertanian padi terkena dampaknya. Akibat dari kencangnya hembusan angin, membuat beberapa padi milik petani roboh. Padahal, diperkirakan dua minggu lagi padi tersebut sudah panen.

Para petani kemudian mengikat batang padi dengan disangga bambu. Hal itu dilakukan agar bulir padi tidak membusuk akibat rendaman air di bawahnya. Sebab, jika bulir padi terendam air, akibatnya bulir tersebut membusuk dan petani urung memanen padinya.

“Ya tidak keseluruhan roboh. Untuk antisipasi pada membusuk, saya ikat batangnya, soalnya sudah siap panen,” terang Karminingsih, salah seorang petani warga Desa Kamolan.

Petani lainnya, Radi mengeluhkan dengan kondisi yang terjadi, karena hasil panen akan tidak maksimal lantaran tanaman padi sudah roboh diterjang angin.

“Gara-gara roboh itu, maka bulir padi ada yang berjatuhan di tanah dan kalau dibiarkan roboh dan terendam air akan membusuk dan bersemi,” kata petani Kelurahan Mlangsen tersebut.

Mengetahui kondisi tersebut, Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Blora, langsung memantau ke lokasi.

“Luas yang roboh sekitar dua hektare, kondisi tanaman sudah siap panen. Jadi tidak ada kerugian dari petani,” kata Kepala UPTD Dintanbunnakikan Kecamatan Blora, Sukaryo.

Editor : Kholistiono

Pemkab Jepara Siapkan Skema Penjualan Gabah ke Bulog

Aktivitas petani di Jepara sedang memanen hasil padinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Aktivitas petani di Jepara sedang memanen hasil padinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Untuk mengantisipasi kemungkinan anjloknya harga gabah petani saat panen raya nanti, Pemkab Jepara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) bekerjasama dengan TNI menyiapkan skema penjualan ke Perum Bulog.

Kepala Distanak Jepara Wasiyanto mengemukakan, saat ini pemerintah pusat memang mendorong Bulog agar membeli gabah petani dengan harga sesuai dengan harga penetapan pemerintah (HPP). Itu untuk menjaga agar petani tak merugi.

”Untuk skema penjualan ke Bulog, pihaknya bekerjasama dengan TNI dari Kodim 0719 Jepara melalui Babinsa di masing-masing Koramil. Hal itu dilakukan untuk mendata dan menjaring gabah dari petani yang mau menjual gabahnya ke Bulog,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam proses penjualan ke Bulog tersebut tidak ada batasan kuota. Nantinya, gabah akan di angkut ke Bulog Pati. Semakin banyak petani yang menjual gabahnya ke Bulog, itu semakin baik.

Dia menambahkan, penjualan gabah ke Bulog tersebut sebagai ancang-ancang jika nantinya harga gabah anjlok di bawah HPP. Jika lebih tinggi dari HPP, petani boleh menjualnya ke tengkulak.

Selama ini, petani Jepara kebanyakan menjual gabah dengan sistem borongan atau menjualnya saat masih berada di lahan. Menurut Wasiyanto, sistem ini lebih dipilih lantaran petani tak perlu repot memanen dan menjemur. Selain itu, gabah petani banyak yang dibeli oleh tengkulak dari luar daerah.

Editor : Titis Ayu Winarni

Harga Gabah di Jepara Masih Stabil

Petani sedang memanen padinya, diperkirakan masa panen di Jepara mundur karena musim tanam yang juga mundur. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Petani sedang memanen padinya, diperkirakan masa panen di Jepara mundur karena musim tanam yang juga mundur. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Masa panen raya di Kabupaten Jepara ikut mundur seiring dengan mundurnya musim tanam. Saat ini, untuk harga gabah kering giling di Jepara sebagian besar masih stabil lantaran belum benar-benar memasuki masa panen raya.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, Wasiyanto. Menurutnya, harga gabah kering giling di Jepara masih stabil karena belum memasuki panen raya akibat mundurnya musim tanam. Harga gabah diprediksi merosot seiring dengan banyaknya lahan yang sudah dipanen.

Dia juga mengemukakan, dari data yang dihimpun berdasarkan informasi dari sejumlah kelompok tani, harga gabah kering giling berada di kisaran Rp 4 ribu/kilogram. Harga tersebut dinilai masih standar.

