Haru, 2 ABK yang Sempat Hilang Ternyata Berulang Tahun di Hari Mereka Diselamatkan

MuriaNewsCom, Jepara – Ada kisah mengharukan dibalik selamatnya dua ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang sempat hilang di perairan Jepara. Ternyata, hari dimana mereka diselamatkan, Jumat (23/3/2018), adalah hari ulang tahun Sutomo dan Bahrudin yang merupakan ayah dan anak.

Diberitakan sebelumnya, Sutomo dan Bahrudin merupakan ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang tenggelam di perairan Jepara, Kamis (22/3/2018) dinihari. Mereka adalah bagian dari total 29 anak buah kapal, yang selamat.

Namun, ketika 27 ABK lain diselamatkan pada hari yang sama dengan terjadinya kecelakaan laut. Keduanya justru sempat terapung selama lebih kurang 28 jam, sebelum akhirnya diselamatkan Tug Boat Nayaka 2, pada Jumat pagi.

Humas Basarnas Kantor SAR Semarang Zulhawary Agustianto mengungkapkan, Sutomo dan Bahrudin memang lahir pada tanggal yang sama yakni, 23 Maret. Si Ayah diketahui lahir pada 1983 atau 35 tahun, sementara Bahrudin berusia 17 tahun karena lahir pada 2001 silam.

“Keduanya adalah warga Desa, Tegalrejo, Kabupaten Batang Jawa Tengah,” ucapnya, Jumat siang.

Menurutnya, tak banyak hal yang diungkapkan keduanya saat diselamatkan. Ketika berada di kapal penyelamat, Tug Boat Nayaka mereka juga tak banyak bercerita.

“Kondisi saat dinaikan ke tugboat, si anak (Bahrudin) dalam keadaan lemas. Saat disuguhi makanan ia juga tak banyak makan karena masih syok dan lemas,” ujarnya.

Setelah dievakuasi dari tengah laut, mereka kemudian dibawa ke Jepara dan mendapatkan perawatan di RSUD Kartini Jepara. Mereka dijemput oleh kapal RIB Basarnas Jateng.

Ketika mendapatkan perawatan, Bahrudin juga tak banyak berkomentar. Saat ditanya pewarta, Bahrudin mengaku terlepas dari rombongan besar 28 ABK yang juga tercerai berai.

Sebanyak 17 ABK diselamatkan oleh Kapal Jasa Samudra ke Karimunjawa. Sedangkan 10 lainnya diselamatkan ke Jepara, sesaat setelah kapal terbalik pada hari Kamis.

“Kaim bertahan dengan pelampung dan berpegangan pada ember cat. Kami terlepas dari rombongan besar (ABK lain),” ujar Bahrudin singkat.

Kini keduanya, dan seluruh ABK tengah menunggu penjemputan dari pemerintah daerah masing-masing. Adapun, kapal yang mereka tumpangi berangkat dari Pekalongan.

Editor: Supriyadi

‎Dua ABK Kapal Tenggelam yang Hilang Ditemukan Selamat di Perairan Mandalika

MuriaNewsCom, Jepara – Dua orang Anak Buah Kapal (ABK) KM Bintang Sinar Rezeki yang sempat hilang, ditemukan selamat, Jumat (23/3/2018). Keduanya, Sutomo dan Bahrudin diselamatkan oleh Kapal Tug Boat Nayaka 2, terapung di sekitar perairan Mandalika, Jepara. Selama di lautan, mereka berpegangan pada dua buah wadah cat kemasan besar dan memakai pelampung.

Koordinator SAR Jepara Wishnu Yugo Utomo mengatakan, kedua penyintas musibah Laka laut itu ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB. Keduanya diketahui adalah bapak dan anak.

“Saat ditemukan Sutomo (bapak) melambaikan tangan sambil berteriak kepada kapal Tug Boat Nayaka 2. Sementara Bahrudin, dalam keadaan agak lemas,” terangnya.

Setelah diselamatkan kapal TB Nayaka 2 tujuan Kota Baru, Kalimantan menuju Cirebon Jawa Barat, mereka dijemput oleh Basarnas. Dengan menggunakan Rigit Inflatable Boat (RIB) Basarnas, penyintas tersebut kemudian dibawa ke Jepara.

Setelah tiba didaratan, keduanya langsung mendapatkan perawatan medis di RSUD Kartini.

Bahrudin korban selamat kecelakaan laut tersebut mengaku, terpisah dari rombongan ABK lain. Saat kapal terbalik, ia mengaku berpegangan pada papan dan gabus yang diikat.

“Namun saat itu kami terlepas dari ABK yang lain, kemudian baru diselamatkan ketika pagi datang,” urainya.

Keduanya terapung-apung di lautan lebih kurang 28 jam.

Diberitakan sebelumnya, kapal pencari ikan KM Bintang Sinar Rezeki mengalami rusak mesin dan tenggelam disekitar perairan Jepara. Dari 29 ABK, semuanya selamat. Tujuh belas diantaranya terselamatkan kapal Jasa Samudra dan dibawa ke Karimunjawa. Sementara 10 lainnya dibawa ke Jepara, Kamis (22/3/2018).

Editor : Supriyadi

Kapal Pencari Ikan Asal Pekalongan Tenggelam di Perairan Jepara, 27 ABK Selamat Dua Lainnya Hilang

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah kapal pencari ikan KM Bintang Sinar Rejeki dari Pekalongan, tenggelam di perairan utara Jepara, Kamis (22/3/2018) dini hari. Dari 29 Anak Buah Kapal (ABK), 27 dapat diselamatkan, sementara dua lainnya masih dalam pencarian petugas.

Data yang dikumpulkan MuriaNewsCom, 17 ABK diselamatkan kapal Jasa Samudra ke Karimunjawa. Sementara 10 ABK lain, berhasil diselamatkan nelayan, ke perairan Dukuh Pailus, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo.

Nahkoda Kapal KM Bintang Sinar Rezeki Kasdu mengungkapkan, kapalnya itu mengalami kebocoran pada lambung. Sebelum rusak kapalnya itu dihantam ombak besar di utara Tanjung Emas Semarang. Air mulai masuk sekitar pukul 02.30 WIB Kamis dinihari.

“Yang bocor itu, bagian pembuangan air kapal. Jam 04.00 WIB pagi tadi terbalik. Setelahnya kami berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan pada papan yang diikat tali. Semula kami berkumpul semua, kemudian separuh dari kami mulai terpisah,” jelasnya.

Ia mengatakan, kapalnya berangkat dari Pekalongan menuju Banyuwangi untuk mencari Ikan Cakalang. Namun sebelum sampai tujuan, kapal tersebut mengalami kerusakan dan diterpa ombak di perairan Jepara.

Lokasi tenggelamnya kapal tersebut diduga berada 10 mil laut, disekitar Pantai Tubanan, Kecamatan Kembang.

Adapun, 10 ABK yang berhasil diselamatkan disekitar Dukuh Pailus adalah Turah, agus saipul, Budi Setiawan, Sanadi, Kaeron, Ahmad Ridho Zabidin, Kasdu, Ali Fahmi, Muhammad Adib dan Suratman.

Terpisah, Arif Rahman Kepala Desa Karimunjawa membenarkan 17 ABK sudah diselamatkan. Mereka adalah Rudi, Mahmuri, Norjono, Budi, Kirom, Ahmad Sodikin, Sukirno, Widodo, Faidur Rohman, Khoirul Riswanto, Sumono, Fahrudi Prasojo, Cahyono, Haryanto, Andreas, Suroso dan Rasmono.

“Mereka diselamatkan oleh Kapal Jasa Samudra yang melihat (17) ABK terapung di lautan. Mereka saat itu berlayar dari Jepara menuju Karimunjawa,” tutur dia.

Kapolsek Karimunjawa Iptu Suranto mengatakan, saat ini ke 17 ABK yang selamat di Karimunjawa dalam kondisi baik. Diantara mereka ada yang mendapatkan perawatan di Puskemas.

“Mereka ditemukan di 17 mil sekitar Pulau Mandalika. Kemudian mereka diselamatkan oleh kapal Jasa Samudra yang hendak berlayar ke Karimunjawa,” ungkapnya.

Adapun, berdasarkan daftar penumpang, nama Sutomo dan Darsono belum diketemukan, hingga kini.

Editor: Supriyadi

Dihantam Ombak, 4 Nelayan Jepara Terombang-Ambing di Lautan

MuriaNewsCom, Jepara – Nekat berlayar empat orang nelayan diombang-ambingkan oleh ombak besar di perairan Jepara Dukuh Kalitowo, Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Kamis (25/1/2018). Pada kejadian itu, sebuah kapal juga mengalami pecah lambung karena diterjang oleh gelombang tinggi mencapai empat meter.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jepara Arwin Nor Isdiyanto mengatakan, dalam kejadian itu ada dua kapal yang diombang-ambingkan oleh ombak. Namun hanya satu di antaranya yang mengalami pecah lambung.

Ia mengungkapkan, dua kapal yakni Sri Barokah milik Sriyanto (40), yang diawaki Marsono (45) dan Rama (16) berangkat ke tengah laut pada pukul 04.00 WIB, bersama kapal Karunia Illahi yang dinahkodai oleh Wagisri. Kedua kapal tersebut berangkat menuju perairan Lemah Abang, yang terletak 100 mil laut dari darat.

Tak disangka, sekitar pukul 06.00 WIB cuaca berubah menjadi buruk. Kapal Sri Barokah milik Sriyanto mengalami pecah di bagian lambung.

“Saat kondisi laut memburuk, Sriyanto sempat menelpon istrinya Kemisih, guna memberitahukan kondisi kapalnya yang pecah diempas oleh ombak. Setelahnya komunikasi terputus,” ujar Arwin.

Dalam kondisi lambung kapal pecah, Sriyanto berserta ABK berhasil menepikan kapalnya di Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo.

“Sementara itu, Kapal Karunia Illahi berhasil mendarat di Dukuh Bayuran, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa,” jelasnya.

Menurutnya, proses evakuasi berlangsung lancar dibantu dengan relawan gabungan, BPBD Jepara, TNI dan Polri serta PMI Jepara.

Editor: Supriyadi

Ombak Tinggi, Dua Kapal Penyebrangan ke Karimunjawa Dilarang Berlayar

Ombak besar menghantam tanggul yang ada di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jepara, Senin (27/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua kapal penyebrangan Jepara-Karimunjawa, KMC Express Bahari dan KMP Siginjai, tak berlayar hari ini, Senin (27/11/2017). Lantaran, ombak di lautan yang mencapai tinggi empat meter.

Kepala Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Syahbandar Jepara Suripto menyampaikan, hal itu sesuai dengan prakiraan cuaca yang dirilis oleh BMKG. Karenanya, pihaknya mengeluarkan maklumat pelarangan berlayar bagi kedua kapal tersebut menuju Karimunjawa. 

Pantauan MuriaNewsCom, dua kapal tersebut lego jangkar di pelabuhan kartini. KMP Siginjai terlihat menutup palka. Begitu pula KMC Express Bahari yang terlihat tidak ada kegiatan. Sementara kapal-kapal nelayan kecil, terlihat memperbaiki mesin kapal. 

“Kondisi ombak bisa mencapai empat meter di siang hari. Selain itu, embusan angin bisa mencapai 4-15 knot di perairan Laut Jawa,” ujarnya. 

Sesuai prakiraan cuaca dari BMKG angin berembus dari arah barat dan barat daya. Selain itu, hujan dengan intensitas sedang juga melanda kawasan itu. 

