Makin Menjamur, Keberadaan Pertamini di Grobogan Bakal Didata

Seorang pemilik pertamini di Kecamatan Pulokulon, Grobogan, sedang melayani pembeli BBM (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemkab Grobogan bakal melakukan pendataan terhadap pemilik usaha penjualan BBM eceran yang lebih dikenal dengan sebutan pom mini atau pertamini. Hal itu dilakukan lantaran keberadaan pertamini ini sudah makin menjamur.

“Dari hasil monitoring, keberadaan pom mini itu sudah banyak ditemukan di berbagai tempat. Untuk itu perlu kita data jumlahnya dengan tepat. Nanti kita akan minta bantuan pemerintahan desa untuk pendataan itu,” kata Kasubag Produksi dan Sumber Daya Alam Bagian Perekonomian Grobogan Pradana Setiawan, Rabu (3/5/2017).

Selain pendataan, upaya selanjutnya yang akan dilakukan adalah melakukan tera ulang pada peralatan pertamini tersebut. Hal itu diperlukan untuk memastikan keakuratan takaran sehingga jangan sampai merugikan konsumen.

Menurut Pradana, terkait masalah pom mini tersebut pihaknya sudah sempat menggelar rakor dengan beberapa instansi terkait lainnya. Antara lain dengan perwakilan pemilik SPBU, kepolisian serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan.

Rapat tersebut digelar untuk menindaklanjuti surat Sekda Pemprov Jateng nomor 541/0005768 tentang tindak lanjut rapat koordinasi kebijakan kewenangann pengelolaan minyak dan gas bumi di Jateng. Salah satu poin di dalamnya, meminta pemkab untuk merumuskan kebijakan penerbitan rekomendasi dan pengaturan penjualan BBM di daerah. Terutama daerah yang jauh dari SPBU.

 

Editor : Akrom  Hazami

 

8 Pertamini di Kudus Diawasi Pemkab Gara-gara Berisiko

 Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Disdagsar Kudus mengawasi delapan pertamini atau SPBU mini, beberapa waktu terakhir. Pemkab menganggap pertamini belum mempunyai alat standar operasional pengamanan.

Kabid Perdagangan Disdagsar Kudus Sofyan Dhuhri, mengatakan, pihaknya sedang mengawasi pertamini secara intensif. Sofyan mencatat ada delapan pertamini yang diawasi. Di antaranya, pertamini yang ada di Desa Lau dan Piji, Kecamatan Dawe. Ada juga pertamini di Desa Mlati Kidul dan Bhurikan, Kecamatan Kota. Lainnya, pertamini di Desa Besito dan Gondosari, Kecamatan Gebog; Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae; dan Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan.

“Para penjual membeli alatnya sendiri dan ada sales yang menjualnya. Kami memberikan imbauan supaya berhati-hati menjualnya. Karena ini menyangkut bahan mudah terbakar, dan alat yang digunakan tidak berstandar. Seperti yang ada di pom bensin,” kata Sofyan kepada MuriaNewsCom di Kudus, Sabtu (10/12/2016).

Dari pendataannya, Disdagsar mengetahui jika bahan bakar minyak (BBM) pertamini tidak didrop dari Pertamina. Pertamini membeli BBM dari Pertamina dengan cara jerikenan dalam jumlah tertentu. Kemudian, pengelola pertamini memasukkan BBM ke drum yang telah dilengkapi pompa. Alat pompa itu berguna untuk menyedot BBM biar bisa keluar melalui selang atau nozzle. “Jadi mirip dengan penjual eceran, hanya saja ini menggunakan alat sehingga terlihat seperti SPBU pada umumnya,” ujarnya.

Pihaknya juga melakukan pengawasan alat penghitung pertamini. Sebab, pemkab belum mengetahui apakah alat sudah menjalani proses tera atau belum. Padahal alat itu untuk menentukan apakah hitungan satu liternya sudah tepat, atau tidak.

Pemkab juga menyayangkan jika pertamini belum mengantongi izin usaha. Berdasarkan informasi, Pertamini membeli alat beroperasi, satu setnya Rp 16 juta hingga Rp 20 juta. Pertamini menjual pertalite Rp 7.500 per liter, dan pertamax Rp 9.000 per liter.

Menurut Sofyan, keberadaan pertamini di tengah permukiman juga amat berisiko. Alasannya, alat penjualan yang dipakai tidak sesuai standarnya.

Editor : Akrom Hazami

Dinilai Ilegal, Pertamini di Jepara Akan Dibina

pertamini-e

Warga melayani pembeli BBM di SPBU Pertamini di Jepara, Sabtu.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Keberadaan penjual Bahan Bakar Minyak (BBM) ecer dengan peralatan layaknya di pom bensin, biasa dikenal sebagai Pertamini, di Kabupaten Jepara sudah menjamur. Semakin lama justru semakin banyak, sehingga hal itu membuat Pemerintah Kabupaten Jepara menyorotinya.

Pemkab Jepara menilai penjualan BBM dalam bentuk Pertamini tersebut ilegal. Sebab tidak ada perizinan resmi, dan tidak ada standarisasi baik keamanan maupun yang lainnya. Rencananya, para penjual akan dilakukan pembinaan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disindag) Jepara, Yoso Suwarno melalui Kabid Perdagangan, Florentina Kurniawati. Menurutnya, pihaknya segera melakukan pembinaan ke pemilik usaha Pertamini. Sebab, usaha kreatif masyarakat itu dinilai ilegal.

“Dalam pertemuan dengan pihak Pertamina baru-baru ini, PT Pertamina secara tegas memang tak mengakui keberadaan Pertamini itu. Penindakan keberadaan Pertamini diserahkan ke kebijakan lokal pemkab, namun sebelum melakukan tindakan, kami akan melakukan pembinaan,” ujar Florentina kepada MuriaNewsCom.

Ia mengaku selama ini pihaknya tak pernah mengeluarkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) maupun Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Terlebih, alat penuangan BBM (alat ukur) pada Pertamini dinilai tak terstandar. Dengan begitu, pembelian BBM dimungkinkan tak sesuai dengan takaran yang dibeli konsumen.

Selain itu, standar keamanan dari Pertamini pun tak ada. Padahal, BBM yang dijual mudah terbakar. ‘’Sementara ini, kita akan datang ke usaha-usaha Pertamini di Jepara. Kita akan lakukan pembinaan,’’tegasnya.

Dia menandaskan, sementara ini tidak akan dilakukan pelarangan Pertamini. Sebab, pihaknya memertimbangkan sejumlah hal. Salah satunya kenyataan bahwa Pertamini merupakan usaha masyarakat dan juga membantu warga yang jauh dari SPBU bisa mendapatkan BBM.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto mengatakan, pihaknya juga masih belum mengetahui secara jelas bagaimana aturan mengenai Pertamini tersebut. Justru ia mengaku penasaran dan akan segera menanyakannya kepada pihak Pertamina.

“Ya, memang penjual BBM yang melabeli namanya sebagai Pertamini itu sudah banyak di Jepara. Tetapi saya belum mengetahui itu sebenarnya diperbolehkan atau tidak,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Sempat Tak Percaya Takarannya Pas, Warga Tenteng Botol untuk Beli Bensin di Pertamini

Pertamini milik Wiwid (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pertamini milik Wiwid (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penjual bensin di Dukuh Pacikaran RT 1 RW 6, Lau, Kecamatan Dawe, Kudus, ini meniru tempat penjualan bensinnya mirip dengan SPBU milik Pertamina.

Ya, miniatur pompa bensin tersebut milik Wiwid Ariyanto (36). Di badan miniatur SPBU juga terdapat tulisan “Insya Alloh Pas”. Sebuah doa yang meyakinkan pembeli soal takaran bensin yang dijualnya.

Namun, ternyata, pada awalnya keberadaan pertamini tersebut, ada sebagian pembeli yang tak percaya jika takaran bensin yang dijual ke pembeli pas per liternya.

“Pertama kali pertamini ini ada, yakni sekitar Maret 2015. Dulu, memang sempat ada yang tidak percaya takarannya pas, kemudian ada yang membawa botol dari rumah untuk membuktikan jika takaran bensin yang saya jual pas atau tidak. Tapi setelah mereka buktikan, ternyata pas,” kata Wiwid.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Uniknya Jual Bensin Eceran “Insya Alloh Pas” di Kudus

Uniknya Jual Bensin Eceran “Insya Alloh Pas” di Kudus

Wiwid melayani pembeli bensin warga di SPBU Pertamininya di Lau, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wiwid melayani pembeli bensin warga di SPBU Pertamininya di Lau, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penjual bensin di Dukuh Pacikaran RT 1 RW 6, Lau, Kecamatan Dawe, Kudus, ini meniru tempat penjualan bensinnya mirip dengan SPBU milik Pertamina.

Ya, miniatur pompa bensin tersebut milik Wiwid Ariyanto (36). Di badan miniatur SPBU juga terdapat tulisan “Insya Alloh Pas”. Sebuah doa yang meyakinkan pembeli soal takaran bensin yang dijualnya.

Dia mengaku sebelum mempunyai miniatur SPBU ini, bensin eceran saya kurang laku. Sebanyak 35 liter saja tidak laku dalam satu bulan penjualanan. Namun setelah menggunakan miniatur ini, bensin ecerannya bisa laku keras hingga 70 liter per hari.

Dia mengetahui adanya miniatur SPBU dari internet. Termasuk ada pedagang bensin eceran di Sumatera yang telah memakai alat itu. Dia pun tertarik. Wiwid akhirnya mendapat informasi jika miniatur SPBU juga dijual di Jakarta. Akhirnya, dia membelinya dengan harga Rp 2,5 juta.

Ketika kali pertama dia memperoleh miniatur SPBU, bentuknya masih berupa rangkaian tabung untuk tempat penyimpan bensin. Tabung itu akhirnya dirangkai dengan pompa manual, selang, gagang bensin dan tabung putih ukuran bensin. Namun setelah sampai di rumah, alat-alat itu dirangkai lagi dengan menggunakan seng, besi yang dilas di bengkel. Total perakitannya hampir Rp 2,5 juta.

Untuk tabung ukuran bensin tersebut sudah didesain dari Thailand. Sebab dia membeli dari Jakarta, yang katanya memang mengimpor langsung dari Thailand.

Sementara itu, terkait keakuratan ukurannya, pihaknya juga pernah mengukur bensin tersebut ke dalam botol yang sudah berukuran satu liter.

“Sebelum saya menjual ke masyarakat, kami sudah mengkroscek langsung. Yakni botol bensin eceran kami isi satu liter dari pertamini ini. Namun nyatanya botol tersebut malah sampai terisi full bahkan muntah isianya. Secara tidak langsung, kemungkinan botol bensin eceran tersebut juga tidak selalu sama besar kecilnya dari pedagang satu dengan pedagang lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, meskipun botol bensin eceran bentuknya sama, kemungkinan ukuran lingkaran botol juga tidak sama. Sehingga di saat diiisi dari pertamini ini, isiannya sampai penuh, bahkan muntah. Dan satu lagi, bila membeli bensin di pertamini ini, bisa sebesar Rp 2 ribu. Sebab juga ada ukurannya untuk membeli di skala di bawah satu liter.

Editor : Akrom Hazami

Video – Warga Jepara, Uang Cekak tapi Ingin Beli BBM? ke SPBU Ini Saja

Pengguna jalan mengisi BBM di SPBU Pertamini di Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pengguna jalan mengisi BBM di SPBU Pertamini di Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Uangmu cekak tapi ingin beli BBM? SPBU ini bisa jadi solusi. Ya, adalah SPBU Pertamini, bukan Pertamina. SPBU ini berada di Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Jepara.

Uniknya, jika di SPBU biasa tertuliskan Pertamina, di penjual BBM eceran tersebut dituliskan Pertamini. Tulisan itu terpampang di tempat pengisian BBM itu.

Tidak hanya itu, jika di SPBU pada umumnya tertulis Pasti Pas, tapi di tempat pengisian BBM ini tertulis Pasti Puas. Termasuk dengan bentuk dan gambar yang mirip di SPBU. Tak hanya tampilannya saja tetapi juga cara melayani pembeli yakni dengan memencet tombol nominal jumlah yang dibeli lalu mengisi BBM ke kendaraan pembeli layaknya di SPBU.

“Respons masyarakat baik, bahkan antusias dengan adanya Pertamini ini,” kata Ambar Sri, pemilik Pertamini kepada MuriaNewsCom, Senin (11/1/2016).

Menurutnya, antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pembeli di setiap harinya. Terlebih, dengan adanya Pertamini tersebut, selain memudahkan pembeli juga membuat pembeli tak perlu khawatir jika hanya memiliki uang pas-pasan.

“Kami melayani pembelian dengan harga berapapun. Kalau hanya punya uang Rp3.500 misalnya, bisa kami layani,” ungkapnya.

Apalagi di wilayah Kecamatan Batealit Jepara sampai saat ini memang belum ada SPBU. Hal itu dimanfaatkan Ambar. Maka jadilah, lewat SPBU Pertamininya, dia mampu meraup untung dengan jumlah penjualan yang banyak.

“Setiap hari biasa menghabiskan sekitar 250 sampai 300 liter. Alhamdulillah pembelinya antusias dengan adanya ini,” ungkapnya.

Menurutnya, dia menjual BBM jenis premium dengan harga jual Rp7.550 per liter. Harga tersebut diatas harga pasaran di SPBU dengan selisih Rp 500. Selisih tersebut menjadi keuntungan layaknya penjual BBM eceran lainnya.

Dia menambahkan, dengan bisa membeli dengan uang berapapun tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Terutama di kalangan pelajar yang tentu saja pas dengan isi kantong, atau uang saku.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Bambang mengatakan, dirinya merasa lebih dimudahkan dengan penjualan seperti layaknya di SPBU tersebut. Sebab, dirinya mengaku lebih senang jika bisa membeli Premium dengan mengeluarkan Rp10.000 dari pada harus ada kembaliannya.

“Hal itu tidak bisa dilakukan di pengecer BBM biasa. Sedangkan kalau mau ke SPBU sangat jauh lokasinya,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)