”Kemungkinan harganya akan anjlok saat panen raya. Saat ini, memang baru beberapa area pertanian yang panen. Salah satunya di lahan yang memiliki sistem irigasi yang baik. Tapi kebanyakan lahan pertanian di Jepara merupakan tadah hujan atau mengandalkan air dari hujan,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, untuk mengantisipasi kemungkinan anjloknya harga gabah petani saat panen raya nanti, Distanak bekerjasama dengan TNI telah menyiapkan skema penjualan ke Perum Bulog. Wasiyanto menegaskan, saat ini pemerintah pusat memang mendorong Bulog agar membeli gabah petani dengan harga sesuai dengan harga penetapan pemerintah (HPP). Itu untuk menjaga agar petani tak merugi.

”HPP sebesar Rp 3.750. Tapi tak ada pemaksaan agar petani menjual gabah ke Bulog. Petani diperbolehkan memilih,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Caranya Agar Beras jadi Putih Ketika Dimasak Tanpa Obat Kimia

Beras ketika dimasak akan menghasilkan warna yang lebih putih jika dikasih jeruk nipis (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beras ketika dimasak akan menghasilkan warna yang lebih putih jika dikasih jeruk nipis (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Nasi yang pulen, apalagi warnanya putih cerah tentu akan menambah rasa nikmat ketika memakannya. Nah, untuk mendapatkan nasi yang putih seperti yang diingin, tak ada salahnya Anda bisa mencoba dengan cara ini.

Seperti halnya yang dilakukan Anik, warga Undaan, Kudus. Karena untuk musim panen kali ini, padi yang dihasilkan kurang begitu memuaskan, yakni ketika beras dimasak biasanya agak kehitaman, maka dia memiliki cara tersendiri untuk memasak, agar nasi yang dihasilkan bisa berwarna putih bersih.

“Caranya mudah agar beras terlihat putih ketika jadi nasi. Saat menanak nasi, berikan sedikit perasan jeruk nipis diatasnya. Dengan demikian, maka nasi yang dihasilkan akan putih dan terlihat menggiurkan dan menambah gairah makan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Meski cara itu sederhana, namun banyak kalangan ibu rumah tangga yang kurang belum mengetahui trik tersebut. Padahal, dengan beras yang biasa, namun hasilnya bisa bagus dan menggugah selera.

Selain berwarna putih, nasi yang dihasilkan juga dipercaya lebih awet. Jika biasanya nasi dimasak di rice cooker dari pagi hingga sore akan jadi “intip” di bagian bawahnya, namun, dengan cara demikian nasi tetap bagus.

Selain itu, katanya, aromanya juga akan lebih nikmat jika dikasih dengan daun pandan. “Kalau pandan ini biasanya sudah banyak digunakan dimasyarakat, jadi sudah tidak asing lagi, dan aromanya memang lebih nikmat,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Ini Lho Bedanya Beras Asal Kudus Bagian Selatan dan Utara

Beberapa petani terlihat sedang memanen padi (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa petani terlihat sedang memanen padi (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus –Sebagian masyarakat menyebut, jika beras asal Kudus bagian selatan dengan utara memiliki perbedaan utara, khususnya pada musim panen kali ini. Sebagian masyarakat menyebut, jika kualitas beras dari daerah selatan, khususnya di kawasan Undaan, disebut kurang memuaskan.

Lain halnya dengan kualitas beras dari Kudus wilayah utara, padi yang dihasilkan pada panen kali ini cenderung membaik, jika dibandingkan dengan wilayah selatan.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Kudus Sofyan Dhuhri mengatakan, kabar mengenai adanya perbedaan kualitas beras di wilayah bagian selatan dengna utara memang sudah diterimanya. Namun, untuk kepastiannya masih belum dapat diberikan, sebab masih harus dicek ke lapangan.

“Iya kabarnya wilayah selatan, khususnya di Undaan memang kualitas beras atau padi yang dihasilkan dari panen ini kualitasnya kurang memuaskan dibandingkan daerah utara. Berasnya agak kehitaman,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom.

Meski demikian, beras yang berwarna agak kehitaman itu tidak memengaruhi soal rasa. Sebab, bagaimanapun padi yang baru, katanya, tetap memiliki rasa yang enak serta pulen. Meski, jenis padi juga berpengaruh.

Sementara, petani asal Kaliwungu Agus mengungkapkan, hal senada. Beras dari Kudus bagian selatan memiliki warna yang agak gelap, ketimbang dari wilayah lainnya.