Adapun, pelarangan berlayar telah dikeluarkan oleh UPP Syahbandar Jepara sejak 25 November 2017. KMP Siginjai sejak hari tersebut sudah tidak berlayar. Namun, KMC Express Bahari masih bisa melayani pelayaran di hari Sabtu. 

“Kalau hari Sabtu kemarin, wisatawan masih bisa diangkut (menuju Jepara) oleh KMC Express Bahari dan Pelni yang menuju Semarang,” kata Budi Krisnanto Camat Karimunjawa. 

Editor: Supriyadi

Tebar Indukan Udang di Jepara, Ganjar Ikut Nyemplung ke Laut Tanpa Alas Kaki


Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (tiga dari kanan) saat hendak melakukan tebar calon indukan ikan dan udang di perairan Jepara, Senin (16/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan tebar ratusan ribu indukan udang dan ikan ke perairan Jepara, Senin (16/10/2017). Hal itu dilakukan sesaat sebelum acara pembagian 258 paket Alat Penangkapan Ikan (API) ramah lingkungan kepada nelayan Jepara. 

Tebar calon indukan itu dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, Staf Ahli KKP Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga Suseno Sukoyono, dan Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharjo serta Kepala Dinas Kelauatan dan Perikanan Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi. 

Baca: Dihadiri Ganjar, Nelayan Jepara Pertanyakan Efektivitas Alat Tangkap Ikan Pengganti Cantrang

Bertelanjang kaki, Ganjar langsung nyemplung ke laut kemudian diikuti oleh Marzuqi yang mengikuti langkah atasannya itu. Padahal panitia telah menyediakan sepatu boots untuk para pejabat tersebut. Lalu ribuan calon indukan udang, rajungan, dan bandeng ditebar.

“Ini (ikan) kalau ditebar bisa berenang kesana ya. Ini ditebar semua nggak ada yang dibakar ya,” seloroh Ganjar sebelum melepaskan calon indukan udang yang ada dalam plastik besar. 

Adapun calon indukan yang ditebar adalah udang windu sejumlah 100 ribu ekor, Nener (bandeng) 500 ribu ekor, rajungan 100 ribu dan kepiting 100 ribu. Semua indukan tersebut telah dipersiapkan oleh BBPBAP Jepara sebelum acara. 

Ganjar berharap, tebaran atau restocking indukan tersebut bisa berguna bagi nelayan dan warga sekitar.  

Editor: Supriyadi

Ikan ’Lari’ ke Perairan Karimunjawa, Nelayan Jepara Pilih Tak Melaut

Sunardi, nelayan di Jepara tengah memperbaiki jaring ikan miliknya. Ia memilih tak melaut karena cuaca buruk. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sunardi (66) terpaksa tak melaut karena arus kencang dan sepinya tangkapan ikan. Untuk mengisi waktu luang, ia memperbaiki jaring sembari menunggu cuaca membaik.

Ditemui di rumahnya di Kelurahan Pengkol, Kecamatan Jepara, ia tengah sibuk memperbaiki jaring ikan miliknya. Sunardi mengaku sudah sepekan tidak melaut.

“Arusnya kuat, tangkapan ikan sepi. Hal ini karena musim pancaroba sehingga memengaruhi kondisi di lautan. Sudah sepekan keadaannya seperti ini,” tuturnya, Rabu (4/10/2017). 

Menurutnya, kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga setengah bulan ke depan. Selama masa tersebut ia mengaku memilih berdiam di rumah.

Jika nekat melaut, tak pelak ia hanya akan menanggung rugi, karena sudah mengeluarkan biaya solar, namun tak mendapatkan hasil. Ditambah lagi, kondisi arus kuat menyebabkan ikan berpindah ke tengah mendekati Pulau Karimunjawa.

“Dulu kalau normal berangkatnya jam 3 pagi, pulangnya jam 10 siang. Sekarang ada yang berangkat jam 12 malam, pulangnya jam 12 siang karena ikannya semakin ke tengah, jadi perjalanan yang ditempuh semakin jauh,” tuturnya.

