Penerima KUP di Kudus Tembus Seribu Pengusaha

Kepala Dinas Perindustrian UMKM dan Koperasi Hadi Sucipto. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Perindustrian UMKM dan Koperasi Hadi Sucipto. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Progam andalan Bupati Kudus Musthofa di bidang ekonomi, yakni Kredit Usaha Produktif (KUP), mencapai angka 1.013 penerima. Data tersebut merupakan data per 11 Mei 2016, yang diterimanya dari Bank penyelenggara yakni Bank Jateng.

Kepala Dinas Perindustrian UMKM dan Koperasi Hadi Sucipto mengatakan, jumlah penerima KUP cenderung meningkat tiap bulan. Sehingga, diyakini pada Juni mendatang jumlahnya akan semakin meningkat.

“Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kudus makin bertambah. Dan dengan keberadaan kredit tanpa agunan itu, dimanfaatkan oleh beberapa pengusaha di Kudus. Rata rata, pemegang kartu tersebut kalangan pengusaha menengah ke bawah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hadi mengatakan, mereka yang memegang didominasi dari pelaku usaha baru atau yang merintis usahaya dari awal. Mereka memanfaatkan KUP sebagai tambahan modal untuk usaha.

Menurutnya, pelaku usaha baru yang masuk daftar tahun ini sekitar 100 usaha. Sedangkan untuk para pelaku usaha lama yang juga tidak mau ketinggalan, dengan jumlahnya hampir 900an pelaku usaha. Sehingga total ada 1.013 pengusaha.

Rata-rata, mereka yang mengajukan masuk pada golongan usaha kecil dan menengah. Melihat hal itu, pihak dinas masih memiliki tugas untuk menjadikan usaha kalangan menengah bisa meningkat ke usaha besar atau berubah menjadi home industri.

”Begitu pula untuk yang industri kecil, kami juga mendorong agar menjadi usaha menengah dan dapat semakin berkembang. Begitupun seterusnya,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Busyet, Biaya Pelatihan IKM di Kudus Telan Dana Hingga Rp 1 Miliar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelatihan Industri Kecil Menengah (IKM) yang digelar Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM untuk pelaku IKM di Kudus ternyata memakan dana cukup besar. Tak tanggung-tanggung, Pemkab Kudus menganggarkan uang senilai Rp 1 miliar untuk kegiatan pelatihan selama satu tahun.

Kabid Perindustrian pada Dinas Perinkop dan UMKM Koesnaini mengatakan, sumber dana tersebut menggunakan anggaran dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Tembaka (DBHCT).

”Biaya pelatihan ke Boyolali yang dilakukan 150 pelaku IKM Kudus, juga diambilkan dari dana tersebut,” katanya.

Menurutnya 150 peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut bermacam macam. Mereka adalah pengusaha yang bergerak di bidang usaha olahan tahu, jenang, susu, dan daging.

Masing-masing jenis usaha pemberian materi teori dibagi dalam empat lokasi. Yakni lokasi tempat pelatihan LIK, Gedung Dekopindo, Kelurahan Mlatinorowito, dan balai Desa Mlati Kidul.

”Dana itu juga digunakan pelatihan dan magang bagi pelaku usaha untuk batik. Ada lima pelaku batik berasal dari Colo, Dawe, dari IKM Manjeng Werni. Mereka akan magang di Pekalongan selama sebulan,” jelasnya.

Tujuan akhirnya, kata dia, bisa mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Ini, sesuai dengan empat pilar pembangunan Bupati Kudus Musthofa tentang menumbuhkembangkan sektor industri kecil, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan pengangguran.

”Dengan banyaknya pelatihan ini, kami harap para pengusaha bisa menangkap peluang usaha dengan jeli. Baik itu dari jenang, susu, tahu, dan daging,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: 150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

Pelaku Usaha Tahan Banting, Jumiah Tak Lelah Produksi Parut dan Ulek

Jumiah (53) pembuat parut dan ulek di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jumiah (53) pembuat parut dan ulek di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perjalanan usaha atau bisnis memang kerap mengalami pasang surut. Biasanya, kerugian sering dialami, dengan pemicunya adalah kena musibah atau tertipu.

Seperti yang dialami Jumiah (53) pembuat parut dan ulek. Jumiah merupakan warga Lemah Gunung, RT 5 RW 2, Krandon, Kota. Jumiah melakoni usaha membuat parut dan ulek hampir 25 tahun. Dalam kurun itu, dia sering ditipu.

Dia menceritakan kepada MuriaNewsCom. Saat Jumiah menyetorkan barang dagangannya ke pedagang. Biasanya, mereka tidak langsung membayar lunas. Justru, mereka lebih memilih membayar angsuran kredit ke bank ketimbang melunasi tanggungannya ke Jumiah.

“Alasannya pasti sama. Barang belum laku. Saat saya datangi untuk ditagih, barang tersebut rupanya sudah laku. Pedagang beralasan, besok, besok dan besok baru dilunasi,” kata Jumiah.

Menurutnya, jika uang hasil setor dibayar, tentu dia bisa berproduksi lagi. Termasuk untuk membeli bahan baku pembuatannya. Misalnya, papan harganya Rp 8 ribu per kilogramnya, kayu bekas penggergajian Rp 8 ribu per kilogram serta paku.

Adapun harga parut dan uleknya adalah Rp 7 ribu dan Rp 2.750. Biasanya, dia menyetorkan produksinya ke Pasar Kliwon, Jetak, bahkan luar Kudus, hingga Blora.

Editor : Akrom Hazami

Usaha Bersama Komunitas Bisa Dorong Desa Lebih Produktif

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain membuka kegiatan Loram Expo, Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati juga membuka Usaha Bersama Komunitas (UBK) yang diprogramkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa).

Nantinya UBK tersebut dikelola oleh ke dua desa untuk dijadikan badan usaha milik desa. Sehingga masyarakatnya menjadi lebih produktif sesuai dengan usaha yang dijalankan.

Salah satu staf Kemendesa, Tatyana Warastuti mengatakan program ini memang difokuskan kepada desa yang mempunyai produktivitas tinggi. Misalkan Loram Wetan dan Loram Kulon.

Meski begitu, pihaknya juga tidak mematok program tersebut harus tersasar kepada desa yang mayoritas warganya mempunyai usaha kecil saja. ”Kalau UBK itu tergantung dari perdes dan APBDesnya masing-masing. Sebab UBK itu memang dianggarkan dari dana desa. Selain itu, bagi desa yang tidak mempunyai keahlian khusus atau mempunyai usaha, juga bisa membuat UBK tersebut dengan desa lainnya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Tatyana, dalam produk UBK tersebut diserahkan kepada pihak desa. Baik itu pembuatan sosis atau sabun seperti halnya di Loram. Dengan adanya UBK tersebut, diharapkan anggotanya bisa mejalankan usahanya untuk lebih maju.

”Kami sebagai Kemendesa, hanya bisa memfasilitasi, memantau perkembangan serta mengarahkan. Sehingga desa yang mempunyai UBK bisa maju dengan dana desa yang ada,” harapnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Asah Otak Produksi Puzzle Hantarkan Sholikin Jadi Pengusaha Sukses

puzzle

Sholikin sedang membuat puzzle di rumahnya dengan peralatan sederhana. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sholikin (50) warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati bisa menyulap papan bekas menjadi mainan anak-anak yang mampu mengasah kreativitas.

Papan bekas yang didapat dari perusahan swasta di Kudus tersebut, diolah Sholikin menjadi mainan puzzle. Diketahui, puzzle merupakan mainan anak-anak yang sekaligus bisa mengasah kemampuan psikomotorik atau keaktifan berpikir otak. Yaitu dengan cara merangkai gambar, sehingga menjadi gambar yang utuh.

”Dalam pembuatan mainan ini, kami mencari papan bekas di salah satu perusahan. Setelah itu, papan tersebut saya beli, dan saya buat mainan berupa puzzle,” paparnya.

Ia mengaku, menekuni pekerjaan sebagai perajin puzzle sekitar empat tahun. Sehingga beragam gambar dan bentuk puzzle, mampu dibuatnya dengan lihai tanpa menggunakan mesin pabrik.

”Puzzle ini bermanfaat, terlebih bisa meningkatkan pendapatan yang lumayan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sholikin, dalam waktu satu bulan, ia mampu membuat puzzle sekitar 1.500 buah. Hasil kerajinannya tersebut, ia pasarkan ke pelanggannya baik di Pasar Kliwon Kudus dan Pasar Mayog, Jepara.

Untuk harga puzzle tersebut, Sholikin membanderol dengan harga Rp 3 ribu per puzzle ke para pedagang grosir yang ada di pasar. ”Alhamdulillah, dengan usaha ini dapat menumbuhkan ekonomi, serta dapat membantu pembiayaan sekolah ke tiga anak saya,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)