“Semakin ke utara maka semakin bagus hasil padinya. Lihat saja beras pegunungan, pasti bagus. Soalnya memang tanahnya yang sangat berpengaruh,” ujarnya.

Bukan hanya di Kudus saja, lanjut nya, beras asal Demak juga urutannya bagus. Namun, ketika dimasak hasilnya juga agak hitam dan tidak dapat putih menyenangkan.

Editor : Kholistiono

Petani Blora Terima 5 Alat dan Mesin Pertanian, Kodim Buatkan Agenda Pemakaian

Dandim Blora Letkol Inf Susilo di damping Persiwa seksi teritorial (Pasiter) Kapten Chb Sudiyono. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Dandim Blora Letkol Inf Susilo di damping Persiwa seksi teritorial (Pasiter) Kapten Chb Sudiyono. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Lima unit alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa alat transplanter lengkap diterima oleh Komando Distrik Militer (Kodim) Blora. Bantuan yang diterima tersebut rencananya diperuntukkan bagi petani yang ada di Kabupaten Blora.

Dandim Blora, Letkol Inf Susilo mengungkapkan pihaknya mengapresiasi penuh atas bantuan alat pertanian itu. ”Kami akan menggunakan semua alsintan seefektif dan seefisien mungkin, yang nantinya bisa dinikmati oleh seluruh petani yang ada di Kabupaten Blora,” ujarnya.

Ia juga merencanakan, bantuan mesin yang ada itu, nantinya  secara rutin akan diperbantukan di seluruh areal pertanian yang ada di wilayah Kabupaten Blora. Baik secara bergiliran maupun serentak. Sedangkan, untuk implementasi pendayagunaan alsintan itu sendiri, ke depan akan diagendakan secara transparan kepada masyarakat.

”Khususnya yang tergabung dalam kelompok tani yang ada di desa dan kelurahan,” jelasnya.

Perwira seksi teritorial (pasiter) Kapten Chb Sudiyono menambahkan, alsintan yang diterima itu segera disosialisasikan dan difungsikan untuk membantu kelancaran para petani dalam meningkatkan produktivitas upaya khusus padi jagung kedelai (upsus pajale), yang menjadi program pemerintah dalam rangka mengatasi kelangkaan bahan pakan, yang ujungnya mampu untuk swasembada pangan.

”Dalam pendayagunaan mesin tersebut, tentunya kami agendakan sesuai petunjuk dan perintah Dandim,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Yang Ditunggu-tunggu Petani di Grobogan Akhirnya Datang

Panen (e)

Para petani di wilayah Kecamatan Klambu mulai panen padi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Rona ceria nampak di wajah sebagian petani yang ada di wilayah Grobogan. Hal ini dikarenakan tanaman padi yang ditanam beberapa bulan sebelumnya sudah bisa dipanen.

”Alhamdulillah, akhirnya masa panen datang. Kami bersyukur, kondisi tanaman tetap bagus dan tidak terserang penyakit hingga menjelang masa panen tiba. Panen padi di sini sudah mulai dua hari lalu,” kata Suwarni, petani di Klambu.

Para petani sebelumnya sempat khawatir ketika tanaman padi sudah mulai menguning. Soalnya, pada saat itu banyak hujan turun disertai angin dan dikhawatirkan merusak tanaman. Jika kondisi itu terjadi maka hasil panen dipastikan tidak akan bisa maksimal.

Selain kondisi tanaman cukup bagus, harga jual gabah hasil panen kali ini dirasa cukup baik. Dimana, harga gabah di pasaran berkisar Rp 4.500 per kilogram.

Dari pantauan di lapangan, panen padi musim tanam I ini memang tidak bersamaan. Areal padi yang memasuki masa panen awal berada di wilayah Kecamatan Klambu. Sementara di daerah lainnya, masa panen kemungkinan menyusul dalam waktu dekat.

Seperti di wilayah Kecamatan Godong, Penawangan, Grobogan, Purwodadi, Toroh, dan Brati. Dari data Dinas Pertanian TPH setempat, luas areal padi di Grobogan berkisar 125.980 hektare dengan produksi mencapai 763.446 ton pertahun. (DANI AGUS/TITIS W)

Jika Bakatmu jadi Petani Hebat, Biarkan Saja Dia Tumbuh, Ini Kebun Gratis di Grobogan

kebun belajar (aplod jam 8 pagi besok) (e)

Dispertan TPH Grobogan menyiapkan kebun belajar pertanian seluas 2,5 hektare. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kabar baik bagi mereka yang ingin belajar masalah pertanian. Karena, pada tahun ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura (Dispertan TPH) Grobogan bakal menyiapkan kebun belajar seluas 2,5 hektare. Lokasinya berada lahan yang ada di sebelah utara kantor Dispertan TPH.

“Lokasi kebun belajar pertanian mulai kita persiapkan sejak awal bulan lalu. Total lahan yang tersedia sekitar 2,5 hektare dan akan kita gunakan semuanya,” kata Kepala Dispertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto melalui Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.

Dalam lahan tersebut akan ditanam berbagai komoditas tanaman. Seperti aneka tanaman hortikultura, sayuran, tanaman bulanan, musiman dan tahunan.

Dengan adanya kebun belajar itu masyarakat luas bisa menimba pengalaman. Sebab, nantinya akan ada petugas khusus yang akan melayani masyarakat yang ingin belajar cara bertanam beragam komoditas pertanian.

“Kebun belajar pertanian ini terbuka untuk umum. Jadi, kalau mau belajar pertanian boleh datang langsung. Di tengah lahan sudah kita sediakan pendapa untuk menggelar pertemuan dan melayani dengan pengunjung,” katanya.

Selain masyarakat, kebun belajar itu juga bisa digunakan oleh produsen beragam produk pertanian. Yakni, untuk melakukan uji coba produk yang mereka hasilkan sehingga bisa dikenalkan pada petani dan masyarakat. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Tikus Mungkin Takut dengan Kucing, tapi Tidak dengan Pak Tani

tikus vs petani (aplod jam 8 pagi) FOTO (e)

Petani melakukan penanaman di salah satu ladang di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Saat ini petani yang berada di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, dibuat kesal oleh hama tikus. Sebab tanaman padi mereka rata-rata habis dimakan tikus. Sehingga para petani melakukan penyulaman kembali tanamannya.

“Sebenarnya bila tidak ada tikus, sawah satu kedok (seluas 100 meter,red) itu bisa cukup ditanami bibit padi sebanyak 250 bendel (pocong), namun hama tikus ini banyak. Sehingga bibit padinya bisa mencapi sekitar 300 bendel,” kata Siti Zulaihah, salah satu petani desa.

Diketahui,untuk mendapatkan kekurangan bibit padi tersebut rata rata petani di wilayah tersebut harus ke desa tetangga. Seperti halnya Kalirejo, Kutuk, dan Glagahwaru.

Dia menilai, hama tikus tersebut bisanya muncul saat waktu penyebaran benih padi, hingga padi berusia 25 hari. Sebab waktu tersebut, padi yang ditanam memiliki ranting atau dahan yang masih lunak.Sehingga itu menjadi sasaran tikus.

Selain itu, bila usia 25 hari ke atas, kemungkinan hamanya berupa belalang, walang sangit, kepik, wereng dan serangga lainnya.

Dengan adanya hama semacam itu, maka mau tidak mau petani harus menyulami tanamanya. Meski biaya tanamnya juga akan bertambah. Khususnya di beban tenaga kulinya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Ini Alasan Target Produksi Kedelai Tak Mungkin Tercapai

Produktivitas Kedelai (e)

upati Jepara saat acara peletakan batu pertama perbaikan jaringan irigasi pertanian. Meski upaya untuk meningkatkan produktivitas hasil tani terus dilakukan. Namun, untuk kedelai target tak mungkin tercapai. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ).

JEPARA – Target produksi komoditas kedelai tahun ini yang mencapai 54 ton tak mungkin tercapai. Selain karena sampai akhir Agustus lalu hanya mencapai 6 ton. Ada beberapa alasan lainnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Wasiyanto melalui Kasi Produksi Tanaman Pangan Sumardi mengemukakan, target produktivitas kedelai sulit tercapai dikarenakan perawatan tanaman ini jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan padi atau jagung. Selaian itu, di Jepara, kedelai memang bukan menjadi komoditas utama.

”Selama ini, kedelai hanya ditanam di lambiran sungai, bukan di area persawahan. Sehingga hasilnya memang tidak seberapa. Selain itu, harga kedelai lokal juga masih kalah dengan yang impor,” ujar Sumardi, Selasa (8/9/2015).

Dia menambahkan, persebaran wilayah penghasil kedelai di Jepara menyebar di hampir semua kecamatan. ”Sejauh ini yang relatif banyak di Welahan, Bangsri, dan Mayong. Namun memang hanya ditanam di lambiran sungai,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Target Produktivitas Kedelai di Jepara Tak Mungkin Tercapai

Produktivitas Kedelai (e)

Bupati Jepara saat acara peletakan batu pertama perbaikan jaringan irigasi pertanian. Meski upaya untuk meningkatkan produktivitas hasil tani terus dilakukan. Namun, untuk kedelai target tak mungkin tercapai. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Target produktivitas komoditas kedelai di Kabupaten Jepara sebanyak 54 ton dalam tahun 2015 ini, dipastikan tak mungkin tercapai. Pasalnya, sampai akhir Agustus lalu, baru mencapai 6 ton saja.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Wasiyanto melalui Kasi Produksi Tanaman Pangan Sumardi menjelaskan, tahun 2015 ini, produktivitas komoditas kedelai di Kabupaten Jepara ditargetkan sebanyak 54 ton. Namun target ini sulit untuk dicapai.

”Untuk menyokong swasembada pangan, tahun ini produktivitas berbagai komoditas pertanian memang ditarget lebih besar, baik padi, jagung hingga kedelai. Tapi sepertinya, untuk kedelai sulit untuk bisa tercapai. Sedangkan komoditas lainnya yaitu padi dan jagung bisa dipenuhi,” ujar Sumardi, Selasa (8/9/2015).

Dia menambahkan, untuk menunjang program swasembada pangan, kata Sumardi, pemkab akan melakukan beberapa langkah. Di antaranya, perbikan irigasi tersier, memberikan bantuan benih dan pupuk serta peningkatan pendampingan oleh PPL maupun mahasiswa pendamping. (WAHYU KZ/TITIS W)

Urgen, Pembuatan Sumur Pantek Perlu Segera Diwujudkan

Sejumlah petani tengah memanen kedelai di areal persawahan di Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani tengah memanen kedelai di areal persawahan di Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kekeringan masih menjadi momok bagi sejumlah petani di Pati. Karena, air menjadi penentu keberhasilan petani untuk panen.

Untuk itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Effendi rencananya akan mengusulkan pembuatan sumur pantek atau sumur resapan pada 2016 mendatang. Hal itu diharapkan bisa menjadi andalan petani untuk mengairi sawah saat kekeringan melanda.

”Untuk meningkatkan hasil pertanian di Pati, termasuk kedelai, kami akan melakukan inventarisasi kendala. Kekeringan memang menjadi masalah serius bagi petani. Kami akan usulkan pembuatan sumur pantek pada tahun 2016 nanti,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom, Senin (31/8/2015).

Selain masalah kekeringan, petani juga dihadapkan pada persoalan harga hasil panen yang tidak stabil. Karena itu, Mochtar saat ini berharap agar penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk kedelai segera diberlakukan secara efektif.

“Harga kedelai impor saat ini naik. Mestinya, kedelai lokal juga harus naik. Ini tidak lepas dari peran pemerintah untuk mematok HPP agar tidak ada tengkulak yang memainkan harga hasil panen petani,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Petani Kedelai Pati Desak Pemerintah Berlakukan HPP

f-kedelai (e)

Kepala Dispertannak Pati Mochtar Effendi, Babinsa, dan sejumlah petani panen kedelai di ubinan sawah Desa Gabus dengan hasil 1,8 ton per hektare. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani “Tulodho Tani” Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Pati, mendesak agar pemerintah pusat segera memberlakukan harga pembelian pemerintah (HPP) secara efektif. Hal ini diharapkan untuk meningkatkan derajat petani yang selama ini kurang begitu mendapatkan perhatian.

Ketua Tulodho Tani Pardi kepada MuriaNewsCom, Senin (31/8/2015) mengatakan, harga kedelai yang dijual petani saat ini hanya dihargai Rp 6.300/kg. Ia mengaku, harga pembelian tersebut belum cukup untuk mengembalikan modal di sawah.

Sementara itu, Ketua Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Effendi mengatakan, sebetulnya Menperindag sudah mengeluarkan HPP untuk kedelai, yakni Rp 7.700/kg. Karena itu, ia berharap agar harga kedelai yang diterima petani di Pati saat ini juga minimal seperti HPP.