Selama tak melaut, kebutuhan hidupnya akan dipenuhi dari tabungan melaut sebelumnya. Jika habis, ia terpaksa meminjam dari tetangga.

Kondisi tersebut tak hanya dialami oleh Sunardi. Karnadi, nelayan lain memilih membetulkan kapal miliknya. Menurutnya, sudah dua hari ini ia tidak melaut. 

“Lautnya memang sedang berarus kuat. Jadi saya memilih untuk menepikan kapal saya dan membetulkan bagian yang rusak,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha

BKSDA Jateng  Pertimbangkan Penghentian Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Sejumlah pekerja UD Sumber Rezeki melakukan pengambilan karang di perairan Pantai Bondo Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah akan menghormati putusan rapat dengar pendapat, terkait pengambilan terumbu karang di perairan Jepara. Namun demikian, pihaknya mengklaim telah melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas tersebut. 

Hal itu dikatakan oleh Haris Yunanto Kabag Tata Usaha BKSDA Provinsi Jateng, usai pertemuan di Pendapa Kabupaten Jepara, Jumat (11/8/2017). 

“Berdasarkan pembicaraan tadi disepakati untuk menghentikan (pengambilan terumbu karang,red), maka kami pertimbangkan untuk lakukan pemberhentian,” ucapnya.

Baca Juga : DPRD Jateng Minta Pengambilan Terumbu Karang di Jepara Dihentikan Sementara

Namun pada pertemuan lanjutan, ia berharap agar pengusaha terumbu karang ikut serta, dalam pertemuan selanjutnya. Dirinya juga tidak bisa serta merta melakukan penghentian ekspoitasi terumbu karang secara sepihak. 

“Yang harus kami terima adalah alasan untuk menghentikan, kami sebagai pelayan masyarakat tak bisa menghentikan secara sewenang-wenang. Jadi kami mengharapkan UD (Usaha Dagang-pengusaha) datang (dalam pertemuan di Semarang) agar bisa mendengarkan apa yang bisa diinginkan forum dalam hal ini DPRD Jateng,” imbuhnya. 

Baca Juga : Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Disinggung tentang surat izin pengambilan terumbu karang, dirinya mengakui pihaknya memang memberikan izin tersebut. Akan tetapi hal itu berdasarkan peraturan yang masih berlaku. 

“Karena undang-undang yang kami anut no 5 tahun 1990 (tentang Konservasi SDAH dan E) sebelumnya tidak dicabut atau dikecualikan, kemudian peraturan pemerintah nomor 8/1999 (tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar) tidak ada yang mencabut maka tetap kita berlakukan. Dan kami selalu bicara tentang jenis yang diboleh dimanfaatkan jenis tertentu, atau yang dilindungi jenis tertentu. Bukan semua jenis terumbu karang itu dilarang,” imbuhnya.

Terkait pengawasan, ia menyebut telah melakukannya secara rutin. Hal itu dilaksanakan dengan pengecekan melalui laporan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Selain itu, pihaknya mengklaim telah mengawasi pengambilan terumbu karang secara langsung ke perairan Jepara. Selain itu, BKSDA juga telah mewajibkan pengusaha terumbu karang untuk melakukan transplantasi karang.

Editor: Supriyadi

DPRD Jateng Minta Pengambilan Terumbu Karang di Jepara Dihentikan Sementara

Perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara melakukan pertemuan di Pendapa Jepara, Jumat (11/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi B DPRD Jawa Tengah meminta agar kegiatan pengambilan terumbu karang di perairan Jepara, dihentikan sementara. Kesepakatan itu dirumuskan saat rapat dengar pendapat, antara perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara, Jumat (11/8/2017) di ruang tamu pendapa kabupaten Jepara.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah dr Messy Widiastuti Mars mengatakan, pertemuan tersebut dihelat merespon keluhan warga tentang adanya aktivitas pengambilan terumbu karang di perairan Desa Bondo, Bangsri. 

