Operasi Sikat Candi, Polisi Ungkap 19 Kasus Kejahatan di Pati

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan menunjukkan pistol mainan yang disita dari pelaku pencurian dengan kekerasan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati berhasil mengungkap 19 kasus kejahatan di wilayah Kabupaten Pati dalam Operasi Sikat Candi yang berlangsung selama 20 hari.

Dari 19 kasus yang diungkap, polisi membekuk 12 tersangka. “Ada 15 kasus pencurian dengan pemberatan dan empat kasus pencurian dengan kekerasan,” ujar Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan.

Dalam Operasi Sikat Candi, Polres Pati dibebankan pada tiga kasus dalam target operasi (TO). Namun dalam pengembangan kasus, polisi akhirnya berhasil mengungkap 16 kasus di luar target operasi.

Sejumlah barang bukti yang diamankan polisi, antara lain kamera DSLR, telepon seluler, pistol mainan untuk digunakan untuk merampok, korek, kunci leter T, dan pakaian yang dipakai pelaku.

Polisi juga mengamankan sembilan sepeda motor hasil curian. Sepeda motor berbagai tipe dan merek tersebut dijadikan sebagai barang bukti pada saat sidang berlangsung.

“Kasus kejahatan di Pati sebagian besar memang tindak pidana pencurian. Lokasi yang menjadi sasaran empuk pelaku biasanya di tempat-tempat parkir kendaraan yang sepi dari pantauan,” ucap AKBP Maulana.

Pihaknya menegaskan akan menyikat habis pelaku tindak pidana di Pati. Dia juga ingin memberikan pelajaran dan efek jera kepada pelaku kejahatan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

“Pelaku yang ditangkap ada yang residivis, spesialis pencuri. Karena itu, kami tindak tegas supaya jera sehingga tercipta suasana yang aman dan kondusif di wilayah Pati,” imbuhnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat Pati untuk selalu berhati-hati menjaga harta benda di rumah, termasuk sepeda motor. Pasalnya, kasus pencurian di Pati terbilang cukup tinggi.

Editor: Supriyadi

6 Penjahat Jaringan Palembang Tak Berkutik di Solo

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Solo – Kepolisian Resor Kota Surakarta berhasil membekuk kelompok penjahat jaringan Palembang yang beroperasi melakukan pencurian dengan pemberatan di wilayah Kota Solo.

“Kami berhasil menangkap enam pelaku dari kelompok Palembang yang melakukan aksinya di rumah makan Omah Sinten di Jalan Diponegoro No.34 di depan Mangkunegaran dan RM masakan Korea di Dr Rajiman Solo,” kata Wakil Kepala Polresta Surakarta AKBP Andhy Rifai di Mapolresta Surakarta, Senin (11/9/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Menurut Andhy, keenam pelaku tersebut melakukan aksinya semuanya di rumah makan yang sering didatangi pelanggan warga asing. Korban yang menjadi sasaran rata-rata warga asing.

Enam pelaku kasus pencurian dengan pemberatan tersebut yakni Jimmi Harpani (38) warga Gumawang RT 02 RW 01 Belitang Sumatera Selatan, Aan Saputra (37) warga Jalan Munggang No.13 RT 03 RW 04 Desa Balekambang Kramatjati Jakarta Timur. Kedua pelaku terpaksa dilumpuhkan kakinya dengan timah panas karena sempat melawan saat ditangkap oleh petugas.

Pelaku lainnya yakni Jhon Hanes Andersen (41) warga Jalan Karya Bakti RT 002 RW 008 kelurahan Parung Serab Cildug Kota Banten, Apriyadi (37) warga Selamanjar RT 02 RW 03 Batununggal, Cibadak Sukabumi, Effendi (42) warga Dusun II Agung RT 02 Lempung Ogan Komering Ilir Sumsel, dan AA (16) warga Sumsel.

Menurut Andhy Rifai kawanan penjahat kelompok Palembang tersebut melakukan aksinya selain di wilayah Solo, juga Surabaya, Bali, Magelang, dan Yogyakarta.

“Kami setelah mendapat laporan dari korban warga asing tasnya hilang dicuri di Rumah Makan Omah Sinten dan RM Korea langsung melakukan penyelidikan dengan milihat rekaman CCTV,” kata Andhy yang didampingi Kasat Rekrim Kompol Agus Puryadi.

Menurut dia, setelah mengetahui identitas para pelaku langsung dilakukan pengejaran. Petugas berhasil membekuk para pelaku saat menginap di Hotel Surya Andresa Penggung Klaten, Minggu (10/9/2017).

Menurut dia, dari hasil penangkapan tersebut ditemukan sejumlah barang bukti dari tangan tersangka antara lain sebuah kamera video merek Sony Alfa, Handy Cam merek JVC, paspor atas nama Sandra Goettsch Geb Gutekunts no.C4VR37KWT, dan empat paspor lainnya milik warga asing serta dua lembar recehan uang 50 dolar AS.

Selain itu, polisi juga berhasil menyita sebuah mobil Xenia warna hitam nopol B 1427 SQZ yang digunakan sebagai sarana aksi kejahatan. 

“Tersangka Jimmi Harpani merupakan seorang residifis dengan kasus yang sama di Cilegon. Jimmi ini sebagai otak atau yangmelakukan perencanaan, sedangkan Aan berperan membawa hasil curiannya, sedangkan lainnya bertugas membantu,” katanya.

Atas perbuatan para tersangka dapat dijerat dengan Pasal 363 KUHP, tentang Pencurian dengan Pemberatan, ancaman maksimal penjara selama tujuh tahun.

Editor : Akrom Hazami

 

3 Penjahat yang Kerap Lolos Kejaran Polisi Akhirnya Tertangkap juga di Pekalongan

Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Agung Ariyanto saat memberikan kepada wartawan usai pihaknya melakukan penangkapan di Mapolres Pekalongan. (Tribratanewspoldajateng)

MuriaNewsCom, Kajen – Tiga pelaku daftar pencarian orang (DPO) akhirnya menyerah saat ditangkap aparat dari Polres Pekalongan. Mereka ditangkap saat pelaksanaan Operasi Jaran Candi 2017 yang berlangsung selama 20 hari. Terhitung 27 Juli 2017-15 Agustus 2017.

Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan melalui Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Agung Ariyanto mengatakan, ketiga DPO tersebut yakni atas nama Abdurrahman (26), Bambang (34) dan Siswandi (30). Mereka melakukan tindak kejahatan pencurian pada 4 Juni 2017 di Kedungwuni, 11 Maret 2015 di Wonopringgo dan 8 Februari 2016 di Wonokerto.

“Total ada tiga DPO dengan tiga kasus selama Operasi Jaran Candi 2017. Lainnya juga ada tiga pelaku non-DPO dengan dua kasus,” katanya dikutip dari Tribratanewspoldajateng.

Ia mengatakan Operasi Jaran (kejahatan terhadap kendaraan) menyasar kendaraan-kendaraan yang menjadi sasaran kejahatan, penadahan, dan berbagai kejahatan yang barang buktinya berupa kendaraan.

Menurutnya, dalam operasi yang melibatkan seluruh jajaran Polres Pekalongan tersebut, pihaknya berhasil menyita beberapa barang bukti berupa sepeda motor. “Kasus pencurian itu ada yang dilakukan di rumah, di jalan, di area tambak,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, para pelaku bakal dijerat hukuman penjara sesuai dengan Pasal 363 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Pencurian dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Untuk menghindari hal tidak diinginkan dia berpesan kepada masyarakat agar lebih waspada dengan cara menjadi polisi bagi diri sendiri. Maksudnya yakni melakukan berbagai upaya agar terhindar dari tindak kejahatan seperti mengunci pintu dan tidak melintasi jalan sepi.

“Saya juga berurusan kepada masyarakat agar tidak ragu melapor kepada kami jika melihat atau mengetahui adanya tindak kejahatan. Pasalnya tugas menjaga keamanan atau kondusivitas daerah merupakan tanggung jawab bersama,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Penjahat Gagal Nakal saat Mobil Berisi Uang Banyak Mandek di Pos Polisi Grobogan

Salah seorang anggota Satlantas Polres Grobogan menunjukkan ban mobil yang kemps di wilayah Grobogan, Rabu (11/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah seorang anggota Satlantas Polres Grobogan menunjukkan ban mobil yang kemps di wilayah Grobogan, Rabu (11/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang pengusaha hasil bumi asal Gatak, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, nyaris jadi korban pencurian dengan modus penggembosan ban mobil, Rabu (11/1/2017). Beruntung, pengusaha bernama Nunung itu tidak panik dan berhasil minta pertolongan polisi yang siaga di pos Simpanglima Purwodadi.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelumnya Nunung sempat mengambil uang cukup banyak di salah satu bank di Purwodadi. Setelah itu, dia bermaksud langsung pulang ke rumahnya, karena uangnya akan segera dipakai.

Setelah lewat lampu merah perempatan Dinas Bina Marga di jalan R Suprapto, anak perempuannya yang mengemudikan mobil Toyota Avanza K-8999-SP merasakan laju kendaraannya tidak nyaman, seperti ada ban yang kempes. Merasa ada yang tidak beres, Nunung melarang anaknya untuk berhenti.

Tidak lama kemudian ada pengendara dua motor saling berboncengan yang berteriak jika ban mobilnya kempes. Lagi-lagi, Nunung meminta anaknya untuk terus menjalankan mobil dengan tujuan kantor polisi.

Pengendara tak dikenal itu terus membuntuti calon korbannya dan sempat beberapa kali mengingatkan pengemudi jika ban mobilnya kempes. Ketika sampai di bundaran Simpanglima Nunung melihat ada banyak polisi di depan pos yang berada di depan GOR. Kemudian dia meminta anaknya untuk menuju ke pos polisi guna menghindari aksi kejahatan.

“Setelah mengambil uang di bank, korban merasa dibuntuti orang yang mengendarai dua sepeda motor. Korban lalu menepi di pos polisi Simpanglima dan langsung ditangani anggota. Saat belok ke pos, orang yang membuntuti tidak kelihatan lagi,” ujar Kaurbinops Satlantas Polres Grobogan Ipda Afandi.

Setelah diceritakan, anggota kemudian menenangkan korban yang terlihat panik dan ketakutan. Selanjutnya, anggota juga menganti ban mobil yang bocor. Selanjutnya, anggota diminta untuk mengantar korban kembali ke rumahnya.

“Setelah kita minta istirahat sejenak di pos dan mobilnya kita ganti, warga itu kami antar dan kawal sampai ke rumahnya di Gatak. Sebelumnya, korban baru saja ambil uang di bank. Uang tunai yang ditaruh dalam kantong plastik masih utuh,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono mengimbau kepada masyarakat yang mengambil uang di bank dalam jumlah besar untuk meminta pengawalan kepolisian. Hal itu perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya aksi kejahatan.

“Kami minta pada warga yang ambil uang tunai dalam jumlah besar minta pengawalan polisi. Untuk pengawalan ini tidak dipungut biaya,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ternyata Cara Ini yang Dipakai Polisi Lumpuhkan Penjahat Blora

Polisi melakukan latihan bela diri di Mapolres Blora guna melatih pertahanan. (Polres Blora)

Polisi melakukan latihan bela diri di Mapolres Blora guna melatih pertahanan. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Personel polisi memiliki risiko dalam bertugas. Apalagi polisi yang bertugas di lapangan yang kerap berhadapan dengan pelaku kejahatan yang membahayakan. Untuk itu, polisi perlu dibekali ilmu bela diri agar mampu melindungi diri sekaligus melumpuhkan pelaku.

Seperti latihan bela diri yang dilaksanakan Polres Blora di mapolres setempat. Latihan kali ini dilatihkan sikap-sikap dasar beladiri Polri seperti teknik jatuh seperti jatuh samping kanan, jatuh samping kiri, jatuh depan dan jatuh belakang. Selain itu, personel juga berlatih teknik pukulan dan tangkisan serta gerakan dasar membawa tahanan, menghindari pukulan, dan tendangan.

AKBP Surisman mengatakan, kegiatan ini untuk melatihkan kembali sikap-sikap dasar beladiri Polri yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan tugas di lapangan, serta untuk keamanan bagi diri sendiri.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat membuat personel Polres lebih bisa melindungi diri dalam bertugas, serta diharapkan bisa terus berlanjut agar semua personil selain dirinya juga dapat melindungi keluarga dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan,” ujar Surisman, dikutip website resmi Polres Blora.

Pelatih yang dipimpin Ipda Warsono Kasubag Lat SDM Polres Blora memberikan materi gerakan dasar pukulan arah atas, lurus dan bawah, gerakan dasar tangkisan arah atas dan samping kiri/kanan, gerakan dasar tendangan lurus,samping. Dilanjutkan materi yang lalu yaitu dasar jatuhan dan tangkisan menghadapi todongan senjata tajam.

“Diharapkan dengan pelatihan bela diri ini anggota mampu dan terampil serta menguasai tehnik dasar beladiri Polri sehingga dapat menunjang tugas tugas kepolisian”, jelas Warsono.

Selama Kegiatan latihan, peserta latihan dengan  antusias melaksanakan gerakan yang telah dicontohkan pelatih dengan baik dan benar.

Editor : Akrom Hazami