“Saya sering mendapatkan keluhan dari petani kedelai di Pati mengelai harga. Karena itu, penetapan HPP kedelai Rp 7.700/kg diharapkan mulai berlaku secara efektif. Kasihan petani, melawan kekeringan saja berjibaku. Kalau hasil panennya dihargai rendah, ini memprihatinkan,” kata Mochtar. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Masa Panen, Harga Kacang Hijau Alami Kenaikan

panen kacang hijau kudus (e)

Petani di Kecamatan Undaan sedang memanen kacang hijau (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Sebagian besar petani kacang hijau di Kabuten Kudus, saat ini sudah mulai melakukan panen. Dibanding sebelumnya, harga kacang hijau di tingkat petani mengalami kanaikan, dari semula Rp 4.300 per kilogram, kini harganya melonjak naik menjadi Rp 15.000 per kilogram.

Sarikin, salah satu petani asal Glagahwaru, Kecamatan Undaan mengatakan, jika petani cukup diuntungkan dengan adanya kenaikan harga kacang hijau tersebut.

”Panen kali ini membuat petani cukup senang, karena harga kacang hijau bisa lebih tinggi dibanding sebelumnya. Dari seperempat hektar lahan yang kami tanami, panen kali ini bisa menghasilkan uang sebesar Rp 3,7 juta,” katanya.

Jumlah tersebut, katanya, bisa saja bertambah. Karena, untuk panen pertama ini, kacang hijau tidak dipetik semua, karena sebagian masih ada yang muda, sehingga ditinggalkan terlebih dahulu.

Dari hasil penjualan kacang kedelai itu, katanya, sebagian dipotong untuk upah kuli sebesar Rp 320 ribu dan untuk melunai pinjaman koperasi sebesar Rp 1 juta, yang sebelumnya digunakan untuk modal menanam kacang hijau.

”Untuk tanaman kacang hijau, itu memang bisa dipanen dua kali. Namun biasanya, untuk panen yang kedua kali tidak sebanyak yang pertama,” ujarnya.

Selain itu, rata rata petani juga mengaku bahwa panen di tahun ini bisa diniali berhasil dibanding tahun lalu. Sebab, tahun lalu tanaman kacang hijau mayoritas terserang hama. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

SPI Jateng Tuding Pemkab Pati Tak Ada Koordinasi Atasi Kekeringan

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah menuding pemerintah tidak bisa berkoordinasi dengan baik untuk mengatasi masalah kekeringan yang melanda di barbagai daerah di Kabupaten Pati.

Ketua SPI Jateng Edi Sutrisno mengatakan, mestinya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, dan Bina Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan Perhutanan, serta instansi terkait berkoordinasi untuk mengatasi masalah kekeringan bersama.

“Sejauh ini, saya lihat tidak ada koordinasi antarsesama dinas terkait untuk mengatasi masalah kekeringan di Pati yang kondisinya sudah kritis. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, pihaknya mendesak agar pemerintah bisa mencari solusi terhadap masalah tersebut. “Kami harap, pemerintah bisa memikirkan masalah ini. Banyak areal persawahan yang saat ini nganggur dan tak berfungsi, karena kekeringan,” desaknya.

Belum lagi soal kebutuhan air bersih selama musim kemarau. Jika dibiarkan, lanjutnya, hal tersebut bisa menjadi bencana daerah yang memprihatinkan. (LISMANTO/SUPRIYADI)

Kekeringan di Pati Memasuki Kondisi Kritis

Kondisi sawah di Kecamatan Jakenan yang tidak bisa ditanami, lantaran pecah-pecah dan kering. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Kekeringan yang terjadi di berbagai daerah di Kabupaten Pati dinilai sudah memasuki kondisi kritis. Hal ini disampaikan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno.

“Menurut pantauan saya, kondisi sawah saat ini di sejumlah daerah di Pati sudah masuk pada level darurat dan kritis. kondisi tanah pecah-pecah dan tak bisa ditanami,” ujarnya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Senin (3/8/2015).

Karena itu, ia berharap agar badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat bisa memberikan solusi terkait dengan masalah yang dihadapi petani. “Kalau tidak ada upaya, pertanian di Pati terancam puso atau gagal panen,” tuturnya.

Bahkan, lanjutnya, saat ini banyak petani yang menganggur karena kondisi tanah tidak bisa ditanami. Hal ini disebabkan kondisi tanah yang pecah-pecah hingga dalam selama musim kemarau dalam beberapa bulan terakhir. (LISMANTO/SUPRIYADI)