“Ini pertemuan awal, namun guna merespon peristiwa ini kami meminta agar pengambilan terumbu karang dihentikan terlebih dahulu. Hal itu sampai digelarnya pertemuan yang lebih lanjut nanti di Semarang, bersama pengusaha terumbu karang dan pihak terkait,” ujarnya, seusai pertemuan. 

Baca Juga : Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Pada pertemuan selanjutnya, Messy menyebut akan mengundang pihak pengusaha terumbu karang. Di sana akan dikaji, seberapa jauh prosedur pengambilan terumbu karang. 

“Kami akan menyuruh mereka (pengusaha) memresentasikan tentang pengambilan terumbu karang yang selama ini mereka geluti. Di mana saja dia mengambil, jumlahnya berapa, sudah sesuai dengan peraturan atau tidak,” urainya. 

Messy mengatakan di Jawa Tengah ada dua daerah yang mengalami kasus serupa, yakni Jepara dan Rembang. Namun di Rembang, pemerintah kabupaten telah membuat peraturan pelarangan pengambilan terumbu karang. 

“Kami mendorong pemkab Jepara untuk bisa melakukan hal yang sama dengan Rembang. Bisa melakukan kajian dengan peraturan daerah di sana. Sehingga keluhan masyarakat tidak terabaikan,” tutur dia.

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Diberitakan sebelumnya, Koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s”  Nanang Cahyo Hadi mengadukan masalah pengambilan terumbu karang hias di wilayah perairan Bondo-Bangsri. 

“Kami mempertanyakan hal itu, karena selama ini kami diimbau merawat terumbu karang, namun ada aktivitas tersebut,” kata dia. 

Editor: Supriyadi

Satpolair Dalami Eksploitasi Karang di Perairan Bondo Jepara

Terumbu karang hasil tangkapan UD Sumber Rezeki saat tertangkap basah oleh kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Jepara mendalami eksploitasi terumbu karang di perairan Bondo. Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengumpulkan pihak terkait tentang peristiwa tersebut. 

“Kami akan mengumpulkan pihak terkait, Badan Keamanan Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL, serta BKSDA, terkait adanya izin pengambilan karang di wilayah Jepara. Surat sudah naik pada hari Jumat (4/8/2017) lalu. Harapannya dari BKSDA provinsi Jawa Tengah bisa hadir minggu depan,” ujar Kasatpolair Polres Jepara AKP Hendrik Irawan, Senin (7/8/2017).

Menurutnya, sesuai peraturan di seluruh wilayah Indonesia sudah tak diperbolehkan lagi mengambil terumbu karang, jenis apapun. Oleh karenanya, ia ingin melakukan pendalaman terkait izin yang dikantongi UD Rejeki, dari BKSDA untuk dapat mengambil karang yang diklaim tak dilindungi. 

Hendrik juga menyebut, pengambilan karang bisa menciderai alam. Lantaran pengambilan karang menggunakan alat berat.

“Bukan izinnya yang dipermasalahkan, namun cara pengambilannya yang bisa merusak terumbu karang lain. Misalnya diinjak-injak atau dicongkel,” lanjutnya. 

Dirinya menyebut, pengambilan karang di perairan Jepara bukanlah hasil penangkaran, namun karang-karang tersebut menempel pada karang alam lain. 

“Saat ini sekitar 100 buah karang masih kami simpan di Markas Polair. Ada beberapa diantaranya (karang) yang masih hidup,” pungkas Hendrik.

Sebelumnya, nelayan di sekitar Pantai Bondo-Bangsri mempertanyakan aktifitas pengambilan karang di perairan itu. Nanang Cahyo Hadi koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s” Desa Bondo mengeluhkan hal tersebut pada awak media. Menurutnya, warga nelayan di desa itu bingung dengan aktifitas yang telah berlangsung sejak lama tersebut.

“Kami nelayan disuruh menjaga kelestarian karang, namun disisi lain ada pengambilan karang yang dilakukan oleh sebuah usaha dagang (UD) Rejeki di kawasan kami. Namun saat kami tanyai orang yang beraktifitas mengambil karang, ternyata mereka mengantongi izin,” kata dia Jumat (4/8/2017). 

Menurutnya, warga tak bisa melarang karena mereka mengantongi izin dari BKSDA Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, Nanang juga mempermasalahkan tentang pengawasan terkait pengambilan karang tersebut. 

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha 

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara 

Baca Juga: Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah, Ini Respons Pemkab

Editor: Supriyadi

Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Sejumlah pekerja UD Sumber Rezeki melakukan pengambilan karang di perairan Pantai Bondo Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan Desa Bondo, Kecamatan Bangsri mempertanyakan eksploitasi terumbu karang yang dilakukan oleh pengusaha UD Sumber Rezeki di kawasan laut sekitar desa itu.

Warga pun tak kuasa melarang, karena mereka mengantongi izin eksploitasi koral dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah.  

Nanang Cahyo Hadi koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s” Desa Bondo mengatakan, izin tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah itu bernomor 57/IV-K.11/KKH/2017.

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Di dalamnya memuat 37 jenis koral tak dilindungi yang dapat diekploitasi, berikut kuota maksimalnya. Seperti jenis base rock (unidentified scleractinian) live rock yang memiliki kuota se Jawa Tengah 100.000 buah dan hanya boleh diambil 38.166 buah.

Adapula jenis caulastrea sp yang berkuota 1.500 namun boleh ditangkap sebanyak 549 buah saja. Karena izin tersebut, ia bersama warga di Desa Bondo bingung dan tak bisa melakukan apa-apa. Padahal aktivitas telah berlangsung sejak lama.

“Maka dari itu kami ingin kejelasan, apakah boleh mengambil karang sedangkan itu tempat berkembang biak ikan. Apalagi kami ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata bawah air,” ujarnya.

Kalaupun itu benar diizinkan, lanjutnya, ia berharap ada pengawasan intensif dari pihak terkait. Terlebih lagi, terumbu karang tersebut merupakan rumah bagi ikan untuk  berkembang biak. Jika itu rusak, ia khawatir jumlah ikan berkurang dan ekosistem bawah laut rusak.

“Karena itu pengawasannya bagaimana harus jelas. Soalnya kami sendiri tidak tahu jenis-jenis koral yang dapat diambil dan tidak. Wong saya tanya jenis-jenis karangnya kepada yang ambil pas waktu dipergoki dia mengaku tidak tahu,” tambah dia.

Sebelumnya, tambah Nanang, pihaknya sempat menangkap basah aktivitas tersebut di perairan sekitar PLTU Tanjung Jati B dan Ujung Pantai Bondo. Dari situ, pihak pekerja pun tak bisa menjelaskan jenis-jenis item yang dimaksud.

Editor: Supriyadi

Tim Gabungan Masih Cari Satu Korban Perahu Pecah di Perairan Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, PMI, Basarnas dan Pol Air Jepara kini masih melakukan pencarian terhadap korban perahu pecah di Perairan Empu Rancak, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri. Satu korban atas nama Gisan, warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, hingga kini masih belum ditemukan.

Korban diketahui hilang sejak Kamis (16/2/2017) yang ketika itu, perahu yang ditumpangi bersama dua rekannya pecah diterjang ombak. Dua temannya yakni Nur Hadi (65) warga Dukuh Ngrandon,Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo dan Hariadi (60) asal Balongarto, Kecamatan Kembang, Jepara, bisa selamat dengan berpegangan bambu selama berjam-jam. Gisan yang semula juga ikut berpegangan bambu terlepas karena hempasan ombak, dan hingga kini masih belum ditemukan.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo mengatakan, pencarian untuk saat ini difokuskan pada penyisiran pantai. “Proses pencarian terhadap korban, sesuai dengan SOP yang ada. Yakni mengacu hingga 7 hari pascakejadian,” kata Pujo.

Baca juga : Perahu Pecah Diterjang Ombak, 3 Nelayan Mengapung dengan Pegangan Bambu, yang Terjadi Kemudian…

Dia melanjutkan, hari pertama hingga keempat, tim melakukan pencarian dengan kekuatan penuh di lokasi sekitar TKP. Sedangkan hari kelima hingga ketujuh, pihak tim melakukan penyisirian di pantai. Dan bilamana pencarian selama tujuh hari hasilnya nihil, maka akan dihentikan.

Namun demikian, katanya, jika dari pihak keluarga meminta untuk dilanjutkan dan bisa memberikan informasi yang berbobot, baik itu data atau ciri-ciri, sehingga bisa dilacak oleh tim dan memudahkan pencarian oleh tim, maka, sangat dimungkinkan untuk dilanjutkan.

Dalam hal ini, pihaknya juga mendirikan beberapa posko pengaduan. Hal ini untuk memudahkan tim untuk melakukan koordinasi. “Kita mendirikan beberapa posko, di antaranya yakni di Bondo, Bayuran dan Bandungharjo. Selain ituk kita mencarinya juga berpencar. Baik mulai TKP, Beringin dan Bandungharjo. Tentunya yang paling penting ialah mengikuti arus ombak atau angin. Sebab dimungkinkan korban terseret ombak sesuai arah angina,” katanya.

Editor : Kholistiono

Urus Dokumen Pengukuran Kapal, Nelayan Jepara Disarankan Kolektif

Sejumlah kapal nelayan di Jepara tengah berada di salah satu muara sungai di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah kapal nelayan di Jepara tengah berada di salah satu muara sungai di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sejak diberlakukannya pengukuran kapal untuk melengkapi dokumen kepemilikan kapal. Nelayan di Kabupaten Jepara diminta tidak perlu risau dan khawatir. Selain prosesnya mudah dan gratis, pihak UPP Syahbandar juga menyarankan agar pengurusan dilakukan secara kolektif.

”Kalau bisa kolektif lah, agar tidak begitu kerepotan. Nelayan bisa menunjuk tokohnya untuk mengurusnya mulai dari awal sampai akhir. Sebab, yang dibutuhkan adalah legalitasnya termasuk beberapa tanda tangan dari pihak Desa maupun Kecamatan,” ujar Kepala UPP Syahbandar, Suripto kepada MuriaNewsCom, Kamis (12/5/2016).

Menurut dia, ketika kolektif tentu saja pengurusan lebih cepat dan tidak terlalu repot ketika meminta tanda tangan. Selain itu, petugas dari Syahbandar juga bisa sekali datang untuk melakukan pengukuran terhadap beberapa kapal.

”Petugas pengukurnya kan memang hanya ada satu. Kalau kolektif tentu saja lebih cepat. Selain memudahkan kami juga memudahkan para pemilik kapal,” terangnya.

Menurut dia, langkah-langkah yang harus ditempuh apabila surat ukur bisa diterbitkan diantaranya adalah adanya surat permohonan kapal, suray keterangan hak milik, surat keterangan tukang, dan surat telah dilakukan pengukuran.

”Personel yang mengukur dari kami memang hanya ada satu. Tetapi itu tidak masalah, karena dia juga bisa datang kemana saja apabila memang aka nada kapal yang diukur,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, di Kabupaten Jepara memang ada ribuan kapal. Meski begitu sebagian dipastikan sudah memiliki surat ukur. Dia juga mengatakan, untuk kapal yang dibawah 7 GT yang mengeluarkan surat pengukuran adalah Dishubkominfo, sedangkan Syahbandar hanya membantu.

”Jika dari Dishubkominfo memiliki petugas yang telah tersertifikasi melakukan pengukuran, tidak apa-apa. Kami sifatnya membantu untuk kapal dibawah 7 GT. Sedangkan untuk kapal yang ukurannya diatas 7 GT, Syahbandar yang mengeluarkan surat pengukuran,” terangnya.

Editor: Supriyadi