Peneliti Asal Jerman Khawatirkan Kondisi Pertanian di Pati

Sejumlah peneliti asal Jerman tengah berdiskusi soal kondisi pertanian di dunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah peneliti asal Jerman tengah berdiskusi soal kondisi pertanian di dunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Peneliti dari Universitas Frankfurt, Jerman Felix Anderl mengkhawatirkan kondisi pertanian di Pati. Pasalnya, pergeseran kultur petani ke industri sudah mulai dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Pati.

”Di Jerman, petani kecil sudah mati. Semua dikuasai industri. Pertanian di sana sudah mengalami pergeseran menuju industri. Jangan sampai hal itu terjadi di Pati,” ujar Felix kepada MuriaNewsCom.

Namun, ia mengakui memang ada perbedaan kultur petani di Jerman dan Pati. Di sana, pertanian sudah menjadi milik perusahaan. Sementara itu, pertanian sebagian besar masih dimiliki petani kecil.

Karena itu, ia berharap agar nasib pertanian di Pati tidak seperti di negaranya. ”Petani memang harus berdaulat, termasuk areal persawahan jangan sampai dicaplok perusahaan yang tak bertanggung jawab,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Target Produksi Padi di Jepara masih Kurang

ilustrasi padi

ilustrasi padi

 

JEPARA – Berbeda dengan komoditas kedelai yang dimungkinkan bahkan dapat dipastikan target produksi tak tercapai. Produksi komoditas padi kemungkinan besar dapat tercapai. Karena, dari hitungan yang dilakukan sampai akhir Agustus kemarin, produksi padi sudah mencapai 92 persen dari target 270.706 ton.

“Untuk komoditas padi, sampai Agustus sudah mencapai 249.196 ton. Angka ini sudah mencapai 92 persen dari target sebesar 270. 706 ton,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara Wasiyanto melalui Kasi Produksi Tanaman Pangan Jepara Sumardi kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pada musim tanam (MT) II ini ada beberapa hektar yang mengalami puso. Namun sebagian lainnya bisa diselamatkan sehingga tidak berpengaruh pada jumlah produksi yang sudah mencapai 92 persen itu.

“Ada sekitar 17 hektare yang puso. Tapi sampai Agustus sudah 92 persen. Jadi kami sangat optimistis di tahun ini target dapat tercapai,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

SPI Jateng Tuding Pemkab Pati Tak Ada Koordinasi Atasi Kekeringan

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah menuding pemerintah tidak bisa berkoordinasi dengan baik untuk mengatasi masalah kekeringan yang melanda di barbagai daerah di Kabupaten Pati.

Ketua SPI Jateng Edi Sutrisno mengatakan, mestinya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, dan Bina Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan Perhutanan, serta instansi terkait berkoordinasi untuk mengatasi masalah kekeringan bersama.

“Sejauh ini, saya lihat tidak ada koordinasi antarsesama dinas terkait untuk mengatasi masalah kekeringan di Pati yang kondisinya sudah kritis. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, pihaknya mendesak agar pemerintah bisa mencari solusi terhadap masalah tersebut. “Kami harap, pemerintah bisa memikirkan masalah ini. Banyak areal persawahan yang saat ini nganggur dan tak berfungsi, karena kekeringan,” desaknya.

Belum lagi soal kebutuhan air bersih selama musim kemarau. Jika dibiarkan, lanjutnya, hal tersebut bisa menjadi bencana daerah yang memprihatinkan. (LISMANTO/SUPRIYADI)

Kekeringan di Pati Memasuki Kondisi Kritis

Kondisi sawah di Kecamatan Jakenan yang tidak bisa ditanami, lantaran pecah-pecah dan kering. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Kekeringan yang terjadi di berbagai daerah di Kabupaten Pati dinilai sudah memasuki kondisi kritis. Hal ini disampaikan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno.

“Menurut pantauan saya, kondisi sawah saat ini di sejumlah daerah di Pati sudah masuk pada level darurat dan kritis. kondisi tanah pecah-pecah dan tak bisa ditanami,” ujarnya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Senin (3/8/2015).

Karena itu, ia berharap agar badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat bisa memberikan solusi terkait dengan masalah yang dihadapi petani. “Kalau tidak ada upaya, pertanian di Pati terancam puso atau gagal panen,” tuturnya.

Bahkan, lanjutnya, saat ini banyak petani yang menganggur karena kondisi tanah tidak bisa ditanami. Hal ini disebabkan kondisi tanah yang pecah-pecah hingga dalam selama musim kemarau dalam beberapa bulan terakhir. (LISMANTO/SUPRIYADI)