Pengangkatan Fosil Purbakala di Banjarejo Grobogan Ternyata Cukup Ribet, Begini Prosesnya

Salah seorang tim ahli menuangkan cairan kimia pada fosil gading gajah purba yang akan diangkat dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganProses pengangkatan fosil hewan purba dari lokasi penemuan ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain butuh waktu lama, proses pengangkatan itu melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati.

Dari pantauan di lokasi, pada tahap awal, tim ahli membersihkan dulu sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah itu, dipasang papan pembatas di sekeliling fosil yang akan diangkat.

Kemudian, fosil yang sudah ada dalam kotak kayu ditutup dengan kertas koran. Selanjutnya, dituangkan cairan kimia polyurethane diatas lembaran koran yang menutup fosil tersebut. Fungsi koran ini sebagai pelapis agar cairan kimia tidak menembus fosil.

Baca Juga: Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Beberapa saat setelah dituangkan, cairan itu akan mengembang dan membuih membentuk seperti busa. Proses penuangan cairan kimia dilakukan beberapa kali hingga seluruh kotak tertutup busa.

Tahapan ini, prosesnya hampir mirip seperti menuangkan adukan pasir dan semen atau cor beton saat membuat fondasi bangunan.

Selang waktu 10 menit, busa itu akan mengeras. Setelah itu, papan kayu yang sebelumnya dipakai untuk pembatas dibongkar. Saat papan hilang, fosil tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup busa yang kondisinya sudah mengeras.

Sepintas, fosil yang terbungkus busa bentuknya mirip seperti sebatang balok kayu.

“Proses pengangkatan fosil tidak bisa dilakukan seperti mengambil sebuah barang biasa. Ada prosedur yang harus dilakukan dan butuh kehati-hatian,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Menurut Nico, penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Setelah diangkat, fosil memang dibawa ke rumah penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, sebelum nantinya diangkut ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Perjalanan menuju tempat penampungan sementara juga butuh kewaspadaan.

Selain lokasinya cukup jauh dari jalan raya, yakni sekitar 500 meter, fosil yang ukurannya besar harus dipikul oleh empat orang melalui jalan pertanian hingga tempat penampungan sementara.

Editor: Supriyadi

Ternyata Pernah Ada Bencana Besar di Lokasi Penemuan Fosil Gajah Purba di Banjarejo

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi (kanan) berbincang dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di lokasi penemuan fosil gajah purba, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri yang terjadi di lokasi penemuan fosil gajah purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai terkuak. Antara lain, pada ratusan ribu tahun lalu diperkirakan sempat ada peristiwa bencana alam di sekitar lokasi yang letaknya agak berada di ketinggian atau perbukitan tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

“Penelitian masih kita lakukan. Tapi dari analisa sementara, potensi adanya bencana longsor di lokasi ini cukup besar,” jelasnya.

Menurut Sukron, adanya bencana alam diperkuat ketika lokasi penggalian diperlebar hingga berukuran sekitar 12 x 12 meter. Saat proses pelebaran ini berhasil ditemukan lagi sejumlah fosil dari beberapa spesies hewan purba.

Sebelum diperlebar, di lokasi tersebut hanya terlihat fosil satu spesies saja, yakni gajah purba. Setelah pelebaran areal, muncul potongan fosil dari spesies baru. Antara lain, banteng, dan buaya dengan berbagai ukuran.

Penemuan fosil spesies baru itu posisinya berdekatan atau berkumpul dengan fosil gajah purba. Kondisi ini diperkirakan bisa terjadi akibat hewan-hewan itu sebelumnya tertimbun longsoran, sehingga bisa terkumpul dalam satu lokasi.

Misteri lain yang berhasil terungkap adalah kepastian jenis gajah purba. Sebelumnya, fosil itu dinyatakan milik gajah purba jenis stegodon. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, fosil itu berasal dari gajah purba jenis elephas.

“Fosilnya bisa kita pastikan milik elephas. Hewan purba ini lebih muda dari Stegodon. Usianya diperkirakan sekitar 400 ribu tahun,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha