Cegah Abrasi, Puluhan Ribu Pohon Ditanam di Pesisir Rembang

Upacara sebelum penanaman pohon di wilayah padat karya di Tasik Harjo, Kaliori, Rembang, Jumat (29/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Upacara sebelum penanaman pohon di wilayah padat karya di Tasik Harjo, Kaliori, Rembang, Jumat (29/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Komando Distrik Militer (Kodim) 0720/Rembang bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat melakukan penanaman puluhan ribu pohon di bantaran pantai Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Jumat (29/1/2016).

Kegiatan tersebut, selain sebagai program penghijauan juga sebagai antisipasi pencegahan bencana alam berupa abrasi. Sebanyak 4.000 pohon mangrove di tanam di tepi pantai, sedangkan 9.750 pohon produktif (berbuah) ditanam di desa setempat.

Dandim 0720/ Rembang, Letkol Infantri Darmawan Setiyadi, menyampaikan penanaman puluhan ribu pohon itu untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran dalam memelihara lingkungan secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk mendukung program pemerintah.

”Serta membantu program pemerintah untuk mengurangi dampak lingkungan, agar wilayah Kabupaten Rembang dapat terhindar dari bencana alam. Baik itu abrasi laut maupun tanah longsor,” tandasnya.
Program penghijauan dengan pola padat karya tersebut, kata Darmawan, dimulai hari ini dan dilaksanakan secara bertahap dalam kurun waktu dua bulan. Rencananya, kegiatan serupa dilakukan di setiap kecamatan di wilayah Rembang.

”Penghijauan ini juga untuk membangkitkan semangat, motivasi, dan budaya masyarakat untuk menanam sekaligus memelihara kelestarian alam,” pungkasnya.

Kegiatan penghijauan tersebut juga dihadiri oleh Pj Bupati Rembang Suko Mardiono, Kapolres Rembang AKBP Winarto, dan seluruh Kepala SKPD. Selain itu, juga melibatkan ratusan orang terdiri dari pelajar, masyarakat desa setempat, dan komunitas peduli lingkungan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Rektor UISI Sebut Penanaman Pohon Kurang Bermanfaat

Rektor Universitas International Semen Indonesia (UISI), Prof. Dr-Ing. Herman Sasongko ketika sambutan dalam pelepasan KKN UISI Angkatan ke III di di Lantai IV Gedung Setda Rembang, Rabu (20/1/2016).(MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Rektor Universitas International Semen Indonesia (UISI), Prof. Dr-Ing. Herman Sasongko ketika sambutan dalam pelepasan KKN UISI Angkatan ke III di di Lantai IV Gedung Setda Rembang, Rabu (20/1/2016).(MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Rektor Universitas International Semen Indonesia (UISI), Prof Dr-Ing Herman Sasongko menyebut program konservatif kurang bermanfaat, Rabu (20/1/2016).

Hal tersebut disampaikan kepada awak media menjelang pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lantai IV Gedung Setda Rembang. Sebanyak 153 mahasiswa UISI, rencananya akan disebar ke 30 desa di Kecamatan Gunem dan Kecamatan Bulu.

Herman mengatakan penanaman pohon sebagai program konservatif yang diulang-ulang oleh setiap universitas merupakan kegiatan yang kurang bermanfaat. “Itu seperti membangunkan sesuatu yang life stillnya tidak lama, cepat rusak, dan kurang bermanfaat,” ujarnya.

Dijelaskan olehnya, ratusan mahasiswa KKN UISI diberi misi untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang potensi daerah dan masyarakat, termasuk kelemahannya. “Selanjutnya, informasi tersebut akan ditindaklanjuti oleh CSR Semen Indonesia,” jelasnya.

Oleh karena itu, Herman menegaskan KKN angkatan ke III UISI, tidak menyasar pembangunan fisik tetapi difokuskan membuka wacana berpikir masyarakat yang disebutnya sebagai spirit dari UISI sendiri, yakni hidupmu harus menghidupi yang lain.

“Tahap pertama, membuka jendela etalase hidup yang maju bagi masyarakat. Bagaimana mencari informasi bisnis dan memajukan kehidupannya. Kedua, menginformasikan potensi diri, ada usaha perkayuan,” tegasnya.

Sementara terkait pemilihan lokasi di Rembang, Herman menyatakan adanya pembangunan pabrik PT Semen Indonesia menjadi alasan kuat pemilihan tempat di Rembang. “Rembang adalah salah satu tempat yang mana akan kami buka anak perusahaan besar dari korporasi Semen Indonesia,” tandas Herman.

Selain itu, Herman menilai setiap masyarakat di sekitar pabrik semen harus siap menerima industrialisasi. “Setiap kita memiliki instansi baru di manapun, orang berpikir bahwa masyarakat di sekitarnya harus siap menerima industrialisasi, yaitu ikut merasakan manfaatnya menjadi lebih maju,” pungkasnya

Editor : Akrom Hazami