Begini Penjelasan Dishub Grobogan Terkait Penutupan Perlintasan Kereta Api di Desa Sambung

MuriaNewsCom, GroboganPenutupan perlintasan jalur kereta api di wilayah Grobogan saat ini sudah dilakukan pihak Kementerian Perhubungan. Penutupan tersebut dilakukan guna mengurangi angka kecelakaan yang melibatkan kereta api.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto, Rabu (28/3/2018). Menurutnya, sebelum melakukan penutupan, dari Kementerian Perhubungan sudah melakukan beberapa kali sosialisasi pada tahun 2017.

Sosialisasi penutupan perlintasan sebidang dilangsungkan di 12 kecamatan. Dalam sosialisasi tersebut, pihak kementerian juga melibatkan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan kecamatan.

Baca: Perlintasan Sebidang di Desa Sambung Grobogan Ditutup, Akses Warga Terganggu

Dalam sosialisasi itu, lanjutnya, pihak desa juga diminta untuk mendata perlintasan yang ada di wilayahnya masing-masing. Dari data itu, pihak desa diberi pilihan untuk menentukan perlintasan yang tetap dibuka dan ditutup. Tenggat waktu untuk memberikan keputusan sampai akhir tahun 2017.

“Penutupan perlintasan sebidang dilakukan setelah hasil pendataan dari desa diserahkan ke Kementrian Perhubungan. Penutupan ini salah satu tujuannya untuk mengurangi angka kecelakaan yang melibatkan kereta api,” jelas mantan kabag humas itu.

Agung menegaskan, jika perlintasan nanti ditutup diharapkan warga bisa beralih melewati jalur lain. Sementara jika menghendaki tetap dibuka maka konsekuensinya harus dipasang palang pintu dan diberi penjaga secara swadaya.

“Semua keputusan kami serahkan ke pihak desa untuk menentukan pilihan,” jelasnya.

Kemudian, pada bulan Januari lalu ada rakor tindak lanjut penataan perlintasan sebidang di gedung Riptaloka, Setda Grobogan. Rakor ini digelar untuk menyingkronkan lagi usulan dari pihak desa.

Terkait penutupan perlintasan sebidang pada ruas jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong memang sudah jadi usulan pihak desa setempat. Jumlah perlintasan di Desa Sambung ada dua titik. Yakni, pada KM 39 dan KM 42.

“Dari data yang kita miliki, untuk perlintasan yang diusulkan ditutup oleh pihak desa adalah di titik KM 39. Sedangkan yang tetap dibuka di titik KM 42,” jelasnya.

Soal adanya penutupan yang sudah dilakukan, Agung menyatakan, pihaknya tidak mendapat pemberitahuan. Soalnya, kewenangan penutupan ada pada Kementerian Perhubungan.

“Besok, kami akan coba cek ke lokasi. Kalau sesuai usulan, memang ada satu perlintasan sebidang yang ditutup disana,” sambungnya.

Ditambahkan, sejauh ini masih ada banyak perlintasan kereta yang tidak berpintu dan ada penjaganya. Dari pendataan yang dilakukan, jumlah perlintasan keseluruhan ada 139 titik.

Perlintasan ini terbentang dari arah barat ke timur. Mulai Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug, Godong, Karangrayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Pulokulon, Geyer, Kradenan, dan Gabus. Dari 139 titik ini, sebagian besar tidak dilengkapi palang pintu atau dijaga petugas.

Editor: Supriyadi

Rawan Kecelakaan, Warga Desak Pemasangan Palang di Perlintasan Desa Sedadi Grobogan

Perlintasan kereta api di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan belum dilengkapi palang pintu dan penjaga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSejumlah warga meminta agar perlintasan kereta di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan segera dibuatkan palang perlintasan kereta api. Langkah itu diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di kemudian hari.

Sebelumnya, usulan untuk pembuatan palang pintu di perlintasan tersebut sudah sering dikemukakan. Namun, sampai saat ini, pembuatan palang pintu belum kunjung direalisasikan.

Dari keterangan warga, selama ini sudah beberapa kali terjadi kecelakaan antara kendaraan bermotor dengan kereta. Kecelakaan terbaru menimpa truk molen yang terjadi Selasa (12/12/2017) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Beruntung, dalam kejadian ini, sopir truk hanya mengalami luka ringan meski kendaraannya ringsek.

Sekitar tiga bulan sebelumnya, peristiwa kecelakaan juga terjadi di lokasi yang sama. Terakhir, adalah tertabraknya mobil Xenia oleh kereta barang, Kamis (21/9/2017) sekitar pukul 06.40 WIB.

”Perlintasan di sini memang rawan kecelakaan. Peristiwa kecelakaan sudah beberapa kali terjadi. Tapi, setahu saya, kecelakaan di sini belum pernah menimbulkan korban jiwa,” cetus Budiyono, warga setempat.

Menurut warga, belum dipasangnya palang pintu di lokasi itu juga dinilai cukup mengherankan. Alasannya, jalan raya yang dilalui perlintasan itu statusnya milik kabupaten dan arus lalu lintasnya cukup padat karena jadi akses antar kecamatan.

Selain itu, perlintasan yang berada di sebelah barat sungai Serang tersebut juga dekat dengan Stasiun Sedadi. Jarak perlintasan dengan kantor stasiun hanya sekitar 300 meter saja. Dengan kondisi itu, pemasangan palang pintu harusnya jadi skala prioritas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto menyatakan, sejauh ini memang masih ada banyak perlintasan kereta yang tidak berpintu dan ada penjaganya. Dari pendataan yang dilakukan, jumlah perlintasan  keseluruhan ada 139 titik. 

Perlintasan ini terbentang dari arah barat ke timur. Mulai Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug, Godong, Karangrayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Pulokulon, Geyer, Kradenan, dan Gabus.

Dari 138 titik ini, baru 13 titik perlintasan yang dilengkapi pintu atau dijaga petugas. Sementara titik perlintasan lainnya belum ada pintu maupun penjaganya. Beberapa perlintasan  yang arus lalu lintasnya cukup ramai biasanya ada penjaga swadaya.

Menurut Agung, selain memasang rambu peringatan, Pemkab Grobogan juga mengajukan bantuan pembuatan palang pintu perlintasan sebidang kereta pada pihak Kementrian Perhubungan. Permintaan bantuan disebabkan belum adanya biaya dari dinasnya untuk membangun palang pintu. Bantuan pembuatan palang pintu diajukan untuk 11 titik.

“Surat permohonan bantuan ditandatangani bupati dan sudah kita kirimkan akhir Mei lalu. Totalnya permohonan bantuan ada 11 titik perlintasan sebidang yang tersebar di beberapa kecamatan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi