Kisah Ojek Kayu Rahtawu Kudus yang Tak Gentar Lintasi Jurang Curam

Sukamto mengantarkan kayu dari atas bukit hingga jalan poros Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, dengan melewati jalan pegunungan sejauh 3 Km. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sukamto mengantarkan kayu dari atas bukit hingga jalan poros Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, dengan melewati jalan pegunungan sejauh 3 Km. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jasa ojek kayu di Rahtawu, Gebog, Kudus, ini memang bukan jasa pengangkut biasa. Sebab, tidak semua orang bisa menjadi tukang ojek kayu. Hanya, mereka yang mempunyai badan kuat, sepeda motor modifikasi mumpuni, juga bernyali tinggilah, yang mampu menjalaninya.

Salah satu di antaranya adalah Sukamto. Pria berusia sekitar 37 tahun ini menceritakan sekelumit tentang suka dan duka menjadi tukang ojek kayu kepada MuriaNewsCom, Jumat (25/3/2016).

“Untuk sekali jalan sekitar 3 km. Dengan medan jalannya bukanlah jalan datar maupun landai. Tapi jalan yang berliku, serta harus berani mengatasi rasa takut akan ketinggian jurang yang curam,” kata Sukamto.

Ditemui di sela-sela aktivitasnya, Sukamto menambahakan, seseorang tukang ojek kayu haruslah orang yang punya tenaga kuat, dan tidak trauma dengan ketinggian. Mengingat, selama mengoperasikan sepeda motor dengan membawa kayu, haruslah melihat medan yang dikelilingi tebing dan ketinggian. Serta harus bisa memilih jalan dengan permukaan keras, supaya tidak terperosok ke jurang.

Untuk sekali angkut, Sukamto biasanya membawa empat batang kayu. Total berat kayu hampir 5 kuintal. Beratnya muatan dan risiko yang ditanggung membuatnya mematok harga yang tinggi. “Sekali angkut, ongkosnya Rp 50 ribu-Rp 60 ribu,” ungkapnya.

Sementara sepeda motor yang dipakainya merupakan kendaraan yang dimodifikasi sedemikian rupa. Mulai dari mempreteli bodi kendaraan lebih dulu, biar lebih enteng. Tidak hanya itu, dia harus mengganti knalpot dari yang standar ke modifikasi. Tujuannya, agar kendaraan melaju lebih enteng.

Hampir setahun pekerjaan itu dijalaninya. Bagi pria yang berdomisili di Dukuh Krajan, Rahtawu itu, pekerjaan yang dilakoninya itu butuh nyali besar dan kendaraan yang mendukung.

Editor : Akrom Hazami

Duh, Kades Rahtawu Pusing dengan Kelakuan Warganya

Satpol PP Kudus mengamankan kayu-kayu milik warga yang diletakkan di jalan Desa Rahtawu, Gebog karena mengganggu pengguna jalan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Satpol PP Kudus mengamankan kayu-kayu milik warga yang diletakkan di jalan Desa Rahtawu, Gebog karena mengganggu pengguna jalan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tengah dipusingkan dengan kelakuan warganya. Karena menebang kayu, dan diletakkan di tepi jalan poros desa. Jalan yang memiliki luas sekitar 2 meter tersebut, merupakan jalur lalu lintas warga ataupun wisatawan.

Kepala Desa Rahtawu, Gebog, Sugiyono mengatakan, pihaknya kerap menegur warga yang membandel itu. Namun tidak dihiraukan. ”Sudah ditegur sering kali, tapi tidak ada perubahan, sehingga saya melaporkan hal ini kepada Satpol PP,” paparnya.

Sementara itu, kayu yang berada di tepi jalan yang dapat membahayakan pengendara motor dan mobil ini terdapat di dua titik. ”Penempatan kayu di tepi jalan ini ada di Dukuh Krajan dan Semliro. Selain itu, kayu tersebut juga bakal dijual ke tempat lain,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pihaknya melarang adanya penjualan kayu dari Rahtawu untuk dijual ke daerah lain. Sebab hal itu termasuk eksploitasi kayu di kawasan itu. Namun, bila digunakan untuk keperluan pribadi sesuai kebutuhan untuk membangun rumah dan tempat ibadah pihaknya memperbolehkan. Meskipun itu milik pribadi.

Diketahui, kayu yang berada di tepi jalan tesebut berjenis kayu nangka, sengon laut, dan randu. Salah satu pemilik kayu, Sanijan mengutarakan, pihaknya akan menghentikan kegiatan itu. ”Saya terima kasih sudah diingatkan. Dan saya tidak mengulangi lagi,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni