Andi Kena Percikan Api Perang Obor di Jepara, Namun Ia Justru Girang

Tradisi perang obor yang dilakukan pemuda di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (4/9/2017) malam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (4/9/2017) malam, berlangsung meriah. Meski seputaran venue yang ada di simpang empat desa tersebut dipenuhi bara api, namun penonton terlihat menikmati dengan sesekali ber-swafoto.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00, rombongan Pemerintah Desa Tegalsambi dan Pemkab Jepara memulai arak-arakan dari rumah petinggi, dengan berjalan kaki. Menempuh jarak sekitar satu kilometer menuju tempat acara, rombongan membawa uba rampe yang nantinya akan didoakan sebelum penyulutan obor.

Obor sendiri terbuat dari dua pelepah kelapa kering yang ditangkupkan. Di dalamnya dimasuki dengan daun pisang kering.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dan Wakilnya Dian Kritiandi, secara simbolis melakukan peyulutan api obor.

Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso mengatakan, Perang Obor merupakan budaya khas dari wilayah setempat. Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan dan didukung oleh pemerintah daerah, supaya tak diakui oleh wilayah lain.

“Acara ini merupakan puncak dari sedekah bumi. Dengan budaya ini kami ingin menunjukan bahwa pemuda-pemuda Tegalsambi memiliki nyali, berani namun tetap sportif,” katanya.

Bupati Jepara setuju akan hal tersebut, menurutnya kebudayaan itu diharapkan membawa desa tersebut lebih maju.

Perang Obor sendiri dilakukan dalam kurun waktu lebih kurang satu jam. Peserta yang terdiri dari 40 orang terbagi menjadi kelompok tertentu. Antarkelompok tersebut kemudian saling serang dengan obor, yang disabetkan ke musuh. Adapun, total obor yang tersedia adalah 350 buah.

Baca : Ini Asal Mula Tradisi Perang Obor Jepara

Setelah acara, pemain obor dan penonton yang terkena percikan obor segera mendapatkan olesan minyak khusus. Terbuat dari minyak kelapa dicampur dengan kembang setaman yang telah layu.

Andi seorang pemain perang obor mengaku terpercik bara obor yang disabetkan ke tubuhnya. Meski telah menggunakan celana dan baju berlengan panjang serta mengenakan caping namun hal itu tak bisa dihindari.

“Panas rasanya namanya juga api, namun setelah diolesi minyak ini rasa panasnya tidak berkepanjangan,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

 Baca : Mujarab, Ramuan Ini Bisa Menyembuhkan Luka Bakar di Perang Obor Jepara dalam 3 Hari

HUT ke-67 Jateng Dipusatkan di Jepara

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara akan menjadi tempat terselenggaranya ajang bertajuk Pesta rakyat Jawa Tengah 2017. Perhelatan yang digelar mulai Jumat-Minggu (25-27) Agustus itu digelar dalam memperingati HUT Provinsi Jateng ke 67.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku siap menjadi penyelenggara event akbar itu. “Dalam perayaan HUT Jateng Kabupaten Jepara mendapatkan sampur berupa tempat. Namun kita tidak diam diri dalam menyukseskan ajang ini, kita siapkan pengamanan. Juga kami minta masyarakat ikut berpartisipasi dalam ajang ini,” katanya, Selasa (22/8/2017).

Menurutnya, pesta tersebut tidak hanya diikuti oleh kabupaten Jepara saja. Seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah juga turut ambil bagian. Oleh karena itu ia meminta warganya menunjukan keramahan dan senyum khas Jepara. 

Rangkaian acara yang akan ditampilkan di antaranya, parade seni budaya 35 kabupaten dan kota se Jawa Tengah, Ketoprak Kontemporer yang pemainnya adalah pejabat termasuk Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng dan sebagainya.

Adapula penampilan penyanyi nasional Kunto Aji dan Band Shaggydog. Selain itu adapula Job Fair yang menyediakan puluhan lowongan kerja.

Editor: Supriyadi

Cegah Pembajakan, Setiap Desa Didorong untuk Patenkan Tradisi yang Dimiliki

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. Pemkab berharap, setiap desa yang memiliki tradisi untuk bisa mematenkan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. Pemkab berharap, setiap desa yang memiliki tradisi untuk bisa mematenkan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendorong setiap desa yang memiliki tradisi atau kebudayaan untuk segera mamatenkan tradisi yang dimiliki itu. Hal tersebut untuk menghindari pembajakan atau menjamin keberlangsungan dari tradisi itu sendiri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Deni Hendarko melalui Kabid Kebudayaan Agus mengatakan, hampir di tiap desa di Jepara memiliki tradisi masing-masing. Beberapa desa di antaranya memilki tradisi yang khas dan telah berkembang pesat dan tiap tahun selalu menyedot perhatian. “Beberapa telah menjadi ikon kebudayaan dengan daya tawar wisata bagi Jepara,” kata Agus, Jumat (20/1/2017).

Di antara tradisi yang dianggap bahkan telah mendunia itu, seperti Perang Obor di Tegal Sambi, Jembul di Tulakan, Memeden di Gadhu Kawak, Jembul di Banyumanis, Pesta Baratan di Kalinyamatan dan Pekan Syawalan (pesta lomban).

Katanya, di antara tradisi-tradisi tersebut, baru Pekan Syawalan yang penyelenggaraannya langsung ditangani pemkab. “Yang lainnya masih dikelola desa masing-masing. Disparbud sebatas hanya memfasilitasi.
Pematenan tradisi itu diharapkan diikuti dengan pembentukan yayasan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, bila tak dikelola dengan baik, maka ada kekhawatiran tradisi itu dibajak oleh daerah lain, atau bahkan negara lain.

Di sisi lain, pihaknya juga ingin memastikan tradisi tersebut tetap berlanjut atau tak mati serta terkelola dengan baik. Termasuk dalam hal promosi. “Jika dikelola dengan baik, sebenarnya banyak tradisi di Jepara yang bisa dijual karena berpotensi mendatangkan wisatawan,” ucapnya.

Saat ini, pihaknya sudah menyampaikan hal itu ke desa-desa yang memiliki tradisi khas tersebut. Namun, pihaknya tak bisa memaksa, lantaran itu menjadi hak masing-masing desa. Sehingga dalam hal ini hanya sebatas memberikan pembinaan dan memfasilitasi saja.

Editor : Kholistiono

Meriahnya Sedekah Bumi dan Perang Obor Jepara

Meriahnya Sedekah Bumi (e)

Warga menikmati perang obor yang digelar di Jepara.

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sukun Executive mensupport tradisi tahunan sedekah bumi dan perang obor yang digelar oleh warga Tegalsambi, Jepara pada Senin (2/5/2016).

Ribuan warga Jepara berkumpul untuk menonton tradisi tersebut. Seusai dibuka dengan doa, obor yang terbuat dari pelepah kelapa dan pisang kering disulut api oleh Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi dan Wakil Bupati Jepara, Subroto.

Perang obor pun dimulai. Para peserta yang berjumlah 34 orang dan merupakan perwakilan dari masing-masing RT di desa Tegal Sambi masing-masing sudah memegang obor mereka, mengambil kuda-kuda untuk siap menyerang lawannya.

Seketika para peserta saling serang, dalam perang obor tidak mengenal istilah kawan atau lawan, karena peserta bisa menyerang peserta manapun. Panitia menyediakan sekitar 300 obor yang akan digunakan peserta. Perang obor yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung sekitar satu jam atau setelah semua pelepah kelapa habis terbakar.

Untuk mengobati peserta maupun penonton yang mengalami luka bakar, panitia telah menyediakan obat berupa ramuan dedaunan yang telah diberi minyak kelapa.

Editor : Akrom Hazami

 

Tradisi Perang Obor Tegalsambi Jepara Disambut Antusias

 

perang obor (e)

Salah seorang peserta Perang Obor yang digelar di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, membawa peralatan perang dalam acara yang berlangsung Senin (2/5/2015). MuriaNewsCom (Wahyu KZ)

 

 

MuriaNewsCom, Jepara – Tradisi Perang Obor Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, kembali digelar warga setempat dan berlangsung Senin (2/5/2016) malam.

Ratusan obor raksasa yang terbuat dari campuran ”blarak” (daun kelapa kering, red) dan ”klaras” (daun pisang kering, red) dijadikan alat perang 35 pemuda desa setempat dengan cara saling memukul.

Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini dilangsungkan di perempatan desa setempat. Acara yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB ini dibuka dengan beberapa rangkaian acara. Di mana ”kamituwa” (sesepuh desa, red), memimpin ritual doa di perempatan jalan. Kemudian 35 pemuda yang telah disiapkan langsung saling serang dengan obor raksasa.

Antusiasme warga sekitar dan luar kota sangat tinggi. Terlihat ribuan warga telah memadati lokasi sejak beberapa jam sebelum acara puncak dimulai. Tak hanya itu, banyak warga yang ketiban berkah dengan agenda ini, ada yang berjualan, membuka jasa penitipan kendaraan dan yang lainnya.

”Ini merupakan tradisi turun temurun dan digelar setahun sekali. Ini tradisi yang hanya ada di Desa Tegalsambi,” ujar Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santosa, kepada MuriaNewsCom, Senin (2/5/2016).

Menurutnya, banyak nilai luhur yang dapat diambil dari tradisi Perang Obor. Salah satu yang paling penting adalah melestarikan tradisi ditengah gempuran tradisi asing dengan modernitasnya. Selain itu juga filosofi Perang Obor di mana harus menjunjung tinggi sportivitas.

”Meskipun sudah beradu obor, tetap harus menjaga persaudaraan. Tidak boleh balas dendam,” katanya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, meski para peserta perang obor saling memukul dengan obor yang juga terdapat api dan bara api. Para peserta tidak takut. Usai peperangan obor digelar, sudah disiapkan ramuan khusus yang dapat mengobati luka bakar.

”Termasuk untuk penonton yang terluka, bisa diobati dengan ramuan khusus ini,” katanya.

Editor: Merie