Kisah 2 Pengamen ABG di Pemalang yang Harus Berhadapan dengan Polisi

Dua orang pengamen saat ditangkap polisi di Pemalang. (Humas Polres Pemalang)

MuriaNewsCom, Pemalang – Dua remaja Muhammad Lutfi (17) dan Arda Saputra (17), keduanya warga Jalan Citarum, Kelurahan Kebondalem, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, mengalami nasib berbeda dengan anak seusianya. Mereka harus putus sekolah dan menjadi pengamen.

Mereka tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena tidak ada biaya sekolah. Terlebih, keluarga yang jadi penopang biayanya juga mengalami kekurangan.

Hal itu membuat dua remaja itu mengisi hari-harinya dengan keliling pasar di wilayah Kabupaten Pemalang. Di antaranya dengan mengamen. Hasil ngamen diberikan kepada keluarga. Termasuk, keduanya juga memberikan uang saku untuk adik.

Tapi pada Rabu (13/9/2017), mereka mengalami hari yang berbeda. Polisi dari Polsek Bantarbolang mengamankan Lutfi dan Arda. Mereka dibawa ke mapolsek untuk diberikan pembinaan.

Kanit Sabhara Aiptu Abdul Ghofar mengatakan, kedua anak yang jadi pengamen diberikan solusi untuk melanjutkan pendidikan di sekolah terbuka. Diketahui, sekolah terbuka diadakan di tiap kantor kecamatan dengan biaya murah. “Bahkan waktunya sangat longgar sehingga itu bisa dijalani dan tidak memberatkan orang tua,” kata Ghofar.

Polisi juga meminta para pengamen kecil ini untuk berhenti dari pekerjaannya. Kemudian, mereka fokus untuk mengikuti sekolah terbuka di kecamatannya.

 

Editor : Akrom Hazami

Jangan jadi Pengemis dan Pengamen di Kudus

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus Sumiyatun saat memberikan pengarahan kepada warga Desa Demaan untuk dilarang mengemis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, dikumpulkan oleh Pemkab Kudus, Rabu (29/3/2017) malam. Pemkab memberikan pengarahan kepada mereka agar tidak menjadi pengemis dan pengamen.

Warga dikumpulkan di aula balai desa yang bertempat di RT 4 RW 3. “Kami nyuwun panjenengan semua kerja dengan baik, jangan sampai ada orang tua yang mengajari anaknya untuk meminta-minta,” kata Sumiyatun, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kudus.

Peringatan itu tak hanya berlaku untuk orang tua dan anak saja, tapi juga pemudanya. Semuanya harus bekerja dengan yang baik. Dikatakannya, Kudus merupakan wilayah yang religius dan juga sejahtera. Jadi jika masih ada peminta minta dan juga pengamen, maka hal tersebut tidaklah pas.

“Selama ini sekolah sudah gratis, pengobatan gratis, kredit usaha ada KUP, jadi kurang bagaimana. Diharapkan mulai sekarang tak ada lagi pengemis dan peminta minta,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kalau Kudus sudah mendapat penghargaan Adipura Kencana selama dua kali berturut-turut. Itu semua karena peran serta masyarakat yang baik dan rapi. Jika sampai masih ada pengemis atau pengamen yang muncul, maka Kudus kemungkinan gagal mendapatkan kembali tahun ini. Apalagi saat penilaian dilaksanakan.

Dalam kegiatan tersebut, nampak pula Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto, Plt Satpol PP Kudus Eko Hari Djatmiko, Kepala Dinsos Ludhful Hakim, Kesbangpol Djati Sholehah dan sejumlah pejabat lain.

Editor : Akrom Hazami